RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Hotel Hantu

Mau cerita pengalaman temen. Liburan ke salah satu kota di Sumatera terus kejebak di sebuah Hotel yang aneh dan menyeramkan. Sejak bertemu resepsionis perasaan udah gak nyaman.

Sebenarnya ini gak liburan-liburan amat. Jadi ini ceritanya ada 5 anak band dapat tawaran manggung. Nah abis manggung sekalian mau ke kota lain buat liburan. Eh taunya mereka terjebak di sebuah hotel yang sampai sekarang mereka sebut “Hotel Setan”

Jadi anggota Band nya ada 5, sebut aja nakanya Adi, Dika, Polem, Ridho, sama satu personil cewek namanya Nita. Mereka band baru, jadi tawaran manggung dimanapun mereka ambil karena namanya juga kesempatan gak boleh disia-siakan.

Kejadiannya sekitar tahun 2014. Mereka dapat tawaran manggung di Sumatera. Sebut aja Kota A. Nah mereka perginya naik mobil via merak. Maklum, honor manggungnya juga gak gede. Tapi mereka jabanin aja.

Nah pas manggung di Kota A semua baik-baik aja. Tapi rencananya dari kota A mereka berencana jalan-jalan ke Kota B.

“Udah di Sumatera sekalian aja kita ke sana. Liburan” kata Polem. Yang lain setuju aja. Padahal semuanya lagi pada cekak juga keuangannya.

Yaudah karena pkai Mobil bisa lbh hemat mereka jalan dah tuh ke Kota B. Mereka keliling2 kota, mantai, sama wisata kuliner dah dengan uang hasil manggung yang seadanya.

Nah kelar jalan-jalan baru deh mereka cari penginapan. Kata si Adi, itu sekitar jam 5 sore. Udah pada capeklah pokoknya, pengen istirahat. Masalahnya budget penginapan mereka gak gede. Jadi mereka stop di hotel satu persatu, cek harga, lalu jalan lagi kalau gak cocok.

Nah menjelang jam 6 sore mereka sampai di tepian kota. Ada sebuah hotel, kanan sama kirinya kosong. Bentuk bangunannya kayak Ruko 3 lantai. Mereka turun dan tanya harga.

Waktu masuk ke hotel suasana udah gak nyaman. Pas Adzan Maghrib. Lampu di depan masih remang. Ada cewek yang jadi resepsionis. Polem, Nita, Ridho duduk di kursi tunggu. Adi dan Dika menghampiri Mbak Resepsionis.

Mbak Resepsionis berseragam merah, bibirnya dipulas gincu merah merona. Wajahnya tak terlalu jelas karena cahaya yang remang. Kira2 beginilah ya.

“Mbak, satu kamar untuk semalam berapa ya?” Tanya Adi.

“Untuk semalam di kita 300ribu mas” kata Si Resepsionis.

Itu sesuai budget mereka. Dan mereka berencana menyewa satu kamar saja, sekedar buat rehat.

“Kalau begitu kita pesan satu kamar. Boleh untuk berlima mbak?” Tanya Adi.

“Kebetulan kita ada kamar dengan dua King Bed. Kalau mau bisa juga kita tambah extra bed”

“Kalau pakai extra bed kena charge berapa mba?”

“Gratis mas” kata Mbak itu. Jawabannya selalu terasa kaku. Awkward.

Dengan 300k dapat 3 kasur sih best deal banget menurut Adi. Maka Adi dan Dika menemui teman2nya.

“Berapa?” Tanya Nita.

“300 dapat 3 kasur. 2 King Bed” kata Adi.

“Anjir Best Deal” seru Polem.

“Tunggu, kalian gak merasa aneh?” Tanya Dika.

“Aneh bagaimana sih Dik?” Tanya Polem.

“Harganya gak masuk akal. Kemurahan!”

“Ini nih gak tau bersyukur. Untung dapat murah malah protes” kata Ridho.

“Dan kalian sadar gak sih? Tempat ini aromanya gak enak” kata Dika.

Mereka semua kompak mengendus.

Tercium aroma lembab dan apek. Sedikit busuk, tapi tak menusuk.

“Namanya juga hotel murah. Ya terima aja kalau banyak kurang. Gue sih udah malas cari hotel lagi” kata Adi.

“Sama, gue udah capek nyetir” kata Ridho.

“Udah hajar aja Di, gue juga mau mandi” kata Nita.

Maka Adi kembali ke meja resepsionis. Mbak tadi menatap Adi, Adi merasakan udara dingin di sekitarnya. “Oke mbak, kita ambil satu kamar” kata Adi. Ia mengeluarkan uang dari dompetnya dan meletakkan ke meja. Resepsionis tadi merogoh kunci di laci, ia mengulurkan kunci pada Adi.

Saat Adi mengambil kunci tersebut, tangan Adi menyentuh kulit mbak resepsionis. “Dingin, lembek” itu dua kata yang Adi gunakan saat menceritakan cerita ini pada saya. Waktu itu Adi tak terlalu memperhatikan. Jadi ya sudah dia gak peduli.

“Mas tandatangan di sini dulu” kata Mbak resepsionis ketika Adi mau meninggalkan meja. Ia menyodorkan selembar kertas dan pena merah. Adi menandatangani lembar itu tanpa membaca. Saat tinta keluar aroma melati tercium. Adi tidak curiga, dipikirnya itu kayak Pen wangi zaman dulu.

Selesai tandatangan, Adi kembali ke teman2nya.

Seorang bapak-bapak datang. Bapak2 cuma pakai baju singlet dan celana pendek. Perutnya buncit, giginya tidak rata, perutnya buncit. Mulutnya seperti sedang mengunyah tembakau.

“Mari ikut saya” katanya.

Mereka berkima berpandangan.

“Namanya juga hotel murah” kata Dika membalas Adi. Sebuah pengalaman yang aneh. Mereka dibimbing ke lantai dua.

Ini ramai yang nyimak? Boleh minta bantu RT dan Like ya. Follow juga boleh.

Naik ke lantai atas ada lagi hal aneh. Di ujung tangga ada pintu teralis. Jadi untuk naik mereka harus melewati pintu itu. Bapak tadi membuka gembok. Mereka saling bertatapan. Masalahnya kenapa digembok.

“Digembok soalnya hotel lagi kosong mas, mbak” kata bapak tadi.

Bapak itu seperti membaca pikiran mereka. Tapi mereka gak komen. Sudah terlalu lelah. Ingin segera sampai kamar lalu istirahat.

Mereka masuk ke kamar. Benar saja, ada dua king Bed. Bapak tadi mempesilahkan mereka masuk. Mereka berlima masuk ke kamar. Kamar itu cukup luas. Ada toilet di pojok, dan ada AC di atas jendela. Kira2 denahnya tuh gini. Pas mereka masuk, kamar remang. Hanya cahaya tipis dari luar.

Bentar, Isyaan dulu gaes. Setengah jam lagi lanjut ya.

Lanjut ya.

Si bapak keluar sambil menyalakan lampu. Anehnya lampu di kamar itu masih lampu bohlam. Yang warnanya kuning itu. Cahaya redup.

“Anjir, ini hotel kayaknya udah dari zaman penjajahan” Polem merebahkan badan.

“Gue sih jujur ngerasa hotel ini gak beres” kata Dika.

Ridho berjalan ke Toilet. Ada palang di depan pintu. Ia memutar gagang pintu berharap bisa membuka ke dalam. Tapi tak bisa dibuka.

“Aneh banget, kamar mandinya dipalang gini”

“Oh itu mas, tidak boleh dibuka. Kalau mau mandi dak buang air, ada toilet di luar” bapak2 tadi muncul.

Si Bapak meletakkan kasur tambahan ke lantai.

“Kalau ada perlu apa-apa, panggil saya saja” kata Bapak Tadi lalu menutup pintu dari luar.

“Gue bilang juga apa, ini hotel aneh. Mending kita cabut dah” kata Dika.

“uang kita udah buat bayar hotel ini. Budget hotel abis” kata Adi.

“Tidur aja deh. Jangan pada aneh-aneh” kata Polem. “Iya nih, gue mau mandi” Nita.

“Ikut dong!” Kata Ridho.

“Plak!” Kepala Ridho diketok oleh Nita.

“Orang mau Pipis Nit, ahelah” kata Ridho. Dia memang sedang kebelet.

Maka Ridho dan Nita keluar. Adi tiduran di kasur, Polem mulai ngorok.

Dika was was. Dia punya kemampuan merasakan hal-hal ghaib. Tak sampai melihat, tapi ia yakin tempat itu tak aman.

Dika duduk di kasur. Ditatapnya lukisan di dinding. Tampak 5 babi tergantung di tiang eksekusi. Seekor Sapi gendut memegang kapak dan tersenyum. Di bawah tiang gantung, seekor gagak hitam mematuk tetesan darah yang jatuh. Lukisan yang tak lazim dipajang di sebuah hotel.

“Gue cabut!” Kata Dika mengangkat kopernya.

“Apa apaan sih lo Dik!” Kata Abi.

“Hotel ini ngaco!” Kata Dika.

“Lo jangan rusak liburan kita dengan fantasy di kepala lo Dik. Tidur aja, besok pagi kita cabut!” Kata Adi kesal.

“Lo liat 5 babi itu! Lo pikir itu kebetulan dengan fakta kalah kita berlima?” Dika tampak kesal. Ia merasa tak didengar.

“Percaya fantasy lo sama kayak percaya Ahmad Dhani itu Yahudi. Ngaco!” Sergah Adi.

“Oke, gue tidur di mobil aja” kata Dika sambil menarik tas keluar.

Sementara itu Ridho sedang buang air. Nita menunggu di luar. Lampu lorong tak menyala semua. Hanya ada di depan kamar mereka dan menuju tangga. Saat Ridho selesai buang air tiba-tiba lampu mati.

“Lo jangan becanda Nit!” Kata Ridho.

Tak ada sahutan.

“Nit! nit! Buka Pintu Nit!” Seru Ridho sambil menggedor pintu. Tak ada sahutan.

“Sumpah gak lucu Nit” Ridho berteriak. Ia meraba dinding berharap ada Stop Kontak.

Ridho merasakan sesuatu di dinding. Bulatan lembek. Ia penasaran apa benda itu. Lampu menyala.

Di telapak tangannya, sebuah bola mata melirik padanya.

“Anjing!” Teriak Ridho. Ia menarik gagang pintu, dan anehnya dapat terbuka. Ia berlari meninggalkan Nita yang bengong.

Nita bingung, udah setengah jam Ridho di dalam tapi tak ada suara apa-apa. Berkali-kali ia menggedor tapi tak ada yang nyahut. Tiba-tiba saja Ridho lari meninggalkannya. Aneh.

Karena terlalu gerah, Nita masuk ke kamar mandi. Ia melepas pakaiannya perlahan lalu menyiram tubuhnya dengan air. Segar sekali. Namun aromanya tercium Anyir.

Dika baru keluar dari kamar ketika Ridho terengah-engah.

“Bener lo Dik, kagak beres ini hotel”

“Kenapa Dho, lo liat apa?”

“Mata dik, mata. Gue liat mata setan” kata Ridho.

“Lo mau kemana?” Tanya Ridho melihat Dika membawa tas.

“Mau ke mobil aja gue!”

“Gue ikut” kata Ridho. Ia membuka pintu lalu mengambil tasnya.

“Mau kemana?” Tanya Adi.

“Cabut! Ini Hotel setan!” Kata Ridho.

“Lo ketularan Dika ya?”

“Gak, gue liat dengan mata dan kepala sendiri” Ridho berjalan ke pintu.

“Ceritain ke gue” kata Adi.

Lalu Ridho menceritakan apa yang ia alami. Dika menyimak sambil berdiri di depan pintu.

“Sekarang lo percaya gue?” Tanya Dika.

Adi mengangguk pelan.

Lalu Polem yang lagi tidur tiba-tiba tersentak duduk.

“Lo kenapa Lem?” Tanya Dika.

“Gue.. gue… gue liat cewek yang di bawah” kata Polem.

“Maksud lo?”

“Dari tadi gue mau bangun gak bisa. Dia duduk di dada gue. Matanya merah, mukanya penuh darah”

“Terus barusan?”

“Iya gue lawan”

“Kita pergi sekarang juga” kata Adi.

“Nita!” Seru Ridho.

Mereka bertiga mengemasi barang. Lalu mengangkatnya keluar. Dika dan Adi berlari ke Kamar mandi.

“Nit! Keluar Nit! Keluar!” Seru Dika.

“Dobrak aja Dik” kata Adi.

“Eh Nita lagi mandi. Kalau dia lagi gak pakai pakaian gimana?”

“Terus gimana dong ini?” Adi bingung.

Polem dan Ridho datang membawa tas. “Ayo buruan” kata Ridho.

“Nita Dho!”

“Ngigau ya kalian. Ini Nita” kata Ridho menunjuk cewek di belakang mereka. Perempuan itu bukan Nita. Mukanya keriput, rambutnya putih, bajunya hitam.

Wajah resepsionis itu keliahatan lebih tua.

“Dobrak aja dik!” Kata Adi. Lalu Adi dan Dika menerjang pintu bersama. Kosong melompong.

“Kalian kenapa sih?”

“Coba liat Nita di belakang kalian!” Kata Dika. Polem dan Ridho menoleh. Mereka bertatapan lalu mematung diam. Tak tahu harus apa.

Lalu terdengar suara Nita dari bawah. “Tolong woi!” Kata suara itu.

Dika dan Adi berlari ke tangga turun. Ridho dan Polem berjalan pelan meninggalkan sosok berbaju hitam yang mengintai mereka.

Mereka tiba di depan teralis. Gembok terpasang. Nita menangis. Di sampingnya bapak tadi berdiri. Bajunya hitam, mukanya menyerupai sapi. “Kalian liat apa yang gue liat kan?” Tanya Nita. Mereka semua mengangguk.

“Ambil kunci di resepsionis, kita kabur” kata Dika.

“Gue kaku Dik”

“Lo cuma takut Nit. Mereka gak bisa ganggu kita. Mereka gak bisa sentuh kita” kata Dika. Nita mengumpulkan keberanian. Ia berjalan pelan. Bapak itu berjalan di sisinya sambil memandang wajah Nita. Lalu matanya jatuh menggelinding. Nita menahan ngeri.

Sementara itu, di lantai dua sosok nenek tua berjalan ke arah mereka. Terdengar kerincing gelang dari kakinya. “Ting, ting, ting”

Tapi bukan Ayu Ting Ting.

“Hotel apa sih ini, goblok bener” kata Ridho.

“Hotel 300 rebu” sahut Polem.

“Ya gak usah lo jawab Woi Poni Lempar!”

“Kan lo nanya malihh!” Polem kesel.

“Bisa diam gak lo bedua!” adi kesal.

“Tenang, tarik nafas. Ini setan-setan caper” kata Dika.

Mereka lalu menutup mata. Tak ada apa-apa yang menyentuh mereka.

“Adi, tangkap!”seru Nita melempar kunci. Adi menangkap dengan tepat. Ia buru2 membuka gembok. Mereka beriringan menuruni tangga.

Di bawah Nita menangis di depan meja resepsionis. Adi menarik tangan Nita.

“Ayo buruan kabur!” Kata Adi. Padahal Nit waktu itu cuma handukan pakai handuk Hotel.

“Pakaian gue?”

“Lo mau mati sawan di sini?” Adi berang. Nita hanya menurut.

Ketika mereka keluar hujan turun deras dan di sisi kiri dan kanan hanya ada kegelapan. Mereka buru2 masuk ke mobil. Mesin mobil dinyalakan. Ketika lampu menyala dua sosok itu berdiri di depan mobil.

“Pokoknya gak boleh takut!” Kata Dika. Ridho melaju, dua sosok itu ditabraknya.

Tak ada benturan. Mobil melaju di atas tanah becek. “Perasaan tadi siang jalannya gak gini” kata Ridho. Hujan turun deras.

Mereka sampai ke sebuah taman. Anehnya taman itu terang benderang, tak ada tanda hujan barusaja turun.

“Anjrit, gak ngerti lagi gue. Kenapa tu setan pada demen dah sama kita” kata Polem.

“Yang penting kita selamat. Malam ini kita tidur saja di mobil” kata Dika.

“Gue mau pakai baju gimana?” Tanya Nita. Keempat cowok di mobil itu berpandangan. Mereka berempat keluar dan berdiri di depan pintu mobil dengan posisi membelakangi.

Nita berganti baju di dalam.

“Beres” kata Nita.

Sampai sekarang Adi bilang mereka bingung sebenarnya tuh hotel ada apa enggak. Tapi ingatannya jelas. Sosok2 itu ada. Benar-benar ada.

Wah pada ngira belum kelar ternyata. Sudah ya teman-teman ceritanya sampai sini saja. Walau ada kejadian lain setelahnya tapi akan jadi cerita yang berbeda.

Intinya malam itu mereka pergi dari hotel lalu memutuskan tidur di mobil.

Karena sudah mengalami peristiwa buruk, besoknya semua rencana dibatalkan lalu kembali ke Jakarta.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *