RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Malam Mencekam Di Rumah Tusuk Sate

Cerita ini merupakan kiriman dari Fanny Rachma Rasyid. Ini adalah kejadian nyata yang dia alami. Saya hanya mengedit beberapa tulisan tanpa menghilangkan atau mengubah alur kejadian yang ada.

Hai semua. Aku mau berbagi sedikit tentang pengalaman mistis yg mungkin ini menjadi gerbang pengalaman-pengalaman mistisku hingga dewasa.

Awal mulanya sekitar tahun 2011, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dimana kelasku mengadakan kegiatan perpisahan kenaikan kls. Kami berencana piknik ala-ala, menginap selama satu malam di villa milik wali kelasku saat itu. Sebut saja Ibu Sri. Tentunya wali kelasku mendampingi sebagai penanggung jawab. Lokasi villannya ada di daerah Kabupaten Bandung. 

Perjalanan dimulai dari titik point di depan sekolah, kami berkumpul dan melakukan perjalanan. Sesampainya di villa, semua masih baik-baik saja, aman terkendali. Dengan kondisi villa yang sejuk dan asri. Kami merasa betah dan ingin tinggal berlama-lama. 

Walaupun kondisi villa saat itu memang kurang terawat. Tapi masih bisa kami bersihkan bersama-sama. Maklum villa ini memang di kosongkan bertahun-tahun. Dan Ibu Sri kebetulan kalau berkunjung kesini, hanya menggunakan bangunan sebelah kanan saja, bagian kamar. 

Waktu itu, Ibu Sri ikut bersama suaminya. Dari siang sampai sore kegiatan kami hanya masak-masak dan makan bersama. Juga sedikit acara bumbu ala-ala makrab sambil mengenang selama setahun kami sekelas bersama-sama. 

Semua berjalan menyenangkan sampai akhirnya sore hari datang. Gatau apa ini perasaanku saja atau mungkin teman-teman lain juga merasakan, vibes di sore itu rasanya agak sepi dan “keeung” kalau bahasa Sundanya. 

Padahal jumlah kami tidak sedikit, tentu harusnya terasa ramai. Posisi villa, tepat dipinggir jalan kampung, cukup jauh ke jalan besar. Kanan-kiri masih jauh dari tetangga atau rumah warga. Tepat 500 meter di depan villa ada masjid besar. 

Dan villa ini, tepat menghadap ujung jalan, atau banyak orang mengatakan sebagai posisi rumah tusuk sate. Waktu itu sekitar jam 17.30, menjelang magrib. Aku mengajak 2 orang teman untuk membeli camilan ke warung di sebrang masjid. Kemong dan Fira. 

Sebelum Fira melangkah dari teras villa, sibuk mencari sendal jepit yang bisa dia pakai, aku dan Kemong sudah menunggu di pagar. Tidak lama kami berdiri di depan pagar, sayup terdengar suara orang melafalkan kalimat tahmid… Laillahaillallah… 

Belum sempat aku melirik, Kemong sudah lari terbirit-birit ke dalam villa sampai kepalanya tersungkur di tembok ujung ruangan. Ternyata, suara tahmid yang di gema kan oleh beberapa orang itu disertai dengan membawa jenazah dengan ciri khas keranda di tutup kain hijau. 

Dipikul oleh beberapa orang, dan sebagian mengikuti dari belakang. Memang tidak banyak, tapi tetap bikin kami cukup kaget dan merinding bukan main. Dan yang lebih mengejutkan, rombongan itu melewati villa kami dan berhenti tepat di sebelah villa kami. 

Kami baru sadar, di bagian kiri sebelah kami parkir mobil, ternyata merupakan kebun sekaligus lahan kosong dengan beberapa hiasan nisan di atasnya. Kami pun kaget bukan main. Beberapa teman laki-laki yang dikenal paling iseng di kelas, ikut menghampiri proses pemakaman sambil mengintip di balik semak-semak. Mereka menginformasikan bahwa yang sedang di kubur sore itu adalah seorang laki-laki. 

Dengan proses pemakaman yang singkat dan hanya diantar sedikit orang, juga waktu pemakaman di sore hari menjelang magrib, membuat kami sedikit aneh dan “hah ko nguburin magrib-maghrib? Emang enggak pamali?” 

Di dalam muslim ternyata memang sebaiknya menyegerakan proses pemakaman sesegera mungkin. Jam berapa pun. Dan ini baru aku ketahui ketika aku sudah dewasa. Entah sugesti atau perasaan kami aja, sore itu terasa makin mencekam. Niatku untuk membeli camilan akhirnya urung dan hanya berdiam di ruang tamu bersama teman-teman 

Lucunya, ketika kami sedang mengobrol di ruang tamu, dan mulai melupakan kejadian tadi, tiba-tiba… lampu gantung antik dan berbentuk cekung, bergoyang ke kanan kiri. Kupikir gempa, tapi ternyata tidak. Karena lampu di depan teras, tidak tampak pergerakan sama sekali. Dan saat itu, kami semua melihat lampu itu bergoyang. 

Semakin dilihat semakin bergerak kencang. Sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya ketika Bu Sri datang menghampiri kami. Setelah itu, ia kembali ke ruangannya, di kamar gedung samping bersama suaminya, dan tidak kembali sampai pagi tiba. 

Untuk menghilangkan rasa ketakutan kami, kami memutuskan salat magrib berjamaah di ruang tamu itu. Karna waktu sudah melewati magrib dan langit sudah mulai gelap. Tentu kondisi sekitar semakin terasa hening dan mencekam. 

Tidak ada TV, tidak ada kursi, bahkan tidak ada gorden atau sehelai kainpun yang menutupi ruang tamu yang di dominasi oleh kaca. Setelah kami salat magrib berjamaah, rasanya kami seperti di awasi banyak mata dari luar. 

Kaca-kaca dari ruangan tamu ini, tembus pandang ke luar. Baik itu ke teras depan, halaman samping kiri hingga samping kanan. Kegiatan yang kami rencanakan pun semua berantakan. Hanya untuk membakar jagung di teras pinggir saja kami tidak berani. Malam itu terasa sangat panjang. 

Beberapa anak perempuan berinisiatif untuk menutup kaca-kaca samping dengan kain-kain yang bisa menutupi, kami sita semua sarung dan jaket anak laki-laki untuk menutupi hampir sebagian kaca sebelah kiri dan depan. 

Enggak tahu.. rasanya sebelah kiri villa terasa lebih dekat dengan makam yang masih basah tadi. Dan itu memberikan sugesti kami menjadi lebih takut. Setelah itu kami hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil masing-masing menahan takut. 

Sekitar jam 10 malam, anak laki-laki merasa jenuh dan kesal dengan keadaan yang semakin tidak nyaman ini, mereka memberanikan diri dengan sedikit umpatan “udah ah ngapain takut, makin takut makin kerasa enggak enak’’ 

Akhirnya mereka memberanikan diri keluar dan mencoba menyalakan api untuk membuat jagung bakar. Tapi, tidak sampai 10 menit mereka di luar, mereka berhamburan dan masuk ke dalam villa dengan umpatan-umpatan kasar. 

Dua orang dari mereka, mengaku melihat pocong sedang berdiri mematung di ujung villa sebelah kiri bagian belakang, tepat di dekat batas villa dengan kebun kosong tempat pemakaman. 

Keadaan semakin gaduh dan kami ketakutan. Kami berkumpul ditengah mencoba saling menenangkan. Tiba- tiba, semua kain yang kami rakit untuk menutupi kaca-kaca, lepas bersamaan dan meninggalkan pemandangan yang gelap gulita di balik kaca. 

Kami tetap mencoba tenang dan memasang Kembali kain-kain itu sampai akhirnya, satu jam kemudian, teman dekatku, memaksa minta ditemani ke belakang. Kebelet buang air kecil dan tidak mungkin berani sendirian. 

Akhirnya, aku dan tiga orang teman perempuan lainnya bersamaan menuju toilet belakang. Selesai temanku buang air, saat berjalan menuju kembali ke ruang tamu, dua diantara kami di kasih kejutan yang sama sekali tak diinginkan. 

Aku dan rima melihat teteh-teteh memakai dress putih sedang mengayun-ayunkan kaki di pendopo luar, dengan mata hitam legam, rambut gimbal berantakan. Mengerikan sekali. Pendopo itu bentuknya mirip semacam rumah pohon yang tidak terlalu tinggi tapi sudah cukup usang. Terlihat dari jendela belakang dekat toilet, dengan jelas ia mengayun ayun kaki. 

Aku hanya bisa berusaha berjalan cepat sekuat tenaga, tapi tidak mau terlihat lari karna pasti akan membuat panik teman-teman yang lain. Rasanya, malam itu aku ingin pulang. Tapi kami tidak bisa, karena ketakutan dan juga dirasa waktu sudah terlalu malam. Bukan hanya takut gangguan di villa, kami juga takut jika memaksa pulang, pada masa itu sedang ramai isu begal di daerah Kabupaten Bandung. Karena itu kami mengurungkan niat untuk pulang larut malam karena jam sudah menunjukan pukul setengah 1 malam. Kami terpaksa harus menunggu sampai pagi. 

Di dalam vila itu, hanya terdapat satu kamar. Kamar itu awalnya diperuntukan bagi anak-anak perempuan tidur. Tapi karena kondisi terasa sangat tidak kondusif dan tidak nyaman, kami semua berkumpul di ruang tamu bersama-sama. 

Tanpa satu orang pun yang bisa tertidur lelap. Jangankan untuk tidur, merebahkan badan saja, kami tidak berani. Sampai akhirnya jam menunjukan pukul 2 malam. Suasana makin terasa dingin, dan sepi. Sampai tiba-tiba sepi menjadi sayup-sayup bunyi kerincing lonceng. 

Lucunya, ternyata semua teman-teman saat itu sama-sama mendengar. Suaranya semakin mendekat semakin kencang. Gemerincing lonceng yang kami dengar disertai dengan suara kaki kuda berjalan dan gesekan roda kayu di jalanan berbatuan. 

Beberapa dari kami ada yang diam meringkuk, ada yang menangis, saling berpegangan dengan erat, sampai ada yang menutup wajah dengan memasukan kepala ke dalam tas. Pagi harinya, kita bersiap pulang ke rumah masing-masing, istirahat dan mulai masuk sekolah kembali di hari Senin. Tapi.. ternyata terror horor di villa tidak berenti sampai kami pulang. Aku sempat diikuti sosok yang cukup mengganggu. 

Aktifitas di sekolah, aku di ceritakan oleh teman-teman, katanya aku lebih murung, sering menggambar sosok makhluk aneh, padahal aku sama sekali tidak pernah bisa menggambar. Ketika di tanya siapa sosok yang aku gambar, aku selalu menjawab ‘’Tantan’’. Kata temanku, aku sempat mencakar teman baikku waktu dia merebut gambar dan mencoba untuk membakar gambar itu. Aku tidak pernah ingat melakukan hal itu sama sekali. 

Waktu itu, banyak teman-temanku menyaksikan jika aku sering bertingkah aneh. Seperti tiba-tiba mahir bermain gitar. Menatap kosong sampai berbicara diluar kendali. Dan pernah bilang “aku bisa terbang kayak kuda itu” Ketika teman-temanku sedang asik membicarakan gelang unicorn yang sedang hits pada masa itu. Ucapan itu yang membuat teman-temanku berhamburan keluar kelas. 

Sampai akhirnya aku dipanggil guru agama di sekolahku, Pak Asep. Pak asep yang katanya juga bisa melihat mahluk-mahluk lembut itu, hanya tersenyum dan mengusap punggungku. Semacam mengambil sesuatu dari punggung padahal dia tidak sama sekali menyentuh aku. 

Katanya, “dia suka sama kamu Fan, enggak pulang kalau enggak di anterin ke tempat asalnya, tapi biar sama bapak aja nanti dianter ke villa bu Sri sekalian bapak pulang.” 

Dashhhh! Merinding bukan main. Semenjak hari itu, gangguan itu selesai dan aku beraktifitas biasa. Tapi, mulai hari itu juga, secara tidak sengaja aku sering melihat mahluk-mahluk yang enggak pernah ingin aku lihat. Hingga sampai saat ini.

-Tamat- 

Thread By @kmbgkanthil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *