RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Magang Kuliah Hampir Tersesat Di Sarajana

“Andai saja telat bapaknya, gak ke bayang nasib kita berdua seperti apa. Karena di ujung pemukiman itu jarak dari kantor FGS gak jauh dari lokasi Saranjana.”

Halo… ini adalah pertama kali aku cerita tentang pengalaman pribadiku yang pernah aku alami di tahun 2021 lalu, pada saat magang kuliah. Ceritanya aku hampir saja kesesat masuk ke kota ghaib saranjana setelah melihat kuyang terbang. 

Jadi ceritanya, aku dan teman satu angkatan mau magang selama 2 bulan di desa pedalaman di kotabaru, banjarmasin, kalsel. Nah kebetulan kami berempat cewek semua. Gak ada cowoknya. Padahal aku sangat berharap ada cowok walaupun cuman 1 saja gpp biar ada yang bisa di andelin. 

Jarak perjalanan ke kotabaru cukup lama juga. Kurang lebih 8-9 jam-an dari banjarbaru ke kotabaru. Untuk transport, kami menggunakan mobil travel yang sudah kami sewa sebelumnya. 

Pada saat sampai di daerah batulicin, kami harus menyebrang menggunakan kapal ferry untuk nyebrang lautan dan memakan waktu 1 jam lebih. Setelah sampai di pelabuhan Tanjung Serdang, kami lanjut ke kantor utama PT. Dan jaraknya kebetulan gak terlalu jauh, sekitar 20 menitan. 

Dan ternyata deket dengan bandara kantornya itu. Tapi agak masuk ke dalam dan sepi. Aku kira persis depan bandara, eh ternyata enggak. Ya sudah aku positive thingking saja. Dan kagetnya, tanpa di duga-duga lokasi magang yang sebenarnya itu bukan di situ, melainkan di Semaras dan Tanjung Seloka. WAW ada 2 lokasi. Berhubung kami sampainya sore, jadi kami menginap di mess kantor utama. 

Besoknya, kami berangkat siang setelah ijin dengan manager utama untuk menuju lokasi tempat magang. Jadi kantor utama ini terbagi 3 kantor. FGS1, 2, dan 3. Yang mana masing-masing punya manager sendiri. Untuk menuju lokasi tersebut memakan waktu selama 3 jam perjalanan. 

Dari awal perjalanan aku sudah ngucapin salam/permisi itu. karena kalo orang banjar bilang, “Jangan kada ingat bepermisi be assalamu’alaikum sama orang sebalah dan bertawakal meminta perlindungan sama Allah, agar gak di ganggu sama makhluk halus.” 

Ya kami sebagai pendatang, gak ada salahnya juga nglakuin hal tersebut. Dan apa susahnya juga cuman bilang “permisi/salam” walaupun cuman dalam hati. Itu sudah lebih dari cukup kok. ibarat kita berkunjung ke rumah orang lain pasti ngucapin salam. Nah sama halnya ketika kita memasuki wilayah khususnya pedalaman dan ini merupakan salah satu keyakinan masyarakat banjar dan aku juga meyakininya. 

Kalo gak ada salah nya juga kita sebagai manusia mahluk hidup yang di ciptakan Tuhan saling menghargai dan menghormati satu sama lain walaupun beda alam, terlepas dari konteks agama dan keyakinan, karena percaya gak percaya, nyatanya mereka memang ada. 

Setibanya, aku berdecak kagum. “Oh, ternyata di dalamnya lumayan banyak karyawan.”

Jadi di sana banyak karyawan yang tinggal karena dari perusahaan tersebut menyediakan perumahan untuk mereka. Aman lah kalo begitu. Kondisi Mess yang kami tempati bisa di bilang kurang, karena bangunan rumahnya sudah tua. Di belakang Mess banyak pepohonan. “Okelah kalo siang. Tapi kalo malam beda cerita.” 

Lebih kagetnya ketika kami di kasih tahu sama ibu yang mengurus Mess, kalo untuk malam, di sini gak ada lampunya. Alias listrik di jadwal dari jam 6 sore-10 malam. Tapi untungnya untuk jaringan gak terlalu susah, masih bisa untuk WA-nan. 

Dan untuk jam makan malam, kami harus jalan kaki dari Mess ke tempat makan karena terpisah antara Mess kami dengan yang satunya. Apalagi jalanan gelap dan banyak anjir liar. Terus di sana airnya terbatas dan susah tidur karena mendengar berbagai suara di tambah gonggongan anjing. Benar-benar luar biasa sekali pengalaman kami. Dan pengalaman ini yang tidak akan pernah aku lupakan.

Besok harinya, kami ke kantor FGS 1&2. Perkenalan mahasiswa lalu membuat jadwal selama magang. Apa saja yang akan di lakukan, tahap proses magang dan lain sebagainya. Dan tak lupa, kami memberitahu keadaan Mess yang kami tempati. Dan bersyukurnya, karyawan di sana itu baik-baik, jadi kami berempat di pindahkan ke Mess yang lebih bagus. 

Lalu, selang beberapa hari, kami di kasih tahu sama bapak-bapak FGS1, bahwa Mess yang kami tempati sekarang itu, sering terjadi hal-hal aneh kepada pengunjungnya. Contoh seperti ada suara orang mandi, nangis, jalan dll. Tapi alhamdulillah kami bersyukur gak ada terjadi apa-apa selama di Mess tersebut.

Setelah selesai di FGS 1&2, kami lanjut ke FGS 3, yang mana lokasinya pindah lagi dari Semaras – Tanjung Seloka. Untuk kondisi jalan di sana banyak pepohonan dan untungnya kami ke sana naik mobil perusahaan. Sebenarnya lewat luar bisa tapi memakan waktu yang lebih lama, akhirnya kami lewat dalam hutan yang lebih cepat. 

Sesampainya, kami senang, kenapa?

karena ternyata kami di bolehin tinggal di penginapan Bapak manager FGS 3. Benar-benar baik orangnya. Dan keuntungan di sini, listrik nyala dari jam 6 sore sampai pagi. Setelah itu baru padam. Hanya saja di sini untuk jaringan jauh lebih susah. 

Singkat cerita, setelah beberapa hari di kantor, kami di ajak sama karyawan kalo di sana ada pasar malam rabu. Katanya cuman seminggu sekali doang. Ya sudah, yang lain pada setuju karena di ajak dan penasaran “Kek gimana, sih?” 

Menjelang maghrib, gerimis tuh. Yang awalnya antusias, ntah kenapa aku berharap gak jadi berangkat. Berharap hujannya lebat biar gak jadi. Tapi sebelum berangkat ini, feelingku sudah gak enak banget. Pengennya gak jadi ikut. 

Tapi gak enak juga kalo tiba-tiba bilang begitu sama yang lain. Ya sudah terpaksa dengan keadaan masih gerimis, kami berangkat. Di perjalanan, jalanannya tuh gelap banget. Penerangan cuman dari motor dan lampu dari rumah warga. Dan itu cuman di awal-awal ajaa. 

Setelah itu, rumah penduduk gak ada alias benar-benar di tengah hutan dan gelap. Pas kami sampai, ternyata banyak yang gak jualan, sepi. akhirnya kami cuman sebentar dan gak lama kami balik pulang melewati rute yang sama. 

Pas mau pulang, bener-bener makin tambah gak enak feelingku. Tapi aku berusaha nenangin diri. Selama di perjalanan, temenku ngajak bicara terus, ya aku jawab iya iya ajaa.

Terus dalam ati, tiba-tiba kayak ada yang bisik begitu. “Jangan tengok ke atas…jangan tengok ke atas” 

Eh karena penasaran, aku malah nengok ke atas.

Ssettt…..

Ada yang terbang di atas!! Seketika aku langsung diam tapi aku berusaha untuk fokus karena lagi nyetir. 

“Bentar, tadi yang terbang nyala-nyala tadi apa yak? Gak mungkin malam-malam ada burung segede itu dan panjang?” aku mbatin gituu.

Karena aku masih penasaran, takutnya salah liat atau apa, jadi aku lihat lagi dong untuk ke dua kalinya. 

Dan ternyata benar! Aku gak salah lihat kalo memang ada yang terbang. Aku sadar kalo itu “KUYANG”

“Temenku lihat gak, ya?” aku masih mbatin.

Tapi anehnya, temenku yang aku boncengin ini gak respon alias gak ngomong aneh-aneh. Karena dia lagi asyik cerita. Berarti dia gak lihat. Ya sudah, aku pura-pura gak terjadi apa-apa. Walaupun nyaliku sudah ciut banget malam itu. Selama perjalanan, aku berusaha setenang mungkin, ntar kalo udah nyampe, baru deh cerita. 

“Guys, di belakang ada orang, gak?”

“Gak ada.” Jawab temenku yang aku bonceng.

“Haa! Gak ada! Lha terus yang aku lihat cahaya di spion motor apa dong!” aku masih mbatin.

Mau noleh ke belakang tapi aku takut jatuh. 

Tiap menit aku tanya itu terus. Ada orang gak di belakang? dan jawabannya sama “Gak ada”

Selama perjalanan memang bener-bener gelap dan kanan kiri pohon tinggi gituu. Jadi nambah serem.

“Kayaknya mereka agak jauh di belakang, deh. Kok gak kelihatan dari tadi.” 

Aku melambatkan laju kendaraan. Di sini aku bawa motornya gak ngebut karena kondisi jalan yang licin. Lurus saja terus ngikutin jalan. Gak taunya kelewatan tanpa di sadari. Karena memang kita berdua gak lihat ada gapura, akses masuk ke tempat Mess kami. 

Dan ternyata, si mas dan bapak karyawan yang tadi juga ikut, pada panik. Mereka ngejar kita dari belakang. Dan kami gak sadar sama sekali kalo ternyata kelewatan.

Kita ngiranya “Yak emangg belum nyampe aja gituu.” Gak kepikiran sama sekali kalo ternyata nyasar. 

Si bapak nya takut kalo kita berdua nyasar ke “SARANJANA” karena di sana tempat orang halus/orang sebelah yang terkenal di Kalimantan Selatan. Karena sebelumnya pernah terjadi beberapa kali. Kalau ada orang hilang secara tiba-tiba. 

Soalnya kalo sudah masuk ke alam sana, bakal susah baliknya. Mungkin ada yang bisa balik tapi ada juga yang gak bisa balik lagi. Konon katanya satu hari di sana sama kaya sebulan di alam nyata. Dan usahakan pas di hutan jangan menggunakan pakaian warna kuning sama merah, karena mereka sangat menyukainya. Untuk membedakan kita dan mereka secara fisik, cukup lihat dari bibir atasnya. Mereka gak punya belahan kayak kita. Terlebih benar atau tidaknya tentang mereka, Wallahualam. 

Pada saat itu bapak takut dan panik banget kalo kita misalkan sampai terjadi apa-apa. Apalagi kami anak magang. Bukan itu saja, bahkan akan menjadi masalah besar bagi perusahaan tersebut. jika benar-benar kejadian. 

Untungnya si bapak sigap dan langsung menghalangi motor kami. Seketika berhenti setelah pundakku di tepuk sama temenku yang bonceng. Andai saja telat kurang 5 menit bapaknya, gak ke bayang nasib kita berdua seperti apa. 

Karena di ujung pemukiman itu jarak dari kantor FGS 3 gak jauh dari lokasi Saranjana. Sebenarnya kami sudah tahu pas kami sampai sana, karena di kasih tahu dan di suruh berhati-hati. Kalo ada hal aneh-aneh, bilang saja. Dan kebetulan di tempat Mess kami juga ada yang jaga tiap malam, jadi lebih merasa lega ajaa.

“Yak namanya di dalam hutan, jauh dari perkotaan. Apa-apa terbatas dan kita gak pernah tahu ke depannya bakal terjadi apa, maka dari itu perkataan dan tindakan harus benar2 di jaga.” 

Kemudian aku dan temenku juga menjelaskan, kalo kita bener-bener gak lihat ada gapura, cuman ada pepohonan sepanjang jalan yang di lewatin. Di situ si bapak bilang, tahun kemarin juga pernah kejadian hal aneh sama anak magang. Dan itu sudah hal yang biasa bagi mereka. 

Terus aku bilang, tadi aku juga ngelihat ada yang terbang nyala sama kejadian kaca spion. Pas di lihat gak ada orang di belakang. Nah itu katanya, mereka sudah mulai ngarahin kita selama perjalanan biar kita ke arah sana dan yang terbang itu memang kuyang. 

(Disitu aku cuman diem, masih gak nyangka aja bakalan kejadian.)

Besoknya, di kantor pada heboh. Sampai banyak yang tanya.

“Mana yang nyasar semalam?”

Ya aku cuman diem dan senyum-senyum ajaa. 

Beliau bilang, di sini harus fokus. Usahakan jangan sampai kosong pikirannya. Terutama pada saat di lapangan dan harus permisi. Kemungkinan ‘mereka’ tertarik sama salah satu dari kelompok kami, makanya mereka hampir saja membawa kita masuk ke alam mereka. 

Atas kejadian itu, aku sangat bersyukur sekali tidak terjadi apa-apa. Walaupun aku dan temenku hampir saja tersesat.

Semoga saja kita terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan dan jangan lupa jaga kesehatan.

Salam rahayu….. 

Thread By @cerita_setann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *