RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Kue Kiraman Pembawa Petaka

Assalamu’alaikum, Shalom, Namo Budaya, Om Swastiastu! Apakabarnya readers? Semoga baik-baik aja kalian yah.. Nah kali ini mimin fitri mau membagikan cerita dari mamanya Marsel di tahun 2002 silam. Jadi, kemarin selama aku vakum nulis karena harus bolak-balik R, mimin fitri banyak quality time sama mama mertua. Saat-saat quality time itulah mimin dapet sebuah cerita dari mamanya Marsel tentang kenalannya dulu. Daripada penasaran gimana kelanjutannya nih, untuk kisah selengkapnya yukk kita langsung masuk kedalam cerita.. 

Bismillahirrahmanirrahim..

Di tahun 2002 saat itu keadaan finansial papa dan mama sedang lumayan membaik bahkan mereka baru aja pindahan ke rumah baru. Untuk menunjang keperluan elektronik dan beberapa furniture di dalamnya mama dan papa sudah punya langganan yaitu sebut saja koh Asai. Sebenarnya baik papa dan mama mengenal dan berlangganan dengan koh Asai ini sudah cukup lama. Selain karena toko elektronik nya yang lengkap, murah, koh asai pun menyediakan jasa service elektronik dengan harga miring serta iapun memiliki toko furniture tepat disebelah toko elektronik miliknya. Suatu ketika, saat mesin cuci yang belum lama dibeli dari koh Asai ( mungkin baru sekitar 9/10 bulan dibeli ) secara tiba-tiba macet dan berbunyi berisik dari dalam mesinnya.

Papa kemudian memutuskan untuk bawa mesin cuci itu untuk di service ditempatnya koh Asai. Begitu papa memarkirkan mobil, dari kejauhan 2 ruko milik koh asai ini dalam keadaan tutup dan di depan toko miliknya ada tertulis DIJUAL. Papa pun segera menghubungi koh Asai untuk menanyakan dimana ia berada kini. “Ohh, saya sekarang sudah pindah koh!! 

Kalau mau datang kesini aja, ke toko saya yang baru. Alamatnya masih di daerah Tangerang juga, nanti untuk selengkapnya saya kasih alamatnya via sms ya koh! ” jawab koh Asai singkat. Tak lama masuk sebuah sms alamat yang dimaksud, dan papa segera menuju ke lokasi tersebut. 

Begitu sampai, papa agak sedikit tidak percaya melihat toko milik koh Asai kini jauh lebih kecil dan hanya memiliki 1 toko saja, mengingat sebelumnya koh asai mempunyai 2 toko bersebelahan yang luas. “Sini koh Edi!” dari dalam tak lama keluar koh Asai sambil melambaikan tangan, seketika memecah keraguan papa. Papa langsung menghampiri koh Asai dan mengutarakan maksudnya untuk menservice mesin cuci yang sampir 1 tahun papa dan mama beli. “Baik kalau gitu, mesin cuci ini ditinggal dulu ya koh edi. Kalau sudah jadi biar saya yang kirim saja ke rumahnya koh edi.” ungkap koh Asai. Sebelum pulang, papa sempat berbasa-basi menanyakan kepindahan toko koh Asai dari tempat sebelumnya. “Oh itu?? Hmmm gimana ya cerita nya, pokoknya panjang deh. Lagipula ga enak kalau cerita disini. Nanti saya ceritain aja pas saya anterin mesin cuci di rumahnya Koh edi. ” ungkap koh Asai sambil satu tangannya menggaruk kepalanya agak kebingungan.

Singkat cerita sekitar 4 hari kemudian koh Asai menelpon ke rumah untuk mengantarkan mesin cuci yang sudah diperbaiki. Saat sore hari, sekitar pukul 19.30 malam koh Asai benar2 datang ke rumah dengan 2 orang karyawannya sambil mengembalikan mesin cuci yang sudah diperbaiki. Setelah dicoba kembali mesin cuci tersebut oleh mama namun tidak ada kendala, papa segera mengeluarkan uang untuk membayar jasa service. Sesaat sebelum pulang, mama kembali menanyakan kepada koh Asai “koh, kata suami saya sekarang sudah pindah ya tokonya? Masih jualan furniture lagi gak koh asai? karena mungkin saya perlu meja rias untuk di kamar tamu” tanya mama penasaran. “oh, udah enggak lagi ka. Saya sekarang udah ga main furniture. Udah kapok. 

Oh ya saya juga lupa mau kasih tau kenapa saya pindah kak. Jadi gini cerita nya.. Ini semua berawal dari petaka sekotak kue pasar yang dikirimkan ke rumah saya.” ucap koh Asai mencoba mengingat kembali peristiwa itu..

Koh Asai dan Ci Kristin adalah pasangan suami istri yang bisa dibilang sangat diberkahi. Awalnya koh Asai muda adalah seorang teknisi elektronik biasa. Karena pendapatan nya yang mulai banyak ia memutuskan untuk mengepakkan sayap bisnisnya untuk membuka toko elektronik sendiri. Dari mulai situlah kehidupan koh Asai mulai melimpah. 

ia pun bisa memiliki rumah besar dan beberapa properti lain di kawasan Tangerang. Dalam kelimpahan itu, koh Asai memutuskan untuk membeli satu ruko lagi disebelahnya yang rencananya akan dipakai ci Kristin (istrinya) berniaga furniture. Rupanya bisnis yang telah lama dirintis oleh koh Asai tidak sepenuhnya berjalan mulus. Adapun banyak gangguan dari hal-hal yang diluar nalar dari mulai tokonya itu dikirimkan sekantong plastik berisi bunga setaman yang membusuk dipagi hari, sekantong nasi basi, seringkali didatangi orang gila yang entah dari mana datangnya, dan yang mungkin tidak disadari koh Asai adalah ceceran tanah kuburan.

Semua itu membuat dampak negatif bagi usahanya. Perlahan-lahan pendapatan harian koh Asai semakin menurun, dan juga karyawan tokonya banyak yang tidak bertahan lama. Menurut beberapa karyawannya  mereka mengeluhkan sakit yang tidak wajar ketika berada di dalam toko. “Rasanya kepala pusing dan dadanya sesak, tapi kalau di luar toko bisa sembuh sendiri” terang koh Asai menirukan ucapan mantan karyawannya dulu.

Koh Asai yang tidak percaya hal-hal ganjil seperti itu awalnya hanya bersikap acuh dan memilih fokus untuk terus bertahan diantara terpaan badai yang sedang melanda usahanya itu. Hasil baiknya, dengan doa sesuai keyakinan koh Asai serta kerja kerasnya dan ketekunannya perlahan-lahan ia berhasil keluar dari segala macam ilmu hitam yang membelunggu nya. Namun, rupanya koh Asai tidak bisa bernafas lega karena ditahun 2001-2002 terpaan badai baru mulai mengguncang usahanya lagi. Di tahun akhir 2001, salah satu karyawan koh Asai yg sebut saja namanya Ismet saat sedang menyapu di bagian depan toko bosnya ia dikagetkan dengan benda kecil jatuh tepat diatas kepalanya.

Sontak ismet melihat apa yg baru saja menimpa kepalanya itu, rupanya sebuah gulungan kecil kain putih lusuh yang setelah diamati, benda itu berbentuk pocong berukuran kecil! Ismet yang panik langsung berteriak dan memanggil rekannya yang lain untuk menyaksikan apa yg baru saja ia lihat. “Ini santet!! Hati-hati ini santet!!” ujar pak Budi dengan agak berteriak. Koh Asai pun perlahan mendekati, dan ia segera membuka gulungan yang berbentuk pocong berukuran kecil itu. “Gulungan rambut, sebuah gigi, dan bunga-bunga busuk dibungkus kertas bertuliskan rajah yang lalu terkahir dibungkus kain kafan!” ucap Pak Budi yang turut menyaksikan isi dari benda misterius itu.

Dengan tangan yang gemetar koh Asai sendirilah yang membakar gulungan pocong tersebut. Tepat berselang 1 minggu kemudian, rumah koh Asai didatangi orang yang di tidak dikenal saat siang hari. Kebetulan, yang membuka pintu rumahnya adalah Mas Minto si tukang kebun. “Mas, ini titipan makanan untuk keluarga Pak Asai ya.” ucap lelaki misterius yang saat datang menggunakan jaket kulit, topi, kacamata hitam. Saat mas minto mau bertanya siapa nama pengirimnya, lelaki itu dengan cepat pergi menggunakan sepeda motornya menjauh dari rumah koh Asai. 

Mas minto lalu menyimpan kue tersebut di atas meja makan. Beruntunglah, anak-anak dari Koh Asai yang berusia 10 tahun, dan 8 tahun saat itu sepulang sekolah mereka pulang ke toko orang tua mereka, hanya menyisakan anak yang paling kecil berusia 5 tahun dirumah tersebut yang diasuh oleh Mbak Prita (baby sitter). Saat sore hari, setibanya keluarga koh Asai pulang dari toko, mas Minto lalu menyerahkan bungkusan kue yang siang tadi dikirim oleh lelaki misterius yang di tafsir usianya sudah paruh baya. Bak seperti mendapat kan sebuah firasat buruk, secara tiba-tiba koh Asai mengingat dengan jelas gulungan pocong yang menimpa kepala ismet seminggu silam.

Hatinya berdegup cepat begitu menerima bungkusan makanan itu dari tangan mas minto, dan ditelinganya seperti ada yang membisikkan untuk tidak memakannya. “Mas, makanannya saya gak mau makan. Apalagi dari orang yang gak dikenal. Buang sajalah mas. ” Ucap koh Asai. “Loh pak, sayang kalau dibuang. Keliatannya kuenya enak loh pak. Kalau boleh saya makan aja ya pak kuehnya.” jawab mas minto. Koh Asai yg sudah lelah hanya mengangguk saja, padahal sebenarnya ia juga tidak ingin tukang kebunnya itu memakan makanan yang dititipkan oleh orang misterius. Dengan lahap mas Minto memakan kue tersebut dan membagi sedikit dengan mbak Prita si baby sitter karena penasaran ingin menyicipi kudapan itu juga. 

Lusa harinya, ada yang aneh dari gelagat mbak Prita serta mas Minto. Mas minto mengeluhkan tubuhnya gatal-gatal sehingga saat sedang bekerja ia selalu saja menggaruk-garuk tubuhnya sampai menyebabkan beberapa luka. Sedangkan mbak Prita menjelang magribh pasti tatapannya kosong, dan berkelakuan aneh yaitu berbicara sendiri dgn yg dia sebut “si mbah” menggunakan bahasa jawa apalagi saat tengah malam. Anak bungsu koh Asai pun seringkali menangis dan tidak mau diasuh oleh mbak Prita lagi karena ia mengaku jika wajah mbak Prita berubah-ubah seperti hantu.

Waktu berlalu selama ber hari-hari dengan keadaan 2 ART nya yang berperangai tidak biasa, koh Asai sempat memanggil Pak Budi salah satu asisten teknisi yang bekerja di toko. Menurut koh Asai sendiri Pak Budi ini bisa melihat hal-hal gaib ( hanya sebatas melihat aja ya readers ). Koh Asai ingin memastikan apakah ini sebuah terror gangguan gaib yang kini sudah mulai berpindah ke rumah pribadinya. “Koh, sebaiknya pindah! Jangan disini lagi! Tokonya juga pindah aja!! Kalau mau selamat!” ucap Pak Budi dari luar rumah Koh Asai. Pak Budi enggan menginjakkan kakinya masuk kedalam rumah sang boss karena dari luar saja ia melihat ada sesosok siluman ular besar yang tubuhnya melilit keseluruh bagian rumah koh Asai namun kepala ular itu sosoknya nenek-nenek berambut panjang memakai mahkota. “Maaf deh koh, saya gak berani masuk!

Dari sini aja saya udah dilarang untuk masuk, kalau gak nanti saya cilaka! Mending koh Asai cari paranormal aja yg bisa mengatasi masalah ini!” ucap pak Budi agak gemetaran. Secara kasat mata mana mungkin ada sesosok ular berkepala nenek-nenek yang terlihat, jadi koh Asai kembali meragu dengan ungkapan Pak Budi yang seolah seperti mengada-ada. Seiring berjalannya waktu klimaks dari permasalah Mbak Prita, di tengah malam mbak Prita yang tertidur dikamarnya mengaku jika ia mendengar suara majikan perempuannya memanggil namanya 3x. 

Namun saat mbak prita masih dalam keadaan mengantuk ia merasakan tubuhnya seperti tertindih sesuatu dari atas yang membuat ia tidak ingat apa-apa lagi. Saat mbak Prita tidak ingat itulah dirinya menembangkan sinden jawa sambil tubuh nya meliuk-liuk seperti menari. Suara dari mbak Prita membuat seisi rumah terbangun saat itu. Mereka panik karena kini mbak Prita sudah benar-benar kesurupan. Koh Asai yg panik pun langsung meminta mas Minto si tukang kebun yg juga tinggal di rumah koh Asai utk segera mencarikan ustadz atau apapun itu yg bisa menyadarkan mbak Prita.

Pada keesokan harinya, dalam keadaan yang sudah sadar mbak Prita meminta pulang kampung ke rumahnya. Ia yang sudah cukup lama ikut bekerja dengan keluarga koh Asai mengaku jika akhir2 ini ia seringkali seperti didatangi alm si mbahnya dulu yang sudah meninggal. Tak hanya itu, mbak Prita pun mengaku jika akhir-akhir ini ia seringkali diganggu oleh makhluk halus yang terkadang membuat ia sampai tidak sadarkan diri. Tak mau membuat kegaduhan dirumah itu lagi, akhirnya mbak Prita mengalah untuk berhenti bekerja. 

Disisi lain, berselang 1 bulan dari kepulangan mbak Prita ke kampung, mas minto keaadan fisiknya semakin memprihatinkan. Ia sudah berulang kali dibawa ke dokter namun gatal-gatal di hampir sekujur tubuhnya masih tetap tidak menghilang! Lambat laun, kulit mas minto dipenuhi seperti bentolan yang berisi cairan putih dan jika pecah muncul bau amis menyengat. Mas minto yang awalnya ragu-ragu bahkan tidak ada niatan untuk berhenti bekerja karena ia akan melangsungkan pernikahan 4 bulan mendatang, ia sudah menyerah dengan mimpinya untuk bersanding dipelaminan.

Dengan berurai air mata mas minto pamit pulang karena ingin berobat di kampung saja, dan otomatis pernikahan yang sudah di depan mata harus ditunda karena mas Minto akan menggunakan tabungan untuk menikahnya dipakai berobat terlebih dahulu. 

Karena kasihan sebelum pulang koh Asai sempat memberikan obat-obatan dari dokter untuk mas minto dan juga mas minto diberikan upah pesangon sama seperti kepada mbak Prita dahulu. Koh Asai pun berpesan kepada mas minto “Mas, cepat sehat kembali ya! Kalau sudah sehat pintu rumah saya selalu terbuka buat mas Minto. Mas boleh kok kerja disini lagi.” ucap koh Asai menyemangati mantan karyawannya itu. Sepeninggal kedua ART yang sudah pulang kampung, rumah koh Asai diisi oleh 2 ART baru yang kini sama-sama perempuan. Mbak Hera dan mbak Mutia.

Kedua ART koh Asai nampaknya betah dengan majikan barunya itu. Baik koh Asai dan ci Kristin memanglah orang dengan kepribadian yg baik dan tidak suka memarahi ART. Akan tetapi, baru saja selama beberapa bulan koh Asai tidak lagi mengalami hal aneh, rumahnya kini didatangi oleh seorang perempuan muda yang berambut gimbal, berpakaian compang camping benar-benar menyerupai mohon maaf orang gila. Ketika mbak Hera membuka pintu ia langsung ketakutan karena ia menyangka jika orang itu adalah orang gila yang kebetulan lewat.

Si perempuan itu memaksa untuk bertemu dengan koh Asai. “Saya mau bertemu pak Asai! Dia majikan saya! ” ucapnya berteriak. Mbak Hera segera masuk ke dalam memanggil koh Asai dan ci Kristin dengan panik. Awalnya ketika koh Asai beserta istrinya keluar rumah dan mengintip dari balik pagar mereka saling beradu pandang dan bertanya siapa perempuan gila yang mendatangi rumahnya pagi hari. Mereka tidak menyadari jika itu adalah mbak Prita karena penampilannya saat ini. Namun yang membuat ci Kristin menyadari jika perempuan itu adalah mbak Prita adalah baju yang dikenakan oleh mbak prita kebetulan adalah baju yang pernah dibelikan oleh ci kristin saat dulu bekerja dengannya. “Pahh!! Itu prita pah!! Mama ingat betul baju itu baju yang dulu mama kasih buat prita!” ucap ci Kristin.

Segera ci Kristin dan koh asai menemui prita dengan keadaan yang memprihatinkan. Begitu di hampiri mbak prita hanya menangis dan mengucapkan tolong kepada sang majikan. Karena kebaikan hati koh Asai dan ci Kristin, mbak Prita dengan tangan terbuka diperbolehkan masuk ke dalam rumah mantan majikannya itu. Ci kristin segera membelikan mbak prita satu stel pakaian layak dan menyuruh mbak prita untuk membersihkan diri. Seusai mbak prita bersih-bersih diri, ia lalu dipanggil oleh koh Asai serta ci kristin. Koh Asai dan istrinya menanyakan mengapa kini penampilan mbak prita seperti orang gila yang tidak terurus. 

Saat itu mbak Prita hanya menunduk dan tidak banyak berbicara. Ia hanya mengungkapkan jika dirinya sedang dalam masalah besar yang selalu menghantuinya. Ada banyak suara-suara ditelinga mbak prita yang menyuruh mbak prita untuk berbuat di luar nalar, seperti memakan sampah kotoran, bertelanjang di tengah jalan sampai dengan ia mengaku berjumpa dengan orang-orang yang sudah meninggal. Ia tidak tahan dengan suara-suara itu semenjak berada di rumah koh Asai, oleh karena itu mbak Prita meminta tolong majikannya itu bertanggungjawab menyembuhkan mbak prita agar sehat sedia kala. “Sudah, sudah.. Sebaiknya kamu istirahat dulu! Kamu ini kayak banyak ngawang-ngawang ngomongnya seperti orang yg kurang waras. ” ucap koh Asai mengakhiri pembicaraan.

Ci Kristin yang masih khawatir dengan adanya mbak prita di rumah, saat itu memilih utk dirumah saja dan tidak jadi pergi ke toko. Ci kristin pun mencari nomor telpon yang bisa dihubungi dari keluarga mbak prita, sekedar ingin memberitahukan keadaannya serta meminta keluarga perwakilan mbak prita menjemput dirumah ci kristin. “YA ALLAH BU??! KOK BISA PRITA SAMPAI DI SANA??!PADAHAL PRITA INI SUDAH DALAM PASUNGAN!!” ucap paman dari mbak prita. Sang paman menjelaskan jika sepulang dari bekerja di kota ( rumah koh Asai ), mbak prita sifatnya semakin aneh. Ia menjadi pemurung, pemarah, sering berbicara sendiri dan sering spt org kesurupan. Sdh di bawa ke beberapa org pintar namun ada beberapa pengakuan berbeda dari mereka. Dari mulai Prita terkena guna2 lelaki yg pernah ditolak cintanya, terkena tumbal majikan, sampai dengan Prita terkena salah sasaran santet yg dituju kepada majikannya! 

Dari semua pengakuan sang paman, poin terakhir yaitu Prita terkena salah sasaran santet lah yang masuk diakal. Seketika ci kristin merasa tercekat tenggorokannya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, mengingat bagaimana saat suaminya dikerjai oleh guna-guna ilmu hitam oleh orang yang syirik kepada usaha koh Asai. Setelah percakapan usai, sang paman berjanji akan menjemputnya sore hari ini, dan mungkin esok hari sudah sampai di Tangerang.

Ci Kristin mulai agak tenang mendengar hal itu, namun saat malam hari ia kembali dikejutkan oleh suara ART Mbak Hera serta mbak Mutia yang berteriak karena seperti ada bayangan hitam besar yang masuk kedalam kamar. Disaat yang bersamaan itulah rupanya mbak prita yang tidur satu kamar dengan mereka sudah menghilang! Seiisi rumah menjadi gempar antara takut dan juga muncul tanda tanya besar kemana perginya mbak Prita secara misterius.

Begitu sang paman mbak prita sampai, ci kristin, koh Asai dan 2 art mereka memberi kesaksian jika memang benar ada prita kemudian di tengah malam tiba-tiba prita menghilang. Anehnya sang paman tidak begitu terkejut kali ini. Alasan mengapa di kampung mbak prita di pasung akibat dirinya seringkali menghilang dan kemudian ditemukan sedang berjalan-jalan telanjang atau sedang tidur diemperan toko. Karena tak memiliki uang untuk membawa prita ke rumah sakit jiwa, dari pihak keluarga sepakat hanya memasung prita di rumah.

Sang paman pun pulang dengan tangan hampa tanpa bisa membawa prita kembali. Sebelum sang paman pulang, koh Asai dan ci Kristin berulangkali meminta maaf kepada pihak keluarga dari mbak prita. Mungkin mengapa saat ini Prita menjadi kurang waras ada akibat dari salah sasaran santet yang ditujukan untuk keluarga koh Asai. Namun,yg namanya hal tak kasat mata jika dibawa ke ranah hukum pun tidak ada hukum pidana maupun hukum perdata karena tak ada bukti konkrit, sang paman tidak bisa menuntut banyak dan masalah ini hanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan koh Asai.

Setelah satu masalah selesai, muncul masalah baru yaitu mas Minto. Tak berselang lama dari kejadian misterius mbak prita, rumah koh asai mendapatkan telpon penting yang ingin berbicara langsung dengan koh Asai. 

Saat sepulang dari toko, telpon rumahnya kembali berbunyi dan si penelpon meminta untuk berbicara dengan koh Asai. Dari seberang sana rupanya orang yang sedang berbicara dengan koh Asai adalah Pak Muzakir atau ayah dari pak Minto yang baru memperkenalkan diri.

Isi dari percakapan itu adalah dengan segala kerendahan hati pak Muzakir meminta bantuan keuangan untuk biaya pengobatan Minto. Di diagnosis mas Minto terkena kanker kulit, dan sudah dibawa berobat kemanapun hasilnya masih nihil. Tanpa banyak basa basi koh Asai segera mengirim sejumlah uang ke kampung mas Minto. Namun, sayangnya hanya berselang tak sampai satu minggu mas Minto menghembuskan nafas terakhirnya.

Hari-hari koh Asai kini dipenuhi rasa kecemasan akibat 2 mantan ART nya yang menjadi salah sasaran santet. Akibatnya koh Asai sering tidak fokus berniaga. Toko yang mulanya ramai perlahan mulai sepi dan banyak ditinggalkan, anak koh Asai pun seringkali sakit-sakitan tanpa memiliki jeda. Satu persatu karyawan koh Asai juga memilih resain dengan berbagai macam alasan, hanya menyisakan Pak Budi, dan Ismet saja. Saat koh Asai menyadari kali ini terpaan badai nya terlalu besar, ia kembali bertukar pikiran dengan Pak Budi. “kan dari awal sudah saya bilangin koh! Tempat mu ini sudah penuh dengan segala macam hawa negatif! 

Ada yang sengaja ditanam, ada yang segaja dikirim, sampai ada yang membuat supaya keluarga koh asai celaka! ” ucap pak Budi. Pak budi menambahkan jika ia pernah mendatangkan orang pintar ke toko tanpa sepengetahuan koh Asai. Menurut pengakuan sang paranormal beberapa toko dari toko milik Koh Asai ada pesaing yang merasa sakit hati. Awalnya si pesaing yang terlebih dahulu berniaga / berbisnis furnitur namun dengan adanya koh Asai yang ikut membeli satu toko untuk berbisnis furnitur, omzet si pesaing menjadi terjun bebas karena furnitur yg dijual oleh Koh Asai harganya jauh lebih murah daripada di tokonya.

Untuk membuktikan apa yang diucapkan oleh si paranormal yang di datangkan oleh Pak Budi, koh Asai diam-diam berjalan disekitar toko miliknya untuk mencari pesaing yang dimaksud. Rupanya benar, di sekitar toko milik koh Asai ada satu toko furnitur kecil yang terlihat sepi. Disana pun ada si pemilik toko yang berusia paruh baya. Seketika, koh Asai mengingat pengakuan dari alm. minto yang menyebutkan ciri-ciri orang yang pernah menitipkan kue petaka beberapa waktu silam. 

Setelah berdiskusi dengan istrinya mengenai beberapa temuannya perihal pesaing bisnis disekitar toko koh Asai, sang istri sepakat untuk menutup saja tokonya dan menjual rumah mewah mereka. Mereka beranggapan cukup 2 orang korban saja dan tidak ingin menambah korban akibat persaingan yang tidak sehat. Sebelum pindah ke toko lain, ci kristin berpesan kepada suaminya lebih baik membeli toko kecil-kecil saja supaya tidak terlalu mencolok dan menghindarkan rasa sirik bagi orang-orang sekitar. Se kepindahan koh Asai dan ci Kristin saat ini, Anak-anak mereka sudah tidak lagi sakit-sakitan dan hidup mereka merasa jauh lebih damai.

Terpaan hidup besar ini membuat koh Asai dan istrinya sadar betapa mengerikannya ilmu hitam dan berhati-hati dengan orang sekitar. Ada pepatah yang berkata rambut boleh sama hitam namun hati orang, siapa yang tahu. Pepatah itu yang kini selalu menjadikan baik koh Asai serta Istrinya lebih peka terhadap lingkungannya. Nah, oke readers.. Mungkin segitu dulu cerita kali ini, aku fitri dari cerita arwah pamit undur diri dan sampai jumpa di thread berikutnya. 

Thread By @cerita_arwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *