RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Lembur

Bayangin, ketika km harus kerja lembur sendirian. Lengang. Bunyi adu jari dengan keyboard adalah satu-satunya temanmu. Bergidik?

Sebuah thread tentang jam lembur, shift malam, atau sejenisnya.

Sebagian kisah nyata, sebagian yang lain mungkin kalian adalah korbannya. 

Mention temen kalian yang masih lembur sendirian saat ini. Satu pesan untuk mereka. Hati-hati…. 

Kisah hantu kebanyakan berawal dari kesialan. Begitu kata orang-orang. Betul atau tidak aku tak terlalu memperhatikan, atau bahkan mengingat-ingat. Mengapa? Karena hari ini aku sedang dirundung dua kesialan dan menunggu keberuntungan. 

Kesialan pertama: sebuah perintah pendek dari kantor pusat. Laporan proyek harus selesai besok pagi. Itu berarti aku harus lembur kerja malam ini. Sendirian. Kesialan kedua: kalian akan tahu sebentar lagi. 

Namaku Andi, pegawai sebuah perusahaan biro konsultan pajak di kota Surabaya. Berkutat dengan angka-angka adalah hobiku. Aku sangat membanggakan ketelitian, kerapian kertas kerja, dan daya analisaku. 

Semua kelebihan yang dulu aku kira akan cepat menaikkan pangkatku. Tebakanku meleset. Alih-alih aku naik jabatan, justru pimpinan cabang makin sering menambah beban kerjaku. Seperti sekarang. 

Aku mengintip Yogi, satu-satunya office boy yang masih setia menemaniku. Ia masih duduk dalam ruaangan pantry. Dari tempatku berada, aku masih dapat melihat ujung kakinya menyembul di celah pintu yang terbuka. 

Ruangan tempatku bekerja dihuni lima meja kerja tanpa sekat. Di depanku, ada ruang meeting kecil yang juga difungsikan sebagai ruang server. Ruang meeting itu berbatasan dengan ruang pimpinan cabang. Pada arah belakangku, terdapat toilet dan ruangan pantry. 

Aku mengecek penunjuk waktu pada arloji. Jam sebelas malam.

Napas berat kuhela panjang. Sebenarnya aku tak punya masalah dengan kerja lembur. Hanya saja…semua gara-gara Jaemin ! Teman usilku yang aku curigai iri pada kinerjaku. 

Berulang kali ia – yang mengaku dapat melihat hantu- menghembuskan cerita menyeramkan tentang penghuni alam gaib tempatku bekerja. Katanya, di ruangan tempatku bekerja banyak roh gentayangan. 

Ia menyuruhku berhati-hati pada mbak kunti ungu. Begitu ia menyebutnya. Katanya kunti ungu itu adalah pemimpin dari setan-setan lainnya. Pertama kali aku mendengar ceritanya, tak dapat aku menahan tawa. 

Ketika iseng aku tanya siapa wakil pemimpin, sekretaris dan anggota lainnya, ia malah mencibirku. “Lihat aja Ndik, dia sangat benci pada manusia arogan, apalagi sampai mengolok-olok dirinya. Cam kan itu! Malam jumat ia akan mencarimu…” 

Dheg.

Kenapa aku tiba-tiba ingat cerita kutu kupret itu yak! Apa karena malam ini adalah malam jumat?

Sial! 

“Aku laper…mau beli makan dulu ya. Nitip gak?” tanya Yogi membuyarkan lamunanku. Aku berusaha tenang, meskipun sedikit kaget.

“Ngga deh Gik, Aku masih kenyang. Tadi aku kan udah beli bakso.” jawabku datar. 

Yogi menaikkan satu alis sambil mengangkat bahu. Senyum terbit di wajahnya seolah penuh arti. “Oke deh, aku turun ya. Jangan ketiduran lho…ntar kalau udah mau pulang, WA aja ya.” katanya seraya berlalu. Aku mengawasi punggungnya yang begitu cepat menghilang. 

Yah..sendirian deh.

Aku kemudian beranjak dari tempat dudukku untuk menyalakan kembali semua lampu. Sepi dan hening melandaku. Hanya cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap. Sayangnya, tak ada nyamuk yang dapat di tangkap. Hap! 

Kubuka satu-satunya jendela besar yang berada di ruangan meeting. Aku menyulut api untuk membakar rokok Esse menthol. Menghisapnya pelan dan mengepulkan asapnya kuat-kuat. Aku ingin menghembuskan keresahan bersama kepulan asap rokokku. 

Ting

Pintu lift terbuka. Aku mendengar langkah kaki menuju ke arah ruangan kantorku. Penasaran aku membalik punggung dan mencari tahu. Sebuah siluet panjang telah berada di ambang pintu. Tak kelihatan jelas sosoknya. Itu karena aku lupa menyalakan lampu. 

Aku terlalu fokus pada rokokku, hingga melupakan tujuanku beranjak sebelumnya.

“Ndi…” sapanya memecah keheningan.

“Bu Susi?” tanyaku dengan nada lantang. Bu Susi tak menjawab. Aku sedikit lega begitu gamblang aku melihat sosoknya saat berjalan anggun menuju ruangannya. 

Tak menunda waktu, aku berniat menghampirinya dengan terlebih dulu membuang puntung rokok dan menutup jendela. 

“Ada yang tertinggal bu?” tanyaku pada pemimpin cabangku. Dalam duduknya Bu Susi menatapku ringan. “Iya Ndi, mau ngeprint sebentar.” jawabnya singkat. Aku mengendus kejanggalan. Tak biasanya ia irit bicara. Mengapa ia tak menanyakan progress pekerjaanku? 

“Ohh…begitu” Aku memutuskan menepis praduga, lantas berlalu menuju ke mejaku sendiri. Kembali laporan ku kebut. Menurut perkiraan, pekerjaan ini akan kelar sebentar lagi. Mumpung ada temannya, aku harus kerja secepat-cepatnya, batinku. 

Ku letupkan semangat yang sempat mengendor. Sayangnya, kantuk tiba-tiba menggelayuti mata. Ini pasti gara-gara nonton MU seri. Gumamku menyumpahi performa tim bola kesayanganku. 

Aku bangkit dari kursi menuju pantry untuk menyeduh kopi. Dari ekor mata, aku melirik Bu Susi masih tampak sibuk di depan komputernnya. Aku didera sungkan untuk sekadar menawari minum. Kubiarkan dirinya larut dalam pekerjaannya. 

Sesaat ketika menuangkan air panas ke dalam gelas, aku mendengar suara denting sendok beradu dengan gelas dari arah toilet. Aneh, aku menyimpulkan sambil menghentikan kesibukanku. Cepat-cepat aku mengais kopi sachet dari meja dan meninggalkan pantry. 

Terbumbung curiga, aku lewat di depan toilet yang pintunya terbuka. Sepi. Tak ada orang.

Tak ada alasan untuk tidak bergidik ketika aku mendapati ruangan Bu Susi tak lagi berpenghuni. Terhenyak dan menelan ludah, aku setengah berlari menuju meja kerjaku. 

Kopi kuseduh tergesa sambil menggumam doa sebisanya. Ini sudah tidak beres, pekikku dalam hati.

Ting

Ponselku memunculkan notifikasi whatsapp. Aku mengerutkan kening. Sebuah pesan dari Bu Susi. 

*Ndi, besok tolong laporannya diantar ke client tepat jam 9, kita langsung meeting dengan direksi. Pesawatku sampai Surabaya jam 7 pagi.* 

Jantungku serasa terlontar dari dada. Bagaimana aku bisa lupa bahwasanya Bu Susi sedang menghadiri seminar di Jakarta.

Lalu yang kulihat tadi siapa?? 

Meringis dengan tercekat aku mengusir ketakutan yang melangsir tanpa henti. Tak menunggu waktu lagi, aku segera mematikan komputer di depanku. Aku tak peduli lagi pada pekerjaanku. Subuh nanti aku akan kembali. 

Sekarang aku harus menyelamatkan jantungku yang debupnya makin kencang. Aku tak mau mati kaku di kantorku sendiri dalam keadaan jomblo. 

Ya, Andi Soraya Basso itu namaku. Boro-boro pacar, gebetan pun aku tak punya. Di usia 27 ini aku yang terlalu sibuk bekerja selalu kesulitan mencari waktu luang untuk bersenang-senang dengan laki-laki. 

Kutarik napas panjang sambil memejam. Dengan memangku tas tenteng dan sepatu high heels aku menghitung mundur untuk berniat pulang ke kosku. Ok, mulai hitungan ketiga aku akan menoleh. Tiga..dua..sat.. 

Belum tuntas aku menghitung mundur, mendadak aku mendengar suara keyboard dalam ruangan Bu Susi menabuh gendang telingaku. Suara jari yang beradu dengan keyboard terdengar lamat-lamat. Suara itu bukan suara ketikan. 

Melainkan terdengar satu-satu, seperti sedang mengeja. Tok-tok-tok-tok…..begitulah bunyinya. 

Suara itu merambat cepat dan keras, layaknya orang sedang meluapkan amarah. Siapa yang tak panik dan bingung? Coba bayangkan kalian sekarang dalam posisiku. Aku yakin kalian juga tak kalah panik dan ketakutan. 

Aku bangkit dari kursiku secepat kilat. Peduli setan! Serapahku pada malam ini. Aku berlari menuju ruangan pantry. Menutup pintunya rapat-rapat lantas menguncinya dari dalam. Aman…aku menghela napas untuk memulihkan perasaan. 

Hei tunggu! Bukankah aku berniat untuk pulang? Lalu mengapa aku malah berlari ke dalam ruangan pantry!! Ini namanya bunuh diri Andiiiii!!!!

Anjaay! 

Entah karena terlalu bersemangat atau terlalu panik, nalarku menjadi abnormal. Aku tak dapat lagi berpikir jernih. Apalagi ketika mendapati keteledoranku yang meninggalkan ponsel di atas meja. Dan naasnya sekarang ponsel itu sedang berdering memanggil-manggilku. 

Tentu aku bingung harus berbuat apa. Disatu sisi aku sedang menjebak diriku sendiri, terkunci di dalam ruangan pantry. Disisi lain dering ponsel itu tak henti-henti menanti respon dari pemiliknya. Aku. 

Suara keyboard itu tak terdengar lagi. Mungkin setan itu telah puas menakuti diriku, batinku menyimpulkan. Jika ia telah puas, maka tak ada alasan buatku untuk takut. Hipotesa asal-asalan aku gelorakan dalam hati. 

Aku keluar dan lekas menderetkan pada sekeliling ruangan. Tak ada siapa-siapa. Tak ada suara. Tapi mengapa rasanya jauh lebih mencekam dari sebelumnya? Tak peduli rasa was-was, aku melangkah mantap dan tenang ke arah meja untuk meraih ponsel yang telah berhenti berdering. 

Aku mengecek layar. Ternyata miskol itu berasal dari Yogi. Tak hanya miskol, office boy ku juga mengirim pesan.

*Mbak, tolong jangan pulang dulu ya, motorku mogok, aku otw kantor sambil nuntun motor :(( *

Sial!!!! 

Berita dari Yogi, benar-benar membuatku dongkol. Tak ada yang dapat kulakukan selain pasrah pada nasib. Aku mulai mengingat-ingat semua cerita horror Jaemin. Kunti berbaju kurung yang berwarna ungu. 

Katanya dia adalah arwah penasaran yang tewas mengenaskan karena malpraktek. Ruko tempat kantorku konon berdiri dengan menggusur klinik aborsi yang ditutup pemerintah bertahun-tahun yang lalu. 

Tak heran katanya, banyak sekali Jaemin melihat sosok-sosok hantu yang beraneka rupa. Dari semua penampakan, hantu bayi-bayi merah berwajah tua lah yang mendominasi dari hantu-hantu lainnya. Ya, hantu bayi merah berwajah tua penuh bercak darah. 

Sudah kebayang kan wujudnya? Apalagi yang paling bengal adalah bayi merah yang berkalungkan ari-ari berlumuran darah. 

Hii..tiba-tiba aku bulu di tengkukku meremang tak karuan. Apalagi ketika bayangan akan wujud hantu bayi itu merisak otakku. Aku menepiskan semua bayang-bayang ketakutanku pada sosok bayi merah berkalung ari-ari. 

Aku menyangkal adanya hegemoni demit bayi merah berwajah tua.

Anehnya, makin keras usahaku mengusir imajinasiku, makin nyata gambaran hantu itu terpampang di depan mataku. 

Betul. Di depan mataku! Tepatnya di atas lantai tak jauh dariku. Sosok kecil yang bergerak-gerak merangkak ke arahku itu seolah menerjemahkan semua penggambaran cerita Jaemin. Imajiku menjelma nyata. 

Sayup namun jelas, aku mendengar tangisannya. Bahkan mirip sebuah rintihan. Laju merangkaknya sangat cepat mendahului kekagetanku. Syahdan, posisinya telah semeter dari tempatku duduk. Gemetaran, peluh menderas membasahi punggungku. 

Lututku terlalu lemas untuk bergerak. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir, setelah wajahnya tersorot lampu penerangan.

Amsyong! 

Bayi merah itu memang persis penggambaran Jaemin. Wajahnya penuh kerutan. Kantung matanya menggelayut kendur dengan kornea mata yang kelabu. Bibir mungilnya mengerut ke dalam. Setan bengal itu menangis tertahan dengan membelalakkan mata. Lalu ia menatapku tajam. 

Kini ia telah mencengkeram pergelangan kakiku. Sontak aku terperanjat hingga jatuh terjengkang. Ia kembali mendekat dengan merangkak. Aku beringsut mundur dengan menumpu telapak tangan. Menjerit-jerit meneriaki diriku sendiri. 

Tolong! Tolong!

Aku membalik badan, turut merangkak beberapa kali. Ngapain aku ikut merangkak? Bodohnya diriku.

Cepat aku lalu berdiri menegak. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju pintu keluar menuju pintu tempat tangga darurat berada. Hanya dua lantai, batinku. 

Aku lari tunggang langgang bukan kepalang hingga tiba di lantai dasar. Kubuka pintu dengan kasar. Aku terperanjat ketika mendapati bahwa aku masih berada di lantai tiga, lantai tempat kantorku berada. 

Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Ini pasti mimpi! Aku berlari kembali turun ke bawah. Meski jiwa ragaku lelah aku tak peduli. 

Dheg.

Lagi-lagi aku berada di lantai tiga! 

Aku kelelahan. Kuputuskan untuk menenangkan diri dengan duduk di anak tangga pada perbatasan lantai dasar dan pintu keluar. Kuatur napasku yang tersengal-sengal. Aku menyesal jarang berolahraga dan masih tetap merokok. Jika tidak aku pasti tak gampang lelah seperti ini. 

Ting

Sayup aku mendengar pintu lift terbuka lalu suara langkah kaki di lantai tiga. Aku yakin itu suara derap langkah kaki Yogi. Alhamdulillah, gumamku lega. Segera aku menuntun tungkai menaiki tangga. Aku memanggil-manggil namanya. 

Sebelum menarik pintu, aku ingin memastikan perkiraanku. “Gik..Yogi…kamu sudah datang?” teriakku sambil menempelkan telinga pada daun pintu tangga darurat lantai tiga. 

Keganjilan makin menggenap. Yogi tak menjawab pertanyaan lantangku meski suara langkahnya terdengar jelas. Langkah itu makin mendekat ke arahku. Aku menggagalkan rencana memutar gagang pintu. Itu pasti hantu, aku menggagas tebakan. 

Sekejap setelah aku memutar tubuh untuk kembali menuruni tangga. Suara nyaring dari arah bawah terdengar menelusup lubang telingaku.

Tang. 

Bunyi benda tumpul diketok pada pegangan tangga. Berkali-kali bunyi itu menggema. Dan siapapun pelakunya, bunyi teratur ketukan yang merambat dari pelan menuju cepat adalah keniscayaan dari ulah setan. 

Terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama tak menguntungkan. Itulah diriku sekarang. “Andiiii…” suara parau bersahut-sahutan dengan suara ketukan. Bulu kudukku meremang. Air mata mulai menggenang di sudut mataku. 

Aku hampir kehabisan akal dan napas. Sungguh aku tidak tahan lagi. Aku terisak-isak dan frustasi meratapi kesialanku. Tak lama kemudian aku jatuh terduduk di anak tangga.

Tiba-tiba ada seorang yang menepuk pundakku. Aku terkejut dan mendongak. 

“Mbak Andi, kok ada di sini?” Yogi memasang wajah keheranan.

Rasanya lega sekali melihat wajah office boy kantorku yang tetiba hadir berdiri di depanku. Tanpa sadar aku langsung memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Ia menemaniku menuju ke arah ruangan kantorku. 

Membantuku memulihkan ketenangan dengan mengusung segelas air mineral dan membiarkanku duduk sambil membenamkan kepala di antara lipatan tangan di atas meja. 

Setelah ketakutanku surut, aku menceritakan semua kejadian horor yang menimpaku. Ia menimpali ceritaku dengan anggukan dan senyuman tenang. Tak ada jejak kengerian sedikitpun. Aku menduga ia telah terbiasa dan bernyali tinggi. 

Menurutnya, kejadian yang menimpaku itu bukan yang pertama kalo terjadi. Ia memberi saran kepadaku untuk segera pulang sebelum jam dinding berdentang dua belas kali. Aku mengecek arloji. Jam dua belas malam? Itu berarti dua menit dari sekarang. 

“Emangnya kenapa Gi, kalo jam dua belas malam?” tanyaku gamang.

“Jangan sampe mbak.. bahaya. Biasanya jam dua belas malam itu waktunya mbak kunti ungu keluar.”

“Oh ya? Gawat. Kalo gitu, kita harus cepat pergi Gi, semenit lagi jam dua belas pas.” 

Napas memburu tergesa-gesa, aku langsung menyambar tas dan barang-barang pribadiku. Saat sedang sibuk bersiap-siap aku tak mempedulikan gumaman Yogi. Sekilas ia mengomel-omel pelan. Entah apa yang dikatakan aku tak memperhatikan. 

Pada tarikan panjang yang ketiga. Dalam posisi membungkuk untuk mencabut kabel power komputer di bawah meja, ekor mataku mematuk keganjilan pandangan. Sepasang kaki yang kurus dan basah. Basah oleh cairan merah yang meleleh perlahan. 

Belum seberapa tersadar, aku mematung sembari mengerjap. Memastikan bahwa aku tak sedang berhalusinasi. 

Detik kelima saat hidungku mencium bau anyir aku tersentak. Kepalaku spontan membentur meja bagian bawah. Aku meringis kesakitan sekaligus ketakutan begitu satu tangan menarik kain bajuku. Empat roda kecil di bawah kursiku bergerak mundur perlahan. 

“Tolong aku…” kata sosok yang berbaju ungu kusam dengan lirih.

(END) 

Thread By @1nl4nd3r

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *