RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Ada Sesuatu Dirumahku

Kali ini aku menjadi Ridwan. aku baru pindah dari Ibukota karena orang tuaku dipindah tugaskan Dinas di kota ini. Aku baru 1 bulan tinggal di kota ini. Btw, rumahku cukup besar dan banyak yang bilang bekas peninggalan Belanda. 

Rumah ini sengaja dibeli oleh ayahku sebagai kado ulang tahun pernikahannya dan sekalian perayaan atas naik jabatan beliau. Ada beberapa bagian rumah yang perlu diperbaiki karena lapuk termakan usia.  Oh iya, rumah yang aku tinggali saat ini identitasnya tak pernah disebutkan oleh penjual, yang jelas beliau sudah meninggal 6 tahun yang lalu dan rumah pun menjadi terbengkalai.

Bagian rumah yang perlu dipugar pertama kali adalah depan rumah seperti teras, pekarangan, taman dll.  Seperti biasa pasukan manusia pembangunan dengan slogan “bersama kuli membangun negri” sedang asik bermain dengan peralatan mereka masing masing.

Mereka sempat fokus pada satu titik bidang dimana, bor, palu, linggis tidak bisa menghancurkan lantai yang batunya cukup keras. Aku pun tidak menghiraukannya karena memang tidak memahami apa yang sebenarnya mereka kerjakan. Aku tak pernah mempedulikan hal-hal yang menurutku tidak begitu penting dan tidak ada pengaruhnya untukku. 

“Ahh! Tau dah, bukan urusanku. Itu urusan mereka dengan orang tuaku saja” gumamku.

Oh iya, aku dirumah tinggal dengan ibuku saja. Karena ayahku sedang melakukan perjalanan dinas untuk beberapa waktu. Dan artinya ketika para pekerja bangunan pulang, hanya tinggal aku dan ibuku. Sudah bisa bayangkan bagaimana suasana tinggal di sebuah bangunan tua dimalam hari?

Hari berlalu dan tak terasa sudah 4 hari para pekerja menemani aku dan ibuku dirumah setidaknya hingga sore hari. Namun malam ini saat aku hendak pergi ke toilet untuk sekedar buang air kecil. Samar samar dalam gelap dari kejauhan terlihat sesosok yang sedang jongkok sambil mengayunkan tangannya.

Hmm, mungkin itu salah satu pekerja yang ingin lembur kali pikirku saat itu. 

Lambat laun terdengar suara seperti orang sedang memalu batu. Aku pun tidak menghiraukannya karena aku masih berpikir bahwa itu pekerja yang kulihat tadi. Tapi nampaknya suara pukulan itu semakin keras dan sedikit menggangguku. 

“Kenapa tidak besok saja pak, ini sudah malam loh” kataku dengan sedikit teriak dari dalam rumah.

Suara itu masih saja terdengar dan aku mencoba untuk menghampiri sumber suara itu dan kuintip dibalik kaca jendela.

“Loh, kok ngga ada! Kemana perginya pekerja itu?” 

DEG! Sumber suara berpindah dari yang semula didepan rumah, kini berada di dalam rumah tepatnya berada di dapur. Pikiranku kalut pada saat itu. Aku berlari menuju kamar tidurku dan mencoba untuk terlelap walaupun suara pukulan itu masih terdengar. 

Keesokan harinya aku ceritakan pada ibuku tentang kejadian semalam.
“Bu! Semalem ibu mendengar suara ketukan palu ngga?” Tanyaku ke ibu.

“Ah, suara apa? Ibu tidak mendengar sama sekali ketukan palu itu. Kamu kurang fokus mungkin wan.” Bantah ibu. 

Aku penasaran dengan hal yang menimpaku semalam. Aku tanyakan pada tiap-tiap pekerja. “Semalam siapa yang pukul-pukul lantai hingga larut malam?” Namun jawaban mencengangkan yang justru aku dapat.

Para pekerja sebelum jam 6 sore sudah meninggalkan rumah semuanya. Lantas siapa yang memukul-mukul lantai pada malam itu? Aku melewati hari dengan kejadian yang sama hingga hampir 2 minggu lamanya. Dan malam itu apesnya, ibuku sedang ada acara diluar yang mengharuskannya untuk pulang pagi. 

Tepat pukul 10 malam. Aku terbangun dari tidurku karena hasrat buang air kecil yang tak bisa kubendung. Ahhh, nonton tv dulu kayaknya asik dah! Kunyalakan TV tak lupa kusiapkan amunisi amunisi pendukungnya seperti rokok, cemilan, dan segelas kopi. Sungguh nikmat bukan? 

Aku menikmati acara televisi malam ini hingga waktu menunjukan pukul 12 malam & sayangnya juga aku belum mengantuk pada saat itu. Aku mengambil sebuah buku untuk kubaca dengan harapan semoga bisa tertidur. karena menurut penelitian apabila kita ingin cepat tertidur, maka bacalah. 

Belum ada 3 halaman aku membaca buku, terdengar samar-samar seperti suara bayi menangis. Aku tidak menghiraukan itu dan aku masih berpikir bahwa itu suara anak kucing yang mungkin sedang berkeliaran di sekitar rumah. Maklum namanya juga anak-anak suka bercanda.  Namun suara itu lama-lama semakin jelas terdengar. Dan suatu kehormatan untuk pertama kalinya aku meyakini bahwa ada suara tangisan bayi dalam rumahku.

“I-itu tangisan bayi, itu suara tangisan bayi, Kenapa ada dalam rumah ini?” Aku panik. 

Aku pun berjalan menuju pintu keluar berharap didepan ada warung yang masih buka untuk sekedar nongkrong mencari teman. Baru membuka pintu rumah, suara tangisan bayi semakin banyak dan menyebar tiap penjuru rumah. Aku terkepung dalam tangisan-tangisan tersebut. 

Tubuhku mulai gontai dan pandangan mulai kabur. Namun ada sesuatu yang mendorongku dari belakang.

Bruuukkk!!!!

Aku terpelanting dan mendarat tepat pada titik dimana aku melihat sosok yang sedang jongkok memalu lantai. Aku mendengar erangan lirih tepat disebelahku. Dalam setengah sadarku, aku melihat tepat disampingku sesosok anak kecil dengan tubuh yang hitam lebam dengan kepala besar dan berlubang pada dahinya.

Sosok itu terus memukul lantai yang ada dibawahnya dengan erangan-erangan lirih namun masih bisa aku dengar.  Sosok ini mungkin yang aku lihat pada malam itu. Aku masih setengah sadar dan tiba-tiba tanganku seperti bergerak sendiri dan ikut memukul lantai tersebut. Rasa sakit dan luka pada tanganku menyadarkanku namun sosok itu nyata masih berada di sebelahku. 

Ia seakan akan memberikan tanda padaku untuk menghancurkan lantai itu. Namun aku bingung dengan apa aku dapat menghancurkan lantai itu. Aku pun mencari cara untuk membobol lantai itu & entah kekuatan dari mana datangnya dengan sekali pukulan palu aku berhasil membobol lantainya. 

Aku terbelalak saat kucoba memungut puing-puing lantai, terdapat seonggok bungkusan kain seukuran setengah lengan manusia. Awalnya aku berpikir mungkin hanya kain biasa yang tak sengaja tertimbun pada saat rumah ini dibangun. Aku penasaran dengan kain itu, dan aku buka. Dan sebuah hal yang mengejutkan dengan apa yang telah kutemukan.

“Astaga!!!! I-inikan janin yang sudah mengering. Ini kain kafan, ini kain kafan” 

Awalnya aku kira cuma 1 tanganku mencoba memukul lebih kencang dan betapa mengejutkan yang kupijak saat ini adalah kuburan masal janin bayi yang telah dibungkus kain kafan. 

Akupun tak bisa mengendalikan tubuhku kembali dan tertidur bersebelahan dengan kumpulan janin bayi. Itu adalah moment pertama kalinya aku berinteraksi dengan makhluk yang tak kasat mata. Bertemu langsung dan menemukan sesuatu yang telah lama tersembunyi di rumahku. 

Keesokan harinya aku menceritakan kepada ibuku dan 2 hari kemudian ayah pulang dan segera memindahkan janin tersebut ke pemakaman umum. 

Hari demi hari aku lewati dan gangguan pun tidak muncul lagi. Menurut beredarnya cerita, Penghuni rumah yang dulu adalah seorang dokter yang sering membuka praktik aborsi dan janinnya dikubur di halaman rumahnya. 

Kali ini aku melewati hari dengan berbeda, suatu ketenangan tentunya. Namun, ada hal yang masih menjadi tanda tanya bagiku.

Siapa sosok anak kecil yang memukul lantai tersebut? Apakah masih ada korban yang belum ditemukan?. 

Thread by @penjahatklausa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *