RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

KELUARGA PEMELIHARA TUYUL

sebuah kisah pengalaman mistis dari Probolinggo

Kali ini aku akan membawakan kisah yang sempat membuat warga di kampungku resah pada sekitar tahun 2011. Yak kampungku berada di kota Probolinggo, Jawa Timur. 

Saat itu aku masih posisi liburan kuliah atau proses pengerjaan skripsi, yang mana lebih banyak waktuku berada di rumah orang tua dari pada di kosku di Jember. 

Singkat cerita, aku dirumah orang tuaku tinggal bersama mama, papa tiri aku dan adik kandungku. Papa tiriku ini memiliki usaha jual beli mobil bekas, yang notabene agak sering menyimpan uang cash dirumah. Uang cash itu dari hasil penjualan mobil yang diacarakan selepas maghrib yang mana tidak sempat kita setorkan ke bank hari itu juga. 

Ya karena kita tinggal di kota kecil yang mana perputaran uang kartal (cash) lebih banyak daripada uang non fisik atau via transfer rekening apalagi saat itu masih sekitar tahun 2011. 

Waktu itu seingatku ada pembeli mobil bekas yang deal sekitar pukul 9 malam yang datang kerumah dengan membawa uang cash seratus sekian puluh juta. Dan karena bank sudah tutup, nantinya uang itu kita simpan di brankas di kamar mama baru keesokan harinya kita setorkan ke bank. 

Sebelum kita simpan, aku , mama, dan papaku menghitungnya bergantian, dan mengecek ulang jumlah uang tersebut. Kondisi uang memang terbendel oleh band dr bank setempat, namun tetap kita buka bendel2 itu dan kita hitung ulang lalu kita ikat dengan karet per 10 juta untuk yang pecahan 100 ribu. Setelah semua pas, baru kita simpan di brankas di dalam lemari di kamar mamaku. 

Keesokan harinya saat papaku menyetorkan uang itu ke bank, ternyata beberapa bendel ada yg kurang nominalnya. Totalnya kurang 400 rb atau 4 lembar uang nominal 100 ribuan. 

Mendapati hal itu, dia mengkonfirmasi mamaku untuk memberitahu bahwa itungan di 4 bendel itu kurang masing-masing satu lembar. Mereka mengira memang kita yang salah hitung karena semalam kita baru menghitungnya pada saat sudah larut malam. 

Beberapa hari kemudian, ada sisa uang cash yang di dalam brankas itu yang jumlahnya berkurang lagi. Kali ini ada 2 bendel uang yang jumlahnya berkurang. Nominal 100 ribu 2 lembar. Aku pun di confirm oleh mamaku. 

Dengan nada sedikit menuduh karena hanya aku, mama dan papa yang tau kombinasi brankas di kamar mama. Aku menyanggah, ”Lah kapan aku yang masuk kamar mama”, ujarku. 

Keesokan harinya ada lagi bendelan uang yg berkurang 1 lembar dengan nominal yang sama. Sekali lagi aku ditanya oleh mamaku. Aku masih menyangkal. Karena aku seharian juga keluar rumah baru balik abis maghrib, yang mana mamaku sudah berada dikamarnya sampai keesokan harinya. 

Merasa ada yg tidak beres, uang cash di brankas tersebut dikeluarkan semua dan dihitung ulang, lalu di steples tiap 1 juta dan tetap diikat karet dalam 1 bendel 10 juta. 

Jadi dalam satu bendel terdapat 10 steples. Namun besoknya lagi, masih ada uang yg hilang sebesar 200 rb, dan ikatan bendel karet serta yang terstaples masih sangat rapi. 

Setelah kejadian itu kita bertiga merasa kalau kejadian hilangnya uang cash beberapa kali dalam semingguan itu bukan karena perbuatan kita bertiga , bukan manusia yang nyuri. Tapi ada kemungkinan terdapat uang balen. 

“Uang Balen” atau uang balik disini adalah uang yang telah dilakukan ritual tertentu. Jika dibelanjakan, uang tersebut akan kembali ke tangan pemiliknya dan terkadang membawa uang asli yang diletakkan bersamaan dengan uang balen tersebut. 

Siang itu karena posisi gabut dirumah, aku memutuskan untuk membeli gorengan dan minuman di warung Mbak Mina yang berada di depan rumahku. Aku memesan beberapa ote-ote goreng dan es. Sambal mengobrol ringan dengan si pipit, anak dari mbak Mina. 

Tak lama ada tetanggaku mbak Ani yang juga ikut ngobrol di warung mbak Mina itu. Ditengah obrolan ringan itu, si Pipit membuka obrolan kalau Bu RT abis kehilangan uang 2x dalam 2 hari yang berurutan. 

Bu RT curiga bahwa ada tuyul yang masuk ke rumah dia. Setelahnya mbak Ani menanggapi obrolan Pipit itu dengan mengatakan bahwa 2 hari yang lalu suami mbak Ani juga telah kehilangan uang 100 ribu. 

“Loh Pit, suamiku loh juga abis kehilangan duit. Jadi dia kan abis pulang dari trayek Bali-Probolinggo. Itu uang bayaran dari majikannya itu ilang 100 ribu. Dan itu juga 1 lembar di dompet dia. Jadi sisa beberapa lembar uang 50 ribu doang.” Ujar mbak Ani. 

“Mbak, di rumahku loh juga beberapa hari ini uang mamaku hilang. Tapi ga banyak mbak. Paling banyak 2 lembar seratusan. “ balasku. 

“Aku curiga iku tuyul deh Ndra. Lah ini yang hilang juga sama-sama uang nominal seratusan ribu”. Kata Mbak Ani. 

“Aku ga curiga tuyul sama sekali sih mbak, aku kira ya uang balen. Lah emang itu uang dari penjualan mobil mbak. Siapa tau di dalemnya kecampur uang balen itu” Ujarku. 

“Loh mas, kata bu RT itu anaknya yang kecil sempat terbangun dan ketawa-ketawa tengah malem, ditanyain bilangnya ada teman dia lewat. Paling itu yang diliat tuyul mas” Sambung Pipit. 

“Halah, udahlah toh kita ga ada yang tau itu perbuatan tuyul. Tapi aneh sih kalau kita kehilangan uangnya hampir bersamaan kayak gini” Balasku. 

Sesudah ngobrol di warung mbak Mina itu aku pulang ke rumah. Di kamar aku sempat memikirkan apa yang diomongin si Pipit tadi. Apa iya di kampungku ada yang memelihara tuyul? 

Selepas mamaku pulang kerja aku menceritakan ulang kepada mamaku soal obrolan beberapa warga yang kehilangan uang itu. Eh ternyata mama juga sempat dengar kalau mbak Imah yang jualan baju kreditan door-to-door itu juga habis kehilangan uang cash nya. 

Selama 4 hari dia kehilangan 4 ratus ribu tiap harinya hilang 1 lembar uang nominal serratus ribu. Makin mengerucutlah kejadian di rumahku yang beberapa hari ini kehilangan uang. 

Sore itu aku diminta tolong mama untuk menyetorkan saja uang di dalam brankasnya ke atm setor tunai. Akupun mengiyakan sebagai antisipasi nantinya takut hilang juga. 

Mama juga minta tolong kepadaku untuk menukarkan nominal serratus ribu menjadi lima puluh ribuan juga dari uang di dompetnya. Namun ada yang terlupa ternyata uang di dompetku masih ada yang belum kutukar. 

Alah batinku uangku Cuma 250 ribu, yang nominal seratus ribu hanya satu lembar. Tidak mungkin hilang menurutku malam itu. 

Keesokan paginya, karena aku kepo, bangun tidur aku cek didompet , ternyata uangku hilang juga, dan hilang yang nominal seratus ribu satu lembar. Duhh perasaanku waktu itu kesal dan menyesal juga kenapa kemaren sore aku tidak menukarnya dengan nominal 50 ribu saja. Haft. 

Siangnya aku kembali ke warung mbak Mina. Aku mengobrol dengan mbak Mina siang itu. Aku bilang kalau semalam uangku hilang. Mbak mina memberikan saran seperti ini, “ndra coba sih nanti malam pintu depan rumahmu atau pintu kamarmu kamu taburin bedak”. 

“lah untuk apa mbak?” balasku. 

“ Ya nanti kan kalau ada maling atau tuyul masuk siapa tau ada jejaknya” jawabnya sambil sedikit terkekeh. 

“Mbak mina ini ada-ada saja ih” jawabku. 

Tak lama kemudian si mbak Ani kembali bergabung di warung mbak Mina. Kita makan gorengan dan ngobrol lumayan lama waktu itu. Dan sejurus kemudian ada tetanggaku yang lewat depan rumahku, si mbak Cahya yang lewat dengan menenteng kresek kecil. 

“Dari mana mbak, sini loh mampir warungku” sapa mbak Mina.

“Ini dari warung depan pertigaan, abis beli susu kaleng” jawab mbak Cahya 

“Mampir sini mbak, ini gorenganku baru mateng” ujar mbak Mina lagi 

“Sek ya mbak, aku ambil uang dulu, gak bawa dompet ini, duite wes abis buat beli susu ini, anakku sehari abis 2 kaleng mbak.” Kata mbak Cahya seraya meninggalkan kami bertiga 

Jiwa rumpi si mbak Mina dan Ani mulai deh. Dia menggibah dengan mbak Mina. 

“He Min, itu si Cahya kan anaknya yang kecil belum ada setahun, masak iya katanya sehari minum susu kental manis kalengan sampe abis 2 kaleng sehari, iya sih anaknya yang pertama baru umur 5tahun” ujar mbak Ani 

“Lah iya mbak Ani, masio sombong, kok ga rasional” balas mbak Mina

“Iyo ya Min, mana si Cahya iku kurus banget kering kerontang gitu ya sekarang” ujar mbak Ani lagi. 

“Hooh mbak Ani, nek kurus banget gitu mungkin ga keluar asinya, makanya kan dia beliin susu kental manis buat anaknya” jawab mbak Mina. 

Aku pun asal menyeletuk, “Paling dia punya ingon2 (Peliharaan) tuyul mbak, ga kuat nyusuin, makanya sampe kurus banget gitu, mana sampe beli 2 kaleng SKM setiap harinya” lanjutku sambil tertawa. 

“eh bisa jadi loh Ndra, lah dia kalau jalan salah satu tangannya di belakang” jawab mbak Ani

“loro boyok (sakit punggung) iku mbak, wong kurus ngunu kok kakean digarap” celotehku. 

“husshh , eh tapi aku curiga emang sama si cahya itu, dia tiap adzan maghrib selalu keluar rumah loh. Kayak wajib tiap harinya harus keluar pas adzan maghrib. Mana rumahnya juga tutupan kan.” Ujar Mbak Ani 

“wes wes, ojo rasan-rasan mbak. Ilang maneh duite samean kapok” jawabku sambil tertawa. 

Akupun menyudahi obrolan siang itu, segera membayar beberapa gorengan dan es yang kumakan di warung mbak Mina. Aku segera pulang setelahnya. Sesampainya di kamar, aku kepikiran dengan obrolan yang di warung tadi. Apa iya si mbak Cahya yang punya peliharaan tuyul. 

Sorenya aku cerita ke mama soal obrolan tadi siang. Mama baru ingat kalau ibu dari mbak Cahya itu dulunya pernah ikut pesugihan. Itu disampaikan yang bersangkutan langsung ke ibu-ibu. Kebetulan teman mencari pesugihannya itu juga tetanggga kami, Bu Yati Namanya. 

Bu Yati awalnya menceritakan kalau dirinya dan ibu mbak Cahya itu sampai kemana-mana mencari pesugihan. Salah satunya ke gunung Lamong di Lumajang, dan Gunung Kawi di Malang. 

Namun menurut mereka pesugihan yang mereka lakukan tidak berhasil. Bahkan hutang-hutang mereka bertambah banyak. 

Namun itu dulu. Sedangkan sekarang rumah induk yang ditempati oleh mbak Cahya beserta suami dan ibunya kini sudah bisa dikatakan sangat bagus. Tembok depan rumahnya dipasangi keramik hijau sampai setinggi atap. 

Untuk bagian dalam rumahnya aku tidak tahu, karena rumahnya jarang terbuka setiap waktu. Kaca jendelanya juga berwarna hitam dan gorden lebih sering menutup. Mbak Cahya sendiri memiliki 2 motor dan 1 mobil di rumahnya. Dia tidak bekerja. Ibunya hanya berjualan kelapa di pasar. 

Dan suami mbak cahya hanya seorang montir di bengkelnya sendiri. Bengkel motor itu juga tidak pernah terlihat ramai. Ya kami awalnya sama sekali tidak menaruh curiga terhadapnya. Sore itu aku dan mama membahas keluarga itu di teras rumahku. 

Menjelang adzan maghrib berkumandang, seketika mbak cahya beserta suaminya berboncengan melewati rumah kami. Mereka mengendarai motor Vario 125 , namun yang aneh, mbak cahya seperti duduk berjauhan dengan suaminya, sedang suaminya duduk di jok dengan posisi agak kedepan. 

Diantara keduanya ada space kosong yang lumayan luas. Aku memandangnya aneh. 

“Ma, itu loh mbak cahya kok boncengan jauh2an yak?”

“Heh, jangan nggibahin orang kamu, biarin napa sih” jawab mama 

“Maksudku itu bukan ngira mereka berantem loh ma, tp kyk ngebonceng kosongan gitu diantaranya, lah tadi kan mereka gak bawa kedua anaknya” ujarku 

“Halah biarin lah kok kamu yang kepo sih, udah ayo masuk rumah, sholat maghrib” jawab mama 

Aku pun semakin kepo dengan keluarga mbak cahya itu. Aku berencana esok hari mau mengamati dan memastikan lagi kalau mbak cahya dan suaminya memang benar keluar setiap maghrib. 

Keesokan harinya pun, aku melihat dari jendela ruangtamu rumahku kalau mereka berdua berboncengan dengan posisi jauh-jauhan lagi dan juga waktu menjelang adzan maghrib berkumandang. 

Begitupun dengan hari-hari berikutnya , mereka mengulang terus kegiatan bermotoran di kala surup-surup itu. 

Setelah beberapa hari kemudian, tepatnya kurang lebih pukul setengah empat pagi, sebelum subuh. Aku terbangun dari tidurku. Saat itu diluar sedang gerimis. 

Depan rumahku ada saluran pembuangan air yang kalau disaat hujan selalu penuh karena pembuangan dari sawah belakang rumah. 

Tetangga depan rumah (sebelah mbak Mina) memelihara mentok (itik serati). Mentok- mentok itu saat menjelang subuh itu sangat ramai. 

Tidak seperti biasanya, kemungkinan kalau hanya bermain air di saluran air, tak akan seramai itu. Seperti ada orang yang bermain-main dengan mentok-mentok itu. Entah bermain-main atau menghalau mentok itu. 

Karena penasaran aku melihat lewat jendela kamar yang ke arah depan. Ternyata benar, ada anak kecil yang lagi bermain-main mengejar mentok itu. 

Aku tidak merasa ada yang aneh sebelumnya, mungkin karena aku masih baru bangun saat itu. Namun sejurus kemudian, akalku mulai menagkap sinyal aneh, anak siapa yang bermain di luar rumah jam segini?? Dan aku curiga kalau itu tuyul. 

Segera aku menuju kamar mamaku, membangunkannya dan mengatakan “Ma, bangun, maa, ada tuyul di halaman depan”.

Mama dan papa tiriku sontak terbangun, langsung mengikutiku ke ruang tamu. 

Posisi kamarku memang bersebelahan dengan ruang tamu. Kami bertiga mengintip dari jendela ruang tamu. “Bocil” itu berlari ke barat ke timur sambil mengejar mentok-mentok itu. 

Sesekali ketika berbalik arah aku dapat melihat wajah dari tuyul itu. Kepala itu tidak botak penuh, masih ada rambut di bagian depan. 

Wajahnya seperti orang dewasa, tingginya tidak pendek-pendek banget. Bola matanya berwarna hitam, di bawah lingkar matanya juga cenderung gelap. 

Dan gigi taringnya terlihat lumayan panjang, berbeda dengan manusia pada biasanya. Daun telinganya juga terlihat sedikit meruncing di ujung atasnya. Tuyul itu tidak memakai baju atasan, hanya memakai celana pendek lusuh yang terlihat menggembul. 

Sepintas terlihat seperti memakai popok pampers anak. Disetiap tuyul itu berlarian, terdengar seperti suara gemerincing yang entah dari mana bunyi itu berasal. Rupanya tuyul itu menyadari kalau kita sedang mengawasinya. Segera dia berlari ke arah lain. 

Aku dan papaku mencoba mencari jejak kemana arah tuyul itu kabur. Dan kita mendapati ada jejak bekas lumpur yang masih basah diteras rumah mengarah ke pintu masuk rumah itu yang tak lain adalah rumah mbak cahya. 

Jejak kaki bekas lumpur itu berukuran lebih kecil daripada ukuran orang dewasa. Dari situ kita langsung menarik kesimpulan kalau memang yang digunjingkan orang-orang kampung itu benar adanya. 

Namun hanya sekedar tau tau saja kita saat itu. Dan mulai antisipasi dengan tidak menyimpan uang nominal seratus ribu di rumah alias uang yang berwarna merah. 

Beberapa hari berlalu, aku sudah tidak pernah mendengar kabar soal uang hilang dari warga sekitar. Namun, yak ada yang lebih mengerikan. Anak-anak tetanggaku yang pulang dari mengaji mereka melewati lompongan (space antara rumah mbak cahya dengan rumah tetangga sebelah). 

Anak-anak itu masih kecil kurang lebih umurnya sekitar 4-5 tahun. Nah di lompongan itu ada kuburan ari-ari bayi yang biasanya ditutup dengan kurungan ayam dan ditaburi kembang setaman dan diberi lampu. 

Bocil itu ada yang merasa suara dari kuburan ari-ari bayi itu, salah satu dari mereka mencoba membuka kurungan yang menutupi kuburan ari-ari itu. 

kemudian mereka berenam teriak-teriak dan lari dari lompongan itu dengan histeris. Salah satu dari mereka melapor kepada ibunya bahwa di kuburan ari-ari tadi ada kepala menyeringai dengan usus berdarah (yang biasa kita sebut dengan kuyang). 

Karena sudah sangat meresahkan, dan tak cuma 1-2 anak yang melihat kejadian itu, ibu si anak ini melapor kepada pak RT. 

Keesokan harinya pak RT mengumpulkan orang-orang yang pada kehilangan uang secara misterius itu. kita semua berdiskusi bagaimana caranya untuk memecahkan masalah yang meresahkan warga kampungku. 

Akhirnya kita berencana untuk menyampaikan secara langsung kepada mbak Cahya apa yang sudah kita alami, termasuk aku dan papaku yang pernah melihat tuyul itu secara langsung. 

Pak RT , aku, Papaku dan ibu dari anak yang melaporkan telah melihat kepala menyeringai itu bertolak menuju rumah mbak cahya. Kita langsung menyampaikan apa yang ada tanpa basa-basi lagi. 

Yang saya ingat pak RT memohon agar mbak cahya kalau memang akan tetap menjalankan “peliharaan tuyul” itu agar tidak beroperasi di daerah sekitar kampungku. Awalnya mbak cahya dan suaminya mengelak. 

Namun setelah kita menjelaskan secara detail apa yang telah kita alami beberapa hari sebelumnya, akhirnya kedua suami istri itu meminta maaf kepada kami, dan berjanji akan menghentikan peliharaaan mereka. 

Beberapa bulan kemudian, mbak cahya telah pindah meninggalkan kampungku. Mereka berdua membeli rumah di perumahan baru di kampung sebelah. Rumah barunya juga terlihat mentereng dengan cat dominan warna merah yang begitu cerah. 

Dan warga dikampungku juga tidak pernah mengalami kehilangan uang secara misterius lagi. -end- 

Thread By @candrayuri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *