RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Atas Nama Setan, Petaka Bersekutu

Image
Image

Sebuah kisah tentang seseorang yang melakukan ritual untuk menolak bala namun justru malah terjebak dalam persekutuan, berbagai jenis lelembut mulai masuk dan meneror rumahnya, seperti menagih perjanjian yang sama sekali tidak ia ketahui.    

Bagaimana kisahnya? Silahkan bookmark dulu utas ini, jangan lupa like dan reetweet ya, dan dukung saya untuk terus membagikan cerita :))    

Temanggung pertengahan Januari 1990,

Sebut saja Pramono seorang ayah satu anak ini tengah meletakkan sesaji di sebuah lembah yang tak jauh dari desa tempat dimana ia tinggal, hal ini sudah rutin ia lakukan 2 tahun terakhir ini, tujuannya ambigu entah ia meminta keselamatan atau meminta kelancaran dalam pekerjaannya yang sempat hancur 3 tahun lalu. 

Image

Semua ini berawal dari sebuah buku yang ia temukan di kolong lemari usang milik mendiang kakek buyutnya, tulisan tangan berbahasa jawa kawi itu menunjukkan cara untuk menundukkan para jin dan lelembut agar bisa membantu kita, entah itu membantu dalam hal apa. Yang jelas kekalutan Pramono waktu itu membuatnya iseng mengikuti langkah-langkah yang tertulis di sebuah buku tersebut. Dan entah kebetulan atau bagaimana ritual itu dirasa Pramono cukup membawa hasil yang siknifikan, terbukti dengan usahanya yang sempat terpuruk lambat laun mulai berkembang besar.

   

Pramono adalah seorang Peternak sekaligus “Blantik” atau pedagang sapi, usahanya yang sempat meredup beberapa tahun lalu karena ketatnya persaingan dan banyaknya kasus “Aradhan” atau kematian hewan ternaknya kini mulai berkembang melebihi masa kejayaannya dulu.

Image

Pramono yakin kejayaannya kini berkat dari ritual yg rutin ia lakukan selama ini. Adapun sebenarnya hal yg melatar belakanginya adalah rasa buruk sangka dari diri Pramono sendiri. Ia merasa kehancuran usahanya dahulu dikarenakan oleh hal ghaib atau guna-guna dari para pesaingnya. 

Namun sejak ia melakukan ritual sebut saja ‘Tunduk Dhanyang’ itu. Kendala-kendala dalam usahanya mulai menghilang seperti “Aradhan” sapi yg sakit, mal nutrisi & pencurian. Tapi ternyata kejayaan Pramono 2 tahun terakhir ini berujung dengan penuh kengerian yg terlambat ia sadari. 

Kembali ke hari awal yaitu pertengahan Januari 1990, Pramono yang terbangun di tengah malam dari tidurnya ditengah malam merasa panik, bergegas ia mengambil “ubo rampe” atau berbagai sesaji yang sudah ia siapkan sedari siang tadi. “Malam ini adalah malam selasa kliwon!! “. Ucapnya dalam hati, malam dimana ia harus rutin meletakkan sesaji di lembah ujung desa. Dengan mengendap-ngendap karena tak mau membangunkan anak dan istrinya yang tengah tertidur pulas Pramono menuntun sepeda motornya dan menyalakannya ketika jauh dari rumahnya. 

Ia berangkat ke lembah itu sekira pukul 02.00 dini hari. Dengan rasa khawatir Pramono sedikit memacu kendaraannya menuju ke tempat itu melewati jalan kecil yang di rimbuni oleh pepohonan disisi kiri dan kanannya.

Image

Sampailah ia dilereng lembah itu, setelah ia memarkirkan motornya di semak-semak, Pramono mulai menyusuri tanjakan demi tanjakan dengan berbekal penerangan dari lampu senter. Berulang kali bulu kuduk nya merinding ketika ekor matanya melihat ada beberapa seklebatan di sampingnya. 

Tapi ia mencoba untuk tidak memperdulikan hal itu sampai akhirnya sampailah Pramono di puncak lembah itu. Segera ia menata sesajen & membakar kemenyan sembari membaca mantra. Suasana sekejap menjadi senyap tak ada hembusan angin seperti biasanya, suara hewan malam pun seperti tak terdengar. 

Image

Sementara Pramono masih dengan hikmat mengulang Mantra itu hingga kemenyan terbakar habis. Namun setelah itu tiba-tiba ada suara getaran daun dari semua semak-semak disekelilingnya. 

Ia masih memejamkan matanya walau mendengar suara itu dan ia pun dikejutkan oleh tepukan keras di pundak kanannya. Seketika Pramono yang kaget langsung terperanjat dari silanya. Menoleh ke kanan dan kekiri tak ada siapapun di sekitarnya. 

Dan angin pun berhembus dengan kencang diringi suara entah dari siapa itu dan berkata “BALI!!!! “ (Pulang!!) . Mendengar itu Pramono langsung bersujud dan berlari turun dan pulang menuju rumahnya dengan perasaan yang kalut. Tak biasanya Pramono merasa setakut ini. 

Sesampainya di rumah ia langsung mencuci kakinya dan beranjak tidur kembali sembari bertanya-tanya ada apa gerangan terjadi, hingga tak terasa ketika rasa kantuk mulai menyerang dan ketika ia dalam keadaan setengah tertidur, Pramono mengalami “Ketindihan”. 

Tubuhnya tentu tak bisa bergerak, lehernya seperti dicekik dan ketika ia membuka matanya, Pramono melihat ada sosok “Hitam Bertanduk” yang tengah duduk diatas tubuhnya.

Image

Sosok itu seperti mencekik Pramono, ia yang mencoba berontak tapi memang sulit, sosok itu terlalu kuat sampai akhirnya ketika tubuh Pramono mulai lemas, sosok itu melepaskan cekikannya dan hilang begitu saja. 

Pramono langsung terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Ia pun menengok ke sisinya tapi istri dan anaknya yang harusnya tidur disampingnya kini menghilang. Nampaknya Pramono terbangun di “tempat lain”. 

Ruangan itu menjadi gelap dan terlihat sisi terang di depannya yang mana disitu terdapat sebuah keranda mayat dan sosok Pocong yang berdiri di dekatnya. Pramono sempat mengusap-ngusap matanya untuk meyakinkan tentang apa yang tengah dilihatnya.

Image

Tapi memang benar setelah beberapa saat wujud “Keranda mayat dan Pocong” itu masih terlihat jelas dihadapannya. Pramono mulai menangis dan meminta ampun, lidahnya yang kelu tetap mencoba untuk berdoa seraya menutupi mata dengan kedua tangannya. 

Dan anginpun berhembus kencang menerpa tubuh Pramono, keadaan pun menjadi gelap dan ia kali ini benar-benar terbangun di alam nyata.

Terlihat istrinya yang menggoyang-nggoyangkan tubuh Pramono. “Ada apa mas, bangun mas!! “. Kata istrinya. 

Disini Pramono bernafas lega. “Oh Cuma mimpi!! “. Batinnya. Tanpa berkata-kata Pramono pun kembali tidur dengan memeluk istrinya dan terbangun di keesokan harinya.

Uhhh.. Pramono terbangung di hari itu sambil memegang tengkuknya yg terasa sangat pegal. 

Pikirannya kembali mengingat kejadian semalam dan mimpi aneh itu. Namun semua seketika buyar ketika anak gadisnya memanggilnya.

“Bapak!! Ayok berangkat”. Kata anaknya yg sudah menggendong tas sekolahnya. Pramono pun segera mencuci mukanya dan bergegas ke garasi mengeluarkan motornya, ia mengantarkan anaknya ke sekolah. Singkat cerita setelah itu ia yg sudah pulang kerumahnya terlihat melamun di ruang tamu.

“Gak ke kandang mas??” Kata istrinya seraya mengantarkan teh hangat kepada Pramono.

“Iya habis ini”. Jawab Pramono.

” Leherku kok sakit yo buk”. Katanya kembali.

“Salah bantal kui mas, lagian jenengan ngimpi apa to semalem kok sampai gap-gapan begitu”. Kata sang istri.

” Lha mbuh buk, ndak jelas, yawes aku tak ke kandang dulu” Jawab Pramono memotong pembicaraan seraya menyesap teh hangatnya sedikit. Ia pun ke kandang ternaknya yg jaraknya tak jauh dari rumahnya tersebut. Sampai di kandang sapinya terlihat Slamet salah satu pekerjanya yg tengah memberi pakan ke sapi-sapi milik Pramono.

Image

“Gasik Mas..” (Pagi-Pagi Mas). Kata Slamet kepada juraganya sambil menguap seperti masih mengantuk.

“Ho’o iki pak met” (Iya ini Pak met). Jawab Pramono mendekat. Pak Slamet terus menguap sambil sesekali meringis memegangi pundakknya. 

Pramono pun bertanya,

“Kenopo pak Met, Kurang tidur po?”.

” Ndak bisa tidur mas, semalem, di gangguin terus sama Simbah, hehehe”, jawab pak Slamet yg selalu mengganti kata “hantu/demit” Menjadi ‘Simbah’.

“Halah biasa to Pak..” Jawab Pramono dan merekapun Tertawa bersama. 

Jadi Pak Slamet ini adalah pekerja Pramono yg bertugas menjaga Kandang Ternak, jadi beliau ini kalau malam menginap di kamar yg sudah di sediakan di area kandang, beliau juga bisa dibilang orang yg kelewat berani dan sudah biasa bersentuhan dengan “hal-hal” Seperti itu. Tapi dari raut wajahnya apa yg beliau lalui semalam sepertinya berbeda.

Pramono dan Pak Slamet pun lanjut dengan obrolan tak penting sambil menyusuri kandang yg memanjang hingga tak selang beberapa lama Mbok Sumini yaitu istri Pak Slamet datang membawakan Bubur ketan bekal pak Slamet sarapan, untung Mbok Sumini membawa lebih, merekapun Sarapan di ‘bale’ depan kandang dengan nikmat walau berlauk aroma kotoran sapi namun sepertinya mereka sudah biasa dengan suasana ini. 

Tapi tak selang beberapa lama, terdengar dari arah kandang terdengar “Gumaman dari sapi yg suaranya tak biasa” Disusul dengan Suara gaduh “Gubrak!!!”. Spontan Pak Slamet langsung memeriksanya dan tak selang beberapa lama Pak Slamet berteriak. “BOGEL PAKKKKK!!!!!” 

Mendengar itu Pramono langsung menghampiri disusul oleh Mbok Sumini dibelakangnya. Dan disitu terlihat “BOGEL” nama sapi limosin super yg bobotnya hampir 700kg itu limbung tiarap. Nafasnya ter engah-engah sambil terus menggumam kesakitan.

Image

Waduh!!! Pramono menepuk jidatnya, “Sana Pak met panggil mas Samsuri”. Katanya Menyuruh Pak Slamet memanggil Samsuri, seorang mantri hewan. Tapi belum sampai Pak Slamet beranjak keluar, nafas si bogel sudah tersengal-sengal. Pramono sudah hafal betul ini tak akan terselamatkan. 

Diapun mencabut golok di Pinggangnya, dan Menyembelihnya. Tak ada perlawanan sama sekali dari sapi itu. Pak Slamet dan istrinya melongo melihat juragannya merugi. Bagaimana tidak, untuk ukuran si Bogel ini harganya bisa mencapai 3-4 jutaan kalau di kurskan di tahun ini mungkin bisa mencapai 20jtaan lebih. Pramono kembali duduk di bale dengan baju yg penuh noda darah dari sapi yg terpaksa ia sembelih. Terlintas dipikirannya tentang kejadian beberapa tahun lalu yg mana ternaknya suka tiba-tiba mati tanpa sebab yg jelas. 

Pak Slamet menghampiri dan menjelaskan bahwa tadi pagi sapi itu baik-baik saja sebelum limbung. Pramono juga mengiyakan pasalnya pengecekan kesehatan sapinya yg baru dilakukan sehari lalu hasilnya sehat-sehat saja. Dan beberapa saat kemudian 2 pekerjanya pun datang. 

Sebut saja Jono dan Paimin, Pak Slamet segera mengajak mereka untuk memotong dan menguliti sapi itu, namun disini hal mengejutkan terjadi lagi, karena sudah tercium bau bangkai dari Sapi itu. Sangat aneh, belum sampai 30menit daging ‘si Bogel’ Sudah membusuk.

Pramono Yg masih duduk di bale pun ikut mencium bau itu dan bergegas menghampiri. Pramono hanya bisa bertolak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. Mau tak mau Merekapun urung memotong sapi itu dan atas perintah dari Pramono si Bogel pun di kubur. 

Pramono kesal setengah mati, raut wajahnya kecewa, “jangan sampai kegagalan dahulu terulang lagi!!” Batinnya. Dengan Muka lesu Pramono pun kembali kerumahnya dan menceritakan rincian kejadian itu kepada istrinya. Sang istri yg lugu pun hanya bisa menyruh Pramono untuk Sabar. 

Singkat cerita Malampun tiba. Pramono tengah duduk di teras depan rumahnya sambil menyesap kopi. Tak henti ia memikirkan tentang kejadian tadi.

“Ojo-ojo, ono sing gawe aku meneh!!”

(Jangan-jangan ada yg ‘guna-gunain aku lagi) batinya yg selalu yakin menganggap, bahwa kegagalan bisnisnya beberapa tahun lalu adalah akibat dari guna-guna seseorang yg iri degan usahanya. Tak terasa waktu sudah semakin malam namun Pramono tak kunjung masuk ke dalam rumahnya, istrinya yg sempat mengajaknya masuk pun di acuhkannya. 

Entah berapa batang rokok yg sudah ia bakar. Malam itu ia terlihat melamun memandangi halaman rumahnya yg luas itu. Seraya dengan pikiran yg masih saja dipenuhi dengan prasangka-prasangka. Sampai aroma anyir darah tiba-tiba menusuk penciumannya. 

Pramono menoleh ke kanan & ke kiri sambil mendenguskan hidungnya untuk meyakinkan bau itu & suara batukpun muncul. “UHUK!!!” mengagetkan Pramono hingga terperanjat dari tempat duduknya. Suara itu tepat di samping telinga kirinya namun setelah ia menoleh, tak ada siapapun disitu. 

Walau gangguan seperti ini dirasa biasa baginya. Tapi malam itu perasaannya tak enak. Pramonopun melanjutkan lamunnannya di ruang tamu, merebah di Sofa sambil membuka koran. Hingga tak terasa ia terlelap. Entah berapa lama ia tertidur yg jelas ia kembali di bangunkan oleh suara ketukan dari Pintu terletak hanya beberapa meter saja di dekatnya. Ia tak yakin dengan ketukan itu karena ketika ia terbangun, ketukan itu sudah tak terdengar, namun untuk memastikan Pramona beranjak dan membuka Pintu dan memang benar tak ada siapapun di situ.

Image

Badannya sedikit keluar untuk memastikan memang tak ada orang, setelah ia yakin, Pramonopun kembali mengunci pintunya dan berbalik untuk melanjutkan tidurnya kali ini ia berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya seketika terhenti saat sama-samar ia melihat “wujud putih” berdiri didekat Rak buku di ruang tengah, wujudnya memang tak jelas karena memang cahaya penerangan diruangan itu dipadamkan. Seraya mengusap matanya Pramono berjalan mendekat dan kini semakin jelas, sosok gadis kecil berambut panjang. Wajahnya menghadap ke tembok.

Image

Awalnya Pramono mengira itu adalah anaknya.

“Sari!!!”. Kata Pramono sambil mendekat, Namun sosok itu tak bergeming dan malah kini terdengar mengucap kata-kata seperti rapalan mantra dengan tempo cepat dan nada yg membisik. Dan ..

Sosok itupun memutar kepalanya, menoleh ke arah Pramono yg kini berdiri kaku tak bisa bergerak. Wajahnya hitam tak begitu jelas, sosok itu berjalan mendekat dan semakin mendekat ke Pramono, dan hilang setelah menabrak tubuh Pramono. Ia mengumpulkan tenaganya dan berjalan masuk menuju kamarnya dengan langkah yg sangat berat namun untungnya ia berhasil sampai di kamar tanpa ada sesuatu yg terjadi lagi. Pramono bergegas merebah di samping istrinya, meringkuk bersembunyi di balik selimut seraya terus berfikir, apa itu tadi!??. 

Tak biasanya ia bersentuhan dengan lelembut segamblang akhir-akhir ini, dan tak biasa juga ada lelembut yg menampakkan diri di rumahnya. Pikirannya kacau ia masih berada di balik selimut hingga tak terasa adzan subuh pun berkumandang. 

Terlihat sang istri yg beranjak dari tempat tidur untuk beraktifitas, ia tak menyadari bahwa Pramono suaminya yg membelakanginya masih terjaga. Perlahan matahari mulai terbit membuat suasana menjadi terang, Pramono yg memang belum tidur dari semalam memutuskan untuk keluar dari kamar, menyeduh kopi di dapur, ingin rasanya ia bercerita kepada istrinya yg tengah memasak tentang kejadian semalam, namun ia urung karena tak mau membuatnya takut dan tak nyaman, tanpa ada percakapan yg berarti sang istri masuk kembali ke kamar untuk membangunkan Sari sang anak, sementara Pramono kini duduk melamun dengan kopi digenggaman di pintu belakang dapur yg menjorok ke pekarangan belakang rumahnya. Kantung matanya terlihat hitam, kembali pikirannya teringat kejadian semalam, sampai akhirnya sang istri menghampiri. 

“Mas, Sari kok panas yo, kayaknya masuk angin”. Ucap sang istri membuyarkan lamunan Pramono. Bergegas ia masuk dan memeriksa, memegang leher dan kepala Sari yg memang benar demamnya sangat tinggi.

Waktu itu mungkin sekira pukul 06.00.

” Sek, tak ke tempat Bu Mar”, ucap Pramono yg berkata akan ke tempat Bu Mar, salah satu bidan di desa tersebut. Singkat cerita tak selang beberapa lama Bu Mar pun datang di bonceng oleh Pramono, segera beliau memeriksa keadaan Sari, Bu Mar tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa memberinya obat penurun panas dan berkata bila panasnya tak juga turun, Sari harus di bawa ke dokter atau rumah sakit. Singkat waktu sekira 40menit kemudian setelah memeriksa Bu Mar Pamit dan di antar kembali oleh Pramono.

Image

Singkat cerita malam pun tiba, hari itu Pramono sama sekali tak pergi ke kandang karena sudah di pusingkan dengan keadaan Sari yg tak juga membaik, hanya sore tadi Pak Slamet menyusul ke rumah Pramono dan mengatakan keadaan Kandang Baik-baik saja. Itu cukup membuatnya lega. 

Terlihat kini Pramono yg tidur-tidur ayam di samping Sari, Meski badannya capek dan memang kurang tidur seharian ini, tapi kekhawatiran Pramono terhadap anaknya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak tentunya, malam itu sekira pukul 21.00, sang istri sepertinya sudah tidur nyenyak di sampingnya, sementara Pramono yg masih menutupi kedua matanya dengan satu lengannya dan sesekali memeriksa keadaan anaknya yg sering mengigau, mungkin keadaan ini dipicu karena demam Sari yg cukup tinggi. Pikiran Pramono perihal lelembut yg dilihatnya kemarin malam sudah hampir ia lupakan karena teralihkan oleh keadaan anaknya ini. Sampai akhirnya ada yg mengetuk pintu rumahnya “Lagi”,

” Tok..tok..tok, tok..tok..tok”, Pramono tak curiga karena sekarang belum terlalu larut, dengan kalem ia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi memeriksa.

Image

Namun setelah sampai depan dan ia membuka pintu, tak ada siapapun di luar. “ASUUU!!!”. gerutu Pramono, rasa takutnya ditimbun oleh kekesalannya, ia kembali menutup pintu dengan sedikit membanting dan masuk lagi ke kamarnya. Di dalam di ujung ranjang Pramono tak lagi bisa tidur, rasa kantuknya terusir oleh ketukan tadi, ia menatap langit-langit kamar dengan sesekali melirik ke arah jendela dengan tirai semi transparan, luar seperti terlihat terang karena memang kamarnya yg agak gelap. “Hmmmm..hmmmmm.hmmmm”

Image

Sari kembali mengigau, dengan sigap Pramono membelai dan menenangkannya, tapi tak selang beberapa lama ketukan itu muncul lagi, tapi kali ini dari kaca jendela kamarnya.

“Tok..tok..tok..” Dengan tempo yg lambat.

Image

Sontak Pramono spontan langsung menoleh ke arah tersebut, dan ia seperti melihat bayangan hitam yg berdiri di balik jendela kamarnya. Pramono terperanjat dan mendudukan posisinya, mencermati serta memastikan apa yg ia lihat. Dan memang sepertinya ia tidak salah lihat.

Image

Pramono memegangi tubuh Anaknya dengan pandanganya yg masih tertuju dengan sosok bayangan hitam di balik jendela itu, sampai akhirnya Pramono sadar bahwa perlahan Bayangan itu mulai berubah bentuk. Membesar dan terlihat seperti bertanduk. Mengetuk-ngetuk kaca jendela seraya menggeram. 

Image

Pramono yg kini benar-benar ketakutan mencoba untuk membangunkan istrinya, namun hampir bersamaan dengan itu. Dengan tiba-tiba pintu kamarnya kini terbuka dengan perlahan, sontak Pramono yg menoleh, kembali di kagetkan ketika melihat sosok putih yang terlihat berdiri di depan pintu. Sosok itu adalah pocong, dengan kain kafan yg berlumuran tanah, lidahnya kelu tak bisa mengucap apapun hanya tanganya saja yg sedari tadi menggoyangkan tubuh istrinya yg akhirnya ikut terbangun dan menyaksikan itu semua.

Image

“AGSTAFIRULLAH!!”. Ucap sang istri seraya meringkuk membelakangi sosok Pocong di depan pintu. Dan tak sampai di situ karena tiba-tiba saja ” Buuuuuggg!!!!!!” Ada sesuatu yg turun dengan keras dan berdiri di depan Pramono serta istrinya, tak jelas wujudnya karena memang hitam dan gelap, hanya terlihat matanya saja yg merah menyala. 

Image

Dan ranjangpun bergetar, “Sari menggelinjang kejang” Suasana panik tak karuan, kini perhatian Pramono dan istrinya teralihkan oleh anaknya, ia hanya bisa memegangi tubuh anaknya yg bergetar!! Sementara sang istri terlihat menangis, namun seiring dengan itu, ternyata sosok-sosok lelembut itu menghilang saling bersamaan dengan Sari yg mulai tak lagi kejang. Pramono sempat merasa lega dan sang istri juga terlihat tenang. Namun itu tak berlangsung lama karena setelah itu. 

“Buk.. Sari!!” Ucap Pramono lirih yg langsung menempelkan telingannya ke dada anaknya. Disusul dengan sang istri yg memengangi tangan sari yg masih hangat namun ‘nadinya’ sudah hampir tak ada. Pramono langsung berlari keluar rumahnya untuk mencari bantuan. 

Tapi tak selang beberapa lama, tangisan istrinya pecah, kita semua pasti tau apa yg terjadi. Ya benar!!

“Sari anak gadis semata wayang Pramono, sudah tak bernafas lagi”

Dan Pramono yang kembali datang pun harus menerima kabar pilu ini, tatapannya mendadak kosong mendengar tangisan istrinya di dalam, firasatnya sudah tebal kalau anak gadisnya sudah tiada.

Image

Tak butuh waktu lama, kabar kematian Sari anak Pramono langsung menyebar di seluruh desa. Banyak orang yg kaget dengan berita ini pasalnya Sari ini anaknya sehat dan ceria bahkan malam sebelum ia ‘sakit’, Sari masih terlihat mengaji di surau dekat rumahnya dan memang itu juga kegiatan rutin Sari setiap sorenya. Kematiannya memang aneh dan mendadak, apakah ini ada hubungannya dengan ritual Pramono di Lembah keramat itu? Mari kita lanjut ceritanya.

Image

Singkat waktu.

Sudah 40 hari Kepergian sang anak ‘Sari’, Pramono & istrinya masih dalam masa berkabung tentunya. Tapi disini Pramono belum sadar kalau ini adalah buah dari ritualnya. Ia masih sibuk berburuk sangka kalau ini adalah ulah dari orang yg tak menyukainya. 

Berbeda juga dengan sang istri yg memang tak tau menahu tentang ritual itu. Sang istri menganggap kematian anaknya disebabkan murni oleh penyakit walaupun ia juga sempat melihat penampakan sebelum Sari kejang dan meninggal. 

Bila hari ini adalah tepat 40 hari kepergian anaknya, berarti kurang lebih kemarin atau hari ini Pramono harus melakukan ritual itu lagi. Tapi sekarang dia seperti menganggap ritual itu sudah tidak manjur, karena terhitung sejak meninggalnya Sari anaknya, sudah ada 8 ekor sapi ternaknya yg mati, jadi Sekarang Pramono memutuskan untuk meninggalkan ritual itu, tanpa ia sadari ada sesuatu yg akan mengancamnya dikemudian hari. Yg belakangan diketahui disebabkan oleh sosok jin yg menagih akan ritual itu.

Masih di hari yg sama, malam itu setelah prosesi tahlilan, terlihat warga cepat-cepat beranjak pulang, karena kebetulan malam itu hujan gerimis, begitu juga dengan para ibu-ibu yg sedari sore membantu istri Pramono menyiapkan kudapan ikut berpamitan satu per satu. 

Karpet yg terbentang di ruang tamu juga belum sempat dirapikan, terlihat Pramono yg duduk menyiku di sudut ruangan dengan pecinya yg miring, menghisap rokok dan sesekali mengepulkan asapnya ke langit seakan melepaskan beban pikirannya yg cukup berat akhir-akhir ini. 

Tak selang beberapa lama istrinya mendekat seraya memberikan segelas kopi hangat, mereka kini duduk bersama dengan kepala sang istri yg tersandar di pundak Pramono.

Hujan yg tadi gerimis berubah menjadi deras, dan tak selang beberapa lama Pak Slamet menerobos masuk seakan terburu tanpa mengetuk pintu rumah juragannya. Dengan masih mengenakan mantel Pak Slamet memberi kabar yg tak mengenakkan. Kalau Satu sapi ternaknya Mati lagi. Istrinya terkejut, tapi tidak dengan Pramono yg dengan santai dan tanpa beranjak dari posisinya Menyuruh Pak Slamet segera mengubur bangkai sapi itu, Pak Slamet pun mengerti dan berpamitan. Pramono dan istrinya masih duduk bersama tanpa pembicaraan untuk beberapa saat, hingga akhirnya Pintu rumahnya kembali di ketuk, lebih tepatnya di gedor. 

Sigap sang istri membukanya, namun tak ada siapapun diluar sana. “Mungkin kena angin buk.” Ucap Pramono karena memang malam itu hujan turun sangat lebat disertai angin kencang.

“Ayo tidur aja buk!!”. Ucap Pramono kembali, mengajak istrinya masuk ke kamar. 

Dan merekapun beranjak tidur, dengan hujan yg tak selang beberapa lama mulai semakin mereda menyisakan rintik-rintik yg tak begitu bising. Pramono dan istrinya tampak tertidur lelap hingga lewat tengah malam sang istri terbangun karena hendak buang air kecil, karena takut, sang istri pun membangunkan Pramono untuk menemaninya, memang sejak kejadian itu sang istri berubah menjadi orang yg sangat penakut, kemana-mana harus ditemani. Pergilah mereka ke kamar mandi dan setelah selesai mereka kembali berjalan menuju kamar. 

Sang istri yg berada di depan langsung buru-buru masuk ke kamar, namun ketika setengah badannya masuk, ia segera mundur keluar lagi sambil menarik gagang dan menutup pintu. Wajahnya tampak pucat ketakutan.

“Ada apa to buk!??”. Kata Pramono yg badannya sempat terdorong oleh istrinya. Sang istri hanya menunjukkan jarinya ke arah kamar sambil berkata dengan membisik.

“Ono uwong mas!!! Ono uwong!!”

(Ada orang mas!! Ada orang!!). Kata sang istri yg tak berani menoleh.

“Halah opo to!!”. Gerutu Pramono seraya maju dan meraih gagang Pintu. 

Setengah badan Pramono menerobos di antara gawang pintu. Ia sempat berhenti sejenak kemudian memutuskan untuk keluar menutupnya kembali. Karena ketika ia masuk, ia sempat melihat sosok putih mirip kuntilanak berdiri didepan ranjangnya.

Image

Pramono terlihat ketakutan namun mencoba tegar didepan istrinya yg sekarang dipeluknya. “Rapopo buk!! Rapopo!!”. Ucap Pramono untuk menenangkan keadaan. Entah berapa lama ia dan sang istro berdiri didepan pintu karena ketakutannya kembali bertambah ketika terdengar suara gaduh dari dalam kamarnya, mendengar itu Pramono memeluk istrinya semakin erat dan mengumpat. “Bajingannnn!!!! Asu!!! Sopo wae sing ning njero tulung minggat!! Ojo ganggu omah iki!!”.

(Siapapun yg berada didalam, tolong pergi!! Jangan ganggu rumah ini!!). 

Begitu ucap Pramono, dan suara gaduh itupun mereda namun itu hanya untuk beberapa detik saja karena kini berubah menjadi suara tawa yang memekik yg tentunya masih bersumber dari kamar itu. Pramono langsung menyeret istrinya menjauh ke ruang tengah. 

Allahuakbar..Allahuakbar..Allahuakbar.. Ucap sang istri sedari tadi, sementara kini terdengar kegaduhan lagi namun dari langit-langit rumahnya. Pramono dan Sang istri bersimpuh di karpet saling memeluk, entah berapa lama hingga kegaduhan itupun menghilang. 

Pramono terus memandangi keadaan luar rumahnya, sementara sang istri masih berada di dada dan tak berani membuka matanya. Sampai akhirnya dengan tiba-tiba dan tanpa aba-aba muncul sosok di balik jendela, sosoknya putih samar yg semakin lama semakin jelas. 

Sosok itu adalah sosok POCONG. dengan muka yg hampir menyentuh kaca jendela. Wajahnya hitam, begitu juga dengan matanya, mulutnya terlihat menganga.. Mengkomat-kamitkan mantra yg tak jelas dengan nada yg membisik..

Image

Pramono segera memalingkan pandangannya ke arah lain, seraya menitupi kepala istrinya dan berkata.

“Ojo ndelok, wess ojo ndelok!!”. ( jangan lihat, sudah jangan lihat!!). Ucap Pramono. Dan listrik dirumah merekapun seketika padam dan hidup lagi. Sang istri yg tadi masih di peluknya terdiam tak bersuara. Pramono merasa agak aneh, tangannya terasa basah, seraya memejamkan mata Pramono berkata.

“Buk..buk..buk!!” Sambil menggoyangkan tubuh yg dipeluknya itu. 

Dan ada sahutan namun dari kejauhan. “Masss!!” Ucap istrinya dari sudut ruangan yg membuat mata Pramono terbuka. Lantas siapa yg kini dipeluknya??. Dengan gemetar Pramono melihat ke pangkuannya dan ternyata yg dipeluknya bukanlah istrinya!! Melainkan sosok wanita tua dengan mulut terbuka seakan tertawa.  

Image

Pramono langsung melepaskan pelukannya, tubuhnya lemas, tak bisa berjalan. Ia merangkak sebelum akhirnya sang istri memapahnya kembali ke dalam kamarnya. “Ada apa mas!! Ada apa!!” Ucap istrinya di dalam kamar yg seperti tak tahu apa yang terjadi.

Image

Pramono masih bingung dengan sikap istrinya namun dia belum bisa berkata-kata, hingga keesokan harinya Pramono yg kini sedikit deman karena syok pun mulai bercerita detail kejadian malam itu yg langsung di bantah istrinya yg keheranan. 

Jadi belakangan diketahui malam itu istrinya tak pernah merasa membangunkan Pramono untuk mengantarnya ke kamar mandi. Istrinya juga tak merasa melihat penampakan dirumahnya malam itu. Jadi siapa yg membangunkan Pramono? mengajaknya ke belakang, melihat penampakan bersama dan saling berpelukan?. Malam itu istrinya memang akhirnya terbangun karena mendengar rintihan dari Pramono yg ternyata sudah tak tidur disampingnya. Istrinya yg mencarinya akhirnya menemukan Pramono tengah duduk bersimpuh di karpet ruang tamu. Sang istri juga tak melihat apapun di pelukan suaminya itu. Disitulah sang istri baru memanggil dengan kata “Mas!!” Dan dengan aneh sang istri melihat Pramono ketakutan dan roboh merangkak. Entah apa yg dilalui Pramono malam itu, entah Halusinasi atau memang sedang di perdaya oleh sesuatu yg jahat. 

Yg jelas sang istri melihat Pramono suaminya sedang tidak baik-baik saja.

Pramono sekarang masih terbaring ditempat tidurnya, badannya agak demam hari itu. Didalam matanya yg terpejam ia masih memikirkan arti dari kejadian semalam. Siang hari Pak Slamet datang. 

Sang istri yg membukakan pintu sedikit tercengang dan bertanya.

“Sapi mati lagi pak met!?”

“Ndak kok mbak, cuma mau cerita saja.” Jawab Pak Slamet.

“Tapi mas Pramono lagi ndak enak badan Pak Met, ya sudah masuk dulu saja.” Jawab istri Pramono kepada Pak Slamet. 

“Sini cerita saja sama saya pak Met, nanti tak sampaikan ke Mas Pramono.” Kata istri Pramono kembali.

Merekapun duduk di karpet yg membentang bekas tahlilan semalam yg belum sempat dirapikan kembali. Disini terjadi perbincangan yg cukup panjang dan dalam antara Pak Slamet dan Istri Pramono.

Pak Slamet bercerita bahwa sudah 40hari ini sejak meninggalnya Sari, beliau ketika tidur di kandang sering di datangi atau di ganggu oleh mahluk halus, awalnya Pak Slamet membiarkan itu karena memang beliau ini sudah terbiasa bersentuhan dengan hal-hal seperti itu. 

Tapi belakangan ini, teror dari lelembut di kandang dirasa pak Slamet sudah mengkhawatirkan. Puncaknya adalah semalam sebelum beliau mengabarkan tentang satu sapinya yg mati.

Jadi malam itu atau tepatnya semalam pak Slamet akhirnya melihat sendiri makhluk yg membuat sapi-sapi itu mati. Singkatnya begini.

Pak Slamet yg akan beranjak tidur sehabis memeriksa para sapi tetiba di paksa untuk bangun ketika mendengar suara gumaman aneh dari salah satu sapi di kandang. Pak Slamet segera beranjak dan mencari sumber suara itu, berbekal lampu senter yang dayanya hampir habis, beliau berjalan pelan agar tak menimbulkan suara seraya menyoroti sapi yg berada di kanan dan kiri satu per satu. Sampai akhirnya beliau menemukan sumber suara itu, meski jaraknya masih beberapa meter. Perasaannya sudah tak enak, dengan keberaniannya Pak Slamet mencoba menyoroti sumber suara itu yg ternyata bersumber dari kandang nomer 3 dari sudut. Namun ketika hampir benar-benar dekat tiba-tiba lampu senternya mati, Pak Slamet dengan rasa yg sudah tak karuan berhenti sejenak dan memukul-mukul senter yg di genggamnya. 

Hingga tak selang beberapa lama senterpun kembali menyala, segera Pak Slamet mendekat dengan sedikit berlari dan langsung menyoroti sapi itu, namun ternyata apa yg dilihatnya tak hanya sapi, melainkan sosok tinggi hitam yg tengah menggapit tubuh sapi itu dengan kedua kakinya.

Image

Sosoknya sangat besar, tingginya hampir menyentuh langit-langit kandang itu. Pak Slamet masih mencoba tenang dan malah menyoroti sosok itu dari bagian bawah sampai ke wajahnya yg ternyata cahanya seperti menembus tubuh dari sosok itu. Matanya merah menyala. 

Pak Slamet membuang jauh rasa takutnya dan berkata.

“SOPO KOWE!!! KOWE YO SING SOK MATENI SAPI-SAPI SINH NING KENE!!?”

(SIAPA KAMU!!! KAMU YA YG TELAH MEMBUNUH SAPI-SAPI YG BERADA DI SINI.)

Kata Pak Slamet dengan sedikit gugup. 

Namun mendengar kata-kata dari Pak Slamet, sosok itu justru malah tertawa terbahak-bahak dan berkata.

“AKU SING BAHUREKSO GUMUK KERAMAT!! PANTANG DI BLENJANI!!”

(Aku yg berkuasa di lembah keramat!! Pantang untuk diingkari).

Dan makhluk itu pun menghilang.

Image

Pak Slamet sempat roboh di tanah untuk beberapa saat sampai dirasa keadaan sudah tenang pak Slamet segera menghampiri sapi itu yg tentunya sudah tak bernyawa. Baru setelah itu hujan turun sangat lebat, Pak Slamet segera pergi ke rumah Pramono untuk mengabarkan hal ini. 

Begitulah cerita Pak Slamet di siang itu yg ditutup dengan pertanyaan kepada istri Pramono.

“Apakah Mas Pramono itu sempat “Ngudi” Atau meminta sesuatu di Lembah keramat mbak? Kata Pak Slamet. Istri Pramono yg tidak tahu menahu terlihat syok dan tak bisa memberi tanggapan yang banyak kepada Pak Slamet.

“Maksudnya suami saya Pesugihan gitu!!?” Tanya istri Pramono kepada pak Slamet. Yg langsung di sanggah oleh Pak Slamet.

“Kalo setahu saya itu tidak termasuk pesugihan mbak, itu seperti kemarahan dari Mahluk itu saja, atau ada “laku” Atau syarat yg tak ditepati oleh Mas Pramono” Kata Pak Slamet.

“Tapi terlepas dari apapun yg melatar belakanginya, semua ini harus dihentikan mbak!!”. Timpal Pak Slamet kembali. Dan Pak Slamet pun berpamitan seraya berpesan apa bila ingin semua ini selesai Pak Slamet akan siap membantu mencarikan seseorang yg bisa menyelesaikan hal ini.

“Ya ini tetap harus diselesaikan pak Met.” Kata istri Pramono di Ambang Pintu rumahnya sebelum Pak Slamet berjalan menjauh.

Sang istri segera masuk ke kamar untuk melihat suaminya yg ternyata sedang terlelap, dengan halus Sang istri memegang kepala Pramono yg ternyata sudah tak demam lagi. Ia tetap akan menceritakan semua ini saat nanti suaminya sudah siuman. Kini sang istri ikut merebah di samping Pramono siang itu.

Sekira 1-2 jam kemudian Pramono terbangun dengan keringat yg membasahi tubuhnya. Ia sudah merasa baikan meski pikirannya masih kacau. Sang istri yg kembali memeriksa kini bernafas lega melihat suaminya sudah sembuh. Karena sesungguhnya sang istri masih merasa trauma dengan seseorang yg mengalami demam, mengacu pada kejadian yg di alami mendiang anaknya ‘Sari’.

“Gimana kandang buk!?, pak Slamet sudah kesini!?” Kata Pramono yg kini selonjoran di ranjangnya. Sang istripun akhirnya menceritakan tentang keadaan kandangnya dan cerita kesaksian dari Pak Slamet. Istrinya sedikit marah karena memang tak pernah tahu menahu tentang ritual yg dilakukan suaminya. tersirat seakan sang istri juga menyalahkan Pramono tentang kematian anaknya. Ketika sang istri mencecar perihal janji yg diingkari oleh Pramono dalam ritual di Lembah keramat itu, Pramono juga tak tahu, walau setelah berfikir keraspun ia tetap tak tau apa penyebabnya dan apa yg telah ia ingkari. Tapi untuk saat ini perdebatan sudah tidak penting lagi. Karena yg terpenting saat ini adalah bagaimana masalah ini bisa segera diselesaikan.

“Ayo kita ketemu Pak Slamet Buk!!”. Kata Pramono. Dan merekapun pergi keluar menuju Kandang untuk menemui Pak Slamet. Sesampainya disana terlihat pak Slamet yg tengah membersihkan kandang.

” Pak Met!!”. Teriak Pramono. Pak Slamet segera menghampiri juragannya meski dengan baju yg sedang belepotan kotoran sapi.

“Kalau sudah begini, bagaimana solusinya Pak Met, katanya njenengan punya kenalan yg bisa menyelesaikan masalah ini”. Kata Pramono dengan serius.

” Njih Mas, nanti saya akan bilang sama Gus Faruq.” 

Ucap Pak Slamet.

“Tapi beliaunya untuk hari ini sepertinya tidak bisa karena sedang berada diluar kota, Paling ndak 1-2 hari lagi beliau bisa kita datangi”. Timpal Pak Slamet kembali.

” Apa ndak ada ustad lain Pak Met, yg bisa hari ini”. Tanya Pramono lagi. 

“Ada sebenarnya Mas, tapi menurut pengetahuan saya setelah ikut mengalami gangguan ini, masalah ini harus diselesaikan oleh ustad yg paham tentang ilmu kejawen. Dan menurut saya cuma Gus Faruq ini yg ilmu agamanya tinggi dan Paham dengan ilmu kejawen. 

Pramono yg sudah tak sanggup berfikirpun menuruti saran dari Pak Slamet. Sebelum pulang merekapun duduk bersama di bale, Pak Slamet, Pramono, istrinya dan tak selang beberapa lama Mbok sumini istri Pak Slamet juga datang. Mereka saling berbincang tentang pengalaman aneh yg dialami akhir-akhir ini, sampai akhirnya Pramon mulai mendominasi pembicaraan. Ia bercerita tentang kehancuran bisnisnya bertahun lalu yg ia yakini adalah hasil guna-guna dari pesaingnya, padahal itu masih bisa dilogikakan. 

Memang kala itu, sapinya mati satu persatu, tapi jelas cara kematiannya tak seperti kematian sapi-sapinya akhir-akhir ini. Dulu sapinya yg akan mati masih bisa diselamatnkan kulit dan dagingnya. Beda dengan yg sekarang dengan waktu kurang dari 30menit saja sapi yg mati langsung menjadi busuk dagingnya tak bisa diselamatkan. Tapi mungkin waktu itu Pramono tak bisa berfikir jernih, ia menganggap kematian itu dikarenakan sihir jahat. Dalam keputus asaan Pramono pun pergi kerumah masa kecilnya, awal tujuannya sih hanya untuk menenangkan pikiran. 

Hingga akhirnya tak sengaka ia menemukan sebuah buku yg dibungkus kain kafan, ditemali dan di segel menggunakan tetes kemenyan. Pramono yg penasaran langsung membuka bungkusan itu. Dan membuka satu persatu halamannya. 

Ini bukan buku cetak pastinya, karena tulisan yg ada di dalamnya adalah tulisan tangan. Pramono membolak-balik halaman demi halaman buku yg ditulis dengan bahasa jawa kawi itu sampai akhirnya ia menemukan satu halaman yg Bertuliskan “Mantra Ritual tolak bala tunduk dhanyang”. 

Yg kalo di artikan adalah “Ritual tolak bala menundukan lelembut penguasa”. Pramono yg sepertinya tertarik lanjut dengan membaca matra itu sekilas dan langsung menuju tulisan paling bawah yg bertuliskan syarat-syarat bagaimana menjalankan ritual ini. 

Dan entah kebetulan atau tidak, hari itu adalah hari yg tepat menjadi salah satu syarat ritual itu, yaitu hari Selasa kliwon. Tanpa berfikir dan penuh keyakinan Pramono langsung keluar membawa buku itu dan mencari syarat-syarat yg tertulis di bawah mantra itu. 

Dan malamnya Pramonopun mulai memilih tempat untuk melakukan ritual itu. Dari beberapa tempat angker yg berada didekat desanya, Pramono memilih tempat paling angker menurut orang-orang yaitu “Lembah Keramat”. 

Ia pun melakukan ritual untuk pertama kali, dan memang tidak ada kejadian yg begitu menyeramkan. Hanya timbul angin kencang saat kemenyan itu terbakar. Sembari membaca mantra itu lewat salinan tulisan karena memang kala itu Pramono belum Hafal betul. Ia menyelipkan beberapa permintaan, seperti kebangkitan usahanya, dan kehancuran usaha milik para pesaingnya. Hingga kemenyan itu mati, Pramono pun pulang, dengan rasa masih penuh keraguan apakah ini benar-benar bisa bekerja. 

Namun selang sehari setelah ritual itu seperti timbul keyakinannya untuk bangkit. Dengan sisa modal, ia mulai membeli sapi-sapi muda yg kurus untuk ia gemukkan dan dijual kembali. Dan ternyata mulai ada perkembangan yg siknifikan dengan usahanya. Pramono pun mulai yakin dan melanjutkan ritual itu secara rutin setiap Malam selasa kliwon. Dan hal yg tak ia sadari adalah satu per satu pesaingnya sesama peternak mulai tumbang satu per satu. Usaha Pramonopun mulai berkembang lebih besar dari masa keemasannya dahulu hingga 2 tahun ini. 

Dan ternyata kini akan kembali hancur lagi.

Begitu kira-kira pembicaraan dari Pramono di kandang itu sampai tak terasa sorepun kian menjelang. Pramono dan istrinya pun kembali Pulang dengan meyakinkan Pak Slamet untuk segera memberi kabar tentang Gus Faruq. 

Singkat cerita malam pun tiba. Terlihat Pramono dan istrinya yg tengah makan malam bersama.

“Mugo-mugo raono opo-opo yo buk”

(Mudah-mudahan tidak ada apa-apa ya buk.) ucap Pramono kepada istrinya. Sang istripun mengaminkannya. 

Setelah itu pramono mulai berkeliling rumahnya untuk memeriksa semua penerangan di setiap ruangan itu menyala. berharap ini bisa sedikit mengurangi rasa takutnya. Tak lupa ia juga melapisi tirai jendelanya yg semi transparan itu dengan kain sarung. 

Dan setelah itu Pramono dan istrinya pun beranjak untuk tidur. Suasana sunyi malam itu membuat mereka segera terlelap. Sampai akhirnya

Ada suara

“DUG!!!DUG!!DUG!!”

Dan ….

Sayup-sayup istrinya pertama kali terbangun mendengar suara itu yg sepertinya berasal dari sebuah lemari baju didepan ranjang mereka. Sang istri tentu spontan memandang ke arah sumber suara, matanya yg mengrenyit mendadak terbelalak ketika tau yg dilihatnya adalah sosok pocong yg tengah membentur-mbenturkan kepalanya di lemari jati itu. Seketika sang istri langsung menutup matanya kembali seraya tangannya meraih dan menggoyangkan Pramono suaminya yg masih tertidur. Sementara dibalik mata sang istri yg masih terpejam, suara benturan Pocong itu masih berlanjut, “DUG..DUG..DUG..” sampai akhirnya Pramono pun ikut terbangun, ia terlihat masih mengusap-ngusap matanya sampai ia mendadak terkejut melihat apa yg ada di depannya itu. Sempat terpenganga untuk beberapa saat Pramono kini menutup matanya sembari memeluk isttinya.

Image

Dan Suara benturan itu masih tetap ada namun lama-lama melirih dan menghilang, setelah bertahan beberapa waktu akhirnya Pramono dan istrinya membuka matanya perlahan, namun pocong itu ternyata masih ada kini dengan posisi yg berbeda, tak seperti tadi yg sosoknya membelakangi. kini pocong itu berdiri menghadap mereka berdua. Entah mengapa antara Pramono & sang istri kini sama-sama tak bisa bergerak, menutup mata saja mereka tak bisa, pandangan mereka seakan terhipnotis untukt erus memandangi sosok pocong itu yg lama-kelamaan mulai mengeluarkan tangan dari balik punggungnya. Aneh sekali!!!& Perlahan Sosok pocong itu pun mendekat, menuju mulut ranjang. dan ketika benar-benar dekat, pocong itu berkata dengan lirih kepada Pramono dan istrinya.

Image

“Njo, melu aku bali!!.”

(Ayok , ikut aku pulang!!). Kata sekecap dari sosok tersebut & tak selang beberapa lama, sosok pocong itu pun menghilang begitu saja. terlihat Pramono dan istrinya masih duduk saling berpelukan di atas ranjang, sang istri menangis ketakutan, mungkin mereka mengira gangguan berwujud malam ini sudah berakhir, tapi ternyata tidak!!! 

Tubuh Pramono merasa ada yg mencolek-colek dari samping, awalnya ia mengira itu adalah istrinya namun setelah ia menyadari bahwa tangan sang istri berada di genggaman Pramono. “Waduh apa lagi ini!!”. Batin Pramono, dengan perlahan ia menoleh ke arah sesuatu yg masih mencoleknya itu, dan setelah dilihat betapa kagetnya Pramono ketika ada satu tangan yg keluar dari tembok. Pramono langsung bergerak menjauh dengan sedikit membopong istrinya. Sementara saat ini tangan itu seperti masih mencoba meraih Pramono dengan melambai-lambai.

Image

Entah tangan siapa itu, yg jelas itu bukan tangan manusia sampai akhirnya semua gangguan mendadak hilang, suasana berubah menjadi senyap. “Ayo, kita tidur diluar saja buk!!” Kata Pramono. Tapi tak ada jawaban dari sang istri sampai akhirnya Pramono kaget setelah melihat hidung istrinya mengeluarkan darah. “Buk..buk!!!!”. Ucap Pramono menggoyangkan tubuh istrinya yg sepertinya pingsan. Pramono merasa panik saat itu, tak bisa tergambarkan. Namun ia mencoba untuk tetap tenang dengan membawa istrinya berbaring di ruang tengah.

Image

Tubuhnya gemetar menahan amarah. Pramono pun berdiri mengambil golok yg menggantung di samping rak di ruangan itu. Mengeluarkan bilahnya dan berkata.

“AKU SAIKI RA WEDI!!!!! RENE METU KABEH!!! NEK WANI NGADEPI AKU SU!!!!”

(AKU SEKARANG TIDAK TAKUT!!! KELUAR KALIAN SEMUA!!! KALAU BERANI HADAPI AKU!!). Ucap Pramono dengan Penuh amarah, dan tak berselang lama setelah itu, Pramono seperti melihat sesuatu ramai yg lalu-lalang di depan rumahnya. Begitu juga Suara desikan daun dari Pohon rambutan di halaman depan yg seperti sengaja di goyangkan. 

Ketakutan Pramono mulai muncul lagi, namun disini ia tetap mencoba untuk menepisnya. Dengan golok yg masih dalam genggaman, Pramono Mulai berjalan maju dan mengintip apa yg terjadi di luar rumahnya dari balik jendela. Dan samar-samar ia melihat sosok hitam besar yg tengah berjalan ke arah rumahnya, cara jalannya hampir mirip manusia, namun ukuran tubuhnya sangat tak wajar. Pramono masih memandangi sosok itu namun ketika jaraknya semakin dekat, Pramono memilih untuk mundur. 

Pramono berdiri di dekat istrinya yg masih tak sadarkan diri, masih dengan golok di genggaman tangannya Pramono mencoba tegar, sampai akhirnya tak selang beberapa lama, terdengar ketukan dari Pintu depan Rumahnya, ia yakin itu adalah pengejawantahan dari sosok tadi. 

“Tok…tok..tok!!!!tok..tok..tok!!!”. Pintunya diketuk dengan keras, Pramono mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara kepada sosok yg mengetuk pintunya itu, namun belum sampai ia mengucap kata, tiba-tiba ketukan itu berubah menjadi suara tawa dengan suara yg Keras dan dalam.. Pramono mencoba menata nafasnya, dan dengan tubuhnya yg gemetar tak terkendali Pramono berkata kepada sosok yg sepertinya berada di balik pintu itu.

“RENE!!! NEK WANI MLEBU!!!, GANGGU KELUARGAKU!! LANGKAHONO MAYITKU!!!”

(SINI!!! MASUK KALO BERANI MENGGANGGU KELUARGAKU!! LANGKAHI DULU MAYATKU!!!). kata Pramono dengan tegas namun agak sedikit terbata-bata. Tawa itu pun tak terdengar lagi namun tiba-tiba.. “BRUKKKKKK!!!” Sosok hitam itu muncul jatuh dari langit-langit dan kini berada tepat di depan Pramono.

Image

Ia kaget bukan kepalang, hingga sempat roboh ke lantai. Sosok itu berjalan mendekat ke arah Pramono yg masih tersungkur di lantai. Ia masih menggengam erat goloknya meski kini Pramono sedikit demi sedikit memundurkan posisinya. Sampai akhirnya Pramono mulai gelap Mata dan. 

Berdiri. Ia memejamkan matanya seraya maju mendekati sosok itu. Hingga merekapun kini saling berhadap-hadapan. Pramono sempat membuka matanya dan memejamkannya lagi dengan membabi buta iapun menghubak-habikkan goloknya sambil berteriak.

“MINGGATO!!!!!! MINGGATO!!!!” 

Entah berapa lama itu terjadi, yg jelas saat ia kembali membuka matanya, Sosok itu sudah menghilang. Dan tak selang beberapa lama terdengar suara “Masss…” Dari istrinya yg tiba-tiba saja siuman dari pingsannya. 

Merekapun duduk bersama di ruang tengah itu. Setelah melewati hal-hal ini tentu mereka takkan bisa tidur kembali. Merekapun kini terjaga saling berpelukan, sesaat Pramono menoleh ke arah jam yg menempel di dinding ruangan itu yg meunjukan pukul 03.00 pagi. 

Mereka berdua melamun tanpa ada pembicaraan, hingga tak terasa adzan subuh berkumandang. “Ayo sholat buk”. Kata Pramono yg cukup mengagetkan istrinya itu, Pasalnya Pramono ini jarang sekali sembahyang, mungkin karena apa yg ia lewati ini membuatnya ingat kepada Tuhannya. 

Merekapun Salat bersama, dengan keadaan Pagi yg masih buta mungkin karena langit memang sedang mendung. Awalnya mereka terlihat sangat kusyuk sebelum akhirnya ada sesuatu yg membuat mereka berlari meninggalkan salatnya yg belum selesai itu. Sesuatu itu adalah seekor ular besar yg lewat tepat di depan kaki Pramono yang menjadi imam. Awalnya Pramono masih mencoba kusyuk namun ia tak sanggup setelah ular itu bergerak mendekat seakan ingin melingkar di tubuh Pramono.

Image

Sang istri yg juga melihat ular itu langsung berteriak dan menyeret suaminya menjauh dan keluar dari kamar. Pramono buru-buru menutup pintu dan merekapun keluar rumah untuk mencari bantuan ke tetangga terdekat. Hingga tak selang beberapa lama merekapun kembali bersama beberapa warga. Pak Somad salah seorang hansip di desa tersebut langsung menerobos masuk kamar dengan membawa sebilah kayu. Disusul dengan Pakdhe Sunari tentangga samping rumah Pramono. Mereka mulai memeriksa dan mencari di setiap sudut ruangan kamar itu. 

Membolak-balikkan kasur dan menggeser beberapa perabot seperti tualet dan lemari. Namun sampai matahari benar-benar terbit. Hasilnya nihil!! Ular itu tak ditemukan bagaikan hilang ditelan bumi.

“Niki mboten beres mas, njenengan kolo wau estu semerep sawer meniko!?”. (Ini tidak beres mas, sampean tadi benar-benar melihat ular itu!?). Ucap Pak Somad kepada Pramono yg secara bersamaan ditimpal oleh Pakdhe Sunari.

“Omah iki koyone pancen gek ra beres mas Pram”.(rumah ini memang sepertinya sedang tak beres Mas Pram.) timpal Pakdhe Sunari. 

Yg setelah terjadi obrolan singkat, akhirnya Pakde Sunari pun menebalkan pendapatnya tentang ketidak beresan Rumah Pramono ini.

Karena ternyata beberapa hari yg lalu Pakde Sunari sempat melihat sosok di depan rumah Pramono ini. Beliau ini bisa dibilang mempunyai kelebihan. 

Beliau juga sangat biasa melihat hal-hal seperti itu, namun Pakde Sunari ini selalu terlihat enggan untuk menceritakan hal-hal yg berbau mistik seperti ini dan sering memilih untuk tidak memperdulikannya namun beda halnya dengan kasus Pramono ini, Pakde Sunari yg tempo hari sempat melihat sesuatu, seperti mempunyai intuisi yg tidak baik. Jadi karena inilah beliau memutuskan untuk bercerita dengan harapan agar masalah ini lekas ditangani. Begini kira-kira kesaksian dari Pakde Sunari. 

Di tahun 90an ini memang belum semua rumah mempunyai kamar mandi dan saluran pembuangan sanitasi, jadi masih banyak warga yg melakukan aktifitas seperti Mandi, Mencuci Pakaian dan buang air di sebuah ‘belik’ atau MCK umum, yg biasanya tersebar di beberapa tempat di desa tersebut, sama halnya dengan Pakde Sunari ini yg juga belum mempunyai kamar mandi sendiri. Singkat cerita suatu malam Pakde Sunari yg harusnya tidur nyenyak terpaksa harus bangun karena ingin buang air besar. Dengan sedikit terburu karena hasrat itu sudah hampir memuncak diraihnya sarung dan senter baterai di Sampingnya, segera beliau keluar rumah. Dengan agak cepat Pakde Sunari melangkah, meski terbatas tembok yg tinggi dan Pohon mangga rumah Pakde Sunari ini memang berada percis di samping rumah Pramono. 

Pakde Sunari berjalan melewati Rumah Pramono, ia sempat menoleh ke arah rumah yg besar itu, tak ada perasaan apa-apa, Pakde Sunari hanya membatin Kasihan dengan Pramono yg belum lama ini anaknya meninggal. Ia pun berlalu begitu saja, langkahnya kini semakin terburu. 

Menyusuri jalan desa yg kala itu masih minim penerangan menuju ke “Belik” Tersebut. Sesampainya disana dan melakukan aktifitasnya, Pakde Sunari segera beranjak Pulang. Kini langkahnya lebih santai karena tak ada lagi yg membuatnya harus terburu-buru. Seraya menghisap tembakau Pakde Sunari berjalan sambil sesekali mengarahkan lampu senternya ke semak-semak gelap yg dilaluinya.

Image

Sampai akhirnya ketika ia melewati rumah Pramono, langkahnya terhenti melihat bayangan hitam yg tengah berdiri di depan pintu rumah Pramono.

“Iki demit opo menungso!?” (Ini hantu apa manusia!?) batin Pakde Sunari seraya mengarahkan sorot lampu senternya ke arah sosok hitam tersebut. Dahinya mengrenyit menyorot sosok itu perlahan karena memang jaraknya lumayan jauh terhalang halaman Rumah Pramono yang luas.

“Wah, dudu uwong iki koyone!?”. (Wah bukan orang nih kayaknya!!?) batin Pak Sunari yg masih menyoroti sosok itu dari bawah ke atas, dan dugaannya benar ketika lampu sorotnya mengarah ke bagian atas atau kepala dari sosok tersebut. Pakde Sunari seperti melihat sesuatu yg lancip menempel di kepala sosok itu. 

Bersamaan dengan itu, sepertinya sosok itu menyadari kehadiran Pakde Sunari, karena tiba-tiba sosok itu berjalan mundur, lebih tepatnya berlari mundur menghampiri Pakde Sunari yg masih berdiri tanpa takut, sampai akhirnya ketika jarak antara sosok itu dan Pakde Sunar sudah benar-benar dekat, perlahan sosok itu membalikkan badannya dan kini menghadap ke Pakde Sunari yg lagi-lagi tak bergeming. Disini Pakde Sunari mendeskripsikan wujud dari sosok itu mirip dengan sapi atau kerbau yg bertubuh manusia.

Tubuhnya sangat besar, dengan tinggi kurang lebih 3 meter, sosok itu menatap Pakde Sunari dengan Nafas yg keras, Pakde Sunari juga menatap Balik sosok tersebut meski harus sedikit mendongakkan kepalanya. Mereka pun saling bertatap-tatapan untuk beberapa saat.

Image

Sampai akhirnya sosok itu berbicara,

“MINGGAT!!!! TIMBANG TAK PANGAN KELUARGAMU!!!!”

(MINGGAT!!! DARI PADA AKU MAKAN KELUARGAMU!!!) kata sosok itu dengan suara berat dan dalam. Disini sedikit ketakutan Pakde Sunari pun muncul, ia pun langsung bergegas pergi menjauh dan masuk ke rumahnya, tanpa menjawab perkataan dari Sosok itu. Begitulah kira-kira kesaksian singkat dari Pakde Sunari, beliau berujar baru kali ini melihat sosok lelembut berwujud seperti itu dan berkata begitu, atas dasar inilah Pakde Sunari menyimpulkan ini bukan demit biasa. 

Singkat cerita di hari itu juga Pramono menemui pak Slamet di kandang untuk menanyakan perihal solusi dari masalah ini sampai akhirnya pergilah mereka ke tempat Gus Faruq, yaitu seseorang yg dijanjikan Pak Slamet bisa menyelesaikan masalah ini. 

Sesampainya di rumah Gus Faruq dan menceritakan semuanya, kini semuanya perlahan mulai terang, tentang apa sebab musabab ini bisa terjadi, menurut penjelasan Gus Faruq memang benar semua berasal dari ritual itu. Terlepas dari penjelasan Pramono yg bersumpah tidak meminta kekayaan tapi sangat jelas Pramono kini terjebak dalam persekutuan dan tipu daya iblis. Gus Faruq mencoba memberikan analogi yg mudah untuk dimengerti. Jadi meminta bantuan kepada selain Tuhan diibaratkan seperti hutang-piutang. 

Yg harus dikembalikan beserta “bunganya”. Mungkin hutang antara Pramono dan para Lelembut penunggu lembah keramat itu sudah lunas ditukar dengan sesajen. Tapi tidak dengan “bunganya”. Bunga yg dimaksut disini adalah ” Akibat dari persekutuan itu” Dan hal ini adalah ‘Pasti’. Karena “dia” selalu licik dan menagih janji yg sebenarnya hanya tersirat jadi memang butuh keahlian yg mendalam untuk memahami apa yg di mau.

Entah hanya untuk mempercerah suasana saja atau bagaimana disini Gus Faruq memberi penjelasan bahwa kematian “Sari” Anak Pramono tidak ada hubunganya dengan semua ini. Walau dalam hati Pramono selalu berfikir kematian anaknya disebabkan oleh ritual ini. Gus Faruq tak mau membicarakan masalah ini lebih dalam beliau hanya ingin fokus ke penyelesaiannya saja. Singkat waktu di hari itu juga Pramono di suruh untuk melakukan sholat tobat. Dan malam ini juga Prosesi “Pamedhotan” Atau pemutusan akan dilaksanakan. Pramono, sang istri dan Pak Slamet pun beranjak pulang untuk menyiapkan persyaratan Prosesi ini. Dan singkat waktu, dilakukanlah prosesi ini.

Malam itu sangat cerah, terlihat cahaya bulan yg sedang bulat-bulatnya menyinari desa itu, di Rumah Pramono semua orang yg akan melakukan prosesi “Pamedhotan” Sudah berkumpul. 

Terlihat di ruang tamu, Gus Faruq, Pak Slamet, mbok Sumini, Pramono dan sang istri serta beberapa santri atau murid dari Gus Faruq sudah berkumpul dan duduk bersila di karpet yg membentang. Mereka duduk dengan posisi sejajar menghadap ke arah pintu depan. 

Waktu sudah hampir tengah malam, Gus Faruq memberi sedikit penjelasan dan mewanti-wanti agar tidak ada satupun orang yg lari ketika nanti melihat sesuatu. tak selang beberapa lama pun tepat pukul 00.00 Prosesi itu dilaksanakan. 

Gus Faruq mulai membaca ayat-ayat, diikuti oleh para santrinya, sementara Pramono, istrinya, Pak Slamet dan Mbok Sumini pun hanya diam menunduk dan menyimak. Suasana perlahan menjadi aneh dan panas. Pak Slamet terlihat sedikit menyiku mbok Sumini yg menoleh ke kanan dan kekiri. 

Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa wajah masing-masing dari mereka, padahal ruangan itu dalam keadaan tertutup. Hampit Bersamaan dengan itu muncul ketukan dari pintu depan. Sejenak para murid Gus Faruq menghentikan bacaanya beda dengan Gus Faruq yg tetap membaca dengan khusyuk.

“Tok..tok..tok..tok..tokk.tok.” Pintu diketuk dengan keras. Dilanjut oleh suara auman binatang, entah binatang apa itu. Sang istri terlihat merapatkan posisinya ke dekat Pramono yg nampak bingung dan gugup. 

Dan muncul suara tawa memekik cekikikan seakan berputar-putar di ruangan itu. Pramono, sang istri, Pak Slamet dan Mbok Sumini langsung menundukkan kepalanya seakan tak mau memastikan siapa yg tengah tertawa itu namun mau tak mau mereka harus mendongakkan kepalanya secara bersamaan ketika timbul suara dentuman keras yg mengagetkan.

Gus Faruq kini terdiam, begitu juga dengan santri-santrinya, semua orang di ruangan itu menegapkan pandangannya dan disitu mereka semua melihat sosok yg tidak hanya satu. 

Pak Slamet segera memalingkan pandangannya ketika melihat sosok wanita berbaju putih yg tengah duduk di meja yg berada percis di sampingnya. Mungkin sosok inilah yg tadi terdengar pekik tawanya mengitari ruangan ini, sosok itu tengah duduk seraya membelai rambutnya sendiri.

Image

Santri Gus Faruq yg berada di paling tepi juga terlihat gelisah menggeser-geser tubuhnya karena tepat di samping lututnya terlihat sosok seperti anak kecil yg merangkak sambil mendesis-desis, terlihat jelas raut wajah si santri yg mencoba untuk kuat.

Image

Sementara itu diluar rumah tepatnya di pohon timbul suara berisik yg mungkin disebabkan oleh dedaunan yg saling bergesekan, Pramono yg pertama kali melihat ke arah situ, dan disitu terlihat dari kejauhan sosok wanita berbaju putih tengah duduk di ranting sambil berongkang kaki.

Image

Pramono segera mengalihkan pandangannya ke arah lain namun ia justru melihat sosok Pocong yg kini berdiri tepat di depan Gus Faruq yg terdengar sedang berdzikir. Pramono segera menundukkan kepalanya.

Image

Dan tak selang beberapa lama Gus Faruq pun berdiri dan mengajak semua orang disitu ikut berdiri juga. Gus Faruq mulai berjalan mengitari setiap sudut ruangan dan berhenti tepat di depan pintu masuk yg mana di baliknya terdapat sosok hitam bertanduk.

Image

Dan terjadi pembicaraan satu arah antara Gus Faruq dengan sosok hitam bertanduk itu, entah apa isi pembicaraan itu, yg jelas kata-katanya menggunakan bahasa jawa kawi kuno. Hingga akhirnya Gus Faruq mengusap wajahnya. Dan semua sosok diruangan itupun seketika menghilang.

Image

Prosesi “Pamedhotan” Itu pun selesai, mereka kini duduk bersama saling mengucap syukur. “Insya Allah ini sudah rampung.” Ucap Gus Faruq yg juga berpesan untuk mengadakan pembacaan yasin selama 7 hari dirumah ini. 

Waktupun berlalu, keadaan rumah dan usaha Pramono kini berangsur membaik, meski tak sejaya dulu, Pramono mencoba untuk tetap mensyukurinya dan tidak berfikir buruk. Selang satu setengah tahun pasca kejadian ini, seorang bayi laki-laki lahir. Mengobati duka dan sepinya Pramono dan Sang istri setelah meninggalnya anak pertamanya Sari. Hari-hari Pramono dan keluarganya dilewati dengan bahagia meski kadang masih tersirat dipikirannya tentang “Lembah keramat ” Itu. Namun ia tetap mencoba untuk menjalaninya dan memasrakan semuanya Kepada Tuhan Yangg Maha Esa. Hingga cerita ini ditulis tak ada satu kamispun yg terlewati oleh Pramono, sang istri dan ‘Gugat’ (nama anak lelakinya) untuk berkunjung ke Makam “Sari” Saat sore. Pramono selalu mengatakan kepada “Gugat” Bahwa makam yg kita kunjungi setiap kamis ini adalah Makam kakaknya “Sari”.

—Tamat—-

Sekian cerita ini, bila ada kata yg kurang berkenan mohon di maafkan, semoga banyak pelajaran yg bisa dipetik dari cerita ini. Terimakasih sudah sabar membaca, sampai jumpa dicerita lain. Tks 

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *