RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Kejatuhan Pocong

Satu peristiwa di Pondok Ranggon…

Utas cerita. Akan diunggah pukul 20.00

Ini terjadi di Pondok Ranggon, Jakarta Timur, sekitar tahun 1990. Kisah dituturkan oleh orang kedua yang bukan saksi peristiwa, tetapi saat itu tinggal di kawasan yang sama. Saya juga mendapat konfirmasi dari orang kedua yang lain yang mengaminkan peristiwa ini. 

Pondok Ranggon. Wilayah ini berbatasan dengan Cibubur, di ujung Jakarta Timur. Pondok Ranggon sekarang lebih terkenal karena TPU dan peternakan sapi perah. Keberadaan dua tempat itu tak lepas dari ketersediaan lahan pada masanya. 

Pondok Ranggon pada tahun 1990—bersama Cibubur dan Bambu Apus—kerap disebut tempatnya kuntilanak wakuncar. Wilayahnya sepi dan luas, juga masih asri. Karena itu para peternak sapi perah di kawasan Kuningan direlokasi ke Pondok Ranggon tahun 1990-an. 

Singkat cerita, hiduplah seorang penenung di Pondok Ranggon. Laki-laki, anggaplah namanya Maing. Umurnya termasuk panjang dibandingkan orang-orang pada umumnya. 90 tahun dan sehat bugar. 

Maing sehari-hari berkebun dan beternak, seperti beberapa orang di lingkungannya. Namun, Maing juga punya reputasi sebagai tukang santet. Ada saja tamu datang ke rumahnya untuk mengeluhkan masalah atau bahkan memintanya membereskan masalah itu dengan sihir gelap. 

Warga di wilayah itu mengerti benar pekerjaan sampingan—atau pekerjaan utama—Maing, tetapi mereka tidak khawatir. Sebab biasanya tukang tenung punya batasan tegas: Tidak akan pernah mau mengirim santet kepada mereka yang tinggal di lingkungan atau wilayahnya. 

Namun jangan mengira batasan itu adalah tentang etika dan moral, melainkan alasan pragmatis saja. Menyantet orang di wilayahnya sama saja cari mati. Jadi, dapat dipastikan juga kalau tamu-tamunya sudah mesti datang dari jauh. 

Pendek kata, pekerjaan Maing sebagai penenung tidak menghalangi kehidupan sosial. Pergaulannya normal, interaksi dengan tetangga tak pernah ada cela. 

Satu ketika Maing tiba-tiba tak pernah terlihat di luar rumah. Wajar bila orang-orang bertanya. Kata istrinya, Maing baik-baik saja, tidak sakit keras bahkan sekadar masuk angin pun tidak. Fenomena itu berlangsung beberapa bulan, dan lama kelamaan warga tidak menggubrisnya lagi. 

Suatu malam datang kabar mengejutkan dari rumah Maing. Dukun teluh itu meninggal. Penyebabnya tidak begitu penting, intinya meninggal. Dengan begitu penguburan harus diurus dan melibatkan warga. 

Pimpinan warga bertanya tentang apa yang hendaknya diterapkan kepada jenazah Maing. Istrinya berkata kalau suaminya minta diperlakukan menurut cara Islam. Dan bagaiamana pun, ujar sang istri, mendiang Maing mengaku muslim sepanjang hidupnya. 

Permintaan itu dipenuhi. Warga segera bergotong royong memandikan, mengkafankan, menyalatkan, dan menguburkan jenazah Maing. Akan tetapi rupa-rupanya itu belum selesai. Istri mendiang meminta agar diadakan tahlilan sebagaimana jamaknya warga muslim lain yang meninggal. 

Adalah luar biasa seorang yang terang-terangan tukang teluh diperlakukan sejauh itu. Namun ini adalah permintaan. Dan bagi warga, tiada yang tahu akhir hidup seseorang. Lebih-lebih—sepertimana banyak yang percaya kisah—kematian Maing tidak aneh. 

Semua orang menyaksikan bahwa rangkaian pengurusan jenazah Maing normal-normal saja. Tidak ada cerita kuburnya bocor, jenazah beratnya minta ampun atau kepala penuh belatung. Bahkan ada yang berkata Maing seperti orang tersenyum, entah perkataan itu serius atau tidak. 

Yang pasti warga menyanggupi permintaan keluarga si mayit. Tahlilan bakal dilangsungkan tujuh malam, sementara keluarga Maing menyatakan pihaknya sanggup mengadakan segala keperluan tanpa perlu dibantu. 

Semalam sesudah kematiannya tahlilan digelar. Istri Maing sudah menyiapkan semua, dari makanan sampai uang sedekah yang menurutnya bernama fidyah untuk mengganti kekhilafan suaminya semasa hidup. Wanita itu juga sudah memesan buku Yasin lengkap dengan foto suaminya. 

Sudah sering terjadi, kalau tersiar kabar tahlilan ada fidyahnya, maka bakal ramai, tidak peduli siapa yang meninggal. Dan malam itu banyak penahlil berbondong-bondong datang, baik sendiri-sendiri maupun rombongan. 

Acara tahlil dimulai. Rumah Maing yang lega penuh dari dalam sampai luar halaman. Orang-orang membacakan surat Yasin lalu disambung macam-macam lafal wirid. Khusyuk juga bersemangat. 

Pada waktunya wirid selesai dan pemimpin tahlilan siap-siap membacakan doa bagi si mayit. Sejenak suasana hening. Akan tetapi keheningan itu mendadak berubah jadi keributan yang tidak karuan. 

Semua orang yang hadir di situ mendengar sebuah benda, entah bagaimana jatuh di tengah keramaian. Dan rupanya itu benda bukan sembarang benda, melainkan bungkusan kafan lengkap dengan isinya. Hadirin segera mengenali wajah yang terbungkus kain. Maing. 

Menurut cerita, ustaz yang memimpin tahlil tetap melaksanakan doa. Namun ada kegaduhan yang tak terbayangkan malam itu. 

Bagaimana pun yang terjadi, keluarga dan warga harus menemukan solusi. Jenazah Maing diputuskan dikembalikan ke dalam kubur malam itu juga. Yang ajaib, konon kubur itu tampak baik-baik saja, hanya isinya memang kosong. 

Selanjutnya bagaimana? Tahlil kembali diadakan esok malam. Mungkin pertimbangannya karena sudah memesan buku Yasin. 

Namun, percaya atau tidak, kejadian kemarin malam terulang lagi. Ini bukan saja seram, tapi merepotkan juga. Maka atas dasar pengertian semua pihak, diputuskan tidak perlu ada tahlilan. 

Ternyata keputusan itu tepat, sebab esok harinya tidak ada laporan keluarga mengenai kejadian pocong jatuh tiba-tiba. 

Saya harap cerita ini tetap dipandang sebagai fiksi walau datang dari penutur kisah. Anggap saja kisah ini sebagai hiburan atau penambah wawasan tentang kultur masyarakat. Jika ada yang mau berbagi kisah/pengalaman, silakan DM. Terima kasih.

-selesai- 

Thread By @creepylogy_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *