RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Gembung

– Golek Sirah 1968 –

Based On True Story

Magelang, Jawa Tengah 1968, Ditemukan mayat Pria tanpa kepala di pinggiran sungai yg arusnya melewati belakang sebuah Desa, tak ada indentitas. Hanya pakaiannya saja yg masih melekat, tapi tak perlu waktu lama untuk mengetahui siapa orang itu.

Magelang Jawa Tengah 1968

Suatu pagi, sebuah desa digegerkan oleh penemuan mayat tanpa kepala di Pinggir sungai. Mayat itu masih utuh, badannya tidak begitu menggelembung, dengan seutas tambang terikat di perutnya.  

Ketika warga mencoba meraihnya dengan bambu, mayat itu terbalik, terlihat tambang menjuntai seukuran 4-5 jengkal orang dewasa. Di bagian belakang pinggulnya mungkin mayat itu terlepas dari pemberatnya, sehingga muncul di permukaan.  

Entah kepalanya dipenggal/dimakan binatang, karena terlihat potongan tidak rata di batang lehernya.. Pakaianya juga masih lengkap, yaitu kemeja putih, dan celana cream. Polisi pun datang dan segera mengidentifikasi mayat tanpa kepala tak identitas itu.   

Tak membutuhkan waktu lama, identitas mayat itu terungkap hari itu juga.

Itu Sutardji (nama samaran) warga desa setempat, banyak yg mengenalinya, diyakinkan oleh keluarganya sendiri, terlihat dari tanda lahir “bercak hitam” di tangan kanannya atau “Tembong” istilah jawanya. Serta cincin batu akik yg di pakainya seketika keluarganya histeris, karena katanya kemarin pagi Sutardji masih ada di rumah, dan pamit pergi sekitar jam 10 pagi, untuk pergi ke Secang, daerah dekat magelang.  

Sayangnya keluarganya tidak ada yg tahu dia pergi menemui siapa, saat penyelidikan pun, polisi tidak bisa menemukan siapa orang yg dituju sutardji di Secang itu, karena Secang itu juga daerahnya lumayan luas.  Sutardji adalah pemuda 28 tahun waktu itu, Sukses tapi belum menikah, profesinya adalah “Blantik Sapi” / Pedagang Sapi.

Singkat cerita, Setelah 2 hari pencarian bagian kepala sutardji yg hilang tidak menemui hasil, keluarga sutardji yg mana tinggal adik dan ibunya ingin jasad sutardji segera dikebumikan. Mereka pun tak mengizinkan jenazah sutardji diperiksa forensik lebih dalam, otomatis ini menghentikan polisi untuk mengungkap kasus ini.

Sempat dienduskan isu kalo sutardji tersangkut dengan PKI, karena di tahun itu memang lagi gencar2nya, tapi itu dibantah oleh keluarganya sendiri, secara almarhum ayah supardi adalah seorang TNI, jadi menurut keluarganya tidak mungkin sutardji terkait dengan itu.

Kembali ke kejadian, 4-5 hari setelah penemuan, jenazah sutardji dikebumikan, “Ya” tanpa kepala tentunya. Banyak yg tidak menyangka sutardji bisa meninggal dengan tragis, sosoknya ceria dan ramah. Kebiasaan yg paling diingat oleh warga adalah Sutardji ini sangat mencintai olahraga, kebugaran lah. Sepertinya Itu menurun dari ayahnya yg adalah tentara, setiap 2/3 hari sekali sutardji ini selalu joging, lari2, kadang sore, kadang pagi mengelilingi desa, dan selalu menyapa siapapun yg ia lihat.

Pemakamanpun berlangsung cepat, malamnya warga berbondong2 “melekan” di rumah sutardji. Sepertinya warga ingin meredam kesedihan keluarganya, terutama ibu sutardji yg sudah berusia lanjut. 

Singkat cerita, 7 hari setelah pemakaman sutardji, Warga mulai di teror oleh “Gembung”, yaitu hantu tanpa kepala yg “Diduga” adalah arwah sutardji   

——- PLAYON ——

(berlari)

Seperti biasa Pak kromo, pedagang krupuk pikulan dari desa sebelah, menjajakan krupuknya di desa tempat sutardji berasal. Beliau berangkat habis subuh, karena memang ini rute pertama/terdekat dimana biasanya pak kromo keliling dari desa ke desa.   

Pak kromo berangkat habis subuh, langit masih agak petang dan berkabut, jalan antar batas desa dikelilingi kebun albasia kanan dan kirinya sepanjang jalan 50m kira2, ketika memikul, biasanya orang akan sedikit menunduk.

Seketika beliau menengadahkan kepalanya, dari kejauhan sayup2 pak kromo melihat orang belari. Arahnya berlawanan dengannya, karena sedikit kabut hanya terlihat baju merah dan sepatu putih, berlari “tap..tap..tap..tap..” oh, wong olahraga batin pak kromo..   

Pak kromopun kembali berjalan dengan agak menuduk, menahan beban krupuk yg masih banyak. Sosok yg lagi “joging tersebut” semakin mendekat kan otomatis, ketika jarak 2 meteran lah, maksud pak kromo ingin menyapa…   

Tapi ketika pak kromo, mendongak menengadahkan kepalanya, “Sosok yg berlari itu, TIDAK ADA KEPALANYA”, sontak beliau kaget, di lepaskanlah pikulan krupuknya, dan berlari ke dalam desa, menurut narasumber, pak kromo sampe gak bisa ngomong, cuma AAAAUAAU..   

Itu kejadian jam 5 pagi, baru sekitar jam 9 pagi pak kromo berani kembali mengambil dagangannya. Itu pun ditemani warga, kata narasumber, sejak saat itu pak kromo tak terlihat berjualan kerupuk lagi.

Ternyata tak hanya pak kromo yg mengalami hal itu, selang sehari desa kembali gempar, karena “Sosok berlari” yg diduga arwah sutardji itu, mengelilingi desa tapi di tengah malam..  

Kejadian itu berulang “setiap hari”, di tengah malam, menurut narasumber itu sudah mencapai tahap yg ekstrim. Dimana warga bisa mengenali tanda2 kehadiran sosok berlari itu, sebelum sosok itu lewat, katanya ada suara “NGROOKKK–NGROOKK”.

Sosok itu berlari dengan darah yg memuncrat dari batang lehernya, yg mana itulah yg menimbulkan suara “NGRROOKKK…NGGROOKK” kurang lebih seperti kambing ketika disembelih dan kepalanya sudah putus.. Akan ada suara dari kerongkongan yg mengeluarkan darah , “NGROKKK!!   

Selama berhari2 itu ada sebagian warga yg mungkin jenuh dengan teror itu, dan mencoba melawan rasa takutnya dengan mengintip jendela, setelah mereka mendengar suara “NGRRROKKK-NGROKKK!!”   

Suaranya memang tak begitu jelas, tapi ketika dikeheningan malam, suara itu bisa didengar dan memang benar, katanya mereka bersaksi melihat sosok arwah sutardji tanpa kepala yg sedang berlari, mengulangi kegiatan di masa hidupnya.

— GOLEK SIRAH —

(mencari kepala)  

Belum genap 40 hari kematian sutardji, teror hantu “Gembung” ini semakin sering terjadi.. Selain sosok yg berlari tanpa kepala, ada juga kisah ini…

Pak kurdi (nama samaran) beliau adalah orang pertama yg menemukan jasad sutardji.   

Desa ini semakin sunyi sepi, pasca kejadian penemuan jasad sutardji, warga memang ketakutan. Hampir setiap habis maghrib tak ada yg berani keluar rumah. Apa lagi Pak Kurdi ini, sehari setelah kejadian pak Kurdi sempat sakit, beliau mengalami syok berat. Jelas lah, karena beliau yg pertama menemukan jasad sutardji, dan di suatu malam menuju 30 hari kematian sutardji, sekira pukul 01.00 dini hari, ada suara ketukan dari pintu rumahnya..

Tok..tok..tok.. Awalnya pak kurdi takut dan mencoba untuk mengacuhkannya, tapi ketukan itu semakin keras DOKK..DOKK..DOKK..!!!

Pak kurdi sedikit emosi, “SOPO TO IKI WENGI-WENGI!!” (siapa sih ini malam2)

Pak kurdipun berjalan cepat menuju pintu depan, dan setelah dibuka, ada tubuh berdiri tanpa kepala, tepat di depan matanya.

Dengan ekspresi seperti ini, tak bergerak, hanya ada darah yg muncrat2 dari batang lehernya, sontak pak kurdi membanting pintu .. Dan Pingsan..  

Selang kira sehari..

Sunyoto (nama samaran) bisa dibilang dia adalah teman sutardji dari kecil, mereka juga seumuran..Sunyoto ini bekerja membantu bapaknya di bengkel mobil. Bengkel mobilnya juga jauh dari desanya, nah saat itu sunyoto sedang lembur membantu bapaknya benerin mobil, waktu itu sekira jam 10 malam.

Sunyoto lagi posisi di kolong mobil, beberapa saat kemudian bapaknya ini pamit mau pulang, ambil apaan gitu, trus mau ke bengkel lagi. Sekitar jam stengah 11, posisi masih di kolong nih, sunyoto melihat kaki di samping mobil yg tengah diperbaikinya, awalnya itu dikira bapaknya.. “Oh wes tekan to bapak ki, kok raono suarane” (Oh udah sampe to bapak, kok gak ada suaranya).

Sosok yg dia kira bapaknya itu, diam saja tidak menjawab, tapi masih saja berdiri di situ. “Ckckck” sunyoto menggelengkan kepalanya, dan kembali melanjutkan aktivitasnya, tapi mata luarnya melihat kaki itu bergerak.

Sunyoto pun menoleh dan dia melihat kaki itu semakin melayang tidak menyentuh tanah, sunyoto ketakutan dan berteriak, “TULOOOONGG!!!! TULOOOONG!!!”  

Seketika troli pijakan untuk alas dia di kolong itu, seperti ada yg menarik, cepat sekali Sreeeeekkkkk!! sampai dia tak lagi dikolong mobil.. Sunyoto mencoba berlari tapi tepat di samping nya , ada “Gembung” dengan posisi yg sama seperti ini  

Sunyotopun pingsan dan ternyata dimalam yg sama, ada beberapa warga yg juga didatangi sosok gembung itu, dengan ekspresi kedua tangan menengadah seakan bertanya “Dimana kepalaku??”   

3 hari kemudian adik sutardji, mendatangi warga, dia bersaksi bahwa dia selama ini lebih dari 3x mimpi bertemu kakaknya. Dimimpi itu, kakanya utuh, kondisinya normal, dan dia berkata “Sirahku ning ngisor watu cedak ril sepur”   

(Kepalaku berada di bawah batu dekat rel kereta api) atas dasar itu, warga lapor ke babinsa stempat. Pencarian pun dilakukan, dimulai dari rel daerah dekat situ, hingga Secang, tapi kepala sutardji tidak pernah ditemukan sampai sekarang.

Ngomong2 di tahun itu rel kereta api masih aktif dan sangat jauh mestinya, kalo tidak salah jalur kereta api di magelang ditutup tahun 70an, sama seperti Temanggung, Secang dan sekitarnya   

Konon katanya sampai sekarang, di malam2 tertentu hantu “Gembung” yg mencari kepala dengan menengadahkan kedua tangannya itu masih sering muncul..

—-Sekian—-  

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *