RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Dendam Dalam Semangkuk Bakso

Berdasarkan dari kejadian nyata

Malem sob!

Kisah di bawah ini merupakan peristiwa nyata yang pernah terjadi sekitar tahun 1998 yang lalu.

Seperti biasa, nama tokoh yang bersangkutan dan lokasi kejadian akan ane samarkan untuk kenyamanan bersama. 

Dan seperti biasanya lagi, yuk ramein tritnya dengan rt dan like yang banyak.

Kalo udah, so let the haunt begin!

Malam itu, malam minggu. Mang Dirman berjalan mendorong gerobak baksonya dengan langkah pelan. Biarpun namanya malam minggu, tetap saja suasana disekitar jalan terasa sunyi dan lengang.  Mungkin juga dikarenakan suhu udara di malam ini kelewat dingin, jadinya orang-orang pada malas untuk keluar rumah. 

Mang Dirman menatap sedih bakso dagangannya yang masih tersisa banyak. Bahkan setengah dari jumlah yang ia bawa pun belum ada terjual. Padahal ia sudah turun dari rumah sejak pukul empat sore tadi, dan sekarang waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Hari ini rejeki lagi seret, keluhnya.

Sebelum pulang, ia hendak masuk dulu ke suatu komplek perumahan di depan sana. Mungkin saja nanti di dalam akan ada orang yang mau membeli. Kan lumayan juga kalo bisa terjual sampai empat ato lima porsi, cukup buat modal jualan besok, pikir mang Dirman. 

Dengan hati yakin, ia masuk sambil memukul-mukul mangkok baksonya .

Ting.. ting.. ting.. 

Benar juga dugaannya, masih ada warga komplek yang mau membeli. Walaupun hanya dua porsi, tapi ini cukup menambah semangat mang Dirman untuk melanjutkan jualannya lagi. 

Ia berjalan masuk ke bagian komplek yang lebih dalam. Namun, semakin ia melangkah jauh, makin gelap dan makin sepi suasananya. Rumah-rumah di situ juga banyak yang kosong tak berpenghuni. 

Tak lama, mang Dirman sampai di gerbang pembatas yang menghubungkan jalur komplek dengan perkampungan yang ada di belakangnya. Di sisi kiri jalan terdapat sebuah poskamling dengan penerangan seadanya. 

Si Katrok dan si Saiful,tengah asyik bersantai di dalam pos tersebut. Dua orang pengangguran ini dikenal sebagai preman kampung yang acapkali berbuat onar. 

Setiap malam, kerjaan mereka cuma nongkrong di tempat ini sambil nyimeng ataupun mabuk-mabukan yang duitnya mereka dapat dari hasil memalak anak-anak di kampung belakang. 

Ting ting ting..

Mang Dirman mengetuk kembali mangkok, ngeharap bakalan ada orang lagi yang mau membeli baksonya sebelum ia pulang.

Si Saiful yang mendengar bunyi tersebut, tergagap dari bengongnya. Mukanya yang jelek jadi sumringah. 

“Eh trok! Ada kang bakso tuh!”, katanya.

” Kebeneran.Pas gue lagi laper nih!Panggilin dah! “, ucap si Katrok.

Saiful melambaikan tangan ke mang Dirman.

” Mang, sini mang! “, serunya. 

Mang Dirman yang sama sekali belum tahu profil kedua orang di depan, dengan semangat menggebu datang menuruti panggilan mereka.

“Alhamdulillah, ada lagi yang beli! “, gumamnya, senang. 

“Bakso, bang? “

“Iye! Dua mangkok ye! Baksonya paket komplit! “, jawab Saiful.

” Oh iye, satu lagi.. “, tambahnya.

” Apa tuh bang? “

“Gak pake lama! “,kata Saiful lagi.

” Sip deh! “, ucap mang Dirman, antusias. 

Dengan cekatan, ia mempersiapkan dua mangkok bakso pesanan mereka.

“Wuih, mantep! “,kata Katrok saat semangkok penuh bakso tersaji di depannya. Tanpa basa-basi, disikatnya langsung padahal panasnya masih mengepul. 

Si Saiful tak mau kalah. Dituangnya kecap dan sambel tanpa kira-kira, lalu disantapnya hingga ludes tak bersisa.

“Satu mangkok lagi mang! “, pintanya, dengan mulut mendesis-desis kepedasan. 

Melihat rekannya nambah, si Katrok kepengen juga. Ia jadi ikutan mesan.

“Gue juga deh mang! Pangsitnya yang banyak ye! “, serunya.

” Oke! “, jawab mang Dirman.

Cepat-cepat ia buat lagi dua porsi bakso sesuai pesanan mereka.

Ah senangnya kalau jualan malam ini bisa laris. 

“Ini dia bang! “

Ia menyerahkan dua mangkok bakso dengan isian lengkap. Memang dasar kedua orang ini terkenal rakus, tak perlu waktu lama buat mereka menghabiskan makanannya. 

Mang Dirman saja heran melihat cara makan mereka yang ugal-ugalan.

Ini laper ato rakus?, pikirnya.

“Eeghh.. “, si Katrok bersendawa keras seusai makan. Saiful menepuk-nepuk perutnya yang kembung kekenyangan. 

Lalu mereka berdiam diri sejenak sambil menikmati sebatang rokok yang dibagi dua.

Karena malam yang semakin larut, mang Dirman ingin segera pulang. Ia pun meminta keduanya untuk membayar bakso yang mereka makan. 

“Maaf ya bang! Saya udah mau pulang!”

Si Katrok malah pura-pura budek.

“Ya udah, pulang sono! “, tukas Saiful, seenaknya. 

Mang Dirman kaget dijawab ketus begitu.

“Lho? Kan abang-abang belom pada bayar! “, jelasnya.

Mata Katrok mendelik galak.

” Emang berape semua? “tanyanya, kurang ramah.

” Abang makannya abis empat porsi, jadi totalnya sepuluh rebu! “, jawab mang Dirman. 

“Iye, iye! Nih gue bayar! ” kata Katrok, lalu mendekati mang Dirman yang berdiri di luar poskamling.

Tapi, tak disangka..

BUKKK!!

Si Katrok malah meninju perut mang Dirman dengan sangat kuat. Badan mang Dirman menunduk lalu ia jatuh melengkung sambil memegangi perutnya yang kesakitan. Mulutnya mengerang menahan perih. 

“Bakso gak enak aje lo pake minta bayar segala! Cari mampus lo? “, ejek Katrok, lalu tergelak keras.

” Belom tau dia siape kita ye, trok? “, sambung si Saiful dengan lagak sok. 

Mang Dirman berusaha bangun, tapi Katrok melayangkan lagi tinju tepat mengenai batang hidungnya.

BUKK!

Mang Dirman terbaring lagi. Darah mengalir dari hidung. Belum puas dengan kekejaman yang dilakukan temannya, giliran Saiful yang berulah. Diguncang-guncangkannya kuat-kuat gerobak bakso sampai isinya tumpah ruah berhamburan. Wadah-wadahnya berceceran, termasuk dua lusin mangkok semuanya pecah berserakan. Belum berhenti sampai di situ. Saiful lalu membanting gerobaknya sampai tumbang hingga terbentur keras di tanah.

BRAKKK!! 

Beberapa bagiannya patah karena memang dibuat dengan bahan sederhana. Kaca untuk memajang jualannya ikut berderai. Satu panci besar penuh kuah kaldu tumpah terbuang sia-sia. Mang Dirman tak kuasa menahan pilu. Hatinya sakit. 

“Makan tuh bayaran lo! Hahaha!! “, tawa Katrok membahana.

Puas dengan kelakuan mereka yang biadab, keduanya lalu pergi meninggalkan mang Dirman yang tergolek lemah. Sayang, ia tak sanggup melawan. Fisiknya terlalu ringkih, tak sebanding dengan postur kedua preman tadi yang memang besar. Bisa-bisa ia malah jadi bulan-bulanan mereka. 

Terseok-seok ia mendekat ke gerobak baksonya yang tergeletak di tanah. Susah payah ia coba untuk mengangkatnya berdiri. Untungnya masih bisa didorong dan dibawa pulang. 

Ia punguti sisa-sisa barang dagangannya yang kira-kira masih bisa diselamatkan. Dengan hati sedih dan batin tertekan ia berjalan pulang. 

Setelah berjalan kaki hampir dua jam lamanya, mang Dirman sampai di rumah. Tapi, tiba-tiba rasa sakit menyerang perutnya. Pedih sekali, sampai-sampai ia tak sanggup menahan dan akhirnya ia pun jatuh tak sadarkan diri.

Malam itu, malam Jum’at.

Katrok dan si Saiful, teman dia satu-satunya lagi seru bermain gaplek di poskamling belakang komplek. Sekantong miras oplosan dan beberapa batang rokok menemani acara nongkrong mereka yang gak berguna. 

“Brengsek,gue laper berat! “, maki Katrok setelah jenuh bermain kartu.

” Sama! Mana gue belom makan lagi dari tadi! “, kata Saiful. Tangannya mengelus perut yang keroncongan.

” Jadi gimane dong? “, tanya Katrok. 

Saiful nampak berpikir, mukanya jadi kelihatan lebih dungu.

“Ape perlu kita sikat lagi ayamnya pak haji Bakhil? “, cetus Katrok.

” Eh, jangan! Kemaren kan udah kita embat dua ayamnya! “, tolak si Saiful. 

“Alahh, kan ayamnya ade banyak! Gak bakalan dia pusingin kalo ilang satu ato dua biji! “

Saiful masih pesimis.

“Trus motongnya gimane? Masaknya juga di mane? “

“Gampang! Kita kerjain aje di rumah lo!”, jawab Katrok, enteng. 

“Enak aje congor lo! Rumah gue mulu sasarannya. Kalo emak gue ngamuk pegimane? “

“Sekalian aje emak lo kita masak! “, ucap Katrok, lalu tergelak.

” Setan lo! Emang emak gue daun singkong mau lo masak? “, rutuk Saiful. 

Ting ting ting…

Bunyi suara mangkok yang dipukul terdengar di kuping mereka. Keduanya jadi girang dengan dentingannya yang familiar. Sebuah gerobak bakso lalu melintas. 

“Trok, ada kang bakso lewat noh! “, seru Saiful, senang.

” Panggil dah! Gue hampir mati kelaperan nih.. “, suruh si Katrok.

” Mang, sini! Cepetan! “, panggil Saiful.

Si tukang bakso mendorong gerobaknya mendekat. 

“Bakso bang? “, tanyanya.

” Iye, pesen dua ya! Isinya yang komplit! “, kata Saiful.

Matanya mengamati wajah si mamang penjual.

Hmm, kayak kenal, pikirnya. 

“Eh, pul! Kayaknya dia kang bakso yang pernah kita kerjain dulu! Lo inget gak? “, bisik Katrok.

Saiful agak terkejut. Pantesan ia seperti pernah melihat tampangnya. 

“Tapi, ngapain dia datang lagi kesini? Sengaja nyariin kita mau nagih baksonya yang gak kita bayar? Kalo bener begitu, emang cari mati nih orang.. “, repet si Saiful. 

“Udeh, serahin ke gue! Kalo nanti dia macem-macem, bakalan gue bikin nyesel dia seumur idup karena berani main-main sama kita! “, ucap Katrok, sok jago. 

Mereka mengawasi tingkah laku mang Dirman yang gak nampak mencurigakan.

“Ini bang, baksonya! “, kata mang Dirman dengan ramah.

Dua mangkok bakso super lezat terhidang manis di meja. Aromanya menggugah selera, menggoda untuk segera disantap. 

“Rejeki gak pernah kemana.. “, ujar Saiful.

Cepat-cepat tangannya meraih satu mangkok. Air liurnya sampai menetes tanpa ia sadari. Bahkan Katrok melihatnya dengan tatapan jijik. Lalu Katrok juga mengaduk-aduk baksonya. Uap panas mengepul dari kuahnya yang kelihatan sedap.

“Makan cuy! “, katanya sambil menyiapkan sendok ke dalam mulut 

“Hmm enak ye.. “

“Enak pake banget.. ” sambung Saiful dengan mulut penuh.

Gigi Katrok yang tonggos menggigit satu buah bakso. Raut mukanya jadi berubah. Rasa baksonya sungguh aneh dan janggal,seperti bukan daging kayak biasa. Ia lepehkan bakso yang ia kunyah barusan.

Puihh..

Sebuah benda bulat terlontar dari dalam mulutnya. Sebagian dari benda tadi telah hancur tergigit dan berlumuran lendir serta mengeluarkan darah. Katrok melotot melihatnya. Benda tersebut berupa bola mata manusia yang mulai membusuk.

Tengkuknya merinding, perutnya sesak menahan mual. Muntahannya pun tak terbendung. Baunya yang anyir memenuhi poskamling. Benar-benar menjijikkan. 

Saiful terperangah melihat temannya muntah-muntah. Ada yang gak beres disini, pikirnya. Pelan-pelan ia mengintip ke semangkok bakso yang ada ditangan.

Ia tersentak ngeri. Bukan lagi mie, bakso atau semacamnya yang ada di dalam mangkok, melainkan setumpuk cacing berlendir penuh dengan tanah. Ada juga beberapa buah bola mata manusia dan benda-benda menjijikkan lainnya. Nafas Saiful turun naik. Keringat dingin mengucur deras, tangannya gemetaran.

“HUUAAH…”,pekik Saiful, takut.

Dilemparnya mangkok tersebut hingga terpelanting pecah. Cacing-cacing yang berserakan meliuk-liuk di lantai. Saiful juga ikut-ikutan muntah. Mang Dirman tetap mematung di depan poskamling.

Bibirnya menyeringai, ekspresinya datar tapi menggidikkan bulu kuduk. Katrok jadi ingin menghajarnya. Ia pun bergerak maju namun urung karena mang Dirman gelagatnya jadi janggal.

Dia menganga lebar, lalu dari mulutnya tersembur darah kental kehitaman. Baunya pun tak kalah busuk dari bakso yang ada di dalam mangkok tadi. Mang Dirman terkekeh-kekeh dengan nada yang mengerikan.

Hehehehehe….

Katrok dan Saiful membelalak. Muka mereka pucat memutih. Mereka baru sadar sosok yang ada dihadapan mereka ini bukanlah manusia. 

“SE.. SETANNN…. “.

Saiful menjerit, lalu melompat kabur tanpa disuruh.

” PUL! ANJING LO!! TUNGGUIN GUE!!”, pekik Katrok , sama takutnya.

Kedua preman bermental banci tersebut akhirnya lari tunggang langgang. 

Poskamling yang mereka tinggalkan kondisinya berantakan dan dipenuhi dengan muntahan. Dan mang Dirman masih berdiri di sana, masih dengan senyuman aneh di bibirnya. Tak lama kemudian, perlahan-lahan sosok itu mulai menghilang.

Ting ting ting…

“Bakso mang! “, panggil seorang warga komplek kepada mang Dirman yang lagi berjualan.

” Oke.. “, katanya, senang.

Mereka berbincang-bincang selagi mang Dirman meramu bakso yang dipesan. 

“Udah lama gak masuk komplek sini ya mang? “, tanya si warga.

” Iya nih mas! Kemaren saya sakit. Jadinya lama gak jualan “, jawab mang Dirman, santun. 

“Tapi katanya kemaren ada yang liat mamang lagi jualan di sini! “

“Ah masa sih? Baru sekarang ini saya masuk lagi. Mungkin yang liat saya kemaren maksudnya lima bulan yang lalu kali ya? “, tanya mang Dirman. 

“Enggak ah mang! Sekitar seminggu yang lalu gitu deh. Ceritanya juga rada-rada nyeremin, udah kesebar dari kampung belakang sana.. “, jawab si mas.

Mukanya jadi serius. 

Mang Dirman makin penasaran.

“Emang cerita apaan mas? “.

” Itu lho, si Katrok sama si Saiful, dua preman di kampung belakang komplek ini, katanya ketemu dengan tukang bakso yang ternyata adalah setan. Dan katanya lagi, malahan mereka sempat makan baksonya! “, jelas si warga. 

Mang Dirman heran.

“Tukang bakso setan? Trus, apa hubungannya dengan saya? “, tanyanya.

“Yang saya denger, penjual baksonya itu ciri-cirinya mirip dengan si mamang ini! “, kata si warga lagi. 

Mang Dirman termangu.

Kedengarannya seperti gak masuk akal. Lagian, setan mana yang mau-maunya nyaru sebagai dirinya.

“Ato jangan-jangan si mamang ini emang setan beneran? Wkwkwk..”, gurau si warga, gak berperasaan. 

Namun mang Dirman tak menanggapi. Otaknya kusut, perasaannya resah. Kemudian cepat-cepat ia keluar dari komplek tersebut dan tak akan mau lagi berjualan di sana.

– Selesai – 

Thread By @adelbert_rusty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *