RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Malam Jumat Kliwon

kalau mengingat malam jumat kliwon saya jadi inget salah satu peristiwa yg dulu pernah menggemparkan daerah tempat saya tinggal. tentang khodam hitam yg pasti dimiliki oleh setiap manusia, jadi malam ini cerita sedikit lagi kali ya tentang khodam hitam ini, 

kejadian ini terjadi saat saya masih duduk di bangku sd, waktu itu, pagi-hari, saya bersiap berangkat ke sekolah

jarak antara rumah ke sekolah itu cukup lumayan, ditambah saya jalan kaki, gak punya sepeda karena tahun segitu, sepeda masih menjadi barang yg mewah, gak semua punya 

ada dua jalur yg bisa ditempuh, jalur jalan raya atau jalur menyusuri sungai, kalau saya lewat jalur jalan raya saya harus siap tenaga dan waktu lebih karena jalannya yg memutar, berbeda kalau saya menempuh jalur sungai, lebih cepat karena langsung kearah jalan sekolah. 

hanya saja yg perlu diketahui bila memilih jalur sungai maka kita harus siap melewati kuburan desa, bagi anak seusia saya waktu itu, tentu kuburan adalah tempat yg paling dihindari, karena kita-kita, bocah ingusan masih percaya dengan hal-hal menakutkan yg ada di kuburan. 

termasuk saya, yg sudah sering mendengar mulai dari kelewang (hantu berwujud api), sumur tempat biasa ada kunti sedang duduk, sampai wergol yg tinggal di dalam pohon-pohon bambu, tapi waktu itu entah saya sedang memikirkan apa, saya memilih melewati jalur menyusuri sungai. 

saya masih bisa mengingat jelas, waktu itu desa saya masih sepi, satu rumah ke rumah lain berjarak cukup jauh, bahkan satu RT bisa dihitung berapa kepala keluarga yg tinggal.

bagi mereka yg sering menyimak cerita-cerita saya pasti sudah tidak asing dengan kuburan dan sungai- yg sempat saya bahas beberapa kali di cerita saya yg lain.

nah, di sinilah ada kejanggalan saat saya mulai memasuki area perkuburan, dimana sudah jarang ada rumah lagi yg terlihat, hanya latar tanah yg luas dengan pohon-pohon bambu yg sesekali tertiup angin. 

kejanggalan yg saya maksud adalah tepat di jalur utama disamping gapura kuburan saya melihat banyak sekali orang sedang berkumpul, berkerumun, berdiri memandang sesuatu, saya pun heran, tak biasanya pagi-pagi tempat ini seramai itu, saya pun mendekat, mencaritahu apa yg terjadi.. 

dari ekspresi mereka saya bisa menilai, ada raut heran, ngeri, serta pensaran tergambar jelas di wajah, saya pun nekat, menyusup diantara kerumunan orang tersebut, melihat apa yg sedang mereka saksikan di kuburan ini, sampai, langkah saya terhenti ketika memandang pohon randu… 

di atas pohon randu yg tinggi besar, saya melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pria tua tergantung dengan tubuh melayang-layang..

itu adalah kali pertama bagi saya, melihat seseorang, mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, apalagi, saya mengenal pria tua tersebut, 

rasanya campur aduk, bingung, bagaimana saya harus bereaksi waktu itu.. lalu, ada seorang tetangga yg mendapati kehadiran saya, beliau pun menarik tubuh saya, menutupi mata sebelum membawa saya menjauhi tempat tersebut, saya pun menurut, 

saat kepergian saya dari tempat itu lah, saya sempat mendengar seorang ibu-ibu yg sedang berbicara satu sama lain, mereka menyebut tentang, malam ini adalah malam jumat kliwon.. 

Sial. Tebet tiba-tiba hujan deres lagi, haha.. bingung oi, terabas aja ya.. 

Semua orang tentu tahu, jumat kliwon dianggap sakral oleh beberapa orang jawa terutama mereka yg masih menganut kepercayaan kejawen, kebetulan, waktu itu, desa saya masih dikenal sebagai desa wingit, desa dimana kepercayaan seperti itu masih begitu kental, 

Saya masih mengingat dengan jelas, setelah penemuan gantung diri tersebut banyak warga yg mulai gempar saling berbisik satu sama lain, siapa saja selain keluarga yg mau atau bersedia menjaga makam selama tujuh hari ahli mayit dikuburkan, 

Tentu saja banyak yg menolak dengan berbagai alasan, mulai dari kesehatan, anak yg masih kecil, sampai alasan yg mengada-ada, setelah dilakukan perembungan bersama, akhirnya terkumpul lah dua pemuda dengan pak RT beserta satu anggota keluarga yg bersedia pada malam pertama, 

Sebelum saya lanjutkan, perlu diketahui kalau seseorang meninggal pada jumat kliwon memang harus ada yg menjaga guna menghindari hal yg tidak mengenakan seperti pencurian tali kain kafan untuk ilmu hitam atau berbagai maksud yg tentu saja akan merugikan bagi pihak keluarga 

Malam itu benar-benar terasa berbeda dari malam sebelumnya, angin berhembus lebih dingin, tak ada suara binatang malam sama sekali, sampai firasat yg tidak mengenakan sejak berada di dalam rumah, hal ini tentu membuat semua orang mulai ragu apakah mereka tetap harus pergi.. 

salah seorang dari dua pemuda yg mendapat tugas tersebut sebut saja, gogon, beliau sebenarnya ingin menolak saat itu namun salah satu anggota keluarga almarhum adalah sahabat karibnya sehingga dengan terpaksa dirinya mengiyakan ajakan sahabatnya itu, 

seharian gogon tidak bisa tidur, ia mengurung diri di dalam rumahnya, ada alasan kenapa gogon sampai hati memikirkan hal ini, karena, yg dia jaga bukan sembarang mayit melainkan mayit yg meninggal karena bunuh diri, hal ini tentu saja membuat dirinya merasa was-was, 

kematian yg buruk biasanya membawa balak (bencana), namun, gogon tak bisa berbuat apa-apa, ia sudah mewanti-wanti dirinya bila ia hanya ikut untuk menjaga satu malam sebagai ganti rugi rasa tidak enaknya kepada sahabat karibnya yg sedang berduka.. 

tanpa terasa, malam sudah tiba, gogon masih menunggu di dalam rumah, pak RT sendiri sudah menjelaskan nanti yg berjaga akan beliau jemput satu persatu,

gogon hanya duduk menyesap kopi di ruang tengah, menunggu, sampai akhirnya terdengar suara ketukan di depan pintu, ia berdiri, 

gogon membuka pintu, ia terkejut melihat Andi, sahabat karibnya anak dari almarhum yg meninggal sudah datang menjemput dirinya lebih dulu, ia tersenyum kepada gogon, mengajak dirinya untuk berangkat, tapi, sejenak gogon merasa ragu, ia tak melihat kehadiran pak RT dan Ferdi, 

Andi menjelaskan bila pak RT dengan Ferdi sudah lebih dulu di gubuk yg baru siang tadi dibangun tepat disamping makam almarhum, Gogon merasa janggal sebenarnya dengan cerita Andi, tapi, ia tak memiliki alasan untuk menolak sehingga akhirnya ia berangkat berdua dengan Andi, 

Gogon berjalan lebih dulu, sementara di belakang Andi mengikuti, mereka bertukar cakap untuk mengusir sepi, semakin jauh mereka berjalan, gogon merasa perasaannya semakin tidak enak, Andi juga tak seperti biasanya, dia hanya bicara bila gogon sdg bertanya, selain itu, andi diam. 

tiba lah mereka di jalan setapak tempat dimana lahan bambu terlihat disana-sini, beberapa kali pandangan mata gogon awas melihat sekeliling, terutama saat angin berhembus membuat batang bambu yg bergesekan terdengar seperti suara orang sedang tertawa cekikikan, 

berbekal senter ditangan gogon, mereka menyusuri lahan bambu berdua, namun, sekonyong-konyong tiba-tiba gogon baru sadar, tak ada lagi Andi sahabat karibnya dibelakang, kaget, gogon melihat kesana kemari dengan dada berdebar kencang, gogon merasa ngeri.. 

waktu itu tak terbesit dipikirannya kalau andi sedang mengerjai dirinya, mengingat ini bukan waktu yg tepat untuk seseorang yg baru saja kehilangan sanak bapak sendiri, gogon memanggil Andi di bawah rimbun pohon bambu yg semakin lama bergesek-gesek membuat ciut nyali, 

“gak lucu blok!! aku wes sengojo ngancani awakmu amergo sakno, mok guyoni aku ngene, gendeng koen!!” (gak lucu woi!! aku sudah sengaja nemenin dirimu karena kasihan malah dibercandain kaya gini, gila kau!!), entah sudah berapa kali Gogon berteriak berusaha menekan rasa takutnya, 

namun, batang hidung Andi tak nampak sedikit pun, terpikir di kepala gogon untuk pergi pulang kembali, namun, tubuhnya terdiam mematung saat menemukan di sela-sela salah satu rimbun pohon bambu gogon melihat seseorang sedang meringkuk seperti anak-anak sedang bersembunyi, 

gogon mengarahkan senter ke tempat itu, dirinya sejenak mengamati, semakin lama ia melihat, gogon semakin yakin bila dirinya benar-benar sudah dikerjai oleh andi, emosi memenuhi kepalanya saat itu, ia sudah siap menghujami andi dengan kata-kata kasar, Gogon pun mendekat.. 

kalimat makian sudah sampai ditenggorokan saat gogon berdiri tepat dibelakang seseorang yg sedang berjongkok membelakanginya tersebut, namun, belum juga ia memaki tiba-tiba Gogon mengurungkan niatnya saat melihat bahwa ia mengenali orang itu ketika ia berbalik melihatnya.. 

pak Badir, tukang becak bapak dari sahabat karibnya, Gogon pun lupa alasan kenapa dirinya berada di sini, terutama saat pak Badir bertanya perihal apa yg dia lakukan di tempat ini, gogon hanya menggelengkan kepala, ia benar-benar tidak ingat, kenapa bisa ada di sini, 

ia pun mengajak gogon pergi ke sungai untuk melihat hasil pancingnya, ia juga berpesan kalau sampai mendapat hasil yg lumayan gogon bisa membawa sebagian buruannya, gogon pun mengangguk sembari masih memikirkan alasan dirinya tidak berada di rumah malam buta seperti ini.. 

selama diperjalanan itu pak Badir bercerita bila akhir-akhir ini hidupnya sedang tidak baik-baik saja, ia sedang terlilit hutang dan kesusahan untuk membayarnya, selain itu dua anaknya tidak mau membantu saat dia membutuhkan sedangkan anaknya yg bungsu belum bisa mencari uang.. 

Gogon merasa simpati kepada pak Badir, namun, dirinya juga masih belum bisa mencari uang sama seperti anak bungsunya, selama perjalanan mereka melewati jalan setapak disamping kuburan, arah menuju ke sungai, namun, gogon masih terpaku pada alasan kenapa dirinya ada di sini.. 

sembari menyinari jalanan di depan Gogon melihat pak Badir terus bercerita, ia bahkan sampai dititik dimana bobolnya keluar, dilihat oleh banyak orang karena terlalu keras bekerja mengayuh becak dari pagi sampai tengah malam, saat itu pak Badir sampai berkata ingin mati saja, 

gogon masih diam saja, ia benar-benar merasa iba, Andi tidak pernah menceritakan bila bapaknya bisa sampai seperti ini akibat dua kakaknya, namun dilain hal tidak ada yg bisa dilakukan oleh gogon, saat itu lah tiba-tiba gogon teringat sesuatu, 

Andi, sahabat karibnya, bukankah dia tadi pergi kesini dengan sahabat karibnya, tapi untuk apa dia dan Andi ke lahan bambu malam-malam, ketika gogon sedang berpikir, ia berhenti di jalan setapak sedang pak Badir berdiri menunggu Gogon menyinari jalanan mereka lagi, 

di-detik-detik akhir, tiba-tiba Gogon baru ingat, pak Badir adalah bapaknya andi, mereka kesini untuk bersama-sama menjaga kuburan pak Badir yg pagi tadi ditemukan dalam kondisi kendat (bunuh diri), gogon tertawa, bagaimana dirinya bisa lupa, namun, tawanya lenyap saat ingat, 

siapa yang sedang berdiri dihadapannya.. 

gogon mengarahkan senter kedepan tempat pak Badir sedang berdiri, saat itu, yg dirinya lihat bukan lagi pak Badir, melainkan sosok manusia yg kulitnya hitam legam seperti seluruh tubuhnya baru saja dibakar sampai tak berbentuk lagi, aroma anyir darah tercium pekat dari tubuhnya, 

gogon seorang diri mematung diam, kakinya seperti tidak bisa bergerak sama sekali, sosok hitam legam itu berdiri melihat gogon, sebelum memiringkan kepalanya seperti batang lehernya patah, satu-satunya warna putih yg bisa gogon lihat hanya dari bibirnya yg menyeringai, 

Gogon kemudian melihat, sosok itu berjoget seperti penari jaipong, dengan tangan dan kaki terangkat bergantian, itu lah saat dimana gogon tersadar, kakinya baru bisa bergerak saat sosok itu tertawa dan berteriak “Hiyok”, mengejutkan Gogon yg lari tunggang langgang, 

tidak salah lagi, sejak dulu, Gogon tahu bila pak Badir mahir menari jaipong, sebelum dirinya menjadi tukang becak beliau adalah penari profesional, namun, berapa bayaran seorang penari, tak cukup membiayai keluarga, berarti, apa sosok hitam itu benar-benar pak Badir, 

entahlah, yg utama bagi Gogon saat ini adalah, dia berhasil sampai rumah dalam kondisi jantungnya tidak melompat keluar dari dalam mulutnya saja, persetan dengan jaga makam kalau yg di jaga saja sedang jalan-jalan.. 

cerita ini menjadi buah bibir seminggu penuh di warung desa, sehingga semua orang bahkan termasuk saya sampai tahu ceritanya, tapi apa semua berhenti sampai di sini, beda dengan cerita Gogon, pak RT dan yg lain punya ceritanya sendiri, 

malam itu, pak RT mengaku dalam perjalanan pulang dari rumah seorang kawan, pak RT ingin meminta sadut (jimat), rencana beliau sudah disampaikan kepada Ferdi, dia meminta bocah itu bersama dengan Andi menjemput Gogon, nanti, mereka semua bisa bertemu di area pemakaman.. 

suara motor butut terdengar memecah sunyi, jam masih menunjukkan pukul 9 malam tapi jalanan sudah sepi tak ada orang sama sekali, ditambah kiri kanan hanya ada barongan (tanah kosong bersemak) disepanjang jalan, pak RT merasa tidak nyaman, namun ia memaksakan diri.. 

meski sebenarnya enggan tapi warga sudah mempercayakan dirinya sebagai ketua RT, bisa malu dia bila menolak menolong warga yg sedang kesusahan, ia akhirnya berkelok memilih rute paling dekat dengan makam, perasaannya was-was mempercayakan semua ini kepada tiga pemuda baru gede, 

rute paling dekat saat ini ialah ladang tebu disamping rawa-rawa yg penuh dengan semak belukar rumput gajah, tempat ini terbilang tempat paling sepi, tidak ada rumah warga di sana karena tanahnya gembur, selain itu banyak rumor mengatakan bahwa tempat itu adalah salah satu tempat 

-paling angker,

pak RT sempat menghentikan laju motor, ia benar-benar bimbang antara apakah ia mengambil rute ini atau memutar saja, namun sekali lagi, hatinya was-was, ia merasa tidak tenang, mengingat sejujurnya sejak tadi bulukuduknya berdiri, apa karena jimat yg dia bawa.. 

namun, setelah memantapkan diri, pak RT pun melaju motornya, masuk ke jalan setapak, kiri kanan banyak sekali ditemui rumput gajah dengan genangan air yg membentuk kolam, ini lah asalan kenapa tempat ini disebut rawa-rawa desa, 

banyak kejadian serta rumor tidak menyenangkan di tempat ini, dulu kabarnya ada anak-anak yg pernah bermain di sini dan menemukan sosok mayat bayi mungil yg sengaja dibuang, terapung diatas genangan air tersembunyi dibalik rerumputan, namun, itu bukan bagian paling mengerikannya 

karena bagian paling mengerikan dari cerita ini adalah, bayi yg ditemukan memiliki bentuk kepala seekor lembu, waktu itu cerita ini cukup menggemparkan, banyak yg bilang ibu si bayi sengaja membuang anaknya sendiri karena berkepala seperti itu, yg lain mengatakan efek pesugihan.. 

sampai saat ini cerita itu masih simpang siur, namun, peduli setan dengan cerita lama, pak RT benar-benar merasakan sendiri, di atas tanah ini ada yg tidak beres seperti ada yg melihat dirinya, mengamati dari tempat yg jauh, menimbulkan efek tidak nyaman sepanjang perjalanan.. 

namun, pak RT terus menerus mengatakan pada diri sendiri, tidak ada yg perlu ditakuti di tempat ini, tidak ada, dirinya adalah manusia, makhluk paling sempurna yg pernah diciptakan tuhan, pak RT bahkan menantang semua penghuni tak kasat mata untuk menampakkan dirinya, sampai, 

tiba-tiba dari arah belakang motonya, dia mendengar suara harimau mengaum, suara yg benar-benar dirinya dengar dengan sangat jelas bahkan sampai-sampai membuat keseimbangannya goyah, suara itu terdengar sangat marah, seketika pak RT memohon ampun, 

semakin lama suara itu semakin jauh, aumannya masih terdengar, hanya saja suaranya samar-samar, saat itu lah dari jauh pak RT melihat siluet hitam, siluet seseorang sedang berdiri jauh di depan jalan, ia diam seperti sedang menunggu pak RT mendekat.. 

awalnya pak RT mencoba menggunakan logika, siapa gerangan yg berani keluar di malam seperti ini, seorang diri, berjalan di tempat yg tidak mengenakan ini, rasa penasaran menggerayangi pikirannya, pak RT terus memacu laju moto miliknya, ia ingin mengetahuinya.. 

hanya tingga beberapa dapa, pak RT melihat seseorang mengenakan celana pendek berwarna biru tua, tubuhnya tinggi dengan bulu kaki yg terlihat, mengenakan sandal jepit, hanya saja mulai dari bagian badan sampai kepala, ia menutupinya dengan sarung, mirip seseorang sedang berjaga.. 

pak RT merasa aneh dengan beliau, namun, tidak enak hati bila bertanya kecuali dia menergur dirinya terlebih dahulu, namun, kenyataannya, dia hanya melihat pak RT dengan sarung tertutup di kepalanya, tak ada interaksi apapun, auman harimau kian gencar terdengar di telinganya.. 

tepat ketika pak RT melewatinya, aroma menyengat dari daging yg terbakar tercium di hidungnya, pak RT melaju motornya sementara matanya melihat ke spion, sosok lelaki asing dengan sarung dikepala masih melihat kearahnya. ia hanya berdiri diam menyerupai patung batu.. 

ganjil, tentu saja. pak RT bisa merasakannya, namun, di dalam hatinya ia bersyukur bisa melewati tempat itu tanpa ada yg terjadi dengan dirinya, ia segera bergegas menuju ke pemakaman, tidak sabar melihat Ferdi, Andi dan Gogon di sana, namun, ketika pak RT menghentikan motor, 

dari jauh, tempat ia memandang makam baru yg masih ditaburi bunga tadi pagi, terlihat seseorang sedang meringkuk disamping batu nisan, ia mengenakan sarung menutupi bagian kepalanya, dengan perasaan was-was, pak RT merasa bahwa ini bukan hal yg bagus bagi dirinya.. 

pak RT melihat kesekeliling, disamping tempak gubuk sementara dibangun tak terlihat tiga pemuda yg dia cari, hanya sosok orang bersarung itu saja, seorang diri berlutut disamping makam, merasa terancam dengan hal ini, pak RT berjalan mundur, ia berniat pergi.. 

ketika tiba-tiba dibelakangnya sudah berdiri Andi sedang melihat beliau dengan wajah penasaran, “pak RT kok wes nang kene?” (pak RT kok sudah disini), jantung pak RT nyaris copot namun segera berganti menjadi nafas lega ketika melihat kehadiran Andi di tempat ini, 

pak RT lalu teringat, ia menoleh berkata kepada Andik bila diatas makam ada orang asing yg tidak dikenal, tapi, ketika pak RT menunjuknya. sosok itu tidak ada, lenyap begitu saja..

pak RT merasa keheranan, ia yakin betul bila di sana tadi ada yg sedang berlutut, 

akhirnya pak RT tidak bisa menjelaskan apapun kepada Andik, ditengah-tengah tawa canggungnya untuk menghilangkan kepanikan yg baru saja melekat diwajahnya tiba-tiba pak RT teringat, kenapa hanya Andik yg datang ke tempat ini, kemana dua orang yg seharusnya menemani.. 

pak RT menelan ludah, merasa ada yg tidak beres, ia sendiri tidak yakin betul dengan siapa yg berada di depannya, orang bilang jangan gampang percaya ketika bertemu ditempat-tempat wingit, pak RT memperhatikan kaki Andik, aneh, katanya, karena kaki Andik benar menginjak tanah, 

“nang ndi Ferdi ro Gogon ndik?” (dimana Ferdi dengan Gogon ndik?), pak RT menanyakan hal itu, Andik hanya diam saja, memandang pak RT dengan wajah dingin, mereka saling melihat dalam diam, keadaan ini membuat tempat itu terasa semakin mencekam, sunyi dan dingin. 

sebelum, sekonyong-konyong, sebilas air tiba-tiba membasuh kepala pak RT, Andik bergerak melangkah mundur, tak lama Ferdi muncul menatap pak RT berdua sembari menjaga jarak, saat itu lah mereka berdua mendengar bebarengan pak RT berteriak “pesing”, setan, teriaknya, 

dua bocah baru saja menyiram dirinya dengan air kencing.

saat itu lah mereka semua menjadi yakin bahwa mereka yg di sini benar lah manusia, karena tidak ada salahnya saling menjaga satu sama lain karena konon banyak orang beraliran hitam tega melakukan apa saja hanya demi- 

-mendapat setali kain kafan dari mayit yg sedo pada jumat kliwon

takutnya, pak RT adalah orang lain, karena pada jaman itu banyak orang bisa berganti-ganti rupa dengan maksud jahat, tak dipungkiri ini lah alasan sebenarnya kenapa begitu sulit menjaga mayit. 

mereka bertiga lalu duduk di gubuk sementara, mencicipi sepiring kacang dengan gelas-gelas kopi, beberapa kali Ferdi terlihat memaki karena saat dirinya menjemput Gogon ke rumahnya, ibundanya mengatakan dia sudah berangkat, tapi, Ferdi yakin bila yg terjadi Gogon sudah kabur.. 

Andik berusaha menenangkan, tak ada perlu menyalahkan, mungkin saja Gogon benar-benar ketakutan sehingga ia urungkan niat yg sudah ia ucap, pak RT setuju lantas lalu bercerita menunjuk setali berwarna cokelat, jimat pemberian kawannya, konon, ada harimau di dalamnya.. 

mereka bertiga menghabiskan malam bersama-sama, saling bertukar cerita untuk membuang sepi, sementara kabut mulai menyelimuti tempat ini, saat tiba-tiba Ferdi mengatakan bahwa ia ingin membuang air besar di sungai, ia meminta Andik mengantarkannya.. 

mendengar itu, pak RT lalu berpikir, bila dua pemuda ini pergi lantas dia hanya seorang diri di sini, dengan niat menunjuk watak baik, pak RT yg berkata akan menemani Ferdi pergi ke sungai, sebagai ganti, Andik boleh memakai gelang jimatnya.. 

Andik mengangguk, menerima tawaran pak RT, lagipula sebagai anak sudah tentu menjadi tugas dia menjaga makam milik bapaknya, pak RT pun bergegas pergi bersama Ferdi, melangkah sedapa demi sedapa di atas makam-makam lain, menuju ke sungai yg tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. 

mereka berjalan berdua di bawah pohon-pohon kamboja dengan kabut tebal mengelilingi mereka, berbekal senter ditangan, pak RT memimpin jalan, tak lama kemudian terdengar suara aliran air, sungai sudah dekat, Ferdi semakin bersemangat, ia ingin segera membuang hajat.. 

Ferdi mendahului, meninggalkan pak RT yg berteriak agar pemuda itu menungguinya, ia sedang kewalahan menghindari tanah gembur berlumpur dengan nisan-nisan disekitarnya, namun, nampaknya Ferdi tak menggubris alasanannya, baginya hajat nampaknya lebih penting dibandingkan dirinya.. 

lama ia bergulat dengan keadaan, pak RT akhirnya bisa keluar dari jalan kuburan, ia berdiri di tepian sungai, menyinari area sekitar sembari berteriak dimana bocah itu sedang berjongkok, sungai membentuk setapak miring membuat pak RT sedikit kerepotan karena tubuh orang tertutup- 

oleh rumput-rumput panjang, pak RT tak juga mendapat jawaban, ia masih menyinari area sekitar sebelum pandangan matanya menangkap tangan melambai tak jauh dari tempatnya, pak RT merasa lega, rupanya di sana Ferdi berada, ia mendekat sebelum duduk di atasnya, tak dilihatnya Ferdi. 

di sana, pak RT duduk bersila sembari matanya mengawasi sekitar, tiba-tiba tak jauh dari tempatnya terdengar suara berkecimpuk air, niat usil pak RT muncul, ia ingin mengerjai Ferdi, pak RT lalu bercerita, bila konon di sungai ini tinggal lah Weltok, hantu dengan wujud anak kecil 

saat malam tiba, weltok biasa muncul, menampakkan diri di sungai-sungai kecil, bermain-main layaknya anak-anak, mereka sangat menyukai ikan, tak jarang ikan-ikan ini yg seringkali menjadi tujuan, namun, weltok sangat membenci kehadiran manusia, untuk itu, saat melihat weltok, 

disarankan untuk bersembunyi, tidak bersuara, lalu meninggalkan mereka, karena bila sampai weltok mengetahui kehadiran manusia, meraka akan memanggil, siapa pun yg sudah dipanggil tak dapat mengelak dari mereka

lalu, mereka akan berhitung.. menghitung ikan hasil tangkapan mereka 

ia akan menghitung, siji, loro, telu, papat, dan seterusnya, sampai ikan yg mereka tangkap habis, bila ikan sudah habis tepat di giliran si manusia weltok yg berwujud anak-anak akan melihat manusia dengan wajah rata-nya, lalu, setiap malam, mereka akan datang ke rumah.. menemani. 

setelah menceritakan itu, pak RT lalu tertawa terbahak-bahak, ia sempat memukul tangan Ferdi yg menyentuh ke riuk bambu tempat orang membuang hajat di sungai, namun, aneh, Ferdi tak mengatakan apapun kepada pak RT, menjawab pun tidak, hal ini membuat pria paruh baya itu penasaran 

pak RT menyalakan senter, mengarahkannya ke kiri-kanan jalan, memastikan tidak ada siapa pun di tempat ini, lalu dalam kepalanya ia berniat mengarahkan senter kearah sungai tempat Ferdi sekarang membuang hajat, meski tidak sopan, ia harus memastikan bahwa yg dia jaga benar Ferdi 

tepat senter diarahkan disana, wujud api membakar tiba-tiba terlihat, sosok manusia berdiri memanjat dari dalam sungai, itu adalah kali pertama simpang siur kabar bahwa selain welthok, sungai adalah rumah bagi kemamang benar-benar bukan sekedar gosip.. 

pak RT menjatuhkan senter, berlari tunggang langgang, tak dia sangka sebelumnya, kemamang memang ada di sungai ini, ia pikir hanya rumor belaka bila buang hajat malam buta akan sambang kemamang datang.. ketika berlari di bawah pohon mangga, pak RT melihat Ferdi memasang celana, 

namun, peduli setan, biar Ferdi saja yg menemui kemamang karena semua orang tahu, makhluk itu biasa mengejar sampai dapat, Ferdi hanya terheran-heran melihat pak RT pergi, ia pikir, pak tua itu sedang kembali ke tempat Andik yg sedang berjaga sendiri, Ferdi pun menyusul.. 

Ferdi tak melihat ada yg salah, sepanjang jalan dikegelapan tanah kuburan ia berjalan seorang diri, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara seseorang sedang bersiul, Ferdi berhenti sebentar, mencari darimana sumber suara itu, Ferdi terdiam menatap pohon beringin 

di bawah pohon beringin ada batu besar bekas pondasi, seorang pria yg wajahnya tak asing bagi Ferdi sedang duduk, dengan tongkat kayu ditangannya, dia memanggil Ferdi, melambai-lambaikan tangannya, memanggil bocah itu yg dengan wajah bingung masih mencoba mengingat-ingat.. 

ketika jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah baru ingatlah Ferdi dengan pak Badir, beliau menepuk batu disampingnya meminta Ferdi untuk duduk, bocah itu menurut saja, karena memang ak Badir biasa menjadi juru kunci makam, bertemu dengannya di sini bukanlah sesuatu yg aneh, 

hanya saja, ada bagian di dalam dirinya yg seperti melupakan detail kecil yg mengganjal hatinya, apa, kenapa, entah, Ferdi duduk disamping pak Badir yg lalu bercerita kepadanya, bila malam-malam di sini itu enak, tempat ini tempat yg bagus untuk menenangkan diri, Ferdi mengangguk 

ia lalu memberitahu Ferdi, bahwa sudah lama dirinya mengidap sakit, tak ada satu pun orang yg tahu bahkan isteri dan semua anak-anaknya, dia menyimpan sakit ini seorang diri, Ferdi yg mendengarnya kaget lantas bertanya kenapa tidak diceritakan saja, semua harus tahu, 

pak Badir menolak, beberapa hari yg lalu dirinya dibuat sakit hati oleh kedua kakak Andik yg sudah berkeluarga, saat mereka tak ada uang untuk makan, satu pun tidak ada yg mau membantu mereka, ditambah Andik belum mendapatkan kerja setelah setahun penuh menganggur, 

membuat pak Badir terus kepikiran, rasanya dirinya tak elok terus menerus membuat semua orang susah, terpikir di kepalanya ia ingin mengakhiri dirinya, mungkin dengan begitu beban Andik dan ibunya sedikit terangkat, sebagai tukang sayur, ibunya mungkin bisa menghidupi Andik 

Ferdi hanya mengangguk, ia bingung bagaimana menghibur pria tua yg seringkali menemaninya bermain catur di warung mbok jum, tapi, setelah mengingat-ingat soal mati, tiba-tiba Ferdi teringat, untuk apa dirinya ada di kuburan bersama pak Badir,

Ferdi melihat wajah pak Badir, 

pria tua itu melihatnya dengan wajah memelas, sebelum akhirnya Ferdi ingat bila di sini ada Andik, dia ada di gubuk sementara, bersama dengan pak RT sedang menjaga makam pak-Ba, tiba-tiba Ferdi terdiam, ia memalingkan wajah dari pak Badir, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, 

Ferdi hanya diam, duduk sembari melihat kedepan, di atas nisan-nisan kuburan, pak Badir juga tak lagi bicara dengan dirinya, Ferdi ingin melompat lalu berlari namun entah kenapa tulang kakinya tak bisa diajak kerja sama, saat itu lah tangan pak Badir merangkul pundak Ferdi, 

bila pernah mencium aroma daging panggang yg berbau pekat, itulah aroma yg Ferdi cium, tangannya hitam legam dengan luka darah basah yg menjorok berwarna kemerah-merahan, Ferdi hanya diam, sesekali memejamkan mata, ia ingin menutup hidung namun sarafnya mati rasa.. 

dengan berat, Ferdi menoleh, memutar leher untuk melihat sosok pak Badir yg ada disampingnya, rupanya beliau sudah melihat kearahnya, ia sudah mengenakan kain kafan dengan satu tangan teronggok keluar, wajahnya hitam legam, hancur, dengan mata kosong ia memandang Ferdi lekat-lekt 

tak membuang waktu Ferdi melompat, ia berlari pergi melompati setiap nisan yg dia lihat, tak dihiraukan apa yg sedang berdiri menatapnya dari jauh, pak Badir menunjukkan wujud pocong yg tak pernah dirinya duga sebelumnya, segala semak belukar ia terabas yg penting dirinya selamat 

di bawah gubuk sementara, Ferdi melihat Andik, ia jelaskan segala yg dirinya lihat, namun, bocah itu tak sedikit pun merasa takut, mula-mula ia bercerita bila pak RT sudah lama lewat, ia bilang tak sanggup untuk melanjutkan tugas menjaga makam, bersama dengan itu- 

-Andik mengijikan bila Ferdi juga pergi, ia tidak keberatan menjaga seorang diri, baginya, saat ini hanya ini yg bisa dirinya lakukan sebagai anak, Ferdi terdiam, melihat Andik dengan nafas terengah-engah, peduli kosong dengan kata-kata Andik, Ferdi tetap pergi, 

ia belum pernah melihat wujud semengerikan itu, hanya dari cerita-cerita orang, ia bukan penakut, namun tak kala ketika melihat langsung, ciut lah nyali yg sudah lama di pupuk, bila memang Andik mau tetap di sini, dia akan tetap perg, sebelum Andik memberi Ferdi sesuatu.. 

ia sakukan gelang yg diberi oleh pak RT tadi, katanya, esok pagi kesinilah dengan beliau, jemput dirinya, karena sejak tadi, di belakang pohon besar tak jauh dari tempat mereka sudah ada yg mengamati mereka, Ferdi menoleh melihat kepala pocong mengintip dari sana, Ferdi pun pergi 

Andik hanya duduk diam, melihat kearah makam, dari jauh terdengar langkah kaki seseorang, langkah kaki yg pernah dirinya kenal, sosok itu mendekat lalu duduk disampingnya, tak lama, Andik berkata kepadanya, “maafin Andik pak, Andik kangen”, 

itu lah kali terakhir Ferdi menceritakan semua ini kepada warga desa, termasuk mengutuk pak RT yg pergi lebih dulu meninggalkan mereka hanya karena nampak kemamang usil yg muncul dari dalam sungai, Gono juga mengiyakan bahwa pak Badir memang gentayangan, menceritakan segala- 

-aib hingga membuat semua keluarga Andik menanggung malu terutama kedua kakaknya.

sejak malam itu, hanya Andik bersama keluarganya, bergantian menjaga makam tanpa melibatkan warga desa, namun, apakah semua ini selesai sampai di sini. 

setiap malam, setelah waktu menunjukkan pukul 12 malam, di rumah-rumah warga sering terdengar suara pintu yg diketuk, konon, itu adalah pak Badir yg sedang usil kepada mereka, tak ada warga yg berani membukanya, sampai akhirnya kejadian ganjil itu perlahan menghilang, lenyap.. 

tetapi, wujud yg menyerupai pak Badir terkadang muncul, namun, tak lagi menganggu warga kampung, hanya tamu-tamu yg kebetulan lewat saja yg bila beruntung akan melihatnya berdiri di bawah pohon Randu. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *