RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Malam-malam Di Kemah Jahannam

Pramuka adalah ekskul yang dekat dengan alam. semakin dekat dengan alam, semakin dekat pula dengan misteri-misteri di baliknya. Tahun 1989, satu regu pramuka nyaris hilang untuk selama-lamanya dalam sebuah perkemahan yang diselenggarakan sebuah sekolah.

Ini kisah Jihad, Hindun, Rahimah, Dul, dan Firman. Terjadi tahun 1989 di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Jadi Jihad, Dul, dan Firman ada di satu regu bersama 4 anak cowok lain. Nama regu mereka Regu Macan. Sedangkan Rahimah dan Hindun bersama 3 cewek lain bergabung di Regu Anggrek. Mereka ini anak kelas 6 SD.

Oh ya ekstrakurikuler Pramuka di sekolah mereka ini pengelolaannya alakadarnya. Pengetahuan kepramukaan mereka rendah, jadi kebanyakan latihan baris berbaris doang. Ya sebatas formalitas biar ada ekskul aja.

Suatu waktu mereka kedatangan guru muda dari Pontianak. Kita sebut aja namanya pak Irfan. Karena masih mudah, Pak Irfan sangat bersemangat. Maka ia meminta ke Kepala Sekolah agar ia ditunjuk jadi pembina Pramuka. Ya pak Kepala Sekolah setuju aja.

Maka Pak Irfanlah yang membuat Ide untuk menyelenggarakan Kemah. Pak Kepala Sekolah sempat tak setuju karena menurutnya berbahaya.

“Kau belum tau daerah sini Fan, janganlah kau melakukan hal-hal yang berbahaya itu” kata Pak Kepala Sekolah.

“Tapi pak, sekolah kita bolehlah di kampung. Tapi janganlah kita ketinggalan dengan sekolah di kota” kata Pak Irfan. Berkali-kali pak Irfan membujuk pak Kepala Sekolah. Tapi selalu ditolak. Pak Irfan menceritakan keseruan kemah ke anak-anak. Mereka antusias. Nah dengan bantuan anak-anak, Pak Irfan berhasil membujuk Kepala Sekolah agar mau menyelenggerakan kemping di hutan seberang kampung.

“Tapi sebelum berangkat, kau temuilah Ai Karom. Agar Ai Karom bisa kasih titipan untuk menjaga kalian” kata Pak Kepala Sekolah.

Yang pernah baca cerita saya yang lain, pasti tahulah ya soal Ai Karom. Kakek yang punya kemampuan lebih mengerti bahasa alam dan memegang teguh ajaran leluhur.

Rahimah dan Hindun sangat senang mendengar kabar akan diadakan kemping. Mereka begitu semangat. Begitupula Teman-teman yang lain. Mereka menyiapkan kemping dengan penuh semangat.

Nah karena ini baru kemping pertama, yang boleh ikut hanya siswa kelas 6. Jumlahnya 19 orang. Terdiri dari tiga regu, Regu Macan, Regu Enggang, lalu Regu Anggrek.

Jadi ada 3 regu dengan komposisi anggota sebagai berikut.

Regu Macan : 7 Orang

Regu Enggang : 7 Orang

Regu Anggrek : 5 orang.

Namun salah satu anggota Regu Enggang sakit pas hari H, jadinya yang berangkat hanya 20 orang. Jangan bayangkan usia mereka kayak anak SD sekarang ya. Banyak yang telat masuk SD. Firman usianya sudah 17, Jihad 13, Dul 12, Hindun 13 dan Rahimah 16 tahun.

Namun ternyata Pak Irfan mengabaikan perintah pak Kepala Sekolah untuk menemui Ai Karom. Pak Irfan tak percaya perdukunan. Di era yang maju, percaya hal-hal seperti itu adalah kemunduran zaman.

Berangkatlah mereka menyeberang sungai dengan perahu warga. Dari sana mereka berjalan kaki lumayan jauh melalui bukit-bukit hingga sampai ke sebuah area hutan yang luas dan letaknya tak jauh dari sebuah mata air kecil. Semua siswa senang dan mulai memasang tenda dari terpal.

Untuk anak-anak itu tinggal di tempat sepi di hutan bukanlah hal yang baru. Kadang mereka ikut orang tua mencari durian atau menjaga ladang. Tapi kemah, ah itu adalah kegiatan modern yang tak pernah mereka lakukan.

Karena usianya yang cukup tua, Firman dan Hindun dipercaya pak Irfan untuk mengawasi seluruh peserta. Mereka mengawasi pembagian tugas dan aktivitas seluruh siswa. Semua siswa yang hendak meninggalkan kemah untuk berbagai keperluan harus melapor pada Irfan dan Hindun.

Malam pertama setelah 4 kemah berdiri mereka makan bersama. Di kesempatan itu Pak Irfan mengumumkan kalau besok akan ada penjelajahan hutan. Nah karena ada beberapa permainan yang membutuhkan kerjasama lelaki dan perempuan, regu akan dibentuk ulang dengan memecah regu yang ada.

Maka berdasarkan undian malam itu, terbentuklah regu sementara yang terdiri atas Firman, Dul, Jihad, Hindun, dan Rahimah. Mereka disebut sebagai Regu 4.

Malam itu semua tidur dengan lelap. Beberapa anak laki-laki mendapat tugas jaga secara bergantian. Entah kenapa Firman tak mau dipasangkan dengan teman lain.

“Sudah! Aku jaga sendirian saja” kata Firman saat gilirannya tiba. Itu sekitar pukul 1 malam.

Rahimah tak dapat tidur. Nyamuk malam itu sungguh mengganggunya. Ia terus mencoba memejamkan mata. Jam setengah dua ia mendengar seseorang keluar dari tenda. Dinyalakannya senter, tak ada Hindun di tenda itu. Kemanakah perginya?.

Setengah jam kemudian semua orang terbangun. Firman dengan panik membangunkan pak Irfan. Pak Irfan awalnya tak ingin membangunkan siswa, tapi ribut-ribut di pagi buta itu tentu menghebohkan. Hindun meraung-raung seperti seekor macan di depan tenda. Ia kesurupan.

Anehnya keadaan Hindun ini nyaris telanjang. Kancing bajunya sudah terbuka dan ia tak mengenakan rok. Hanya celana pendek alias sempak. Ia telentang sambil berteriak mengancam “Pergi kalian! Pergi!”.

Maaf mau revisi ini bentar. Maksudnya 18 orang ya. 19 dengan pak Irfan.

Pak Irfan yang berusaha menenangkan Hindun dapat merasakan sekujur tubuh Hindu dingin. Mata Hindun melotot. Dan jarinya mencengkram lengak Pak Irfan hingga berdarah.

“Apa yang terjadi Man?” Tanya Pak Irfan.

Firman tak menjawab.

Beberapa anak yang turut membantu memegang Hindun juga menjadi korban. Mereka terpelanting oleh tenaga Hindun yang begitu besar. Nah Dul teringat minyak yang diberikan Ibunya sebelum berangkat. Buat bekal jaga-jaga katanya. Maka ia bergegas ke Kemah mereka. Ketika ia masuk ia seperti melihat kaki di luar tenda. Kaki hitam berbulu lebat. Kaki siapa itu pikirnya?. Tapi karena buru-buru Dul tak peduli.

Ia kemudian membawa botol itu dan menciumkannya ke Hindun. Dan tak berapa lama kemudian Hindun tersadar.

“Minyak apa itu Dul?” Tanya Pak Irfan.

“Dari Umak (ibu), katanya dari Ai Karom” kata Dul.

Pak Irfan lalu teringat pesan kepala Sekolah.

Pak Irfan berusaha menenangkan semua siswa. Mereka diminta kembali ke tenda. Hindun dipapah Rahimah kembali ke tenda. Sedangkan Firman ditahan Pak Irfan untuk diminta keterangan.

“Apa yang kamu lakukan dengan Hindun man?” Pak Irfan mulai menanyai Firman.

“Tidak melakukan apa-apa pak” kata Firman.

“Kamu tidak bisa membohongi saya Man. Tentu kamu berdua telah melakukan hal yang tidak senonoh bukan?”

“Maksud bapak?”

“Saya tahu man. Tapi saya akan simpan ini. Tidak akan saya ceritakan kepada siapapun. Dengan satu syarat”.

“Syarat apa Pak?”

Pak Irfan kemudian menyampaikan sebuah syarat kepada Firman. Firman memperhatikan dengan saksama.

Esok harinya mereka semua sudah siap. Empat regu yang terbentuk berbaris memanjang ke belakang. Pak Irfan paling depan. Jadi Pak Irfan beberapa hari sebelumnya sudah menyiapkan trek jelajah bersama seorang warga kampung. Tiap belokan ditandai dengan kain merah.

Jalur mereka sebenarnya tak jauh. Namun ada beberapa petunjuk sepanjang perjalanan yang harus ditemukan. Regu yang berhasil memecah misteri akan dipilih sebagai regu terbaik.

Regu keempat adalah regu paling belakang. Jihad paling depan, disusul Dul, Rahimah, lalu Hindun dan Firman. Di awal mereka dapat memecahkan beberapa petunjuk yang dimaksud. Apalagi Jihad tergolong pintar, dia yang paling semangat. Sementara Hindun dan Firman tak bersemangat.

Nah setelah melewati dua pos, mereka sempat berhenti karena kaki Dul tertusuk kayu kecil. Itu membuat mereka tertinggal di belakang. Namun setelah Dul mulai baikan mereka terus berjalan lebih cepat. Lalu sampailah mereka di sebuah persimpangan. Jihad mengamati tanda kain merah.

Menurut tanda mereka harus berbelok ke kanan. Tapi dari arah kiri Firman mendengar suara anak-anak ramai.

“Kita ke kiri aja, sepertinya mereka di sana” kata Firman.

“Tapi ini tandanya ke kanan” kata Jihad

“Penjelajahan seperti ini rutenya memang diputar-putar” Firman bersikukuh.

Jihad mengalah, Firman soalnya sudah tampak marah. Yasudah mereka belok ke kiri. Jalanan ke kiri agak terjal karena sedikit menurun. Rute itu tampak sedikit berbahaya.

Masalahnya adalah semakin mereka maju suara anak-anak yang lain semakin jauh.

“Kau yakin lewat sini Man?” Tanya Hindun

“Percayakan saja pada Firman. Kalaupun kita salah jalan, kita pasti menemukan jalan kembali ke tenda” kata Firman meyakinkan.

Hari semakin siang namun mereka tak juga bertemu regu di depan. Sementara itu hilangnya regu 4 sudah membuat seluruh peserta lain heboh. Pak Irfan berusaha menenangkan, ia mengajak peserta lain segera kembali ke kemah.

Regu 4 tiba melewati sebuah gubuk. Digubuk itu duduk seorang kakek. Kakek itu bertanya “mau kemana kalian?”.

“Mau pulang Ai” kata Rahimah.

“Sudah di sini saja. Jangan pulang dulu”

Mereka bertatapan.

“Permisi Ai,kita mau pulang” kata Jihad berpamitan. Kakek itu hanya tersenyum. Dul menyadari sesuatu. Ia ingat kaki kakek itu mirip dengan yang ia lihat dekat tenda. Dul merinding ngeri.

Sementara itu Pak Irfan meminta semua anak berjaga di Kemah. Roji, salah satu anak bilang dia mau pulang untuk mengabarkan kasus ini ke kampung. Tapi pak Irfan melarang karena dalam hati kecilnya ia takut disalahkan.

Maka Pak Irfan kemudian berangkat menyusuri rute yang sama sendirian. Hari mulai sore, harusnya malam itu mereka akan menutup kemping dengan membuat api unggun.

Pak Irfan sampai di belokan persimpangan tempat Regu 4 salah mengambil jalan. Ia melihat sekelebat bayangan di arah kiri. Seperti seorang anak sedang berlari.

“Hei Firman! dul! Jihad! Kalian dengan bapak?” Seru Pak Irfan. Tak terdengar sahutan.

Tapi Pak Irfan menyadari sesuatu. Ternyata Jihad meninggalkan tanda arah mereka dengan dasi pramukanya. Saat Firman memutuskan belok kiri, Jihad khawatir salah jalan. Ia meninggalkan dasinya sebagai petunjuk arah.

Pak Irfan menyusuri jalan dan menemukan bekas-bekas tapak kaki. Ah tak salah lagi, pak irfan merasa akan segera menemukan regu 4.

Sementara itu Regu 4 masih tersesat. Hutan semakin lebat.

“Kita jalan balik aja” kata Jihad.

“Tidak, kita sudah terlalu jauh. Kita pasti akan menemukan jalan keluar sebentar lagi” kata Firman.

“Jihad benar, kita kembali saja ke jalan tadi dan ikuti jalan yang benar” ujar Hindun.

Firman tidak berani membantah Hindun. Hindun adalah pacar yang ia sayang. Maka dengan bersungut2 Firman mengikuti teman-temannya berjalan kembali ke arah mereka datang.

“Tapi kita jangan lewat gubuk tadi” kata Dul ngeri.

“Kenapa dul?” Tanya Rahimah.

“Kakek itu seram, sebelumnya aku melihatnya di tempat kita berkemah” kata Dul.

“Jangan mengarang Dul” kata Firman.

“Sumpah, aku melihatnya saat Hindun kesurupan” kata Dul.

“Kalau kita ambil jalan lain, ada kemungkinan kita akan kembali nyasar” kata Jihad. Dul terdiam, tapi ia masih merasa takut.

Pak Irfan sampai di sebuah gubuk. Di gubuk itu tampak Hindun sedang sendirian.

“Hei Hindun!!!”

“Pak Irfan, akhirnya datang juga” kata Hindun

“Kemana yang lain?”

“Firman yang menyuruh saya menunggu bapak di sini” kata Hindun.

“Kata Firman, Hindun disuruh nunggu bapak” kata Hindun memegang tangan pak Irfan. Kancing baju bagian atasnya terbuka. Pak Irfan ingat perjanjiannya dengan Firman. Ia meraih tangan Hindun.

“Ini demi kebaikan kalian Hindun”

“Iya Pak, saya sudah dengar dari Firman” kata Hindun.

Maka Pak Irfan mulai melaksanakan aksi-aksi yang mantap, ah berhasil juga rencananya. Jujur, ketika melihat Hindun kesurupan hati Pak Irfan berdesir.

“Pak Irfan” seru Jihad melihat Pak Irfan sedang meraba-raba. Pak Irfan kaget. Regu 4 lebih kaget. Pak Irfan sedang memeluk seorang nenek tua dengan mata besar dan mulut menganga. Liurnya menetes-netes.

Pak Irfan melihat 5 muridnya berdiri memandanginya.

5, ya 5. Hindun ada di sana.

Ia menoleh ke perempuan yang sedang ia peluk. Perempuan itu menyeringai.

“Siallll!” Seru Pak Irfan sambil merapikan pakaian lalu lari tunggang langgang.

Sosok perempuan itu berjalan ke arah regu 4.

Dul menanangis. Perlahan-lahan sosok itu berubah menjadi seorang kakek tua yang mereka kenal.

“Kalian berdua telah menodai hutan ini” kata kakek itu menunjuk Firman dan Hindun. Mereka berdua gemetar.

“Tapi guru kalian itu lebih amoral. Itu pelajaran untuknya” sambungnya.

“Untuk kalian bertiga, maafkan saya karena kalian harus terlibat” kata Kakek tadi ke Dul, Rahimah, dan Jihad. Mereka diam.

Kakek itu bergerak mendekati Firman, secepat bayangan. “Kau, akuilah perbuatanmu” lalu bayangan kakek itu sekelebat melayang dan hilang dan rerimbunan pohon.

Mereka berlima masih melongo.

“Kau lihat itu kan Jihad?” Tanya Dul.

“Jelas, jelas sekali” kata Jihad.

Setelah mereka lebih tenang, mereka kembali mengikuti arah datang. Mereka tak banyak bercakap, tak percaya apa yang mereka alami barusan.

Mereka tiba di perkemahan dalam keadaan lelah dan lapar. Semua siswa menyambut mereka dengan girang. Tak ada satupun yang bercerita tentang apa yang mereka alami. Semua terdiam. Malam itu tak ada api unggun. Semua bersiap pulang esok pagi.

Cerita itu baru terungkap seminggu kemudian saat Firman mengakui perbuatannya di depan majelis kampung. Ada Ai Karom di sana.

“Syukurlah kalian selamat” hanya itu kalimat dari Ai Karom.

Majelis kampung sepakat menghukum Firman dan Hindun dengan denda adat, serta menikahkan mereka seusai kelulusan. Sedangkan Pak Irfan menanggung malu karena dikenal sebagai guru mesum.

Ia berpamitan kepada Pak Kepala Sekolah untuk mengurus sesuatu di Kota, tapi ia tak pernah kembali ke kampung. Dan sekolah itu kemudian tak pernah bikin acara kemah lagi.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *