RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Alam Suro

(Kumpulan cerita yang terjadi pada bulan Suro)

PART 1 : JAMASAN PUSOKO (MEMANDIKAN PUSAKA)

Hari ini, edi sedang memperhatikan sebuah gudang kecil dibelakang rumahnya. Dia menatap serius pintu gudang tersebut. Nampaknya ada yang membuat perhatiannya sangat amat serius. Entah, apakah selama ini hanya firasat atau hanya halu yang lewat dipikiraannya saja ?dirinya selalu mendengar benda-benda bergerak sendiri sampai menimbulkan suara gaduh pada bulan tertentu. Selama beberapa tahun terakhir, semenjak dirinya pindah ke rumah itu.

Sering sekali mendengar suara benda bergerak dan gerakan benda tersebut menimbulkan suara yang sangat keras sekali seperti seseorang yang ingin sekali lepas dari penjara. 

Bunyi benda-benda itu seperti memberi arti bahwa mereka hidup dan ingin sekali lepas saat itu juga. karena bunyi itu, edi kadang kala takut dan merinding ketika mereka sudah bermain bunyi didalam gudang. 

Lamunan edi seketika buyar lantaran ibunya secara tiba-tiba mengagetkan dirinya yang saat itu sedang serius memandangi gudang tersebut. “buk, kok semisal mau mendekati bulan suro, gudang tiap malam hari selalu rame ya ? apa ada yang sedang bermain digudang buk ? 

atau hanya aku saja yang halu dan kliru (salah) dengar ? tapi gak mungkin buk kalua aku salah dengar ?” ucap edi. Sang ibu menatap lurus kearah pintu gudang. 

Tatapan ibunya seolah menjelaskan bahwa dirinya sangat tahu mengapa suara gaduh itu selalu terdengar saat bulan tertentu ketika malam hari. Ibunya kemudian menyuruh edi segera berdiri dan mengajaknya untuk masuk kedalam. Tidak ada jawaban yang dijelaskan oleh ibu edi. 

Ayahnya, pak listo baru saja pulang. Tanpa bersuara dan banyak omong beliau meletakkan tasnya di kursi kayu ruang tamu. Dia kemudian menatap edi dengan wajah yang santai namun tetap terlihat serius. Edi yang sudah memperhatikan ayahnya sejak tadi hanya bisa membalas pasrah tatapan sang ayah.

“nanti ikut bapak, kita ke rumah pak khadim. Bapak ada perlu sama kamu.” Ucap pak listo.

Edi hanya bisa membalas perkataan sang ayah dengan mengangguk pelan dan kemudian diam. Edi sudah terlihat rapi dan duduk dikursi depan rumah.menunggu ayahnya yang tak kunjung keluar. Dia pikir mungkin ayahnya lupa bahwa sudah mengajaknya untuk ikut kerumah pak khadim. 

Sudah hampir setengah jam ayahnya tidak kunjung keluar dari gudang. Mungkin memang benar, rencana saat itu batal. Perasaan kesal saat itu sudah menyelimuti hati edi, padahal saat itu dia sudah punya janji dengan mayang mengajaknya makan bersama.

Tiba-tiba suara pintu yang terbuka terdengar keras dari arah gudang. Rupanya sang ayah yaitu pak listo sudah memakai blangkon dan berpakaian yang menurut edi sangat aneh dipakai saat itu. Ayahnya memakai baju surjan. Pakaian yang sangat formal sekali menurutnya dan cukup serius sekali dipakai saat malam hari. Pikiran edi sudah kemana-mana, apakah sang ayah akan mengajaknya pergi ke suatu tempat dan melakukan ritual? karena sangat aneh sekali menurutnya hari sudah berganti malam dan.. 

sang ayah memakai pakaian seperti itu. “ed, kamu ganti pakek baju ini. Itu kamu ambil didalam.

Segera kita berangkat ke rumah pak khadim.” Ucap pak listo. 

Edi dengan cepat melakukan perintah ayahnya. Dia sedikit lari menuju kea rah gudang. Baru pertama kali dia masuk kedalam ruangan itu.

Hal itu terjadi lantaran edi dan ibunya diperintahkan untuk tidak mendekati area gudang dengan alasan apapun. Edi sangat terkejut karena saat pertama kali masuk kedalam gudang itu, dia melihat tembok gudang tersebut berisi dengan benda-benda kuno dan juga benda yang sekarang sudah lumayan punah. Terdapat keris berjejer rapi yang diletakkan dipojok ruangan. Sangat bersih sekali dan bau ruangan itu sangat wangi sekali dengan wangi bunga. 

Edi kemudian melihat baju surjan yang terlipat rapi berada diatas meja lengkap dengan blangkon seperti yang dikenakan ayahnya.

Tidak bisa dipercaya olehnya, hal yang paling dia hindari selama ini harus dia lakukan. Menggunakan sesuatu yang ayahnya kenakan dan dilakukan. Namun, edi adalah anak yang patuh kepada orang tuanya. Tidak mungkin hal yang sudah diperintahkan oleh sang ayah akan ditolak olehnya. Edi bergegas ganti baju dan segera juga menggunakan baju surjan tersebut dan lekas menemui ayahnya didepan. 

“sudah selesai ed ? lekas kamu ambil peti hitam yang berada di pojok ruangan. Jangan dibuka.” Ucap pak listo.

Edi dengan cekatan mengambil peti yang berada didalam ruangan tersebut. Nampak berat sekali dan sangat wangi sekali. Perasaan ingin sekali tahu apa yang ada didalam peti itu menggebu-gebu dalam hati edi. Namun, hal itu sangat tidak akan dia lakukan karena sang ayah melarangnya untuk membuka peti tersebut. 

Mobil menyala dan edi bersama ayahnya tancap gas ke rumah pak khadim. Sampai saat itu edi masih belum mengerti diajak kemanakah sebenarnya oleh ayahnya ? edi memilih untuk tidak terbebani dengan rasa penasarannya yang tinggi. Hingga tiba didepan rumah pak khadim, ayahnya dengan cepat turun dari mobil dan kemudian menyuruh edi untuk segera mengambil peti yang dibawa tadi.

Dengan cepat edi berlari kearah belakang mobil. Dia membuka pintu belakang dengan cepat. 

Tiba-tiba dia terkejut dengan seorang perempuan tua yang berdiri dibelakangnya. Peti yang dibawanya hampir terjatuh. Dia menatap serius kearah nenek bungkuk tersebut. Menoleh ke kanan ke kiri. Dia sangat terkejut dengan kemunculan nenek tersebut secara tiba-tiba. Karena penasaran, edi menghampiri nenek bungkuk tersebut dan meletakkan peti tersebut sebetar ditanah.

“nyun sewu (permisi) mohon maaf tadi bersikap tidak sopan nek, mohon maaf sekali.” Ucap edi.

Wajah nenek bungkuk tersebut nampak sangat teduh sekali. Senyum yang begitu senang dia nampakkan didepan kedua mata edi. Edi dengan cepat meraih tangan nenek itu berniat untuk menuntunnya, hal itu dia lakukan lantaran dia sangat iba akan kondisi nenek tersebut yang tidak kuat untuk berjalan. 

Namun, ajakan edi untuk menuntunnya berjalan ditolak. Nenek tersebut kemudian menepuk pundak edi dan kemudian sedikit merangkulnya. “le, misal awakmu kepilih. Aku njaluk tulung awakmu kudu ajeg lan waspodo. Soale wong kang diamanahi barang kui pasti abot nglakoni pantangane. Yen atimu kuat, insyaAllah kabeh wes ditakdirno dalan e.” jelas sang nenek. (nak, jika kamu terpilih. Aku minta tolong kamu harus tetap/tidak berubah dan waspada. Karena orang yang diamanahi sebuah barang itu pasi berat melakukan pantangannya. Kalau hatimu kuat, insyaAllah sebuah sudah ditakdirkan jalannya.) 

Karena setelah mendengar perkataan nenek tersebut edi melamun, tanpa sadar ayahnya terdengar memanggilnya. “ed…. Edi ? nyapo awakmu sui nok kono ? ndangan, wes dienteni karo wong-wong” ucap ayahnya sambal berteriak. 

(ed, edi.. kenapa kamu lama disana ? cepat ! sudah ditunggu sama orang-orang.) edi yang saat itu mendengar teriakan ayahnya seketika tersadar dan melihat nenek tersebut sudah tidak ada. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Aneh, padahal tidak lama dia melamun namun keberadaan si nenek tersebut sudah tidak ada disekitarnya.

Edi bergegas mengambil peti yang dia letakkan dibawah, kemudian berjalan cepat menghampiri sang ayah. Didalam rumah pak khadim sudah duduk dengan tenang dan juga berbaris rapi. Nampak terlihat sang ayah yang melambaikan tangan kepadanya. Edi menyadari saat itu suasana sedang serius.

Entah apa yang sedang dilakukan orang-orang tersebut dengan pakaian yang sama seperti ayahnya. Edi secara pelan membawa peti itu mendekati ayahnya yang berada dibarisan depan sendiri. Edi tidak tahu menahu, yang jelas selama itu dia mengikuti perintah dari sang ayah.

“ed, bukaen petine. Jupuken opo seng onok ndek jero peti iku.” Ucap ayah edi. (ed, bukalah petinya. Ambilkan apa yang ada di dalam peti itu.) tanpa basa-basi edi segera membuka peti tersebut dan pandangan edi seketika terkejut.

Ternyata didalam peti tersebut terdapat sebuah keris yang lumayan besar dan juga sangat terasa kesakralannya. Hawa berbeda sangat dia rasakan saat memegang keris tersebut.

Dia berikan keris tersebut kepada sang ayah dan kemudian ayahnya segera meraihnya. 

Ternyata saat itu adalah bulan suro. Dimana para penerus dari ras ayahnya melakukan ritual “jamasan pusoko” ritual ini berarti memandikan pusaka warisan dari leluhur supaya keberadaannya masih terawat sampai generasi selanjutnya. 

Ternyata maksud dari sang ayah mengajak edi untuk mengikuti rangkaian acara tersebut lantaran edi akan menjadi penerus dari ritual jamasan pusoko selanjutnya. Edi mulai paham ternyata semua ini adalah car ayahnya untuk mengenalkan proses yang dilakukan leluhurnya untuk merawat benda pusaka yang ditinggalkan. Edi sungguh khitmat dalam mengikuti proses tersebut sampai selesai. Rupanya, keris yang dia keluarkan dari peti tersebut adalah keris nogo rojo kinatah.

Ditengah asiknya edi memperhatikan prosesi acara jamasan tersebut, terlihat nenek tua yang dia temui tadi berdiri dipojok ruangan yang agak gelap. Hanya ada terang dari lampu cempluk yang terpancar ditubuh nenek tersebut.

Edi tersenyum dan menunduk kepada nenek tersebut. Nampak sapaan jauh dari edi dibalas dengan senyuman oleh nenek tersebut kemudian tangan kanannya yang dia sembunyikan dibalik punggungnya secara cepat dia gerakkan kedepan dengan menggaman sebuah keris ditangannya. 

Edi terkejut, lantaran keris tersebut sama persis dengan keris yang dijamas oleh ayahnya tadi. Edi menoleh kearah keris tadi yang diletakkan ditengan meja. Kemudian secara cepat melihat nenek itu lagi yang keberadaannya sudah hilang entah kemana. Edi kemudian menoleh kearah ayahnya dan sang ayah membalas dengan senyuan. Kemudian mendekati edi dan berkat pelan didekat telinga edi.

“iku maeng sing mbok delok iku pengampinge keris kui, jeneng e mbah mulyo arum.” 

(itu tadi yang kamu lihat itu adalah pendamping keris itu, namanya adalah mbah mulyo arum) seketika edi menoleh dan bernafas panjang.

selanjutnya : NGLARUNG 

PART 2 – NGLARUNG

Dewi terlihat sedang merapikan meja yang berada diruangan lantai dua. Hawa tidak nikmat sangat dia rasakan saat itu. Semua itu disebabkan lantaran lantai dua tidak pernah dijamah oleh orang lain. Bahkan pemilik rumah itu juga sudah ngewanti-wanti jika tidak boleh ada satupun orang lain yang naik ke lantai dua kecuali dia dan ibunya. 

Tiba-tiba sebuah benda terjatuh dari atas meja. Dewi terkejut. Nampak sikapnya kali ini tidak sama seperti setiap harinya yang berani. Kali ini dia cukup awas dan juga sedikit takut.

Benda yang jatuh itu adalah sebuah sisir kayu yang tadinya diletakkan diatas nampan. 

Dewi cukup penasaran mengapa ada bunga-bunga yang sangat harum sekali ? tak hanya bunga terdapat baju dan juga jarik yang dilipat rapi diatas bungat itu.

Lengkap sekali, seperti peralatan wanita yang memang sengaja ditata serapi mungkin disitu. 

Setelah mengembalikan sisir kayu tersebut ke tempat semula. Tiba-tiba jendela ruangan tersebut terbuka dan angin lumayan kencang datang.

Dia mencoba tidak menghiraukan hal itu, namun sebuah kain yang menutup benda di dinding lepas. Dewi menoleh dan melihat lukisan wanita yang memakai baju jaman dahulu berwarna hijau. Dewi pernah melihat lukisan wanita ini dirumah saudara ibunya. Menurutnya lukisan itu seperti memiliki nyawa yang sangat hidup sekali. Tiba-tiba suara sang ibu terdengar memanggilnya. 

“wi, dewi.. kok suwi eram ? wes mari a lek mu toto toto ?” tanya sang ibu. (wi, dewi.. kok lama sekali ? sudah selesai kah kamu menata ?) Sarpiah, ibunya yang sedari tadi sudah menunggunya dibawah terpaksa berjalan lagi keatas untuk melihat anaknya yang sangat lama sekali bersih2 

Dewi melihat ibunya, menatap penuh tanya dipikirannya. “buk, ditembok itu lukisane sopo sih ?” tanya dewi polos. (buk, ditembok itu lukisannya siapa sih ?) sarpiah yang mendengar pertanyaan dari dewi kemudian menoleh kearah lukisan tersebut. 

“huss, kamu jangan banyak tanya begitu. Kui ngunu lukisane ibu ratu. (itu adalah lukisan ibu ratu) betul saja dewi merasa kebingungan. Selama ini hanya ibunya yang tahu soal ruangan tersebut. 

Dia diajak ibunya untuk ikut serta membersihkan ruangan tersebut masih beberapa minggu. Tidak heran jika dewi seperti orang bodoh melihat sekeliling ruangan yang menurutnya sangat amat menakutkan itu. Ibunya segera turun dan diikuti oleh dewi. Nampak sebuah tumpeng besar sudah tertata rapi diatas meja makan.

Dewi merasa dirinya belum tau sama sekali bagaimana cara kerja dirumah ini, sejauh itu masih mengikuti perintah ibunya. 

“kamu bawa wi tumpengnya trus taruh didalam motor. Jangan lupa kembang setaman e.” ucap ibunya. Dewi hanya memperhatikan dan mengikuti perintah ibunya.

Dia mengambil tumpeng itu karena lumayan berat jadi dia meminta bantuan ke beberapa orang yang berada didepan. Setelah dia letakkan di bagasi mobil. Dewi tergiur dengan telur yang terbalut dengan bumbu merah dan aromanya sangat menggoda. Akhirnya, dia mengambil satu telur dan memakannya.

Batinnya, mungkin jika mengambil satu saja tidak akan ketahuan oleh ibunya. Namun, saat dia menggigit telur tersebut dan mulai memakannya, rasa telur itu hambar. Tidak terasa asin dan juga gurih. Hambar seperti tak berbumbu. Karena rasanya tidak enak dan hambar, dewi akhirnya membuka bagasi kembali dan dia cicipi semua lauk di sekitar tumpeng tersebut.

Semua rasanya sama, hambar. Karena sedikit khawatir dan takut nanti sang ibu dimarahi oleh pakuncen. 

Dewi dengan cepat berlari menuju ibunya yang sedang menyalakan dupa. “bu, tumpeng e koyok e karo seng masak gak dibumbuni ?” ucap dewi. (bu, tumpengnya sepertinya sama yang masak tidak dikasih bumbu). Mendengar perkataan anaknya, sang ibu kemudian melotot dan langsung berdiri. 

“mari mbok pangan yo ? nglamak awakmu iki wi. Iku ngunu gae nglarung nok segoro.” Ucap ibunya. (habis kamu makan ya ? gak sopan kamu in iwi. Itu dipakai untuk nglarung (ritual budaya dengan sesajen) di laut). 

Mendengar perkataan ibunya, dewi terkejut lantaran ibunya tahu bahwa makanan di tumpeng tersebut telah dia makan sedikit. 

Diperjalanan banyak pertanyaan yang ada dikepala dewi. Mengapa sang ibu bisa tahu kalau tumpeng tersebut dia makan sedikit. Perasaan tidak ada yang melihatnya saat itu. Setelah itu, sampailah mereka dilokasi tujuan. Nampak, beberapa orang yang sedang berada dilokasi langsung membuka bagasi dan membawa tumpeng tersebut menuju pinngir pantai.

Dewi memilih untuk tetap didalam mobil. Dirinya sudah bosan dengan tingkah orang-orang yang lumayan menyita energy saat itu. Saat memandangi ibunya, dia melihat perempuan berpakaian persis seperti dilukisan tadi pagi.

Namun, ada beberapa yang terlihat berbeda namun pakaian perempuan itu sama. Bedanya, jika dilukisan tidak memakai mahkota, yang dia lihat saat ini memakai mahkota kuning keemasan dan banyak sekali bunga disekitarnya.

Perempuan berambut panjang tersebut berjalan pelan didepan para orang-orang tersebut. Dewi memperhatikan dengan seksama. Tiba-tiba dia terkejut lantaran perempuan berpakaian serba hijau tersebut menoleh dan menatap lurus kepadanya.

Padahal saat itu posisinya berada didalam mobil. Dewi dengan cepat duduk dan menghadap kedepan. Seolah tidak percaya perempuan itu bisa tahu dewi sedang memperhatikan dan kemudian langsung tersenyum kepadanya. Karena rasa terkejut yang sangat amat dia rasakan ini, dia menutup wajahnya dengan jaket yang dia lepas tadi. 

Setelah acara selesai, ibunya kemudian masuk kedalam mobil. Dewi yang wajahnya sudah memendam penasaran sedari tadi kemudian tanpa basa-basi bertanya kepada ibunya.

“bu, siapa yang tadi memakai baju seperti dilukisan ? dia tadi tersenyum kepadaku.” Ucap dewi. 

Ibunya yang mendengar perkataan sang anak segera melirik pelan dan memandangi muka sang anak. “kamu bilang apa wi ?” tanya ibunya.

Dewi dengan santai menjelaskan bahwa dia melihat sosok berupa wanita berbaju hijau seperti dilukisan pagi tadi. Sontak ibunya kaget dan kemudian berkata “tidak ada yang berani memakai baju hijau dipantai selatan kecuali si penghuni tempat tersebut.” Ucap ibunya. Seketika dewi terdiam dan menelan ludah. 

Dia paham dengan perkataan sang ibu tersebut dan memilih diam sampai dia dan ibunya pulang dan segera tiba dirumah.

Selanjutnya : PUNDEN 

PART 3 – PUNDEN (END)

Putri adalah seorang gadis yang berusia 15 tahun. Dia tinggal disebuah desa pinggiran Kabupaten Malang.

Sang ayah yang menjadi pemangku didesanya membuat putri menjadi seorang anak yang hidupnya tidak jauh dari adat kejawen. Pagi itu, putri dan orang tuanya hendak pergi ke suatu tempat yang beada di atas gumuk. Tidak jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Karena, mereka bisa mengambil jalan pintas untuk pergi ke tempat tersebut. 

Putri mengambil sesuatu yang berada didalam lemari. Sepertinya sebuah dupa gunung kawi yang masih baru dan bersegel. Ibu dan ayahnya sedang duduk bersila didepan makam keramat yang mana batu nisan dari makam tersebut ditutup oleh kain putih. 

Diatas batu nisan itu terdapat payung kuning keemasan yang sangat indah sekali. Putri hanya menatap sang ayah yang sedang menyiram air dari kendi yang terbuat dari tanah liat.

Segera mungkin ayahnya meminta dupa yang diambil oleh anaknya untuk segera dia hidupkan. Ibunya yang sedang memperhatikan raut wajah sang anak yang kebingungan, langsung melambaikan tangan kepada anaknya.

“Nduk, sini. Duduk disamping ibuk” ucap sang ibu. Putri yang mendengar perkataan sang ibu kemudian melangkahkan lutut ke arahnya. 

Sang ayah kemudian memandangi istrinya, memberi isyarat untuk segera memberikan dupa yang di ambil oleh putri. Sang ibu mengangguk pelan. Kemudian memberikan dupa tersebut dan mengambil korek untuk menyalakannya. 

Ayah putri seperti sedang membacakan sebuah kalimat dan juga memulai menabur bunga baru dimakam itu. Sang ayah dengan hati-hati kemudian berdiri dan melepas kain dari payung tersebut. 

Beberapa orang yang sudah duduk dibelakangnya kemudian menyodorkan kain yang kondisinya masih bagus dan terlihat bersih. Sang ayah kemudian dengan cepat mengambil kain itu dan memasangnya. 

Setelah itu, orang yang berada dibelkangnya menyodorkan kain putih dimana kain tersebut menjadi kain pengganti yang baru untuk menutup batu nisan.  Putri yang heran dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh orang tuanya hanya bisa terdiam. “bu sakjane kita iki lagi opo toh ?” tanya putri. (bu sebenarnya ini kita lagi ngapain sih ?) ibunya yang mendengar putri bertanya seperti itu langsung memberi isyarat dengan jari telunjuk yang dia tempelkan dimulut. “sssttt, nanti kalau ayahmu dengar, ibu dimarahi. Ibu bilang bahwa kamu sudah tahu soal ini dan ibu juga memastikan bahwa dirimu tidak akan membuat gaduh dengan tingkah slengekanmu.” Jelas ibunya. 

Putri hanya menatap ibunya dengan keheranan. “buk, jadi ibu bohong ke bapak soal ketidaktahuanku akan acara ini ?” tanya putri. Ibunya hanya mengangguk dan meninggalkan tatapan putrinya tersebut. 

Tiba-tiba kain yang menutup sekitar mereka dibuka. Kain putih yang panjangnya hampir 4 meter itu memang sengaja dipasang untuk menutup apapun yang sedang mereka lakukan didalam agar tidak diketahui oleh warga luar yang melihatnya. Putri terpaku melihat seorang perempuan yang duduk dipojok ruangan yang pakaiannya sangat rapi sekali.

Diarea sekeliling makam tersebut memang terdapat sebuah kursi goyang yang entah apa fungsi dari kursi tersebut putri sendiri tidak tahu. Perempuan berbaju kuning tersebut menatap putri dengan tajam.Nampak sebuah kinangan tertata rapi didepannya.

Putri Nampak heran, perempuan yang sangat cantik dan rambutnya disanggul rapi membuat putri terpaku terhadap rupanya. Perempuan itu dengan santai duduk dikursi goyang tersebut dan memainkan susur tembakau di mulutnya. Susur tembakau yang dipakainya untuk membersihkan giginya. Susur yang ia geser keatas kebawah itu membuat putri merinding. 

Tanpa dia sadari putri terpaku melihat tajam kearah perempuan itu. Tidak lama kemudian perempuan itu melambaikan tangan kepada putri. Memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Entah apa yang sedang putri rasakan, tubuhnya seolah bergerak sendiri untuk berdiri dan menghampiri perempuan itu. Sang ibu yang terkejut melihat anaknya berdiri ditengah-tengah acara itu kemudian segera menarik tangan sang anak untuk duduk kembali. 

Namun, ternyata suasana sudah tidak normal seperti tadi. Putri sudah menjadi orang lain, tangan yang ditarik oleh sang ibu sangat berat sekali sehingga membuat ibunya kesakitan saat menarik tangan putri. 

Suara tertawa yang sangat beda keluar dari mulut putri. Kemudian secara pelan dan sangat teratur sekali langkahnya, ia mendekat dan duduk di kursi goyang tersebut. “ojo lali loh ngger, kurang gedang berlin e sak curung gawe sajen e.” ucap putri yang duduk di kursi tersebut. (jangan lupa loh nak, kurang pisang barlin satu tundun untuk sesajinya). Mendengar hal itu sontak orang-orang yang berada disana terkejut dan memastikan bahwa putri sedang kesurupan oleh sesepuh tersebut yaitu “mbah dilem”. Karena suasana sudah cukup tegang, maka sang ayah langsung mengambil alih untuk kondisi saat itu. 

“ngapunten mbah, niki kulo putune kajenge amit rumiyen. Menawi kulo lan pemangku deso liane diijini ngrumat punden seng dados petilasane njenengan teng ulan suro niki.” Ucap ayah putri. (mohon maaf mbah, ini saya cucunya ingin permisi terlebih dahulu. 

Jika saya dan pemangku desa lainnya diijinkan utk merawat makam keramat yg menjadi petilasanmu pada bula suro ini). Setelah meminta ijin kepada sang penjaga punden tersebut, Nampak ayah putri memandangi sang anak yang sudah menata beberapa isi kinang yang dibalut oleh daun sirih. 

Ayahnya tetap membiarkan putrinya melakukan semua itu dan kemudian putri menguyahnya. Nampak nikmat saat putri mengunyah kinangan tersebut dan kemudian mengambil susur tembakau yang sudah disediakan juga disana. Terlihat putri membuang sari pati dari kinangan tersebut kelantai. Terlihat merah kehitaman dan kemudian putri tertawa lepas dan seketika tak sadarkan diri.

Ayahnya yang panik langsung mengabil tubuh anaknya yang sudah lemas tak berdaya diatas kursi goyang tersebut. Menggendongnya dan membaringkan tubuhnya dilantai. Ayahnya kemudian mengambil air yang berisi bunga yang dia letakkan didekat sesajen. Dia mengambil sedikit air tersebut menggunakan tiga jarinya dan memercikkan sedikit kea rah wajah anaknya agar segera siuman. 

Tidak perlu menunggu lama, putri kemudian tersadar dan siuman. Dia melihat sekelilingnya sudah berwajah khawatir dan menatap serius kepadanya. Acara tersebut selesai, kemudian putri dan orang tuanya pulang kerumah. Dirumah, putri menceriakan bahwa dia melihat sosok perempuan yang memakai kebaya berwarna kuning dan cantic sekali. Orang tuanya meyakini bahwa sosok perempuan tersebut adalah mbah dilem.

TAMAT

jika terdapat kesamaan nama dan tempat mohon maaf sebesar-besarnya.

Salam Horor. 

Thread By @siskanoviw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *