RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

LANTAI ATAS RUMAH MAMIH

Selamat siang,

Salam hangat dan sayang,

Hari ini izinkan saya untuk kembali berbagi cerita mengenai kejadian dan pengalaman yg dialami oleh istri saya semasa ia tumbuh dan besar bersama keluarganya.

Tapi pengalaman kali ini bukan dialami langsung oleh istri saya, 

Namun dialami oleh salah satu anggota keluarganya. Lebih tepatnya, oleh kakak tertuanya.

Bagi yg sudah pernah membaca tulisan saya sebelumnya mengenai pengalaman istri saya di rumahnya, pasti tahu nama samaran yg saya berikan kepada kakak ipar tertua saya tersebut.

Yes, A Rian 

Dan untuk selanjutnya, dalam cerita ini pun saya akan tetap menggunakan nama samaran yg sama.

Seperti biasa, untuk nama orang, nama jalan, dan apabila ada nama sebuah instansi pun akan saya samarkan untuk menghindari hal-hal yg ditakutkan dapat menyinggung pihak-pihak terkait. 

Seperti yg pernah jelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa masa kecil dan masa tumbuh kembang istri saya sebagian besar dihabiskan di sebuah perumahan terkenal di bilangan Selatan, Bekasi.

Di rumah inilah ia dan keluarganya melalui berbagai fase dan momen kehidupan. 

Salah satunya, momen-momen yg bersinggungan dengan hal mistis.

Tidak bisa dibilang “salah satu”nya jg sebenarnya, karena memang tidak hanya satu dan dua kejadian, melainkan banyak kejadian yg bersinggungan dengan hal mistis pernah terjadi di rumah ini. 

Beberapa di antaranya adalah cerita yg akan saya tuliskan kembali sesuai dengan penuturan istri.

Cerita kali ini menceritakan tentang beberapa kejadian yg terjadi di lantai atas rumah mereka.

Ya, lantai atas yg sudah lama tidak ditempati dan dibiarkan kosong begitu saja. 

Dalam tulisan sebelumnya, saya pernah menyebutkan bahwa lantai atas di rumah Mamih telah dikosongkan sejak lama.

Bahkan tangga berputar yg menjadi satu-satunya akses menuju kesana pun kini ditutup dengan box-box sepatu, tas dan berbagai macam box lainnya. 

Tidak sepenuhnya karena alasan yg membuat buluk kuduk merinding sih, ada jg alasan-alasan logis yg menyebabkan lantai atas itu ditutup.

Plafon atap yg sudah lapuk dan bocor, lantai kayu yg mulai rapuh, dan memang sudah tidak ada lg yg mau menempati dua buah kamar di sana. 

Namun sebenarnya, bukan kali ini saja lantai atas dikosongkan.

Sebelumnya, lantai atas ini pernah dibiarkan kosong tidak ditempati untuk jangka waktu yg lama karena keluarga istri saya sempat menetap di salah satu rumah di bilangan Ciledug untuk beberapa lama. 

Setelah sekitar satu setengah tahun, mereka kembali lg ke Bekasi karena satu dan lain hal.

Dan semua kejadian “aneh” di lantai atas dimulai dari sini… 

Paruh pertama tahun 2004 telah berlalu. Seperti biasa, di dunia pendidikan Indonesia memasuki tahun ajaran barunya.

Ditya kini memasuki tahun keduanya di bangku SMP. Namun tahun ajaran ini, ia harus memulai semuanya dari awal lg. Sekolah baru dan teman-teman yg baru. 

Tak sepenuhnya baru, karena lingkungannya saat ini merupakan lingkungan yg sudah tidak asing lagi baginya.

Seluruh keluarganya harus kembali ke Bekasi, ke rumah pertama mereka yang mereka tinggalkan selama lebih dari satu tahun lamanya.

Karena satu dan lain hal, mereka pun pulang. 

A Galuh yg sebelumnya menetap di rumah Umi pun ikut bergabung kembali ke rumah Bekasi.

A Galuh terpaksa menetap di daerah Jatiwaringin ketika seluruh keluarga pindah ke Ciledug. Menimbang masa sekolahnya yg sudah kelas 3 SMA dan tinggal satu tahun lagi, rasanya sayang kalau… 

…harus pindah ke sekolah baru.

Dan kini, A Galuh pun terdaftar sebagai salah satu mahasiswa teknik informatika di salah satu universitas di Bekasi.

Sedangkan A Rian, kini memasuki tahun keduanya di salah satu sekolah tinggi ekonomi ternama di bilangan Selatan, Jakarta. 

Usia A Rian dan A Galuh yg kini sudah memasuki fase akhir masa remaja pun membuat pergaulan mereka semakin luas. Lingkup pertemanan mereka pun semakin beragam.

Hal ini membuat Mamih menetapkan dua ruangan kamar di lantai atas rumah menjadi kamar bagi masing-masing putranya. 

Hampir setiap minggu, bahkan hampir setiap hari lantai atas dan bawah rumah dipenuhi oleh teman-teman mereka.

Berisik? Pasti.

Khawatir? Ada tentunya.

Namun di sisi lain, membuat rumah jadi semakin ramai dan terasa aman. Terlebih untuk Mamih dan adik-adik A Rian dan A Galuh… 

…yg semuanya adalah perempuan. Dan ketika itu, hanya Ditya yg sudah memasuki bangku SMP. Tiara dan Cindy, masih duduk di bangku SD kala itu.

Sampai pada suatu pagi,

A Rian yg baru saja terbangun dari tidurnya di sofa ruang tv, meraih hp nya yg ia letakan tepat di sampingnya. 

Ia melihat jam di hp nya yg menunjukan pukul 07:23 WIB.

“Anjiir… Telat gw!”,

A Rian segera bergegas bangkit dan beranjak ke kamar mandi.

Hari ini kelas dimulai pukul 08:20 WIB. Mengingat kondisi jalanan Jakarta yg sudah pasti macet, A Rian pun segera menyudahi mandinya… 

…dan bersiap untuk berangkat.

***

“Elaah… Macet banget sih!”

“Tiin… Tiiin…!!!”

“Jalan woooi! Gila nih, tinggal belok doang aja malah macet…”

Tak berapa lama kemudian, mobil A Rian berbelok dari jalan raya Kuningan ke arah kiri memasuki sebuah jalanan besar lainnya. 

Ia kembali membelokan setir mobil ke kiri di penghujung jalan. Di kanan dan kiri terlihat banyak mobil yg terparkir memadati pinggiran trotoar jalan.

A Rian menghentakan sen mobilnya ke kiri setelah ia melihat sebuah ruang kosong yg sekiranya cukup untuk mobilnya. 

“Teruus… Teruuus…!”

“Kiri dikit… Dikiit… Oooop!!!”,

Suara tukang parkir terdengar keras sekali menembus kaca mobil A Rian.

“Braaak…!!!”

Tiba-tiba sesuatu menghantam keras pintu kaca kanan mobil tepat di sisi pengemudi.

A Rian yg terkejut, segera menoleh. 

Dilihatnya sosok laki-laki yg tak asing lagi. Ia pun membuka pintu kaca mobilnya.

“Wooi… Telat lo yaa?!”

“Resek lo Fan!”,

Sahut A Rian pada Irfan. Salah satu teman dekatnya di kampus. Mereka telah berteman sejak pertama masuk kuliah. Bahkan tak jarang Irfan menginap di rumah. 

Begitu pula sebaliknya. A Rian pun sering sekali bermalam di rumah Irfan yg berada di bilangan Barat, Jakarta.

“Macet banget gila di depan…”,

“Emang! Makanya gw jg telat ini… Hahaha!”,

Irfan tertawa sambil menunjukan jam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 09:03 WIB. 

Mereka jelas sudah sangat terlambat untuk masuk kelas pagi ini.

“Ngantin dulu aja lah! Udah telat jg Yan…”,

Ajak Irfan kepada A Rian. A Rian pun setuju, dan mereka beranjak menuju ke sebuah lahan yg dipenuhi penjual makanan di samping gedung kampus. 

“Bu, batagor 1 yaa…!”

“Lo pesen apa Yan?”,

Tanya Irfan yg berdiri sambil menyeruput sebotol minuman dingin.

“Gw ngopi aja lah… Ngantuk banget ini mata…”,

Sahut A Rian

“Sama kopi susu Bu 1!”,

Irfan pun duduk bersebrangan dengan A Rian pada sebuah bangku yg dipisahkan.. 

…oleh sebuah meja kayu panjang.

A Rian yg sedang sibuk dengan hp nya tiba-tiba tersentak, seolah melihat sesuatu yg aneh. Irfan yg menyadari hal tersebut pun bertanya,

“Kenapa lo?”

“Lah… Koq…?”,

A Rian bicara terbata-bata kebingungan.

“Apaan sih?!”

“Liat apaan lo?”, 

Irfan semakin penasaran.

“Ini… Apaan deh…?”

“Ini… Siapa…?!”,

Tiba-tiba suara A Rian meninggi dengan nada bingung dan sedikit ketakutan.

“Apaan deh lo Yan?! Kenapa siih…?!”,

Irfan menjadi semakin penasaran dengan sikap A Rian.

“Fan, ini aneh sih…”

“Sumpah aneh!” 

“Yaa apanya yg aneh Yaan…?!”,

A Rian pun mengutak-ngatik hp nya, mencari sesuatu dan menelpon,

Irfan hanya memperhatikan gerak-gerik A Rian sampai sepertinya nomor yg A Rian tuju sudah mengangkat panggilan tersebut,

“Halo Mih… Mih, semalem Mamih buka-buka hp aku gak sih?” 

“Hah…?! Terus, ada yg mainin hp aku gak?!”

“Hah??! Serius Mih…?!”

“…Gak… Gak papa Mih, yaudah kalo gitu. Makasih Mih…”,

A Rian pun mematikan telepon dan terdiam seakan memikirkan sesuatu.

“Lo kenapa sih Yan?”,

Tanya Irfan kembali.

“Aneh banget lo…” 

“Emang aneh banget ini Fan…”,

Jawab A Rian sambil menoleh ke sahabatnya itu. Ia pun mengambil hp nya, mencari sesuatu di dalamnya. Tak lama kemudian ia segera menunjukan hp nya kepada Irfan,

“Menurut lo… Ini siapa…”

“… Itu… Apa…?”,

Ucap A Rian sambil terbata-bata. 

Irfan pun memperhatikan apa yg ditunjukan A Rian di dalam hp nya.

A Rian memperlihatkan sebuah video.

“Video apaan Yan..?”,

Tanya Irfan.

“Lo liat aja sendiri…”,

Sahut A Rian.

Irfan pun mengklik tombol play di video tersebut. Betapa bingung dan kagetnya Irfan melihat itu 

Di dalam video tersebut terlihat seseorang sedang merekam wajahnya sendiri. Seperti berkaca. Ia memutar video itu mengitari wajahnya dari kanan ke kiri dengan jarak yg sangat dekat, sekitar 5 cm dari wajahnya.

Namun aneh.

Wajah ini, bukan wajah yang familiar bagi A Rian. 

Wajah yg bukan merupakan salah satu dari anggota keluarganya yg tinggal di rumah.

Terlebih lagi…

Wajah itu terlihat tanpa ekspresi. Datar. Pupil matanya pun sama sekali tidak mengikuti arah gerak kamera.

Dan,

Bila diperhatikan seksama, seluruh matanya hitam pekat. 

Seolah seperti…

Tidak ada bola matanya.

Kulitnya putih, pucat dan berkeriput. Seperti sosok seorang nenek-nenek.

Semakin aneh lg dengan pernyataan Mamih yg menegaskan bahwa tidak ada satu pun memainkan hp A Rian tadi malam. Karena memang A Rian tidur paling terakhir. 

Ada sekitar 3 video yg serupa, hanya arah gerak kamera saja yg membedakannya.

Seolah sosok tersebut sedang bermain dan berkaca menggunakan hp milik A Rian.

Irfan yg telah selesai memperhatikan semua video pun mengembalikan hp itu kepada A Rian.

“Yan… Gw no comment deh…” 

“Sumpah Fan, gw gak kenal mukanya…”

“Gw no comment Yan…”

“Menurut lo itu… Siapa Fan…?”

“Yan… Kan gw udah bilang, gw no comment…”,

Mereka berdua hanya bisa terdiam. Irfan kembali menyuapi mulutnya dengan sendok demi sendok batagor yg telah ia pesan. Sementara… 

…A Rian menghirup kopinya seruput demi seruput.

Pagi itu, mereka melanjutkan kuliah tanpa membahas tentang video tersebut lg.

*** 

Jam dinding sudah menunjukan pukul 19: 21 WIB.

A Rian, Irfan, dan Bram sedang bersantai di kamar A Rian. Tepatnya di lantai atas rumah.

“Yan, gw balik yaa… Udah jam segini.”,

Ucap Bram.

“Elaah… Nginep aja sih lo!”,

Sahut A Rian kepada salah satu teman dekatnya tersebut. 

“Gak ah… Gak bawa baju gw. Baju lo gak ada yg muat jg di gw kan!”,

Jawab Bram yg memang berperawakan tinggi besar.

“Aa… Aa… Makan malem dulu!!”,

Tak lama terdengar suara Mamih memanggil mereka.

“Iyaa Miih…!”

“Nah, nyokap gw udah nyiapin makan itu. Makan dulu aja!”, 

Tegas A Rian pada Bram.

“Aduuuh… Masakan nyokap lo lg yak. Yaudah laah, gw makan dulu!”,

Sahut Bram.

“Woo… Giliran makan aja cepet lo!”,

Celetuk Irfan mengolok-olok Bram sambil tertawa.

“Bawel aah! Udah ayok makaan…!”,

Ucap Bram sedikit kesal. 

Mereka bertiga pun turun dan beranjak menuju meja makan di samping dapur.

Berselang beberapa lama, tanpa terasa mereka pun sudah menyelesaikan makan malam mereka.

Tiba-tiba, Mamih membuka sebuah pertanyaan.

Sebuah pertanyaan yg sangat A Rian dan Irfan hindari hari ini. 

“Aa… Hp nya rusak emang?”

Pertanyaan itu tiba-tiba membuat A Rian dan Irfan terdiam. Mereka menyadari arah pertanyaan Mamih tersebut.

“Emang hp ko kenapa Yan?”,

Tanya Bram bingung. Ia memang tidak mengetahui apa pun mengenai kejadian tersebut. A Rian dan Irfan pun… 

…sebenarnya enggan untuk membahas kembali masalah ini.

“Gak papa koq. Gak rusak.”,

Jawab A Rian.

“Beneran? Kalo emang rusak coba service aja dulu kalo emang udah gak bisa dibenerin…”,

Lanjut Mamih polos tanpa berfikir aneh.

“Hp lo kenapa dah? Perasaan baik-baik aja tadi” 

Bram pun jadi penasaran.

“Gak rusak sih. Cuma…”,

A Rian menoleh ke arah Irfan, mencoba membuat kontak mata dengan sahabatnya itu. Ia tidak ingin menceritakan mengenai video tersebut pada siapa pun sebenarnya. Namun sepertinya, pikiran-pikiran anehnya tidak terbendung lg… 

…dan ia ingin memastikan ke Mamih kalau memang video itu bukan hal yg “aneh”.

Irfan yg seolah paham dengan tatapan A Rian hanya mengangguk seakan setuju dengan jalan pikiran A Rian untuk menceritakan tentang video tersebut.

Melihat reaksi Irfan, A Rian pun mengeluarkan… 

…hp nya. Ia menunjukan video itu pada Mamih dan Bram.

Mamih hanya bisa terdiam. Sementara Bram kembali mengulang ketiga video tersebut.

“Koq aneh sih?”,

Tiba-tiba Bram berkomentar.

“Ini lo take di mana?”,

Lanjutnya.

“Hah? Take apaan?”,

Sahut A Rian.

“Video nya laah”, 

“Lo take di mana ini video?”,

Bram kembali bertanya.

“Bukan gw yg take Bram…”

“Yah kali… Trus maksud lo ini dia ngerekam sendiri si nenek-nenek?!”,

Sambung Bram sambil tertawa seakan tidak percaya akan pernyataan A Rian.

A Rian dan Irfan saling bertatapan mendengar… 

…reaksi dari Bram.

“Serius Bram… Bukan gw…”,

Ucap A Rian berusaha menegaskan.

“Hahahaha… Becanda lo boleh jg sih!”,

Sahut Bram tertawa masih dengan nada bercanda, tidak mempercayai ucapan A Rian.

“Udaah aah! Udah jam berapa nih… Gw balik dulu ya!”, 

A Rian, Irfan dan Mamih hanya terdiam.

“Mih… Aku balik dulu ya. Besok sore ke sini lg!”,

Bram beranjak dari duduknya, menghampiri Makih yg duduk di sisi seberang meja untuk bersalaman dan pamit pulang.

Mamih yg masih bingung pun berdiri menyambut Bram,

“Iya, hati-hati ya..” 

“Cabut yak gw… Jangan telat lagi lo pada besok! Hahaha…”,

Seru Bram kepada kedua temannya itu.

“Iyee…”,

Sahut A Rian.

“Awas Bram, nanti lo diikutin…”,

Celetuk Irfan dengan nada sedikit kesal namun bercanda pada Bram.

“Hahaha… Kagak lah! Masih aje lo bercanda!”,

*** 

“Yan… Yaan…”

A Rian mendengar sayup-sayup suara memanggil namanya.

“Yaan… Bangun woi! Udah jam 7 lewat!”,

Kalimat itu seketika membangunkan A Rian dari tidurnya.

“Hah… Serius lo Fan?!”,

A Rian membuka selimut yang menutupi tubuhnya, bangkit dari posisi tidurnya. 

“Buru mandi… Telat lagi nanti kita!”,

Seru Irfan pada A Rian yg masih dalam posisi terduduk sambil memegang kepala bagian belakangnya yg sedikit pusing karena terbangun akibat terkejut.

Ia melihat Irfan sudah rapih, duduk sambil menghisap sebatang rokok di sampingnya. 

“Buru elaah! Susah banget dibangunin dari tadi lo ah…”

“Iyee iyee… Sabar aah, masih pusing ini!”,

Sahut A Rian sambil perlahan beranjak bangun.

A Rian pun bergegas turun menuju kamar mandi di lantai bawah. 

Tak berselang lama, A Rian sudah kembali lg ke kamarnya di lantai atas, memasukan semua buku catatan dan perlengkapan yg ia butuhkan.

Mereka kini sudah siap berangkat dan bergegas turun ke bawah.

“Miih… Aku berangkat yaa!”,

Seru A Rian di depan kamar Mamih.

Tak lama pintu… 

…kamar Mamih pun terbuka,

“Lhoo udah mau jalan? Udah sarapan belom?”

“Nanti aja Mih, di kampus… Takit telat nih…”,

Sahut Irfan kali ini menjawab pertanyaan Mamih.

Mereka keluar menuju mobil dan berangkat pergi ke kampus.

*** 

“Tumben nih gak macet…”,

Celetuk Irfan melihat kondisi jalanan Jakarta yg jarang sekali mereka temukan.

“Woi… Jangan ngomong jorok lo! Nanti tiba-tiba macet aja…”,

Sahut A Rian mendengar celetukan temannya tersebut.

“Waelaah… Mitos aje lo ah! Hahaha…” 

Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon dari hp A Rian,

“Eeh Yan… Si Bram nelpon tuh…”,

Ucap Irfan yg melirik pada layar hp A Rian.

“Laah… Tumbenan jam segini nelpon tuh anak…”,

A Rian pun meraih hp yg di letakannya di atas dashboard mobil.

“Halo Bram, kenape?” 

“Ooi… Kenape lo?”

“Iya iyaa… Tenang dulu… Cerita dulu lo kenapa?”,

Irfan pun menoleh ke arah A Rian mendengar reaksi sahabatnya yg kebingungan mengangkat telepon tersebut.

“Hah?!! Gimana, gimana…??”

“…Yg bener lo Bram?!!”

“…Yaudah, gw sama Irfan ke sana deh…” 

“Si Bram kenapa Yan?’,

Tanya Irfan penasaran

“Nanti deh, lo denger sendiri cerita dia…”

“Kita cabut ke rumahnya aja yok!”,

Ajak A Rian

“Anjir… Cabut kelas nih?!”

“Kuliah doong… Gak keburu jg kl ngejar kelas yg lain.”

“Elaah… Yaudah ayok!” 

Mereka pun mengubah arah tujuan mereka, berputar di pertengahan jalan raya Kuningan menuju ke arah Gandaria, Kebayoran.

*** 

“Bram, ada Rian sama Irfan nih…”,

Terdengar suara dari sisi luar pintu kamar Bram.

Tiba-tiba pintu kamarnya pun terbuka. Dilihatnya sosok Ibunya di depan pintu kamar, mempersilahkan kedua temannya yg berdiri tepat di belakang Ibunya.

“Nak, Rian sama Irfan dateng nih…”, 

Seru ibunya.

“Masuk Yan, Fan…”

“Iya tante…”,

Sahut A Rian dan Irfan bersamaan.

“Tante panggilin si mbok dulu ya buat ambilin minum.”

“Iya tante, makasih…”

Mereka pun memasuki kamar Bram. Mereka melihat temannya yg terduduk di pojok kasur sambil menyelimuti badannya. 

“Bram…”,

Panggil Irfan

“Masuk buru…”,

Sahut Bram kepada mereka berdua

Mereka pun menghampiri Bram di sisi kasur yg lain.

“Kenapa lo…?”,

Tanya Irfan

“Fan… Gw diikutin…”,

Jawaban Bram membuat Bram dan A Rian saling melihat satu sama lain.

“Diikutin gimana…?” 

Tanya Irfan penasaran.

A Rian hanya terdiam mendengar ucapan Bram, seolah sudah mengetahui hal ini sebelumnya.

“Semalem… Gw ngeliat…”,

Jawab Bram terbata-bata.

“Liat apaan?”,

Irfan pun jadi semakin penasaran dengan jawaban Bram yg sebenarnya tidak menjawab pertanyaannya. 

“Gimana ceritanya sih Bram, koq lo bisa diikutin…?”,

Tanya A Rian yg tidak ingin membuat Irfan jadi tambah penasaran.

“Semalem… Balik dari rumah lo…”,

A Rian dan Irfan pun menyimak dengan seksama penjelasan Bram.

*** 

“I’m the one who wants to be with you… Deep inside I hope you feel it too…”,

Bram bersenandung mengikuti lagu yg diputar di cd player mobilnya.

Jalan toll JORR arah Pondok Indah saat itu memang masih sangat sepi mengingat beberapa ruas jalanan baru dibuka blm lama ini. 

Tak banyak mobil yg melintas di sana malam itu.

Tak berapa jauh, pintu keluar toll Pondok Indah pun terlihat.

Bram mengarahkan mobilnya ke kiri mendekati pintu keluar.

Tiba-tiba dari kaca spion kirinya, ia melihat sesuatu seakan melesat dengan sangat cepat. 

Ia pun dengan spontan menginjakan remnya secara mendadak.

“Wooi…!!!”,

Teriak Bram kesal sambil membuka kaca mobil di sisi kirinya.

Anehnya, setelah ia sadar, tidak ada satu kendaraan pun yg baru saja melintas di sisi kiri mobilnya.

“Laah… Koq aneh…?”

“Au ah! Perasaan…” 

Tidak ingin berfikir aneh-aneh, Bram pun segera melanjutkan perjalannya pulang.

Tak lama, ia sudah berada pada sebuah persimpangan yg menuju ke rumahnya.

Ia pun menghentak sen mobilnya berbelok ke kanan.

Tiba-tiba Bram kembali menginjak rem mobilnya mendadak, melihat sesuatu… 

…melintas di dari sisi kanan mobilnya dari kaca spion.

Sesuatu yg terlihat bergerak cepat.

Bukan mobil.

Dan yg membuatnya semakin aneh adalah…

Benda itu seolah… Terbang.

Iya… TERBANG!

Dan hanya dalam sekejap, benda itu pun kini berada tepat di sisi belakang kanan… 

…mobilnya. Dan Bram pun kini mulai bisa melihat dengan jelas benda apa itu.

Betapa kagetnya Bram ketika yg ia lihat benar-benar diluar akal sehatnya.

Sosok seseorang berpakaian putih yg menutupi hampir seluruh tubuhnya.

Hanya sepertiga lengan dan kakinya saja yg tersingkap. 

Kulitnya benar-benar putih, pucat. Semakin jelas terlihat dengan suasana malam yg gelap saat itu.

Ketika sosok itu sampai tepat berada di samping kanan kaca mobil tempat Bram duduk, ia menoleh dengan senyum menyeringai dan mata yg… terlihat kosong.

Kosong, tanpa bola mata. 

Hanya warna hitam pekat yg terlihat dari matanya. Ditambah dengan tampilan rambutnya yg hitam panjang dan berantakan membuat Bram terpaku tak bisa bergerak.

Sampai sesaat sosok itu melintas berlalu dari mobil Bram.

“Tiiin… Tiiiin…!!!”,

Bram pun tersadar oleh suara… 

…klakson mobil di depannya yg sudah tidak sabar menunggu pergerakan mobil Bram.

Ia segera menancapkan gas mobilnya, bergegas kembali ke rumah dengan keadaan ketakutan.

Tak berapa lama, ia pun sampai di rumah. Ia bergegas memasukan mobilnya ke dalam garasi, dan langsung… 

…menuju ke dalam rumah.

Bram mencoba menenangkan pikirannya sejenak, sebelum akhirnya ia beranjak ke kamar mandi, berniat membasuh mukanya sebelum pergi tidur.

Kini Bram telah selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia menggantungkan handuknya di pintu kamar mandi. 

Bram beranjak keluar dari kamar mandi, membuka pintu kamar mandi sambil sesekali mengusap mukanya yg masih sedikit basah dengan handuk kecil yg ia pegang.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

Ia kembali mematung melihat sosok berambut panjang yg sedang duduk di sofa ruang tv… 

…dengan posisi membelakangi dirinya. Ia terdiam, badannya kaku melihat hal itu. Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan handuk kecil yg ia genggam ke lantai.

Seakan mendengar suara, sosok tersebut perlahan memutar kepalanya.

Melihat pergerakan mengerikan tersebut, tanpa pikir… 

…panjang, Bram langsung berlari masuk ke kamarnya yg berjarak sangat dekat dengannya saat itu.

Ia segera mengunci pintu kamar, melompat ke kasur dan menutupi seluruh badannya.

*** 

A Rian dan Irfan yg mendengar cerita Bram hanya bisa terdiam.

Mereka tahu cerita itu terdengar sedikit… Tidak masuk akal. Namun mereka berdua sadar, berbagai kemungkinan bisa menyebabkan Bram diikuti memang.

Akhirnya, mereka bertiga pun sepakat untuk tidak menceritakan… 

…hal ini kepada siapa pun lg. Cukup mereka bertiga yg tahu.

Hari-hari selanjutnya pun berjalan normal kembali.

Tidak ada hal-hal aneh lg yg terjadi…

…untuk beberapa minggu.

*** 

Malam itu kondisi rumah Mamih ramai dipenuhi teman-teman A Rian dan A Galuh.

Semua berkumpul di lantai atas.

Ada yg mengerjakan tugas, ada yg sambil melanjutkan revisi makalah, ada yg bergitar sambil melantunkan lagu-lagu favorit mereka, bahkan ada yg hanya duduk sambil ngemil. 

Rumah Mamih memang selalu saja dijadikan tempat berkumpul teman-teman anak-anaknya.

Risih, karena berisik tentunya. Namun disisi lain rumah terasa menyenangkan dan aman.

Namun, dini hari itu tiba-tiba suasana berubah seketika mencekam ketika salah seorang teman mereka… 

…yg sedang bersenandung di atas hammock jaring milik A Rian berceletuk,

“Eeh, Bro…”

“Itu siapa…”

“Hah? Siapa?”,

Tanya A Rian mendengar pertanyaan itu penasaran.

“Itu… Ada yg jalan…”,

Sebut saja namanya, Yudi, sambil menunjuk ke arah luar jendela yg berada… 

…tepat di belakang hammock yg ia duduki.

Spontan A Rian, A Galih, Irfan, Bram dan beberapa teman lainnya berdiri untuk melihat ke arah yg Yudi tunjukan.

Seketika mereka semua terdiam. Mereka memperhatikan langkah demi langkah dari sosok tersebut.

Sosok seorang kakek… 

…tua dengan baju putih panjang melintas tak jauh di depan mereka.

Tepatnya, sosok itu melintas tepat diujung atap rumah. Berjalan santai seolah melangkah pada sebuah jalanan biasa, sedangkan…

…mereka sedang berada di lantai atas rumah dengan ketinggian kurang lebih 3m… 

…dari dataran jalanan.

Entah kenapa, namun mereka hanya bisa terdiam memperhatikan gerak demi gerak yg sosok itu lakukan.

Sampai akhirnya sosok itu berlalu, dan tiba-tiba menghilang tepat di ujung sisi atap yg lainnya.

Berselang beberapa detik, mereka seakan tersadar… 

…dan saling melempar pandang.

Dipenuhi dengan rasa takut dan panik, mereka pun berlari sekuat tenaga, berhamburan menuju ke lantai bawah.

Suara teriakan mereka pun membangunkan seisi rumah.

“Aduuh… Kenapa siih malem-malem pada berisik…??!”

Tanyaa Mamih yg telah… 

…berdiri di luar kamar, terbangun karena kegaduhan yg mereka buat.

Namun saking takutnya, pertanyaan Mamih pun tidak mereka hiraukan.

Mereka semua bergerombol masuk ke dalam kamar tamu di depan garasi. Mengunci diri mereka di dalam dan berdiam menenangkan pikiran dan hati. 

Sampai beberapa hari berikutnya, setelah A Rian, A Galuh dan teman-temannya menceritakan semuanya pada Mamih, Mamih pun memutuskan untuk memanggil orang pintar. Salah satu kenalan Mamih yg tinggal di Sukabumi.

Orang pintar itu pun mencari di setiap sudut rumah, dan… 

…menjelaskan secara perlahan.

Menurutnya, kedua sosok itu merupakan sosok yg menetap di dalam sepasang patung kakek-nenek yg Mamih dapatkan sebagai cinderamata dari Budapest beberapa tahun lalu.

Entah untuk alasan apa mereka menetap di dalamnya. Namun yg jelas, 

Dalam ajaran agama kami pun memang sebenarnya tidak dibenarkan meletakan benda apa pun yg menyerupai ciptaan Allah SWT di dalam rumah sebagai sebuah pajangan.

Salah satu alasannya, yaah… seperti ini. “Mereka” suka menetap di dalamnya, mencoba menyerupai bentuk dan tampilannya 

Akhirnya, atas saran si orang pintar, kedua patung itu pun dipecahkan dengan membaca kalimat basmallah disertai dengan surat Al-Fatihah, ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas sebelumnya.

Alhamdulillah…

Kejadian ini merupakan teror terakhir dari kedua sosok tsb. 

Saya ulangi sekali lagi,

“Kejadian ini merupakan teror terakhir dari KEDUA SOSOK TERSEBUT…”,

HANYA dari KEDUA SOSOK tersebut, tapi tidak dengan sosok lainnya yg seakan menunggu gilirannya untuk tampil ke depan menunjukan eksistensinya. 

Kejadian kali ini merupakan kejadian terakhir dari sekian banyak serangkaian kejadian aneh di lantai atas. Dan menjadi salah satu alasan mengapa lantai atas rumah Mamih kini ditutup.

*** 

Jauh setelah kejadian yg berujung pada kegaduhan teman-teman A Rian dan Galuh, menyebabkan ruangan lantai atas sangat jarang digunakan sebagai tempat berkumpul mereka.

Namun dalam waktu beberapa tahun terakhir, ruangan lantai atas pun kembali aktif semenjak Ditya memasuki… 

…bangku perkuliahan. Teman-teman kampusnya pun kini sering datang dan bermalam di rumah Mamih. Dan biasanya mereka akan tidur di ruangan yg memang tidak digunakan oleh para anggota keluarga di rumah itu.

Iya, di lantai atas.

Sebenarnya, selama rentang waktu beberapa tahun… 

…ada beberapa kejadian lain yg akan terlalu panjang bila dituturkan di sini.

Namun, kejadian paling akhir yg terjadi di lantai atas akan kembali saya paparkan.

***

Malam itu, Ditya yg sudah memasuki semester 6 di bangku perkuliahan berkumpul dengan teman-temannya di rumah. 

Sekitar 6 sampai 8 orang temannya berada di rumahnya untuk mengerjakan tugas, mencari bahan untuk pengajuan materi skripsi dan ada juga yg hanya ikut-ikutan datang sekedar untuk ikut berkumpul.

Mereka seperti biasa meramaikan suasana rumah yg memang sudah mulai sepi… 

…semenjak tidak ada lg A Rian, yg saat itu sudah menikah dan tinggal di perumahan yg berbeda, tak jauh dari perumahan tempat tinggal mereka.

Sedangkan A Galuh kala itu mendapatkan tugas dinas di Myanmar sebagai salah satu local staff Kedutaan Indonesia. 

Namun, malam itu hanya 2 orang teman Ditya yg memutuskan untuk bermalam di sana. Agus dan Putra.

Teman-temannya yg lain lebih memilih pulang ke rumah masing-masing setelah kesal dengan bercandaan Putra yg terkesan “menantang” mereka yg berbeda alam. 

Pasalnya, Putra dengan nada bicara yg tinggi mengajak teman-temannya untuk menyuguhkan kopi pahit dan meletakkannya di dak luar jendela kamar lantai atas.

Bukan tanpa maksud, melainkan ingin melihat apakah benar makhluk-makhluk ghoib itu memang menyukai kopi pahit seperti mitos.. 

..yg pernah ia dengar.

Singkat cerita, mereka pun bermalam dan tidur di lantai atas berdua.

Di kamar yang berada di sisi bagian belakang rumah di lantai atas. 

Jam menunjukan pukul 00:41 WIB.

Agus sudah terlelap pulas dengan suara dengkurannya yg keras. Sedangkan Putra masih memainkan game online kesayangannya.

Sampai tiba-tiba…

“Dok… Dok…”

Suara ketukan yg entah dari mana membuat Outra sesat menghentikan permainannya. 

“Apaan tuh?”,

Ucap Putra dalam hati

“Dok… Dok…”

Suara ketukan itu kembali terdengar. Dan kali ini Putra mencoba melirik sekeliling, mencari arah datangnya suara tersebut.

Ditengoknya ke kiri, ke kanan, ke belakang, bahkan sampai ke atas, masih berfikir itu suara tikus. 

“Dok…Dok… Dok…”

Kali ini suara ketukan itu terdengar semakin keras dan jelas. Putra oun mencoba bangkit dr posisi telungkupnya.

Namun, belum sempat ia membenahi posisinya, suara itu terdengar lg…

“DOK DOK DOK!!!”

Dan kali ini lebih keras, lebih cepat dari sebelumnya. 

Ia pun menoleh dan sadar dari mana arah datangnya suara tersebut.

Dari jendela!

Seketika bulu kuduknya berdiri. Merinding. Hawa dingin yg tiba-tiba muncul semakin membuatnya ketakutan.

Putra lalu segera mengambil selimut dan menutupi seluruh badannya mencoba menghiraukan… 

…suara ketukan yg semakin terasa tidak wajar itu.

Ia terus melantunkan doa-doa yg ia tahu, membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an yg ia hafal sampai akhirnya suara itu perlahan menghilang.

Ia pun terlelap tak berapa lama kemudian.

*** 

“Gus… Put… Ini apaan??!!”,

Suara tinggi Ditya seketika membangunkan mereka berdua.

“Aaah… Apaan sih Dit…?”,

Tanya Agus sambi menutupi matanya dari cahaya matahari yg menusuk masuk melalui celah jendela yg tersingkap gordennya.

“Ini… Apaan nih… Koq banyak bgt… 

…ijuk gini sih…??!”,

Mendengar hal itu Agus dan Putra langsung tersadar.

“Hah… Ijuk apaan??!”,

Tanya Putra

“Nih… Liat aja sendiri…!!”,

Jasab Ditya sambil menunjuk pada sesuatu di lantai.

Betapa kagetnya mereka melihat banyak sekali helai-helai ijuk berserakan. 

“Ini… Apaan Dit…??”,

Tanya Agus bingung

“Mana gw tau… Makanya gw nanyaa!”

Putra dengan spontan meraih dan mengambil sehelai ijuk yg berserakan di lantai itu. Ia ingin memastikan dengan jelas benda apa itu.

Teksturnya yg kasar jelas sekali seperti ijuk, 

tapi tidak ada sapu di lantai atas. Dan yg lebih aneh lagi, setiap helai ijuk tersebut sangat panjang bila disandingkan dengan rambut milik Ditya yg panjangnya melebihi bahunya.

“Ini mah rambut Dit…”,

Ucap Agus

Mereka semua terdiam mendengar pernyataan Agus.

“Aneh!”

Cuma… 

…itu yg sekarang ada dipikiran mereka bertiga.

Pasalnya tak hanya tekstur dan ukurannya saja yg tidak wajar. Helai-helai itu hanya berserakan di sekitar tempat mereka berdua tidur.

Lebih tepatnya, seolah mengitari mereka berdua.

Tiba-tiba Putra pun teringat akan sesuatu. 

Ia segera beranjak bangun dan membuka jendela kamar. Ditya dan Agus hanya memperhatikan apa yg dilakukan oleh Putra.

Namun kini mereka berdua menjadi bingung melihat Putra yg hanya terdiam kaku menatap sesuatu. Tatapannya bingung dan sedikit… Takut. 

“Lo kenapa Put?”,

Tanya Agus

“Kopinya…”,

Jawab Putra terbata

“Kopi?”,

Tanya Ditya dan Agus bingung.

Tiba-tiba Putra berbalik dan menatap mata mereka satu persatu, kemudian ia melanjutkan ucapannya

“Lo pada inget kopi yg gw taro di dak luar semalem kan…?”,

Tanyanya. 

Ditya dan Agus hanya beradu pandang mendengar pertanyaan Putra.

“Sekarang tinggal setengah…”,

Ucap Putra melanjutkan.

“Hah?!”,

Sontak mereka berdua pun terkejut mendengar itu. Mereka segera bangun dan beranjak menuju jendela, mencoba memastikan perkataan Putra. 

Namun yg mereka lihat benar-benar seperti apa yg Putra bilang. Kopi pahit yg Putra letakan di dak luar jendela itu kini tinggal setengah cangkir.

“Lo gak minum kan Gus…?”,

Tanya Putra memastikan. Agus hanya menggeleng.

Putra melemparkan pandangannya ke Ditya, 

“Lo jg gak buang kan Dit…?”,

Tanyanya

Ditya pun hanya bisa menggeleng seperti Agus.

Mereka bertiga menyadari ada yg tidak beres!

Spontan mereka bertiga bergegas turun ke bawah dan menceritakannya kepada Mamih.

*** 

Sampai saat ini tidak ada yg tahu helai-helai apakah itu.

Sempat ada salah satu kenalan Mamih yg datang berkunjung jauh setelah kejadian itu, dan kebetulan memiliki kemampuan untuk melihat “mereka”.

Menurutnya, di lantai atas rumah Mamih sempat dihuni oleh beberapa… 

…jenis makhluk yg tak kasat mata. Beberapa ada yg suka bermain ke lantai bawah, ada yg memang hanya menetap di sana.

Beberapa usaha sempat dilakukan untuk “membersihkan” lantai atas rumah, namun karena memang tidak ada yg menempati jadi sepertinya “mereka” tetap datang kembali 

Saya rasa cerita ini saya sudahi dulu sampai di sini. Semoga cerita ini tidak sekedar menjadi bacaan yg menemani teman-teman semua, tapi bisa dijadikan pelajaran dan hikmah darinya.

Ingat,

Kita hidup berdampingan walaupun berbeda alam. 

Mereka ada.

Namun bukan berarti kita harus takut dan tunduk pada mereka.

Allah sudah menetapkan manusia sebagai makhluk ciptaannya yg paling sempurna, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jangan dikurang-kurangi dengan sikap takut terhadap mereka. 

Hargai dan yakini keberadaannya, namun bukan untuk ditakuti apalagi dipuja dan disembah.

Sekian dari saya,

Salam hangat,

Source Theread: Twitter @bonkioong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *