RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Liburan Membawa Petaka – Jangan Ikuti Aku –

Hai pembaca, balik lagi dengan aku admin magang alias mimin di thread horor aku yang siap nemenin malam-malam horor kalian semua. Pada cerita horor kali ini aku dapat dari narasumberku yang merupakan teman SMA aku yang kebetulan kita kuliah di kota yang sama,

tapi aku sama dia beda kampus dan kita ketemu hanya sesekali pas nongkrong atau pas ajojing hehehe

Saat aku hubungi dia lewat whatsapp, dia tertarik juga untuk menceritakan pengalamannya yang pernah di post pada story IG pribadinya.

Hanya saja mungkin sebagian ceritanya dia agak sedikit lupa, karena kejadiannya itu sekitar tahun 2016 akhir.

Cerita ini terjadi di tempat wisata bersejarah yang mungkin banyak orang pernah berkunjung kesini, letaknya tidak jauh dari Jogja.

Yaap, kota Semarang yang identik dengan wisata horornya itu beberapa tahun silam dikunjungi oleh narasumber dan teman-temannya.

Namun bukan keasyikan dan keseruan dari pengalaman berlibur yang mereka dapatkan,

tapi pengalaman mistis dan menegangkan yang mereka bawa saat kembali lagi ke kota Jogja.

Sebelum memulai cerita ini, aku ingin mengajak kalian yang mungkin peka dengan hal-hal tersebut dan memiliki kekurangan untuk melihat sosok lain,

nanti bisa ikut melihat ada sosok apa saja yang berada di foto yang dikirim oleh narasumber yang sempat berfoto di beberapa spot pada bangunan ini, katanya sih banyak sosok belanda disini. Tapi aku yang tidak peka sama perempuan, eh sama sosok itu ya lihat fotonya biasa saja.

Oke twips, itu adalah pembuka dari cerita horor ini. Cerita yang mungkin dirasakan juga sama kalian yang pernah berkunjung ke tempat ini.

Sampai jumpa di malam ju’mat besok yaa, see yaaw ^.^

Jangan lupa RT dan like yuk biar makin banyak yang baca ceritanya.. Sugeng dalu 🙏🙏

Hai para pembaca, aku Ari. Sudah siap membaca cerita pengalaman liburanku di kota wingko nanti malam?

See you di jam 20.00 wib nanti yaaa.. Yukkk RT dan like cerita ini biar makin seruuu 😄🙏

#threadhorror #threadhoror #bacahoror #bacahorror

Bismillah.. Ini cerita pengalaman mengegangkanku selama aku liburan di kota wingko. Selamat membaca 😊

– Jangan Ikuti Aku –

#bacahoror #malamjumat #jogja #threadhoror

Hallo, perkenalkan nama aku Arianti, teman-teman kuliah aku sering memanggilku Ari.

Sebenarnya aku agak risih sih dengan panggilan ini, karena nama panggilanku identik dengan gender lelaki. Tapi karena teman-temanku terbiasa dengan panggilan ini ya aku terima saja.

Sebelumnya, beberapa bagian dalam cerita ini diambil dari sudut pandang aku dan beberapa sudut pandang teman-temanku, terutama saat aku mengalami gangguan di tempat itu.

Saat ini aku berusia 25tahun, dan aku sekarang kerja di salah satu butik kerajinan batik dan pusat oleh-oleh di kota kelahiranku, Cirebon.

Aku memang orangnya sensitif tentang hal mistis, dan karena kekurangan aku ini, aku sering merasakan badanku dikendalikan oleh mereka.

Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk kuliah di Jogja, karena pikirku aku bisa tinggal dengan saudaraku disana.

Selain itu juga aku memang suka dengan suasana kotanya yang asri dan tentram. Lalu aku kuliah di salah satu kampus swasta di kota #jogja.

Dan selama kuliah dijogja aku tinggal bersama saudaraku di salah satu perumahan daerah jalan Godean.

Di perumahan ini banyak juga rumah yang dijadikan kos-kosan atau disewakan buat mahasiswa, pekerja dan pasutri, seperti rumah disebelahku ini yang dijadikan kos-kosan cewe.

Jadi menurutku suasana perumahannya ga terlalu horor seperti perumahan lainnya yang pintunya selalu tertutup hehehe

Okee, Singkat cerita setelah aku kuliah di Jogja dan udah lumayan lama tinggal disini, aku akrab dengan beberapa penghuni kos samping rumahku-

namanya anak rantau pasti pergaulannya luas, apalagi buat anak cewe. Dan di komplek ku ini aku punya genk main yang sering nongkrong bareng, jalan-jalan, dan lainnya.

Karena udah lumayan lama kenal jadi udah seperti keluarga ke sekian buat aku.

Sebelum cerita mistis di kota Semarang ini aku alami, aku juga sering mengalami ketempelan atau sering dikasih tau sosok yang tiba-tiba muncul.

Seperti cerita ini, saat aku sedang main ke apartemen temenku di daerah seturan, disitu aku bersama Roby, Mutia dan Tofan-

-baru selesai berenang sekitar jam 6 sore. Saat kami berempat sedang asyik ngobrol di pinggir kolam, samar-samar dari kamar atas aku melihat sosok wanita yang melirik ke arah kami. Awalnya tak aku hiraukan sosok itu, karena memang yang peka disitu cuma aku,

dan saat itu cuma Mutia yang paham gerak gerikku saat aku tau ada sosok lain disekitar kita. Sosok wanita cantik yang mungkin dulu sebelum bangunan ini ada, dia sudah lebih dulu disini. Tampak dari raut mukanya yang memperlihatkan kesedihan.

Pas aku mau masuk kamar, ternyata sosok itu mengikuti aku sampai ke kamar temanku. Disaat bersamaan muncul wangi bunga melati dan bau seperti dupa yang sangat menyengat di hidungku.

Lalu kata temanku setelah itu aku tak sadarkan diri sampai jam 3 pagi.

Disitu teman-temanku panik, karena tidak tau apa yang harus mereka lakukan, sosok lain pun bergantian keluar masuk ke tubuhku. Kata mereka ada sosok yang masuk ke badanku, kemudian aku menari.

Sosok wanita menari itu seakan mengajakku menari mengikutinya. Aku tak tahu berasal dari mana sosok ini, ntah dari bangunan ini atau sekedar lewat lalu singgah.

Mereka semua ketakutan disitu. Mau lari tapi kasihan melihatku seperti itu apalagi kalau ditinggal sendirian.

Aku baru sadar total ketika adzan subuh berkumandang, dan teman-temanku rela ga tidur untuk menjagaku yang daritadi sore dimasukin sama banyak sosok.

Ketika matahari terbit kami semuanya baru bisa tertidur. Badanku rasanya tidak karuan, rasa capek seperti orang bekerja seharian.

“Oh my god…” gumamku dalam hati.

Aku pun pulang ke rumah saudaraku sore hari dianter Mutia. Besoknya aku main ke apartemen itu lagi ternyata sosok itu sudah tidak ada. Bagi orang yang mengenalku dekat, mungkin sudah tidak heran lagi kalau aku merasakan hal seperti itu,

karena bukan sekali dua kali saja aku merasakannya.

Termasuk genk di komplekku yang sering main sama aku. Saat itu memang sedang libur kuliah, jadi aku punya banyak waktu untuk main dengan teman-temanku.

Sampai pada suatu hari, genk di komplekku mempunyai rencana untuk berlibur ke kota Semarang.

Setelah sepakat menentukan hari, akhirnya kami berangkat ber 9 orang. Aku, Cheesa, Dhira, Dinar, Tomi, Luki, Mutia, Roby dan Tofan. Kami berangkat dari Jogja menggunakan 2 mobil pribadi.

Dimobilku ada Aku, Mutia, Luki, Dhira, dan Tomi. Sedangkan mobil yang satunya di isi Roby, Dinar, Cheesa, dan Tofan.

Dari Jogja kami berangkat jam 4 subuh, kami memilih rute lewat Magelang supaya pemandangan asri pedesaan yang sejuk terasa,

dan karena jam segitu jalanan masih lengang jadi jarak tempuh kami kurang lebih 3 jam saja.

Sesampainya di kota wingko ini, kami langsung meluncur ke kuil sam poo kong sambil nunggu jam check-in hotel yang kami pesan.

Wajah kusam dan lelah menghiasi raut muka aku dan teman-temanku. Sebenarnya tadi sempat berhenti di pom bensin daerah ambarawa untuk sekedar bersih-bersih badan dan sebagian ada yang makan untuk mengisi perut.

Panas terik menyinari kota Semarang waktu itu,

saat ku lihat jam ternyata sudah jam 11 siang.

Karena hotel kami berada di area simpang lima, jadi aku berinisiatif untuk mengajak teman-temanku menuju ke hotel saja dulu untuk mandi dan beristirahat sebentar.

“Eh, sudah jam segini nih. Mending kita ke hotel sekarang aja yuk, biar bisa rebahan sebentar.” teriakku pada mereka.

“Aku sih ayo aja, yang lainnya gimana?” jawab Roby

“Gimana pak sopir? Anda lelah?” kata Mutia kepada Tomi sambil bercanda.

Oke tanpa basa-basi lagi, kami semua langsung meluncur ke hotelnya. Suasana perkotaan Semarang yang cukup padat membuat kami agak lama sampai di hotel.

Sesampainya di hotel kami semua langsung bersantai di kamar, ada yang makan sambil merokok di balkon depan kamar,

ada juga yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Aku yang merasa punggungku capek, langsung saja berbaring dikasur. Kami memesan 2 kamar, yang cowo dan cewe dipisah biar engga dosa hehehe

Hari pertama di kota Semarang kami jalan-jalan keliling kota, menikmati indahnya lampu perkotaan berwarna-warni sambil bercanda.

Sampai rasa lapar datang, lalu Tomi mengajak kami makan soto semarang di sekitar simpang lima.

“Kalian pada laper ga? Diem-diem bae” tanya Tomi sambil bercanda.

“Yaa, laper laah. Dihotel tadi kita cuma ngemil doang, Tom.” jawab Mutia.

“Aku ada tempat makan enak nih.” seru Tomi.

“Dimana tuh, Tom? Ngikut aja aku mah.” tanya Dhira penasaran.

“Soto semarang pada mau ga?” ajak Tomi.

“Yuk, yuk.. Gas laah langsung. Nanti juga mobil belakang ngikut aja.” teriakku

Lalu kami pun langsung menuju ke tempat makan yang Tomi maksud. Sekitar jam 7 malam kita semua makan,

kemudian selesai makan kami berniat nongkrong di kota lama semarang.

Katanya sih bagus kalau malam hari, ditambah lagi dengan ornamen-ornamennya yang bernuansa eropa.

Oke, tanpa pikir panjang kami langsung meluncur kesana.

Setelah puas berfoto-foto dengan spot bangunan tua disana, aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang kembali ke hotel karena waktu udah menunjukan jam 9 malam.

Tapi sewaktu di perjalanan, Luki punya ide yang menurutku ide gila yang membuat kami semua mendapat imbasnya.

“Eh masih jam segini nih, gimana kalau kita wisata malam ke lawang sewu? Kayaknya seru tuh.” kata Luki kepada kami.

“Wah gila kamu, yakin mau kesana sekarang?” tanya Mutia dengan raut takutnya.

Karena sebenarnya mereka sudah paham kalau beberapa diantara kami ada yang peka sama hal begitu. Jadi mungkin Luki tertarik dengan sosok-sosok apa saja yang ada di bangunan belanda itu.

Aku yang sering mendengar cerita mistis tentang bangunan tua itu-

-dari orang-orang pun sedikit was-was. Karena takutnya kita bisa masuk, tapi tidak bisa keluar.

Namun hal itu coba aku singkirkan, karena niat kami disini untuk berlibur jadi ya aku iyakan saja ajakan itu.

Saat sampai di lawang sewu, aku sudah mulai di sambut sama sosok yang berdiam diri di rangkaian kereta api depan bangunan tua itu.

Sosok wanita belanda dengan baju putih dan sosok anak kecil itu memperhatikan kedatangan aku dan teman-temanku.

Duh, mohon maaf twips gara-gara cuaca ujan tak kunjung berenti semalem ketiduran 😂

Buat yang request thread siang hari, aku lanjutin ceritanya yaa ^_^

Bismillah…

#threadhoror #bacahoror

Namun tak lama sosok itu menghilang, mungkin dia hanya penasaran dengan kedatangan kami.

Setelah menanyakan wisata malam disana, akhirnya kami sepakat untuk ditemani guide. Akhirnya penjaga loket pun mencarikan kami guide.

Lama kami menunggu di loket, kemudian saat penjaga loket itu kembali menghampiri kami, dia berkata bahwa guide yang ada sedang berhalangan untuk menemani kami.

Lalu tak lama kemudian penjaga loket itu bilang kalau dia akan mencarikan guide pengganti.

Kami mengiyakan saja, karena kami sudah terlanjur membayar tiket masuk.

Tiba-tiba dari arah belakang kami dikejutkan dengan bapak-bapak berpakaian seperti warga lokal sini dan membawa senter.

“Bapak tour guidenya?” tanya Robi pada bapak-bapak itu.

Hanya anggukan kecil dari bapak itu yang menjawab pertanyaan Roby. Tapi syukurlah kami tidak menunggu lama lagi untuk segera masuk ke bangunan ini.

Namun perasaanku agak tidak enak, karena dari kemunculannya saja bapak itu sudah misterius.

Tapi akhirnya kami semua mulai masuk ke lawang sewu, dan setelah bapak itu mulai menjelaskan tentang sejarah bangunan ini, aku pun agak sedikit lega.

Akan tetapi dengan tatapan kosong bapak itu melihatku, aku yang dari awal sudah merasakan hal yang tidak enak semakin was-was.

Setelah berkeliling beberapa ruangan di bangunan itu,

akhirnya kami diajak ke ruang bawah tanah yang menurut ceritanya disini dulu dipakai untuk penjara tawanan jaman penjajajan. Memang benar, hawa disini sedikit berbeda, aku dan teman-teman yang peka merasakan banyak energi yang berbenturan dengan kami.

Aku, Dhira, Cheesa, dan Dinar sudah merasakan hal yang tidak biasa. Tiba-tiba saat aku melihat kaki Cheesa, disitu ada sosok yang memegangi kakinya, tapi aku tidak berani untuk berbicara ditempat itu.

Lalu diikuti Roby dan Mutia yang bilang katanya mereka agak pusing disini.

“Eh bentar-bentar.. Aku agak pusing nih. Berhenti dulu yuk..” kata Mutia kepada kami.

Akhirnya, kami memutuskan untuk berhenti sejenak disitu sambil mengambil beberapa foto juga ditempat itu.

Keanehan pun muncul, tour guide yang berada tepat di belakang kami saat di foto tidak kelihatan, ah mungkin tertutup sama bayangan kami saat itu. Aku masih berfikir positif saja.

Setelah puas berkeliling ruang bawah tanah, hal yang sangat menegangkan pun terjadi.

Diawali dengan Dhira, yang tiba-tiba berhenti jalan lalu melihat kami dengan tatapan kosong. Teman-teman yang lain coba bertanya pada Dhira.

“Kenapa kamu, Dhir?” tanya Luki.

“Dhira gapapa?” disusul kami yang ikut menanyakan hal sama pada Dhira.

Dia hanya diam saja, tak lama berselang Cheesa tiba-tiba terjatuh pingsan. Tofan yang berada dibelakangnya langsung sigap pasang badan.

“Wah, makin ga beres nih.” umpatku dalam hati.

Lalu Tomi bilang kalau kita mending keluar saja dulu.

Akhirnya aku, Luki dan Mutia membantu Dhira berjalan keluar. Sedangkan Tomi, Roby dan Tofan membopong Cheesa yang masih belum siuman. Dinar membantu membawakan barang yang dibawa oleh Cheesa.

Dan saat kami sudah berada di luar, Tomi, Roby dan Tofan merasakan pusing dan merasa badan Cheesa semakin berat.

Dinar pun ikut kemasukan, disusul aku yang merasakan badanku seperti menggendong sesuatu. Disitu aku langsung tak sadarkan diri.

Suasana semakin mencekam, saat Tofan dan Tomi menengok ke belakang. Ternyata guide yang sedari tadi ikut sama kami tiba-tiba menghilang.

Disitu teman-temanku panik, aku, Dinar, Cheesa dan Dhira sudah mulai di rasuki makhluk lain dari bangunan ini.

Luki dan Mutia saat itu langsung kepikiran untuk menghubungi ayahku.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 11 malam, lama Luki menelpon ayahku akhirnya di angkat juga.

“Halo assalamualaikum.. Kenapa neng?” tanya ayahku dari ujung telepon.

“Ini Luki om, temennya Ari. Om, maaf ganggu malam-malam. Ini kami lagi di lawang sewu. Tiba-tiba kami digangguin sama penunggu sini.” ucap Luki menjelaskan kejadian itu pada ayahku.

Luki menceritakan keadaan kami saat itu pada ayahku.

Bisa dibilang ayahku ini orang yang paham akan hal itu, dan kalau sedang diganggu pasti ayahku yang bertindak.

Saat ayahku membacakan beberapa doa, tiba-tiba mata Cheesa terbuka. Dia melotot ke arah Tomi, Roby dan Tofan. Mereka jelas ketakutan melihat tatapan Cheesa.

Tak lama Cheesa tersadar, sosok yang berada di badan Cheesa sudah hilang. Namun saat sadar Cheesa merasakan kakinya masih berat.

Aku, Dhira dan Dinar masih mengalami gangguan, saat itu aku menangis, mungkin sosok yang berada dibadanku ingin berkomunikasi.

Lalu ayahku bilang, “Bawa pulang ke Jogja saja dulu. Nanti biar om nya Ari yang mengobati disana.” ucap ayahku.

Dinar dan Dhira semakin menjadi, banyak sosok yang bergantian masuk ke badan mereka. Aku yang masih menangis tiba-tiba pingsan.

Teman-teman yang lain semakin kebingungan.

“Yakin kita mau pulang ke Jogja dengan keadaan seperti ini?” tanya Tomi.

“Tadi ayahnya Ari bilang gitu, Tom. Mau nekat aja? Aku sih kasihan melihat mereka seperti ini.” jawab Roby.

Cheesa yang sudah sadarkan diri tadi, dia merasa ada anak kecil disampingnya.

Akhirnya, teman-temanku nekat untuk pulang ke Jogja malam itu juga. Tofan dan Tomi menyusun rencana untuk kembali ke hotel mengambil barang-barang kami yang berada disana.

“Yaudah, kita bagi tugas aja. Aku, Mutia sama Tomi ke hotel ngambil barang. Kalian disini aja jagain mereka.” kata Tofan.

“Iya, siapa tau nanti kita jalan keluar ketemu sama penjaga loket itu.” ucap Tomi.

Lalu Tofan, Mutia dan Tomi berjalan keluar untuk kembali ke hotel mengambil barang-barang kami. Roby, Luki dan Cheesa tetap stay disini.

Luki yang jagain aku dan Dhinar, katanya saat aku menangis, tiba-tiba aku membuka mata dan sambil menunjuk ke arah ruang tengah.

Cheesa saat itu melihat sosok perempuan belanda berjalan ke arah kami. Tak lama Roby mendengar suara lirih orang minta tolong.

Sosok perempuan belanda yang di lihat oleh Cheesa tiba-tiba hilang, di sisi lain Dinar terlihat menangis sambil memukul tangannya.

Tak lama berselang, Tomi, Mutia dan Tofan kembali lalu langsung kami bergegas untuk pergi dari bangunan itu. Bayangin, selama di perjalanan kami tidak henti-hentinya mendapat gangguan. Aku, Dinar, dan Dhira yang masih kerasukan tiba-tiba teriak lalu menangis.

Hal itu bergantian terus menerus di dalam mobil.

Lalu saat sampai Jogja, om ku langsung memanggil pak ustad yang merupakan guru spiritualnya. Disitu pak ustad sudah kaget ketika melihat kami yang ternyata di ikuti puluhan sosok dari bangunan tua itu.

“Wah pak. Mohon maaf kalau sebanyak ini rasanya mustahil kalau tidak diobati sama kuncennya.” ucap pak ustad itu.

“Lalu baiknya gimana pak ustad? Apa kita harus kesana untuk nemuin kuncennya?” tanya om ku.

“Ga usah, nanti saya menghubungi temanku yang punya kenalan kuncen disana.” jawab pak ustad kepada kami.

Lalu, terlihat pak ustad pun mencoba untuk menguhubungi salah satu rekannya dan menjelaskan kejadian yang dialami oleh kami.

Kemudian terdengar pak ustad menyuruh rekannya untuk membawa kuncen itu datang ke Jogja.

Akhirnya, tanpa pikir panjang rekan dari pak ustad itu datang ke rumah sang kuncen lalu berangkat ke Jogja.

Saat itu waktu menunjukkan hampir subuh. Namun aku, Dhira dan Dinar belum sadar juga. Tiba-tiba Cheesa kembali dirasuki oleh sosok anak kecil, lalu Cheesa tertawa-tawa kecil.

Teman-temanku yang melihat itu semakin bingung,

sedangkan pak ustad masih berusaha untuk membersihkan satu persatu sosok yang mengikuti kami. Terlihat om ku berbincang dengan ayahku lewat telepon. Lalu tak lama berselang, Luki ikut kemasukan juga. Dia menangis lirih saat itu.

Suasana pun semakin panik, karena tak ingin lebih banyak lagi sosok yang datang. Akhirnya pak ustad memutuskan untuk memagari rumah omku dibantu dengan ayahku yang berkomunikasi dengan sosok yang mengikuti kami dari jauh.

Sekitar jam 6 pagi, rekan pak ustad dan kuncen dari lawang sewu datang. Mereka heran, kenapa bisa sebanyak itu makhluk yang ikut kesini. Lalu kuncen itu langsung tertarik dengan aku.

“Kalian disana ngapain saja?” tanya pak kuncen.

“Awalnya kami berkeliling biasa, lalu kami di ajak ke ruang bawah tanah sama tour guidenya. Nah, dari situ satu persatu dari kami mulai kerasukan dan tiba-tiba guide itu menghilang.” jawab Tomi yang coba menjelaskan pada pak kuncen.

“Itu bukan manusia.” ucap pak kuncen tersebut.

“Maksudnya bukan manusia gimana pak?” tanya om ku.

“Guide itu jelmaan dari bangsa jin.” jawab pak kuncen itu.

Lalu kami yang mengalami gangguan bisa kembali sadar selepas dzuhur.

Saat itu aku merasakan badanku rasanya tidak karuan. Saat membuka mata, aku melihat banyak orang berkumpul mengelilingiku.

Ku lihat tanteku, sepupuku, dan teman-teman lainnya berkaca-kaca matanya melihat ke arah aku, Dhira, Dinar, Cheesa dan Luki.

Lalu kuncen itu berkata,

“Banyak sosok yang tertarik pada kalian, terutama anak ini. Sebaiknya kalian tidak usah kembali ke Semarang dulu untuk sementara waktu atau mungkin untuk jangka waktu setahun ini.” kata pak kuncen sambil menunjuk aku.

“Aku? Kenapa memangnya dengan aku? Kenapa sosok itu tertarik padaku?” tanyaku dalam hati.

“Memang kenapa pak?” Roby coba bertanya pada pak kuncen itu.

“Agar sosok yang mengikuti lupa, karena kalau kalian kembali kesana terutama ke lawang sewu, tidak menutup kemungkinan kalau kejadian yang lebih besar bisa terulang lagi. Bahkan bisa membahayakan nyawa kalian.” ucap pak kuncen itu menjelaskan.

Semenjak kejadian itu, kami yang kemarin berkunjung ke semarang mengikuti saran pak kuncen untuk tidak berkunjung ke semarang apalagi ke lawang sewu. Ini saja sudah puluhan yang ikut, kalau kami kesana lagi bisa-bisa jumlahnya lebih banyak dari ini.

Sore harinya, om ku mengantar kuncen itu kembali ke kota Semarang. Sebelum pergi kuncen itu berpesan kepada kami,

“Kalian kalau di dalam hati sudah tidak yakin, sebaiknya jangan kalian teruskan. Karena bahaya bisa datang dari arah mana saja.” ucap kuncen itu kepada kami.

Lalu pak kuncen itu pulang ke Semarang dianter om ku dan rekannya pak ustad. Disitu kami mulai bercerita-cerita tentang hal yang dirasakan selama berada di lawang sewu.

Saat aku melihat banyak sosok orang yang di pasung, sosok anak kecil yang di lihat Dhira,

sosok perempuan belanda yang di lihat Cheesa dan banyak sekali sosok tawanan terutama sosok yang memegang kaki Cheesa waktu di ruang bawah tanah.

Namun dari kejadian itu, hanya Mutia saja yang sama sekali tidak mendapat gangguan.

Memang awal kami masuk ruang bawah tanah, Mutia sempat merasakan pusing. Mungkin saat itu dia mendapatkan benturan energi disitu. Tapi ada satu sosok yang menyukai Mutia, dan mungkin sosok itu yang menjaga Mutia waktu itu.

Sampai saat ini aku masih tidak berani untuk kembali lagi ke lawang sewu. Mungkin kalau untuk tujuan wisata ke tempat lain aku masih berani.

Cerita menegangkan sekaligus mencekam, dimana harusnya kita menikmati liburan di kota itu, malah mendapatkan oleh-oleh yang luar biasa.

Mungkin bagi sebagian orang yang peka dan dapat merasakan energi yang kuat disana, sebaiknya jangan kalian teruskan.

Karena siang hari pun, kalian bisa merasakan kesedihan, kepedihan, rasa sakit dan ketakutan, terutama di ruang bawah tanah bangunan ini.

Memang aku tidak berada dalam masa itu, tapi merasakan diruangan itu penuh sesak oleh orang-orang yang disiksa dan dibiarkan meninggal disana.

Akhir kata, aku ucapkan banyak terimakasih kepada penulis dan pembaca khususnya.

Mungkin beberapa detail bagian dari cerita ini aku agak sedikit lupa. Namun disini sudah cukup jelas menggambarkan keadaan kami saat di lawang sewu.

Terimakasih semuanya^_^

A thread horror

Liburan membawa petaka

– Jangan Ikuti Aku –

Selesai –

Keterangan narasumber mengenai ceritanya saat itu, seakan mentrigger ingatannya di lawang sewu hehehe

Terimakasih para pembaca yang sudah bantu share cerita ini, semoga apapun yang tulis dalam cerita ini dalam menambah wawasan horor kalian tentang suatu tempat atau kota ya..

Sugeng rahayu 🙏

Thread By @bewokcubby

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *