RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Dihisap Hantu

– DIHISAP HANTU –

Berdasarkan kejadian nyata

Malem sob!

Buat ngisi waktu santai, ane akan tuliskan satu cerita yang kejadiannya udah lumayan lama.

Tapi sebelum mulai, ramein dah tritnya dengan rt dan likes yang banyak.

Kalo udah, so let the haunt begin!

Dahulu,almarhum bapak pernah cerita, jauh di dalam hutan sana terdapat hantu yang suka menghisap darah manusia. Aku, yang kala itu masih anak ingusan sering di wanti-wanti agar jangan sampai bermain terlalu masuk ke dalam jika tak ingin bertemu dengannya. 

Tapi, aku gak pernah percaya. Bagiku, cerita itu cuma sekedar dongeng untuk menakuti anak-anak biar mainnya gak terlampau jauh. Sudah gak terhitung aku keluar masuk hutan, bermain atau mencari buah liar di sana,gak sekalipun tuh hantu nongol di depan mukaku. Namun, ada suatu kejadian yang membuatku jadi sedikit yakin kalau hantu hutan itu memang nyata adanya. 

Ruam-ruam berwarna keunguan muncul di sekitar dadaku. Satu, dua, tiga, ada empat ruam yang menyebar di sekitar dada dan di bagian atas payudara.  Bila ditekan, terasa agak nyeri karena ada gumpalan darah beku di bawah kulit. Benci aku, ini udah yang ketiga kalinya noda-noda tersebut muncul secara misterius. 

“Kau kenapa, Yan? “, tanya bapak, yang muncul di pintu kamar.

Malu-malu,aku menunjuk ke bagian dada.

” Sini bapak tengok! “

Matanya memperhatikan ruam-ruam tadi dengan serius. 

“Timbul lagi ya? Aneh… “

“Ndak ngerti aku pak! Malah belakangan ini makin sering aja.. “, keluhku.

Kukancingkan baju bagian atas cepat-cepat,soalnya risih juga diperhatikan lama-lama sama bapak. 

“Kau dihisap lagi sama hantu tadi malam, Yan! “, ucapnya.

” Hantu mana yang doyan ngehisap dada, pak? Kemaren-kemaren juga bapak ngomongnya begitu! “, kilahku. 

“Kau nih suka tak dengar cakap orangtua! Udah bapak beritahu, usahakan jangan berlama-lama di hutan. Bapak takut, hantu itu nempel di badan kau!”, jelas bapak. 

Entahlah.

Bingung juga aku kenapa tuh hantu dari hutan yang dulu katanya menghisap darah tiba-tiba saja beralih jadi hobi menghisap dada. Di dapur, ada adikku, Juni sedang sarapan. Makannya ogah-ogahan, mungkin karena lauknya yang terlalu sederhana,tumis kangkung dan tempe goreng sisa semalam. Ia menatapku lekat-lekat,lalu melihat ke bapak yang siap-siap berangkat ke kebun karet di hutan sana. 

“Lama amat kau makan? “, tegurku.

Ia tak menjawab, malah langsung melengos pergi. Sifat Juni emang begitu.

Anaknya pendiam, gak mau bicara kalau gak di ajak ngomong. Matahari makin meninggi ketika aku pergi ke kebun yang terletak di pinggir hutan. Kebun tersebut adalah milik orang lain, aku hanya membantu mengurusi dan diberi upah alakadarnya. 

Untuk lauk-pauk di rumah, biasanya aku sering memetik daun-daunan yang banyak tumbuh di pinggiran hutan. Hampir semua tanaman liar yang ada di situ aman untuk dimakan. 

Pekerjaan ini udah rutin kulakukan sejak emak berangkat jadi TKI di Malaysia.

Sedang bapak, yang aslinya adalah bapak tiri kami, tak punya keahlian lain selain menyadap karet yang upahnya juga gak seberapa. 

Karena keasikan melamun, aku gak sadar saat Lina temanku,datang mengagetkan.

“Woy, Yanti! Daritadi kupanggil ndak dengar-dengar kau!”

“Aduh, maaflah! Aku lagi mikir.. “, kilahku. 

“Mikir apa? “, tanya Lina.

” Coba kau tengok, Lin! “, kataku, sambil menunjukkan ruam di dada.

Lina menelisik baik-baik, lantas ia tergelak. 

“Kau dicupang lagi, Yan? Sama siapa?”

Aku jengkel.

“Sembarangan kau! Bapak bilang ini karena dihisap hantu hutan, bodoh!! “

Lina malah meledek. 

“Kok aku ndak pernah ya? Padahal tiap hari aku kerja keluar masuk hutan sama macam kau! “

Aku bingung mau jawab apa.

“Makanya Yan, kalo mau tidur tuh baca doa dulu biar ndak diganggu! “, kata Lina lagi. 

“Udahlah, usah dibahas lagi! Eh, jadi ndak kita ke rumah pak kades nanti malam?”, cetusku.

” Jadilah! Aku udah lama ndak nonton si Doel.. “, jawab Lina.

” Iya, semoga pak kades ndak bosan kita nebeng nonton di rumah dia lagi! “***** 

Noda-noda ungu kembali bermunculan di sekitar leherku. Aku jadi jengah sendiri. Bingung dan sedikit takut. Lagipula aku malu keluar rumah dengan leher seperti ini, bisa-bisa orang kira aku habis dicupang semalam. Lina pasti ketawa ngakak kalau melihat. Juni melihatku dengan sorot mata tajam.

“Kak, kalau tidur jangan terlalu pulas! “, ucapnya, serius.

Aku tak paham maksudnya. Ia keburu pergi, sebelum sempat kutanya. 

“Mulai sekarang, kau tidur di kamar bapak saja! “, perintah bapak setelah aku mengadu soal hisapan hantu yang semakin menganggu.

” Memangnya kenapa, pak? “, aku bertanya. 

“Bapak curiga,si hantu hutan udah mendiami kamar kalian. Biar bapak sama Juni yang tidur di sana dan kau sendiri saja di kamar bapak supaya aman! “, selorohnya. 

Karena ngeri, aku langsung mau di suruh bapak. Aku cemas juga, kalau teror itu datang lagi. Mungkin sekarang dia hanya menghisap kulit, tapi yang berikutnya bisa jadi ia akan mengincar darah bahkan nyawa. Membayangkannya saja aku udah ketakutan. 

Malam telah larut. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara burung malam dan serangga saling bersahut-sahutan. Cahaya dari lampu petromak di ruang tengah meredup, membuat rumah semakin gelap. 

Di dalam kamar bapak yang kutempati, hanya ada lampu pelita yang nyantol di dinding.

Ruangan ini pengap dan hawanya panas, aku jadi sulit buat memejamkan mata. Tapi,lama-lama aku ngantuk juga. Mungkin karena aktivitas seharian yang melelahkan. 

Entah seberapa lama aku terlelap, rasanya ada yang tengah mengusik tidurku. Ada gerakan-gerakan dari suatu benda yang dingin sedang menari-nari di bagian paha. 

Gerakan itu berupa jilatan dan kecupan pada kedua paha.

Astaga, itu lidah!

Seseorang sedang memainkan lidahnya di tubuhku. Lidah itu menari-nari secara perlahan. Sesekali, bibirnya menghisap dan mengulum kulit yang ada di sana. Aku menggelinjang geli. Mau melihat, tapi tak berani. Si hantu hutan ternyata masih belum puas menerorku. Mulutku ingin berteriak, tapi suara malah tersumbat di kerongkongan. Aku menangis dalam diam. Sosok itu malah semakin liar. Lidahnya mulai menyapu daerah kewanitaanku yang masih berbalut celana dalam.

“Jangan… jangan… “, isakku. 

Dengan kasar, kedua tangannya meremas buah dadaku.

“Aahhh… “, aku mendesah, sedikit.

Mendengar rintihan barusan, sosok itu merayap naik ke atas tubuhku. Dalam keremangan cahaya dari pelita, sedikit demi sedikit mataku mulai bisa menangkap wujud makhluk tersebut. Ia mirip manusia, telanjang tanpa busana, nafasnya memburu karena dikuasai birahi tinggi. Kumelekkan mata ini lebar-lebar supaya penglihatan semakin jelas.

Tunggu…

Aku tau sosok siapa itu!

Itu bapak!

Bapak tiriku! 

Aku tak habis pikir.

Bapak malah mencoba menggagahi diriku. Tapi semuanya terjawab,selama ini dialah yang menghisap dada dan leherku, bukan hantu seperti yang ia katakan untuk membodohiku. 

Aku udah siap-siap untuk menjerit, namun bapak cepat-cepat membekap mulutku.

Aku tak rela mengalah. Aku jijik di sentuh olehnya.

Sekuat tenaga, kutendang bagian vital bapak keras-keras. 

“AAUUWW… “, ia mengaduh kesakitan, lalu terperosok di lantai.

Aku hendak lari ke luar, tapi tangan bapak mencengkram kakiku.

” Yanti, tunggu nak! Bapak bisa jelaskan… “, katanya, memohon. 

Memanfaatkan kelengahanku, bapak malah menyergap lalu membanting tubuhku hingga terhempas. Setelah jatuh, dipeluknya aku hingga sulit bergerak. 

Aku meronta sejadi-jadinya.

“JANGAN!! JANGAN!!”, jeritku, melengking.

Juni tiba di kamar dengan menenteng sebuah balok kayu yang besar. Tanpa ampun, dihantamkannya kayu tersebut ke kepala bapak kuat-kuat.

BUUKKK!!!

Sekali hajar, bapak langsung terkapar pingsan. Juni segera menghambur memelukku.  Aku menangis histeris. Nyaris aja aku jadi korban kebejatan bapak.

Untung, Tuhan masih sayang hingga aku selamat dari perbuatannya yang bisa merusak masa depanku kelak.

***** 

Bapak telah digelandang ke kantor desa. Dari sana ia akan di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kelakuannya. Sukurin,ucapku. Semoga saja ia dijatuhi hukuman berat di sana. Juni melamun di dapur. Mungkin masih syok karena peristiwa semalam.

“Kau udah tau lama perbuatan bapak sama kakak, kan? “, tanyaku.

Ia mengangguk lemah.

” Lalu, kenapa tak kau cepat-cepat beritahu kakak? “

Ia menggeleng sedih. 

“Aku takut, kak! Soalnya bapak mengancam aku bakal di cekik kalau berani bilang ke orang…. “, jawab Juni, sambil terisak. 

Aku terharu lagi.

Kudekap tubuh Juni erat-erat,dan menangis bersama. Setelah tragedi ini berlalu, kuharap tak ada lagi orang yang akan menganggu kehidupan kami. Yah,begitu yang kuharapkan….

***** 

Sore itu, aku sedang bersantai di teras rumah sambil menyiangi sayur ketika Lina datang lalu menarik tanganku masuk ke dalam rumah.

“Kau kenapa sih, Lin? “, tegurku. 

Dia membuka kerah baju lalu memperlihatkan bagian dadanya.

“Kau tengok ini.. “

Aku melotot.

Sejumlah ruam-ruam ungu bermunculan di situ hingga menjalar ke payudara.

Persis seperti yang dulu kualami. 

“Kau… kau.. dicupang siapa Lin? “, tanyaku, gugup.

” Hantu, Yan! Hantu… “, jawab Lina, bergidik.

” Kata bapak, aku dihisap hantu… “

Aku pun pingsan seketika.

– Selesai – 

Thread By @adelbert_rusty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *