RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Hampir Tinggal Di Alam Gaib

Ini adalah sebuah kisah kiriman dari Aldo, disini dia berbagi pengalamannya ketika mendaki ke gunung Lawu bersama 3 temannya dan ternyata selama pendakian itu tanpa disadari mereka ini sudah melintasi jalur gaib dan hampir tidak bisa pulang. 

Cerita ini sudah pernah publik dalam bentuk video di YouTube

Oke langsung simak ceritanya. 

Berawal dari sebuah rencana untuk mendaki gunung. Waktu itu ada Aldo, Zain, Adit dan Tyas. Beberapa minggu yang lalu mereka ini merencanakan pendakian ke gunung Sumbing.  Tyas adalah cewek paling cantik diantara mereka berempat karena Tyas adalah cewek satu-satunya. Gak tau kenapa Tyas ini selalu pengen ikut setiap kali Aldo dan teman-temannya ada rencana pendakian. Setelah rencana sudah dirasa matang mereka pun mempersiapkan fisik dan peralatan pendakiannya masing-masing. 

Hari kamis pukul 9 pagi mereka berkumpul di rumahnya Aldo di Ngawi Jawa timur, setelah semua sudah berkumpul mereka membagi peralatan biar sama rata kecuali Tyas, mereka tidak memberi Tyas beban terlalu berat karena kasihan mengingat dia ini cewek. 

Setelah semua sudah terbagi mereka berpamitan dengan orang tuanya Aldo yang kebetulan waktu itu belum berangkat ke pasar untuk berjualan.

Tanpa banyak tanya orang tua Aldo memberi mereka ijin dan berpesan pada mereka agar hati-hati dan jangan sampai lupa dengan sholat. Setelah mencium tangan orang tua Aldo mereka lekas berangkat siang itu juga karena kalau kesorean nanti keburu hujan. Mereka berangkat sekitar pukul 11 siang dengan mengendarai motor, Aldo membonceng Tyas dan Zain membonceng Adit. 

Di perjalanan kekhawatiran mereka yang tadi benar-benar terjadi. Sesampainya mereka di daerah Sragen Jawa tengah mereka berteduh di emperan toko orang karena diguyur hujan yang sangat lebat. Sambil menunggu hujan reda mereka membuka logistik yang ada di dalam tas untuk dimakan tapi sampai kurang lebih 2 jam hujan tidak juga reda. 

“Kalo diliat dari langitnya kayaknya ini bakal lama hujannya, kita terjang aja pakai jas hujan gimana?”, usul Zain.

“Boleh, daripada kesorean ntar”, jawab Aldo.

Mereka semua setuju tapi tidak dengan Tyas, karena waktu itu dia tidak membawa jas hujan. Akhirnya mau tidak mau mereka harus menunggu hingga hujan reda. Hampir 1 jam menunggu hujan tidak juga reda hingga akhirnya mereka berunding tentang kelanjutan perjalanan ini. 

“Gimana nih? Udah hampir jam 3 hujan masih belum juga reda, kalo lanjut jalan ntar sampai sana jam berapa”, ucap Zain membuka obrolan.

“Iya nih, bisa-bisa malem kita nyampe sana”, jawab Adit. 

“Masa iya gak jadi?”, ucap Aldo.

“Sayang banget Do, udah terlanjur sampai sini, peralatan juga udah terlanjur sewa 3 hari masa iya ga jadi sih?”, jawab Zain. 

Ada sedikit rasa kesal Aldo pada Tyas karena dia tidak membawa jas hujan sehingga perjalanan jadi tertunda, tapi melihat Tyas yang waktu itu hanya diam Aldo merasa kasihan. Bagaimanapun juga dia cewek gak mungkin Aldo marah pada Tyas. 

Akhirnya Aldo memaklumi keadaan ini, mengingat kalau harus lanjut ke Sumbing ini tidak memungkinkan dia memberi usul.

“Gini aja, kalau sampai jam 3 hujannya gak reda kita cancel aja ke Sumbing dan kita belok ke Lawu, dari pada gak jadi nanjak, urusan ke Sumbing bisa lain waktu”. 

Zain dan Adit sepemikiran dengan Aldo, disisi lain kondisi mereka waktu itu juga sudah cukup payah, lalu Aldo tanya ke Tyas,

“Tyas gimana kalo kita belok ke lawu?”

“Aku sih terserah, tapi apa gak bosen ke lawu, kan bulan kemarin udah kesana?”, jawab Tyas. 

Memang, bulan kemarin mereka berempat habis dari gunung Lawu via Cemoro Kandang. Nah, berhubung mereka ini sudah cukup sering kesana Aldo memberi usul lagi, kalau jadi ke gunung Lawu mendakinya via Candi Cetho aja karena kalau via Cetho mereka belum pernah. Akhirnya mereka semua setuju kalau memang sampai jam 3 hujan tidak juga reda mereka akan belok ke gunung Lawu via Candi Cetho. 

Waktu menunjukan pukul setengah 4 sore dan hujan baru reda, mereka pun segera berkendara untuk melaksanakan niatnya ke gunung Lawu via Candi cetho. 

Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan sampailah mereka di tempat tujuan, terlihat disini hujannya tidak se-lebat tadi karena terlihat dari jalannya yang tidak banyak genangan air. Sesampai disana mereka langsung meminta izin pendakian dan petugas memberi izin untuk mendaki hari ini juga. Mereka sempat melihat peta pendakian yang ada di pos dan memfotonya untuk digunakan sebagai petunjuk jalan. Sebelum memulai perjalanan Aldo menyempatkan diri untuk sholat ashar dulu baru setelah itu perjalanan dimulai sekitar pukul 5 sore. 

Di awal-awal perjalanan masih belum ada yang aneh hingga sampai di pos 1 sekitar pukul 6 sore. Di pos 1 Aldo mengajak yang lain untuk berhenti dulu karena dia akan melaksanakan sholat maghrib. Aldo sedikit melipir di dekat pohon untuk sholat, sementara Aldo sholat yang lain istirahat di bangunan pos. Setelah selesai sholat Aldo kembali ke teman-temannya dan disitu mereka berunding akan bermalam dimana, mengingat hari juga sudah petang Aldo menyarankan untuk camp di pos 3 aja dan lanjut jalan lagi besok. Setelah dirasa cukup istirahat perjalanan kembali dilanjutkan. 

Aldo yang tadinya berjalan di paling depan sekarang pindah ke paling belakang dan meminta Adit untuk berjalan di depan. Di sepanjang perjalanan menuju ke pos 2 mereka tidak menjumpai 1 pendaki pun yang naik ataupun yang turun.

(Jadi kondisi jalurnya itu sepi banget) 

Sebelum sampai di pos 2 tiba-tiba kabut tipis turun disusul rintik-rintik hujan. Melihat itu mereka sedikit mempercepat jalannya agar segera sampai di pos 2 dan syukurlah sesampai di pos 2 rintik hujan berhenti dan langit terlihat sedikit cerah. Karena takut akan turun hujan lagi mereka berunding dan sepakat untuk camp di pos 2 aja.

2 tenda berkapasitas 4 orang dan 2 orang mereka dirikan di dekat bangunan pos, setelah itu mereka membawa peralatan masaknya ke bangunan pos untuk masak makanan. 

Setelah masakan sudah matang mereka makan-makan dan lanjut duduk nyantai sambil ngopi-ngopi. Nah ketika sedang asyik ngopi sambil ngobrol-ngobrol sayup-sayup Aldo mendengar seperti ada suara orang yang sedang berjalan tepat di belakang bangunan pos yang mereka tempati. Mendengar itu Aldo langsung berdiri sambil berucap,

“Eh kayak ada orang di belakang?”

Dia tengok belakang pos tapi disana tidak ada siapa-siapa dan gelap.Kemudian Zein tanya,

“Ada siapa Do?”

“Tau, gelap gak ada siapa-siapa”, jawab Aldo. 

Aldo kembali ke tempat duduknya dan lanjut ngobrol sama yang lain. Selama berada di pos 2 itu mereka tidak bertemu dengan 1 pendaki pun yang naik maupun yang turun, 

jadi suasananya sepi banget hanya ada mereka berempat, tapi untungnya malam itu tidak turun hujan dan udara tidak begitu dingin. Karena malam semakin larut mereka memutuskan untuk masuk kedalam tenda dan tidur. Mereka yang cowok tidur di tenda yang berkapasitas 4 orang sedangkan Tyas tidur sendiri di tenda yang berkapasitas 2 orang. Baru saja memasang sleeping bag Aldo ingat kalau dia belum sholat isya, mengingat itu dia keluar dari tenda untuk menunaikan sholat,

“Mau kemana Do?”, tanya Zein.

“Lupa aku belum sholat, ayo gak mau ikut sholat sekalian?”, ajak Aldo.

“Gak ah, udah terlanjur pw nih”, jawab Zein. 

Karena memang tidak mau Aldo menunaikan sholat isya sendiri, sesampainya diluar tenda dia mengambil tayamum dan menggelar matras di sebelah kanan tenda untuk sholat. 

Nah, ketika sedang sholat, dari belakang terdengar, “Srek, srek, srek”. Terdengar seperti ada beberapa langkah kaki orang yang sedang berjalan. Mendengar itu konsentrasi Aldo buyar, dia berfikir, mungkin di belakang Zein dan Adit sedang keluar tenda, dia kembali memfokuskan pikirannya untuk sholat. Setelah selesai shalat dia langsung nengok ke belakang dan ternyata di belakang mereka ini tidak ada 1 orang pun. Disini Aldo sedikit merinding, dia cepat-cepat menggulung matrasnya dan kembali kedalam tenda. Sesampai didalam tenda terlihat kedua temannya ini sudah tidur. Nah, Aldo berfikir,

“Lah, ini anak2 udah tidur trus yang di belakangku tadi siapa?”. 

Aldo berfikir positif aja, mungkin tadi salah satu diantara mereka memang ada yang keluar dari tenda untuk kencing atau mungkin Tyas. Pintu tenda dia tutup rapat-rapat agar udara tidak masuk kedalam tenda kemudian dia merebahkan badannya di sebelah Zein tapi malam itu Aldo ini tidak bisa tidur, karena mungkin tadi dia terlalu banyak minum kopi. Dia coba miring ke kanan, miring ke kiri untuk mencari posisi nyaman tapi tetap saja dia tidak bisa tidur. 

Ketika sedang berusaha untuk tidur tiba-tiba terdengar lagi, “Srek, srek, srek”, seperti suara orang yang berjalan diluar tenda, tapi itu cuma sebentar dan Aldo mengiranya mungkin itu pendaki lain yang sedang lewat. 

Tidak lama kemudian suara langkah kaki itu terdengar lagi, “srek, srek, srek”, dan itu terulang kurang lebih 8 kali, tiba-tiba terdengar tiba-tiba hilang. Lama kelamaan Aldo penasaran dengan siapa yang berjalan itu, karena kalau pendaki lain kayaknya itu tidak mungkin mengingat sekarang sudah menunjukan jam 11 malam dan kalaupun itu pendaki lain pastilah terdengar ada suaranya. 

“Apa mungkin itu adalah Tyas yang di luar tenda?”, pikir Aldo.

Tyas emang sudah biasa seperti itu kalau mendaki bareng, dia tidak bergantung pada temannya kalau sekiranya itu bisa dia lakukan sendiri. Karena memang Aldo ini tidak bisa tidur dia berinisiatif untuk keluar tenda untuk menghisap sebatang rokok sekalian melihat siapa yang dari tadi terdengar suara langkah kakinya. Sesampainya di luar tenda keadaannya sangat sepi, tidak ada 1 orang pun yang dlihat. Lalu dia berjalan mendekati tendanya Tyas dan memanggilnya,

“Tyas, udah tidur belum?”. 

Tapi tidak ada jawaban dari Tyas, karena mungkin dia sedang tidur.

Akhirnya daripada bingung memikirkan itu Aldo mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisap sambil duduk di teras tenda. Nah ketika sedang menghisap rokok itu dari belakang tenda terdengar lagi, “Srek, srek, srek”. Mendengar itu Aldo merinding dan merasa sedikit takut. Pelan-pelan dia berdiri untuk melihat kebelakang tenda, dan… ketika dia berdiri seketika itu suara langkah kaki itu sudah tidak terdengar dan di belakang tenda tidak ada siapa-siapa. Melihat keanehan ini Aldo merasa takut, rokok dia matikan dan kembali masuk kedalam tenda. Di dalam tenda dia berfikir kalau yang dari tadi dia dengar itu, mungkin makhluk lain penunggu sini. Berhubung niatnya Aldo disini tidak ingin mengganggu dia berucap dalam hati, 

“Permisi ya mbah, kita numpang istirahat disini dan kami tidak ada maksud untuk mengganggu”.

Setelah berucap itu dalam hati suara langkah kaki itu sudah tidak terdengar lagi dan Aldo berusaha memejamkan mata hingga akhirnya dia bisa tidur. Keesokan harinya mereka ini bangun dan langsung membuat sarapan, sambil masak-masak itu Aldo teringat tentang kejadian aneh semalam, dia tanya ke Tyas, 

“Tyas, semalem kamu keluar tenda gak?”

“Semalem? Enggak tuh, habis ngopi itu aku langsung tidur soalnya ngantuk banget, kenapa emang?”, tanya Tyas balik. 

“Gpp, semalem kayak ada orang yang jalan di deket tenda kita tapi pas aku tengok keluar gak ada siapa-siapa”, jelas Aldo.

“Oooh pendaki lain yang lewat mungkin”, jawab Tyas. 

Karena tidak ingin membuat mereka panik dia berpura-pura kalau yang dikatakan Tyas itu benar, padahal semalam dia ini sudah beranggapan seperti itu tapi kenyataannya bukan pendaki lain.

Setelah selesai sarapan mereka lanjut berkemas dan melanjutkan perjalanan tepat pukul 8 pagi. Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan sampailah mereka di pos 3, disitu mereka istirahat karena perjalanan menuju kesini tadi lumayan menguras tenaga. Setelah cukup istirahat perjalanan kembali dilanjutkan. Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba kabut tipis turun dan langit mulai mendung, sepertinya akan turun hujan. Disini mereka merasa panik mengingat waktu itu Tyas ini tidak membawa jas hujan. 

Mereka mempercepat langkah kaki dengan tujuan agar segera sampai di pos 4, tapi karena jalur yang cukup padat dan menanjak mereka tidak bisa berjalan cepat, bahkan sering kali mereka berhenti di jalur karena capek. 

Sudah sekitar 1 jam berjalan mereka belum juga sampai di pos 4, langit masih sama dan kabut tipis juga masih menyelimuti perjalanan mereka. Tidak lama kemudian Aldo yang berjalan paling depan samar-samar melihat ada sebuah bangunan kayu yang mungkin itu adalah pos 4, melihat itu Aldo bilang ke yang lain,

“Eh itu di depan kayaknya udah pos 4”. 

Mereka yang lain juga beranggapan seperti itu, lalu mereka berjalan menuju ke bangunan kayu tersebut, sesampai disana ternyata benar itu adalah bangunan kayu tapi itu bukan pos 4 melainkan sebuah warung. Melihat warung itu Aldo bilang ke yang lain,

“Wah, ternyata jalur cetho juga ada warungnya, boleh juga nih mampir kalau turun nanti”. 

Mereka terus berjalan tanpa mampir di warung itu, setelah beberapa meter berjalan terlihat lagi ada sebuah warung ayng sama persis seperti warung yang mereka lihat sebelumnya. Tyas yang waktu itu berjalan di belakang Aldo bilang,

“Eh, warungnya kok sama ya kayak warung tadi?”

“Yang bangun 1 orang mungkin jadi bisa sama gitu”, jawab Aldo.

Mereka terus berjalan melewati warung itu dan berniat mampir kalau udah turun nanti. 

Cukup jauh berjalan mereka belum juga sampai di pos 4, Aldo yang berjalan di depan merasa ada yang janggal karena menurut peta yang dilihat kemarin di pos jarak dari pos 3 ke pos 4 tidak sejauh ini, dia mengajak yang lain untuk berhenti dulu. 

“Perasaan jarak pos 3 ke pos 4 gak sejauh ini kemarin di peta?”

Tyas mengambil hp untuk melihat peta yang kemarin difoto, 

“Iya nih, disini tertulis sekitar 1,5 jam dari pos 3”, jawab Tyas.

“Lah emang kita udah jalan berapa jam sih?”, tanya Aldo.

“Lama banget Do, ada kali 2 jam lebih”, jawab Adit. 

Ketika sedang membahas soal itu terlihat dari bawah ada laki-laki paruh baya yang sedang berjalan naik, dia membawa sabit dan membawa sarung yang dilingkarkan di tubuhnya. 

“Nah itu ada orang, coba tanya dulu Zein”, ucap Aldo pada Zein.

Setelah dekat Zein pun bertanya pada orang itu, 

“Pak, ini jalurnya gak salah kan ya?”

“Enggak, jalan aja terus nanti juga sampai”, jawab orang itu sambil terus jalan melewati mereka.

“Yaudah pak terima kasih”, lanjut Zein.

Orang itu tidak menjawab dan terus berjalan mendahului mereka. Zein terlihat sedikit kesal karena tanggapan orang itu kurang enak didengar,

“Itu orang gitu amat kalo ditanya”, ucapnya dengan pelan.

“Dia lagi buru2 mungkin Zein, yaudahlah yang penting jalan kita ini bener dan gak nyasar”, jawab Aldo. 

Mereka kembali melanjutkan perjalanan jauh dibelakang orang tadi. Aldo meminta Zein untuk berjalan di depan sedangkan dia pindah ke paling belakang. Mereka berniat membuntuti orang tadi, tapi orang itu jalannya sangat cepat hingga mereka kehilangan jejak. Langit mendung dan kabut tipis masih menyelimuti perjalanan mereka.

Aldo yang kali ini berjalan di paling belakang sayup-sayup dia mendengar ada suara keramaian di sebelah kiri dan kanannya, seperti suara orang yang sedang beraktifitas. 

Mendengar itu dia celingukan mencari sumber suara tersebut tapi di kiri kanannya itu tidak ada tanda-tanda orang sama sekali. Disini Aldo berfikir,

“Ini suara siapa, ada suaranya tapi gak ada orangnya?” 

Aldo tidak mengatakan tentang apa yang didengarnya itu pada yang lain dan semakin jauh berjalan suara keramaian itu perlahan hilang. Sudah 1 jam lebih berjalan mereka tidak juga melihat keberadaan pos 4, disisi lain jalur yang mereka lewati ini sangat sepi tidak terlihat 1 pendaki lain pun yang naik ataupun yang turun. Karena capek mereka memutuskan untuk berhenti lagi. 

“Do, kok gak nyampek2 ya di pos 4?”, tanya Zein.

“Aku juga gak tau Zein, jalan aja ikuti jalur yang ada”, jawab Aldo.

Lalu tiba-tiba Tyas nyeletuk, 

“Aku kok ngerasa ada yang aneh ya sama perjalanan kita”.

“Aneh kenapa?, tanya Aldo.

“Kalian bayangin aja, kita udah jalan hampir 4 jam loh tapi belum juga sampai di pos 4”, jawab Tyas. 

Terlihat waktu sudah menunjukan jam 2 siang, karena memang tidak ada yang tau, Aldo mengajak mereka untuk istirahat dulu sekalian dia ingin menunaikan sholat Dhuhur. Tas carier mereka letakan di atas tanah kemudian Aldo mencari tempat untuk menunaikan sholat. Ketika sedang sholat tepatnya rakaat ketiga, fokusnya Aldo ini buyar karena tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Aldo beranggapan mungkin yang menepuk itu adalah teman-temannya yang ingin ikut sholat menjadi makmum, karena setahu Aldo kalau kita sedang sholat terus ada yang menepuk pundak itu tandanya ada seseorang yang ikut sholat dan kita sebagai imam wajib membesarkan suara. 

Setelah selesai shalat dia berdoa semoga diberi kelancaran dalam melakukan pendakian ini, setelah selesai berdoa dia melihat kebelakang dengan niat untuk bersalaman dengan orang yang ikut sholat tadi, tapi di belakangnya Aldo itu tidak ada siapapun. 

Melihat itu Aldo kaget, dia berfikir,

“Loh, yang tadi ikut sholat siapa?”.

Dia cepat-cepat membereskan matrasnya dan kembali ke teman-temannya, sesampai di tempat teman-temannya dia bertanya, 

“Kalian tadi ikut sholat?”

“Enggak, capek aku Do udah terlanjur pw juga disini”, jawab Zein sambil nyengir.

Aldo merasa ada yang janggal, dia mengajak yang lain untuk segera melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan Tyas yang waktu itu berjalan di depannya Aldo tiba-tiba berbisik, 

“Do, aku tadi ngeliat ada yang ikut kamu sholat”

“Serius? Siapa?”, tanya Aldo.

“Gak tau, dia berpakaian serba putih”, jawab Tyas.

“Yaudah simpen aja, jangan bilang ke yang lain”, pinta Aldo. 

Mendengar ucapan dari Tyas barusan Aldo merasa panik, dia tidak tau lagi apa yang sedang terjadi pada mereka.

Sambil berjalan Aldo membaca tasbih terus menerus berharap semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tidak lama berjalan terlihat di depan ada beberapa orang yang sedang mondar-mandir dan beberapa tenda yang berdiri. Zein yang waktu itu berjalan di paling depan bilang,

“Eh itu dia pos 4, ada kita udah nyampek”.

Mereka pun segera berjalan menuju kesana dan ternyata benar, disitu terdapat beberapa rombongan pendaki lain yang sedang camp tapi… ini bukan pos 4 melainkan pos 5. 

Melihat kalau ternyata ini adalah pos 5 mereka benar-benar kaget, karena mereka ini tidak merasa melewati pos 4 eh tau-tau udah nyampek di pos 5. Merasakan hal itu mereka semua saling memandang heran. 

“Udah2 yang penting sekarang kita udah bisa camp, ayo diriin tendanya aku udah laper”, ucap Aldo menetralkan situasi. 2 tenda mereka dirikan berjajar di dekat tenda pendaki lain setelah itu mereka lanjut memasak di depan tenda. Sambil memasak itu Aldo bertanya pada rombongan yang ada di sebelah tenda mereka,

“Udah lama nyampek disini mas?”,

Mereka jawab baru, ya sekitar setengah jam yang lalu.

Mendengar itu Aldo dan yang lain semakin heran, kalau memang mereka baru datang setengah jam yang lalu harusnya mereka bertemu dengan Aldo di perjalanan sedangkan selama perjalanan itu Aldo tidak merasa bertemu dengan 1 pendaki pun. Tapi yaudahlah, yang penting sekarang tidak terjadi apa-apa terhadap mereka dan disini mereka beranggapan kalau jalur yang mereka lewati tadi mungkin bukan jalur pendakian melainkan jalur gaib. 

Sore itu mereka makan dengan lahap karena jujur saja mereka ini sudah sangat kelaparan setelah menempuh perjalanan yang tidak masuk akal tadi. Setelah selesai makan tidak lupa Aldo melaksanakan kewajibannya untuk sholat ashar setelah itu mereka lanjut ngobrol-ngobrol sambil sedikit membahas tentang kejanggalan selama perjalanan tadi. Singkat cerita waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, mengingat besok mereka masih ada perjalanan summit ke puncak malam itu mereka memutuskan untuk segera tidur. Sebelum tidur Aldo sempat mengajak teman-temannya untuk menunaikan sholat isya tapi ya gitu, jawaban mereka sama yaitu lagi PW (Posisi Wenak).

Karena memang tidak mau Aldo pun tidak memaksa, dia menggelar matrasnya di samping tenda dan menunaikan sholat.

Ketika sedang sholat, kejadian yang sama terulang lagi, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya Aldo dari belakang. Merasakan itu Aldo teringat dengan perkataan Tyas tadi kalau mungkin yang menepuk pundaknya itu adalah orang berjubah putih. Dia membesarkan bacaan doa dan setelah selesai sholat ternyata benar, di belakangnya ini tidak ada siapapun yang ikut sholat. Karena takut Aldo segera masuk kedalam tenda dan terlihat teman-temannya ini belum tidur, mereka masih asyik main hp. Singkat cerita, sekitar pukul 4 pagi mereka semua bangun dan bersiap-siap melakukan perjalanan summit ke puncak, sebelum berjalan summit tidak lupa Aldo menunaikan sholat subuh dan ketika sedang sholat Aldo ini was-was kalau nanti ada yang menepuk pundaknya lagi, tapi kali ini tidak. Setelah selesai sholat perjalanan summit pun dimulai sekitar pukul 5 pagi bersama rombongan yang camp di sebelah tenda mereka.

Perjalanan summit berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun hingga sampai di puncak sekitar pukul 7 pagi. Sesampai di puncak mereka tidak begitu senang karena ini bukan yang pertama kalinya mereka berdiri di puncak Hargo dumilah, di puncak itu mereka santai-santai sambil menikmati pemandangan yang ada, dan ketika sedang nyantai itu Tyas yang waktu itu duduk bersebelahan dengan Aldo bilang, kalau semalam dia ini sempat keluar tenda untuk kencing dan setelah kencing dia melihat ada banyak orang yang sedang beraktifitas di sekitaran pos 5. 

Awalnya Tyas menganggap mungkin itu pendaki lain tapi setelah dilihat lebih jelas lagi ternyata bukan, orang-orang itu seperti orang-orang jaman dulu karena terlihat dari pakaiannya. Tanpa memperdulikan itu Tyas segera kembali kedalam tenda dan melanjutkan tidurnya. 

Setelah dirasa puas di puncak mereka pun kembali turun ke tempat camp dan meninggalkan rombongan yang bareng tadi, sesampainya di camp lanjut berkemas untuk kembali turun. Mereka sengaja tidak masak makanan karena berniat makan di warung yang mereka lihat ketika perjalanan naik kemarin. Di perjalanan itu Aldo mengamati keadaan jalur yang dia lewati dan ternyata jalurnya itu sangat berbeda dengan jalur yang dilewati kemarin. Singkat cerita sampailah mereka di pos 4 yang baru kali ini mereka lihat, di pos 4 itu mereka tidak berhenti lama hanya sekedar melemaskan otot kaki setelah itu lanjut berjalan lagi. 

Di perjalanan menuju ke pos 3 mereka mencari warung yang kemarin tapi sepanjang perjalanan mereka tidak menjumpai warung tersebut, bahkan sampai mereka di pos 3 pun tidak menjumpai warung itu, dan dari pos 5 menuju ke pos 3 ini hanya mereka tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Lantas kenapa kemarin perjalanan naik sangat lama? Bahkan sampai berjam-jam. Merasakan keanehan itu mereka bertanya-tanya.

Karena memang tidak menemukan warung itu akhirnya yaudahlah, mereka memutuskan untuk memasak makanan di pos 3 untuk sarapan dan sering kali mereka membahas kejanggalan ketika naik kemarin. 

Setelah makan itu mereka lanjut berjalan turun hingga sampai kembali di pos perijinan sekitar pukul 2 siang. Karena takut nanti akan hujan mereka segera mengambil motor untuk segera pulang ke Ngawi. Sesampainya kembali di rumah Aldo mereka membahas satu persatu kejanggalan selama pendakian itu dan mereka menyimpulkan kalau mungkin selama pendakian dari pos 3 menuju ke pos 5 itu mereka sudah melintasi jalur gaib dan warung yang sebelumya mereka anggap benar-benar warung itu ternyata bukan.

Disini mereka sangat bersyukur karena selama perjalanan itu tidak terjadi apapun dan kembali pulang dengan selamat. 

Selesai… 

Thread By @fidimuhammad_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *