RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Akibat Cinta Tidak Direstui

(KAWIN LARI YANG MENGAKIBATKAN KAKAK KU TERKENA SANTET DARI IBU MERTUANYA, HINGGA MEMBUATNYA LUMPUH SEUMUR HIDUP.)

‘Nama dan tempat kejadian dalam cerita ini sudah di samarkan atas permintaan yang bersangkutan’

“Kamu pilih mama yang sudah bersusah payah melahirkan mu ini atau perempuan murahan itu??!!” Teriak seorang wanita paruh baya tersebut pada seorang laki2 yang menundukkan wajahnya 

“Mama sudah tau jawaban mu!” Ujarnya lagi, lalu tanpa rasa kasian segera menyeret seorang perempuan yang berdiri tepat di samping laki2 yang merupakan anak dari wanita paruh baya tersebut. Melihat kekasihnya di seret paksa keluar rumah, si laki2 itu tak tinggal diam, ia menangis dan memohon2 pada ibunya untuk tidak melakukan hal tersebut pada kekasihnya.  Bruuukkk.. Perempuan yang mengenakan pakaian syar’i berwarna merah itu terjatuh di atas lantai keramik putih pelataran rumah tersebut. Ia menangis sesenggukan dengan kepala yang menunduk.

“Ma! Kalaupun mama tidak menyukai Vida, setidaknya mama jangan memperlakukan nya 

Seperti hewan begitu!” Tegur seorang laki2 yang tengah menggendong bayi kecil, dia adalah Fadli, kakak tertua dari Boby(kekasih Vida) 

“Kau diam! Jangan ikut campur!”

“Bagaimana aku bisa diam saja melihat apa yang sudah mama lakukan pada perempuan malang itu?!” Jawab Fadli lalu memberikan bayi yang ia gendong pada seorang perempuan 

Kemudian ia berjalan kearah Vida, dan membantunya untuk berdiri.

“Kamu tidak apa2? Perutmu sakit?” Tanya nya pelan dan dari raut wajahnya terlihat jelas sekali ia sangat khawatir pada Vida. 

Sementara itu, wanita paruh baya tersebut melihat bagaimana Fadli memperlakukan Vida, wajahnya merengut menunjukkan rasa ketidak sukaan nya. 

“Boby. Antarkan Vida pulang, besok biar aku yang menemanimu melamar Vida.” Ujar Fadli

Ibunya seketika melotot mendengar perkataan anak sulungnya tersebut, lalu dengan lantang ia berkata.

“JANGAN SESEKALI KAU BERANI KELUAR DARI RUMAH INI !! ATAU KALAU TIDAK, 

MAMA TIDAK SEGAN2 MENGUSIRMU DARI RUMAH !!”

Boby nampak bimbang mendengar ucapan ibunya, langkahnya terhenti. Vida yang juga mendengarnya, lantas bermaksud untuk segera pergi. Namun tangan nya di tahan oleh Fadli.  Lalu Fadli menarik tangan Vida untuk mendekat ke arah ibunya.

“Biarkan Boby mempertanggung jawabkan perbuatan nya ma ! Dia sudah cukup umur untuk membuat keputusan nya sendiri !” Ujar Fadli tegas 

“Heh! Bagaimana bisa kau yakin kalau anak yang ada di dalam perutnya itu adalah darah daging Boby?! Dia itu wanita murahan! Karena hanya wanita murahan yang mau di tiduri sampai hamil oleh laki2! Sudah berapa banyak yang menidurimu hah?!! Jangan harap 

Aku akan merestui anakku menikah dengan wanita sepertimu! Dan anak yang kau kandung itupun belum tentu anaknya Boby! Jangan hanya karena Boby yang terakhir menidurimu, lalu kau bisa menjadikan nya ayah dari anak ‘kampang’ mu itu(sebutan untuk anak yang di yakini memiliki banyak Ayah atau hasil dari buatan ramai2).” Bentak si wanita paruh baya itu lagi

“MA !!”

“Mama berkata seperti itu seakan2 mama lupa akan karma! Ingat ma! Aku tidak mau kalau sampai anak2ku menuai karma dari apa yang mama lakukan sekarang! Mama tau? Andai abah masih hidup Beliau pasti sudah memarahi mama habis2an !”

Wanita paruh baya itu terdiam, Fadli lantas menarik tangan adiknya, ia menyuruh Boby agar segera mengantarkan Vida pulang. 

“Ingat apa yang selalu di katakan abah dulu. Sekarang pergilah. Aku merestui kalian.” Ucap Fadli

“Booobyy… JANGAN PERGI!! KAU MAU JADI ANAK DURHAKA HAH?!!” Teriak wanita paruh baya itu ketika Boby dan Vida sudah berada di atas motor nex tersebut itu merupakan hari terakhir bagi boby dan vida berada di desa itu. Karena setelah nya, mereka langsung pergi ke daerah lain untuk menghindari pengejaran ibu nya boby.  Dan akhirnya mereka menetap di sebuah desa kecil yang berada di sebuah kecamatan di Kalimantan Timur.

Boby dan vida juga menikah di desa itu, tentunya dengan berbekal surat2 penting dari paman Vida yang merupakan wali sah nya setelah ayahnya meninggal 7 tahun yang lalu. 

Mereka menjalani kehidupan sederhana dengan ekonomi yang pas2an. Namun kadang2 Fadli juga mengirimkan sejumlah uang untuk mereka. Dan uang kiriman itulah yang di gunakan oleh Vida untuk membuka warung2 kecil guna membantu meringankan beban suaminya. 

Sementara di desa tempat tinggal ibunya, wanita paruh baya itu masih terus mencari boby. Dan tidak jarang ia terus mengorek2 informasi tentang boby pada Fadli dan istrinya. 

Tetapi Fadli dan istrinya tentu juga merahasiakan keberadaan boby pada ibunya. Ia juga menasihati sang ibu agar membiarkan saja boby adiknya hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.

6 bulan lebih telah berlalu, kini anak yang di kandung vida sudah lahir. (Jangan tanya kenapa cuma 6 bulan, karena pada saat mereka kabur itu, vida sudah hamil 3 bulan.) 

Kehidupan mereka pun menjadi semakin bahagia dengan kehadiran sang buah hati. Banyak orang mengatakan kalau anak mereka sangat mirip sekali dengan boby.

Walaupun perbuatan boby dan vida salah, tapi Tuhan cukup adil. Dia memberikan rupa yang sangat mirip antara boby dan bayi itu. Sehingga membuat tuduhan buruk pada vida pun terbantahkan.

Seperti hari itu, ketika Fadli dan anak istrinya datang dari jauh untuk mengunjungi mereka, Fadli terus mengatakan hal yang sama tentang wajah anaknya boby.

“Wajahnya mirip sekali dengan mu bob.” Ujarnya berulang2 

“Aku tau. Bukan cuma kau yang mengatakan nya. Ini, bila aku membawanya berjalan2 pagi, pasti ada saja orang yang mengatakan bahwa dia sangat mirip denganku. Ya bagaimana tidak, toh dia memang darah dagingku.” Ujar boby 

Fadli tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyuman nya menghilang, berganti dengan tatapan yang sulit di artikan. 

“Ada apa?” Tegur boby

“Aku merasa sedih bob, aku merasa gagal menggantikan abah untuk menasehati mama. Kasihan keponakan ku ini, harus tumbuh di antara orang2 asing.” Ucapnya lirih 

Boby menarik nafas panjang, helaan nafasnya terdengar berat.

“Aku memang rindu rumah, tapi di sini jauh lebih baik untuk anak dan istriku. Dan perlu kau ingat, aku tidak pernah menyalahkanmu. Malah aku dan vida sangat berterima kasih dengan apa yang sudah kalian berikan pada kami.”

Mendengar perkataan boby, istrinya fadli lantas menatap suaminya. Seolah meminta penjelasan dari apa yang baru saja di katakan oleh boby. 

“Aku pernah beberapa kali mengirimkan uang untuk mereka. Aku lupa mengatakan nya padamu.” Ujar fadli pada istrinya yang membuat boby melongo 

Istrinya fadli tak menunjukan reaksi apa2 pada saat itu, namun tiba2 rencana mereka berubah. Yang semula ingin menginap 3 hari, malah cuma jadi 1 hari saja. Itupun mereka pulang dengan terburu-buru.

Sebulan setelah itu, tiba2 saja vida jatuh sakit, setelah beberapa hari yang lalu anak mereka juga jatuh sakit dan terus menerus menangis, rewel.  Semula boby pun mengira jika vida sakit karena memang pada saat itu sedang musimnya orang2 sakit. Anak2 sampai orang tua di desa itu terserang flu dan demam. Namun meski begitu, tidak ada yang sakitnya selama vida.  Sudah 1 minggu lebih ia terbaring dengan suhu tubuh yang sangat panas, bahkan beberapa jenis obat penurun panas sudah di coba, mulai dari obat warungan, dokter, sampai obat2 kampung(seperti pucuk kembang sepatu dll). Tetapi tak ada satupun yang berhasil menurunkan panas badan nya vida.

Tetangga2 yang memang sudah akrab dengan pasangan itu, mengatakan bahwa sakitnya vida ini bukan sakit biasa.  Mereka beranggapan kalau vida sudah di buat sakit oleh seseorang. Dan mereka menyarankan agar boby menemui orang yang bernama pak samad, untuk meminta tolong. 

“Saya tidak tau rumah beliau.”

“Kamu berangkat sama anak saya, biar istri dan anakmu kami yang bantu jaga.”

Akhirnya sore itu juga, boby berangkat bersama Bias, pemuda yang baru berusia 17 tahun tersebut. Singkat cerita, mereka akhirnya sampai di desa tempat tinggal pak samad. Mereka berdua di sambut baik oleh lelaki berusia 55 tahun tersebut. Dari cerita nya ternyata beliau ini bukan penduduk asli daerah sini, dan sama seperti boby, pak samad juga seorang perantau dari daerah lain. Saat boby menceritakan apa tujuan nya ke rumah pak samad, lelaki itu tersenyum dan mengangguk.

“Kau pun juga ada yang mengikuti nak.” Ucapnya 

“Maksudnya?”

“Ada sosok yang tidak begitu asing ku lihat berada di dekatmu. Biasanya sosok itu sangat suka membuat huru hara rumah tangga.” 

Boby mengerutkan alisnya, kemudian ia menatap ke sekeliling dengan seksama, namun tak melihat apapun.

“Saya masih tidak mengerti.”

“itu jin. Tapi aku sendiri pun tidak tau apa nama sebutan untuk mereka. Sehingga aku membuatkan sebutanku sendiri untuknya, yaitu Puntilung. 

Mereka itu jahat, tetapi meski begitu mereka tidak akan mengacau secara acak pada setiap orang. Hanya bila ada orang yang mengutus/menyuruhnya, barulah mereka akan beraksi. Kedatangan mereka bisa di ketahui dengan ciri2 rumah terasa panas, atap rumah berderit di setiap sarak saru (waktu keluarnya mahluk halus, biasanya menjelang maghrib), di dalam rumah banyak terdapat ulat pocong, dan kalau ada bayi di dalam rumah itu, bayi akan menangis terus menerus dan menunjukan rasa tidak betah berada di dalam nya.” Tutur pak samad.

Boby terdiam, apa yang baru saja pak samad katakan tentang ciri2 kedatangan puntilung ke dalam rumah, itu sama persis dengan apa yang terjadi di rumah sewaan nya beberapa waktu lalu, tepatnya sekitar beberapa hari setelah kedatangan fadli. 

“Iya pak, semuanya sudah pernah terjadi di rumah kami. Ya Allah, siapa yang tega ingin merusak rumah tangga saya?”

“Bisa orang jauh, dan bisa juga orang terdekat. Kalau pengalamanku yang sudah2, puntilung2 itu dikirim oleh mantan kekasih dari pihak si istri/suami. Atau bahkan keluarga mereka sendiri, bisa dari pihak istri/suami. Tergantung.”

“Kalau yang di kami ini bagaimana pak? Siapa yang mengirimkan nya?”

“Kita tidak tau bila tidak mencari tau nya. Sekarang lebih baik kita lekas ke rumahmu, karena kalau terlambat disembuhkan akibatnya bisa fatal.”

Adzan maghrib sudah berkumandang kala mereka bertiga sampai di rumah tempat tinggal boby dan vida. Saat melihat keadaan istrinya yang tiba2 saja mengeluarkan keringat dan mulai berbicara, boby seketika tersenyum senang.  Ia langsung duduk di samping istrinya, meletakkan punggung tangan nya di dahi vida, untuk mengecek suhu tubuh istrinya tersebut. Tapi kemudian senyum yang tadi mengembang, seketika menghilang setelah ia merasa jika demam istrinya semakin naik. 

“Tidak lama setelah kamu berangkat tadi, dia mulai meracau dan badan berkeringat. Sudah saya lap berkali2, tapi peluhnya masih terus keluar. Dan panas badan nya semakin tinggi.” Ujar ibunya Bias 

Boby menatap pak samad yang sedang ke sekeliling ruangan tersebut.

“Bagaimana ini pak?”

“Keadaan istrimu sudah mulai parah, saya tidak bisa mengobatinya sekarang. Saya perlu persiapan terlebih dulu.” Ujar pak samad dengan wajah yang datar 

“Berapa lama pak? Saya takut vida kenapa2 pak, bukan nya tadi bapak bilang kalau terlambat disembuhkan akibatnya akan fatal?”

“Iya memang betul, tapi kalau sudah parah seperti ini, saya pun tidak berani urap urap mengobatinya, karena bisa2, saya yang dalam bahaya.” 

Boby menarik nafas panjang, mendengar jawaban dari pak samad, ia sedikit kecewa namun pak samad benar. Boby sendiri pun tak ingin ada orang lain yang menjadi korban. 

“Baik pak, saya akan menunggu. Semoga saja istri saya akan kuat.” Ucap boby pasrah

Setelah pak samad dan tetangga2 sudah pulang ke rumah masing2, boby duduk di dekat vida terbaring sambil menggendong bayinya. Matanya sudah sangat berat sekali, namun bayinya akan terbangun dan menangis begitu di letakkan di atas tempat tidur.  Akhirnya boby pun tidur dalam keadaan masih menggendong si bayi.

Sekitar pukul 2 malam, vida mulai meracau lagi, yang membuat boby langsung terbangun. Suhu tubuh vida masih sangat panas, dan kali ini ia menggigil seperti orang yang sedang kedinginan. Boby bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apalagi keadaan bayinya saat itu yang sama sekali tak mau lepas dari gendongan, membuatnya frustasi. Vida tiba2 saja muntah, bau nya sangat busuk. Wajah dan leher nya di penuhi bekas muntahan nya sendiri.

“Ya Allah, nak. 

Ayah mohon jangan menangis. Kasian ibumu nak, ayah mau membersihkan ibumu dulu.” Isak boby, namun bayi itu tak mengerti apa2. Ia terus menangis saat boby terpaksa harus meletakkan nya di atas kasur.  Sampai2 ada ibunya bias masuk kedalam rumah pun boby tidak sadar. Ia tau adanya ibu bias pun ketika mendengar suara anaknya sudah berhenti menangis, saat berada di dalam gendongan wanita itu. 

“Terima kasih bu.”

“Iya. Aku pun tidak bisa tidur karena memikirkan kalian. Makanya saat mendengar suara tangis anakmu, aku langsung berlari kemari. Aku tau kau pasti sedang sibuk sekali, harus mengurus dua2 sekaligus.” 

Boby sedikit tenang mendengar perkataan ibunya bias, wanita itu memang baik sekali.

“Kau tidak berangkat kerja?”

Boby menggeleng.

“Aku tau kau pasti susah meninggalkan keduanya, tapi kau juga harus bekerja untuk mencari biaya pengobatan vida dan susu anakmu. 

Kau tenang saja, aku akan menjaga mereka berdua untukmu. Kau bisa bekerja dengan tenang. Karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian.” ujar ibunya bias 

Mendengar apa yang dikatakan ibunya bias hati boby tersentuh, ia terharu dan merasa sangat beruntung mendapatkan tetangga sebaik ibu bias. 

“Terima kasih bu.”

Hari2 telah berlalu. Pada malam ke 7, barulah pak samad muncul sambil menenteng bungkusan kain hitam yang di dalam entah berisi apa. Beliau membukanya di dekat vida, karena memang rumah sewaan itu tidak terlalu besar. Ada bongkahan kayu hitam yang tengah2 nya berbentuk cekung. Ada juga akar2an aneh yang masing2nya saling mengikat satu sama lain.  Dan berbagai macam benda yang nampak sangat aneh bagi boby.

“Ini adalah batang kayu panah, yang khusus mengobati panah(santet).” Ujar pak samad sembari menunjukkan bongkahan kayu hitam tersebut 

“Kalau yang ini akar pohon kenanga putih. Akar yang seperti ini sangat jarang sekali adanya, dan bila menemukan yang seperti ini, itu merupakan sebuah keberuntungan.” Ujar pak samad memperlihatkan akar yang saling mengikat satu sama lain nya itu 

“Malam ini akan kita mulai pengobatan nya.” Lanjutnya

Setelah menunggu sampai matahari terbenam, pak samad memulai ritual pengobatan nya. Tidak ada yang boleh masuk kedalam rumah saat ritual berlangsung, bahkan anaknya boby dan vida pun terpaksa harus di titipkan pada ibu bias. Malam itu suasana sepi dan mencekam, terlebih lagi dengan adanya bau gaharu, dupa dan kemenyan yang bercampur jadi satu di udara. Beberapa kali boby terbatuk karena bau asap dari gaharu, dupa dan kemenyan yang terus di bakar itu. Pak samad sendiri duduk bersila dengan jarak yang tidak begitu jauh dari vida berbaring.  Beliau nampak khusyu berdzikir. Dan tidak lama kemudian, tubuh vida mulai bereaksi.

Akar kayu pohon kenanga putih yang ujungnya sudah di raut hingga lancip itupun di gunakan untuk melukai telapak kaki dan tangan vida hingga berdarah. Namun anehnya darah yang keluar dari telapak kaki kiri vida terlihat menghitam, sedangkan yang di kanan, darahnya nampak seperti darah segar pada umumnya yang berwarna merah. Pak samad menampung darah hitam itu di sebuah wadah kecil dari tanah liat lalu meletakkan nya di atas kain hitam.

Kemudian beliau mengambil bongkahan kayu panah itu dan mulai memutar2kan kayu hitam lain nya yang berbentuk jauh lebih kecil di atasnya (gerakan nya mirip seperti 

Mengulek sambal). Anehnya tanpa di kasih air, cekungan pada kayu panah itu mulai di penuhi dengan cairan hitam yang kental. Setelah di rasa cukup, pak samad lantas berhenti dan mulai mengoleskan nya pada telapak kaki dan tangan vida yang tadinya di lukai menggunakan akar pohon kenanga putih.  Lalu pak samad mencampurkan darah yang berwarna hitam dari luka di kaki kiri vida itu dengan cairan kayu panah dan membungkusnya dengan kain hitam. 

“Coba kamu cek panas badan nya.” Suruh pak samad pada boby

“Alhamdulillah, sudah dingin pak.”

“Syukur Alhamdulillah. Kau tunggu disini ya, aku akan keluar sebentar untuk menguburkan ini.” Kata pak samad 

Boby mengangguk, lalu kemudian pak samad berjalan keluar dengan membawa darah tadi. Entah kenapa harus di kubur, boby pun sangat penasaran namun ia urungkan niatnya untuk bertanya. Setelah pak samad kembali masuk kedalam rumah, boby pun mulai bertanya.

“Apa istri saya sudah sembuh pak?”

Pak samad menghela nafas, “InsyaAllah.”

“Lalu siapa kira2 yang mengirimkan jin itu?”

“Ibumu. Pernikahan kalian tanpa restu, dan istrimu dianggap perempuan tidak baik oleh nya bukan?.”

Boby terdiam, mulutnya terbuka. Ia kaget dan tak menyangka jika ibunya tega berbuat seperti itu pada vida. Padahal vida tidak sepenuhnya salah. Karena mereka berdua melakukan hal itu atas dasar suka sama suka. Bahkan  Pada saat pertama kali itu terjadi, vida masih lah gadis suci.

“Saya yang salah pak, bukan istri saya.” Ucap boby bergetar 

“Jadikanlah ini sebuah pelajaran. Dan nanti kau juga harus datangi ibumu, minta maaflah, dan jelaskan semuanya pada beliau. InsyaAllah dia akan mengerti.” 

Boby menggeleng,

“Saya tau sifat ibu saya pak, dia tidak akan mau mendengarkan penjelasan kami(anak2nya). Dia hanya menginginkan apa yang dia ucapkan selalu kami turuti tanpa dia sadari kami juga ingin membuat keputusan sendiri dalam hidup yang akan kami jalani pak. 

Bila sudah begini, apakah berarti saya anak durhaka??”

“Tidak semua anak yang membantah keinginan orang tuanya itu anak durhaka, itu berbalik lagi dari apa yang di inginkan orang tuanya, kalau keinginan orang tua nya itu menimbulkan kesakitan fisik/batin pada anaknya(keinginan yang salah) itu harus kamu tolak, demi kebaikan kamu sendiri(selaku anak) dan ibumu(selaku orang tua).” Ujar pak samad 

“Maka dari itu saya tidak ingin kembali lagi ke rumah itu pak, tapi jujur dalam hati saya sendiri saya memang sayang pada ibu saya. Hanya saja saya tidak tau cara nya untuk membuat beliau sadar dan mau menerima istri dan anak saya.” 

“Bersabarlah, dan selalu dekatkan diri pada Allah, InsyaAllah Dia akan memberikan jalan yang terbaik untuk mu dan keluargamu.” 

Beberapa minggu kemudian, Fadli datang bersama Lida(adik dari vida) yang sebelumnya tinggal di kota lain. Gadis itu menangis memeluk kakaknya yang terbaring lemah di atas kasur tipis. 

“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit kak?”

“Sudah Lid, tapi tidak ada kemajuan. sekarang kakakmu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, meski sebagian tubuhnya masih tidak bisa di gerakkan.” 

“Mama tega sekali. Aku merasa malu atas apa yang sudah mama lakukan bob.” Ujar fadli

Lida pun tak bisa berkata apa2 dalam hatinya ia sangat menyesalkan keputusan kakaknya yang memilih untuk menikah dengan boby. 

Andai vida tidak menikah dengan boby, semua ini tidak akan pernah terjadi.

—SELESAI—

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *