RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Hotel “Mantan” Bintang 5

-TEROR HOTEL-

A THREAD (Based on true story)

Okey baiklah sepetinya sudah sangat lama tidak membuat thread karena kesibukan di kantor, kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman horror dari salah satu teman saya mungkin ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya. Sebut saja dia Sazkia. 

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih bagi teman-teman pembaca yang sudah memberikan retweet dan likes pada thread-thread sebelumnya. Dan jangan lupa retweet dan like thread ini juga yak hehe…

Mungkin kalian sudah tau apa itu hotel. Hotel merupakan suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, penyedia makanan dan minuman. 

 Serta fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel itu. 

Ok, di sini saya akan bercerita berdasarkan sudut pandang orang pertama, yaitu sebagai Sazkia.

Namaku sazkia, aku tinggal di salah satu kota besar di Indonesia, sebut saja kota B. Aku akan bercerita sedikit tentang pengalaman horrorku ketika sedang menginap disalah satu hotel di kota B. 

 Semuanya berawal ketika aku, Nenden dan Cia berencana untuk liburan walau hanya sebentar dengan membawa doi masing-masing (biasalah masa muda). Akan tetapi, setelah dihubungi ternyata doi kita-kita pada sibuk, alhasil hanya aku dan teman-teman cewekku saja yang berangkat liburan.

Niat awalnya sih mau ke Jogja atau enggak ke Dufan gitu, yang penting pergi keluar kota. Tapi nyatanya karena semuanya masih pada labil dan kemungkinan gak akan diizinin oleh ortu masing-masing, jadi aku, Nenden, dan Cia hanya pergi liburan di kota tempat tinggalku saja. Padahal, ya, umurku, Nenden, dan Cia udah kepala 2 lho, tapi masih ajah gak diizinin main jauh. Hahaha… Mungkin karena cewek kali ya. 

Suatu pagi kami pun berkumpul di sebuah café untuk membahas destinasi wisata yang akan menjadi tujuan kami. Setelah beberapa saat kami merenung akan dosa-dosa (?), eh maksudnya merenung memikirkan akan liburan kemana. 

Cia memperlihatkan bahwa dia punya voucher penginapan disalah satu tempat wisata di kota tempat aku tinggal gitu. Serentak semuanya setuju. Namun terlihat wajah Nenden yang bingung. 

“Kenapa? Kok kamu kayak yang bingung gitu.” Tanyaku kepada Nenden.

“Aku masih labil nih, gak tau gimana bilang ke ortu biar diizinin.” Jawabnya.

“Aku sih fine-fine ajah selama mainnya sama kalian pasti diizinin.” Kataku. 

Perlu kalian ketahui, jadi si Nenden ini labil karena rute menuju tempat penginapan untuk liburan kita nanti cukup ekstrim. Terlebih lagi kita bertiga yang berangkat ini cewek-cewek semua, jadi ya wajar kalo ortunya bakalan khawatir dan curiga tidak akan memberi izin. 

Setelah cukup lama di cafe membahas tentang liburan, aku, Nenden, dan Cia balik ke rumah masing-masing karena waktu sudah menunjukkan larut malam dan kita memutuskan untuk melanjutkan diskusi di group WA. 

Tak lama nenden chat di group, “Ulah kadinya pasti ulaheun ku kolot urang, nu deket-deket weh mondok di hotel weh yuk.”

(“Jangan kesitu, pasti gak diizinin sama ortuku, yang deket-deket ajah, nginep di hotel gitu, yuk.”).

“Hayu! Asal dibayarin sama yang ultah.” balasku dan Cia. Jadi, si Nenden ini sebentar lagi ulang tahun.

“Okey.” balas Nenden.

Tiba saatnya liburan… 

Jadi pada hari H akan berangkat liburan, kami ke Alfa terlebih dahulu untuk membayar hotel yang telah kita booking, setelah dari alfa kami pergi ke rumah Nenden untuk minta izin pada orang tuanya. 

Setelah itu, kami pergi menggunakan grab, tujuannya sih biar bareng-bareng gitu gak pake motor masing-masing, males juga kalo harus pake maps. Sebenarnya, dari mulai pesan grab pun sudah ribet banget. Dicancel berapa kali lah sama drivernya karena hujan dan mau magrib juga jadi agak susah. 

Pokoknya mau liburan ajah ribet banget, banyak ini itunya. Bahkan pas sudah diresepsionis mau checkin pun sempat-sempatnya lupa kode, mana lapar belom makan, dan udah mau magrib ditambah gerimis pula. 

Okey, lanjut. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, dapat juga driver yang mau membawa kami ke lokasi yang dituju. Mas grabnya ini baik banget lho, selama diperjalanan, dia nawarin yakult sambil nanya-nanya, “Kok pilihannya hotel A sih ka? Emang gak ada hotel lain?”. 

“Biar sesuai sama budget, Mas.” Jawab Nenden.

“Padahal Hotel B juga murah lho.” Sambung Mas Grab.

Semuanya pun hanya mengangguk.

“Udah terlanjur booking Hotel A, Mas.” Jawabku. 

***Sampailah di lokasi Hotel A*** 

Setelah sampai di lokasi, aku sedikit merasakan keanehan mulai dari saat mengambil kunci kamar, resepsionisnya tidak memakai seragam. Selain itu, penerangan di dalam hotelnya pun redup banget, mana kita lewat lorong-lorong gitu. 

Pokoknya lampunya tuh dikit banget udah berasa di rumah hantu gitu ☹. Tapi disini, aku, Nenden, dan Cia masih belum kepikiran hal-hal mistis gitu. Yaaa kita sih mikirnya sayang juga kalau udah bayar di tempatinnya cuman bentar. 

Gak sampai di situ keanehannya, saat aku, Nenden, dan Cia masuk ke lift, kondisi liftnya itu kayak yang udah tua dan gak ke urus gitu. Padahal pas kita search tentang hotel itu kaya yang bagus banget di fotonya, padahal aslinya gak!  Hotelnya cukup besar dengan fasilitas yang lumayan banyak sampe ada karaoke juga. 

Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai di kamar. Tanpa berpikir panjang lagi kami langsung menyimpan barang-barang kami di lantai karena melihat kaca lemari yang cukup besar terpampang di hadapan kami. Ya biasalah namanya juga cewek, langsung heboh bikin mirror selfie dan boomerang. Sebenarnya, ketika sampai di dalam kamar, aku sudah merasa sedikit aneh, mungkin efek dari lampunya yang sedikit redup dan ada aroma kayu. 

 Tidak seperti hotel bintang 3 pada umunya, disini aku tidak menemukan adanya telepon kamar dan kamar mandinya pun sedikit aneh, menyeramkan. Meskipun begitu, ada enaknya juga sih kamar hotel di sini banyak lemarinya jadi barang yang kami bawa tidak terlalu berantakan. 

Waktu menunjukan pukul 8 malam, aku, Nenden dan Cia berencana keluar kamar untuk keliling-keliling hotel. Sampailah aku, Nenden dan Cia di rooftop hotel. Di sana terdapat kolam renang. Namun, lagi-lagi aku merasa aneh. 

Selama perjalanan kami bertiga berkeliling hotel hingga sampai di rooftop, aku menyadari bahwa sedari tadi aku tidak melihat orang satu pun, padahal untuk ukuran hotel sebesar ini harusnya gak sepi-sepi amat. Dan ternyata Nenden dan Cia pun merasakan hal yang sama. Mereka berdua mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan hotel ini.  

Tak lama berada di rooftop, Nenden dan Cia pun mengajak kembali ke kamar. Padahal aku masih penasaran karena belum sempat melihat tempat sauna, kamar mandi di tempat kolam renang, dan bahkan tempat karaokenya pun kami belum mampir. Tapi karena mereka udah mau balik dengan alasan pengen makan, terpaksa kuurungkan niatku. 

Selesai makan, aku sama Cia berencana untuk mengambil kue ulang tahun di lobby. Iya, niatnya kita mau bikin kejutan buat Nenden yang kebetulan ulang tahun. Tapi pas kita bilang mau ke bawah sebentar, si Nenden ini gak mau ditinggal sendirian. Kalau mau ambil kue eh dianya ngikut, ya namanya bukan kejutan lagi dong bambank ☹ 

Masalahnya, si Cia juga gak berani kalo ngambil kuenya sendirian ke bawah. Alhasil, dengan terpaksa aku yang turun dari lantai 3 ke bawah untuk ngambil kue dan lilin, sekalian minjem korek.

Skip… 

Setelah sampai kamar, aku dan Cia pun memberi kujutan untuk Nenden sebagai ucapan selamat ulang tahun. Tapi tak lama setelah itu, tiba-tiba shower kamar mandi nyala sendiri. 

Aku, Nenden, dan Cia saling bertatapan, tadinya mau telpon ke resepsionis tapi baru inget kalau di sini gak ada telpon, mau minta tolong juga gak ada orang di luar. 

Dan saking paniknya kami bertiga yang tadinya berdiri di dekat pintu, langsung meloncat ke kasur. Karena takut, aku pun maksa ingin tidur di tengah walau sebenernya gerah sih dipait dua orang.

Bahkan, mau nyalain chanel tv biar kedengaran agak rame gitu pun sampai gak jadi karena remotnya jauh di atas meja. Alhasil semuanya cuma diam ketakutan di balik selimut Kasur sampai ketiduran. 

Aku tiba-tiba saja terbangun dengan posisi terlentang dan kepalaku tidak tertutup selimut, betapa kagetnya aku saat membuka mata yang kulihat adalah sosok hitam besar berada di atas tubuhku. Ku kira akan KETINDIHAN/SLEEP PARALIZE/EREUP-EREUP. Ternyata tidak, sontak akupun merubah posisi tidurku yang tadinya terlentang jadi menyamping sembari menutup sekujur tubuhku dengan selimut.

Keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 pagi, aku, Nenden, dan Cia berencana untuk olahraga di tempat gym yang ada di hotel tempat kita menginap. Setelah sampai di tempat gym tersebut, kami langsung memulai pemanasan ringan biar gak kram. 

Namun baru juga mulai olahraga, tiba-tiba ada barang yang terjatuh ke lantai, padahal saat itu tidak ada angin. Dan kebetulan hanya ada kami bertiga di situ. Alhasil, si Nenden langsung mengajakku dan Cia untuk kembali ke kamar.  Setelah sampai kamar, kami bertiga pun mandi secara bergiliran karena sedikit berkeringat habis olahraga tadi. Selesai mandi, aku, Nenden, dan Cia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Namun lagi-lagi, setelah sampai tempat sarapan, kami sama sekali tidak menemukan orang, di sini cuma ada kamu bertiga.

“Kenapa ya kemana-mana gak liat orang sama sekali, kayak yang menginap di sini tuh cuman kita bertiga doang.” Tanyaku pada Nenden. 

Padahal saat itu jam belum menunjukan pukul 10.00 dan lagi-lagi pegawainya gak ada. Sambil menunggu, aku pun membuka cemilan makaroni yang kubekal dari kamar. Tak lama setelah itu ada bapak pegawai datang menghampiri, bapaknya baik banget nyiapin kita sarapan. 

“Pak, di sini rame? Kenapa malam-malam saya dengar suara berisik rame, tapi pas pagi sepi?” Tanyaku.

“Apa dek? Orang sepi.” Jawab bapaknya sembari senyum.

“Perasaan semalem rame, Pak, sekitar jam 12an banyak yang ngobrol gitu di luar.” Ucapku. 

“Kalau rame mah gak akan beres sebelum jam 10, dek.” Ucap Bapaknya.

Semuanya terdiam, hingga aku bertanya kembali.

“Pak, ada karaoke, yah, di sini?” Tanyaku.

“Ada, dek, di lantai 4.” Jawabnya. 

Setelah semuanya selesai sarapan, kami pun berencana ke lantai 4 untuk melihat tempat karaoke. Sesampai di lantai 4, pintu lift terbuka, serem banget rasanya semuanya gelap.  Saat aku akan keluar dari lift, Nenden lebih dulu menarikku untuk kembali ke kamar saja di lantai 3 dan mengurungkan niat untuk ke tempat karaoke.

Skip… 

Sampai di hari terakhir aku check out pun, tetap saja aku tidak menemukan orang selain pegawai. Keesokan harinya, ada salah satu temenku yang bisa melihat ‘mereka’ yang tak kasat mata atau sering kita sebut anak indihome (?), eh maksudnya indigo. 

“Kia, divideo itu aku liat ada sosok remaja cewek rambutnya sebahu, lidahnya menjulur keluar panjang. Lagi ngeliatin kalian. Pasti gak akan percaya sih mikirnya aku nakutin doang. 

Tapi emang itu yang aku liat. Ceweknya ngegantung deket lukisan. Emang gak akan keliatan sama orang lain. Cuman itu yang aku liat.” Kata Temenku. Dan setelah baca balasan dari story instragramku, sontak aku langsung merinding. 

Okey, segitu saja thread dari saya.

Terimakaih juga bagi kalian yang sudah membaca sampai akhir. Jangan lupa klik like dan retweet (karena semua itu gratis) dan nantikan thread-thread selanjutnya 😉

Thread By @TheDaggry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *