RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Ilmu Hitam Mbah Tar

 Ini thread pertama saya jadi mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan , dan maaf juga bila kurang bisa di mengerti. 

 Oh iya di cerita ini mungkin hanya ada sedikit percakapan bahkan mungkin tidak ada sama sekali. 

 Dan juga banyak sekali cerita di dalamnya mungkin hanya beberapa saja yg saya bagikan. 

 Semua nama dalam cerita ini saya samarkan. 

 Kisah ini saya dapat dari nenek istri saya, panggil saja mbok ijah.

Banyak banget yang beliau ceritakan sama saya bahkan saya smpai tak habis fikir. 

 Cerita ini berada di desa K kabupaten M. Dimana desa ini masih berada di salah satu kaki gunung di jawa timur. 

 Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2000-an.

Panggil saja mbah Tar. Beliau termasuk orang yang sakti dan mempunyai ilmu hitam yang tinggi. 

 Ya bagi masyarat desa beliau biasa mengobati orang sakit, dukun bayi dll.

Dan para warga pun sangat mengandalkan mbah tar ini karena pada waktu itu jarak tempuh antara desa dengan rumah sakit begitu jauh apalagi waktu itu masih sedikit para warga yang punya sepeda motor. 

 Semua kehidupan desa terasa biasa-biasa saja sebelum seseorang pendatang yang merupakan orang yang sakti yang mempunyai ilmu hampir sepadan dengan mbah tar . 

 Panggil saja beliau dengan nama mbah Kuning, itu panggilan warga buat orang baru tersebut.

Setelah kedatangan mbah kuning banyak masyarakat yang beralih untuk datang kepada beliau dan sedikit demi sedikit – 

 Meninggalkan mbah Tar.

Murka, mungkin itu yang ada di pikiran mbah tar saat itu, bagaimana tidak, awalnya para warga berbondong” untuk berobat kepadanya tapi semenjak kedatangan mbah kuning beliau menjadi sepi pasien. 

 Oh iya mbah Tar ini bisa dibilang arogan untuk masalah upah warga, bnyak dari warga yang merasa keberatan atas aturan upah tersebut. 

 Berbanding terbalik dengan mbah kuning yang meminta seikhlasnya. 

 Akhirnya karna keadaan tersebut mbah tar membuat para warga sakit agar kembali berobat kepadanya lagi.

Rina, Wulan, Andin, sebagian nama nama anak kecil waktu itu yang menjadi korban ilmu hitam mbah tar.

Sebelum satu kampung pun di garap beliau. 

 Rina, salah seorang anak yang menjadi korban pertama mbah Tar.

Sebelumnya dia adalah anak yang riang seperti teman seumurannya, tapi berbeda sejak medapat penyakit kiriman yang membuatnya jatuh sakit dan membuat keluarga serta warga ngeri atas penyakitnya. 

 Ya penyakit yang tidak bisa di pikir dengan nalar. Bagaimana tidak selama waktu 3 bulan rina hanya bisa tidur di atas kasur tanpa melakukan aktivitas apapun, hanya bisa terlentang tanpa bisa tengkurap.

Penyakit yang membuat punggung bawahnya penuh borok, bahkan – 

 Jika di buat terlentang maka borok itu akan menjadi besar.

Tersiksa, tentu saja bahkan selain itu dia juga tidak dapat bernafas dengan benar, seperti asma tapi dengan suara yang tidak mengenakkan telinga. 

 Dan tak hanya itu saja rina pun terkadang seperti orang mati suri, tidak bernafas dan tidak bergerak dalam beberapa jam, dan itu terulang terus menerus.

Keluarganya pun bahkan sampai mencari bantuan orang pintar (dukun) yang berada di daerah T. 

 Setelah melakukan pengecekan dukun tersebut berkata “sampean gowo mantuk, seng gawe penyakit jaluk diparani sakdurunge anak sampean digawe luweh parah”.

(Bawa pulang anakmu, yang bikin ankmu sakit minta di jenguk biar berobat ke dia sebelum anakmu makin parah). 

 Tanpa pikir panjang orang tua mereka pun mengerti kepada siapa mereka akan bertamu.

mbah tar, beliau yang akan mereka temui.

Setelah bertemu mbah tar, orang tua rina pun memohon agar anaknya disembuhkan. 

 Jeda dulu ya.. nunggu viewers banyak apa ndak .. soalnya ceritanya banyak dan panjang banget.. kalo rame saya terusin.. ini masih permulaan masih ada lagi yang lebih parah.

Selain ini masih banyak cerita tentang kejadian di desa istri saya yang saya tempati sekarang .. 

 Lanjut apa ndak ini? Kalo masih sepi saya buat thread baru aja 

 Nnti saya lanjut .. mungkin jam 7/8 malam skarang masih sibuk..

Ohh ya nnti saya jg akan ceritakan sebut saja budhe mirna yg kena penyakit yg mengerikan karna ulah mbah tar..

Tunggu ya- 

 Soalnya saya nulisnya langsung jadi agak lama untuk pengulasannya. 

 Oke lanjut… 

 Setelah sampai rumah mbah tar, keluarga rina memohon agar anaknya segera di sembuhkan.

“Iyo tenang tak tambani tapi wenehi aku upah beras karo gulo, ojo lali warga kene kandanono lek ono opo-opo kongkonen rene” ucap mbah tar. 

 (“iya tenang aku obati, tapi kasih aku beras sama gula, dan jangan lupa bilang ke warga kalau ada apa” suruh datang kesini”).

Setelah orangtua rina setuju, dengan sekejap maka sakit yang diderita rina pun sembuh. 

 Akibat kejadian tersebut para warga pun takut dan memilih untuk berobat ke mbah tar daripada keluarga mereka satu persatu terkena penyakit yg rata-rata hampir sama dengan rina. 

 Sekarang ganti ke budhe mirna.

Budhe mirna beliau merupakan orang yang kaya raya, ya beliau memilih berobat ke rumah sakit, sejak dulu tidak pernah menuju mbah tar dan juga mbah kuning.

Suatu hari pada pagi hari, budhe

mirna bertemu mbah tar dijalan.

Kaget, risih itu yang- 

 Budhe mirna rasakan setelah tau tentang desas desus mbah tar di desa ini.

Tanpa basa basi budhe mirna pun nyeletuk “wes tuek polahe akeh eram, ojo kemetak dadi wong”

(“Udah tua banyak tingkah pula, jangan sok jadi orang”) 

 Setelah mendengar ucapan itu, mbah tar pun naik pitam dengan muka memerah dan mata meloto dia berkata “jogoen omonganmu, titenono tak gawe loro awakmu sampek gak ono marine”

(“Jaga bicaramu, lihat saja tak bikin sakit kamu sampai tidak ada selesainya”). 

 Setelah mengakatan itu mbah tar pun pergi.

Malam hari budhe mirna pun di buat kepikiran oleh omongan mbah tar, tapi anak beliau memberi saran agar tidak perlu takut karena dia punya kenalan yang sangat sakti yang berasal dari kota T. 

 Entah kenapa malam itu perasaan budhe mirna semakin was-was, bagaimana tidak budhe mirna merasa ada yang mengawasi disetiap sudut rumah.

Kejadian dimulai ketika budhe makan malam, dalam suapan ketiga beliau merasa dalam makanan dimulutnya ada yg mengganjal, setelah- 

 Di keluarkan makanan itu dimulutnya ternyata dimakanan tersebut bnyak sekali paku kecil-kecil seukuran tulang ikan.

Ya beliau tidak percaya sampai-sampai menjerit memanggil anaknya.

“Lapo mak wes dalu bengok-bengok?”

(Ada apa mak usah malam teriak-teriak?) 

 “iki loh aku mangan tapi kok akeh pakune” kata budhe mirna.

(Ini loh aku makan kok bnyak pakunya dalam makananku).

Seakan syok dan tidak percaya aang anak pun ikut khawatir dan ketakutan.

Tidak berselang lama perut budhe mirna pun serasa di koyak koyak bagian ususnya. 

 Semakin lama rasa sakitnya semakin menjadi jadi, budhe mirna pun sampai pingsan, sang anak pun tak kuasa melihatnya.

Malam itu juga budhe mirna dibawa ke rumah sakit.

Sampai rumah sakit hasilnya pun nihil, setelah dicek tidak ada penyakit apapun dalam diri budhe mirna. 

 Akhirnya budhe di bawa pulang oleh anaknya.

Malam itu budhe mirna merasakan kesakitan yang amat sangat menyiksa, entah kenapa keluarga mereka ikut ketakutan dengan kejadian yang menimpa budhe mirna.

Semalam penuh pun budhe mirna hanya menangis menahan sakit hingga pagi datang. 

 Jam menunjukkan pukul 7 pagi, budhe merasa ingin buang air besar, setelah beberapa saat di dalam kamar mandi budhe mirna pun kembali menjerit sekencang kencangnya.

Mendengar teriakan beliau maka keluarganya pun datang untuk melihat ada apa gerangan sampai menjerit seperti itu. 

 Ya dalam kamar mandi itu budhe mirna menangis ketakutan karna dari (maaf) duburnya keluar usus beliau yang membusuk.

Yah usus yang membusuk dengan aroma yang sangat bau. 

 Tak terima dengan kejadian demi kejadian seperti itu, di datangkanlah sang dukun dari kota T tersebut oleh anaknya.

Seketika dukun itu datang beliau kaget luar biasa karena melihat seisi rumah dipenuhi makhluk halus yang jahat.

Apalagi melihat budhe mirna yang ususnya – 

 (maaf) dijilati oleh makhluk kecil yang punya mata besar dan lidah yang lancip.

Mengetahui hal itu sang dukun tersebut melakukan ritual untuk mengobati budhe mirna. 

 Oke lanjut aja .. tapi ini agak di singkat ceritanya. Soalnya saya akan ceritakan korban 1 lagi yang gak kalah tragis.

Oh ya lupa nama anak budhe mirna disini panggil saja mas wito. 

 Ritual dimulai si dukun meminta kepada mas wito sebuah kamar kosong tak lupa juga minta di carikan daun kelor dan ayam betina.

Sang dukun juga berpesan agar tidak ada seorang pun yang mengganggunya saat ritual dimulai. 

 Sepi senyap, mas wito berharap cemas agar smuanya selesai.

Namun tak berselang lama budhe mirna dari kamar yang lain terdengar teriak-teriak dan meronta ronta.

Sambil berjalan cepat mas wito menghampiri budhe mirna yang jongkok di bawah kasur miliknya. 

 Mas wito tak percaya dengan apa yang dilihatnya karna di depannya budhe mirna menangis menahan sakit akibat ada sebuah keris panjang yang keluar sedikit demi sedikit dengan dibarengi darah yang mengucur keluar dari dubur budhe mirna.

Syok bahkan sampai muntah Mas wito dibuatnya.

Dilain sisi sang dukun yang berada dikamar seberang juga terdengar menjerit sambil meminta ampun. Mas wito yang mendengar itu akhirnya menghampiri, seakan tak percaya dengan apa yang dilihat untuk yang kesekian kalinya, si dukun tersebut terkapar dengan- 

 Mengeluarkan banyak darah dari mulut dan hidungnya.

Melihat kejadian demi kejadian membuat pikiran mas wito kalut dan tak percaya bahwa seorang mbah tar bisa berbuat sejauh ini untuk membuat orang menderita.

Tanpa pikir panjang mas wito menghampiri mbah tar dirumahnya, 

 Seakan menunggu kedatangan mas wito mbah tar sudah tersenyum sambil berkata “piye le wes ngerti ta? Ojo ngongkon wong melok urusane wong liyo, opo pengen tak gawe luweh parah neh?”

(Bagaimana nak sudah paham? Jangan suruh orang lain untuk ikut campur urusan orang, apa perlu tak- 

 Buat lebih parah lagi?)

“Mpun mbah ngapunten, tolong jenengan akhiri mawon, kulo ngertos ibu kulo salah, tolong mbah tolong” ucapa mas wito sambil menangis.

(Sudah mbah maaf, tolong anda akhiri saja, saya paham ibu saya salah, tolong mbah tolong). 

 “ora iso, aku wes kadung loro ati karo ibukmu, sak durunge ibukmu rene jaluk sepuro ojo arep arep tak uwisi” kata mbah tar

(Tidak bisa, aku sudah terlanjur sakit hati sama ibukmu, sebelum dia minta maaf kesini, jangan harap ini sudah selesai) 

 Akhirnya mas wito pun pamit dan berjanji akan mengajak ibunya minta maaf kepada mbah tar.

Masih dengan keadaan dimana keris menancap di dubur, budhe mirna diajak kerumah mbah tar oleh anaknya. Para warga yang melihat tidak ada satupun yang mendekat. 

 Sampai dirumah mbah tar budhe mirna meminta maaf agar semuanya di akhiri, mbah tar pun setuju dengan syarat mau diajak kawin (bersetubuh) dengan disaksikan anaknya.

Hancur, pedih itu yang di rasakan mas wito, tapi mau bagaimana lagi kalau itu jalan terakhir. 

 Sambil menangis dan berbisik kepada ibunya mas wito berkata “gakpopo mak ikhlas ae timbang aku nyawang smpean koyok ngene”

Budhe mirna yang ikut menangis pun hanya mangangguk tanda setuju.

Mbah tar pun merasa senang dan merasa menang dengan kelakuannya. 

 Sudah ya saya akan lanjut dengan cerita korban yang lainnya.. soalnya saya tidak tega sebenarnya tapi bagaimana lagi untuk keutuhan cerita.

Untuk cerita korban selanjutnya tunggu saja. 

 Besok saya lanjut..

Maaf off lama.

Besok akan saya rampungkan ya.. soalnya rentetan kejadiannya itu panjang korban banyak juga.

Budhe mirna saya lanjutkan saja besok biar ndak penasaran. 

 Sebelum bersetubuh mbah tar pun berbisik kepada budhe mirna,

“Piye? Wes nyerah yo? Padahal aku sek pengen nyikso awakmu luweh tekan iki” di iringi oleh ketawa yang keras.

Budhe mirna hanya menangis pilu dengan keadaannya. Tapi tiba-tiba keris yang menancap di dubur- 

 Budhe mirna dicabut dengan kasar oleh mbah tar, budhe mirna yang kaget pun menjerit karena sakit.

Bagai kerasukan setan, dengan beringas mbah tar pun melepas pakaian budhe mirna, tak menunggu lama mbah tar pun menjamah tubuh budhe mirna. Skip

Mas wito kaget, malu, dan marah dongkol sekali dengan perlakuan mbah tar kepada ibunya.

Dalam hati mas wito dia bersumpah akan membalas semua perbuatan mbah tar, entah kapan itu, dia hanya menunggu waktu yang tepat.

Setelah bersetubuh mbah tar menyuruh budhe mirna dan anaknya pulang- 

 Dengan tanpa perasaan salah mbah tar berpesan ” wes cukup mengko tekan omah loromu ilang, tapi ojo macem macem maneh karo aku”

(Udah cukup nnti sampai rumah sakitmu hilang, jangan macam macam lagi sama aku)

Seperti yang dikatakan mbah tar sampai rumah semua sakit yang dirasakan budhe mirna pun hilang.

Tapi rasa dendam mas wito yang memuncak seakan tak kuasa menahan.

Dia menantikan kesempatan agar suatu saat bisa membalas kejahatan mbah tar. 

 Tambahan

Mbah tar punya seorang anak perempuan, umurnya sepantaran mas wito , dan belum menikah waktu dulu.

Clue : mbah tar akan meninggal karena mas wito

Tapi sabar ya .. pokoknya rentetannya panjang, dan saya akan lompat ke korban selanjutnya 

 Mas wito, orang yang ramah, baik dan pendiam. Sebelum kejadian yang di alami ibunya yaitu budhe mirna.

Orang yang tak banyak omong, murah senyum tapi sekarang mas wito menjadi sosok yang gampang marah dan jarang dirumah.

Setiap hari mas wito mencoba datang ke- 

 Rumah dukun antara satu kota ke kota lain. Apalagi kalau bukan bermaksud minta tolong agar bisa membalas dendam kepada mbah tar.

Tapi sayang setiap dukun yang diminta tolong menolak keras apa yang di inginkan mas wito.

Hampir puluhan dukun di datangi tapi semua nihil. 

 Mas wito seakan kehabisan akal.

Dia bingung harus dengan cara apa agar bisa balas dendam kepada mbah tar.

“Bajingan! Aku kudu enek coro gawe mateni dukun gendeng iku” umpat mas wito

(Bajingan! Aku harus ada cara untuk membunuh dukun itu) 

 Setelah berminggu minggu dia memikirkan cara, akhirnya dia pun punya ide yang bagus.

Bahkan ide yang sangat bagus menurutnya.

Anggun, anak mbah tar. Dia yang akan menjadi alat untuk menyiksa mbah tar. Bahkan berpikir bahwa anggun yang akan dia jadikan alat agar mbah tar bisa terbunuh.

“Anggun, yo arek iku, tak gunakne gawe mateni mbah tar” bisiknya dalam hati

“Entenono tar, gak suwe koen bakal tak legrekno dewe hahahah” ucap mas wito sambil tertawa.

Pagi itu waktu menunjukkan pukul 8 pagi, mas wito yang berangkat ke sawah mencoba- 

 Melihat rumah anggun dari kejauhan.

Anggun tinggal sendiri rumahnya beda gang sama mbah tar.

Mas wito coba mengamati, tapi sepertinya hari ini anggun tidak dirumah karna rumah terlihat sepi dan tertutup.

Akhirnya mas wito pun pergi ke sawah melanjutkan tugasnya. 

 Setelah bertugas disawah mas wito pun pergi pulang, dengan melawati jalur yang sama yaitu lewat depan gang anggun agar bisa mengamati apakah sudah dirumah apa belum.

Dengan jalan pelan mas wito yang melihat rumah anggun pun tersenyum karena anggun sedang diteras rumah dengan perasaan senang mas wito pun berpura pura mampir ada perlu.

Anggun yang duduk diteras kaget melihat kedatangan mas wito, anggun pun menyapa

“Loh mas tekan endi? Tumben mampir?”

(Loh mas darimana? Tumben mampir?)

Maklum kejadian yang menimpa keluarga mas wito yang disebabkan oleh bapaknya sendiri membuat anggun jadi sungkan dan tak enak diri terhadap mas wito.

“Teko sawah nggun, gakpopo pingin mampir ae” jawab mas wito seadanya.

“Owalah, enek perlu opo mas? Sampean lungguh tak gawekne kopi”

(Ada perlu apa mas? Silahkan duduk tak buatkan tak buatkan kopi)

“Pengen dolan nggun nang omah yo gak nyapo nyapo, ngerti awakmu nang jobo yo mampir ae”

(Pingin main aja nggun dirumah juga nganggur, lihat kamu diluar ya mampir aja)

Anggun pun hanya tersenyum dan masuk kedalam rumah untuk bikin kopi buat mas wito. 

 Mas wito yang menunggu dengan senyum licik berbicara dalam hati

“Hahah kesempatanku gawe balas dendam nang tar gak suwe bakal kedaden”

(Hahah kesempatanku dalam balas dendam ke tar gak lama bakal terjadi)

Tak lama anggun pun keluar dengan membawa kopi dalam gelas cangkir. 

 “monggo mas di unjuk” ucap anggun

“Iyo nggun suwun” balas mas wito

Anggun yang masih tidak enak dengan kejadian yang dialami keluarga mas wito pun berniat mengutarakan permintaan maaf.

“Mas aku jaluk sepuro ya mas, aku ngerti bapakku gak iso smpean sepuro tapi aku dadi anake ngeroso salah banget nang sampean karo lek mirna” ucap anggun

“Wes nggun gakpopo duduk salahmu, wes pancen takdire ngene”

(Udah nggun gakpapa bukan salahmu, udah jadi takdirnya)

Anggun yang menundukkan kepala masih belum sadar dengan apa yang sudah direncakan mas wito.

Mas wito yang sedari tadi menahan gejolak untuk menghabisi mbah tar pun terlihat celingak celingukan melihat keadaan sekitar. Dia memastikan keadaan aman untuk melaksanakan rencananya.

Tapi setelah dilihat ternyata banyak orang lalu lalang dijalan. 

 Mas wito pun tidak jadi melakukannya. Dia pun akhirnya pamit meninggalkan anggun.

Dalam perjalanan mas wito masih memikirkan cara agar bisa membawa anggu keluar rumah.

“Sabar sek nunggu kesempatan neh”

Tiga hari berlalu, tepatnya jam 5 sore mas wito yang melamun memikirkan cara tiba-tiba lewat penjual bakso, mas wito yang banyak ide pun akhirnya membeli dua porsi.

Setelah membeli mas wito membawa kerumah anggun.

“Assalamualaikum nggun”

“Waalaikumsallam mas, nggeh mas enek opo mas?” Jawab anggun

“Ki nggun bakso dikek i ibuk, mau dikongkon ngeterne- 

 Nang omahmu”

“Owalah suwun mas ngerepoti ae”

“Gakpopo nggun, eh nggun aku numpang nang wc tapi terno yo” ucap mas wito

“Iyo mas monggo ayo tak terno”

Tanpa curiga anggun pun mengantar mas wito kedalam rumah.

Anggun yang berada didepan mas wito tidak tahu bahwa mas wito- 

 Bersiap siap akan memukulnya dari belakang. Dia sudah menyiapkan pemukul kayu yang dia ambil di samping pintu rumah anggun.

Akhirnya tanpa basa basi mas wito pun akhirnya memukul anggun, dan anggun yang tidak siap pun jatuh tersungkur kemudian pingsan.

Mas wito pun tertawa karena berhasil melumpuhkan anggun. Digotonglah anggun kedalam kamar.

Didalam kamar anggung pun di ikat agar tidak bisa bergerak. Lama akhirnya anggun sadar, dia kaget karena badannya sudah terikat dengan mulut disumpal kain. 

 Meronta ronta itu yang dilakukan anggun. Tapi mas wito yang melihat dari pintu hanya ketawa dan puas.

“Hahaha nggun aku nang kene arep balas dendam nang awakmu gara gara perbuatane bapakmu” ucap mas wito

Anggun hanya menangis dengan iba dihadapan mas wito. 

 Tak menunggu lama mas wito pun mengambil pisau di dapur.

Dia menyobek daster dan celana dalam yang dipakai anggun.

Anggun yang takut dan tidak bisa bergerak bebas hanya meronta ronta dan menangis.

Setelah anggun bugil mas wito dengan teganya memasukkan pisau berukuran sedang itu kedalam anus anggun. Dimasukkannya berkali kali sampai anus anggung pun sobek dan keluar banyak darah.

Anggun yang kesakitan menangis sejadi jadinya tapi sayang suaranya tidak bisa keluar dengan nyaring karena mulutnya sudah di tutup dengan kain. 

Seakan belum puas, mas wito pun mengambil keperawanan anggun juga. Dia teringat bagaimana kejadian demi kejadian yang dialami ibunya, dan kini anak si dukun juga harus merasakannya.

Tragis, itu penggambaran yang cocok bagaimana manusia ini saling menyakiti. 

“iki loh nggun seng dirasakno ibukku, piye rasane nggun? Hahahahah” bisik mas wito ke anggun yang sudah tak berdaya.

(Ini loh nggun yang dirasakan ibukku, gimana rasanya nggun?hahaha) 

Tok..tok..tokk.. bunyi pintu depan, tanda bahwa ada seseorang yang mau bertamu.

Mas wito yang awalnya puas sekarang kaget dengan kedatangan seseorang diluar.

Mas wito yang keluar kamar sekarang sedang mengintip dibalik gorden jendela.

“Nggun..Anggunnn.” ucap seorang ibu ibu yang dibarengi mengetok pintu.

Mas wito yang mengintip dari balik gorden kaget dan ada rasa gembira karena yang datang adalah ibu anggun, dia istri mbah tar.

“Wahh rejeki teko neh, saiki bojone” ucap mas wito dalam hati sembari tersenyum. 

(wahh rejeki datang lagi, sekarang istrinya)

Mas wito yang bersembunyi di belakang pintu sembari membawa pemukul mulai membuka pintu.

Krieett..

Istri mbah tar (bulek sumi) yang melihat pintu terbuka akhirnya masuk, tapi baru beberapa langkah masuk mas wito yang sudah menyiapkan pemukul tanpa basa basi langsung menghantam pundak bulek sumi

Melihat bulek sumi yang tersungkur, mas wito menangkatnya dan tak lupa menutup pintu. Menggendong bulek sumi ke kamar dan di taruh di sebelah anaknya yakni anggun.Anggun yang mengetahui ibunya Dibawa mas wito kembali metonta ronta, menangis untuk kesekian kalinya.

Mas wito dengan gerak cepat langsung mengikat bulek sumi dan membungkam mulutnya.

Sambil menunggu bulek sumi sadar mas wito kembali menyiksa anggun.

“Nggun ngenteni ibukmu sadar ayo dulinan karo aku- Sek yo, tak jak enak enak hahaha” ucap mas wito

Anggun yang tak bisa apa apa hanya terus menangis dan berontak.

Mas wito yang bak dikuasai iblis terus memainkan anus anggun dengan pisau, belum puas kini giliran telinga anggun yang dia sobek perlahan lahan. 

 Darah segar keluar dari daun telinga anggun yang di sobek.

Anggun yang sudah tak kuat akhirnya pingsan setelah menerima begitu banyak rasa sakit.

Tak berselang lama bulek sumi sadar dari pingsannya. Dengan tangan di ikat dan mulut yang disumpal kain sertaa badan yang telanjang- 

 Kaget dengan keadaannya, bulek sumi melihat kearah samping.

Meronta sambil menangis bulek sumi tidak percaya, karena melihat anak satu satunya penuh darah, dilain sisi bulek sumi melihat mas wito nampak tersenyum puas.

“Hahah lapo kaget? Anakmu sek semaput, mariki gantian asakmu 

 Entenono gilirane dewe dewe” ucap mas wito sambil tertawa

(Hahah knapa kaget? Anakmu masih pingsan, habis ini gantian kamu, tunggu gilirang masing masing)

Bulek sumi berontak mencoba melepaskan ikatan tangan dan kakinya tapi nihil, usahanya sia sia. 

Mas wito yang melihatnya hanya senyum senyum, kemudian dia naik diatas tubuh anggun.

Bulek sumi yang melihat menangis karena mas wito dengan beringasnya menyetubuhi anggun disaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

“Hahah enak lek anakmu iki, kok gak ket iko yo aku ngene- 

 Paling iki rasane tar pas ngeloni makku” ucap mas wito

(Hahah enak lek anakmu ini, kok gak dari dulu aku giniin, paling ini yang dirasakan tar saat sama makku)

Bulek sumi menutup mata sambil menangis, tak kuasa melihat anaknya diberlakukan seperti itu oleh orang lain- 

 Setelah puas menyetubuhi anggun mas wito beralih mendekat ke arah bulek sumi.

Bulek sumi yang sadar dengan kehadiran mas wito yang mulai mendekat pun takut.

Dengan membawa pisau ditangannya mas wito mulai menggoreskan sedikit luka di pipi bulek sumi. 

 “aku asline gak tego, tapi nyawang bojomu seng wes elek nang keluargaku, aku ora bakal iso lali, dendam ku bakal ono terus sak durunge salah siji ono seng mati”

(Aku aslinya tak tega, tapi lihat perlakuan suamimu ke keluargaku, aku gak bakal lupa, dendam ku akan ada terus- 

 Sebelum salah satu ada yang meninggal) ucap mas wito sembari berbisik.

Tak menunggu lama mas wito dengan teganya menyobek lubang hidung milik bulek sumi.

Bulek sumi yang kesakitan meronta ronta, sembari menangis sesenggukan, darah mulai mengalir deras kearah pipi. 

 “lek wes koyok ngene piye yo perasaane tar?” Kata mas wito

Tapi tiba tiba dari arah pintu luar terdengar dobrakan yang kuat.

Bruaaakkk…

Mas wito yang kaget melihat keluar. Dipintu yang terbuka berdiri sesosok lelaki yang tak lain adalah mbah tar.

Dengan wajah merah padam Dan sembari berteriak

“Bangsatt!! Wito asu awakmu iku, koen wes wani macem macem, bajingan”

Mbah tar pun menghampiri mas wito yang sedang berdiri melihatnya.

Dengan membawa pisau ditangan mas wito dengan santainya tersenyum. 

 Jarak semakin dekat mbah tar yang sudah sangat marah memukul kepala mas wito dengan tangan kosong, sedangkan mas wito yang membawa pisau dia tancapkan pada perut mbah tar.

Perkelahian tidak terelakkan.

“Salah siji gudu ono seng mati” ucap mas wito

Dengan pisau yang menancap diperut mbah tar meringsut mundur.

Darah banyak yang keluar dari perut mbah tar, tapi dengan tersenyum mbah tar berkata “goblok, dikiro aku bakal mati koyok ngene, hahahah”

Pisau yang menancap pun akhirnya diambil mbah tar dari perutnya, kulit yang awalnya robek- 

Seakan tertutup kembali seperti semula.

Mas wito yang melihat mulai was was ketakutan.

“Goblok, masiho kon gawe senjata opo ae percuma, selagi kon durung ngerti pengapesanku, ojo arep arep aku mati” ucap mbah tar dengan tertawa

“Anggun .” Ucap mas wito 

“Gak suwe anggun mati tar, aku mati tapi anakmu yo bakal mati” kata mas wito yang berlari menuju kamar mengambil kayu pemukul dan memukulkan ke anggun hingga tewas.

Mbah tar ikut berlari mengikuti dan membunuh mas wito dengan menancapkan pisau ke lehernya.

“WITO BANJINGANN!!!” 

 Malam itu dirumah anggun banyak darah yang mengalir, banyak darah yang tercecer.

Banyak nyawa yang jadi korban.

Mbah tar yang diliputi perasaan marah menikam mayat mas wito dengan keji mengacak ngacak daging hingga mukanya tanpa celah

Tetangga anggun yang  Mendengar keributan mencoba mendatangi, melihat banyak darah yang terlihat dan ada mbah tar membawa pisau, dengan wajah panik beliau kembali kerumah dan menutup pintu rapat rapat.

Keesokan pagi para warga berdatangan setelah mendapat info dari tetangga anggun. 

 Disalah satu kerumunan warga budhe mirna terlihat sangat syok dan sedih, bagaimana tidak anaknya bisa melakukan hal itu dan dia juga yang menjadi mayat.

Entah budhe mirna tak tau apa yang terjadi, yang budhe mirna tau hanya cerita dari tetangga anggun yang mengatakan semalam- 

 Terjadi keributan dirumah anggun dengan adanya mbah tar yang membawa pisau ditangan.

Dilain sisi dengan kematian anaknya mbah tar juga merasa kehilangan, entah karna anggun adalah pengapesannya atau bagaimana, tapi yang pasti setelah kematian anaknya mbah tar seperti menjadi Orang gila, bahkan mayat anaknya tidak boleh dimakamkan.

Setelah anaknya meninggal tak sampai satu bulan giliran istrinya yang harus pergi menemui anaknya.

Mbah tar yang mengalami hal tersebut akhirnya jatuh sakit dan mengalami setruk.

Tak lama beliau juga akhirnya Meninggal.

Sampai saat ini cerita tragis mbah tar masih tetap ada dan masih jadi cerita turun temurun. Sekian.

Thread By @Kuhaku34209725

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *