RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Hari Raya Kelam

Tari(bukan nama sebenarnya) adalah seorang perempuan berkulit kuning langsat dan memiliki rambut yang ikal mayang sebatas punggung, hari itu ia nampak sedang duduk di terminal bus dengan tas besar dan beberapa kotak kardus berisi kue lebaran yang sudah ia beli sebelumnya.

Raut wajahnya sesekali merengut melihat beberapa orang laki2 yang terus menggodanya sedari tadi. Sudah beberapa kali ia berpindah tempat duduk, tapi laki2 itu terus saja mengikutinya. Seorang bapak2 dengan ikat kepala merah mendekati laki2 tersebut, beliau sesekali menunjuk ke arah tari duduk, meskipun perkataan bapak2 itu terdengar jelas namun tari tidak mengerti arti bahasa mereka. Tapi yang pasti, tidak lama setelah itu semua laki2 tersebut akhirnya pergi meninggalkan terminal.

“Kau tidak apa2 kan?”

“Tidak pak, terima kasih ya pak.” ucap tari, walau ia tidak mengerti apa yang dikatakan si bapak pada orang2 itu tadi, namun tari yakin jika bapak itu adalah orang baik.

“Sama2. Mereka itu pambusau(pemabuk) di sekitar sini. Memang sering membuat onar. Di sekitar terminal ini tidak ada yang berani menegur mereka selain aku. Itupun tadi ada anak kecil yang memberitahuku kalau mereka mengganggu seorang perempuan.” 

“Ya sudah, kalau begitu aku mau pergi dulu, kau duduklah disini, mereka tidak akan menganggumu lagi.” lanjut si bapak

“Terima kasih pak.”

Beberapa buah bus sudah berangkat dengan ke berbagai daerah tujuan. Sementara bus yang akan di naiki tari jadwal keberangkatan nya masih beberapa jam lagi.

“Ding(dik), kakak beli kue babungku nya.” panggil tari pada 2 orang anak kecil yang tengah menjajakan dagangan nya 

Mereka nampak bergegas berjalan menghampiri tari,

“Berapa?”

“2000 satu.”

“Beli 5 ya.”

Setelah menerima harga kue yang di beli oleh tari, mereka berdua pun lantas pergi untuk lanjut berjualan keliling. 

“Hati2 ya pak, kalau bisa saya minta tolong agar kotak2 saya ini di taruh di bagian atas. Karna isinya kue2 kering.” ujar tari

Tari menarik nafas lega begitu sudah berada di dalam bus. Ia duduk bersebelahan dengan seorang pemuda yang mengenakan headset berwarna putih di telinganya. Pemuda itu mengenakan switter hitam dengan celana jeans panjang yang juga berwarna hitam. Wajahnya cukup tampan menurut tari yang pada saat itu asyik curi2 pandang menatap si pemuda. Tiba2, dering telepon tari berbunyi. Cukup membuatnya malu ketika si pemuda menatapnya sambil tersenyum.

“Halo..”

“Tari. Ab.. H..”

“Halo, suara kakak putus2 ini. Gak jelas.”

Suara di seberang telepon hanya terdengar bergemuruh, dan kadang2 seperti suara semut. Apa yang di ucapkan kakaknya pun tidak bisa di dengar dengan jelas oleh tari. Tutt.. Akhirnya dengan raut kesal, tari mematikan telepon nya.

Sekitar setengah jam perjalanan, tari mulai di serang rasa kantuk. Akhirnya ia tertidur, di tengah riuh nya suara musik bus yang mendayu2. Tari terbangun dan lantas memegangi pipinya. Dan kemudian menarik nafas lega begitu sadar bahwa yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi. Tari menatap ke sekeliling, orang2 nampaknya sudah tertidur lelap. Hanya supir bus, tari dan beberapa penumpang di depan yang terjaga.

Tari menghidupkan hp nya. Dan beberapa kiriman video masuk. Di dalam video itu tari melihat ayahnya tergantung dengan seutas tali. Wajah tari seketika berubah, nafasnya mulai tersengal.

“Ada apa ini? Kenapa ini?” batin nya

Video terjeda, karena rupanya bus sudah memasuki area jalanan yang di kiri dan kanan nya hutan. Ingin rasanya tari segera sampai di rumah, namun perjalanan nya masih cukup jauh.

“Mau minum?” tanya si pemuda seraya menyodorkan sekaleng sprite

Tari menggeleng, Namun si pemuda langsung membuka nya, lalu kemudian memberikan kaleng tersebut pada tari. 

“Minum lah. Ku lihat wajahmu nampak tegang sekali. Siapa tau minuman ini bisa membuatmu sedikit tenang.”

Tari tersenyum, namun jelas itu senyuman terpaksa.

“Eri. Nama ku Eri.” ucap si pemuda 

Tari mengangguk,

“Namamu?”

“Ta, tari.”

“Salam kenal ya tari.”

“Iya.” ujar tari singkat

Melihat raut wajah tari yang semakin kusut, Eri yang tak tau apa2 itu pun lalu mencoba menghiburnya. Ia juga memasang kan sebelah headset nya di telinga tari dan mulai memutar lagu2 cinta. Saat Eri sudah tertidur, Tari melepaskan headset pada telinganya. Dan ia mulai menangis sesenggukan. 

“Hey, kau kenapa?” tanya Eri

“Maaf, maaf sekali kalau aku terlalu lancang, tapi kalau memang kau sedang sedih atau ada sesuatu yang menyakitkan, kau bisa cerita padaku. Aku akan mendengarkan ceritamu, dan melupakan nya setelah itu.” 

Tangis tari semakin kencang, jujur saja selama ia hidup di perantauan. Hanya kali ini ada orang yang berkata seperti itu padanya.

“Ayahku meninggal, gantung diri. Aku tidak tau apa masalah yang sedang ayahku alami sehingga dia memilih untuk mati. Padahal dia tau aku sangat bergantung padanya, sangat menyayanginya. Dialah alasanku satu2nya untuk pulang ke kampung menjelang hari raya setiap tahun nya. Tapi, tapi dia lebih memilih mati, di saat aku sudah hampir sampai di kampung.” 

Eri mengusap2 bahu tari, wajahnya juga terlihat ikut bersedih.

Bus mulai memasuki jalanan yang kiri kanan nya sudah terpasang lampu. Beberapa warung makan pinggir jalan juga nampak ramai. Bus berhenti di sebuah rumah makan yang memiliki halaman parkir cukup luas. Para penumpang mulai turun, sementara tari dan Eri masih duduk di kursinya masing2. Mata Eri lekat menatap rumah makan tersebut, seperti ada sesuatu yang janggal tengah ia perhatikan. Tari mengecek hp nya, berharap kalau di daerah itu ada sinyal untuk menelepon kakaknya.

“Kartumu apa? Yang ku tahu di daerah sini, selain telkomsel, kartu lain tidak ada sinyal.” 

Tari menarik nafas panjang,

“Ini, pakai saja hp ku untuk menelepon keluargamu.” ujar Eri seraya menyodorkan hpnya

Tari mengambil hp tersebut lalu mulai mengetik nomor kakaknya.  Saat tersambung, tari langsung meminta untuk jangan terlebih dulu menguburkan ayahnya. Karena dia ingin mencium jasad ayahnya untuk terakhir kali sebelum di makamkan. Namun suara kakaknya terdengar putus2, sama seperti sebelumnya. Sehingga kemungkinan apa yang di katakan tari tidak bisa di dengar jelas oleh sang kakak.

Tit.. Sambungan telepon terputus karena ternyata pulsa Eri habis. 

“Aduh, pulsaku habis. Sebentar ya, aku beli dulu.” ujar Eri

“Jangan, tidak usah. Suara kakak ku juga tidak terdengar jelas. Mungkin pemancar sinyal di kampungku bermasalah lagi.” 

“Oke. Tapi aku permisi lewat sebentar ya. Mau buang air kecil, sekalian beli makan.”

Tari mengangguk. Setelah Eri keluar, Tari berpindah duduk ke kursi Eri, ia menyenderkan kepalanya pada kaca bus. Tari memijit2 pelipis matanya yang terasa sangat lelah.

Bruuuuukkk… Suara sesuatu jatuh dari arah belakang mengagetkan tari. Awalnya ia mengira kalau suara tersebut merupakan ulah dari salah satu penumpang, namun ketika ia melihat kesekeliling, tak ada siapapun di dalam bus itu selain dirinya sendiri. Di pinggir jalan yang tidak begitu jauh tari melihat Eri yang sedang berjalan sambil menenteng bungkusan plastik. Saat Eri sudah masuk ke dalam bus, tari pun sudah pindah ke kursinya semula.

“Nih makan dulu.” ujar Eri memberikan bungkusan nasi goreng pada tari 

“Terima kasih. Tapi aku gak lapar.”

“Aku tau kamu sedih, tapi kamu juga harus jaga kesehatanmu. Makan ya, aku sudah belikan, gak usah di bayar. Aku ikhlas.”

Lagi2 tari menghela nafas panjang, ia benar2 kehilangan selera makan begitu melihat video yang dikirimkan oleh sang kakak. Dan yang saat itu ia ingin kan hanya satu, yaitu segera sampai ke rumahnya. Tapi melihat kebaikan Eri, Tari tak bisa menolak. Mereka berdua pun kemudian makan bersama. Fajar mulai menyingsing ketika bus sudah hampir sampai di terminal tujuan. Tari bergegas bersiap2 untuk keluar, bahkan ketika bus baru akan memasuki area terminal, 

“Tari..”

“Ya”

“Boleh aku meminta nomor hp mu?”

Tari mengangguk, lalu menyebutkan nomor hp nya.

Eri tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal pada tari yang kemudian naik ojek untuk menuju ke kampungnya. 2 jam lamanya tari duduk di boncengan tukang ojek yang sarat muat akan barang bawaan tari tersebut, punggungnya juga terasa sangat sakit, terlebih bagian pantat nya yang sudah terasa kram dan nyut2an. Akhirnya ia pun sampai di rumah. Bendera hijau bertuliskan innalillahi itu masih terpasang di depan rumah yang berarti jenazah ayahnya belum dimakamkan.  Tari berlari masuk dan langsung memeluk jenazah sang ayah. Tubuh juga wajahnya pucat dan dingin sekali.

Tari hampir saja pingsan andai tidak langsung di peluk oleh kakaknya. 

“Sudah dik, ikhlaskan ayah.”

“Tapi kenapa?? Apa penyebabnya kak?!!”

“Nanti kakak ceritakan. Sekarang lebih baik kita urus dulu untuk pemakaman ayah. Orang2 di kampung tidak ada yang mau membantu.” 

“Kenapa?”

“Karena ayah mati bunuh diri.”

Singkatnya, setelah pemakaman ayahnya. Malam itu tari duduk termenung di dalam kamar sang ayah, kamar yang menjadi saksi atas kematian ayahnya. 

“Dik.”

“Ceritakan kak. Sebenarnya ayah ada masalah apa? Rasanya tidak mungkin karena uang(ekonomi).”

“Ya kamu benar dik. Kami mendapat banyak masalah setelah kau pergi. Aku dan suamiku bercerai karena ulah mertuaku. Aku bahkan seringkali mengalami KDRT, 

Ayah sangat terbeban pikiran nya dengan masalahku, apalagi lagi saat ia mendengar aduan dari tetangga mama yang mengatakan kalau saleha pernah mengaku kalau sudah di perkosa oleh suami baru ibu. Kami kaget sekali waktu itu dan hampir tidak percaya, karena kau tau sendiri kan betapa alim dan baiknya ayah tiri kita itu?

Ayah mengusut dan menyelidiki sendiri. Dan akhirnya terungkap kenyataan yang sebenarnya, kalau memang benar suami ibu sudah berulangkali memperkosa saleha. 

Bayangkan saja, adik kita yang baru berusia 12 tahun, di perkosa berulang2kali oleh manusia bejat itu. Ayah tidak bisa mengontrol emosinya, beliau marah, dan perkelahian pun terjadi begitu saja. Ayah mengamuk membawa parang, dan melukai suami baru ibu, tangan nya putus. Terkena tebasan parang ayah. Tapi yang anehnya, disini ayah disalahkan karena di anggap main hakim sendiri tanpa adanya bukti. ya aku tau mereka memang benar, cara ayah memang salah untuk membela anaknya. Beliau bahkan sempat kabur2an menghindari kejaran polisi. 

Disitulah aku membujuk saleha untuk mau bersaksi atas apa yang sudah terjadi padanya selama ikut ibu. Dan setelah kesaksian saleha, keadaan mulai sedikit tenang. Awalnya ku kira semua akan jadi akan baik2 saja. Tapi ternyata tidak, saleha bunuh diri dan kematian saleha itu membuat ayah kalap mata. Kau tau sendiri kan bagaimana sifat ayah jika salah satu putrinya di ganggu orang. Apalagi kejadian saleha ini, bukan hanya membunuh mentalnya, tapi juga menyebabkan kematian nya. 

Waktu itu aku sudah menasehati ayah, untuk jangan mengotori tangan nya dengan darah manusia bejat itu. Tapi ayah bilang begini ‘nyawa harus dibayar dengan nyawa. Seperti apa perbuatan nya terhadap putri ayah, seperti itulah ayah akan membalasnya. Bahkan ayah tidak peduli kalau harus melangkahi puluhan bahkan ratusan mayat untuk membela anak2 ayah.” cerita sang kakak di iringi dengan isakan tangis pilu Tari memeluk erat kakaknya. Setelah emosinya sedikit mereda, ia kembali melanjutkan ceritanya.

“Ayah benar2 membunuh suami baru ibu. Bahkan mertua dan bekas suamiku juga, saat mereka dalam perjalanan keluar kota. Malam nya ayah datang menemuiku, untuk berpamitan pergi. Karena memang pada saat itu ayah sedang di cari2 orang dan polisi. Ayab kabur selama beberapa bulan tidak terdengar kabar. Dan akhirnya beliau pulang, ayah juga bilang kalau dia capek kabur2an. Masuk hutan keluar hutan. Berpindah2 tempat setiap harinya. Bahkan berbicara pun kami harus berbisik2.”

“Kenapa saat itu ayah tidak menyerahkan diri saja? Padahal dendam nya sudah juga ia balas.”

“Ada banyak hal yang ayah pikirkan. Kita tidak akan tau apa yang ia pikirkan di posisinya saat itu. Dia memang bersalah, tapi dia tidak akan semudah itu membunuh orang yang tidak melakukan kejahatan apa2 terhadap keluarganya. Kau sendiri pun tau kan, kasih sayang ayah pada kita tiada bandingan nya. Dia akan rela melakukan apapun itu demi kita. Dan keesokan harinya saat akan membangunkan beliau, aku menemukan ayah sudah meninggal dengan leher tergantung.”

Tari menggeleng.

“Aku tidak ada disitu. Ayah melakukan itu demi kalian. Ayah hanya sayang kalian berdua. Bukan aku.” 

“Ayah sayang kau dik, ayah sangat menyayangi anak2nya.”

“Lantas kalau ayah memang sayang padaku, ayah tentu tidak akan mati bunuh diri seperti itu. Karena ayah tau kalau aku tidak akan bisa hidup tanpa dia! Kakak sendiri pun ku rasa tau, kalau apapun yang aku lakukan selama ini, itu untuk membahagiakan ayah. Alasanku pulang setiap lebaran itu hanya karena ayah. Dan setelah ayah tidak ada lagi, aku mungkin tidak akan pulang dan menginjak kan kaki di kampung ini lagi.” 

Malam itu Tari berusaha tidur, namun hawa kamar tersebut terasa sangat panas sekali. Bau amis juga mulai tercium, Tari beranjak dari kasur. Matanya menatap memperhatikan seluruh ruangan kamar. Tidak ada yang aneh, mungkin hanya pikiran ku saja. Gumam nya 

Tok tok.. Suara ketukan di pintu kamar membuat tari sedikit kaget.

Tap. Tap.. Suara langkahnya.

Kriiieeeetttt…

Tidak ada siapa2 di luar kamarnya, namun suhu di luar terasa cukup dingin, berbeda sekali dengan suhu di dalam kamar yang sangat panas. 

“Tari. Belum tidur?”

“Di kamar panas kak, bikin gak bisa tidur.”

Kakaknya tari duduk dan meletakkan botol air putihnya di lantai. 

“Pemancar sinyal rusak lagi ya?”

“Iya. Terkena angin ribut, tapi sepertinya sudah bagus. Ini sinyal di hp ku full.”

Tari mengeluarkan hpnya,

“Punyaku masih tidak ada.”

“Kartumu mungkin.”

“Aku pakai As dan satunya kartu lain. Tapi 22 nya tidak ada sinyal.” 

Sang kakak mengangkat bahu, iIa juga tidak terlalu paham masalah kartu2 seperti itu.

“Aku pernah mimpi gigiku patah kak. Ternyata kata orang benar ya, tentang arti mimpi gigi patah bahwa akan ada keluarga yang akan meninggal.” 

Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali dengan cepat.

Mereka berdua saling bertatapan, antara kaget dan takut. Brakk braaakk.. Setelah beberapa saat didiamkan, ternyata ketukan tadi berubah menjadi gedoran keras. 

Kakaknya tari beranjak dari duduknya, namun lekas2 tari cegat, sambil menggeleng.

Karena perasaan nya tiba2 saja tidak enak, seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi. 

“Jangan kak.”

“Mungkin ada sesuatu yang penting.”

“Tapi ini sudah larut malam kak, lebih baik jangan di buka.”

Kakak tari melepaskan pegangan tangan sang adik, lalu tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju ke arah pintu yang masih di gedor2 dari luar tersebut.

“Sebentar.”

Saat pintu terbuka, ternyata di depan pintu sudah berdiri pak RT dan salah satu tetua desa lain nya. 

“Maaf kalau kedatangan kami menganggu waktu istirahat kalian. Karena ada sesuatu hal yang harus kami sampaikan malam ini juga.”

Deg. Deg..

“Sesuatu apa ya pak.?” 

“Seperti yang kita tau, kalau ayah kalian sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal untuk dimaafkan oleh warga desa. Jadi seluruh warga ingin agar kalian berdua pergi dari kampung ini, begitu acara pemakaman nya sudah selesai.” 

“Tapi pak, ini masih belum 7 harian. Bahkan rumah pun tidak boleh dikosongkan jika belum 100 hari.”

“Itu kalau ayahmu tidak bunuh diri. Dia kan bunuh diri, mau di bikin acara selamatan kaya apa juga dia tetap akan masuk neraka.”

“Mulut kalian jahat sekali ya? 

Memangnya siapa kalian bisa menghakimi ayahku seperti itu? Apa kalian sudah pasti masuk surga hah??”bentak tari yang tidak terima ayahnya dihina

“Tar. Sudah.”

“Di dalam agama manapun, yang namanya bunuh diri itu tidak dibenarkan.” 

Braaaakkkk… Tari menutup pintu rumahnya dengan keras dan kasar. Ia sangat kesal dengan hinaan orang2 itu. Ia tau kesalahan ayahnya, dan ia juga tau bagaimana hukum bunuh diri dalam agamanya. Tapi tidak bisakah mereka untuk tidak menghina orang yang sudah meninggal? Tari bergegas masuk kedalam kamar, ia membereskan semua barang2 dan meletakkan nya di dekat pintu keluar.

“Kau benar akan pergi?”

“Kita. Kita berdua akan pergi.”

“Tapi aku tidak bisa meninggalkan rumah ini sebelum 100 hari dik.” 

“Kakak tidak dengar tadi? Mereka mengusir kita dari kampung ini. Bahkan mereka juga menghina ayah kita. Aku penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan jika kejadian buruk pada saleha menimpa anak2 mereka. Apakah mereka bisa untuk memaafkan pelakunya?” Sang kakak terdiam, ia menatap kesekeliling. Matanya mulai berkaca2.

“Keadaan kita mendesak kak, kita tidak punya pilihan. Takutnya nanti kalau kita tetap tinggal disini, mereka malah akan berpikir untuk mencelakai kita.” 

“Baiklah, besok setelah sahur kita berangkat.”

Tari cuma tersenyum,

“Sahur bersama2, lalu berbuka bersama2. Aku rindu suasana itu.”

Sekitar pukul 5 pagi, mereka sudah berada di jalan depan desa untuk menunggu ojek 

Yang akan mengantar mereka ke terminal. Sekitar pukul 8 pagi, barulah ada tukang ojek yang muncul, itupun hanya satu orang, sehingga membuatnya harus mencari teman satu lagi agar bisa berangkat bersamaan. Sekitar setengah jam mereka menunggu, akhirnya tukang ojek tadi datang bersama teman nya.

Tari dan sang kakak naik ojek menuju terminal yang sangat jauh itu. Baru sebentar saja, tari sudah merasakan sakit dan pegal pada punggungnya. Sesampainya di terminal, ternyata hari itu tidak ada bus yang berangkat. Karena sudah memasuki 3 hari terakhir puasa.

“Aduh.. Sudah jauh2 kita ke sini ternyata terminak kosong.” keluh tari 

Rasa haus dan lapar membuat nya emosi. Sang kakak duduk di bangku panjang itu, ia menatap ke sekelilingnya. Entah apa yang ia pikirkan saat itu. 

“Mau tidur dimana kita malam ini kak?”

“Aku juga tidak tau. Yang pastinya jangan di sini.”

Tari berusaha menghubungi teman2 nya yang tinggal di sekitaran terminal, namun alasan mereka sama, yaitu sedang tidak berada di rumah. Karena akan merayakan lebaran bersama keluarga besar mereka masing2.

“Tidak menyangka hari raya tahun ini sangat jauh berbeda dari tahun2 sebelumnya.” gumam sang kakak

“Halo. Eri…” tari berjalan menjauhi kakaknya untuk mengobrol dengan Eri pemuda baik yang baru dia kenal,

Andai bukan karena terpaksa, tari tidak akan meminta bantuan pada Eri.

Sekitar 20 menitan, Eri datang mengendarai sebuah mobil berwarna putih. Ia melemparkan senyum pada tari. 

“Maaf kalau aku merepotkan mu ya. Aku benar2 terpaksa, karena tidak tau mau minta tolong pada siapa lagi.”

“Iya. Aku paham, dan aku juga senang kalau bisa membantumu.” 

Eri membantu memasukkan semua barang2 bawaan kakak beradik itu ke dalam mobilnya.

“Mau beli minuman dulu.?” tanya Eri

“Kami sedang berpuasa.”

“Aduh. Maaf, aku lupa. Sekali lagi maaf ya.” 

“Santai, gak papa.”

Sesampainya di rumah Eri, tari nampak sedikit kaget, karena ternyata pemuda itu hanya tinggal bersama dengan ART nya di rumah yang cukup besar tersebut. 

“Orang tuamu kemana Ri?”

“Orang tuaku tidak tinggal disini Tar, cuma aku yang tinggal disini, karena ini merupakan rumah peninggalan kakek nenek ku dulu.” 

Tari lega mendengarnya, karena sedari awal perjalanan tadi ia sudah was2 dan tari juga sudah siap2 dengan semua jawaban 

Yang nanti akan ia butuhkan jika berhadapan langsung dengan orang tua Eri.

“Mau minum apa?”

“Mereka puasa bu.” ujar Eri

Ia juga membantu tari dan kakaknya memasukkan semua barang2 mereka ke dalam kamar. 

“Kalian bisa tinggal di sini sampai kapan pun kalian mau. Kau juga tidak perlu khawatir, karena jarak rumah ini sangat jauh dari rumah2 lain nya.”

“Hanya sampai habis hari raya. Aku tidak ingin terus merepotkan mu ri. Kau sudah sangat baik pada kami. Padahal kita baru saja kenal.”

“Mm.. Aku selalu begitu dan ku harap selamanya akan tetap seperti ini. Karena berbuat baik itu adalah suatu kewajiban bagi kita manusia.” 

“Kau masih muda, tapi pemikiran mu sudah sangat dewasa.”

“Hah?” Eri membelalak

“Usiaku sudah 27 tahun, sudah cukup dewasa.”

Kali ini giliran tari yang terbelakak, ia tidak menyangka, jika usia Eri sudah 27 tahun. Ia bahkan masih mengira kalau usia Eri sekitar 17 tahunan. 

“Ah, yang benar?”

“Ini KTP ku. Coba kau lihat sendiri tahun kelahiranku.” ujarnya seraya tersenyum

“Waw.”

Suara takbiran malam itu begitu indah terdengar. Tak terasa Tari meneteskan air matanya.

“Kita mau kemana lagi habis ini?” tanya kakaknya Tari yang duduk di kursi belakang

“Kemana tar?” tanya Eri pada tari yang melamun menatap keluar

“Terserah saja.”

Eri berhenti di depan sebuah toko yang nampak ramai pembeli, sebelum masuk kedalam toko itu Eri berdiri diam seraya menatap toko tersebut untuk beberapa saat. Lalu kemudian ia melangkah masuk.

“Kenapa dia?”

“Waktu itu juga begitu, saat bus yang kami tumpangi berhenti di depan rumah makan. Dan di saat orang2 satu bus makan di rumah makan tersebut, dia malah lebih memilih untuk membeli nasi goreng di pinggir jalan. Awalnya aku berpikir mungkin karena keterbatasan uang yang dia miliki, maklum kan muka dan penampilan nya waktu itu sama seperti anak2 yang baru lulus SMA. Jadi tidak salah kalau aku menganggapnya tidak punya uang, tapi setelah tau dia yang sebenarnya, aku jadi berpikiran lain.” 

“Maksudmu?”

Obrolan keduanya terhenti ketika, Eri keluar dari toko tersebut dengan menenteng 2 plastik penuh berisi makanan. Sesampainya di rumah, Eri menyetel rekaman orang takbiran untuk sekedar menghibur kawan barunya itu. Mereka juga memasak untuk esok harinya, meskipun tanpa keluarga. Tapi malam itu tari dan kakaknya bisa tertawa lepas di buat Eri. Mereka nampak sangat bahagia sekali malam itu.

“Malam ini akan menjadi kenangan yang tidak akan aku lupakan sampai kapan pun. Terimakasih Eri. Terima kasih sudah membuat kami tertawa dan sejenak melupakan masalah kami.” ucap tari 

“Sama2.” jawab Eri tersenyum

Mereka juga membagi2kan makanan untuk kucing2 dan anjing2 liar di sekitaran rumah Eri, menjelang pukul 1, barulah mereka bisa tidur. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama. Namun entah kenapa, kejadian2 aneh mulai bermunculan. Kakak nya tari jatuh sakit, tubuhnya di penuhi bintik2 merah yang lama kelamaan menjadi besar dan berisi cairan. Pada saat kakak Tari terserang sakit, kebetulan Eri sedang tidak berada di rumah.

Mereka sebenarnya ingin pergi dari rumah Eri, tapi Eri melarang dan berjanji akan mencarikan rumah sewaan juga pekerjaan untuk keduanya. Tari tidak enak hati untuk menolak niat baik Eri, meski sebenarnya tari sudah punya pekerjaan. Tari dan ibu2 yang bekerja di rumah Eri itu bingung dan tidak tau harus berbuat apa pada kakaknya Tari. Demamnya semakin tinggi, begitupun juga dengan bintik2 merah itu si tubuhnya bertambah banyak seiring waktu. Bahkan yang sudah besar dan berisi cairan mirip seperti cacar itu, kemudian saling menyatu satu sama lain membentuk gelembung besar (mirip seperti kulit yang habis terkena cipratan minyak panas.)

Walaupun sudah di obati dengan herbal2an untuk cacar, tapi tidak kunjung sembuh juga. 

“Nak Eri sudah dalam perjalanan, tadi sudah ibu telepon.”

“Saya tidak enak, terus2an merepotkan Eri. Kasian dia.”

“Biasanya nak Eri tau obat sakit2 seperti ini, karena ini ibu rasa bukan sakit cacar pada umumnya.” 

Saat Eri datang dan masuk kedalam kamar di mana kakaknya tari berada, wajahnya terlihat tegang. Ia menatap lekat namun bukan bukan pada kakaknya tari, melainkan ke sudut kamar. 

“Ini penyakit kiriman, bukan cacar.” ujarnya

“Dari mana kau tau?”

“Dia ada disini.” jawab Eri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sudut kamar 

“Siapa?”

“Bu, tolong ambilkan bungkusan di dalam lemari kamarku ya.”

Tanpa di minta 2 kali, ibu itu segera pergi mengambilkan apa yang di minta oleh Eri. 

Setelah bungkusan itu berada di tangan nya, Eri lantas membukanya. Di sana ada dua buah kayu berwarna hitam. Entah itu kayu apa. Yang pasti Eri merendam kayu itu di dalam gelas air. Dan anehnya air dalam gelas itu seketika berubah warna menjadi hitam pekat.

“Hubungi dia bu.” ujar Eri yang bagian wajah nya sudab berkeringat penuh 

“Kakak ku kenapa ri?” tanya Tari was2

“Doakan saja semoga tidak terlambat. Karena aku sudah berusaha untuk mengobatinya, tapi tidak bisa.”

“Kau jangan membuatku takut ri.” 

Sekitar 15 menitan menunggu, seorang laki2 dengan rambut panjang sebatas bahu datang. Dengan hanya menatap kakaknya tari, laki2 itu lalu mengangguk, seolah2 tau apa yang sedang terjadi padanya. Tari dan ibu2 yang bekerja di rumah Eri itu di suruh untuk menunggu di luar sementara Eri dan laki2 tersebut melakukan pengobatan pada kakaknya tari. Cukup lama mereka menunggu, namun belum juga Eri ataupun laki2 itu keluar dari kamar tersebut. Tari semakin cemas, pikiran2 nya muncul membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Saat Eri keluar dari kamar, Tari langsung mendekatinya.

“Bagaimana kakakku?”

Brruuuuukkkk… Belum sempat menjawab pertanyaan tari, tubuh Eri ambruk. 

Wajah nya pucat dan ujung2 jarinya menjadi sedingin es.

“Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi??” isak tari dalam kebingungan dan ketakutan nya. Laki2 berambut gondrong itu keluar, ia menarik nafas panjang ketika melihat Eri yang terbaring di lantai di temani oleh tari dan ibu2 ART.

“Bagaimana kakak saya?”

“Sudah membaik, tapi kita lihat sampai besok, apakah sudah benar2 baik. Takutnya itu penyakit di timbal lagi. 

(Di kirim) pada kakak mu.”

“Lalu Eri bagaimana, dia pingsan.”

“Dia hanya kelelahan. Nanti juga akan bangun sendiri.” 

Benar saja, tidak berapa lama, Eri pun sadar kembali. Begitupun juga dengan kakak nya Tari, panas nya sudah turun dan gelembung2 berisi cairan di kulitnya sudah mulai mengempes. Dan keesokan harinya, keadaan kakak tari benar2 sudah membaik. Sehingga 3 hari setelah itu ia kemudian di mandikan untuk memagar diri dari santet atau guna2 dll. Setelah kakaknya sehat, tari berniat untuk pergi dari rumah Eri. Karena ia merasa sudah sangat banyak sekali 

Merepotkan laki2 itu. Namun sebelum tari mengutarakan keinginan nya untuk pergi, Eri terlebih dulu mengajaknya bicara. 

“Tari.. Biarkan aku menjagamu di sisiku.”

“Maksudmu.”

“Aku ingin kau menjadi istriku.”

Tari melongo, seakan2 tak percaya.

“Apa aku sedang bermimpi?” gumamnya 

“Aku sudah mengatakan tentang hal ini pada orang tuaku dan juga kakakmu.”

“Lalu?”

“Jawaban mu bagaimana?”

“Ini serius?”

“Astaga, apa wajahku menunjukkan kalau aku sedang bergurau?” 

Tari tersenyum lebar.

“Kalau kau serius, aku tentu mau.”

“Terima kasih.” ucapnya tersenyum. 

Sejak saat itu mereka menikah dan tinggal bersama2 di sana. Sampai suatu ketika kakaknya tari di lamar oleh sepupu Eri. Orang nya baik dan tentu tidak kasar seperti mantan suaminya dulu.

—–SELESAI—–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *