RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Kontrakan A8

Nama dan detail lokasi aku samarkan demi privasi dan kenyamanan bersama, kecuali namaku (Nana) dan nama kotanya. 

Setelah aku memutuskan pindah dari kos itu. Harapanku pindah dari kos, salah satunya untuk menghindari gangguan dari penghuni gaibnya, eh nggak taunya malah bakal dapat gangguan yang lebih sering. Kesannya seperti keluar kandang buaya, masuk kandang singa. 😅 

Aku yang waktu itu memasuki libur semester 4 punya keinginan untuk pindah dari kos yang sudah aku tempati hampir 2 tahun di kota Malang ini. Salah satu alasannya karena risih dengan gangguan penghuni gaibnya. 

Tapi selain itu, ada alasan lain juga. Aku dapat kabar dari teman kos lantai dua kalau ibu kos menjual rumah kos itu, dan pemilik barunya akan menaikkan harga sewa semester depan. Ditambah lagi, pemilik baru mengubah peraturan kos. Satu kamar yang tadinya boleh ditempati berdua, mulai semester depan sudah tidak diperbolehkan lagi. Otomatis biaya yang harus ku keluarkan untuk kos akan naik 2 kali lipat lebih. 

Aku mulai berpikir untuk menyewa rumah kontrakan. Ku ajak temanku Puput (di thread Kos Putri 16C namanya Put) untuk bergabung denganku mencari rumah kontrakan. 

“Enak’e golek neng daerah endi Na?” (Enaknya cari di daerah mana Na?) tanya Puput.

“Ojo mikir daerah’e disek. Pikiren awakdewe kate ngajak konco piro, golek omah sing rego piro.” (Jangan mikir daerahnya dulu. Pikir dulu kita mau ngajak temen berapa, nyari rumah bajet berapa?) 

“Lha iyo aku takon daerah endine kuwi mergo lek terlalu cedek kampus kene regane mesti larang, sis. Coba tak takok koncoku menowo ono sing gelem dijak ngontrak omah. Awakmu takono koncomu pisan.” 

(Lah iya aku tanya daerah mananya itu karena kalo terlalu deket kampus harganya pasti mahal, sis. Coba ku tanya temenku siapa tau ada yang mau diajak ngontrak rumah. Kamu tanya temenmu juga.) 

Setelah diskusi dan tanya ke teman-teman lewat chat, kami akhirnya menemukan 2 orang teman yang mau diajak menyewa rumah kontrakan bersama. Namanya Tia dan Listi. 

Tia adalah teman seangkatan kami sejak SMA, dan Listi adalah tetanggaku. Dia dua tahun lebih muda dariku. Karena Listi tidak mau ribet mencari kos di sekitar kampus, dia langsung setuju saat ku ajak menyewa rumah kontrakan bersamaku. 

Dengan alasan ekonomi, kami memilih untuk mencari kontrakan agak jauh dari kampus. Rumah kontrakan ini berada di pinggiran selatan kota Malang. Harga sewanya 8 juta per tahun. Itu berarti masing-masing dari kami membayar 2 juta. 

Rumah ini berada di perumahan yang letaknya sekitar 5,5 kilometer arah selatan dari kampusku. Aku dan teman-teman memilih lokasi ini karena suasananya yang asri dan tidak bising. 

Ditambah lagi lokasi perumahan ini dekat dengan persawahan dan kami bisa melihat jelas pemandangan indah gunung Kawi yang membuat kami merasa nyaman. 

Aku gambarkan denah rumahnya biar nggak bingung. Di dalam rumah minimalis itu terdapat 3 kamar dan 2 kamar mandi. Dua kamar berukuran sekitar 3×3 meter berada di samping ruang tamu. Satu kamar yang lain berukuran 2×2 meter berada di sebelah kamar mandi belakang. 

Maaf ya, aku bikin denahnya simple ada sebisaku. Ngga ada bakat gambar blas dari dulu. 😅

Image

Bagian dapur rumah ini tidak ada ventilasi sama sekali, membuat udara sedikit lembab. Halaman belakang pun tidak ada. Bagian belakang rumah berdempetan langsung dengan sekolah dasar. 

Pertengahan bulan Agustus 2015 kami mulai menempati rumah itu. Setelah seharian membersihkan rumah, kami berempat kelelahan dan langsung tidur dengan beralaskan kasur lipat di ruang tamu. 

Aku menempati kamar paling depan dengan Puput. Tia dan Listi menempati kamar sebelah. Sedangkan kamar berukuran kecil yang ada di belakang kami jadikan mushola. Ada ruang kosong di sebelah barat ruang tamu, kami jadikan tempat menaruh barang yang jarang dipakai, juga pakaian kotor yang akan dicuci. Tidak ada gangguan apapun selama satu bulan kami menempati rumah ini. Sehingga awalnya aku dan Puput mengira rumah ini “aman”. 

Pertengahan September, ada kejadian aneh yang kami alami. Lampu teras dan lampu dapur sering mati. Kami sudah beberapa kali mengganti bohlamnya, tapi selang beberapa hari selalu putus. 

Awalnya kami kira listrik di rumah kontrakan ini agak korslet. Tapi setelah kami panggil petugas PLN, tidak ada masalah. Kejadian berulang sampai 4 kali. Setelah kami ganti lampu yang keempat kalinya, lampunya kembali normal dan tidak putus lagi. 

Tanggal 26 Oktober 2015, musibah menimpaku. Ayahku meninggal karena sakit ginjal dengan komplikasi lain. Aku yang saat itu sedang ujian tengah semester, harus pulang ke rumah sampai 7 hari meninggalnya ayah. 

Kembali ke Malang, teman-teman merangkul dan menghiburku. Tapi saat aku perhatikan raut wajah Puput, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi masih ragu. Malam harinya sebelum tidur, aku tanya ke dia ada apa, lalu dia menceritakan kejadian aneh yang dialaminya. 

Dua hari setelah aku pulang ke kampung halaman, dia telfonan dengan pacarnya sampai jam 11 malam. Setelah merasa ngantuk, dia menutup sambungan telfon lalu tidur. 

Jam 1 dia terbangun dan merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia ketindihan. Selama beberapa menit dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa. Akhirnya dia menyerah dan mencoba tidur lagi. 

Pagi harinya ketika dia mandi, dia terkejut melihat ada bekas memar merah di lengannya. Anehnya, bekas memar itu membentuk tangan seseorang. Seperti ada yang mencekal lengannya dengan sangat kuat. 

“Terus mene bengine aku turu, tengah wengi ngelilir maneh, tapi embuh pas e jam piro. Pas setengah ngantuk setengah sadar, aku koyok ndelok awakmu lungguh neng sandingku, tapi awakmu madep tembok, terus ngguyu ngakak. Batinku, arek iki bengi-bengi ngguyu ambi sopo. Tapi aku ngantuk banget, dadi yowes bablas turu maneh ae. Isuk e pas tangi lagek sadar awakmu durung mbalik mrene. Berarti sing ngguyu mambengi sopo?” 

(Terus besok malemnya aku tidur, tengah malem kebangun lagi, tapi entah pasnya jam berapa. Pas setengah ngantuk setengah sadar, aku kayak lihat kamu duduk di sebelahku, tapi kamu hadap ke tembok, terus ketawa ngakak. Batinku, nih anak malem2 ketawa sama siapa. Tapi aku ngantuk banget, jadi yaudah aku tidur lagi. Paginya pas bangun baru sadar kalo kamu belom balik kesini. Berarti yang ketawa tadi malem siapa?) 

“Mosok se Put? Aduh, koyok’e mending dirimu ga cerito. Lek ngene kan aku ngko wedi, parno.” (Masak sih Put? Aduh, kayaknya mending kamu ga cerita. Kalo gini kan aku ntar takut, parno.) 

“Lah mau awakmu dewe sing ngongkon cerito. Yo’opo se? Yowes ayok turu.” (Lah tadi kamu sendiri yang nyuruh cerita. Gimana sih? Ya udah ayo tidur.) 

Beberapa hari kemudian, giliran Tia yang mengalami kejadian aneh di kontrakan. Malam itu aku dan Puput keluar cari makan sekaligus nongkrong, sementara Listi ngerjain tugas kelompok di kosan temannya. 

Tia : “Rek, awakmu nang ndi kabeh? Aku kok tinggal dewean sampe yahmene!” (Rek, kalian pada kemana? Aku ditinggal sendirian sampe jam segini!) 

“Golek mangan aku, trus nongki ambi Puput. Opo’o? Listi durung muleh ta?” (Cari makan aku, trus nongki sama Puput. Kenapa? Listi belom pulang kah?) kataku. 

“Listi jek tas kirim chat, jare nginep kosan’e koncone.” (Listi barusan kirim chat, katanya nginep di kosan temennya.)

“Lapo se Ti? Kok koyok panik ngono dirimu?” (Kenapa sih Ti? Kok kayak panik gitu dirimu?) tanya Puput. 

“Kon gak eroh rek, ket mau aku meringkuk nang kamar dewean gara-gara ono suoro aneh.” (Kalian ga tau, dari tadi aku meringkuk di kamar sendirian gara-gara ada suara aneh.)

“Yo gak eroh lah. Emang ono suoro opo?” (Ya nggak tau lah. Emang ada suara apa?) tanyaku. 

“Aku mau lagi ndelok drakor neng ruang tamu. Trus ono suoro wong wedok nangis. Tak pikir lek tonggo sebelah. Tibakno suorone teko arah dapur. Neng kono kan ganok sopo2. Laptopku langsung tak tutup, aku mlebu kamar sampe awakmu muleh.” 

(Aku tadi lagi nonton drakor di ruang tamu. Terus ada suara cewek nangis. Ku pikir tetangga sebelah. Ternyata suaranya dari arah dapur. Di situ kan ga ada siapa2. Laptopku langsung ku tutup, aku masuk kamar sampe kalian pulang.) 

Beberapa minggu kemudian, saat curah hujan di kota Malang sedang tinggi, atap rumah bagian belakang bocor. Airnya merembes ke plafon di kamar mandi belakang (KM 2), mengakibatkan lampu di KM 2 konslet dan putus. 

Akhirnya kami putuskan menutup kamar mandi itu dan tidak digunakan lagi. Tapi suatu pagi, saat Puput sedang memasak, dia mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi itu. 

Penasaran, dia buka pintunya. Tidak ada apapun yang jatuh karena memang kamar mandi itu sudah kami kosongkan sebelumnya. Bahkan lantai dan bak mandinya pun kering. Dia tutup lagi pintu kamar mandi itu, lalu lanjut memasak. 

Selesai memasak, dia mendengar suara cekikikan anak kecil di belakangnya. Awalnya Puput abaikan karena ada sekolahan tepat di belakang rumah. Pasti suara itu berasal dari sana. 

Dia berjalan menuju kamar untuk sarapan sambil nonton drama korea. Saat Puput baru duduk di depan laptopnya, ada anak kecil berlari dari arah dapur menuju ke luar rumah.

“Hehehehe.” suara tawa anak itu berlalu melewati depan kamar. 

“Astaghfirullah! Iku mau opo?” (Astaghfirullah! Itu tadi apa?) teriak Puput.

Dia langsung menutup pintu kamar dan jendela karena takut. “Setan kok gak eruh wayah. Sek isuk lho iki.” (Setan kok ngga tau waktu. Masih pagi nih.) gerutunya. 

Setelah beberapa kali hanya mendengar cerita dari Puput dan Tia, tiba juga giliranku mendapat “salam perkenalan” dari mereka. Waktu itu aku ada jadwal kuliah siang, sedangkan teman-teman yang lain kuliah pagi. 

Jam 12 siang, aku yang sedang siap-siap berangkat kuliah, tiba-tiba ingin buang air kecil. Saat aku sedang pipis, aku dengar suara perempuan merintih dan menangis dari arah ruang kosong di depan kamar mandi (KM 1). 

Sontak aku mengejan biar pipisku cepat selesai. (Jangan diketawain dan jangan ditiru ya, nggak baik buat kesehatan.) Setelah aktivitas buang airku selesai dan sudah aku siram, aku buka pintu kamar mandi perlahan. 

Ku pastikan suara rintihan itu sudah tidak ada, dan ku lihat tidak ada siapapun di ruang kosong itu. Aku langsung berlari keluar rumah, ku pakai sepatuku dan segera berangkat kuliah. 

Pernah suatu ketika, temanku bilang ingin menginap di kontrakanku. Namanya Isna. Dia baru diputusin pacarnya dan ingin curhat-curhat denganku. Waktu itu Puput dan Listi belum pulang dan Tia sedang asik nonton drakor di kamarnya. Saat adzan maghrib berkumandang, 

“Na, aku maghriban sek yo. Awakmu sek prei kan?” (Na, aku sholat maghrib dulu ya. Kamu masih libur kan?)

“Iyo Is. Iku mushola e nang mburi. Ayok tak terno.” (Iya Is. Itu musholanya di belakang. Ayo ku anterin.) 

“Gak usah Na. Koyok adoh ae diterno barang.” (Ngga usah Na. Kayak jauh aja pake dianterin.)

Aku jawab oke saja, kemudian Isna bergegas ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat di mushola. Setelah sholat tiba-tiba dia lari menghampiriku dengan raut muka terlihat terkejut dan panik. 

“Na, aku gak sido nginep kene yo.” (Na, aku ngga jadi nginep sini ya.) katanya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.

“Lha lapo Is?” (Lah kenapa is?) 

“Anu, aku lagek kelingan lek dino iki wayahku piket nang kos. Aku durung ngresiki kamar mandi. Ngko mbak kos ngomel2 lek aku gak piket.” (Anu, aku baru inget hari ini giliranku piket di kos. Aku belum bersihin kamar mandi. Nanti kakak kos ngomel kalo aku ngga piket.) 

“Yawes. Ati-ati yo mbalik kos e. Btw yahmene nang Mergan biasane rodok macet.” (Yaudah ati-ati ya balik ke kos. Btw jam segini di Mergan biasanya agak macet.) jawabku. 

Sikap Isna membuatku penasaran. Aku bertanya-tanya sebenarnya apa yang di alaminya di mushola belakang. 

Pertanyaanku terjawab beberapa hari kemudian saat Puput dikunjungi cowoknya di kontrakan. Kebetulan pacarnya Puput ini agak sensitif dengan kehadiran makhluk tak kasat mata, tapi dia bukan indigo. Hanya sering bisa melihat penampakan saja. 

“Na, aku te adus. Roni lagi sholat ashar. Ngko lek de’e wis mari gek adusku suwe tulung jak’en ngobrol arek’e cek gak gabut.” (Na, aku mau mandi. Roni sholat ashar. Nanti kalau dia selesai dan mandiku lama tolong ajak dia ngobrol biar ngga gabut.) Roni ini nama cowoknya Puput. 

“Oke Put, santai ae, wong aku ya akrab ambi Roni.” (Oke Put. Santai aja, orang aku juga akrab sama Roni.) jawabku. 

Setelah selesai sholat, Roni duduk dan merokok di ruang tamu. “Sing pertama nemu kontrakan iki biyen sopo Na?” (Yang pertama nemuin kontrakan ini dulu siapa Na?) tanyanya memulai percakapan.

“Aku ambi Puput, Ron. Opo’o?” (Aku sama Puput, Ron. Kenapa?) 

“Betah to? Ga enek sing aneh2 selama awakmu neng kene?” (Betah kah? Ga ada yang aneh2 selama kamu di sini?)

“Puput mesti cerito nang awakmu se, lek de’e ngalami kejadian aneh?” (Puput pasti cerita ke kamu kan, kalo dia ngalamin kejadian aneh?) 

“Puput ancen cerito neng aku, tapi aku eruh dewe ki mau, wujude.” (Puput emang cerita ke aku, tapi aku lihat sendiri nih tadi, wujudnya.) 

Melihat raut wajahku yang penuh tanya, Roni melanjutkan penjelasannya. “Ki mau pas aku arep sholat, aku eruh ono mbak2 klambi putih rambut dowo acak-acakan, ngadek neng sanding kompor neng dapur.” 

(Tadi pas aku mau sholat, aku lihat ada mbak2 baju putih rambut panjang acak-acakan, berdiri di samping kompor di dapur.) 

“Trus mari sholat, pas aku metu teko mushola, neng ngarep kamar mandi sing kosong kuwi ono bocah cilik. Neng celah kosong sebelah iki yo enek, tapi aku durung eruh jelas wujude piye.” 

(Trus habis sholat, pas aku keluar dari mushola, di depan kamar mandi yang kosong itu ada anak kecil. Di celah kosong sebelah ini juga ada, tapi aku belum lihat jelas wujudnya gimana.) 

“Waduh Ron, kok yo detail men penjelasanmu. Tambah parno aku lek neng omah dewean.” (Waduh Ron, kok ya detail banget penjelasanmu. Makin parno aku kalo di rumah sendirian.) kataku.

“Gak usah parno. Ibadahmu ojo nganti kendo.” (Ngga usah parno. Ibadahmu jangan sampe kendor.) 

Aku manggut-manggut mengiyakan lalu ku bilang “Tapi aku alhamdulillah gak tau diketok’i wujude piye. Mek suoro tok.” (Tapi aku alhamdulillah ngga pernah dilihatin wujudnya gimana. Cuma suara aja.) 

“Haha, ojok ngomong ngono Na. Ngko dikiro nantangi malah akhire we diketok’i tenan piye?” (Haha, jangan ngomong gitu Na. Nanti dikira nantangin malah akhirnya kamu ditampakin beneran gimana?) ejek si Roni.

“Amit-amit jabang bayi, ojo sampe lah. Aku gak nantangi kok.” jawabku. 

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ucapan Roni menjadi kenyataan. Beberapa hari kemudian teman-teman yang lain kuliah pagi dan aku tidak ada jadwal kuliah. Jam menunjukkan pukul 2 siang saat perutku keroncongan minta diisi. 

Aku yang dari pagi malas masak karena tidak nyaman berkutat sendirian di dapur, beranjak dari kamarku untuk membeli rujak cingur di warung langgananku yang jaraknya sekitar 800 meter dari kontrakan. 

Ku ambil dompet beserta kunci motor yang ku letakkan di pojokan rak buku di depan kamar Tia. Sedetik setelah aku keluar dan mengunci pintu, aku mendengar suara tawa perempuan. “Hahahaha!” suaranya nyaring terdengar dari kamarku. 

“Astaghfirullah, awan-awan iki mbak. Mbok yo istirahat sek, engko bengi ae ganggune.” (Astaghfirullah, siang-siang ini mbak. Mbok ya istirahat dulu, nanti malem aja gangguinnya.) gumamku dalam hati. 

Ku buka pagar rumah, kemudian ku geser sepeda motorku. Ketika tidak sengaja aku melihat ke dalam kamar dari celah jendela yang terbuka, mataku terbelalak. Ada perempuan yang sedang duduk di kamarku, dengan posisinya menghadap ke selatan membelakangiku. 

Bagaimana bisa ada orang di dalam kamarku? Padahal seharusnya di rumah tidak ada orang. Bahkan pintu kamar sudah ku tutup. 

Sesaat aku terpaku memperhatikan perempuan dengan pakaian lusuh dan rambut acak-acakan itu. Kaki ku seperti terikat dan sulit digerakkan. Untung saja tidak lama kemudian ada petugas PDAM datang untuk mengecek meteran. 

“Permisi mbak. Mau cek meteran air.”

Setengah kaget aku mengerjapkan mata, lalu ku jawab, “Iya Pak.” Setelah itu aku lihat lagi ke dalam kamar, perempuan tadi sudah menghilang. 

Setelah ku keluarkan sepeda motor dan ku kunci pagar rumah, aku telfon Isna (temanku yang tidak jadi menginap di kontrakan tempo harinya.)

“Halo Is, aku dolen nang kosmu yo.” (Halo Is, aku main ke kosmu ya.) 

“Saiki ta? Iyo mreneo.” (Sekarang? Iya sinio.)

“Wes mangan ta durung awakmu? Lek durung iki aku ate tuku rujak cingur. Titip ta?” (Dah makan belom kamu? Kalo belom ini aku mau beli rujak cingur. Titip ta?) 

“Wenak, rujak cingur! Titip Na, lombok 3 ae.” (Wenak, rujak cingur! Titip Na, cabe 3 aja.) 

Sesampainya di kos Isna, kami makan siang bersama sambil ku ceritakan yang aku alami di kontrakan tadi. 

“Aku malah heran awakmu lagek dieruhi demit iku saiki. Tak kiro awakmu wis eruh ket awal ngontrak nang kono. Wong aku mari sholat nang musholamu, kaget ono kuntilanak dulinan ambi arek cilik nang pojok dapur.” 

(Aku malah heran kamu baru ditampakin sekarang. Ku kira kamu udah tau dari awal ngontrak di situ. Orang aku habis sholat di musholamu, kaget ada kuntilanak main sama anak kecil di pojokan dapur.) 

“Oalah, tibakno ngono. Aku winginane heran, awakmu jare kate nginep kok moro-moro gak sido. Wajahmu yo aneh, koyok kaget setengah panik.” (Oalah, ternyata gitu. Aku kemarin heran, kamu katanya mau nginep kok tiba-tiba ngga jadi. Wajahmu juga aneh, kayak kaget setengah panik.) 

“Kosmu sing sak durunge iku, awakmu biyen crito nang kono angker. Saiki pindah kontrakan angker pisan. Waduh.” (Kosmu yang sebelumnya itu, kamu dulu cerita di sana angker. Sekarang pindah kontrakan angker juga. Waduh.) 

“Semangat ya, bertahan di kontrakan angker sampai 6 bulan ke depan.” kata Isna mengejekku. 

Ya, dia benar. Aku harus bertahan sampai akhir semester depan karena terlanjur membayar sewa selama setahun. Ah sial. Keluar kandang buaya, masuk ke kandang singa. 

Kini kami memasuki semester genap setelah libur selama 3 minggu di kampung halaman. Aku kembali ke kontrakan berdua dengan Listi. Sesampainya di kontrakan, kami rebahan sejenak untuk menghilangkan penat selama perjalanan tadi. 

“Lis, awakmu selama manggon nang kontrakan iki, tau ngalami kejadian aneh nggak?” (Lis, kamu selama tinggal di kontrakan ini, pernah ngalamin kejadian aneh nggak?) tanyaku iseng. 

“Nggak mbak. Aku sakjane tau dikandani mbak Tia, kejadian aneh sing dialami de’e. Tapi alhamdulillah aku ga pernah ngalami sing aneh2. Nyaman2 ae aku selama manggon nang kene mbak. Opo’o mbak kok takon ngono?” 

(Nggak mbak. Aku sebenernya pernah dikasih tau mbak Tia, kejadian aneh yang dia alami. Tapi alhamdulillah aku ngga pernah ngalamin yang aneh2. Nyaman2 aja aku selama tinggal di sini. Kenapa mbak kok tanya gitu?) 

“Gapopo sih. Aku pengen ngerti ae, opo yo kabeh sing manggon nang kene diganggu. Tibakno gak kabeh. Hehe.” (Gapapa sih. Aku pengen tau aja, apa ya semua yang tinggal di sini diganggu. Ternyata ngga semua. Hehe.) 

Mungkin percakapanku dengan Listi ini didengar oleh penunggu gaib rumah ini, karena beberapa hari setelahnya, Listi mulai mengalami kejadian aneh. 

Malam itu, Listi mengajakku pergi ke pasar Mergan untuk membeli ceker ayam. Aku bertanya kenapa tidak besok pagi saja beli ceker ayam di penjual ayam potong depan perumahan. 

“Aku sesuk jadwal kuliah isuk mbak. Pengen tangi luwih awal trus langsung masak ceker pedes, gawe bekal nang kampus sesuk.”

(Aku besok jadwal kuliah pagi mbak. Pengen bangun lebih awal trus langsung masak ceker pedes, buat bekal ke kampus besok.) 

Sepulangnya dari pasar, Listi menaruh ceker ayamnya di dalam baskom, lalu dia tutup dengan kain bersih.

Besoknya ketika dia hendak memasak,

“Mbak Na! Sampean eruh baskomku sing tak dekek nduwur kompor kene?” (Mbak Na! Sampean lihat baskomku yang aku taruh di atas kompor sini?) 

“Mari kok jak nang pasar mambengi aku gak mlebu dapur blas Lis. Opo’o?” (Abis kamu ajak ke pasar kemarin aku ngga masuk ke dapur sama sekali Lis. Kenapa?) 

“Cekerku ilang mbak! Mambengi tak dekek baskom, tak tutup kain. Trus baskom e tak dekek kompor. Aku eling tenan. Mari ngono aku langsung turu. Tangi turu wis gaonok!” 

(Cekerku ilang mbak! Tadi malem ku taruh baskom, ku tutup kain. Trus baskomnya ku taruh di atas kompor. Aku ingat betul. Abis itu aku langsung tidur.) 

“Hah? Mosok? Coba digolek’i maneh Lis. Gak mungkin lah, ceker setengah kilo ilang sak baskom e. Jajal takonono Tia karo Puput, menowo eruh.”

(Hah? Masak? Coba dicari lagi Lis. Ga mungkin lah, ceker setengah kilo hilang sebaskomnya juga. Coba tanya Tia sama Puput, kali aja tau.) 

Ternyata Puput dan Tia pun tidak mengetahui tentang ceker ayam Listi itu. Kami pun bersama2 mencari baskom Listi yang hilang. Tapi kami tidak menemukan baskom itu di sudut manapun. 

“Yowes mbak, bahno wes. Matur suwun wis diewangi nggolek’i.” (Yaudah mbak, biarin. Makasih udah dibantuin nyari.) ucapnya. 

Sore harinya sepulang kuliah, dia bergegas mandi. Aku dan Tia nonton film di ruang tamu. Tak lama kemudian,

“Aaaaaaaa!!!”

Listi berteriak dan keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang cuma berbalut handuk. 

“Lho arek iki opo’o bengok-bengok ngono? Meh maghrib loh iki. Opo’o se Lis?” (Lho ini anak kenapa teriak-teriak gitu? Hampir maghrib loh ini. Kenapa sih Lis?) tanya Tia. 

“Mbak, adah sabunku obah-obah dewe.” (Mbak, tempat sabunku gerak-gerak sendiri.) 

“Mosok? Tenane?” (Masak? Beneran?) tanyaku datar. Aku sudah tidak heran lagi dengan kejadian seperti ini, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama beberapa hari sebelumnya. 

“Sumpah mbak. Mripatku gak salah deleng. Adah sabunku obah dewe ki mau.” (Sumpah mbak. Mataku nggak salah lihat. Tempat sabunku gerak sendiri tadi.) 

“Yowes gapopo Lis. Aku winginane yo ngalami tapi tak lanjutno ae adus. Penting gak ono penampakan aneh2. Toh awakmu gak dewean. Ono aku ambi Tia ndelok film nang kene.” 

(Yaudah gapapa Lis. Aku tempo hari juga ngalamin tapi ku lanjutin aja mandi. Penting ga ada penampakan aneh2. Toh kamu ngga sendirian. Ada aku sama Tia nonton film di sini.) kataku. 

Seakan tidak cukup itu saja, beberapa hari setelahnya Listi pecah telor juga. Penghuni gaib rumah itu menampakkan dirinya pada Listi. 

Dia bilang saat itu dia sedang lembur mengerjakan laporan praktikum yang harus dikumpulkan besok pagi. Jam menunjukkan pukul setengah 12 malam saat dia dengar Tia yang sedang tidur pulas, mengigau.

“Ehehehe..” dia tertawa dalam tidurnya. 

“Heleh, ngelindur mbak Tia.” gumam si Listi.

Lalu dia mendengar suara tawa lagi.

“Ahahahaha…” 

Listi berdecak heran. Dia kira Tia mengigau lagi. “Ngimpi opo t….” (Mimpi apa s….)

Belum selesai ucapannya, dia terbelalak melihat asal suara tawa itu. 

Di samping tempat tidur, ada perempuan memakai pakaian seperti kemben, dengan rambut panjang menjuntai sampai kaki. Tangannya juga panjang, bahkan hampir dua kali panjang tangan manusia. Tubuhnya kotor dan matanya merah. 

“As… ast.. hah..” Listi ingin mengucap istighfar tapi lidahnya kelu, lalu dia tidak sadarkan diri.

Besoknya, Listi jatuh sakit. Dia demam selama tiga hari. Akhirnya orang tuanya membawa dia pulang sementara sampai dia pulih kembali. 

Setelah satu minggu, dia kembali ke kontrakan dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Sejak saat itu, kamu memutuskan untuk tidur berempat di kamarku dan Puput. 

Ada lagi cerita dari teman pacarku (sekarang mantan). Waktu itu Lian (pacarku) mengajakku ke rumah salah satu temannya yang mengadakan syukuran setelah lulus sidang skripsi. Dia menjemputku dengan dua orang temannya. Mas Ali dan ceweknya, mbak Fitri. 

“Tak kiro sampean mrene dewean, tibakno ngajak body guard loro.” (Ku kira kamu ke sini sendirian, ternyata ngajak body guard dua.) candaku pada teman-temannya. 

“Iso ae sampean iki mbak. He mbak, aku nunut nang jeding oleh ta? Kebelet nguyuh mbak.” (Bisa aja mbak. Eh mbak, aku numpang ke kamar mandi boleh kah? Kebelet pipis mbak.) kata mas Ali.

“Iyo mas, monggo.” jawabku. 

Baru selangkah mas Ali masuk ke kamar mandi, dia balik keluar lagi, lalu bertanya padaku, “Mbak, sepurane. Ono bekas pembalut lali durung dibuak.” (Mbak, maaf. Ada bekas pembalut lupa belum dibuang.) 

Aku tau kalau yang saat itu sedang haid adalah Tia. Sialan tuh Tia. Kebiasaan lupa buang pembalut. Sontak ku ketuk pintu kamarnya dan ku marahi dia. 

“Tiyaaak! Tuman yo, pembalut’e gak dibuak. Tak uncalno nang kamarmu lho yo. Ndang buangen!” (Tiyaaak! Kebiasaan ya, pembalutnya ga dibuang. Ku lempar ke kemarmu loh ya. Buruan buang!) 

“Heee sorry Na. Lali mau mari adus, keri nang jeding. Ehehehe.” (Heee sorry Na. Lupa tadi abis mandi, ketinggalan di kamar mandi. Ehehehe.) 

Selesai acara syukuran, Aku, Lian, mas Ali dan mbak Fitri mengajakku nongkrong di warkop dekat pasar buku. Dia bilang mas Ali ingin menyampaikan sesuatu. 

“Mbak, sepurane yo sak durunge. Aku kate takon. Biyen sing pertama nemu kontrakan iku sopo?” (Mbak, maaf ya sebelumnya. Aku mau tanya. Dulu yang pertama nemu kontrakan itu siapa?) 

“Aku mas, ambi konco sekamarku. Opo’o?” (Aku mas, sama temen sekamarku. Kenapa?)

“Omah iku koyok’e howo e gak penak. Singlu.” (Rumah itu sepertinya hawanya ngga enak. Angker.) 

“Kok sampean eruh? Sampean iso ndelok barang gak ketok ta mas?” (Kok sampean tau? Sampean bisa lihat barang tak kasat mata?) tanyaku penasaran. 

“Iyo mbak. Tak kandani ya, pas aku mlebu jeding iku mau, ono sing lagi ndilati pembalut bekase koncone sampean.” (Iya mbak. Ku kasih tau ya, pas aku masuk kamar mandi tadi, ada yang lagi jilatin pembalut bekasnya temenmu.) 

“Yek, nggilani. Amit-amit.” (Hi, jijik. Amit-amit.) ucap mbak Fitri. 

“Temenan, mbak. Wedok, rambute acak-acakan, ilate dowo. Ndilati pembalut.” (Beneran, mbak. Cewek, rambutnya acak-acakan, lidahnya panjang. Jilatin pembalut.) kata mas Ali mendeskripsikan makhluk yang dia lihat. 

“Ancen omah iku angker mas. Aku ambi arek-arek wis sering diganggu, tapi kudu bertahan rong ulan engkas.” (Memang rumah itu angker mas. Aku sama anak-anak dah sering diganggu, tapi harus bertahan dua bulan lagi.) 

“Pesenku yo mbak, lek lagi mens, pembalut’e diumbah sing resik. Lek perlu nggawe sabun cek wangi, cek ambu darahe ilang. Terus ndang-ndang dibuak.” (Pesanku mbak, kalo lagi mens, pembalutnya dicuci yang bersih. Kalo perlu pake sabun biar wangi, biar bau darahnya ilang. Terus cepet dibuang.) 

“Iyo mas. Ngko tak kandanane arek-arek. Suwun ya mas. Sepurane mau sampean kudu eruh penampakan sing nggilani.”

(Iya mas. Nanti ku kasih tau anak-anak. Makasih ya mas. Maaf tadi sampean harus melihat penampakan yang menjijikkan.) 

“Santai mbak. Wis biasa aku. Eruh penampakan sing luwih nggilani yo tau.” (Santai mbak. Udah biasa aku. Lihat penampakan yang lebih menjijikkan juga pernah.) 

“Penampakan opo bro?” tanya Lian.

“Penampakan rupamu sing burik iku.” (Penampakan wajahmu yang burik itu.)

“Cangkemmu cok.” (Mulutmu cok.) umpat Lian. Setelahnya kami bercanda sampai larut malam. 

Dua bulan berlalu. Bermacam gangguan seperti suara-suara aneh, benda yang bergerak dan berpindah sendiri sudah biasa kami alami. 

Setelah UAS semester genap selesai, kami memutuskan untuk mencari rumah kontrakan baru. Kami tidak akan memperpanjang sewa rumah A8 ini. Selain karena sudah tidak betah dengan gangguan penghuni gaibnya, kondisi rumah itu juga memprihatinkan. 

Karena curah hujan yang tinggi dan atap rumah bagian belakang bocor parah, air hujan merembes ke plafon dan mengakibatkan plafon di mushola jebol.

Jadi alasan itulah yang kami utarakan ke pemilik rumah dan memutuskan untuk tidak memperpanjang sewa kontrakan. 

Sekian ceritaku kali ini. Mohon maaf jika ada typo, alur yang kurang menarik dan cerita yang kurang seram. I just hope you enjoy reading it. Wassalamu’alaikum. ❤️

Thread By @terbucindidunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *