RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Hantu Penjaga Rumah Kakek

Jawa tengah Awal tahun 2000,

Malam itu, mungkin sekitar pukul 22.00, terlihat Rudi tengah membaca koran di ruang TV, membaca koran pagi yang selalu tak sempat ia baca saat matahari masih di atas. 

Suasana rumah sudah sepi, Ayah dan ibunya sepertinya sudah terlelap di kamarnya.

Rudi masih fokus membaca lembar demi lembar koran itu tanpa melewatkan satu artikel pun di temani siaran dari televisinya yang sengaja dibiarkan menyala. 

Hingga beberapa menit berlalu di antara fokusnya, Rudi pun mulai menyadari bahwa suhu ruangan perlahan berubah menjadi panas dan gerah.

“Uhhh.. Kok panas banget to”. Ucap Rudi pelan seraya bangkit dan mengibas-ngibaskan kerah bajunya. 

“Pindah ke ruang tamu ah!!”. Batin Rudi sambil berjalan menuju ruang tamu dengan kedua tangannya yang masih memegang sisi kiri dan kanan koran itu.

” Nah gini kan adem..”. Ucapnya.

Hingga Rudi pun duduk di sofa dan meneruskan bacaanya. 

Namun beberapa saat ia terduduk, tiba-tiba menyelinap bau rokok kemenyan yang membuatnya tersentak.

Seketika ia menurunkan korannya, meletakkannya di atas meja, menoleh kesekitar seraya memajukan hidungnya untuk memeriksa apakah bau itu memang benar-benar tercium olehnya. 

Sempat tercium beberapa saat, tapi bau itu segera hilang, “ah mungkin ini cuma halusinasi kerinduanku kepada mbah kakung saja”. Batin Rudi sambil mengambil lagi korannya dan hendak melanjutkan bacaannya. 

Namun belum sempat ia kembali membaca, bau rokok kemenyan itu tercium lagi, bahkan kini lebih tajam dan diantara kesunyian malam itu, terdengar juga suara “kretek-kretek”. Seperti suara tembakau dan cengkeh yang terbakar dan tengah dihisap!! Suara itu terdengar seperti tepat di depan Rudi. “Aghstafirullah Mbah Kakung!!”. Batin Rudi.

Jujur di keadaan itu Ridu bingung mengekspresikan apa yang dirasakannya. Hingga akhirnya Rudi pun memilih pergi dari ruangan itu dengan menutupi penglihatannya dengan koran yang ia pegang, Rudi berlari menuju kamarnya, mengunci pintu dan duduk memeluk lututnya sambil termangu di atas tempat tidur.

“Apa itu tadi!!!, apakah itu Mbah Kakung!!tidak mungkin!! Mbah Kakung kan sudah meninggal!!”. Batin Rudi yang masih tampak kebingungan mengekspresikan rasa takutnya. 

Hingga malam itu pun berlalu, dengan kejadian aneh itu yang masih Rudi pendam sendiri.

Belum genap 3 minggu Rudi tinggal di rumah ini bersama Ayah dan ibunya. Tepat setelah Mbah Dimedjo (Kakek Rudi) meninggal setahun yang lalu. 

Rumah ini adalah “Omah Candi”, rumah asli milik kakek Rudi yang kini diberikan kepada ayah Rudi untuk ditinggali.

Sesuai Wasiat Harusnya rumah ini dibagi 4, dengan kakak-kakak dari Ayah Rudi, tapi entah kenapa om dan tante Rudi tak ada yang mau dan justru memberikan rumah ini sepenuhnya kepada Ayah Rudi.

Kembali ke cerita.

Selang sehari setelah kejadian malam itu, Rudi kembali mengalami hal yang sama, perihal bau rokok kemenyan yang tetiba membau di indera penciumannya. Kali ini bau itu sampai masuk ke kamar Rudi, membuatnya yang sebenarnya hampir terlelap itu kini jadi terbangun. Entah bagaimana kali ini nalar Rudi mulai sedikit kacau, membuatnya seperti terhipnotis dan lupa jikalau Mbah Kakung sudah meninggal. 

“Jelas ini bau rokoknya Mbah Kakung!!”. Batin Rudi seraya bangkit dari rebahnya.

Rudi mulai berjalan mendekati pintu dengan bau rokok kemenyan itu yang tercium semakin tajam. Perlahan ia membuka pintu kamarnya, mengintip ke arah luar yang agak gelap temaram.

“Kretek..kretek..kretek”. Rokok itu seperti dihisap!! Dan suaranya seperti menggema di ruang tamu. 

“Kung!! Kakung!!!”. Ucap Rudi dengan berbisik sambil berjalan keluar dari kamarnya.

Rudi mulai melangkah menuju sumber suara itu. ” Kung!!! Kakung!!”. Seraya Rudi berucap lagi. Namun ketika langkahnya hampir sampai di ruang tamu, seketika nalarnya mulai kembali!! 

Rudi pun kini mulai ragu dan kembali sadar bila Mbah Kakung sudah lama meninggal!!!!

“Agstafirullah!!! Apa-apaan ini!!”. Ucapnya spontan ketika menyadari bahwa dirinya kini berada di gawang pintu antara ruang tengah dan ruang tamu. 

Bau rokok kemenyan itu belum hilang, masih tercium tajam di hidung Rudi, hingga sesosok pun tiba-tiba muncul di depan Rudi, membuatnya terpaku tak bisa bergerak. Sosok itu hitam dengan muka gelap dan berkerudung. 

Mata Rudi terbelalak, mematung memandangi sosok itu, yang kini mulai mengeluarkan nafasnya yang panjang dengan bunyi yang sangat mengganggu. Sosok itu mulai berjalan mendekat seraya berkata.

“Rene nang, aku kancani!!”

(Sini nak, temani aku!!). Ucap sosok itu. 

Seketika Rudi memundurkan langkahnya, limbung dan terhuyung ke lantai bersamaan dengan suara teriakan yang keluar dari mulutnya, Rudi pingsan tak sadarkan diri setelah melihat sosok tua berkerudung hitam itu. 

Teriakan Rudi tampaknya membangunkan orang tuanya, sang ibu yang pertama kali mendengar itu langsung membangunkan sang Ayah.

“Pak.. Itu kayaknya ada suara teriakkan Rudi”. Ucap ibunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu. 

Hingga akhirnya mereka berdua, bergegas memeriksanya, tampak Rudi sudah tergeletak di lantai, sang ayah buru-buru mengangkatnya dan merebahkan tubuh Rudi di atas kursi di depan TV.

“Rud…Rud.. Bangun Rud..”. Kata ibu sambil menepuk-nepuk pipi Rudi. 

“Dia pasti ‘tidur berjalan lagi’ pak”. Kata ibu yang mengira Rudi mengalami tidur berjalan, karena memang itu sudah kerap dialami oleh Rudi. 

Hingga selang beberapa lama kemudian, Rudi pun diangkat oleh sang ayah dan direbahkan diatas tempat tidurnya, setelah itu Ayah dan ibu pun kembali lagi masuk ke kamarnya tanpa merasa curiga.

Detik pun berganti jam, hingga Rudi terbangun di sela-sela adzan subuh yang berkumandang,

Kepalanya pusing dan kebingungan, dengan ingatan kejadian tadi yang masih hangat didalam pikirannya.

“Apakah ini mimpi?”. Batin Rudi yang melihat ia terbangun di atas ranjangnya. 

Perlahan Rudi bangkit dan keluar dari kamarnya, memandang tirai jendela diruang tamu yang sedikit tersingkap,

Terdengar suara riuh obrolan di arah dapur yang langsung segera Rudi hampiri, ternyata ada Ayah dan ibu di sana tengah mengobrol didepan tungku perapian pemasak air.

“Sudah bangun kamu le?”. Ucap Ayah sambil menghisap rokoknya.

” Iya ini pak, agak pusing, ndak tau kenapa”. Jawab Rudi sambil memijat-mijat keningnya.

“Kamu semalam ngelindur lagi”. Jawab sang ibu. 

“Nglindur gimana buk?”. Tanya Rudi mendekat.

Merekapun mulai memberi penjelasan singkat tentang itu, perihal teriakan Rudi semalam dan ditemukannya tubuhnya yang sudah tergeletak diantara ruang tengah dan ruang tamu. 

Rudi tertegun sejenak mendengar cerita itu. Dan ia pun kini mulai menceritakan argumennya.

“Ndak Pak, Buk!!, semalam saya lihat setan!!!”. Jawab Rudi setelah menceritakan beberapa urutan kejadian semalam. 

Namun Ayah dan ibu malah menanggapinya dengan gelak tawa.

“Halah.. Jangan aneh-aneh kamu itu Rud, hantu disini sudah ndak ada”. Jawab sang Ayah sambil merangkul Rudi dan mengajaknya berjalan menuju ruang tamu. 

“Dulu waktu bapak kecil, memang katanya ada kakek tua berbaju hitam yang sering loncat-loncat di dalam rumah ini, bapak juga pernah lihat sendiri, tapi bapak lupa-lupa ingat sih, soalnya itu dulu banget, waktu bapak masih umur 4-5 tahunan gitu”. Ucap sang Ayah sambil mengajak Rudi duduk di ruang tamu.

Ayah pun mulai mengecilkan suara bicaranya dan berkata membisik kepada Rudi.

“Kalau kamu mengalami dan melihat sesuatu dirumah ini, ceritakan sama bapak saja ya, jangan sama ibumu nanti ibumu takut”. Kata Ayah berbisik kepada Rudi. 

Dalam kegamangannya Rudi pun mengangguk,

“Jadi Bapak percaya kan, apa yang dilihat Rudi?”. Ucap Rudi pelan.

” Percaya..percaya, udah biasa itu, jangan takut”. Jawab Ayahnya seraya bangkit dan berjalan ke arah ruang belakang. 

Rudi mulai beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar rumah untuk menghirup udara segar dipedesaan ini.

Tampak aktivitas, orang-orang berlalu lalang melakukan kegiatannya.

“Pagi Mas Rudi”. Ucap seorang pria paruh baya yang lewat didepan rumah.

” Ya.. Pak, pagi pak”.jawab Rudi sambil tersenyum dan mengingat-ingat siapa nama orang itu.

Yang ternyata adalah Lik Pawiro, pengurus ladang milik mendiang kakeknya. Maklum, baru kali ini Rudi bangun pagi dan saling sapa dengan beliau. 

Tak selang beberapa lama Ibunya keluar sambil menenteng tas belanja, di ikuti oleh Ayahnya yang tampak mengeluarkan sepeda motor.

“Mau kemana?”. Tanya Rudi dengan wajah sayupnya.

” Mau belanja ke pasar, besok kan mau ‘mendak’ Mbah Kakung”. Ucap Sang ibu sambil bersiap naik sepeda motor bersama Ayah.

(Mendak adalah tradisi jawa, untuk memperingati hari kematian seseorang, biasanya dilakukan dengan acara doa bersama).

“Oh..”. Tanggap Rudi sambil mengangguk.

Ayah dan ibu pun pergi ke pasar, Rudi yang melihat matahari sudah semakin menyilaukan matanya pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.

“Buat kopi, enak juga nih”. Ucap Rudi sambil berjalan menuju dapur.

Seraya meracik kopinya, Rudi menyalakan sebatang rokok, di pandanginya pekarangan belakang rumah yang terlihat dari jendela dapur. 

Tampak angka 1955, di atas pintu gudang yang memang terpisah dari bangunan rumah ini.

“Betapa tuanya rumah ini!!”. Batin Rudi seraya mengambil cangkir kopi yang selesai ia buat dan berjalan kedepan untuk bersantai di ruang tamu. 

Pintu depan tampak sedikit terbuka, dengan gulungan koran yang menyelip di sela bawahnya.

“Mbah Kakung ini, udah 2 tahun ndak ada masih aja lengganan koran, siapa yang bayar?”. Batin Rudi sambil mendekat dan mengambil koran pagi itu. 

Bak juragan muda, Rudi membaca koran itu, sambil mengisap rokok dan menyesap kopi hitam.

“Nikmatnya hidup ini”. Batin Rudi bercanda, sambil menirukan gaya duduk mendiang Mbah Kakung. 

Rudi membaca lembar demi lembar koran itu, hingga lupa rokoknya yang habis terhirup angin, baranya menyentuh ujung jemarinya.

“Asuuuu!!!!”. Ucap Rudi spontan yang merasa terkejut kepanasan.

Rudi yang mengibaskan jemarinya seketika terdiam ketika bau rokok kemenyan tiba-tiba tercium menyelinap di hidungnya. Seketika ingatanya kembali ke kejadian tadi malam. Rudi menoleh ke kanan dan ke kiri, suasana tampak sepi. “Masa’ pagi-pagi gini sih!!”. Batin Rudi yang sebenarnya agak merasa ketakutan. 

Hingga pintu pun diketuk..

“Tok..tok..tok.., kulonuwun”.

Terlihat Lik Pawiro yang langsung masuk ke dalam rumah dengan menenteng setandan buah pisang.

” Eh Mas Rudi, bapak sama ibuk kemana?”. Ucap Lik Pawiro dengan senyum khasnya. 

“Ehh..Lagi ke pasar pak, belanja”. Jawab Rudi dengan sedikit terbata.

” Bawa masuk saja pak, itu pisangnya”. Ucap Rudi lagi mempersilahkan.

Sekejap Rudi lupa dengan hal ganjil yang baru saja ia alami, ia pun dengan ramah mengajak Lik Pawiro untuk duduk bersama dengan dirinya diruang tamu itu.

“Sini pak, Rokok-rokok dulu”. Ucap Rudi basa-basi.

” Ndak mas, saya udah ndak ngrokok, suka sesek kalo ngrokok, sebenernya pengen sih, tapi ndak lah..hehehe”. Jawab Lik Pawiro sambil sedikit tertawa. 

“Gimana? Disini krasan to Mas?”. Timpal Lik Pawiro.

” Dikrasan-krasanin lah, pak, rumah ini terlalu tua, ndak cocok buat saya, besok kalo saya udah dapet kerja, paling saya tinggal lagi dikota”. Ucap Rudi menjawab itu. 

“Hussss… Harus krasan mas, njenengan itu lahir disini lho, dirumah ini, lawong ari-ari sampean saja dikubur disini, masa ndak krasan tinggal disini, memang dulu setelah dua bulan njenengan sama bapak ibu pindah ke kota, tapi kan tetep saja, njenengan itu asli orang sini”.canda Lik Pawiro seraya tertawa.

Rudi sedikit tersenyum dan tertarik dengan arah pembicaraan itu. Namun ketika ia ingin berbicara dan membuka mulutnya tiba-tiba terdengar suara.

“Ehemmmm!!!!!!”. Dari ruang tengah, dan mereka tentu familiar dengan suara siapa itu!!!

Lik Pawiro tampak terdiam dan melirik kearah Rudi yang juga terlihat tercengang.

“Siapa itu?”. Ucap Rudi pelan.

Lik Pawiro tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya saja dan bangkit beranjak, berjalan menuju ruang tengah dimana suara itu tadi berasal. 

Namun belum genap empat langkah Lik Pawiro berjalan, suara itu muncul lagi!!. “Eee…eehheemm”.

Sontak Lik Pawiro menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Rudi yang juga kini berdiri mengikuti langkah Lik Pawiro. Dengan penuh ketegangan, mereka yang sempat terhenti kini kembali melangkah. Lik Pawiro mengendap dan mengintip dipinggir gawang pintu. Perlahan memajukan badannya dan masuk ke ruangan tengah itu. Tak ada siapapun disana selain sisa-sa bau asap rokok kemenyan yang berkutat diruangan itu.

Rudi yang juga kini ikut masuk diruangan itu tampak tercengang, kebingungan,

“Mbah Kakung…”. Panggil Rudi yang mulai terbawa suasana.

” Sssttt, itu bukan Mbah Kakung!!!”. Timpal Lik Pawiro dengan wajah yang serius. 

“Tapi!!! Itu tadi kan suaranya mbah Kakung!!”. Ungkap Rudi dengan nada yang ragu.

” Pak Dimedjo sudah meninggal Mas, jangan mengada-ada!!”. Kata Lik Pawiro.

Setelah beberapa saat mereka berdua berkutat diruangan itu, merekapun kini kembali keluar dan duduk diru tamu kembali untuk menjernihkan pikirannya.

Nafas Lik Pawiro tampak terengah-engah, berulang kali ia menoleh ke kanan dan ke kiri.

” Kenapa pak? Ndak papa kan”. Tanya Rudi yang mulai ketakutan.

“Eeeenndakk, papa kok Mas, cuma kaget saja”. Jawab Lik Pawiro. 

“Itu setan ya Pak?, setan kok muncul siang-siang ya?”. Tanya Rudi dengan tanpa berdosa.

Namun belum sempat Lik Pawiro menjawab, suara itu kembali terdengar, kini lebih keras dan berbeda.

“RENE JAGONGAN BARENG!!”

(Mari duduk bersama!!). Hentak suara itu menggema di ruang tengah.

Lik Pawiro dan Rudi yang terkejut, sontak berlari keluar dari rumah.

“Itu bukan Mbah Kakung!!! Itu bukan Mbah Kakung!!”. Kata Rudi panik di pekarangan depan rumah. 

“Udah gila hantu ini!! Muncul di terik matahari!!”. Batin Rudi seraya berjalan menjauh ke pinggir jalanan batu.

Bersamaan dengan itu, Ibu dan Ayah datang dengan sepeda motornya yang penuh sesak dengan barang belanjaan. Lik Pawiro dan Rudi menoleh dengan tatapan bingung yang langsung disambut perkataan oleh sang Ayah.

“Malah, diem aja!! Bantuin bapak ini, nurunin belanjaan!!”. Ucap Ayah yang masih berada di atas motornya. 

Dengan gugup dan aneh, Rudi dan Lik Pawiro segera menghampiri dan membantu menurunkan barang belanjaan itu.

“Tolong bawa masuk ke dapur”. Ucap sang ibu sambil berjalan dan masuk ke dalam rumah. 

Dengan agak mengendap, Rudi dan Lik Pawiro masuk membawa barang-barang itu, melewati ruang tengah dengan sedikit berlari kecil dan menuju dapur.

Lik Pawiro segera berpamitan, dengan terburu dia keluar dari rumah.

“Kenapa sih Lik Pawiro itu?”. Ucap Sang Ayah yang sekarang sudah berada di dapur bersama ibu dan Rudi.

Terlihat sang ibu yang berjalan masuk ke kamarnya, dan disini dengan sedikit membisik Rudi pun bercerita kepada sang ayah, perihal apa yang baru saja ia alami. 

“Yang benar saja!! Masa’ siang-siang gini”. Ucap Ayah sedikit tak percaya setelah mendengar cerita dari anaknya itu.

” Bener Pak!!!, sumpah deh!!, pokoknya, kita harus pindah!! Aku ndak betah kalau terus-terusan begini”. Gerutu Rudi 

Ayah menatap Rudi dan merangkulnya berjalan menuju belakang rumah. Tampaknya ia ingin membicarakan sesuatu.

“Rud, kondisi Bapak sedang sulit, kita mau pindah kemana?, Rudi tahu kan, kenapa kita menjual rumah kita di kota dan pindah kesini?.” Ucap Ayah menenangkan Rudi.

Pembicaraan pun berlanjut yang mana pada intinya mereka tetap harus tinggal dirumah ini karena masalah ekonomi. Rudi pun agaknya mengerti dan sedikit mau menerima alasan itu meski dengan sedikit terpaksa. 

Singkat cerita, malam pun tiba,tepat pukul 9 malam, Rudi sudah berada didalam kamarnya, mengisi teka-teki silang di beberapa koran yang ia bawa masuk dari ruang tamu. Sepertinya Rudi tengah ingin mengalihkan pikirannya, agar tak memikirkan semua keanehan itu. Detik demi detik berlalu, berganti dengan menit, hingga rasa kantukpun menyerangnya, namun baru saja ia mau merebah dan bersiap tidur satu suara terdengar memanggil namanya..

“Di…Rudi”. Begitu kira-kira yang saat itu Rudi dengar.

Suara itu jelas berasal dari luar kamarnya. Rudi menoleh ke arah jam dinding, yang sudah menunjukan pukul 10 lebih. Dengan nada malas, Rudi menjawab panggilan itu, tanpa berfikir siapa orang itu.

“Yaaaaaa…”. Ucap Rudi.

Hingga beberapa detik kemudian otaknya mulai sadar, suara siapa itu. 

“Kok seperti suara Mbah Kakung?”. Batin Rudi yang langsung bangkit dari ranjang seraya mengrenyitkan dahinya.

Seketika tengkuknya bergidik.

” Aghstfirullah!!!!!”. Ucapnya sambil meringkuk di atas tempat tidurnya. 

“Rudi…Rudiiiiii”. Ucap suara yang mirip mbah Kakung itu dari luar kamarnya.

Rudi tentu semakin meringkukan tubuhnya, menutupi kepalanya dengan bantal, sambil berdoa dengan terbata. Meski akhirnya suara itu tak muncul lagi, tapi Rudi tentu masih tak berani membuka pandangannya, untuk sekedar bangkit apa lagi memeriksa.

Keringatnya bercucuran, tubuhnya gemetar ketakutan. Hingga kebetulan hujan turun, dengan cukup deras, barulah perlahan-lahan Rudi berani membuka bantal yang sedari tadi menutupi kepalanya. Untung saja, sang ayah masuk kekamarnya beberapa saat kemudian.

“Belum tidur Rud?”. Kata Ayah yang langsung membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

“Ayo bantu Bapak, dapur bocor banyak banget”. Ucap Ayah setelah melihat Rudi yang matanya masih terbuka lebar.

” Oohh.. Ya pak”. Jawab Rudi dengan sedikit terbata. 

Merekapun mulai berjalan ke dapur, mengambil beberapa ember untuk menadah air hujan yang menerobos masuk di genteng dapur.

Rudi tampak clingak-clinguk menatap sekeliling, dan di suatu sudut diluar jendela dapur, ia melihat sosok yg berdiri, wajahnya pucat dan renta.

Image

Tatapan Rudi berhenti di sudut jendela itu, sambil berjalan mundur ia mencoba untuk memberitahu Ayahnya yang masih membungkuk membersihkan sisa air hujan yang tumpah di lantai.

“Pak..pak”. Ucap Rudi pelan. 

Sang Ayah tentu kepalanya langsung menengadah dan..

“Astafirullah!!!!!”. Kata Ayah yang kini juga melihat sosok itu.

” Tenang-tenang.. Sekarang kita keluar!!”. Ucap Ayah seraya menyeret Rudi keluar dari ruangan dapur itu. 

Kini mereka duduk di ruang tengah, gugup dan gagap, menoleh ke kanan dan kekiri.

“Apa itu tadi Pakkkkkkk”. Kata Rudi tampak menahan tangis.

” Tenang-tenang… Kamu berdoa saja”. Jawab sang Ayah yang kakinya juga tampak gemetaran. 

Bersamaan dengan itu, anehnya hujan yang tadi deras, tiba-tiba reda.. Suasana berubah menjadi hening, dan bau itu muncul lagi!! Ya!! Bau rokok kemenyan yang baru-baru ini sering Rudi cium.

“Pakkkk!!!!”. Kata Rudi dengan sedikit membisik, mengisyaratkan apakah ayahnya itu mencium bau ini atau tidak.

Sang Ayah hanya menganggukkan kepalanya, meraih tangan Rudi dan mengajaknya untuk bangkit dari ruangan itu. Namun dengan anehnya, tiba-tiba, mereka berdua tak bisa bergerak, seperti ada sesuatu yang berat menahan kaki Rudi dan sang Ayah. Dan disini suara dentuman mulai terdengar. Awalnya dari ruang tamu. Dan seakan berjalan mendentum mendekat ke arah mereka.

“Dug…Dug…dug..”

“Dug…Dug..dug..”.

” Dug…Dug..Dug”.

Rudi sudah tak bisa menahan tangisnya.

“Pakkkkk…”. Tangis rudi sambil meremas tangan Ayahnya itu.

Suara itu semakin mendekat, dan dari gawang pintu pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu. Munculah sosok hitam yang Melompat-lompat. Meski tak berani menoleh, Rudi dan Ayah melihat itu dari ekor matanya masing-masing.

“Dug..Dug..Dug!!”. 

Sosok itu pun semakin mendekat, dengan lompatan-lompatan kecil yang aneh, sosok berkerudung hitam itu melewati Rudi dan Ayahnya yang masih duduk terpaku di ruang tengah itu..

“Dug..Dug..Dug!!!”.

Image

Baru setelah sosok itu benar-benar lewat dan berlalu hilang di ambang pintu ruang makan. Kaki Ayah dan Rudi kembali bisa digerakkan.

Mereka berlari menuju ruangan yang paling dekat, yaitu kamar Rudi. Mereka masuk dan segera mengunci pintu. Duduk kebingungan diatas ranjang. 

“Apa itu tadi pak!! Apa itu tadi?”. Tanya Rudi dengan bergetar.

Sang Ayah terdiam sejenak, menghela nafasnya dan berkata.

” Itu ‘Pencolo’ Rud, penunggu kerisnya Mbah Kakung, itu lah sosok yang dulu waktu kecil pernah bapak lihat”. Ucap sang ayah. 

“Harusnya dia sudah tidak muncul lagi, karena kerisnya sudah ‘dilarung’ setahun yang lalu”. Kata Ayah lagi.

” Terus gimana ini pak?, kita ndak bisa kalau begini terus”. Ucap Rudi mendekati ayahnya.

“Besok habis acara mendak Mbah Kakung, Bapak bicarakan sama pakde tentang semua ini”. Jawab sang ayah kepada Rudi.

Detik berlalu, seiring ketegangan yang sudah mulai mereda, Rudi yang ingin tahu lebih jauh, kembali menanyakan bagaimana ‘Pencolo’ ini. Dan disini Ayah pun mulai bercerita. 

“Kalau menurut Mbah kakung, pencolo ini adalah sosok lelembut yang baik, dia penjaga rumah ini, dulu waktu bapak SMP, kalo ndak salah, pernah ada maling yang masuk dirumah ini, dan tidak bisa keluar dan hanya nangis mondar-mandir saja diruang tamu, sampai akhirnya di pergoki oleh Mbah Putri yang hendak keluar ke masjid subuh hari, kata mbah Kakung itu ulahnya Si pencolo ini, cuma kadang dia memang suka jahil, kadang berpura-pura jadi Mbah Kakung dan kadang juga tiba-tiba menampakkan diri, semua orang seperti pakde dan bude-bude kamu juga pernah lihat si pencolo ini”. Ungkap Ayah diakhir pembicaraan itu.

Tak terasa sudah lewat tengah malam, Ayah menyuruh Rudi untuk segera tidur, begitu juga Ayah yang kini ikut merebah di samping Rudi.

“Sudah, kita tidur saja, besok kita masih banyak kegiatan anggap saja tidak ada apa-apa”. Ucap Sang ayah sambil memejamkan matanya.

Rudi pun memiringkan tubuhnya, membelakangi ayahnya, memejamkan matanya hingga akhirnya ia pun tertidur dengan lelapnya. 

Singkat cerita hari berikutnya, tibalah mereka di acara ‘mendak’ Mbah Kakung.

Tampak seluruh keluarga sudah berkumpul, melakukan do’a dengan hikmat, dihadiri oleh beberapa kerabat, dan para warga desa. 

“Mas jangan pulang dulu ya, ada yang mau saya bicarakan”. Kata ayah kepada pakde Cokro, kakaknya. Beberapa saat setelah acara itu selesai.

Tampak ibu Rudi dan bude Siti (istri pakde Cokro) tengah mengobrol di dapur.

” Ada masalah apa sih?”. Tanya Budhe siti kepada ibunya Rudi.

“Ndak tau mbak, ndak apa-apa deh sepertinya, palingan mau ngomongin hasil kebun Mbah Kakung”. Jawab ibunya Rudi yang memang tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi.

Sementara itu, diruang tamu sang Ayah mulai membuka pembicaraan dengan Pakde Cokro. 

“Pencolo, muncul lagi Mas, “. Kata sang Ayah dengan pelan.

” Ah Mosok sih, kan dulu kerisnya sudah dilarung”. Jawab Pakde Cokro meragukannya.

“Beneran Mas, saya semalam lihat sama Rudi, apakah ini ada pertanda?”. Kata Ayah dengan wajah yang sangat serius. 

“Kasihan Rudi, Mas, dia ketakutan, takutnya dia ndak krasan tinggal disini”. Timpal Sang Ayah lagi.

Pakde Cokro terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu, dan ia pun berkata.

” Jadi benar kata Mbah Carik ya (teman mbah kakung), kalau pencolo itu memang ndak bisa dilarung”. Ucap Pakde Cokro sambil bergumam.

Dan selang beberapa detik tiba-tiba wajah Pakde Cokro menjadi aneh, melihat ke arah Ayah Rudi, seraya memuncungkan batang hidungnya.

“Wahhh, bener katamu!! Ini baunya muncul”. Ucap Pakde Cokro yang juga diiyakan oleh Ayah Rudi yang juga tampak mencium bau rokok kemenyan itu.

“Ibunya Rudi sudah tahu?”. Tanya Pakde Cokro kepada sang Ayah, apakah istrinya sudah mengetahui hal ini.

” Ndak tau mas!!, jangan sampai tahu!!, dia itu penakut, bisa-bisa dia minta pindah dari rumah ini”. Jawab Sang Ayah kepada pakde Cokro,

“Tapi nanti pasti bakalan tahu sendiri lho”. Kata Pakde Cokro memperingatkan Ayah Rudi.

Dan benar saja, belum sampai beberapa detik saja Pakde menutup mulutnya, terdengar teriakan dari arah dapur, disusul oleh ibu Rudi dan Bude Siti yang berlari kedepan.

“Ada suara orang batuk-batuk!!! Didapur!!”. Kata Bude Siti dan ibunya Rudi setelah berlari dan sampai diruang tamu.

Bersamaan dengan itu, Rudi yang mendengar teriakan itu juga keluar dari kamarnya dan menghampiri.

Dan…

Suasana berubah menjadi riuh, terutama Ibunya Rudi yang memang penakut, tampak berkaca-kaca menahan tangis.

“Tenang..tenang.. Ndak Papa”. Ucap Pakde Cokro yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur.

Diikuti juga oleh sang Ayah dan Rud yang sepertinya merasa penasaran.

Pakde Cokro, Rudi dan Ayahnya kini berada di dapur, memeriksa setiap sudut diruangan itu dan tidak menemui apapun.

Pakde terlihat menghela nafasnya seraya melihat ke arah jendela dapur.

“Ayo kedepan lagi!!”. Ucap Pakde sambil berjalan keluar dapur.

Diikuti oleh Rudi dan sang Ayah dibelakangnya. Dan sekira 2 langkah kaki mereka berjalan, terdengar suara yang sangat amat jelas!! Menggema fi ruangan dapur itu.

“IKI AKUU…PENCOLO!!!”. Begitu suara itu terdengar.

Rudi yang terkejut, melompat sampai hampir terjatuh.

Sang Ayah terlihat memegang pundak Pakde Cokro.

“Anteng..tenang.. Kita jalan saja keluar”. Ucap Pakde dengan cukup tenang.

Mereka pun berjalan kembali menuju ruang tamu dengan wajah yang sudah tampak aneh.

Pakde pun duduk menenangkan diri.

“Jangan pada pulang ya, tidur disini dulu malam ini”. Ucap Sang Ayah yang sepertinya nyalinya menciut. 

“Ada apa sih ini??”. Tanya ibu yang kini sepertinya ingin tahu.

Sang ayah melirik ke arah Pakde, dan disini Pakde Cokro pun mulai menceritakan yang sebenarnya. Bahwa semua ini adalah ulah dari “Pencolo”. Penunggu keris Mbah Kakung yg sebenarnya sudah dilarung setahun yang lalu. 

Malam itu pun, Pakde Cokro dan Bude Siti tidur dirumah itu, menemani mereka yang ketakutan. Dan untungnya malam itu pun berlalu tanpa ada kejadian apapun. 

Singkat cerita selang satu hari, Pakde Cokro dan Ayah Rudi mencoba menanyakan kemunculan Pencolo ini ke Mbah Carik, sahabat lama Mbah Kakung yang dulu sempat ikut dalam acara Pelarungan Keris Pencolo ini. 

Dengan menggunakan Mobil, Pakde Cokro dan Ayah Rudi pergi ke rumah Mbah Carik.

“Untung Mbah Carik masih hidup ya”. Kata Ayah Rudi kepada Pakde di dalam perjalanan mobil itu.

” Iya, walaupun sudah sepuh, Mbah Carik ini sehat-sehat saja, kemarin aku sempet ketemu diacara kondangan Cucunya”. Jawab Pakde Cokro diatas kursi kemudinya.

Singkat waktu, sampailah mereka di rumah mbah Carik, seperti di sambut, Mbah Carik tampak duduk diteras rumahnya.

“Ehhh anak lanang!!”. Kata Mbah Carik setelah melihat Pakde Cokro dan Ayah Rudi keluar dari mobil. 

“Sini masuk-masuk!! Ono opo ki kok tumben-tumben main kesini”. Kata Mbah Cokro lagi dengan ramah.

” Sehat, Pak..”. Ucap Pakde Cokro berbasa-basi.

Hingga merekapun masuk, sedikit berbincang menanyakan kabar dan akhrinya Pakde mulai membuka topik pembicaraan itu. 

” Anu, Pakde Carik, inget kan pencolo? Penunggu keris Bapak yang dulu dilarung di kali progo?”. Kata Pakde mengawali obrolan itu.

“Yo jelas inget to ya, Bapakmu itu terkenal bogel ya karena keris itu”. Jawab Mbah Carik sambil tertawa.

” Iya Pakde, Pencolo sepertinya kok balik lagi, kemarin kami di datangi, dan kami yakin itu adalah Pencolo”. Jawab Pakde Cokro merunduk dengan wajah yang serius.

“Balik gimana? Memangnya dia pernah pergi? Hahaha”. Jawab Mbah Carik dengan tertawa.

” Gini yo nang!!, sudah saya bilang, Pencolo ndak bisa di larung, pencolo itu sudah seperti istri Dimejdo yang pertama, dulu kan yang nglarung bukan Bapakmu sendiri, tapi anak-anaknya yg sebenarnya ndak tau apa-apa, ibumu itu dulu yang ngeyel nyuruh keris pencolo dilarung gara-gara dia sakit, padahal sakitnya mendiang ibumu itu wajar, cuma kebetulan saja, 7 hari setelah keris itu dilarung, beliau meninggal”. Begitu kira-kira kata Mbah Carik kepada Pakde Cokro dan Ayah Rudi.

“Terus sekarang bagaimana Pakde? Solusinya, biar si Pencolo ndak muncul-muncul lagi?”. Tanya Pakde Cokro. 

“Ya ndak bisa, pencolo itu ada sebelum kalian-kalian ini lahir, bahkan sebelum Dimejdo nikah sama ibumu, gini saja, nanti kita kerumah, saya mau bicara sendiri dengan Pencolo!!”. Kata Mbah Carik kini dengan muka yang serius. 

Perbincangan berlanjut cukup panjang, hingga sore menjelang, barulah Mereka kembali ke rumah itu dengan mengajak Mbah Carik.

“Anak dan istrimu jangan tidur dirumah dulu malam ini”. Bisik Mbah Carik kepada ayah Rudi sesaat setelah mereka sampai di rumah. 

Singkat waktu setelah bertegur sapa sejenak, Ayah pun menyuruh Rudi dan ibu untuk menginap ke rumah Pakde Cokro malam ini.

“Ini buat beli rokok, Pakde sama Bapak mau ada urusan malam ini”. Ucap Pakde Cokro sambil memberikan uang pecahan 20rb rupiah kepada Rudi. 

Rudi dan ibu nya pun pergi dari rumah itu, menggunakan sepeda motor menuju rumah Pakde Cokro, untuk menginap malam ini.

Setelah itu, Berbincanglah mereka diruang tamu sambil menunggu malam. 

Mbah Carik mengeluarkan selembar kain putih lusuh dan keris dibalik bajunya dan meletakkannya diatas meja.

“Ini, mirip kan sama keris bapakmu”. Ucap Mbah Carik setelah meletakkan kedua barang itu.

” Keris bapakmu itu sebenarnya kembar dengan keris ku, hampir sama lah.. kita dulu dapatnya sama-sama waktu tirakat di ‘Lembah pati’, isinya juga sama, sosok pria tua berkerudung hitam yang jalannya lompat-lompat”. Kata Mbah Carik lagi.

Pakde Cokro dan Ayah Rudi hanya bergumam heran sambil menganggukkan kepalannya mendengar penjelasan singkat dari Mbah Carik barusan. Hingga Mbah Carik mulai mengeluarkan ‘Slepen’ nya ( wadah tembakau) dari sakunya, meracik dan melintingnya, membakarnya dan menghembuskannya ke langit-langit.

“Bau ini pasti yang kemarin kalian cium”. Ucap Mbah Carik setelah menghisap linting tembakaunya itu.

“Benar sekali Pakde, kayak rokoknya Mbah Kakung dulu”. Jawab Ayah Rudi seraya mendekat.

” Iya, pencolo itu ibarat kembaran bapakmu!!, saking sayangnya ‘dia’ suka meniru, kebiasaan-kebiasaan bapakmu ketika masih hidup”. Kata Mbah Cokro yang setelah itu menyuruh Ayah Rudi untuk membuat kopi.

Singkat cerita, sambil berbincang ‘ngalor-ngidul’ tak terasa malam sudah semakin larut, Pakde Cokro dan Ayah Rudi sampai lupa dengan tujuannya Mengajak Mbah Carik kerumah ini. Hingga suara pun muncul, disela-sela obrolan hangat itu.

“Dug..Dug..dug!!!”.

” Dug..Dug..Dug..!!”.

“Sssttttt”. Mbah Carik menyuruh Pakde dan Ayah Rudi untuk diam.

” Itu..itu.. Pencolo sudah bangun”. Kata Mbah Carik seketika membuat Ayah Rudi dan Pakde Cokro tengkuknya bergidik.

“Dug..Dug..Dug..”.

” Dug..Dug..Dug..”.

Mbah Carik bangkit, mengajak Pakde Cokro dan Ayah Rudi untuk mengikutinya.

“Ayo, tapi apapun yang kamu lihat, jangan lari ya!!”. Kata Mbah Carik sambil berjalan semakin masuk ke dalam rumah. 

Bau rokok kemenyan kembali tercium, disudut gawang pintu antara ruang makan dan dapur, tampak sekelebat bayangan hitam melintas, dengan lambat berjalan melompat.

Sangat jelas karena memang semua lampu dihidupkan. Mereka berjalan mengendap mengikuti bayangan hitam itu. 

Masuk ke dapur, dan keluar menuju pekarangan belakang rumah.

“Oh disitu pasti tempatnya!!”. Ucap Mbah Carik yang nafas tuanya terengah menunjuk ke arah gudang belakang rumah.

” Itu ruang kerja Bapak dulu Pakde”. Kata Ayah Rudi kepada Mbah Carik. 

Mereka pun perlahan mendekat, ke gudang tua itu,

“Ayo buka!!”. Ucap Mbah Carik menyuruh Pakde Cokro membuka pintu gudang itu.

Namun baru saja tangan Pakde menyentuh gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara dentuman yang mengagetkan mereka semua. 

“Duar!!!!!!” Begitu kira-kira suara itu berawal dan diteruskan oleh suara keributan dari dalam gudang tua itu. Seperti seseorang yang tengah mengamuk, mengobrak-abrik barang-barang didalamnya.

Mendengar itu Mbah Carik terlihat melepaskan keris yang sedari tadi digenggamnya itu dari sarungnya, seraya mengibas-ngibas kain putih yang mengeluarkan aroma wangi.

“Pencolo!!!… Pencolo!!!!, iki aku Sukir!! Isih eling aku ora?”.

(Pencolo!!!….Pencolo!!!, ini aku Sukir!! (nama asli mbah Carik), masih ingatkah denganku?”. Kata Mbah Carik dengan suaranya yang bergetar.

Setelah perkataan dari Mbah Carik barusan, tiba-tiba keributan didalam gudang itu hilang berganti dengan suara hentakan-hentakan tanah sepertu tadi di awal.

“Dug..Dug..Dug!!!”. Menghentak di lantai ruangan gudang tua itu. 

“Pencolo!!!! Pencolo!!!”. Teriak Mbah Carik dari luar.

Dan hentakan itu pun hilang, berubah menjadi gagang pintu gudang yang bergerak-gerak sendiri sekitar tiga kali.

” Grek!!!grek!!!grekk!!”.

Kemudian diam.. Dan “Dug..Dug..Dug!!!!!”. Hentakan itu kini pindah keluar gudang.

Ayah Rudi spontan menoleh ke kanan, ke arah dimana hentakan itu berasal. Dan ia pun terkejut. Melihat Pakde Cokro yang kini melakukan hentakan itu. Melompat-lompat diam disatu tempat.

” Dug…Dug…Dug!!!”. 

Mbah Carik yang menoleh pun kini berkata.

“Nah.. Mlebu ki Pencolo!!”.

(Nah Masuk nih Pencolo). Ucap Mbah Carik sambil memegang tubuh Pakde Cokro.

Menurut Mbah Carik, kini Pakde Cokro kerasukan si Pencolo ini. Ayah Rudi yang sedikit takut terlihat memundurkan langkahnya. 

“Dug!!!Dug!!!Dug!!!”.

Pakde Cokro terus saja melompat-lompat tak terkendali, Mbah Carik sedikit merangkulnya untuk menenangkannya.

” Hesss!!!!hesss Pencolo!!!!”. Ucap Mbah Carik berbisik sambil mengacungkan bilah kerisnya. 

“Karepmu piye?”

(Maumu apa?). Kata Mbah Carik lagi.

Dan disini Pakde Cokro yang diduga tengah kerasukan Pencolo itu pun berhenti menghentak. Pakde terdiam, dan lama kelamaan mulai menangis terisak. Ayah Rudi mendekat dan ikut memegangi kakaknya yang kerasukan itu. 

Sementara Mbah Carik, terus menerus bertanya, “Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pencolo ini”.

Hingga entah apa yang terjadi, tiba-tiba Pakde Cokro terhuyung dan terjatuh lemas setelah wajahnya diusap kain oleh Mbah Carik.

” Ayo digotong masuk!!”. Ucap Mbah Carik menyuruh ayah Rudi.

Pakde sedikit sadar dan dipapah masuk oleh ayah Rudi, sampailah mereka di ruang tengah.

“Kae Gudang kudu diresiki”.

(Itu gudang harus dirapikan). Ucap Mbah Carik terengah-engah sambil bertolak pinggang. 

Pakde yang sudah semakin sadar, sepertinya juga mendengar perkataan dari mbah Carik barusan.

“Jadi gimana ini Pakde kelanjutannya?”. Tanya Ayah Rudi kepada Mbah Carik.

” Ya itu, besok gudang harus dirapikan, itu maunya pencolo!!”. Jawab Mbah Carik. 

Jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, Mbah Carik meminta mereka untuk mengantarnya pulang.

“Yawess, sekarang saya dianterin pulang, dan jangan lupa pesan saya, besok Gudang harus dirapikan!!”. Kata Mbah Carik yang langsung di iyakan oleh Pakde Cokro dan Ayah Rudi. 

Singkat cerita setelah mengantarkan Mbah Carik pulang, Pakde dan ayah Rudi kembali kerumah, dengan wajah penuh keraguan setelah apa yang mereka lalui tadi.

“Baru tadi, aku lihat si Pencolo dengan sangat jelas”. Ucap Pakde kepada ayah Rudi saat duduk di ruang tengah. 

“Ternyata kakinya hanya satu!!”. Kata Pakde lagi sambil menghela nafasnya.

Ayah Rudi tak menanggapi perkataan kakaknya iti dan segera menggelar kasur lantai, untuk mereka tidur malam ini.

Hingga akhirnya merekapun mulai saling merebah setelah keanehan-keanehan yang mereka alami malam itu. Kelelahan tampak di wajah Pakde Cokro dan Ayah Rudi, membuat mereka menjadi tak terlalu mengambil pusing kejadian ini.

Mereka pun tertidur, dan bangun di subuh hari, sekira pukul 05.00 pagi, ketika matahari sudah sedikit muncul.

“Ayo Mas!! Kita ke gudang!!” kata Ayah Rudi menepuk tubuh Pakde Cokro.

“Sebentar, nunggu langit terang dulu”. Jawab Pakde sambil bangkit dan berjalan menuju dapur untuk mencuci muka dan membuat minuman hangat. 

Singkat waktu sekitar pukul 7 pagi, masuklah mereka ke gudang tua itu, semua tampak porak poranda, kecuali satu kursi dan sebuah mesin jahit yang masih berdiri tegak, itu barang kesayangan Mbah Kakung di masa senjanya, memang beliau dulu gemar sekali menjahit. Dengan payah mereka merapikan ruangan sekitar 8×8 meter itu, hingga selesai sekitar pukul 9 pagi.

“Semoga yang dikatakan Mbah Carik benar ya mas!!”. Kata Ayah Rudi sesaat setelah keluar dari gudang tua itu. 

Haripun berlalu, benar saja setelah gudang itu dirapikan seperti sedia kala, pencolo tak pernah muncul lagi, mengganggu ketenangan Rudi, Ayah dan ibunya yang sampai sekarang masih tinggal dirumah itu. 

Hanya saja, kadang, mesin jahit didalam gudang itu suka berbunyi sendiri, seakan ada yang sedang menggunakannya, Mbah Carik yang kembali dimintai pendapat perihal ini hanya mengatakan agar semua tenang, itu tidak apa-apa, dan menyuruh untuk sesekali membersihkan gudang itu

“Pencolo memang bukan manusia, tapi seperti yang kalian ketahui sendiri, dia ‘Ada’, dan percayalah semua akan baik-baik saja”. Kata Mbah Carik menutup kisah ini.. 

Sampai cerita ini ditulis, Rudi masih tinggal dirumah ini bersama anak dan istrinya begitu juga dengan ibunya, sayangnya sang ayah sudah meninggal sekira 9 tahun setelah rangkaian kejadian-kejadian itu. 

Cerita ini diceritakan oleh Rudi berdasarkan cerita sang ayah dulu dan beberapa kejadian yang pernah Rudi alami sendiri.

Rudi, istri, anak dan ibunya kini hidup wajar dan bahagia dirumah itu, dan sudah sangat terbiasa dengan kejanggalan-kejanggalan kecil yang mungkin sering terjadi, seperti mesin jahit yang berbunyi sendiri, bau rokok kemenyan yang tiba-tiba tercium, dan sklebatan bayangan hitam yang wara-wiri.

“Oh, pencolo minta gudangnya dirapikan”. Kata Rudi di akhir wawancara saya beberapa bulan yang lalu. 

Begitulah cerita ini berakhir, tanpa ada jiwa yang direnggut, hanya manusia yang kala itu merasa takut.

Sekian cerita ini saya tulis dengan seadanya, apa bila ada kekurangan dan kesalahan kata mohon dimaafkan, sampai jumpa di cerita lain :))

TAMAT 

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *