RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Jalur Lintas Sumatera: Losmen Berhantu

Banyak peristiwa menjurus seram terjadi ketika kita sedang berada di tempat asing, tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

So, simak cerita pengalaman salah satu teman, ketika dia terdampar di losmen hantu, di jalan lintas Sumatera.

“Ada, Mas. Gak jauh lagi, kok.”

“Besar bangunannya, Pak?”

“Gak terlalu, tapi kamarnya lumayan banyak.”

“Oh, gitu. Ya sudah, nanti saya ke sana deh, Pak.” 

Kemudian Bapak pemilik warung kecil ini kembali melanjutkan kegiatannya, membereskan warung untuk menutupnya segera, aku pelanggan terakhir. Setelah itu, aku mematikan rokok yang sebenarnya masih setengah, belum habis. Gelas bening berisi kopi, aku angkat dan menyeruputnya sekali lagi, karena memang menyisakan nyaris hanya bubuknya saja. 

Sudah hampir jam 12 tengah malam, terdampar di salah satu bagian Sumatera yang aku gak tahu letak pastinya. Jambi, kota yang aku tuju, seharusnya hanya sekitar empat jam lagi untuk sampai. Tapi, karena entah di persimpangan mana tadi aku salah belok, jadilah terdampar di sini, entah di mana ini. Kesasar.. 

Makanya, setelah tadi sadar kalau sudah melenceng jauh dari jalan yang seharusnya ditempuh, aku lalu mencari tempat untuk bertanya, kebetulan akhirnya menemukan warung, warung kecil yang menjadi bangunan satu-satunya di tengah pelosok seperti ini. 

Padahal ketika aku mampir tadi, si pemilik sedang hendak menutup warungnya, tapi karena sepertinya kasihan melihat aku yang kelihatan lelah dan kebingungan maka beliau menunda pulang sebentar. 

Kemudian kami berbincang sekitar satu jam, yang berujung saran dari si Bapak kalau sebaiknya aku mencari tempat beristirahat saja, karena jalur di depan cukup rawan kejahatan. 

Atas dasar itulah, aku bertanya apakah ada hotel atau penginapan di dekat-dekat sini, dia bilang ada, gak jauh dari warungnya. 

“Saya pulang ya, Mas. Hati-hati kalau nanti lanjut jalan.” Begitu kata Bapak pemilik warung.

“Oh, iya, Pak. Terima kasih.” Jawabku.

“Kalau mau duduk di sini dulu gak apa-apa, silakan, hehe,” 

Kemudian dia pergi meninggalkan aku sendirian dalam gelap di depan warungnya, berjalan ke arah berlawanan dengan jalan yang akan aku tuju nantinya. Beberapa menit setelahnya, aku benar-benar sendirian. Sekali lagi menyalakan rokok, “Sebatang lagilah,” begitu pikirku. 

Aku memandang jalanan sepi dan kosong yang ada di hadapan. Sepertinya, kalau gak salah sejak satu jam lalu ketika pertama mampir di warung, gak ada satu pun kendaraan yang terlihat melintas, entah itu motor, mobil, atau kendaran besar, gak ada, kosong saja. 

Warung kecil ini letaknya persis di pinggir jalan yang sepi, jalanan yang kanan kirinya hanya ada lahan kosong yang dipenuhi pepohonan, menyerupai hutan atau perkebunan, sama sekali gak ada bangunan.  Udara mulai terasa dingin, tanpa hembusan, namun tetap sesekali menyentuh permukan kulit, merinding jadinya. Kali ini, rokok di tangan sudah benar habis, lalu kumatikan dengan menginjaknya. Asap terakhir kuhembus dari mulut, kepulannya lebih pekat dari pada kabut tipis yang mulai muncul. 

Ya sudah, aku lalu berjalan menuju mobil, bermaksud untuk melanjutkan perjalanan, mencari losmen yang bapak pemilik warung tadi rekomendasikan. Iya, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat dulu saja, lalu melanjutkan perjalanan besok pagi.

Harusnya, aku sudah terbiasa dengan kesendirian, karena sejak dari Jakarta kemarin malam memang sudah berkendara sendirian, harusnya sudah terbiasa. 

Tapi entah kenapa, menjelang tengah malam ini kok seperti beda hawanya, aneh, aku gak bisa menjelaskannya. Keanehan inilah yang membuat tekadku semakin bulat untuk mencari hotel atau losmen saja, untuk beristirahat. Dari pada kenapa-kenapa kalau aku memaksakan lanjut perjalanan. 

Sudah sekitar lima menit setelah meninggalkan warung tadi, aku sengaja menjalankan kendaraan dengan kecepatan sedang, nyaris pelan, sengaja seperti itu karena aku sambil mencari Losmen yang bapak tadi maksudkan. 

“Tempatnya di ujung tikungan panjang, sebelah kiri jalan, agak gelap, kalau meleng bisa-bisa kelewatan”, aku ingat sekali kalau bapak pemilik warung tadi bilang begitu, makanya aku sangat awas memperhatikan sisi jalanan. 

Keadaannya sama dengan di depan warung tadi, jalanan yang sedang aku susuri ini juga sangat kosong, sepinya agak menggetarkan nyali, gak ada kendaraan melintas sama sekali. Sesekali terlihat ada satu dua bangunan di pinggir jalan, tapi sangat jarang, selebihnya pepohonan menyerupai hutan yang jadi pemandangan. Lampu mobilku jadi sumber pencahayaan satu-satunya, jadinya terang hanya ada di bagian depan saja, kanan kiri gelap gulita, apa lagi belakang. 

Sesekali aku melirik kaca spion, seram melihatnya, gelap pekat membuat was-was, takut kalau tiba-tiba aku melihat sesuatu di belakang dari pantulannya. Aaahh, akhirnya aku menemukan tikungan panjang, seharusnya pada ujungnya akan ada Losmen yang bapak warung tadi maksud. Benar saja, tikungannya cukup panjang dan tajam, nyaris membentuk setengah lingkaran. Sudah cukup pelan, tetapi aku sengaja mengangkat pedal gas sedikit lagi, supaya lebih bisa melihat menembus gelap di pinggir jalan. 

“Mana sih losmennya?” aku menggerutu, karena gak juga menemukan losmen itu, padahal tikungan sudah terlewati.

Di tengah-tengah pencarian, hujan turun rintik-rintik, kaca mobil mulai tertutup air, jarak pandang yang tadinya sudah terhalang gelap, jadi semakin pendek lagi. Tetapi, beberapa belas detik kemudian, aku melihat ada sedikit cahaya lampu di sebelah kiri, letaknya agak jauh dari jalan. “Ah, itu mungkin ya” lagi-lagi aku bicara sendiri. 

Benar, ternyata ada bangunan, beberapa lampu kecil menerangi, membuat aku sudah bisa melihatnya walau belum jelas. Beberapa belas meter kemudian, aku melihat ada jalan kecil berbelok ke kiri, jalan menuju bangunan yang mestinya itu adalah losmen, lalu aku berbelok ke jalan itu. 

Gak terlalu jauh, mungkin hanya 30 meter kemudian aku sudah bisa melihat cukup jelas. Setelah melewati gerbangnya aku dapat melihat kalau bangunannya gak terlalu besar, namun betuknya melebar, banyak pintu terlihat di sebelah kanan kiri bangunan utama yang berdiri di tengah. 

Sepertinya dugaanku benar, ini adalah losmen yang dimaksud. Halaman parkirnya luas, sepertinya bisa menampung belasan kendaraan. Di bagian sebelah kanan, aku melihat ada dua kendaraan terparkir, bersebelahan, jaraknya masih terlalu jauh, aku belum mampu melihatnya dengan jelas. 

Benar dugaanku, ini losmennya, ada papan lusuh yang ukurannya gak terlalu besar tergantung di dinding depan, bertuliskan “Losmen Melati”. 

Setelah kendaraan sudah terparkir, aku lalu turun, menuju lobby yang aku tebak letaknya ada di bangunan paling tengah. hujan yang tadinya masih gerimis, berangsur membesar, aku jadi berlari kecil. 

Sambil terus bergerak aku sempat memperhatikan sekeliling, lalu melihat kalau halaman losmen seperti sudah lama gak terurus, nyaris seluruh permukaannya tertutup rumput, namun tinggi rumputnya gak beraturan, ada yang pendek dan ada yang tinggi, pada beberapa bagiannya juga berserakan dedaunan kering, ditambah guyuran hujan jadinya semakin gak indah dipandang. 

Ruangan cukup besar, dengan lampu penerangan seadanya, redup mambuat aku harus mengernyitkan mata ketika sudah menginjakkan kaki di teras depan lobby. Iya benar, ternyata lobbynya memang ruangan yang aku terka sejak tadi. 

Ada dua jendela kaca nako memanjang ke bawah yang letaknya di samping pintu tertutup, dari kaca nako ini aku bisa melihat ke dalam. Di dalam gak ada orang sama sekali, hanya ada kursi sofa kulit panjang yang biasa kita lihat di lobby-lobby hotel, ada meja juga di depan sofa. Setelah puas memperhatikan, aku raih gagang pintu lalu membukanya, pintu gak terkunci.

Derit suara engsel kayu terdengar memecah sunyi, menandakan kalau daun pintunya cukup berat, atauuu bisa jadi bunyi itu timbul karena pintu sudah lama tertutup terus menerus, entahlah.. 

“Permisi…, Pak? Bu..?”

Aku coba memanggil siapa saja yang mungkin sedang berada di ruangan belakang, karena melihat kalau di ruangan ini sama sekali gak ada orang, begitu juga di balik meja lobby, kosong. 

Meja lobby bentuknya menurutku cukup unik, meja kayu besar hampir setinggi dada, bentuknya seperti meja Bar yang ujung sebelah kanannya melengkung. Pintu masuknya pun unik, menggunakan pintu koboy setinggi pinggang. 

Ruangan sebesar ini hanya diterangi oleh satu bola lampu yang cahayanya sudah seperti hidup segan mati tak mau, redup jadinya. Tapi walaupun begitu, aku masih bisa melihat sekeliling, masih bisa melihat ada barang apa saja di balik meja lobi, ada lemari kayu besar berwarna gelap, ada pintu juga di sebelahnya, entah pintu menuju ke mana. 

“Ini ada orangnya gak, sih?” aku menggerutu dalam hati, ketika sudah beberapa saat lamanya gak juga ada orang yang muncul. 

Nah, kemudian tiba-tiba aku melihat ada sesuatu di pojok meja, dekat dinding, di situ aku melihat ada lonceng kecil, lonceng dengan gagang kayu kecil sebagai pegangannya. Kemudian, langsung aku raih lonceng itu, lalu menggoyang-goyangnya.

“Klining.., klining.., klining..” 

Iya, aku beranggapan kalau lonceng ini memang untuk memanggil petugas losmen. 

Dan benar, beberapa saat kemudian pintu yang ada di balik meja lobby perlahan terbuka. Dari balik pintu muncul seorang bapak, dia berkemeja putih lengan panjang, berdasi kupu-kupu. 

Iya loh, berdasi kupu-kupu, haha.

Ini hotel apa sih? Masa sudah tahun 2007 gini masih ada pegawainya yang berpakaian ala petugas hotel jaman dulu?. Lucu dan aneh menurutku. 

Bapak ini berpostur agak gempal, dengan kumis tebal menghias wajahnya.

“Malam, Pak. Masih ada kamar kosong?” tanyaku.

“Ada,” Bapak ini menjawab singkat sambil tersenyum.

“Ah, sukurlah. Saya ambil satu ya, Pak. Berapa harganya?”

“20ribu.” 

Hah? 20ribu? serius?, kok murah amat?

“Beneran 20ribu, Pak?” aku bertanya lagi, memastikan.

Bapak ini mengangguk, sambil terus tersenyum. 

Ah, ya sudahlah, mungkin harganya memang segitu, atau mungkin sedang ada promo. Aku Cuma mau cepat-cepat istirahat, tidur, gak mau pusing memikirkan harga yang kelewat murah ini. Tapi, ada yang aneh lagi, pintu belakang yang tadi dari mana bapak lobby ini muncul masih dalam keadaan setengah terbuka, karena inilah akhirnya aku bisa melihat ke belakang. 

Ternyata salah, yang aku kira itu ada ruangan lain, ternyata bukan. Bukan ruangan bangunan tertutup, tetapi malah ruang terbuka, karena banyak pepohonan dan beralaskan rumput, persis seperti halaman depan. Gelap memang, tapi aku masih dapat melihat semuanya dengan bantuan cahaya redup dari lampu lobby. 

“Buset, belakang langsung perkebunan itu? atau hutan?” bertanya-tanya aku dalam hati.

“Ini.” Suara bapak lobby membuyarkan lamunanku. Dia menyerahkan anak kunci yang pada gantungan kayunya tertulis nomor “03”. 

“Kamarnya di mana, Pak?” tanyaku.

Bapak itu gak menjawab, hanya memberi isyarat dengan tangan yang menunjuk ke sebelah kiri lobby. Baiklah, aku mengerti.

“Terima kasih, Pak” 

Lalu aku berjalan ke luar, menuju ke sebelah kiri. Sebelum masuk kamar, aku terlebih dahulu ke mobil untuk mengambil tas dan beberapa barang.

Sementara itu, hujan masih turun, semakin deras malah. 

Nah, masih ingat kan dengan dua mobil yang tadi di awal aku ceritakan? yang parkir nyaris di paling sudut halaman?, kali ini aku sudah bisa melihatnya dengan jelas, karena letaknya gak jauh dari kamar yang akan aku tempati. 

Sekali lagi aku sedikit merasa aneh, karena dua mobil itu merupakan mobil sedan tua, mobil keluaran sekitar tahun 70an, tapi kondisinya masih kelihatan cukup bagus, mulus dan mengkilat. 

“Rupanya ada penggemar mobil antik di sini.” Begitu pikirku.

Ya sudah, gak memikirkan hal itu lagi, aku lalu mambuka pintu kamar 03. Semerbak wangi bunga menyeruak tercium setelah sudah berada di dalam, entah wangi bunga apa, aku gak tahu. “Berarti kamarnya bersih, wangi banget,” gerutuku dalam hati. 

Tapi aku belum bisa melihat isi kamar dengan jelas karena masih gelap, maka dari itu aku lalu mencari saklar lampu yang biasanya terletak gak jauh dari pintu. Ternyata gak ada, aku gak menemukan saklar lampu. Tapi masa iya gak ada saklarnya?, gak mungkin kan.

Terus aku meraba dinding dalam gelap, namun tetap gak menemukannya, sementara wangi bunga masih tercium, semakin kuat malah ketika aku makin masuk ke dalam. Menyerah, akhirnya kuraih korek api gas di saku celana, lalu menyalakannya, seketika ruangan menjadi sedikit bercahaya. Barulah aku bisa melihat isi kamar.

Pantas saja aku gak menemukan saklar lampu, karena memang gak ada lampu ruangan, yang ada hanya lampu meja. Ada lampu meja yang bentuknya model lampu jaman dulu, dengan tutup kain berenda, bermotif bunga. Aku lalu menyalakannya. Seketika, kamar 03 ini jadi gak gelap lagi, walau gak terlalu terang juga. 

“Ini hotel jadul banget sih, masa lampu kamar masih mengandalkan hanya dari lampu meja?” sekali lagi aku mengomentari keunikan losmen ini.

Ada dua kasur kecil, di tengah-tengahnya ada meja kayu yang di atasnya ada lampu tadi. Aku lalu melatakkan tas di atas salah satu tempat tidur, lalu bergegas menuju toilet karena sepanjang jalan sudah menahan ingin buang air kecil. 

Toilet ukurannya cukup besar, tapi aku agak sedikit kesal karena ternyata lampunya mati, gak bisa aku nyalakan. Tapi ya sudahlah, karena sudah gak tahan lagi, kemudian aku langsung buang air kecil. 

Dalam keadaan gelap, yang hanya mengandalkan penerangan dari lampu kamar, aku bisa melihat kalau toilet ini juga bentuknya model lama, masih menggunakan bak mandi dan kloset jongkok.Beberapa bagian dindingnya juga masih menggunakan batu alam. 

Ketika sedang buang air kecil inilah, samar aku mendengar sesuatu, sesuatu yang tentu saja membuat penasaran. Aku mendengar suara dari belakang kamar, dari balik dinding kamar. Suara apa,sih? Ternyata itu adalah suara orang yang sedang berbincang satu sama lain, beberapa orang!

Gak bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka, yang aku dengar hanya gumaman-gumaman dari kejauhan. Siapa mereka? Apa yang sedang mereka lalukan di belakang losmen? Tepat di atas kloset, aku melihat ada jendela kaca yang letaknya di dinding bagian atas. Dari jendela itu seharusnya aku bisa mengintip ke luar, melihat ada apa sebenarnya di belakang. 

Penasaran, aku lalu berusaha mencapai jendela itu dengan menaiki bak mandi. Sementara, suara perbincangan itu semakin jelas terdengar, belakangan malah diselingi oleh tawa tertahan, bahkan cekikikan. 

Gelap, yang masih terlihat hanya gelap, gak bisa melihat apa-apa ketika pada akhirnya aku sukses mengintip melalui jendela toilet. Namun aku belum menyerah, terus berusaha mencari apa saja yang mungkin masih bisa kelihatan, karena suara perbincangan itu masih terus terdengar. 

Sampai akhirnya, beberapa belas detik kemudian ketika mata sudah terbiasa melihat dalam gelap, pandanganku menangkap sesuatu. Aku melihat ada empat orang yang sedang berdiri di bawah rintik hujan, saling berhadapan, jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempat aku mengintip. 

Dua lelaki dan dua perempuan, keempatnya mengenakan pakaian jaman dulu, pakaian model tahun 70an. Saat inilah aku mulai merasa ada keanehan, siapa mereka? Sedang apa di belakang losmen? Kenapa berpakaian seperti itu?, banyak pertanyaan di kepala. 

Kemudian, aku menahan napas, ketika tiba-tiba salah satu dari mereka perlahan menolehkan wajahnya ke arahku..Perempuan, yang menoleh adalah perempuan. Kemudian dia tersenyum, aku bisa melihatnya walau samar. Setelah perempuan itu, kemudian satu persatu temannya yang lain juga perlahan menoleh ke arahku. 

“Tuhaaaan, siapa mereka?”

Keringat dingin mulai mengucur, ketakutan mulai menyeruak. Aku semakin ketakutan, gemetar tubuhku ketika melihat adegan berikutnya.. Ketika keempatnya mulai berjalan bergerak, menuju pintu belakang, yang kalau aku gak salah, mereka sedang menuju pintu belakang lobby losmen.

Yang membuatku makin ketakutan, ternyata mereka berjalan bergerak melayang, seperti kakinya gak menyentuh tanah. Benar, mereka menuju pintu belakang lobby. Pandanganku terus mengikuti sampai mereka gak terlihat lagi.  Aku lalu turun dari bak mandi, menuju tempat tidur.

“Ah, gak beres losmen ini.” Ucapku dalam hati.

Aku mengemasi lagi barang-barang yang tadi sempat aku keluarkan, berniat untuk pergi meninggalkan losmen.

Tapi, tiba-tiba..

“Klining.., klining.., klining..” 

Aku mendengar ada suara lonceng dari luar kamar, bunyinya persis seperti lonceng yang ada di meja lobby tadi.

Penasaran, aku mendekati jendela, lalu mengintip ke luar.

“Klining.., klining.., klining..” lonceng terdengar lagi, dari kejauhan. 

Di luar aku melihat empat sosok tadi, mereka sedang berjalan bergerak melayang dari lobby menuju dua mobil tua yang parkir gak jauh dari depan kamar. Gemetaran menyaksikan semuanya, bernafas pun aku gak berani. Lalu mereka masuk ke dalam dua mobil itu, kemudian mobil bergerak perlahan menuju pintu gerbang losmen.

Beberapa saat setelahnya, dua mobil antik itu hilang dari pandangan, entah tertelan gelap malam atau memang menghilang saja, aku gak tahu, gak mau tahu. 

“Klining.., klining.., klining..”

Bunyi lonceng terdengar lagi, seram. Aku lalu mundur menjauh dari jendela. 

“Harus pergi dari sini.” Gerutuku dalam hati.

Kuraih tas dan barang bawaanku lainnya, lalu berlari menuju pintu. 

Nah, ketika sudah di luar, sekali lagi aku mendengar suara lonceng..

“Klining.., klining.., klining..”

Reflek, aku lantas menoleh ke kanan, mencari sumber suara. 

Akhirnya aku melihatnya, memang ada seseorang yang sedang berdiri di depan lobby sambil tangannya memegang lonceng kecil. Jarak lobby gak begitu jauh, aku jadi bisa jelas melihat semuanya. 

Dia adalah bapak yang tadi aku temui di lobby, bapak berkemejaputih lengan panjang dan berdasi kupu-kupu. Dia berdiri diam sambil sesekali membunyikan lonceng.. Aku sangat ketakutan, berlari menuju kendaraan, ingin cepat-cepat pergi meninggalkan losmen ini. Setelah sudah di dalam mobil, aku lalu tancap gas, pergi jauh-jauh.

Kenapa aku begitu ketakutan? kenapa terbirit-birit meninggalkan losmen? karena aku melihat bapak berkemeja berdasi kupu-kupu itu berdiri tanpa kepala..!

Thread By @BriiStory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *