RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Handphone Bekas Korban Pembunuhan

(KEMBALIKAN HANDPHONE MILIKKU!)

Gaes, cerita kali ini gantian dari cerita mimin fitri ya. Ini kisah yang terjadi tahun 2020 kemarin saat adik sepupu nya yang bernama Fika mendapatkan gangguan terror setelah membeli handphone baru. Niatnya sih buat belajar daring (online) eh, kok malah dapat gangguan terror dari 

arwah gentayangan yang mengaku korban pembunuhan?! Oke-oke daripada berlama-lama cus langsung masuk kedalam cerita aja ya! 

Tahun 2020 adalah saat awal mula pemerintah serentak mewajibkan seluruh sekolah untuk melakukan kegiatan belajar mengajar daring (online) di rumah mengingat lonjakan kasus kematian virus Corona di Indonesia yang sedang tinggi-tingginya. Langkah itu dianggap sudah tepat untuk 

menghentikan laju penyebaran virus karena sekolah, kantor, pasar, tempat perbelanjaan, dan semua tempat-tempat umum yg sering dijadikan tempat berkerumun bisa menimbulkan efek penyebaran virus yg cepat. Nah, begitupun dengan sekolahan tempat Fika menimba ilmu di kota 

Cilacap. Saat itu Fika dan seluruh siswa SMPN Cilacap diberikan pengumuman penting dari sekolah mengenai kegiatan belajar mengajar dirumah sampai waktu yang ditentukan oleh pihak sekolah. Mendengar pemberitahuan tersebut, ia langsung merengek kepada sang ibu dan bapaknya utk 

segera dibelikan handphone baru supaya ia bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar online. “Bu, Pak, tolong yah belikan Fika handphone baru?! Fika dari mulai hari Rabu sudah belajar online!” Rengek Fika sepulang sekolah. “Lho, apa itu belajar online ndok?!” Tanya Yuni (Ibu Fika). 

“Ituloh bu, belajar lewat handphone! Kan sekarang sudah turun aturan dari pemerintah nya!” Jawab Ilham (ayahnya Fika). “Betul pak! Jadi tolong yah… Belikan Fika Handphone baru lho pak! Handphone nya yang android pak, yang bisa internet jangan sampai keliru pokoknya!” Jawab Fika 

antusias “Lho, kalau kamu pakai handphone punya ibu ga bisa?” Tanya sang Ibu “Haduh, buk ya ndak bisa tho! wong ibu tesih nganggo handphone sing wunyine tulalit tulalit!” Jawab sang anak dengan terkekeh-kekeh sambil memegang handphone hitam putih milik ibunya. “Kalau kamu pakai 

handphone milik bapak gimana ndok?! Handphone bapak niki cilik-cilik wis Smartphone lho!” sahut ayahnya dengan lgsng mengeluarkan handphone smartphone tipe lama dari saku celananya.”Ah Emoh pak! Hp bapak kae layare cilik! ya mengko ora keton mukane nyong mung di nggo video zoom!” 

(Ga mau pak, hp bapak itu layarnya kecil! ya nanti ga keliatan dong wajah ku kalau dibuat video zoom) Tolak Fika kepada sang ayah. “Lha terus HPne kudu sing kaya ngapa sih? Bapak iki yaa urung panen koh!” (Lah terus hpnya harus yang kaya gimana sih, bapak kan belum panen) Tanya 

sang ayah dengan gaya bahasa jawa ngapaknya yang khas. “Ya sing ana ning tv-tv Pak! sing bisa wasapan, video, ya pokoke sing kaya kue lah!” (Ya yang kaya ada di televisi pak! yang bisa wa, video, ya pokoknya yang kaya seperti itu lah!) Jawab Fika. “Ibu ada uang cuma 1jt apa– 

cukup Fik, nggo tuku hp?” Tanya ibu “Ya ndak tau bu, mendingan besok ayo kita ke konter-konter handphone aja langsung!” Jawab Fika. Keesokan harinya Ia bersama sang Ibu satu persatu mendatangi toko demi toko handphone tapi satupun tidak ada yang cocok untuk Fika. Jikalau ada 

harga HP yang sesuai dengan budget, tapi spesifikasi nya kurang menurut Fika. “Duh, kamu mau handphone kaya gimana sih Fika? Ibu nih sampai pusing dari tadi muter-muter ga nemu-nemu. Emang ga bisa handphone-handphone yang ditawarkan tadi buat kamu sekolah?” Tanya si Ibu (bahasa 

saya translate ke Indonesia saja, atas beberapa permintaan reader). “Aku butuh handphone sing RAM nya 3Gb bu, yang memory handphone besar, kameranya juga bagus, biar aku keliatan cantik!” Jawab Fika. “Duhhh ibu udah gemes banget ini gak ketemu-ketemu handphone yang kamu mau! 

Sudah pokoknya, didepan ada toko handphone terakhir! Ibu ga mau kalau harus muter-muter lagi buat cari handphone, bisa-bisa asam urat ibu naik!” Ujar sang ibu sambil menunjuk tangannya ke sebuah konter yang letaknya berada di paling pojok. Fika kemudian menanyakan spesifikasi yg 

ia inginkan, namun seperti yang sudah-sudah uang sang ibu tidak mencukupi untuk membeli handphone yang ia mau. “Gini saja dik kalau adik mau, mas punya handphone Android yang masih bagus cuma keadaannya bekas dan apa adanya.” Jawab si penjaga konter hp sambil mengeluarkan HP yg 

dimaksud. “Lha ini bu!! Ini sih cocok buat Fika belajar dirumah!” Jawab Fika dengan semangat. “Harganya berapa ya mas?! Pokoknya jangan lebih dari 1jt rupiah ya!” sahut Ibu Fika. “Sebenarnya harga ini 1,2jt bu, cuma karena penglaris buat toko saya ya sudah saya kasih 1Jt gpp.” 

Jawabnya. Fika langsung memperhatikan Handphone itu, masih mulus dan terlihat seperti baru. Namun sayang, Hanya handphone batangan saja tanpa ada dus, tanpa ada aksesoris pendukung seperti charger ataupun headset nya. Setelah diperhatikan agak detail dibelakang handphone itu pun 

nampak seperti ada sedikit noda merah kecoklatan yang mengering. “Mas, ini kok ada noda kotoran nya di bagian sini?” Tanya Fika sambil memperlihatkan sedikit noda di handphone tersebut. “Oh tenang! ini bisa kok bersihkan.” Jawab si penjaga konter sambil membersihkan handphone 

tersebut dengan sangat hati-hati. “Nah, ini dik, sudah bersih toh?!” Ucap si penjaga konter sambil memberikan handphone Oppo android yang masih bagus ketangan Fika. “Ya wis mas, ini uangnya 1jt. Dihitung dulu saja.” Sahut Ibu Fika dengan langsung mengeluarkan uang sejumlah 1jt– 

rupiah dari tas nya. “Alhamdulillah, akhirnya Fika sudah punya hp baru! Eh… tapi bu, hapenya masih belum bisa dipakai nih! Ya belum ada simcard sama pulsa” Ujar Fika sambil merengek lagi “Duh ampun-ampun, Fika! Jaman dulu ibu mau sekolah itu ga seribet kamu! Ya wis sing penting 

kowe sing genah bae sekolahe men bisa dadi wong sukses.” Ucap ibu Fika sambil mengusap dahi anak semata wayangnya. Sesudah selesai membeli handphone dan membeli segala keperluannya mereka pun kembali kerumah. Fika yang saat itu baru kali pertama memiliki handphone langsung ia 

pergunakan untuk berfoto-foto selfie.

Namun…. kini keanehan-keanehan mulai terjadi! Fika terhenyak mana kala noda merah kecoklatan yang sudah dibersihkan timbul kembali dan saat ia coba bersihkan tetapi noda itu tak juga hilang. “Bu, ini pakai apa ya dibersihkan nya? 

kok susah sekali hilang bekas kotoran nodanya?!” Tanya Fika, langsung menyerahkan handphone oppo yang baru ia beli “Ini dibersihkan sama lap setengah basah aja, masa gitu aja kamu nanya sama ibu? Oh ya, lagian bukannya tadi sudah dibersihkan sama mas-mas yang jaga konter yah?” 

Tanya si ibu heran “Ndak tau bu, wong tadi Fika lihat ya sudah bersih, kok sekarang malah timbul lagi?! Yah, mungkin tadi saat dibersihkan kurang teliti, sehingga masih ada noda yang menempel.” Jawab Fika. “Nih, sudah bersih lagi! Ingat loh Fik, handphonenya kamu rawat baik-baik, 

jangan sampai rusak. Soalnya ibu sama bapak sudah ga ada uang lagi buat belikan kamu handphone baru.” Ucap ibu Fika sambil menyerahkan hp milik anaknya kembali. “Iya, makasih loh bu handphone nya! Pasti Fika akan sayangi barang ini!” Jawab sang anak yang langsung kembali ke dalam 

kamarnya. Tiba-tiba,

BESSHHH….

baru saja Fika ini menutup pintu kamar, namun ada semilir angin dan sebuah bayangan putih menabrak dirinya. “ASTAGHFIRULLAH HALADZIM!! Ya Allah, apa itu yang barusan menabrak ku?” Tanya Fika sambil setengah berteriak karena kaget. Fika kemudian 

merebahkan badannya diatas kasur dan kembali memainkan handphone. Ia mengambil beberapa foto selfie dirinya namun foto yang dihasilkan selalu berbayang (blur), sehingga Fika berkali-kali mencoba merestart handphone tersebut. “Haduh, masa kameranya sudah rusak toh ya?! Baru juga 

dibeli?!” Tanya Fika mulai panik. “Bu, sini bu! Yuk coba foto berdua sama Fika! Fika mau cek kameranya.. Bu! Tadi sih hasil fotonya di kamar selalu berbayang” Ajak Fika. “Lho, ini hasil nya bagus ndook! Terang banget lagi! ibu sama kamu keliatan cantik banget!” Jawab ibu Fika 

setelah ia melihat hasil foto kamera hp anaknya. “Iiih!! Tadi tuh enggak kaya gini bu! hasil fotonya jelek, dan berbayang! Kalau ibu ga percaya Fika liatin nih galeri hp Fika!” Fika langsung menunjukkan foto yang barusan ia ambil, tapi ia dibuat terbelalak mana kala ternyata 

semua fotonya tidak ada satupun yang tersimpan! Terkecuali foto yang bersama dengan ibunya. “Lho?! Kok semua fotoku hilang bu?!” Tanya Fika panik yang menyangka Hp tersebut rusak. “Lha ibu mana tau toh Fik? Kan ibu ga ngerti pakai hp yang ga ada pencetannya?!” Jawab si ibu polos. 

Fika menggaruk-garuk kepalanya mulai keheranan. Ia yakin sekali jika tadi ada banyak foto-foto yang sudah ia ambil, tapi saat ia membuka galeri foto-foto itu telah hilang. Dalam kebingunan Fika, ia memutuskan untuk membawa kembali handphone kesayangannya kedalam kamar sambil 

pelan-pelan mencoba membuka satu persatu folder di handphone nya, tapi masih tak jua ditemukan. Fika lalu merestart kembali Hp itu, berharap setelah menyala foto-foto dirinya bisa muncul kembali di galeri. “Nah ini dia foto-foto nya muncul!” Ucap Fika kegirangan melihat 

foto selfie dirinya kembali ada di galeri. Perlahan Fika men-scroll kebawah layar handphone miliknya sambil memilah-milah foto mana yg menurutnya bagus. Tapi, Fika kini malah dikejutkan dengan foto-foto lelaki yang mungkin berusia 20 tahun keatas dengan tubuh yg bersimbah darah– 

serta matanya melotot. Fika yang terkejut, seketika langsung berteriak memanggil ibunya dan tak sengaja membanting hp itu ke lantai. “Apasih Fika panggil-panggil ibu?!” Tanya sang ibu melihat Fika sedang menangis dan tubuhnya bergetar ketakutan. “I…ituu..itu.. bu!!” Jawab fika 

sambil tangannya menunjuk kearah handphone yang tergeletak di lantai. Ibu Fika langsung mengambil handphone tersebut dan memberikannya kepada Fika kembali. Dengan tangan yang gemetaran Fika membuka galeri dalam handphone tersebut, namun semua kembali berubah! “Lhoo bu?! Tadi Fika 

lihat ada seorang laki-laki bersimbah darah dengan mata yang melotot bu di galeri handphone ini!! Fika takut sekali bu!” Ucapnya sambil berlinang air mata. “Fika, ibu ga ngerti deh?! Kamu ini punya handphone baru malah kelakuan nya kok aneh sih! Sekarang sudah malam kamu 

sebaiknya makan lalu sholat dan tidur, jangan terus-terusan mainin hp!” Bentak sang ibu kepada Fika. Sesudah sholat isya, Fika merasa kepalanya agak pusing dan sangat mengantuk. Ia mencoba merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata supaya lekas tertidur. Bukannya tertidur, pikiran 

Fika malahan terganggu dengan wujud seram lelaki yang berlumuran darah tadi. “Fika…Fika.. Tolong kembalikan Handphone milikku Fika!” Tiba-tiba terdengar suara lelaki menggema ditelinga kanan Fika, dan saat Fika membuka mata Ia dikagetkan dengan sosok pocong yang wajahnya persis 

seperti lelaki yang ada di dalam galeri handphone milik fika! Fika ingat jelas wajah pocong itu sedang menunduk menatap wajah Fika, dan posisi tubuh pocong seperti layaknya posisi orang sedang rukuk (membungkuk dengan kepala menunduk kebawah). Saking ketakutannya, Fika sampai 

tidak bisa berteriak ataupun menggerakkan tubuhnya! Dalam kepanikan Fika, ia hanya bisa mengingat surat-surat pendek dan mencoba berdoa dalam hati sampai pemandangan yang mengerikan itu hilang! Dengan sisa tenaga yang Fika miliki, ia langsung berusaha bangkit dan berlari menuju 

ke kamar ibu dan bapaknya. “Buuu.. Ada pocong buuuu…!!! Tolong buuuu!!! Ada pocong dikamar Fika!!!” ucapnya dengan tangis. Sang ayah kemudian berlari menuju ke kamar Fika yang gelap, ia melihat ke sekeliling ruangan kamar anaknya namun tidak ada apa-apa disana. “Nak, kamu hanya 

mimpi sepertinya! Ini bapak lihat ga ada apa-apa.” Jawab sang ayah dari kamar Fika. Fika berkali-kali menyangkal jika ia tadi sedang bermimpi, krn ia jelas melihat sosok wajah pocong mengerikan itu hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Fika pun meminta supaya ia bisa tidur di 

kamar kedua orangtuanya untuk malam itu saja. Keesokan harinya, Fika terlihat murung dan tidak bersemangat sekolah online. Bahkan Fika enggan untuk memainkan hp barunya tersebut. “Fika, katanya kamu mau sekolah online? Kok masih duduk diam sambil melamun?” Tanya sang ayah. 

“Inyong emoh sekolah online pak,. Nyong wedhi! Pokoke nyong emoh dolanan hp kae!” (Aku ga mau sekolah online pak, aku takut! Pokoknya aku ga mau mainin hp itu!) Jawab Fika tak bersemangat. Sang ayah dan ibu dengan sabar menyemangati anaknya, supaya mau belajar online. Dengan 

iming-iming diberikan jajan, akhirnya Fika pun mau untuk segera mandi dan berganti pakaian agar mengikuti kelas online. “Ya gitu dong nak semangat belajarnya, kamu masa ga kasihan sih sama ibu?! Kan sudah dibelikan handphone baru!” Ucap Ibu Fika. 

Fika lalu membuka perlahan handphone miliknya. Masih ada penasaran di diri Fika melihat kedalam galeri hpnya. Sesaat, ia bisa bernafas lega karena dalam galeri tersebut foto menyeramkan lelaki itu memang sudah lenyap, dan foto-foto dirinya kemarin masih tersimpan rapih. Fika 

langsung menyalakan kamera handphone dan bersiap untuk mengikuti kelas online. Di layar handphone terlihat teman-teman sekelas Fika mulai bermunculan. Mereka saling bersapa satu sama lain dan berantusias karena memang itu adalah kali pertama mereka mengikuti kelas online. Tak 

lama muncul juga Ibu Erna, wali kelas Fika sekaligus guru bahasa Indonesia. Fika dengan semangat mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaan yg diberikan oleh Ibu guru, tapi.. saat ditengah-tengah pelajaran Ibu Erna menatap dengan tatapan aneh. Terdengar Bu Erna pun berkali-kali 

Beristighfar. “Astaghfirullah ya Allah!!!” sambil mengelus-elus dadanya. Murid-murid yang lain penasaran langsung menanyakan apa yang terjadi pada Ibu Erna, namun Ibu Erna hanya diam saja. “Fika! Tolong kamu segera matikan kamera hpnya! Cepat!” Ucap Ibu Erna yang membuat gaduh 

teman yang lain. “Lho, kenapa hanya kamera handphone saya saja yg harus dimatikan bu?!” Tanya Fika heran “Hahahaha Fika belum mandi, jadi suruh matikan kamera!” Cetus Jatmiko teman Fika sambil bercanda ditambah riuh sahut menyahut antara Fika dan teman sekelasnya yang lain– 

“emmh, nanti saja lah ibu cerita kan! Yang penting kamu tutup kamera nya!” Jawab Ibu Erna. Sejak saat itu, ibu Erna terlihat seperti tidak fokus mengajar dan meninggalkan kelas online dengan memberikan PR dirumah saja. Jam berikutnya muncul pak Sobirin guru matematika yg dikenal 

murid-murid sangat galak dan tegas. Agak sulit memang saat murid belajar matematika melalui sistem daring, alhasil beberapa dari mereka pun tak melewatkan begitu saja sesi tanya jawab mengenai materi pembelajaran yang diberikan oleh pak Sobirin, termasuk Fika. “Nganu pak, saya 

belum paham yang bentuk aljabar campuran (2x²+4x) (3x-1) bisa tolong bapak jelaskan lagi tidak?” Tanya Fika. “FIKA KAMU INI NANYA APA? KOK MULUTNYA CUMA MANGAP-MANGAP SAJA NDAK ADA SUARA?” Jawab Pak Sobirin diseberang sana. Fika kembali mengulang pertanyaan yang sama namun pak 

Sobirin seperti tidak bisa mendengar suara Fika, termasuk teman-teman yang lain. Fika diarahkan untuk mengecek gambar microphone di layar hp nya barangkali suara untuk open mic masih dalam keadaan mute. Fika mengecek dan bahkan sampai me-restart hp, namun suaranya tidak terdengar 

oleh pak sobirin. Saat dipercobaan yang ke 5*, barulah pak Sobirin bisa mendengar suara Fika dan menjelaskan kembali bagian pelajaran yang Fika blm pahami. namun, disela-sela penjelasan pak Sobirin entah mengapa pak Sobirin langsung berteriak dan memarahi fika. “FIKA! KAMU ITU GA 

SOPAN YA?! MAKSUD KAMU APA ?! BAPAK NERANGI KAMU MASIH SEMPAT-SEMPATNYA TERTAWA-TAWA!” Fika kaget, ia menyangkali jika dirinya menertawakan pak sobirin yang sedang menjelaskan pelajaran. Beruntunglah, beberapa teman Fika yang lain pun tidak mendengar hal yang pak Sobirin dengar. 

Pak sobirin langsung melanjutkan kembali pembahasan materi aljabar kepada murid-muridnya. Tapi, lagi dan lagi pak sobirin ini seperti merasa terganggu dengan suara tertawa-tawa. “HEI ANAK-ANAK SIAPA DISINI YANG MALAH KETAWA-KETAWA?! MEMANGNYA ADA YANG LUCU?!” Bentak pak Sobirin 

lagi. Anak-anak yang mengikuti kelas daring mulai riuh. mereka tidak mendengar ada hal aneh seperti yang pak sobirin dengar. “Kembalikan Handphone MILIKKU!!!” Suara itu tiba-tiba muncul dan nampak microphone yang menyala adalah microphone Fika. “FIKA?!!JANGAN MAIN-MAIN WALAUPUN– 

KAMU SEDANG KELAS ONLINE? KAMU BISA GA FOKUS DENGAN PELAJARAN DULU, JANGAN NGOBROL DENGAN ORG DISEKITAR?!” amuk pak Sobirin. Fika tak habis pikir, rasanya sedari tadi ia sama sekali tidak memencet open microphone saat pak sobirin sedang menjelaskan. Disaat kebingungan Fika, 

matanya terfokus dengan noda merah agak kecoklatan yang kembali lagi muncul! Perasaan Fika mulai tidak karuan, antara takut dan bingung dengan segala keanhean yang sedang terjadi. Masuk di jam mata pelajaran ke3, kini berganti pelajaran kesenian dan guru pengajar nya adalah 

Ibu Upik. Ibu Upik mengabsen satu persatu murid sebelum memulai pelajaran. Ia meminta murid kelas 8A (2 SMP) menyalakan kamera dan mengecek penampilan para anak muridnya untuk tetap memakai seragam sekolah walaupun hanya kelas online. Saat giliran mengabsen Fika, 

Ibu Upik menegor secara halus “Fika kamu ini kok bajunya penuh kotoran seperti kotoran tanah? Kamu memang habis dari mana sih?!” Tanya ibu Upik. “Lho, ini saya bajunya baru dicuci sama ibu saya bu guru!” Jawab Fika heran. “Gak bisa! Kalau km mau ikutin kelas ibu kamu harus ganti 

dulu seragamnya! Masa iya baju kotor penuh kotoran tanah kamu pakai sih Fika?!” Keanehan demi keanehan yang dialami Fika membuat ia tidak sampai selesai mengikuti pelajaran online saat itu. Fika menduga jika ini ada sangkut pautnya dengan penampakan pocong dan gangguan terror 

lain karena HP Android yang baru ia beli. Tak kehabisan akal, Fika meminta Ibunya kembali ke konter handphone tersebut untuk menukar dengan yang lain. Fika berdalih HPnya sering ngadat dan tidak mau mengeluarkan suara. “Maaf bu, HP yang sudah dibeli ga bisa ditukar kembali bu, 

kalau mau dijual dengan harga murah.” Jawab si penjaga toko. Mendengar hal itu Fika merasa sangat sedih. Yang ada dipikiran Fika jika handphone itu masih berada di genggaman nya otomatis Hantu itu akan mengikuti Fika dan terus menerror untuk segera mengembalikan handphone trsb– 

namun Fika pun sadar jika ibunya sudah banyak mengeluarkan uang untuk membeli handphone itu agar dirinya bisa sekolah online. “Ya sudah gak apa-apa mas, saya bawa kembali saja. Kalau ada uang mungkin saya akan jual HP ini dan lebih baik membeli handphone yang baru untuk anak sy” 

Ucap ibu Fika meninggalkan konter hp tersebut. Ketika malam hari tiba, sekitar pukul 11 malam, Fika dikagetkan dengan suara dering tlp yang masuk. Fika yang saat itu sudah tertidur perlahan membuka matanya dan segera meraih HP disisi nya “Assalamu’alaikum.. Halo?” Jawabnya pelan 

setelah ditunggu beberapa detik masih belum ada jawaban. “Halo…? Sapa sih ini?” Tanya nya lagi. Kemudian barulah terdengar suara berisik di seberang sana dan berubah menjadi suara rintihan lelaki ” tolong…tolong…ampunn…” Fika yang mengantuk menganggap itu hanya orang 

salah sambung dan segera menutup kembali tlpnya. Hanya berselang beberapa detik, ada tlp lagi yang masuk dengan nomer yang berbeda. “Hei, siapa sih ini, malam-malam malah ganggu orang saja!” Bentak Fika di tlp dan lalu menutup kembali tlpnya. Saat Fika ingin tertidur, ia 

terperanjat saat melihat tangan kanan yang dipakai untuk menggenggam Hp tadi ternyata ada darah segarnya, wlpun hanya sedikit. Fika pun lgsg kembali ingat, saat tadi pagi di hp itu muncul kembali noda merah kecoklatan, jika diperhatikan itu merupakan noda DARAH yang mengering! 

Seperti tidak berkesudahan terror demi terror yang Fika rasakan, ia lalu mendengar suara bising dari arah pojok kamarnya..

KREEEKKKK…KREEKKKK…KREKKK..

lemari kayu dikamar Fika kemudian bergoyang-goyang, dengan sendirinya.. dan setelah ia mengadahkan kepalanya keatas 

ternyata ada sesosok pocong yang sedang duduk diatas lemari sambil kakinya berayun-ayun! Pocong itu menurut Fika benar-benar sangat menyeramkan dengan mata yang melotot dan tubuhnya berlumuran darah! Saat itu Fika seperti terhipnotis, rasanya tubuhnya sulit digerakkan sama persis 

seperti saat pertama melihat wajah pocong yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya! “Tolong kembalikan HP itu…” Ucapnya jelas terdengar oleh Fika dan mulut si pocong itu menyeringai. Untuk kejadian didatangi pocong yang kedua ini, Fika benar-benar sudah tidak kuat untuk 

berlari ke kamar orang tuanya. Bahkan untuk ia bisa teriak meminta tolong pun butuh waktu sepersekian menit saking ketakutannya. Mendengar jerit anaknya Ibu dan bapak fika segera mendatangi anaknya. Fika hanya menangis sambil bergetar hebat sekujur tubuhnya. Bahkan entah mengapa 

keningnya pun mendadak panas. Sesudah Fika merasa agak tenang, Fika menceritakan kembali apa yg ia lihat. Sang ayah yang khawatir dengan keadaan Fika menyuruh sang istri untuk kembali ke konter HP tersebut menanyakan riwayat dari si pemilik handphone sebelumnya– 

Dipagi harinya kembali lagi Fika dan ibunya mendatangi konter hp tersebut. Bukan untuk menukar atau menjual Hp melainkan menanyakan riwayat atau asal usul si pemilik hp lama, sesuai perintah dari ayah Fika. Namun, begitu sampai di konter Fika dan ibunya langsung diberikan sebuah 

fakta baru jika ternyata kemarin polisi sedang mencari HP yang sudah dibeli Fika untuk barang bukti pembunuhan! Sontak saja Fika dan ibunya terkejut bukan main, padahal mereka sama sekali belum menceritakan maksud mereka untuk menanyakan tentang HP Android itu. 

“Alhamdulillah, akhirnya ibu dan adik ini kembali lagi kesini!” Ucap si penjaga konter. Fika dan ibunya saling pandang, tidak mengerti apa maksud dari ucapan si penjaga konter. “Bu, apa ibu mau menukar HP anak ibu? Saat ini saya perbolehkan bu karena sedang ada suatu masalah.” 

Tanya nya agak panik. “Kalau boleh tau ada masalah apa ya mas?” Tanya balik Ibu Fika. “Hmmm.. jadi gini bu, kemarin pas setelah ibu meninggalkan konter ini kebetulan datang 3 orang polisi + satu orang yang tangannya terbogol menanyakan tentang HP Android itu. Awalnya saya agak 

lupa dengan wajah orang yang terborgol setelah saya ingat-ingat saya baru sadar jika ia adalah orang yang menjual HP itu ke toko kami. Hp itu rencananya akan dibawa polisi guna penyelidikan lebih lanjut mengingat barang itu rupanya barang korban pembunuhan!” Fika dan ibunya 

sangat shock, terlebih Fika yang selalu diterror dengan hal-hal diluar nalar. Fika yang penasaran kemudian menanyakan kronologi kejadian pembunuhan tersebut. Menurut pihak kepolisian, kejadian bermula saat kurang lebih 3 minggu yang lalu ditemukan mayat lelaki tanpa identitas 

didekat parit dengan 15luka tusukan di bagian leher, dada dan perut yang membuat usus si korban ikut terburai. Saat itu pihak kepolisian masih menyelidiki siapa korban tersebut, sampai dengan satu minggu kemudian tak jauh dari lokasi TKP penemuan korban, ada laporan kehilangan 

yang setelah diselidiki lebih lanjut adalah benar keluarga korban. Darimulai saat itu polisi lgsg memmburu pelaku, karena menurut penuturan keluarga korban, korban terakhir kali pamit izin untuk bertemu dengan pelaku. Motif pembunuhan nya sendiri karena masalah hutang piutang. 

Tersangka yang bernama Edi kesal karena terus ditagih hutang sebesar 350rb oleh si korban. Dari rumah, Edi rupanya sudah mempersiapkan sebuah pisau dapur untuk menghabisi nyawa korban. Begitu sampai di lokasi titik temu, tanpa banyak berbasa basi tersangka langsung membabi buta 

menusuk leher, dada, dan perut korban sampai korban meninggal. Tak hanya sampai disitu, tersangka pun mengambil HP dan uang tunai korban sebesar 50rb rupiah. Nah, lalu HP itulah yang kemudian ia jual di toko hp ini, ungkap si penjaga konter. Ibu Fika kemudian meminta HP itu 

segera ditukar ke HP yang baru saja, mengingat kejadian terror mengerikan yang baru saja menimpa anaknya. Akhir cerita setelah HP android itu dikembalikan, sudah tidak ada hal-hal aneh yang Fika rasakan. Dan untuk kejadian mengerikan Ibu Erna saat kelas online, baru terungkap 

setelah pembagian raport sekolah. Ibu Erna menceritakan kejadian yang mengerikan saat ia melihat Fika dibelakangnya ada sesosok pocong yang sedang berdiri dengan tubuhnya bergoyang-goyang! Awalnya Ibu Erna hanya melihat sebuah asap tipis namun lama kelamaan asap tipis itu semakin 

jelas terlihat dan membentuk siluet pocong! Sontak saat itu ia langsung meminta Fika mematikan kamera HPnya karena ibu Erna benar-benar sangat ketakutan. 

Thread By @PenulisMalam94

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *