RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Kutukan Kebosuro 

Malem ini cerita misteri kita mengenai kerbau.

Selamat membacaa ^^ 

Pisau penyembelih mulai diasah disamping dapur, dekat kamar mandi. Air yang tumpah dari pengasahan menyebabkan becek disekitar kaki lelaki berkulit coklat kehitaman itu. Namun ia tak peduli. Pikirannya masih konsentrasi pada bilah pisau sebesar telapak tangannya. 

Pisau yang semakin memutih menambah keyakinan lelaki baya itu, bahwa pisaunya telah semakin tajam. Namun sesekali pisau itu diamati dengan teliti ketajamannya, ibu jari digesek gesekan pada mata pisau yang memang sudah tajam. Walau pekerjaan itu sudah biasa dilakukan, namun kali ini lelaki itu merasa agak berbeda dari biasanya.

“Pak Praban dimana Nyi?” Seseorang terdengar bertanya didepan rumah. Suara seorang laki laki.

“Disamping dapur dekat sumur” ujar isteri pak Praban. 

Tidak berapa lma sdh terdengar suara kaki telanjang mendekati pak Praban.

“Sudah ditunggu Pak Rianto, pak” lelaki muda yg menyusul berkata.

“Sebentar. Hari ini pisauku harus lebih tajam dari biasanya. Sebab aku berfirasat lain. Bahkan saat ini aku udah mempersiapkan 3 pisau”. Jawab pak Praban begitu yakin.

Sebentar kemudian pak Praban dan pria itu berangkat kerumah Rianto. Saat mereka tiba, tampak orang sudah mulai ramai. Mereka bahu membahu mempersiapkan pesta pernikahan putri Rianto. 

Dibelakang rumah sudah didirikan bangunan darurat dengan tiang bambu dan atap dari anyaman daun kelapa. Pak Praban dan Endro yang datang agak terlambat disambut Tukiran. Mereka berdua diajak sarapan dulu setelah itu persiapan penyembelihan kerbau pun siap dilakukan. 

Saat pak Praban sampai dibawah pohon rambutan, ia menjadi ragu-ragu. Kerbau itu memandang tajam padanya. Hewan itu tampak sangat memelas, seakan ingin mengambil hati pak Praban. Pelan pelan kerbau itu meneteskan airmata. Tiba tiba pak Praban teringat cerita orang tuanya yang juga jagal hewan tentang kerbau yang dapat menangis. Kerbau yang menangis memiliki ketentraman.

“Kebosuro!” Desis pak Praban. 

“Kebosuro?” Endro mengulang.

“Apa keistimewaan nya pak Praban?”

“Dulu, konon orang orang percaya Kebosuro memiliki tuah, sehingga dilarang disembelih. Namun zaman sudah berbeda..” jelas pak Praban.

Walau hatinya tidak sejalan dengan perkataannya.  Akhirnya kerbau itu dijerat keempat kakinya. Setelah tak dapat bergerak pisau Pak Praban mendekatkan pisau penyembelihnya. Kerbau itu semakin bercucuran air mata. Hati pak Praban semakin iba, namun semua sudah menjadi tugasnya. Maka ia melakukan pekerjaannya sebagai jagal. 

“Saya hanya menjalankan tugas, semua kutukan jatuh pada pemilik, bukan aku” desahnya hampir tak terdengar. Pak Praban kemudian mengucapkan mantra dan doa. Ia segera memotong leher sang kerbau.

Setelah menyembelih kerbau, pak Praban menyerahkan pekerjaan selanjutnya ke Endro 

“Saya ada janji dengan adeku di Kediri, lanjutkan pekerjaan seperti biasa. Untuk menguliti sama memotong motong udah bisa la ya, kan dah biasa” ujar pak Praban. 

Malam itu pak Praban menunggu dirumah sendirian. Ia tidak membantu dirumah Rianto, karena hatinya merasa tidak enak. Hanya isteri dan anak anaknya yang berada di rumah Rianto. Angan angan tentang Kebosuro yang siang tadi telah kehilangan nyawa masih mengantui pikirannya. Berkali kali rokok dinyalakan,namun belum juga dapat menghibur dirinya.

Jdher !! Pak Praban terperanjat bangun, dalam keadaan lampu listrik terang benderang, dia melihat dua sosok makhluk aneh berdiri didepannya. Makhluk yang satu berdiri tegap dengan rambut yang kumal sedang memelototi pak Praban dengan mata memerah. Badan tinggi, kekar, dan ditumbuhi bulu lebat. Makhluk itu tampak hampir telanjang.

Hanya bagian bawah pusar tertutup kain sudah kumal tanpa warna. Di tangannya memegang pecut rotan yang panjangnya hampir dua meter. Tangan kirinya menuntun makhluk yang agak pendek dengan hidung lebar menyerupai kerbau. Dari sela sela rambutnya yang lusuh tumbuh sepasang tanduk. 

“Dia yang menggangu hidupku!” Sipendek menunjuk pak Praban dengan suara parau, layaknya bambu yang pecah.

“Ssii.. apa kalian?” Tanya pak Praban

“Saya penggembala Kebosuro. Kamu yang telah berani membunuh Kebosuro harus mengganti dengan nyawa mu ! 

Nyawamu nanti untuk kehidupan kembali Kebosuro!” Kata si penggembala sambil mengacungkan pecutnya.

Jdher ! Jdherr!!

“Ampun! “ teriak pak Praban kesakitan.

“Aku hanya disuruh. Semua dosa dan kutukan yang menanggung adalah yang menyuruhku” 

“Tidak bisa ! Kamu yg berbuat, kamu yang menanggung dosanya!”

Si Kebosuro lgsg menunduk layaknya kerbau siap menyeruduk Pak Praban. Dengan nekad pak Praban mencoba menghindar. Perut Pak Praban yg dituju meleset mengenai betisnya sehingga pak Praban terpental kebelakang tembok 

“Aduuhhh! Toolongg…! Tolonggg..!” Pak Praban berteriak teriak.

Jdher ! Jdher ! Pak Praban yang kakinya sudah tidak dapat digerakan lagi hanya bisa menerima cambukan yang menimpanya. Dengan tawa lebar dan parau penggembala berulang ulang mencambuknya. 

“Sampai sobek pun mulutmu tidak ada yang akan menolongmu Ha..ha.ha” teriak penggembala itu. 

Tangan pak Praban mencoba meraih kursi untuk penghalang. Saat itu pula kursi yg diseruduk Kerbosuro remuk berhamburan. Pak Praban berteriak minta tolong. Suara gemuruh itu tlh mengundang warga yg rumahnya tidak jauh dr rmh pak Praban. Mereka terbangun dan menuju kerumah Pk Praban 

“Pak Praban!” “Pak Praban!” Teriak dari luar.

Lampu listrik yg terang membuat jelas kejadian didalam. Tiba tiba kursi melayang tanpa ad yg menggerakan, kemudian kursi itu menimpa pak Praban. Tetapi orang orang tdk dapat menolong pak Praban sebab pintu masih terkunci dr dalam. Mereka hanya dapat melihat dari jendela kaca. Pintu yang didobrak berkali kali juga tetap tidak bisa terbuka. 

Pak Praban didalam terus menerus menjerit kesakitan. Bajunya compang camping seperti terbakar bekas cambuk kakinya tidak dapat digerakan. Pak praban merasakan sekujur tubuhnya sakit dan lemas. Tetangga menolong Pak Praban, mengangkat dirinya dan membaringkan nya di tempat tidur.

“Pak sampeyan kenapa?” Isterinya yang baru datang karena disusul kontan saja menangis dan memeluk suaminya.

“Kebosuro… !” Hanya itu jawaban Pak Praban 

Para tetangga yang tidak tahu Kerbosuro hanya melongo. Satu satunya yang dapat sedikit bercerita hanya Endro. Namun ia juga ketakutan setelah dipaksa Endro baru mau bercerita tentang Kebosuro yang disembelih pak Praban di rumah Pak Rianto 

Pak Praban tidak dapat ditanyai lagi. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Sesekali ia nampak ketakutan, walau ia ditunggui istri dan tetangganya.

Sampai para tetangga tetap menunggui pak Praban. Mereka takut Kebosuro datang lagi 

Baru pagi harinya, isteri pak Praban meminta tolong kepada Pak Mardi supaya mengundang Kyai Umar yang biasa mengusir jin,setan dan peri prayangan. Singkat cerita Kyai Umar pun datang dan langsung melihat pak Praban.

“Gawat!” Kata Kyai Umar setelah melihat kondisi pak Praban 

“Rupanya Kebosuro minta tumbal, ia tidak terima wadhagnya disembelih. Ia minta nyawa Praban sebagai gantinya. Praban yang menyembelih Kebosuro diminta ganti oleh penggembalanya.”

Saat ini Pak Praban lumpuh dan semua badannya penuh dengan bekas luka cambuk. 

“Lalu bagaimana Kyai? Apakah masih dapat ditolong??” Tanya isteri pak Praban dengan penuh kekhawtiran.

“Insya Allah bisa, tetapi nanti malam harus saya tunggui dulu. Sebab nanti malam Kebosuro dan Penggembalanya pasti akan datang lagi..” jawab Kyai Umar 

“Terimakasih Kyai, nanti malam setelah Maghrib akan dijemput pak Mardi” kata isteri pak Praban 

Malam itu begitu hening. Isteri pak Praban dan beberapa tetangga menanti di rumah pak Praban dengan penuh harapan. Jarum jam yang terpasang diruang tamu masih berjalan, namun Kyai Umar tak kunjung datang.  Pukul sembilan, sepuluh, setengah sebelas.. juga belum datang. Kyai Umar tidak ingkar janji setelah pukul sebelas kurang sedikit ia datang dan mengucapkan salam didepan pintu rumah pak Praban yang belum tertutup. 

“Sudah sekarang Pak Praban akan saya tunggui semua berada diluar kamar jangan ada yang bicara macam macam !” Nasehat Kyai Umar 

Ia masuk kamar dan mengunci dari dalam. Penantian berlalu dengan sangat lambat. Para tetangga yang tidak kuat mulai berpamitan pulang sebab pukul dua belas telah berlalu.. namun dari dalam kamar belum ada terdengar suara yang mencurigakan. Tiba tiba terdengar suara barang berat jatuh dua kali diikuti suara tawa serak yang menakutkan.

“Jangan halangi aku Kyai! Orang ini telah jelas bersalah membunuh kerbau peliharaan saya” suara serak itu terdengar dari dalam 

“Tidak ! Kamu yang salah, kamu menitis pada kerbau yang salah. Seharusnya kamu menitis pada Kerbau Hutan bukan kerbau peliharaan. Kalau kamu menitis pada kerbau hutan kamu tidak akan diganggu !” Tegas Kyai Umar

“Tidak bisa !” Marah penggembala itu serta memecut pecutnya 

Jdher! Jdher !!..

terdengar suara pecut dari dalam bersamaan itu suara pukulan dan barang barang jatuh ramai terdengar. Semakin lama semakin seru.. Akhirnya terdengar suara kesakitan kepanjangan yang berulang dua kali. Membuat orang orang menunggu diluar harap harap cemas.

Klotak !! Kreet ! Orang yang diluar terkejut. Ternyata yang keluar adalah Kyai Umar dengan keringat di seluruh wajahnya. Orang- orang bernafas lega. Setelah kejadian itu pak Praban berangsur angsur kembali sehat dan melanjutkan aktivitasnya kembali. 

Thread ini selesai.

Terimakasih untuk pembaca

Saya undur diri dan sampai jumpa di thread selanjutnya… 

Thread By @Kodento

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *