RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Amanah Ratu Pantai Selatan

Mengunjungi Kamar 308 Hotel Inna Samudra Beach, Pelabuhan Ratu – Sukabumi.

– PERJALANAN SPIRITUAL –

Bismillah..

Sampurasun,

Kembali lagi dengan saya, orang biasa yang punya sedikit pengalaman dan hanya berniat untuk berbagi. Semoga bisa diambil hikmah dan pelajarannya..

20 Februari 2016..

Pada saat itu, saya bersama rombongan yang berjumlah delapan orang melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu – Sukabumi. Tujuan perjalanan kami adalah karena rasa penasaran, tentang berita yang beredar dan yang di dengar saat sebelum saya terjun langsung ke dunia metafisika atau supranatural. 

Mungkin tidak sedikit orang yang sudah membicarakan dan meyakini hal ini, yang katanya bahwa di kamar 308 hotel Inna Samudra Beach itu adalah tempat bagi siapapun yang mempunyai maksud atau keinginan. 

Terlebih, saya pernah mendengar bahwa ada seseorang yang sakit secara tidak wajar dan katanya tidak bisa disembuhkan karena itu adalah kiriman dari seseorang dengan bantuan Ratu Pantai Selatan. 

Dalam benak saya penuh dengan pertanyaan, apakah benar seperti itu? Apakah pesugihan yang banyak dikatakan orang memang benar karena memuja Ratu Pantai Selatan? Apakah jika kita menginginkan jodoh harus melakukan ritual dan meminta bantuan kepada Ratu Pantai Selatan? 

Serendah itukah peran dari seorang ‘Ratu yang terkenal sebagai salah satu sosok legenda yang sampai kini masih dipercaya di semua kalangan masyarakat, sosok yang terkenal kuat, disegani sekaligus dibenci oleh sebagian pihak? 

Dan apakah benar, bahwa dikamar 308 itu kita dapat bertemu dengan sosok sang ‘Ratu tersebut?

Mungkin, untuk menguak semua pertanyaan itu saya harus langsung pergi kesana. 

Saya meminta kepada ibu angkat saya yang berdomisili di Jakarta untuk mendampingi saya melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, supaya apa yang menjadi pertanyaan selama ini terjawab.

Alhamdulillah atas izin Allah SWT, kami mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan. 

Setelah mencari hari yang tepat agar tidak mengganggu pekerjaan, pada hari Sabtu 20 Februari 2016 ibu angkat saya tiba dari Jakarta sekitar jam 1 siang bersama satu orang temannya dan satu orang teman saya yang mau ikut karena kebetulan libur kerja 

(Padahal jadi sopir, soalnya tidak ada yang bisa bawa mobil 😅🙏).

Setelah ibu angkat saya istirahat dirumah, kami pun berangkat jam 4 sore seusai melaksanakan shalat ashar. Jalur yang kami tempuh adalah jalur lintas selatan, karena lebih dekat dari tempat tinggal saya. 

Diperjalanan, sempat sedikit terhambat karena ibu angkat saya muntah-muntah. Mungkin karena sudah melakukan perjalanan yang cukup lama dari Jakarta, ditambah jalanan yang berkelok-kelok sehingga membuatnya seperti itu. 

Kami sempat berhenti disebuah mesjid untuk beristirahat dan melaksanakan shalat maghrib, setelah itu perjalanan pun kembali dilanjutkan. Jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. 

Sekitar jam setengah 11 malam, ntah memasuki daerah apa. Seperti hutan karena sisi kiri dan kanan dipenuhi pepohonan, keadaannya cukup gelap berkabut. Saya lihat ibu angkat saya, temannya, dan ke-empat keponakan saya yang pada saat itu ikut sudah tertidur pulas. 

Teman saya yang mengemudikan mobil tiba-tiba mengatakan bahwa bensin tinggal sedikit lagi, dia khawatir kalau pom bensin masih jauh. Lumayan bikin panik karena kita tidak tau daerah itu dan sama sekali tidak ada orang disekitar untuk ditanya jarak pom bensinnya masih jauh atau tidak, saya coba buka google maps, tapi ternyata sinyal di daerah itu mati.

Dari arah depan terlihat ada seseorang berperawakan seperti nenek-nenek yang membawa kayu bakar diatas kepalanya, teman saya sempat bertanya apa kita tanya saja kepada orang itu? 

Saya jawab, coba tanya saja kalau berani, tapi ini sudah larut malam. Jalanan sepi dan rasanya tidak wajar kalau masih ada orang yang mencari kayu bakar, teman saya pun bergidik dan mengurungkan niatnya. 

Akhirnya kami pun mendahului orang itu dan ternyata memang bukan orang, kami tidak melihat rupanya seperti apa dan setelah agak jauh terlewati, di spion mobil terlihat orang itu tiba-tiba menghilang. 

Teman saya menepuk keningnya dan mengatakan untung tidak jadi bertanya, kemudian dia kembali tancap gas dengan berharap segera menemukan pom bensin.

Tidak lama setelah kami melewati hutan, jalanan kembali ramai karena ternyata sudah memasuki kawasan Pelabuhan Ratu. Kami pun menemukan pom bensin, sambil menunggu mengisi bensinnya, saya membangunkan ibu angkat saya dan mengatakan sebentar lagi kita sampai. 

Tepat jam 12 malam, setelah memarkirkan mobil. Kami beranjak menuju mushola yang berada didekat pantai, kami tidak langsung menuju hotel. Bergantian kami melaksanakan shalat isya, saya kebagian giliran ke-2 bersama tiga orang keponakan saya dan menunggu diluar. 

Sambil menunggu giliran, ketiga keponakan saya melihat-lihat sekeliling. Saat itu pantainya tidak terlalu terlihat karena gelap, hanya suara deburan ombak besar yang terdengar. Keadaan cukup sepi, mungkin karena sudah larut malam. Saya duduk diteras mushola dan sempat mengatakan kepada ketiga keponakan saya agar tidak memasuki bibir pantai, karena takut berbahaya. 

Tidak lama, perasaan saya tiba-tiba merasa sangat sedih. Sampai saya bertanya kepada diri saya sendiri, ada apa ini? Saya tidak bisa menahan rasa sedih yang saya rasa sampai pada akhirnya saya menangis, ibu angkat saya dan yang lain sudah selesai shalat dan menghampiri saya. 

Mereka kaget karena melihat saya menangis sampai terisak-isak, mereka pun bertanya kenapa?

Dengan terbata-bata saya menjawab tidak tau, saya tidak bisa melawan perasaan sedih yang tiba-tiba muncul. 

Ibu angkat saya mencoba menenangkan saya dengan mengelus-elus kepala dan punggung saya, setelah saya merasa tenang. Saya menghapus air mata saya, dan perasaan sedih itu pun hilang. 

Ketiga keponakan saya datang menghampiri, mereka bilang kalau mereka melihat dua orang muda mudi sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh disemak belakang mushola, keponakan dan teman saya sempat akan menegur mereka. 

Tapi tiba-tiba, ada sesosok yang datang berparas sangat cantik tersenyum sambil memanggutkan kepalanya seolah menyambut kedatangan kami, hanya saya dan ibu angkat saya yang melihat. 

Kami pun mengucapkan salam, sosok tersebut menjawab salam kami dengan suara yang lembut dan kemudian berkata.. 

“Mohon maaf, kalian datang kemari dengan niat yang baik tapi malah melihat sesuatu yang tidak pantas. Alam sudah banyak dikotori oleh perbuatan maksiat dan kedzoliman, semoga Allah SWT memberikan ampunan kepada mereka yang berbuat seperti itu.” 

Saya dan ibu angkat saya hanya bengong karena masih terkesima dengan sosok yang kami lihat, setelah itu keponakan saya menepuk bahu saya dan ibu angkat saya sehingga kami pun tersadar. Mereka bertanya, kenapa kami bengong? 

Ibu angkat saya mengatakan bahwa barusan ada yang datang dan beliau menyambut kedatangan kita, setelah itu saya dan keponakan saya yang belum shalat memasuki mushola.

Setelah selesai shalat, sekitar jam 1 lebih kami pun beranjak menuju hotel. 

Sesampainya diparkiran hotel, teman saya mengatakan biar dia saja yang duluan ke hotel untuk bertanya apakah kami bisa memasuki kamar 308.

Kami pun menunggu diparkiran, cukup lama kami menunggu, teman saya kemudian datang. 

Dia mengatakan awalnya dari pihak resepsionis tidak mengizinkan untuk masuk, tapi teman saya bilang bahwa dia bawa orang dari Jakarta. Setelah cukup lama negosiasi, akhirnya mereka memberikan izin tapi hanya memberi waktu selama 15 menit. 

Kami bergegas untuk memasuki hotel, saat itu hanya saya, keponakan saya satu orang, ibu angkat dan teman saya yang memasuki hotel. 

Saat pertama memasuki hotel, suasananya sepi. Hanya ada beberapa orang respsionis dan security yang menyambut dan menyapa kami, kemudian ada dua orang pria berbadan tegap dan berbaju serba hitam yang merupakan penjaga kamar mempersilahkan kami untuk menuju kamar 308. 

Saat kami sampai, salah satu dari penjaga itu berkata bahwa kami dilarang mengambil foto saat berada di dalam kamar dan bertanya, apakah diantara saya dan ibu angkat saya ada yang sedang halangan (Haid)? 

Saya bilang tidak, akhirnya mereka membuka pintu kamar dan mempersilahkan kami masuk. Setelah kami berada di dalam kamar, penjaga itu kemudian menutup pintu kamar. Mereka pikir mungkin kami akan melakukan ritual 😅 

Saat masuk tadi kami mengucapkan salam, kemudian kami duduk didepan lukisan yang ada dikamar tersebut. Suasana kamarnya sedikit temaram, karena hanya memakai lentera dan lumayan pengap karena bau dupa yang menyengat. 

Terlihat ranjang di dekat pintu masuk dengan sprei dan kelambu serba hijau, tepat didepan kami pun ada bunga melati dan bunga sedap malam di dalam pot yang berwarna keemasan, buah-buahan segar, dan beberapa lembar uang disebuah wadah. 

Saya sempat berpikir, untuk apa semua ini? Pokoknya keadaan kamar itu sama seperti yang ada difoto-foto yang sudah banyak beredar. 

Kami pun mulai bermeditasi (Berdoa kepada Allah supaya kami mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami) dan berharap, sosok yang tadi sempat menemui kami dipantai berkenan untuk hadir kembali. 

Setelah beberapa menit saya berdoa, tiba-tiba saya merasa bahwa lantai kamar itu seperti bergetar, tapi saya belum merasakan ada yang datang. Saya terus memejamkan mata sambil berdzikir, baru sekitar 10 menit kami berada di dalam kamar. 

Kami dikagetkan dengan suara yang mengetuk pintu, kemudian pintu terbuka dan penjaga yang tadi, mengatakan bahwa waktu kami habis padahal baru 10 menit. 

Kami pun akhirnya keluar dari kamar, saat didepan pintu saya melihat ada tiga orang wanita. Yang satu masih remaja menggandeng tangan wanita disampingnya (Mungkin ibunya), dan yang satu wanita dengan badan tinggi besar memakai baju serba hitam. 

Mereka dipersilahkan masuk oleh penjaga, dan kami beranjak pergi dengan diantar salah satu penjaga.

Setelah berpamitan kepada penjaga, kami menuju parkiran. Saya sempat berkata, rasanya tidak puas. Kita belum dapat apa-apa, rasa penasaran saya masih belum terjawab. Keponakan saya mengatakan, yang penting kita sudah berkunjung dan melihat langsung kamar tersebut.

Kemudian ibu angkat saya berkata, itu yang tadi mungkin orang yang berniat untuk meminta dimudahkan dalam mencari jodoh. Dan yang berbaju serba hitam itu pembimbingnya.. 

Masih agak jauh dari tempat parkiran, tiba-tiba ibu angkat saya berhenti dan mengatakan kalau ia merasa pusing. Kemudian ibu angkat saya pingsan, saya tahan kepalanya dipaha saya. 

Dan yang lain membantu untuk menyadarkan, tidak berapa lama kemudian, ia pun tersadar kemudian menangis sejadi-jadinya sampai ada security yang menghampiri kami dan bertanya kenapa.

Kami menjawab tidak ada apa-apa, akhirnya security itu diajak ngobrol oleh teman saya. 

Setelah teman saya menjelaskan bahwa ibu angkat saya biasa seperti ini, akhirnya security itu pun pergi. Saya berusaha untuk membuat ibu angkat saya tenang. Dan kejadiannya sama seperti tadi saat saya menangis di depan mushola, setelah ibu angkat saya akhirnya tenang. 

Sosok yang tadi muncul kembali, tapi ada yang berbeda. Kalau tadi ia sempat tersenyum, sekarang wajahnya penuh kesedihan bercampur amarah.

Ia berkata..

“Apa yang kalian lihat tadi itu bukan merupakan yang sebenarnya, saya sangat prihatin dengan kenyataan bahwa tidak sedikit orang yang melihat tapi buta, mendengar tapi tuli. 

Banyak dari mereka yang mengatasnama-kan saya untuk berbuat yang tidak-tidak, kalau memang mereka mempunyai sebuah keinginan, mengapa tidak langsung meminta kepada Allah SWT?

Saya pun sama seperti kalian, tugas saya hanya untuk beribadah kepada Allah dan berharap ridho-Nya. 

Saya hanya sebagai perantara Allah, untuk menegakan kebajikan dan membantu orang-orang yang berpasrah kepada Allah, saya tidak bisa apa-apa tanpa Allah. 

Kalau kalian punya rezeki, pakai untuk kebutuhan kalian dan keluarga kalian. Jika berlebih, kalian bisa membantu sodara-sodara kalian yang membutuhkan. Tidak harus diberikan kepada saya karena saya tidak membutuhkan itu, saya pun tidak memakan makanan seperti yang kalian makan. 

Jangan menjadikan sesuatu menjadi tidak bermanfaat dan mubadzir, semoga kalian cukup kuat untuk tidak mengikuti jalan yang tidak benar.” 

Setelah mengatakan hal seperti itu, lantas sosok itu pun secara perlahan menghilang dan saya tidak bisa berkata apa-apa karena apa yang disampaikannya benar-benar jawaban yang saya harapkan. 

Kemudian, kami kembali menuju parkiran. Saya bertanya apakah kita akan langsung pulang atau mencari penginapan untuk beristirahat? 

Karena teman saya mengatakan kalau hari senin dia harus masuk kerja, makanya diputuskan untuk langsung pulang saja, tapi kali ini kita lewat jalur Bandung. 

Ditengah perjalanan, saya memikirkan kembali apa yang telah saya dengar. Sebuah amanah yang mengandung makna begitu dalam.. 

“Hartaku, amanahNya, yang tak pernah kuberikan, pada para manusia yang mempunyai hati dua, pikiran dua, dan berbadan dua, yang nantinya membawaku ke jalan murkaNya. 

Tapi akan aku berikan hartaku, pada manusia bumi yang punya hati satu, akal satu, dan badan satu, karena hanya mereka yang akan mendapat jalan pahala menuju ampunanNya.” 

Lalu saya teringat kembali akan sebuah cerita tentang,.. 

Ada seseorang bersilaturahmi ke Buya Hamka.

Ia bilang, “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab”. 

Jawaban Buya Hamka ini tak terduga!

“Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York, Masya Allah, ternyata disana tidak ada pelacur,” kata Buya Hamka. 

“Ah mana mungkin Buya, di Makkah saja ada kok. Apalagi di Amerika, pasti banyak lagi,” kata seorang tamunya itu. 

Maka kata Buya Hamka, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.

“Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya.. 

“Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi” tutupnya. 

Hati kita pun bila sudah busuk, maka seringkali dipertemukan pada hal-hal yang busuk pula, walaupun di tempat kebaikan sekalipun! (Catatan Redaksi) 

“Seniatku nganggo ajiku

Wali songo bedah bumi, nunggul ratu

dalam Girdoh galih tumae, alam ratu sarat

Kewajibanku moncol, karunia bisor

Bisa kudu bisa jagat sewedi panolong kaula” 

Itulah sepenggal kisah perjalanan spiritual saya, semoga kita semua bisa memetik hikmah dan pelajaran dari setiap cerita atau kisah, serta semoga kita bisa untuk selalu menghargai setiap pengalaman orang lain karena yang namanya pengalaman tidak dapat diperjual belikan. 

Setiap orang pasti memiliki pengalaman tersendiri dan kadang tidak didapat dengan mudah, dan tentunya pasti berbeda-beda. 

Ada pun disini saya ingin mengulas satu per satu dari setiap thread yang saya tulis, bagi sebagian orang mungkin sudah bisa memahami isi dari setiap cerita yang saya tulis. Tapi tidak sedikit juga orang yang belum memahami isi ceritanya, ibarat ada sebuah hidangan makanan. 

Ada yang memakan dan mengunyah makanan itu sendiri, ada juga orang yang mungkin malah menyuruh orang lain untuk mengunyah makanan itu terlebih dulu, kemudian dia makan setelahnya.

Sama halnya dengan thread-thread yang saya tulis dengan kemasan hidangan yang berbeda-beda.. 

Thread yang pertama adalah pengalaman saya membantu seorang wanita yang terkena santet, banyak orang yang mempermasalahkan metode pengobatannya. Ada yang bertanya kenapa pakai kemenyan? Ini bukan ruqyah syar’iyyah, ini praktik perdukunan. 

Saya sudah sedikit menjelaskan di thread sebelumnya bahwa saya bukan dukun dan saya bukan ahli ruqyah, saya hanya mempunyai sedikit kemampuan dan saya gunakan untuk membantu orang lain, itu pun kalau saya mampu. Karena saya tetap mengandalkan bantuan dari Allah SWT, bukan kepada hal yang lain.

Mengenai pertanyaan kenapa pakai kemenyan? Saya pun sudah menjelaskan bahwa itu hanya media, karena saya melihat karakter demitnya seperti apa. 

Dahulu zaman Nabi, metode pengobatan dari gangguan setan atau jin memang dianjurkan menggunakan metode ruqyah syar’iyyah karena gangguan yang dimaksud langsung dari setan atau jin nya sendiri tanpa melalui perantara media lain. 

Wujud dari setan atau jin nya juga mungkin terlihat jelas bahkan tidak sedikit orang bisa berkomunikasi langsung dan zaman dulu pun tidak ada yang namanya kuntilanak, pocong, genderewo, dll. Tapi seiring perkembangan zaman, dan sudah banyak orang yang bersekutu dengan setan. Sehingga perwujudan setan bisa dari golongan jin dan manusia, kebanyakan setan untuk zaman sekarang memanfaatkan manusia dan jin untuk menjadi perantaranya dalam mengganggu manusia lain. 

Sehingga munculah seperti ‘dukun, siluman, memedi, demit, dll. Yang kita kenal sekarang dengan nama kuntilanak, pocong, genderewo, dll. Setan akan mempengaruhi manusia yang menjadi ‘dukun dan membatunya untuk bisa mengendalikan jin atau semacam demit agar bisa disuruh untuk mengganggu manusia yang menjadi targetnya, pada dasarnya jin sama seperti manusia. Ada yang jahat ada pula yang baik, sehingga setan memanfaatkan golongan jin yang perangainya sama seperti setan itu sendiri. 

Dengan menggunakan media seperti boneka santet, jarum, paku, dll. Sang ‘dukun dengan bantuan setan akan mengendalikan jin atau demit yang sudah takluk kepada mereka untuk mengganggu targetnya, seperti yang terjadi pada wanita yang saya bantu ini. 

Kenapa saya membutuhkan media seperti air sumur atau air laut, bunga-bunga, dan kemenyan. Karena jin atau demit yang mengganggunya itu pun dikirim melalui media juga, ibaratnya ‘dukun itu menggunakan media api, kelemahan api adalah air. 

Jadi yang saya terapkan adalah mencari kelemahan dari makhluknya dan media yang dipakai sang ‘dukun, sehingga saya membutuhkan media juga untuk mengembalikan atau menghancurkan makhluk yang mereka kirim. 

Lanjut ke thread yang kedua saat melarung, masih berhubungan dengan metode pengobatan. Nah disini, meskipun saya bukan ahli ruqyah, tapi saya menerapkan metode ruqyah syar’iyyah karena sosok jin yang menjadi pegangan nenek tersebut bukan merupakan kiriman dari dukun. 

Jin tersebut melakukan suatu perjanjian dengan leluhur sang nenek, tujuannya untuk penjagaan bukan untuk menggangu. Makanya tanpa media apapun saya bisa untuk membantu melepaskan sosok jin tersebut dan mengembalikan ke tempat asalnya, caranya dengan memutuskan perjanjian itu. 

Saya berkomunikasi dengan baik dan meminta keluarga nenek tersebut untuk membantu membacakan surah-surah tertentu yang ada dalam Al-Qur’an, tanpa adanya media atau ritual-ritual yang berbau klenik. 

Tapi ada satu hal lagi yang menjadi permasalahan, saat ada gangguan lampu motor mati ditengah perjalanan pulang setelah saya melarung. Ada yang mengatakan kenapa hal seperti itu dikaitkan dengan hal-hal klenik, kenapa gak diservice saja motornya? 

Sudah, motor yang kami gunakan sudah diservice. Saya tidak menceritakan secara gamblang karena untuk mempersingkat ceritanya, dan itu diluar kuasa kami waktu itu. 

Thread yang ketiga menghilangkan ilmu pengasihan, ini yang cukup banyak mengundang permasalahan. Saya sengaja mengemas cerita tersebut dengan sangat detail, sesuai dengan alur yang terjadi waktu itu. 

Sehingga menimbulkan banyak komentar yang katanya ribet bacanya, bikin pusing, alurnya tidak jelas, njelimet, gak mudeng, males baca, dll. 

Saya hanya ingin mengetahui bagaimana cara berpikir dan cara pandang pembaca apabila disuguhkan suatu bacaan atau permasalahan yang dikemas seperti itu, tujuannya agar kita bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Apabila kita dihadapkan pada suatu permasalahan, kita bisa belajar memahami dan mencerna terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Karena tidak sedikit yang menyesal, akibat terlalu tergesah-gesah dalam mengambil keputusan atau menyimpulkan sesuatu. 

Sebagai contoh, Al-Qur’an bisa untuk kita pahami isinya dan hanya orang-orang yang mau berpikir yang bisa melakukan itu, bukan orang-orang yang maunya instan saja. 

Maka sebelum kita berkomentar, alangkah lebih baik kita menela’ah terlebih dahulu. Kita coba memahami dulu apa saja yang kita hadapi, entah itu permasalahan atau yang hanya sekedar bacaan. 

Kemudian ada yang bertanya dimana horornya? Jawaban dari pertanyaan ini sudah sedikit terwakili pada ulasan thread yang pertama, bahwa zaman dulu setan bekerja secara langsung tanpa perantara atau media. 

Dan tokoh Jodi pun sama seperti itu, dia tidak menggunakan media apapun. Dia mengamalkan ilmu yang dia miliki untuk membuat istrinya seperti itu, agar mau diperlakukan seenaknya. 

Apa itu bukan merupakan sesuatu yang horor? Ada setan dari golongan manusia, saya rasa itu sudah lebih horor dari sekedar demit atau yang lainnya. 

Tapi saya memahami bahwa kita semua pasti tidak akan mempunyai pemikiran yang sama, mungkin bagi sebagian orang tingkat kehororan itu lebih merujuk pada hal-hal yang menyangkut hantu atau kejadian-kejadian mistis. 

Dan untuk metode menghilangkan ilmu pengasihannya itu pun saya tidak menggunakan media atau ritual apapun, saya hanya berdoa kepada Allah apabila ada sesuatu yang buruk pada orang tersebut, semoga segera dihilangkan dan alhamdulillah Allah mengijabah doanya. 

Untuk thread yang ke-empat, mungkin saya tidak harus menjabarkan lagi karena sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu yang terjadi itu kembali lagi pada diri kita sendiri. 

Contohnya apabila kita pergi kesuatu tempat atau mengerjakan sesuatu dengan niat yang tidak baik, maka kita pun akan dipertemukan dengan hal-hal yang tidak baik pula. 

Setan mempunyai banyak cara untuk membuat manusia jauh dari Allah SWT, setan akan terus memperdaya manusia karena itulah tujuannya. 

Bagi setan atau jin, mereka bisa menyerupai sebagai apapun atau siapapun. Sehingga membuat manusia meyakini dan percaya dengan yang mereka lihat, padahal itu semua tipu daya. Na’udzubillah.. 

Kesimpulannya adalah, metode yang saya gunakan dalam membantu orang lain tidak melulu menggunakan persyaratan atau ritual. Saya menyesuaikan dengan permasalahan yang dihadapinya.. 

Semoga apapun yang saya sampaikan bisa menjadi bahan pembelajaran, saya pun masih banyak sekali kekurangan dan masih ingin terus belajar.

Terimakasih.. 

Thread By @TianRostiani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *