RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

JELANGKUNG

Datang tak dijemput, pulang ikut kalian”

[A THREAD]

— JELANGKUNG —

“Datang tak dijemput, pulang ikut kalian”

[A THREAD]

#bacahoror #bacahorror @bacahorror #ceritahorror #threadhorror

Image

Kali ini saya akan menceritakan kisah nyata dari 4 orang Pemuda di tahun 1970/80an yg bermain-main dengan permainan yg tidak main-main yaitu “Jelangkung”. Dalam permainannya mereka melakukan sebuah kesalahan hingga akhirnya menyebabkan terror yg berkepanjangan. Sampai membuat mereka hampir gila. Bagaimana kisahnya?

Disclaimer : Semua Nama tokoh dan tempat sengaja disamarkan untuk menjaga identitas dan privasi pihak yg terlibat didalamnya.

Image

Jawa Tengah kisaran tahun 1978.

Sebut saja Sugeng, Bambang, Kuncung dan Wicaksono. 4 orang sahabat yg tak terpisahkan, selain karena memang mereka satu kampung, sejak SD hingga kini SMA mereka selalu berada dalam sekolah yg sama.

Image

Seperti pada hubungan persahabatan pada umumnya, ada banyak kekonyolan-kekonyolan yg mereka lalui termasuk kekonyolan satu ini yaitu bermain “Jelangkung”. Kuncung si tubuh kecil namun paling tengil inilah yg menjadi pemrakarsanya. 

Berbekal mantra yg sudah umum diketahui dan “ubo rampe” atau persyaratan yg diketahui dari salah satu halaman yg dimuat di “Majalah misteri” mereka mulai merencanakan ritual ini. Tak ada tujuan pasti, motivasi satu-satunya hanyalah rasa penasaran yg memang sedang kuat dirasakan oleh remaja seumuran mereka. Sugeng si paling lugu dan penakut sekaligus narasumber dari cerita ini sebenarnya tak setuju perihal ritual “jelangkung” ini, namun apa daya karena yg menang adalah suara terbanyak, mau tak mau atas nama “Konco kenthel” atau persahabatan Sugeng harus ikut teribat didalamnya. Mereka mulai mempersiapkannya. Wicaksono si paling trampil dalam urusan kerajinan tangan mulai membuat boneka “Jelangkung” dengan gayung bathok yg ia curi dari gentong air milik neneknya dan dibuatlah boneka itu sesuai dengan apa yg digambarkan dalam “majalah misteri”

Image

Jum’at sore di tahun itu “Sugeng” tak begitu mengingat bulan apa. Mereka berempat pergi ke sebuah makam jawa tak bertuan di salah satu lembah di taman kota. Mereka menancapkan boneka jelangkung itu di makam tersebut sesuai petunjuk, menurut informasi dari majalah sebelum digunakan boneka jelangkung itu harus dibiarkan tertancap di sebuah makam selama 1 malam. Ditancapkanlah sebuah boneka jelangkung khas Jawa lengkap dengan kemeja putih milik ayah “Bambang” di atas makam tersebut.

Image

Dan siang hari setelah pulang sekolah mereka kembali ke makam itu untuk mengambil boneka itu lagi.

“SAMPUN NGGIH MBAH”

(sudah ya mbah..) ucap Kuncung dengan nada bercanda sembari mencabut boneka itu. Mereka pun beranjak pulang untuk mempersiapkan ritual “Jelangkung” ini yg rencananya akan dilakukan nanti malam.

Singkat cerita malam pun tiba, semua sudah siap Boneka yg sudah di ikatkan dengan kapur tulis beserta kelengkapan lainnya seperti kembang, kopi pait, air santan, dan tidak lupa “Sabak” atau papan tulis yg terbuat dari batu. 

Mereka berempat membawa kelengkapan itu ke sebuah rumah tua yg terbengkalai di dekat “Cungkup” atau tempat menyimpan perlengkapan pemakaman di pinggir desa. Mereka sengaja mengambil waktu agak larut agar tak ada warga atau tetangga yg memergokinya. 

Mengingat ini adalah aktivitas yg cukup aneh tentu akan timbul masalah bila ada orang lain yg mengetahuinya. Sesampainya disana mereka mulai menggelar tikar menyalakan 2 buah lentera kecil dan menata semua sesajen dan ritual pemanggilan arwah “Jelangkung”pun di mulai. 

Boneka sudah dipegang sejajar oleh mereka, tepat di atas papan penulis, sejenak mereka semua terdiam saling pandang. “Apakah kita akan benar-benar melakukannya!!” mungkin itu yg ada dalam batin mereka semua saat itu. “Kuncung” mulai memberikan arahan untuk mengucapkan mantra. 

“NJO ALON-ALON!!”

(ayo pelan-pelan!!) ucap kuncung sebelum mulai membacakan mantranya sembari memberitahu agar jangan ada yg melepaskan boneka ini jika nanti timbul pergerakan.

“IYO IYO!!!” jawab Bambang yg belakangan ini agak sebal dengan kuncung yg selalu berlagak seperti dukun, akhir-akhir ini.

Mantrapun diucap dengan hikmat ditengah suasana ruangan itu yg lembab. Sugeng tampak menolah-menoleh ke sekitarnya ia merasa ada orang lain selain mereka diruangan itu namun dengan segera kuncung mengisyaratkan Sugeng untuk kembali berkonsentrasi 

Mantra yg diucap berulang ini nampaknya belum membuat boneka ini bergerak. Mulai timbul keraguan dalam diri mereka masing-masing, Sugeng dan wicak mulai berhenti melafalkan mantra itu, namun tidak dengan Bambang dan Kuncung yg jusrtu tempo bacaanya kian cepat.. 

Dan benar tak selang beberapa lama kemudian boneka itu terhentak keatas seakan ingin terbang, Sugeng yg kaget sempat melepaskan satu tangannya hingga akhirnya si Kuncung berisyarat untuk tidak melepaskan pegangan itu.. Mereka semua kini terdiam melihat sang boneka bergerak tak beraturan dengan kuat.. Dengan kata-kata yg terbata si kuncung berkata:

“SSUUUUGENG RAWUH MBAAAH”

(Selamat datang Mbah…)

Perlahan Boneka yg tadinya bergerak tak beraturan kini terlihat melandai bergerak memutari menuju sesajen. 

“MONGGO MBAH DIPUN KEDAPI”

(Silahkan mbah kalau dinikmati) kata Kuncung kembali.

Boneka itu mulai memutar-mutar dan berhenti di mangkuk berisi kunci yg di tali.. Seketika Kuncung langsung teringat apa yg tertulis di petunjuk majalah..

Image

Bahwasanya cara Jelangkung makan adalah dengan kunci itu, dengan satu tangannya kuncung mengambil kunci yg ditali itu dan mengalungkannya di leher Boneka seraya berkata “NUWUNSEWU MBAH” (permisi mbah), setelah terkalung boneka itu mulai bergerak mengitari sesajen. 

Mencelupkan kunci itu ke Gelas yg berisi kopi dan air santan. Setelah itu boneka itu kembali bergerak menuju tengah,tepatnya diatas papan tulis “Sabak” dan menggerakkan kapur tulis yg terikat di bawahnya membentuk tulisan yg hanya berupa titik-titik. Kini Bambang mengambil alih dan bertanya.

“NAMINIPUN PANJENENGAN SINTEN??”

(Nama kamu siapa??) boneka itu sejenak terdiam namun kembali bergerak menuliskan kata yg itu adalah namanya yaitu “RUMI”.

Image

Setelah itu Sugeng, Wicak, Kuncung, dan Bambang terlihat saling pandang seakan mengisyaratkan tentang kata-kata apa lagi yg harus di tanyakan. Tapi

Disini Wicak tiba-tiba saja berkata.

“NJENENGAN JALER NOPO SETRI MBAH??” (anda laki-laki atau perempuan mbah??) 

“YO JELAS WEDOK KOK, JENENGE WAE RUMI” (ya jelas perempuan lah!! Namanya saja Rumi) Gerutu kuncung dengan berbisik sambil menyenggol badan Wicak yg berada disampingnya… Disini kuncung sedikit meminta maaf dengan sosok yg berada didalam boneka jelangkung tersebut. Dan kembali bertanya.

“NJENENGAN GESANG WARSA PINTEN MBAH???” (Kamu hidup tahun berapa mbah??), disini boneka itu mulai bergerak tapi hanya menuliskan 2 angka yg bisa di baca yaitu 1 & 9, dan suasana pun menjadi tegang karena setelah itu boneka ini mulai menulis dengan tak beraturan.

Image

Tak selang berapa lama kemudian boneka itu mulai bergerak tak beraturan, menurut penuturan Sugeng sang narasumber, boneka itu gerakannya sangat berat dan kuat sampai akhirnya boneka Jelangkung itu terlepas dari tangan mereka semua, Boneka itu terbang melayang dan menghantam langit-langit sebelum terhempas ke lantai, mereka semua panik namun tak beranjak dari tempatnya bersila sampai akhirnya mulai muncul suara yg sulit digambarkan, yg jelas suara itu sangat mengganggu dan menakutkan. 

Mendengar itu mereka semua langsung lari terbirit-birit berhamburan meninggalkan tempat itu dengan lentera yg masih menyala. Merekapun berhenti disebuah Gardu keamanan yg kebetulan sepi, disitu mereka semua baru menyadari kalau sandal mereka tertinggal. 

Sugeng, Kuncung dan Bambang buru-buru ingin segera pulang saja, tapi tidak bagi Wicak. Ia terus merengkek mengajak teman-temannya untuk kembali ke tempat itu.

“KAE SENDAL KULITE BAPAKKU!!, ISO DIRUJAK AKU NEK RA TAK GOWO MULIH!!”

(itu sendal kulit milik ayahku, bisa dirujak tidak saya bawa pulang) kata Wicak kepada 3 temannya itu.

Akhirnya dengan terpaksa mereka mengikuti kemauan Wicak setelah Si kuncung juga berujar bahwa kita harus mematahkan boneka Jelangkung itu sebelum meninggalkannya. Karena kalau tidak, Arwah yg dipanggil akan mengikuti kita. Dan sampailah mereka disana, sambil saling berpegangan mereka mulai mengambil sendal masing-masing dan membawa lentera yg tadi sempat tertinggal dan belum sempat dimatikan. Tapi disini mereka kembali panik ketika Boneka jelangkung itu tidak ditemukan. 

Mereka berempat mulai mencari disudut-sudut ruangan hingga pindah ke ruangan lain tapi boneka itu tetap saja tidak ditemukan seakan lenyap begitu saja. Sugeng yg ketakutan, mengajak teman-temannya untuk pulang dan mencarinya keesokan hari saja. Kebetulan malam ini adalah malam minggu, teman2 sempat menolak mentah-mentah pendapat Sugeng. Tapi karena setelah lama dicari boneka tetap tidak ditemukan akhirnya mereka berempat memutuskan untuk pulang dan akan kembali di keesokan harinya. 

Mungkin dengan perasaan yg penuh ragu dan khawatir mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Benar saja Sugeng satu-satunya narasumber dari cerita ini berujar sesampainya dirumah ia benar-benar sulit untuk tidur, ekor matanya terus saja melihat seklebat-seklebat bayangan putih yang sepertinya mondar-mandir di sekitarnya. Sampai ia merasakan pusing dikepalanya, Sugeng lantas membangunkan ibunya di malam itu, ia mengeluh pusing, wajahnya memang terlihat pucat, tanpa curiga sang ibu lalu membuatkan larutan Gula dan asam jawa untuk meredakan sakit kepala Sugeng. Setelah diminum akhirnya Sugengpun bisa terlelap tapi dalam lelapnya ia bermimpi, dalam mimpinya ia didatangi oleh sosok wanita cantik yg menggunakan pakaian kebaya khas jawa. 

Ia duduk didepan Sugeng yg saat itu tengah termangu di sebuah teras bangunan joglo, wanita itu bernyanyi seraya menatap Sugeng dengan Sayu terlihat jelas raut kesedihan di wajah wanita itu. Begitu juga nada yg keluar dari mulutnya sangat sendu. 

Namun tak lama kemudian turun hujan yg sangat lebat, tentunya airnya membasahi tubuh wanita itu yg memang sedari tadi tak berada di atap payungan joglo. Namun disini Sugeng heran karena tetesan air hujan itu melunturkan kulit wajah sosok perempuan itu, menjadi tengkorak, dalam mimpi itu Sugeng terperanjat dari tempat duduknya, dan menggeser tubuhnya dengan tangannya seraya pandangan dari matanya yg terus tertuju kepada wanita cantik yg telah berubah menjadi tengkorak itu.

Sosok itu masih bernyanyi!!! meski suaranya berbenturan dengan derasnya hujan tapi masih bisa didengar oleh sugeng, dalam mimpi itu sugeng mulai teriak-teriak meminta tolong tapi sepertinya ia adalah orang satu-satunya di dalam joglo itu. Sampai akhirnya Sugeng pun terbangun dari mimpinya.. 

Matanya terbuka “Oh hanya mimpi!!” lega batinya tapi Sugeng kembali panik ketika tubuhnya tak bisa digerakkan, matanya mulai mengamati seluruh kamarnya yg remang-remang, dan ia melihat seseorang duduk di sudut kamarnya, yg mana itu adalah wanita yg tadi ada dalam mimpinya.

Image

Sugeng ingin beranjak dan berlari tapi tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan, bahkan teriakkan yang pikirnya sudah sekuat tenaga yg keluar dari mulutnya hanyalah desahan yg memekik tersendat di kerongkongan. Sugeng mulai mengingat doa-doa yg ia bisa dan mencoba membacanya. Namun baru terbaca dalam hati beberapa patah saja, sosok wanita itu justru kini terlihat berjalan mendekati Sugeng, sosok itu mendekat seperti sambil menari-nari dengan satu kalimat yg selalu diulang-ulang yaitu

“AKU RUMI..AKU RUMI..AKU RUMI..AKU RUMI..AKU RUMI..AKU RUMI!!!” 

Dengan sekuat tenaga akhirnya Sugeng berhasil menggerakkan tubuhnya dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya, tapi karena selimutnya itu tipis, ia masih bisa melihat bayangan sosok itu dari balik selimutnya.. Sosok itu benar-benar mendekat!! 

Tapi ia diam, mendekatkan wajahnya ke wajah Sugeng yg bersembunyi dibalik selimut, kepalanya terlihat melenggang-lenggang seakan mengamati Sugeng yg tengah ketakutan dan kini terlihat jarinya yg panjang terarah ke pipi Sugeng, menyentuh-nyentuh pipinya sambil berkata.. 

“WEDI YO!! HIHIHIHIHI”

(Takut ya!!! Hihihihihih!!!)

Perasaan Sugeng campur aduk kala itu, dari balik selimutnya ia memejamkan matanya sambil berdoa sebisanya, namun sosok itu tak pergi, justru malah menyentuh-nyentuh seluruh tubuh Sugeng sambil tertawa cekikikan, dan akhirnya Sugeng yg tak kuatpun berteriak sekuat tenaga. Hingga membangunkan seisi rumah, ibunya yg datang menghampirinya cuma berkata “NGIMPI OPO KOE KI??”

(Mimpi apa kamu itu!!?)

“DUDU NGIMPI MAK, DUDU NGIMPI!!

(Bukan mimpi buk, Bukan mimpi!!) kata sugeng sambil memegangi tangan ibunya. 

Sugeng terus berujar bahwa dia melihat hantu wanita didalam kamarnya tapi ibunya masih menganggap itu hanyalah mimpi saja.

“MUGAKNO NEK AREK TURU KUI NDONGA SEK, WES LEK TURU MENEH!!”

(Makanya kalau mau tidur itu berdoa dulu!! Sudah sana tidur lagi), kata ibunya seraya meninggalkannya. Sugeng mengambil tasbih diatas meja belajarnya dan kembali merebahkan diri diranjang, sembari berdzikir Sugeng mulai menerka apa yg terjadi, “MASALAH IKI,,MASALAH!!! NGOPO NDADAK DOLANAN JELANGKUNG BARANG!!”

(Masalah!! Ini masalah!!! kenapa pakai main jelangkung segala sih!!) Gerutu Sugeng dalam hati. Namun seketika wajah sosok wanita itu muncul dalam ingatan sugeng yg masih hangat. Ia mencoba mempercayai kata ibunya meski ia ragu, dalam pikirannya Sugeng terus berucap, “ini hanya mimpi!!!!!” 

Ia terus berdzikir hingga mulai mengantuk namun disini teror itu sepertinya mulai kembali, karena ketika Sugeng memejamkan matanya ia merasa ada seseorang yg tidur di sampingnya, ia benar-benar merasakan ada beban lain yg tertumpu di kasurnya, tetapi ketika ia membuka matanya tidak ada siapa-siapa disampingnya. Ia kembali memejamkan matanya dan rasa itu datang lagi, entah itu hanya perasaanya saja atau memang benar yg jelas itu membuatnya tak bisa tidur hingga adzan subuh berkumandang. Barulah setelah itu Sugeng bisa tertidur walau sekitar jam 7 pagi ia sudah harus terbangun karena ternyata teman-temannya yaitu Wicak, Kuncung dan Bambang sudah berada dirumahnya, tentunya mereka akan menuntaskan permainan ini. “mencari Boneka Jelangkung itu”.

Terlihat wajah-wajah lesu terpancar di raut Bambang, kuncung & Wicak, Sudah bisa ditebak apa yg mereka lalui semalam.

“AYO GEK NDANG!!!”

(Ayo cepetan!!) kata Bambang mengajak teman-temannya. Berjalanlah mereka berempat ke bangunan kosong itu, di jalan mereka semua bercerita kalau semalam didatangi sosok wanita yg bernama “Rumi”. 

Ciri-ciri dan detail kejadiannya kurang lebih sama seperti apa yg dialami oleh Sugeng semalam tapi tidak dengan “Kuncung” karena semalam ia mengaku sempat dicekik oleh sosok wanita itu. Disini Kuncung memang terlihat berbeda dengan teman-temannya, nampak jelas raut wajahnya yg ketakutan dan seperti kurang fokus. Padahal diantara mereka berempat ia adalah orang yg paling tengil dan suka bercanda bahkan dia tergolong yg paling berani meski badannya kecil. Singkat cerita sampailah mereka di bangunan itu. 

Tapi anehnya disini Boneka jelangkung itu sudah ada tergeletak rapi diantara sesajen. Dan janggalnya lagi bunga yg digunakan untuk ritual semalam sekarang sudah mengering, bukan lagi layu seakan sudah ditinggalkan berhari-hari, kopi dan air santan yg ada digelas juga sudah berjamur tebal. Tapi mereka tidak memperdulikan itu, mereka hanya ingin segera menghancurkan Boneka Jelangkung itu.

“AYU CUNG!!TUGELONO!! GOLEKKE”

(ayo cung!! Patahkan bonekanya!!) kata Wicak kepada Kuncung. 

Dengan sedikit terpaksa Kuncung mengambil boneka itu dan hendak mematahkannya dengan lututnya. Tapi apa yg terjadi, ketika batang Jelangkung itu menyentuh pahanya tiba-tiba kuncung terjatuh menunduk dan duduk tersimpuh. 

“SING NGGENAH CUNG RASAH GUYON..”

(yg benar Cung gak usah bercanda..) kata bambang sembari menggoyang-nggoyangkan pundak Kuncung. Tapi disini kuncung malah bernyanyi dan lagu yg dinyanyikan adalah tembang “Lir- ilir”.

Seperti yg orang jawa tahu lagu “Lir-ilir” karya Sunan Kalijaga ini sangat indah dan liriknya sarat dengan makna. Bahkan catatan sejarah mengakatan lagu ini sering digunakan sebagai media Dakwah oleh kanjeng Sunan Kalijaga. Namun seketika aura lagu itu berubah menjadi Seram dan Suram karena disini suara yg keluar dari Mulut Kuncung, adalah suara Wanita!!! Suaranya begitu merdu, sejenak mereka terdiam saling pandang.

“WAH KUNCUNG KELEBON IKI”

(Wah Kuncung Kerasukan ini..) kata Bambang lirih. Mereka tak berbuat apa-apa sampai sosok yg merasuki Kuncung itu menyelesaikan bait dari lagunya. 

Baru setelah itu Bambang disusul dengan yg lainnya mulai mendekat dan duduk didepan Kuncung yg diduga tengah kerasukan itu. Dengan Gemetar Bambang berkata.

“NUWUNSEWU MBAH, MENIKO SINTEN NJIH!??”

(Permisi Mbah, dengan siapa ini ya??) seraya memberikan tangannya untuk berjabat. 

Padahal tentu sebenarnya mereka semua tahu kalau sosok yg merasuki Kuncung adalah arwah jelangkung yg semalam mereka Panggil yaitu Rumi.

Mendengar pertanyaan itu, sosok yg berada dalam tubuh Kuncung itu menjawab:

“GAYAMU ETOK-ETOK RA NGERTI!!”

(Gayamu!! Pura-pura tidak tau!!) katanya dengan nada sedikit meninggi.

“MBAH RUMI NGGIH??”

(Mbah Rumi ya??) Sahut Wicak disela kemarahan itu. Disini Bambang kembali berbicara yg intinya adalah Meminta maaf kepada sosok yg merasuki Kuncung. 

“DOS PUNDI MBAH, O NGGIH MENAWI RAGA MENIKO, KULO, KALIAN RENCANG-RENCANG WONTEN LEPAT, NYUWUN PANGAPUNTEN INGKANG SANGET MBAH!?🙏”

(Gimana Mbah? Oh ya apabila Raga ini (tubuh Kuncung), saya sama teman-teman ada kesalah, mohon maaf banget ya mbah..) begitu kata Bambang. 

Dan sosok dalam tubuh Kuncungpun menjawab :

“ORA ISOH!!! BEDES-BEDES KOYO RAIMU KABEH KUI KUDU DINEHI NGERTI!! AKU WES KEBACUT KEJEBAK!!”

(Tidak bisa!!! Monyet-monyet seperti kalian semua ini harus dikasih tau!! Aku sudah terlanjur terjebak!!) Kata sosok itu sambil menunjuk mereka satu per satu.

“AKU BAKALAN ONO NING URIPKU TEKAN AKU BOSEN”

(Aku akan ada di kehidupanmu hingga aku bosan!!) kata sosok itu lagi dengan nada bicara yg semakin meninggi. 

“AMPUN MBAH, NYUWUN NGAPUNTEN INGKANG SANGET MBAH”

(Jangan Mbah, minta maaf dengan sangat mbah) kata mereka secara bersamaan.

“ORA URUSAN, POKOKE MBUH TEKAN KAPAN!! AKU BAKALAN ONO NING URIPMU”

(Tidak urusan, pokoknya entah sampai kapan, aku akan berada di kehidupan kalian) kata sosok itu lagi.

“KULO KAPOK MBAH, MBOTEN AJENG MALIH-MALIH MBAH”

(Saya kapok mbah, tidak akan mengulanginya lagi mbah!!) Kata mereka dengan Ketakutan. 

“SAKNIKI WANGSUL NGGIH MBAH, MESAKKE RAGANE”

(Sekarang pulang ya mbah,kasihan raganya..) kata bambang.

“OPO??? BALI???

(Apa???Pulang??) jawab sosok yg berada dalam tubuh kuncung itu.. 

“AKU ARUMI SOSRODIMEJO!! AKU DANYANG NING KENE!!”

(Aku Arumi Sosrodimejo!! Aku penguasa disini) jawab sosok itu lagi sambil melotot, dan setelah itu ia pun berteriak dan mengamuk sampai akhirnya ada salah satu warga yg mendengarnya.  Sebut saja pak Parman, beliau adalah tetangga mereka, petani yg kebetulan mempunyai ladang di dekat Rumah kosong itu.

“ONO OPO TO IKI!!”

(Ada apa sih ini??) tanya pak Parman kepada mereka. Akhirnya merekapun mulai menjelaskan apa yg terjadi dan bagaimana duduk permasalahnnya. 

“PANCEN BOCAH-BOCAH KURANG GAWEAN!!”

(Memang anak2 kurang kerjaan!!) kata Pak Parman.

“WES UNDANGNO MBAH JUMADI!!”

(Sudah panggilkan mbah Jumadi) kata Pak Parman menyuruh mereka memanggil Mbah Jumadi seorang Pawang Kuda lumping didesanya. Wicak yg kini tergopoh-gopoh pergi kerumah Mbah Jumadi, sementara disini Kuncung terus saja teriak-teriak mengamuk, sesekali ia teriak meminta tolong tapi ia sudah tak bisa mengendalikan dirinya yg telah dikuasai oleh arwah RUMI. 

Singkat cerita Mbah Jumad ipun tiba ditempat itu dan mendekati Kuncung yg masih kerasukan, dengan santai ia mengajak sosok yg merasuki kuncung itu bersalaman. Nampaknya beliau sudah diberitahu duduk permasalahannya oleh Wicak tadi di perjalanan. 

Dengan tenang dan sopan Mbah Jumadi memintakan maaf mereka berempat untuk sosok yg merasuki Kuncung.

“MBAK ARUMI, MANGERTOS KULO TO?? KULO NYUWUNAKEN JERUNING SEPURO, SAKING LARE-LARE MENIKO, INGKANG LANCANG KALIAN DERENG NALAR, PUN SAKNIKI KONDOR NGGIH.. 

(kakak Arumi, tau saya kan? Saya mewakili anak-anak (mereka) untuk meminta maaf sedalam-dalamnya, atas kelancangan mereka, memang mereka semua belum nalar, sudah sekarang pulang ya) begitu kira-kira kata Mbah Jumadi kepada sosok yg merasuki tubuh kuncung itu seraya bersalaman. 

Dan Kuncung pun tampak tenang kemudian tubuhnya melemas, Mbah Jumadi mengeluarkan kain hitam disakunya dan menyabetkannya ke tubuh kuncung, seketia ia langsung terbangun dan muntah-muntah. Pak Parman dan Mbah jumadi mengajak mereka berempat untuk keluar dari bangunan itu. Dan mengajak mereka duduk di pinggir sawah. Disini Mbah Jumadi memberi nasihat kepada mereka berempat :

“Nak.. Jelangkung itu bukan permainan yg main-main lho, kalo kamu ilmunya serampangan bisa bahaya, kalian bisa gila diikuti sama demit yg kamu panggil itu Jelangkung itu permainan yg terlarang. Saya tidak bisa banyak membantu kalian, saya hanya bisa memintakan maaf, karena saya cuma pawang orang kesurupan bukan kyai. Sudah!! sekarang semua pulang, nanti kalo masih diganggu, bilang sama orang tuamu suruh panggil kyai.  Begitu kira-kira kata mbah jumadi kepada mereka. Singkat cerita merekapun pulang, Pak Parman dan Mbah jumadi sempat dibujuk untuk tidak memberitahukan hal ini kepada orang lain terutama orang tua mereka berempat dan cuma iya-iya saja, karena nyatanya pada hari itu juga kabar tentang Kuncung yg kesurupan karena bermain Jelangkung dengan Sugeng, Bambang dan Wicakpun langsung menyebar keseluruh desa. Mereka tentunya dimarahi apalagi si Wicaksono yg Ayahnya adalah seorang imam masjid di desanya. Kabar inipun tersebar hanya sebagai lucu-lucuan aja bagi warga desa tentang sekelompok anak nakal yg bermain jelangkung, namun tidak bagi Sugeng, Bambang, Kuncung dan Wicak, karena ternyata teror Arwah RUMI ini masih berlanjut hampir tanpa jeda.

Berawal dari semalam setelah mereka bermain Jelangkung Dan sekarang di hari kedua.. Disini kembali Sugeng yg menceritakan pengalamannya karena memang beliau satu-satunya narasumber dari cerita ini yg bisa saya wawancarai. 

Hari itu Sugeng dimarahi orang tuanya habis-habisan Ayahnya terutama yg didikan agamanya cukup konservatif tentunya marah mendengar anaknya melakukan hal itu. Sampai akhirnya malampun tiba, Sugeng benar tak khawatir dengan kemarahan orang tuanya, ia justru gelisah memikirkan Kata-kata yg keluar dari sosok yg merasuki kuncung pagi tadi yg mana sosok itu berkata

“Akan berada dihidup Sugeng dan Teman-temannya, hingga ia bosan”

Sugeng tentu bergidik ngeri mengingat kata-kata itu, segera ia mengambil wudhu dan hendak shalat. 

Waktu itu belum begitu malam, Adzan isya juga baru berkumandang sekitar sejam yg lalu. Sembahyang nya benar-benar tak khusyuk ia terus saja memikirkan hal ini yg sudah terlambat untuk ia sesali. Selesai shalat Sugeng merebahkan tubuhnya diranjang tanpa melepas sarung dan pecinya. Nampaknya hari ini cukup menguras tenaga, Sugeng merasa capek namun ia seperti sudah menduga ia takkan bisa tidur lelap malam ini.

Sugeng hanya memandangi langit-langit kamarnya hingga ia pun tertidur dan kembali bermimpi didatangi oleh sosok RUMI itu lagi. Tapi mimpi itu hanya sekejap saja karena setelah Rumi menampakkan wajahnya, Sugeng seketika langsung terbangun dengan keringat yg bercucuran.

Astagfirullah!! Kata Sugeng. ia memandangi sekitar kamarnya seraya mengusap-ngusap mukanya berharap sosok itu tak ada disini. Tapi nampaknya Sugeng salah, karena ketika ia menengok disamping ranjangnya, ada sosok wanita yg duduk disitu diatas kasurnya. Sosok itu hanya diam mematung, Sugeng yg ketakutan hanya bisa terpaku tak bisa bergerak apalagi berteriak.

Image

Ia mencoba memalingkan pandanganya dari sosok itu tapi tidak bisa, bahkan untuk sekedar berdoa dalam hati saja ia seperti pikun dan tak ingat harus berdoa apa. Yg ia ingat hanyalah “Ya Allah..ya Alllah..Ya Allah.” begitu katanya dalam hati. 

Perlahan sosok yg ada di sampingnya pun beranjak dan berdiri, dan kini sosok itu benar-benar mengahadap dan menatap sugeng. Tak jelas raut wajahnya tapi yg jelas sosok itu mulai berubah menjadi seperti kuntilanak dengan rambut yg acak-acakan.

Image

Sosok itu mengacungkan telunjuknya dengan kukunya yg panjang ke arah Sugeng yg masih terpaku dan berkata

“AKU RUMI..AKU ISIH NING KENE”

(AKU RUMI..AKU MASIH DISINI)

itu kata yg sangat diingat oleh Sugeng, setelah itu pandangan Sugeng menjadi gelap, ia pun tak sadarkan diri.. 

Dan tiba-tiba terbangun ditempat yg asing entah ini mimpi atau memang Sugeng dibawa ke alam lain, ia berada di dalam sebuah rumah, dan samar-samar ia mendengar suara teman-temannya yaitu Bambang, wicak & kuncung yg sepertinya tengah berdebat, Sugeng mulai mencari ke arah sumber suara dan bertemulah ia dengan teman-temannya yg tengah terikat di sebuah ruangan.

Image

“METU GENG!! METU!! MLAYU CEPET!!”

(Keluar Geng!! Keluar, Cepat lari!!) kata salah satu temannya di kejadian itu. Ia yg kebingungan justru memilih untuk melepaskan ikatan teman-temannya.

“AYO METU BARENG!!”

(Ayo keluar bersama!!) kata sugeng sambil melepaskan ikatan teman-temannya satu per satu. Namun ketika semua tali terlepas tiba-tiba ada seseorang yg memegang pundaknya, sontak ia menoleh, ternyata seorang wanita yg kini terlihat tengah bertolak pinggang. Seakan marah dengan apa yg Sugeng lakukan. Disini sugeng tak merasa takut karena wanita itu parasnya cantik mengenakan kebaya khas jawa dilihat dari wajahnya, wanita itu sepertinya seumuran dengannya. Ya wanita itu adalah Rumi arwah Jelangkung yg ia panggil. Karena beberapa saat kemudian sosok wanita itu memang memperkenalkan dirinya..

“HO’O, AKU RUMI!!”

(IYA AKU RUMI)

Setelah mendengar kata itu, tanpa basa-basi Sugeng berlari seraya mengajak para kawannya..

“AYO MLAYU NDESSS!!!”

(Ayo lari ndess) 

Tapi langkahnya ternyata dihalangi oleh sosok Rumi yg kini berubah menjadi mirip Kuntilanak dengan tubuh yg hampir menyentuh langit-langit.. Dengan seringai senyumnya sosok itu berkata!!

“KOSEK KOWE-KOWE KABEH KUDU DIWENEHI PAUKUMAN!!”

Image

(Tunggu dulu, kalian semua harus diberi hukuman) Sugengpun mulai mundur dan merapat dengan teman-temannya dan tiba-tiba berdengung dengan keras di ruangan itu suara orang ramai yg menurut Sugeng sedang membaca shalawat, sangat sulit dijelaskan keadaan kala itu yg jelas seiring dengan itu suasana kembali gelap. 

Dan Sugengpun terbangun di halaman Surau dekat rumahnya.

Kata-kata “ALHAMDULILLAH” yg ternyata terucap dari orang-orang yg berada disitu, mengiringi kesadarannya, Sugeng mulai menoleh ke sebelah kanan dan kirinya terlihat sahabatnya juga disitu dengan keadaan yg sama, sepertinya mereka juga mengalami apa yg dialami oleh Sugeng. Jadi ternyata setelah ia melihat sosok Rumi dan pandangannya menjadi gelap, Sugeng mengalami kerasukan ditengah malam itu.

Image

Begitu juga dengan Bambang, Wicak dan Kuncung yg juga kerasukan dalam waktu yg hampir bersamaan meski mereka tengah berada dirumahnya masing-masing, mereka semua seperti dibawa kedimensi lain. Dan ngerinya mereka berempat kesurupan selama hampir 2 hari. Walaupun mereka merasa hanya beberapa menit saja saat pandangannya mulai gelap dan terbangun di rumah joglo dan kembali tersadar lagi di halaman Surau di desa itu. Tak ada kata-kata yg bisa terucap dari mulut mereka setelah sadar. Mereka terlihat lemas dengan kantung mata yg menghitam. 

Mbah Badawi seorang kyai didesa itu yg menjadi perantara atas kembalinya mereka berempat terlihat memberi nasehat seraya menyodorkan air kelapa muda untuk mereka minum.

“TUJOKNO GEK RONG DINA, NEK WES TELU OPO PUNJUL, ISO BABLAS GENDENG KOWE KABEH” 

(Untung baru 2 hari, kalau sudah 3 hari atau lebih, kalian semua bisa menjadi Gila!!) begitu kata Mbah Badawi yg juga berpesan kepada mereka untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Setelah itu boneka jelangkung itu dibakar oleh beliau dan gangguan Arwah Jelangkung Rumi pun, berhenti sampai disini.

Singkat cerita setelah kejadian ini, Sugeng, Wicak, Bambang dan Kuncung berubah menjadi seseorang yg lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Terlepas dengan apa yg telah mereka lalui bersama. 

Mereka tetap menjadi sahabat yg tak terpisahkan.

—-TAMAT—-

SEKIAN, Kisah “Jelangkung” ini, Semoga ada pelajaran yg bisa kita petik. Sampai jumpa dicerita yg lain :)) TKS..

Narasumber : Om Sugeng, awal desember 2021 #Jelangkung

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *