RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Halo temen-temen semua apakabar kalian? semoga baik-baik aja ya gaes.. Sebelum masuk ke inti cerita mimin marsel bakalan kasih sedikit kisi-kisinya nih yaitu, sewaktu dulu sempat ada tragedi kesurupan saat perkemahan sekolah ( SMA ). Ini semua bermula karena ada salah seorang

murid yang menantang makhluk tak kasat mata ketika malam api unggun berlangsung. Nah daripada penasaran gimana ceritanya, yuk langsung masuk kedalam cerita aja ya gaes! ( untuk informasi nama sekolah saya samarkan , ya temen-temen ) ~ 

Tahun awal pelajaran 2009 merupakan sesuatu yang cukup berkesan saat itu menurut ku. Yah, karena aku baru saja diterima masuk ke salah satu sekolah favorit SMA Negeri di kampung. Oh ya temen-temen, aku ini memang anak pindahan dari luar kota. Sehingga perlu waktu untukku 

untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Beruntunglah, karena sifat ku yang mudah bergaul dan gampang menyesuaikan diri aku dengan cepat sudah memiliki teman-teman baru disekolah. Masa-masa orientasi siswa baru (OSPEK) pun tak terasa sudah hampir terlewati. 

Pada puncak acara masa orientasi siswa baru, sekolahku mengadakan kegiatan perkemahan sekolah di hari Jumat – Minggu. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membuat para siswa bisa lebih mengenal tentang sekolah mereka, para guru, kakak kelas, dan juga supaya para murid bisa saling 

mengenal satu sama lain. Sehari sebelum hari H ( acara perkemahan ), dalam satu kelas dibagi menjadi 4 tim yang terdiri dari 2 tim wanita dan 2 tim pria ( anggrek, mawar untuk tim wanita ; rajawali dan harimau untuk tim pria ). Kali itu aku ditunjuk sebagai ketua 

regu pria rajawali dan salah seorang teman ku Fajar menjadi ketua regu pria harimau. Aku dan Fajar langsung membagi tugas anggota regu yang lain untuk membawa perlengkapan perkemehan di sekolah, memastikan agar besok tidak ada perlengkapan kemah yang kurang. Singkat cerita, 

hari yang ditunggu pun tiba. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, seluruh anak kelas 10 langsung berkumpul baris berbaris di lapangan sekolah menerima instruksi dari kakak pembina dan guru pembimbing mengenai susunan acara yang akan berlangsung serta membangun tenda-tenda 

kemah di lapangan sekolah. Pada awalnya suasana masih nampak sangat menyenangkan. Aku dan teman-teman lain asyik mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kakak pembina sampai pada akhirnya tiba di sore hari sekitar pukul 17.00-19.00, aku dan teman-teman lain diberi 

kesempatan untuk Isoma ( istirahat, sholat, makan ). Kesempatan itu langsung aku pergunakan untuk ku mandi terlebih dahulu, karena rasanya tubuhku saat itu sudah lengket karena keringat. Aku kemudian berjalan kearah kamar mandi paling belakang sekolah, dan saat aku berada di 

dalam kamar mandi terdengar suara dibalik tembok “Eh, nanti malam kita coba yuk puter lagu lingsir wengi?! Pokonya sewaktu kegiatan jurit malam nuansanya harus benar-benar seseram mungkin!” Ucap salah seorang murid yg sebut saja Darma. “Setuju!! Kalau bisa saat mulai acara api 

unggun aja! jadi mereka-mereka ini (anak kelas 10) sebelum mengelilingi sekolah udah ketakutan duluan!” Jawab Fendi. Aku saat itu menguping pembicaraan mereka, yang teryata mereka berdua adalah kakak pembina. Setidaknya aku pun jadi tahu saat jurit malam nanti para kakak pembina 

tersebut sudah menyiapkan beberapa titik-titik jebakan untuk menakut-nakuti para adik kelasnya serta akan memutar lagu lingsir wengi untuk menambah kesan seram. Setelah aku mendengar mereka sudah pergi, aku langsung segera bergegas mandi dan menginfokan kepada anggota regu ku 

untuk tidak salah pilih jalur jurit malam dan memberi tahu lokasi-lokasi yang akan dipakai oleh kakak pembina yang sedang menyamar sebagai hantu untuk menakut-nakuti. Memang sih, aku akui jika aku ini curang. Tapi, yah sudahlah yang terpenting anggota regu ku bisa memenangkan 

kegiatan game jurit malam tersebut, gumamku dalam hati. Tiba saat malam api unggun, benar yang dikatakan oleh para kakak pembina tadi sore. Mereka serempak memutar lagu lingsir wengi dan menyuruh kami memilih untuk menentukan jalan mengelilingi sekolah untuk menemukan bendera 

yang disembunyikan disalah satu tempat. Jika berhasil menemukan bendera tersebut maka regu/tim tersebut akan mendapatkan hadiah, jika gagal maka akan ada hukumannya. Risno yang sudah ku beri bocoran tersebut langsung segera berbisik-bisik kepada anggota lain agar tim kita kompak 

sekaligus memenangkan game jurit malam dengan mudah. “HALAH, MAU ITU SETAN ASLI ATAU BUKAN AKU INI GAK PERNAH TAKUT SETAN! MANA ADA SIH SETAN?! HAHAHA! YG ADA SETANNYA KABUR LIAT AKU!” Jawab Hadi angkuh setelah ia dibisikkan oleh Risno, sambil tangannya menepuk dadanya menantang- 

“Yah terserah kamu sajalah di! yang terpenting aku sudah kasih tau kamu rute dan titik mana aja yang ada kakak pembina hantunya!” Jawab Risno agak nge gas. “Ga seru dong kalau begitu!! mendingan kita coba aja dulu untuk balik kerjain kakak pembina nya?!” Sambung Hadi 

“Sudah, jangan debat! begini aja kita ambil suara siapa yang setuju untuk kita langsung memenangkan game jurit malam dengan caraku angkat tangan!” Ucap ku memberikan opsi pilihan. Terlihat hanya 4 orang yang mengangkat tangan, dan 6 sisanya memilih untuk mengikuti game tersebut 

seolah-olah mereka tidak mendapatkan bocoran. “Oke baik, jika banyak yang mau kita mengikuti game jurit malam ini dengan fair, baiklah!” Jawabku. “Duh sel, lagian mana ada sih setan?! cemen banget kamu masa jurit malam aja harus curang?! Dengerin ya kalian ini, aku tuh 

gak pernah takut setan dan gak percaya sama hal takhayul!” Ucap Hadi yakin. Aku, Risno dan Egy hanya saling pandang. Kami bertiga hanya mengikuti saja ucapan angkuh dari Hadi. Mungkin ada benarnya juga ucapan Hadi jika game jurit malam tersebut tidak seru rasanya kalau 

lansung kita menangkan, tetapi aku pun tidak setuju dengan kata-kata Hadi yang seolah menantang makhluk tak kasat mata tersebut. Sengaja aku memilih rute yang berlawan dengan apa yang ku dengar saat di kamar mandi, dan regu yang aku pimpin hanya dibekali penerangan 1/4 lilin– 

“Oke, adik-adik semua! kalian hanya diberikan 1/4 lilin sebagai penerangan dalam pencarian bendera! Jika regu kalian lambat dalam pencarian nya maka kalian harus gelap-gelapan sampai batas waktu yang ditentukan habis!” Ucap si kakak pembina memulai game sambil menghitung mundur. 

Aku sebagai ketua tim berusaha untuk tetap tenang dan pelan-pelan berjalan menyusuri sekolah. Yang kutakutkan saat itu sebenarnya bukan perihal hantu atau hal-hal gaib melainkan jika tim ku kalah akan menerima hukuman dan jika lilin sebagai sumber pencahayaan utama kami mati. 

Disepanjang perjalanan, Hadi selalu saja bertingkah menantang makhluk tak kasat mata dengan umpatan-umpatan kasarnya entah apa maksudnya. “Ngapain sih kayak gitu? Ngerasa sok jago?!” Tanya Egy yang mulai kesal dengan tingkah laku Hadi mencari perhatian. Ditegur oleh Egy, Hadi 

bukannya diam malah menjadi-jadi. Bahkan saat melewati sebuah pohon belakang sekolah Hadi sempat meludah ke arah pohon tersebut. “Sopan sedikit dong! kita tau kamu ini ga percaya setan, tapi kalau menantang begini takutnya akan ada kesurupan!” Bentak Risno. Saat suasana regu 

yang mulai memanas karena ulah Hadi, tetiba Zainal menunjuk ke arah atas pohon belimbing yang baru saja diludahi oleh Hadi “It…itu..itu… a..ap..apaaa???” Tanya Zainal sambil tergagap. Sontak kami semua melihat keatas pohon dan nampak siluet seorang wanita berbaju putih yang 

menunduk dengan rambut panjang menjuntai menutupi wajah. Sepersekian detik wanita itu kemudian menghilang disertai oleh suara cekikikan khas kuntilanak! “AHHH ITU PALING JUGA KAKAK KELAS YANG NYAMAR!” Jawab Hadi masih tidak percaya. Aku yang masih mengingat percakapan dari 

kakak pembina sewaktu sore hari yakin jika penampakan tadi bukanlah penampakan manusia melainkan betul-betul KUNTILANAK! Tetapi, aku masih mencoba untuk menyembunyikan kenyataan tersebut kepada teman-teman lain takut-takut kalau mereka tidak fokus dan malah menjadi kesurupan. 

Keadaan kini semakin mencekam mana kala Anwar merasa jika tengkuk nya berat dan kepalanya pusing. Aku menawarkan agar Anwar segera kembali ke tenda untuk beristirahat, namun ia menolak dan bersikukuh melanjutkan game jurit malam. Baru beberapa langkah, Anwar kemudian terjatuh 

dan langsung menjerit melengking seperti teriakan perempuan. Kami langsung panik dan segera memanggil kakak pembina serta guru pembimbing untuk meminta pertolongan, tetapi bagai aliran listrik yang cepat menyambar tak memakan waktu lama Zainal, Erwin, Guntur, ikut terjatuh dan 

kesurupan. Tak hanya mereka berempat, ketika aku dan teman-teman lain sibuk menyadarkan dengan cara mendoa-doakan sebisa kami, kini giliran dari anak murid perempuan yang mulai kesurupan. “Lho Hadi kemana sel?!” Tanya Egy yang baru menyadari jika tiba-tiba Hadi menghilang. 

Aku terhenyak dengan pertanyaan Egy, ku lihat sekeliling namun tak ada Hadi! Aku berinisiatif memutuskan mencari Hadi dengan Usman dan Rendi serta Egy Risno membantu teman-teman yang kesurupan bersama seorang kakak pembina. Suasana semakin malam semakin mencekam mana kala 

kini hampir setengah dari murid kelas 10 mengalami kesurupan massal dan jumlahnya semakin bertambah. Aku Usman dan Rendi berteriak-teriak memanggil Hadi namun ia tak jua menjawab. “Aneh! kita sudah muter-muter kesekeliling sekolah tapi Hadi ga ada!” Ucap Usman yg mulai khawatir. 

“Apa jangan-jangan si Hadi ngumpet kali ya karena merasa bersalah menantang makhluk tak kasat mata, dan buat temen-temen yang lain kesurupan? Sudahlah ga perlu dicari aja orang songong begitu!”Sambung Rendi. “Kita harus cari Hadi sampai ketemu, kok aneh bisa dia tiba-tiba ga ada? 

Mungkin aja dia lagi ngumpet!” Jawabku. Langkah kami bertiga terhenti di ruang laboratorium yg tepatnya berada di bagian paling ujung gedung sekolah. “Eh yakin kamu kalau Hadi ada disini?” tanya Usman “Coba aja dulu, barang kali ada Hadi disini!” Jawab ku sambil terus memanggil– 

Hadi. KREEEETTTTTTTT… tiba-tiba pintu laboratorium terbuka dengan sendirinya. Usman dan Rendi saling bertatapan “Ehhh kok pintu nya terbuka sendiri?!” Tanya Usman. “Ehhh Hadi ga lucu kamu itu bercandanya! cepet keluar dari ruang laboratorium segera! Emang gak takut kamu 

gelap-gelapan disitu?!” Cerocos Rendi. Setelah beberapa detik menunggu, tidak ada jawaban dari Hadi aku memberi aba-aba untuk merangsek masuk kedalam ruangan lab tersebut bersamaan. “Yok, kita masuk ruang lab bertiga! ini tempat terakhir yang mungkin ada Hadi. Kalau disini masih 

ga ada Hadi sebaiknya kita harus lapor ke guru pembimbing!” Ajakku kepada Usman dan Rendi. Begitu masuk beberapa langkah, cahaya lilin kami bertiga langsung menyoroti rangka tengkorak yang berada di luang laboratorium sehingga membuat Usman teriak ketakutan. “Tenang itu bukan 

setan! Itu cuma replika rangka tengkorak manusia aja Us!” Jawabku cepat menenangkan Usman. Tubuh Usman masih gemetar ketakutan, dan tiba-tiba ada suara Hadi dari sudut ruangan lab “MAU APA KALIAN KESINI?! PERGI KALIAN DASAR ANAK KURANG AJAR!” Bentak Hadi — 

lilin redup yang kami bawa lalu kami arahkan perlahan mengitari ruang lab gelap ( tidak bisa menyalakan lampu karena sengaja ya gaes listriknya dimatikan saat game itu oleh kakak pembina dan guru-guru ) kemudian tak lama terlihat tubuh Hadi yang sedang jongkok dibawah meja 

dengan posisi yang membelakangi kami. Rendi langsung menepuk pundak Hadi “Ehh ayo ke lapangan, ngapain kamu disini?!” namun setelah Hadi menengok matanya terbelalak putih semua dan menggertakkan gigi! Kami bertiga langsung lari kocar-kacir tanpa memperdulikan satu sama lain. 

sampai pada akhirnya kami bertemu kembali di lapangan yang dipenuhi oleh siswa siswi kesurupan. “Pak, tolong pak! Hadi ada di ruang lab saat ini! Mungkin kesurupan massal ini ada kaitannya dengan Hadi!” Ucapku meminta pertolongan para guru agar bisa segera membawa Hadi keluar. 

Dua orang guru segera mengikutiku ke ruang lab beserta dengan salah seorang kakak pembina, sedangkan Usman-Rendi diminta untuk menyalakan saklar listrik. Kami dengan tergesa-gesa menuju ruang laboratorium. Sesampainya disana kebetulan lampu sudah menyala, dan muncul dari bawah 

kolong meja Hadi yang tengah merangkak seperti hewan sambil tertawa-tawa “HAHAHAHA… PERGI KALIAN DARI SINI!! ANAK INI AKAN KAMI BAWA KARENA SUDAH MENANTANG KAMI PENUNGGU SEKOLAH INI!!” Guru pembimbing yang sebut saja namanya pak Ranto langsung merejang tubuh Hadi dan pak 

Mukhlis membaca-bacakan doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur’an di telinga Hadi, namun Hadi masih terus berontak dan membuat kami semua kelelahan. Karena suasana semakin tidak kondusif, para guru dan kakak pembina lain memutuskan untuk memanggil pak ustadz / ajengan didekat sekolah. 

Setelah datang pak ustadz, beliau langsung diarahkan untuk segera menyembuhkan Hadi terlebih dahulu karena ini semua bermula dari perilaku Hadi yang tidak sopan. Hadi masih terus berontak dan menggeram, disisi lain para siswa siswi pun masih banyak yang mengalami kesurupan. 

Jika yang satu sudah sadar, kemudian kesurupan berpindah ke murid yang lain tanpa ada jeda hentinya. Sekitar pukul 3 dini hari, pak ustadz dibantu oleh pak Mukhlis yang juga guru agama berhasil menyadarkan Hadi. Beruntung, begitu Hadi sembuh dari kesurupan nya 

para siswa siswi lain pun ikut tersadar. Karena suasana di sekolah sangat kacau, dipagi hari itu juga acara kegiatan perkemahan yang seharusnya dijadwalkan sampai pada hari Minggu, terpaksa harus dihentikan di hari Sabtu. Mau tidak mau kami berbenah untuk segera 

pulang kerumah masing-masing disaat itu. Beberapa dari para murid terlihat sudah sangat kelelahan karena akibat dari kesurupan, beberapa diantaranya kelelahan karena mencoba menyadarkan mereka yang kesurupan. Hadi sendiri nampak murung seperti menyesali perbuatannya sudah 

gegabah dalam bersikap. Akhir cerita pak ustadz dan para guru memberikan wejangan untuk kita sepatutnya berlaku sopan terhadap hal-hal yang tak kasat mata. Imbas dari perlakuan tidak sopan satu orang menyebabkan hampir setengah dari siswa kesurupan saat acara perkemahan sekolah. 

:: penutup :: Nah, oke segitu dulu temen-temen thread horor yang mimin bawakan saat ini. Semoga apa yang baik dalam cerita ini bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan dan terimakasih buat temen-temen yang sudah mau menunggu thread mimin sampai dengan selesai. 

Akhir kata, mimin meminta maaf kalau dalam penulisan mimin ada banyak salah kata atau penulisan yang tidak sesuai. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatu. 

Thread By @PenulisMalam94

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *