RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

GERBANG GHAIB-Membuka Portal Dimensi Lain

“selamat malam pak, di luar ada seseorang sedang menunggu bapak.” Ucap Tika yang merupakan art pak Jali

“Siapa orangnya Tika?” Tanya pak Jali

“Tidak tau pak, dia tidak menyebutkan namanya. Orangnya tinggi dan berkulit kuning langsat, memakai baju terusan berwarna hitam.” 

Pak Jali mengerutkan keningnya,

“Cantik?”

“Ya pak, cantik sekali. Sepintas mirip artis Paramitha Rusady.” Jawab Tika bersemangat

“Kau pun tau Paramitha Rusady, Tika.” Celoteh pak Jali sambil tersenyum 

Tika pun ikut tersenyum malu2.

Jali adalah seorang laki laki berusia 30 tahunan yang sudah lumayan sukses di kala itu. Namun di usianya yang sudah berkepala 3 tersebut, Jali belum terniat untuk mengarungi bahtera rumah tangga dengan perempuan manapun. 

Namun akhir2 ini ia memang agak dekat dengan seorang perempuan cantik bernama Ain.

“Tolong buatkan minuman ya Tik. Biar aku yang kedepan menyambut tamuku.” Ucap pak Jali dengan penuh semangat 

Tika mengangguk sambil tersenyum, dalam hatinya ia sudah menduga2 jika wanita cantik yang datang itu pasti ada hubungan khusus dengan majikan nya.

“Ehm, selamat malam Ain. Tak ku sangka kau akan datang tanpa mengabari ku lebih dulu.” Ucap Pak Jali menyapa wanita 

Cantik yang berdiri membelakangi pintu.

Sesaat wanita tersebut berpaling menghadap ke arah Jali berdiri. Desiran darah yang menjalar di seluruh tubuh Jali terasa lebih hangat dari biasanya, 

Ketika melihat wajah cantik wanita tersebut.

Rambutnya yang hitam dan panjang bergelombang bagai ombak di lautan.

“Memangnya kalau aku mengabarimu sebelum kemari, kau akan menyediakan apa untukku?” Tanya Ain sambil tersenyum, tanpa ragu2 tangan nya menggelayut di lengan Jali 

Membuat lelaki itu sedikit merasa salah tingkah dan gugup.

“Kenapa? Kau tak suka aku datang ke rumahmu malam2 begini?”tanya Ain

“Ee. Tidak. Tentu saja tidak. Hanya saja aku tak menyangka kau akan datang setelah beberapa hari lalu menghilang tak ada kabar.” Jawab Jali bergetar 

Ain tersenyum,

“Kau rindu aku?” Tanya nya lagi

Jali terdiam, wajahnya yang putih nampak memerah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ain.

“Kenapa cuma diam?” Tanya Ain manja sembari mencubit pipi Jali

“Aku, aku tak tau harus menjawab apa. Yang pasti saat kau tak ada kabar, hatiku terasa sepi dan dingin. Aku terus memikirkan tentangmu Ain.” Ucap Jali seraya meletakkan tangan nya di kedua bahu Ain 

Ain tersenyum, ia langsung menjatuhkan kepalanya di dada Jali.

“Aku tau kau pasti rindukan aku. Dan beberapa hari lalu, aku ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan. Maka dari itu aku tak sempat mengabari mu. Maafkan aku ya.” Kata Ain manja 

“Tak apa, yang penting sekarang kau sudah ada di depan ku.” Kata Jali mencium lembut dahi Ain

Ain menengadah, ia mulai meraih wajah jali agar lebih dekat lagi padanya. Dan tiba2 terdengar suara batuk dari Tika yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa 2 gelas teh 

Hangat.

Wajah Jali dan Ain nampak sama2 merona malu.

“Saya permisi mau istirahat dulu pak.” Ucap Tika sembari membungkuk lalu berbalik meninggalkan kedua insan yang sedang di mabuk cinta tersebut 

“Silahkan duduk Ain, minum dulu teh nya. Oh ya, kau kemari tadi naik apa?”

“Sebelumnya aku naik taksi, tapi tadi aku diturunkan di depan sana dan akhirnya aku jalan kaki dari perempatan kesini.” Jawab Ain seraya mengangkat gelas teh yang ada di depan nya 

Mereka berbincang sampai jam di yang ada di dinding rumah itu berdenting.

Tak terasa malam semakin larut dengan hembusan angin yang menusuk tulang.

Ain merapatkan tubuhnya pada Jali, mencari rasa hangat yang mampu mengusir rasa dingin nya di malam itu. 

Dan semuanya terjadi begitu saja, dengan alunan musik alam yang tercipta dari suara2 jangkrik dan kodok di luar rumah.

Ain menatap Jali yang duduk di sebelahnya. Tak nampak penyesalan sedikitpun pada wajah Ain. 

“Aku sangat mencintaimu.” Bisik Ain lembut

“Aku berjanji, setelah ini aku akan menikahimu dalam waktu dekat.” Ucap Jali

Ain tersenyum dan merebahkan tubuhnya salam pelukan hangat Jali.

“Permisi pak..” Ujar Tika membuyarkan lamunan Jali

“Ya, ada apa Tika??” 

“Makanan sudah siap. Bapak mau makan sekarang?” Tanya Tika yang sedikit khawatir melihat Jali

Karena memang sudah hampir seminggu ini setelah ia kedatangan tamu yang bernama Ain itu, Jali menjadi suka melamun tanpa sebab. 

Jali menghela nafas panjang, lalu ia melangkah meninggalkan ruangan bersantai nya untuk menuju ke meja makan.

Beberapa hidangan sederhana tertata rapi di atas meja. Aromanya sangat wangi dan lezat. Namun Jali hanya menatap dingin pada makanan2 tersebut. Ia sama sekali 

Tak berselera untuk menyantap makanan itu.

Ia kembali melamun, mengingat kembali kejadian di malam itu.

Subuh2 sekali Ain sudah pergi, bahkan ia pergi tanpa pamit pada Jali yang pada saat itu masih tertidur lelap di sampingnya. 

“Pak, mau saya ambilkan nasinya?” Tanya Tika lagi2 membuyarkan lamunan dari pak Jali

“Tika, coba duduk disitu, ada yang ingin aku tanyakan.” Ujar pak Jali

Dengan ragu2 Tika duduk di samping majikan nya itu. 

“Tika, maaf sebelumnya, seandainya kamu berhubungan dengan laki2 tapi tak ada keterpaksaan diantara kalian atau bisa di bilang sama2 suka. Lalu laki2 itu akan menikahimu, apa kamu akan terima?” Tanya Jali 

“Ya tentu saya terima pak.” Jawab Tika tanpa ragu

Jali menghela nafas, lalu mengalihkan pandangan nya kembali pada makanan2 yang terhidang. 

“Lalu kenapa Ain meninggalkanku?” Gumam Jali pelan, namun masih bisa didengar oleh Tika

“Mmm. Mungkin Bu Ain sedang ada kesibukan pak.” Sela Tika

Jali mengangguk, lalu mulai menyendok nasi ke piringnya.

“Makan sama saya disini Tika.” Ujar Pak Jali saat Tika akan pergi 

—-

Udara dingin kian terasa, suara angin gemerisik menerbangkan dedaunan yang berserakan di halaman. Jali masih duduk di atas kursi rotan di teras rumah, gitar yang sedari tadi didekapnya, mulai ia mainkan

Yang membuat alunan musik sendu,

~Di malam..

Di malam yang sunyi sesepi ini

Teringat aku akan dirimu sayang

Hanya engkaulah kasihku seorang

Mungkinkah..

Mungkinkah kau akan kembali sayang

Walaupun itu hanya sedetik saja

Oh kasih.. ku.. 

Entah dimana kini kau berada

Sudah ku coba..

Untuk mencari di malam yang dingin

Dan sesunyi ini ku sendiri..~

Lagu dari Emilia Contessa itu Jali nyanyikan dengan perasaan galau, namun masih terdengar enak ditelinga Tika yang sedari tadi mengintip dari jendela. 

Saat Jali menyanyikan lirik terakhir lagu itu, terdengar suara tepuk tangan dari arah halaman rumahnya.

“Ain..” Gumam Jali ketika melihat wanita bergaun merah muda dengan rambut panjang tergerai itu mendekatinya 

“Apakah lagu yang kau nyanyikan itu untukku ?” Tanya Ain saat sudah berhadapan dengan Jali

“Kemana saja kau pergi Ain? Aku Merindukanmu.” Bisik Jali

“Maafkan aku, aku mempunyai sedikit masalah 

Yang membuatku tak bisa datang menemuimu.” Ucap Ain

“Sssttt.. Sekarang kau ada disini bersamaku, dan aku tak akan melepaskanmu lagi walau sesaat.” Bisik Jali 

Jali merangkul pinggang Ain dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Tika yang sedari tadi mengintip dari jendela, perlahan2 mulai menutup tirai dengan wajah pucat dan tegang. 

Candaan manja menjadikan malam itu semakin hangat bagi pasangan yang sedang di mabuk asmara tersebut.

Keduanya tertidur menjelang pukul 2 pagi, seperti yang sudah2 Ain pergi tanpa pamit pada Jali. 

Saat ia bangun dan mendapati Ain sudah tak ada lagi di sampingnya.

Terlihat raut kekecewaan pada wajah Jali,

“Tika ! Tika !” Panggil Jali Gundah 

“Saya pak.” Jawab Tika yang masih memegang sapu di tangan nya

“Kemana Ain pergi??”

“Saya tidak tau pak. Saya bangun sekitar jam 5 subuh tadi pak. Dan saya tidak melihat Bu Ain.” Jawab Tika sedikit gugup 

“Pak.” Panggil Tika pelan

“Mm.” Jawab Jali enggan

“Saya mau jujur sama bapak tentang tadi malam. Saya mengintip bapak dari jendela, mendengarkan lagu yang bapak nyanyikan. Dan melihat kedatangan wanita itu. Tapi dia bukan bu Ain yang waktu itu pak..” Ucap Tika sedikit bergetar 

“Maksudmu?!” Tanya Jali dengan tatapan tajamnya

“Wanita itu, wanita itu memiliki luka yang menganga di bagian dahi sampai leher pak. Saya sangat takut membayangkan nya kembali.” Lanjut Tika bergidik 

“Kau terlalu mengada2 Tika !” Ujar Jali seraya meninggalkan Tika yang masih berdiri dengan wajah yang menunduk itu

—-

Saat di tempat kerja, Jali masih memikirkan cerita dari Tika. Memang selama Tika bekerja padanya, dan selama itu pula lah Tika tak pernah berbohong sekalipun 

Padanya. Tapi, tentang cerita itu Jali masih bimbang dan ragu untuk percaya.

“Kok melamun pak ?” Tanya Deni

“Eh, kau Den. Ini aku sedang memikirkan sesuatu.”

“Sesuatu atau seseorang?” Tanya Deni dengan nada bercanda 

Laki2 itu meraih kursi dan mulai duduk berhadapan dengan Jali.

“Ku lihat akhir2 ini kau sering melamun, apa sebabnya?”

“Ain, Den. Aku memikirkan tentang dia.”

Deni mengerutkan keningnya,

“Ain ?”

“Ya, kau sudah pernah melihatnya kan?” 

“Tidak, sama sekali belum pernah.” Jawab Deni

Kini giliran Jali yang mengerutkan keningnya.

“Yang waktu malam itu dia datang ke sini. Masa kau lupa.”

“Malam kapan?” Tanya Deni

“Malam jumat tanggal 18 itu. Kau kan ada di sini saat Ain datang.” 

“Bukan nya tanggal 18 itu aku cuti? Dan aku kembali sekitar tanggal 19-20.” Ujar Deni

Jali terdiam sesaat, astaga ! Kenapa dia bisa lupa kalau tanggal 18 itu Deni libur. Lalu, siapa yang bersamanya waktu itu ?? 

Belum selesai kebingungan nya, Deni kembali berujar.

“Jangan2 kau sudah melakukan hal itu??”

“Apa ?”

“Membuka portal dunia lain. Dan sekarang kau ada di kedua sisi dunia nyata dan gaib.”

“Ahh. Kau terlalu berlebihan aku tidak melakukan apapun.”

“Jangan kau kira 

Aku tidak tau Jal. Kau datang bersamaku waktu itu. Aku tau kau pasti sudah membuka portal itu kan ??”

“Kalau memang iya, apa masalahmu? Aku melakukan itu hanya untuk mengetahui siapa dalang dari hilangnya uang2ku. Cuma itu!” Sentak Jali 

Deni menggeleng,

“Kau salah besar melakukan hal itu hanya karena uang Jal. Sekarang mereka sudah bersamamu. Kau dalam bahaya besar di setiap saatnya.” Gumam Deni 

“Hanya karena?? Kau pikir uang itu cuma seribu dua ribu saja?!! Ratusan juta uangku hilang Den!!” Bentak Jali

“Lebih baik sekarang kau keluar dari ruanganku!!” Bentak Jali lagi sembari menunjuk ke arah pintu yang terbuka 

“Kau harus menemui dukun itu lagi Jal.” Ujar Deni sebelum melangkah keluar dari pintu

Jali melempar berkas2 yang tersusun rapi di mejanya, hatinya benar2 kacau saat itu. 

Antara percaya dan tidak, Jali masih mengingat2 kejadian beberapa waktu lalu. Saat ia dan Deni datang ke rumah seorang dukun sakti di muara teweh – kalteng.

Saat itu ia hanya diberi satu pilihan jika ingin mengetahui dalang raibnya uang ratusan juta 

Tersebut. Yaitu harus membuka portal dunia lain(masuk ke alam gaib) untuk bertemu dengan makhluk yang dapat menunjukan sekaligus mengembalikan uang2 nya yang raib dibawa kabur oleh orang. 

Namun jika portal itu telah dibuka, dan terlambat untuk menutupnya kembali maka besar kemungkinan beberapa makhluk gaib yang berada di dunia lain, berpindah ke alam manusia. Sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh siapapun. 

Apakah mungkin?? Batin nya

Braakkk.. Suara pintu yang tertutup dengan keras. Membuyarkan lamunan Jali.

3 goresan mirip seperti cakaran di dekat gagang pintu membuat Jali tersentak. 

“Anwaaarrr !!” Panggil Jali pada petugas kebersihan di sana

Seorang laki2 berusia 25 tahunan datang tergopoh2 menghampiri Jali.

“Saya pak.”

“Masuk keruangan saya, coba kamu lihat ini. Seperti cakaran, siapa yang pernah masuk ke ruangan ini selain kamu?” Tanya Jali 

Wajah Anwar nampak bingung,

“Tidak ada apa2 pak.” Ucapnya pelan

“Ini !! Masa kau tidak lihat?!”

“Sungguh pak, saya tidak melihat apapun. Di sana bersih tidak ada bekas cakaran atau apapun.” Jawab Anwar 

Kesal dengan jawaban Anwar, Jali lalu menyuruh laki2 itu untuk keluar.

“Berani sekali dia mempermainkan aku.” Ketus Jali sembari menutup pintu dengan sangat keras 

——

Sore itu saat ia dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Jali di telpon oleh Deni yang mengabarkan kalau Andreas kecelakaan.

Andreas adalah salah satu karyawan yang juga bekerja di tempat Jali. 

“Dia kecelakaan tunggal Jal, sekarang aku sedang berada di rumah sakit bersama keluarganya.” Kata Deni dari seberang sana

“Lalu keadaannya sekarang bagaimana Den?” Tanya Jali yang masih berusaha fokus menyetir mobilnya 

“Belum sadarkan diri Jal. Nanti ku telpon lagi Jal.” Ujar Deni mengakhiri panggilan nya

Saat telpon terputus, tiba2 dari arah depan jalan melintas seseorang yang hampir saja tertabrak oleh Jali jika saja ia tak segera membanting setir menghindari orang itu mungkin saja 

Orang tersebut sudah tertabrak mobil yang dikemudikan Jali.

Huufftt.. Helaan nafas lega terdengar.

Braakk.. Pintu mobil terbuka.

Jali menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan orang yang hampir tertabrak tadi, namun di sana tidak ada siapa2. 

“Apa tadi itu hanya perasaanku saja?” Gumamnya agak sedikit bingung dan ragu

Tiba2 terdengar suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup dengan sendirinya, membuat Jali langsung menengok ke arah mobilnya berada. 

Dengan langkah perlahan, ia menghampiri pintu mobil. Dan saat terbuka, tidak ada siapa2 di dalam sana.

Lagi lagi tak ada siapapun, apakah itu hanya sekedar halusinasi Jali saja? 

Saat ia masuk kedalam mobil, dan bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang, ia mendengar bisikan lembut di telinganya.

Suara yang tak asing baginya, itu suara Ain ! 

Tapi di mana? Dimana pemilik suara itu??

Tiba2 saat Jali menoleh ke bagian belakang, ia mendapati sesosok mahluk berambut panjang dengan bagian luka menganga dari dahi sampai ke leher, makhluk itu menyeringai menatap Jali 

Tubuhnya terasa kaku tak bisa bergerak ketika sosok itu perlahan2 mendekatinya.

“Bukankah kau menyukaiku sayang? Hihihi..” Ujar sosok itu terdengar mengerikan 

Kuku2nya yang panjang, sangat terasa membelai2 kasar wajah Jali yang tak bisa bergerak tersebut.

Beberapa tetes darah mengalir dari luka yang menganga di wajah mahluk itu mengenai Jali. 

Baunya busuk, sangat busuk !

Tak hanya sampai disitu sosok menyeramkan tersebut lantas mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang, lalu menjilati wajah Jali hingga sampai ke bagian celananya. 

Saat makhluk itu menyentuh buah kejantanan yang dia miliki, Jali sudah tak bisa mengontrol rasa takutnya. Bagian celananya terasa hangat tiba2, beberapa saat saja bau pesing mulai menyeruak. 

Lalu semuanya menjadi gelap..

“Jal. Jali..” Panggil Deni sambil terus mengetuk kaca mobil Jali

Jali yang sudah tersadar, segera membuka pintu mobilnya.

“Kenapa kau tidur disitu?” Tanya Deni

“Bau apa ini? Kau kencing di celana??” 

Jali terdiam, segera ia meraba barang berharganya di balik celana, dan ternyata semuanya masih lengkap.

“Kenapa??” Tanya Deni lagi

“Aku..” Jali kembali terdiam, ia enggan untuk menceritakan apa yang baru saja ia alami tadi. 

“Ya, kau kenapa?”

“Tidak apa2. Aku pulang dulu Den. Makasih sudah membangunkan aku.” Ucap Jali seraya menghidupkan mesin mobilnya

——- 

Malam itu, Jali masih duduk di ruang makan. Ia masih memikirkan kejadian yang baru saja ia alami tadi.

“Maaf, pak. Bapak mau saya buatkan kopi?” Tanya Tika

“Tidak usah, oh ya Tika. Coba kau duduk dulu disini.” Ujar Jali sambil memukul pelan kursi di sampingnya 

“Ada apa pak?” Tanya Tika setelah duduk

“Kau percaya adanya Hantu?” Tanya Jali ragu2

“Kenapa bapak tiba2 bertanya seperti itu? Apakah bapak juga merasakan hal yang sama dengan saya?” Ujar Tika balik bertanya 

“Hal yang sama? Maksudmu?”

“Entah kenapa setelah bu Ain datang waktu itu, saya merasa kalau di rumah ini hawanya jadi berbeda pak. Rasanya seperti ada yang selalu mengawasi setiap aktivitas yang saya lakukan. Makanan pun jadi lebih cepat basi, padahal baru beberapa jam dimasak 

. Dan saya juga sering melihat sekelebatan bayang2 orang berjalan menembus dinding pak.” Cerita Tika

“Lalu kenapa baru sekarang kau bilang padaku?” Tanya Jali

“Karena saya takut, bapak tidak akan mempercayai cerita saya.” Jawab Tika singkat 

Jali kembali menghela nafas panjang.

“Mulai saat ini, kamu harus selalu cerita tentang semua yang terjadi di rumah ini sama saya. Saya percaya kamu Tika.” Ucap Jali

“Baik pak, terima kasih.”

Setelah itu Jali beranjak, dan berjalan menuju ke arah kamarnya. 

Saat melewati kamar ibunya, Jali mendengar seperti ada seseorang yang sedang bersenandung pelan dari dalam.

“Ma..” Panggil Jali sembari mengetuk pintu kamar tersebut

“Onyah belum pulang pak.” Ujar Tika dari kejauhan 

Jali mengangguk, meski ia tahu kalau Tika tak melihat anggukan nya.

Pikiran Jali melayang ketika berbaring di atas kasur miliknya.

Lalu tiba2 terdengar suara senandung yang sama seperti yang baru saja ia dengar di kamar ibunya tadi. 

Baru saja Jali akan bangun, sepasang tangan berkuku panjang memeluk erat tubuhnya. Tangan itu seperti keluar dari kasur, dan saat Jali mendongak terlihat sesosok mahluk berambut panjang dengan luka yang menganga di wajahnya. Sesekali lidah sosok itu 

Keluar untuk menjilati luka di wajahnya.

Beberapa kali ia mencoba meronta untuk melepaskan diri dari pelukan dingin mahluk menyeramkan tersebut, namun usahanya terasa begitu sia2. 

“Bukankah kau merindukan aku, hihihi.” Ucapan mahluk itu disusul suara tawa yang mengikik membuat Jali bertambah ketakutan, ia mencoba bersuara, tetapi suaranya tak bisa keluar sedikitpun. 

Tok tok tok…. Sampai akhirnya suara ketukan di pintu terdengar berulang kali.

“Permisi pak, ini ada pak Deni yang ingin bertemu dengan bapak.” Panggil Tika setelah beberapa lama tak terdengar sahutan dari dalam kamar Jali 

“Jali.. Buka pintunya..” Panggil Deni dari luar

Jali yang masih dalam pelukan mahluk mengerikan tersebut tak bisa berkata2. Bahkan untuk membuka mulutnya saja, terasa sangat sulit sekali. 

“Jali ! Kalau dalam hitungan ketiga kau tak juga membuka pintunya, maka pintu kamarmu akan aku dobrak !!” Ancam Deni yang membuat Jali sedikit merasa lega saat mendengarnya 

“Satu.. Dua.. Tii..”

Braaaaakkkk, pintu terbuka dengan sekali tendangan yang disertai dengan tenaga dalam.

Deni dan Tika bergegas masuk menghampiri Jali yang seperti berada antara sadar dan tidak. 

Bola matanya putih keruh, dan mulutnya menganga dengan tubuh yang telentang di atas kasur.

“Jali !!!” Panggil Deni

Jali mendengar dengan jelas suara Deni yang memanggilnya, namun tubuhnya masih berada dalam pelukan sosok itu. Ingin sekali rasanya saat itu Jali 

Melepaskan diri dari mahluk menyeramkan tersebut, tapi rasanya sulit sekali, bahkan untuk menggerakkan satu jari. 

“Ambil air cepat!!” Perintah Deni pada Tika masih sangat jelas didengar oleh Jali

Tergopoh Tika berlari ke ujung meja yang di mana terdapat segelas air putih. 

Saat gelas itu sudah diterima oleh Deni, tanpa ragu, lelaki bertubuh tinggi besar tersebut langsung menyiramkan semua isinya ke wajah Jali. Dan, huuufffft.. Jali menarik nafas berat. Dadanya turun naik sangat jelas terlihat. 

Deni segera menyandarkan kepala Jali ke atas guling.

“Deni..” Ucap Jali lirih

“Kau kenapa?”

Jali masih berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis, 

“Besok temani aku ke dukun itu Den.”

“Ini bukan saat nya pergi ke rumah dukun Jal. Aku datang kemari tadi karena ingin menyampaikan kabar duka yang ku terima dari rumah sakit. Ibumu meninggal dalam kecelakaan. Mereka sudah mencoba menghubungimu, tapi nomormu tidak aktif.” 

Seketika dunia Jali runtuh dan hancur berkeping2. Ia histeris, berteriak dan mengumpat dirinya sendiri.

“Ini semua salahku!! Andai aku tidak melakukan itu, ibuku pasti masih hidup!!” Teriak Jali histeris

Deni mencoba menenangkan Jali,

“Jali !! SABAR!! Aku tau 

Rasanya pasti berat dan sangat menyakitkan. Tapi ini semua bukan salahmu!! Ini kecelakaan, ini takdir.” Ujar Deni mendekap erat tubuh Jali

Jali terisak, ia meratap, menyesal dalam tangisnya. 

“Tolong kau keringkan dulu rambut dan wajahnya Tik, aku ingin mengambil sesuatu di motorku.” Ujar Deni

“Sabar ya pak, dulu saya juga pernah merasakan kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup saya. Sedih itu wajar pak, tapi bapak harus kuat. 

Karena yang pergi, tidak boleh ditangisi. Dan kelak kita juga akan seperti itu.”ucap Tika

Jali meraih tubuh Tika, membenamkan wajahnya di dada Tika, Jali menangis sampai2 bahunya berguncang. 

Tika membiarkan Jali melepaskan tangisan dan memeluknya.

Saat Deni masuk ke dalam kamar itu lagi, ia nampak sedikit kaget.

“Jali, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.” Ujar Deni 

“Kau ikut bersamaku,” Ucap Jali menarik tangan Tika

Di dalam mobil, tak henti2nya Jali menangis dan memanggil ibunya. 

“Pak.” Panggil Tika yang duduk di belakang bersama Jali, ketika ia melihat majikan nya itu mulai tak bergerak 

“Pak Jali..” Panggik Tika lebih keras lagi

Tiba2 tubuh Jali mengejang, bola matanya kembali memutih. Mulutnya bergumam tidak jelas.

“Pak Den…”

“Aaaaaaa…” Teriak Tika

Braaaakkkk.. Mobil yang dikemudikan Deni menabrak pembatas jalan.

Nafas Deni dan Tika terdengar berat,

“Kau lihat yang itu tadi kan Tik??” Tanya Deni menoleh ke kursi belakang

Tika mengangguk, lalu tangan nya menunjuk ke arah Jali yang kembali seperti tak sadarkan diri atau 

Lebih tepatnya tidak ada roh.

“Jali.. Sadar Li !!!” Panggil Deni

Plaaaakk. Sebuah tamparan keras mengenai pipi Jali, namun Jali masih tetap diam tak bergeming dengan mata yang berwarna putih keruh. 

“Pak, berdoa pak. Lawan.” Ucap Tika di telinga Jali, sementara Deni bergegas menghidupkan mesin mobil yang tadi mati.

Namun setelah dicoba beberapa kali, mobil tetap tak mau hidup. Tak ada jalan lain selain Deni keluar untuk memastikan apa yang terjadi pada mesin mobil tersebut 

Berbekal senter dari pemantik api yang ia miliki, Deni keluar dari mobil. Angin dingin langsung menyapu lembut tubuhnya sesaat setelah berada di luar. 

Jalanan begitu sepi dan lengang, hanya ada mobil mereka di sana.

Beberapa kali Deni mengarahkan senternya ke arah ia melihat wanita menyeberang jalan tadi, namun ia tak melihat ada siapapun di sekitar sana. 

“Pak Deni..” Panggil Tika saat Jali mulai menggeliat

Tapi rupanya Deni sama sekali tak mendengar panggilan dari Tika.

“Hihihihi…” Suara tawa meringkik terdengar dari pohon ke pohon yang ada di pinggir jalan tersebut 

Membuat bulu kuduk Deni mulai meremang, namun ia tak berani untuk menegur suara itu. Karena ia yakin kalau suara itu bukanlah suara binatang malam, melainkan suara dari sosok menyeramkan yang mengincar darah dari para mangsanya. 

Dengan nafas terengah, Deni menutup pintu mobil dengan kencang. Ia duduk dengan wajah menunduk.

“Bapak tidak apa2?” Tanya Tika khawatir

Deni segera menoleh ke arah belakang, kepalanya mengangguk.

“Bagaimana Jali?”

“Masih seperti tadi pak. Apa mobilnya masih tak bisa menyala? 

Tanya Tika

“Ya.”

“Ya Tuhan, permudahkan lah perjalanan kami ini.” Gumam Tika berdoa

Diam2 Deni juga ikut berdoa di dalam hatinya. Sekitar setengah jam mereka berada di sana dan masih terus berdoa tanpa henti. Akhirnya dari arah yang berlawanan, muncul cahaya 

Dari lampu sebuah mobil yang melintas.

Deni langsung bergegas keluar dan berdiri menghadang mobil itu di tengah jalan.

Saat mobil itu berhenti, keluar seorang laki2 yng mengenakan seragam tentara lengkap bersama seorang laki2 paruh baya berkopyah haji. 

“Permisi pak, maaf telah mengganggu perjalanan kalian. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, tapi mobil kami mogok di tengah jalan seperti ini. 

Saya sudah mencoba memperbaikinya tapi mobil tetap tak bisa hidup. Dan sekarang teman saya masih ada di dalam mobil. Dia sakit.” ujar Deni 

Lelaki paruh baya itu menatap lelaki yang berseragam tentara, lalu mengangguk dan berjalan ke arah mobil Jali.

Saat pintu mobil dibuka, lelaki paruh baya tersebut terlihat mengerutkan keningnya menatap Jali. 

“Astagfirullahaladzim.” Ucapnya 

Lelaki paruh baya tersebut lantas meletakkan telapak tangan nya ke bagian dada Jali sembari membaca Surah An-Nas : qul a’ụżu birabbin-nās malikin-nās ilāhin-nās min syarril-waswāsil-khannās allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās minal-jinnati wan-nās. 

Tiba2 mobil itu bergoyang dengan sendirinya, Meski tak terlalu kencang, namun Tika dapat jelas merasakan nya.

Hawa di sekeliling menjadi panas, sehingga Tika mulai berkeringat.

Dalam hatinya Tika pun terus berdoa.

“Riswan, tolong bawa dia masuk ke mobil !” Ujar si lelaki 

Paruh baya pada orang yang berseragam tentara,

Deni pun ikut membantu mengangkat tubuh Jali yang masih tak sadarkan diri itu menuju ke mobil milik si lelaki tua. 

“Kau duluan ikut bersama mereka Tik, biar aku yang coba perbaiki mobil itu lagi.” Ujar Deni

“Jangan. kalian berdua masuk ke dalam mobil ini. Kita pergi sama2.” Sela si lelaki berseragam tentara yang tadi di panggil Riswan tersebut 

Deni mengangguk, lalu sesaat kemudian mobil itu mulai melaju membelah kesunyian malam yang kian semakin larut.

Tapi rupanya mobil tersebut tak menuju kearah rumah sakit, melainkan ke jalan yang Deni sendiri tidak pernah melaluinya. 

Jalanan itu berada di tengah2 perkebunan karet yang gelap dan sunyi.

Beberapa kali kepala Deni terantuk kaca mobil karena jalanan yang berbatu dan berlubang yang mereka lewati. 

Setelah hampir 15 menit menyusuri jalanan kebun karet tersebut, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar, dan di samping kanan depan rumah itu terdapat mushola. Beberapa pemuda yang mengenakan sarung serta peci, berlarian menghampiri mobil. Mereka berebut 

Untuk bersalaman dengan si lelaki paruh baya.

Dan saat Deni melihat papan bertuliskan pesantren lengkap dengan nama tempat itu, barulah Deni sadar, kalau tempat itu adalah pesantren, dan anak2 tadi merupakan para Santri yang menuntut ilmu agama di sana. 

Tapi baru kali ini ia tahu kalau di tempat se terpencil itu ada pesantren yang lumayan besar.

“Mari silahkan masuk.” Ujar Riswan

Sementara itu Jali di bawa oleh anak2 santri tadi ke mushola, di ikuti oleh si lelaki tua. 

“Loh loh, itu jali mau di apakan??” Tanya Deni menghentikan langkahnya

“Tenanglah, Insya Allah dia tidak akan kenapa2.” Jawab Riswan

“Ayo tik, kita lihat apa yang akan mereka lakukan pada Jali.” Ujar Deni 

“Kalian tak usah kesana. Nanti hanya akan mengganggu.” Cegah Riswan

“Betul pak Deni, saya rasa sebaiknya kita tunggu di sini saja.” Ujar Tika menimpali 

Deni menghela nafas panjang, ia mengangguk, meski hatinya masih mengkhawatirkan keadaan Jali.

Seorang laki2 berusia 50 tahunan menghampiri Tika dan Deni, dengan membawa dua gelas teh panas dan sepiring kue cucur. 

“Silahkan diminum pak, bu.” Ujarnya lalu kembali masuk ke dalam

Sesaat kemudian, Riswan keluar dengan membawa tasbih di tangan nya. Rupanya lelaki itu baru saja mengganti pakaian nya dengan celana putih panjang dan baju kaos oblong putih. 

Ototnya terlihat besar dan kekar.

“Maaf, kalau boleh tau ada apa sebenarnya dengan teman saya itu?” Tanya Deni 

“Entahlah, aku kurang tau mengenai hal2 seperti itu. Tapi ku rasa pasti dia di Ruqyah oleh Abah.” Jawab Riswan

“Ruqyah?” Gumam Deni sembari mengulang2 kalimat itu

“Itu pak, seperti membersihkan diri dari gangguan jin atau sejenisnya.” Sela Tika pelan 

Deni membulatkan bibirnya sambil mengangguk.

Tidak berapa lama kemudian, seorang santri berlari tergopoh2 menuju ke arah Riswan.

“Ada apa Lik??” Tanya Riswan

“Anu, itu kata Abah, katanya. Ambilkan kain putih yang biasa.” Ujar anak berusia 17 tahunan itu dengan nafas 

Yang masih tak beraturan

Riswan mengangguk, lalu segera beranjak dari duduknya.

Sesaat kemudian ia keluar dengan gumpalan kain putih di tangan nya, Riswan menyerahkan kain tersebut pada santri tadi. 

Deni yang memang sedari tadi mengkhawatirkan Jali, lantas berlari mengikuti santri itu menuju mushola.

“Heyyy..” Panggil Riswan, namun Deni tak menghiraukan nya 

Deni melihat Jali yang terbaring di lantai Mushola beralaskan sajadah.

Jali mengeluarkan suara seperti dengkuran yang sangat keras. Dan sesekali nafas nya nampak terhenti. 

“Mau diapakan teman saya ??!” Tanya Deni yang sudah hendak melangkah masuk kedalam, namun lengan nya lekas ditarik oleh Riswan dengan kasar 

“Biarkan abah mengobati temanmu!!” Ujar Riswan setengah membentak

“Tapi itu mau di apakan?!!” Ujar Deni

“Diobati !!”

“Makanya kau tenang! Jangan seperti ini.” 

Deni menarik nafasnya, ia masih menatap lekat ke dalam. Melihat dengan jelas saat tubuh Jali mulai ditutupi dengan kain putih.

Beberapa santri mulai terdengar membacakan ayat2 suci al-quran. 

“Jangan berdiri di sini.” Ujar Riswan sembari menarik tangan Deni

Dengan enggan Deni akhirnya mengikuti Riswan kembali ke tempat di mana Tika berada.

Hampir satu jam mereka menunggu dengan rasa khawatir sekaligus penasaran akan keadaan Jali saat itu, 

Di tambah udara malam semakin dingin, sedari tadi angin kencang berhembus menerbangkan dedaunan yang ada di halaman pesantren itu.

Beberapa kali Deni mengucek2 matanya yang sudah terasa kelat. 

“Pak Deni.” Panggil Tika pelan ketika ia melihat beberapa santri di ikuti lelaki paruh baya yang membawa Jali menuju ke dalam rumah 

Deni beranjak dari duduknya dan menghampiri para santri yang membawa tubuh Jali.

“Teman saya kenapa pak?” Tanya Deni

Si lelaki paruh baya tersenyum, sembari menyentuh lengan Deni.

“Temanmu sudah tidak apa2. Dia sudah sangat terlampau jauh berhubungan dengan 

Mereka.” Kata si lelaki paruh baya

“Lali sekarang keadaan nya bagaimana??” Tanya Deni lagi

“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Cuma tubuhnya masih terlalu lemah untuk pulang.” 

Deni menghela nafas panjang,

“Syukurlah.” Gumamnya

Setelah memastikan keadaan Jali baik2 saja, Deni pun pamit untuk pergi ke rumah sakit dengan diantar oleh Riswan. 

Dalam perjalanan tak banyak percakapan antara kedua lelaki itu. Mereka sama2 diam dan fokus pada pikiran masing2.

—-

“Tika.” Panggil Jali pelan

“Saya di sini pak.” Sahut Tika

“Saya mau ke rumah sakit Tika.”

“Pak Deni sudah ke rumah sakit untuk mengurus jenazah onyah. 

Nanti kalau pak Deni jemput kita, kita bisa langsung pulang pak.”

“Ma..” Ucap Jali bergetar

Sssstttt..

“Bapak yang sabar pak.” Ucap Tika sembari mengelus2 lengan Jali 

—–

“Nak Jali.” Panggil lelaki paruh baya saat Jali sudah akan masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Deni

“Ya bah.”

“Jaga ibadahmu ya. Dalami lagi pengetahuan mu tentang agama. Dan yang sudah terjadi anggap sebagai pelajaran. Jangan di sesali.” Ucap 

Lelaki paruh baya

Jali mengangguk,

“InsyaAllah.” Ucapnya untuk pertama kalinya mengucap kata Insya Allah

Si lelaki paruh baya dan beberapa santri melambaikan tangan ketika mobil mulai berjalan menjauh. 

Portal telah ditutup, dan apa yang pernah singgah sudah di kembalikan.

“Jangan pernah bermain2 dengan pembatas antara dunia kita dan mereka yang hanya setipis kelipis bawang.” Pesan Si lelaki tua yang masih diingat oleh Jali 

—SELESAI—

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *