RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Malam Pengantin

Pernikahan MILA menyenangkan di hari resepsi saja, sisanya adalah malam-malam di neraka.

Sekitar seminggu yang lalu saya berjumpa Wawan. Dia follower akun ini. Dia bilang dia ingin menyampaikan sebuah cerita. Setelah sempat batal bertemu karena PSBB kedua kemarin, akhirnya kami bertemu. 

Wawan usianya sekitar 35 tahun. Kejadian ini menimpa kakaknya, MILA. Oh ya, Wawan mengajak saya bertemu karena dia juga dari Pontianak. Katanya dia sejang saat menemukan akun saya yang banyak bercerita dengan latar belakang Kal-Bar. 

Menurut Wawan seingatnya cerita ini berlangsung sekitar tahun 2004 atau 2005. Kakaknya berusia 19 tahun waktu itu. Masih baru lulus SMA. 

Mila adalah anak yang pintar di sekolah. Peringkatnya paling turun ya peringkat 3. Juara 1 udah langganan. Tapi sayang, keinginannya untuk kuliah harus terkendala ekonomi keluarga yang buruk. 

Ayah Mila dan Wawan hanya seorang tukang becak di Pasar. Ibunya sakit-sakitan di rumah. Wawan masih SMP waktu itu. Karena itulah Mila terpaksa mencari kerja. Dari kenalan Ayahnya Mila mendapat pekerjaan di sebuah Toko. Toko itu milik Tamrin, seorang pria berusia 34 tahunan. 

Tamrin dulunya begajulan. Suatu waktu ia merantau ke Malaysia. Ketika pulang, ia membawa banyak uang. Uangnya untuk modal membuat Toko. Begitulah ia kemudian dikenal sebagai orang kaya. 

Soal percintaan Tamrin kurang beruntung. Ia sudah dua kali menikah. Istri pertamanya meninggal karena kecelakaan. Sedangkan istri keduanya raib entah kemana. Katanya kabur dengan seorang pria ke malaysia. Secara penampilan, Tamrin cukup menarik bagi wanita-wanita yang sering datang ke tokonya. Rambutnya kelimis, bajunya necis, celana selalu levi’s.

Selain itu Tamrin terkenal Ramah dan baik. Sudah beberapa wanita yang mendekati Tamrin, tapi Tamrin pilih-pilih. Sampai dia berjumpa Mila, hatinya berbunga-bunga. Maka tak jarang kala sepi pembeli, Tamrin iseng menggoda. 

Mila awalnya tak tertarik. Tapi terus digoda membuat Mila mulai sering melirik. Tamrin tak buruk juga, apalagi Tamrin bilang kalau Mila mau dinikahi ia mau menguliahkan Mila walau sampai S.3. Maka setelah memantapkan diri menerima cinta Tamrin, Mila menikah dengan penuh suka cita. Acaranya besar-besaran, seolah-olah itu pernikahan pertama Tamrin. Semua orang memandang Mila sebagai wanita yang beruntung. 

Tapi semua kebahagiaan Mila segera berakhir ketika acara selesai. Karena rumah Mila kecil dan tak ada kamar, Tamrin izin ke orang tua Mila untuk langsung membawa Mila ke rumahnya saja. Karena mengerti bahwa pengantin baru hendak mantap-mantap, orang tua Mila setuju. 

Sesampai di rumah Tamrin yang besar Mila langsung diajak ke sebuah kamar. Kamar itu sungguh besar, dengan sebuah dipan di tengah ruangan. Ada taburan bunga melati di atas kasur. Wanginya memenuhi kamar yang tak berjendela itu. 

“Tunggulah di sini, aku ada urusan sebentar” kata Tamrin memegang pipi Mila.

“Baiklah abang” Mila tersenyum. Ia sungguh bahagia. 

“Kau mandilah dulu, pasti lelah bukan?” Kata Tamrin lagi.

“Pasti, Tidak mungkin Mila tidur dengan abang dengan keadaan bau ketek begini” kata Mila. Resepsi seharian membuat tubuhnya penat. 

Ketika Tamrin keluar kamar, Mila bergegas mandi. Kamar mandinya juga luas. Airnya bisa diatur dingin atau hangat. Mila sempat kaget saat air yang mengucur terlalu panas. Setelah bisa menyesuaikan suhu barulah Mila mulai mandi. 

Anehnya air yang mengalir itu tercium begitu harum, seumpama bunga melati. “Hebat, bahkan air mandi bisa dibuat wangi seperti ini. Kalau kaya, apa saja bisa” pikir Mila. 

Setelah mandi Mila mengenakan baju lalu tiduran di kasur. Nah setelah sejam sendirian di kamar, Tamrin tak datang juga. Mila penasaran lalu hendak keluar kamar. Tapi pintu tak bisa dibuka, terkunci dari luar. Mila tak tahu kenapa ia dikunci di dalam. Tapi ia masih berpikir baik, mungkin Tamrin ingin Mila lebih aman di dalam. 

Karena terlalu lelah Mila merasa sangat mengantuk. Kepalanya terasa berat. Lalu perlahan-lahan, Mila tertidur. Tengah malam, Mila merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Tangan orang itu mengelus lengannya, lalu ke arah perut lalu terus turun ke….

ya ke situlah pokoknya. 

Dalam keadaan setengah sadar Mila mulai merasakan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Tubuhnya menggelinjang. Lalu Mila mulai memutar tubuhnya menghadap orang yang pastilah si Tamrin itu. 

Namun Tubuh Mila kaku ketika melihat sosok yang memeluknya. Sesosok makhluk hitam legam dengan mata merah, perut buncit dan gigi kekuningan menyeringai di depannya. Liurnya menetes dengan aroma busuk bukan kepalang. 

Kalau Spryte nyatanya nyegerin, sosok itu nyatanya nyeremin. 

Mila melompat dari ranjang. Ia berlari ke arah pintu. Tapi pintu masih terkunci rapat. Ia menjerit sekuat tenaga, tapi tak ada yang membuka pintu. Entahlah kemana Thamrin, tapi sosok itu sudah mendekat dan menggerayangi tubuhnya. Tubuh Mila lama kelamaan menjadi lemas. Selang beberapa menit Mila kelelahan berteriak lalu jatuh pingsan. 

Paginya Mila terbangun tanpa sehelai benang di tubuhnya. Di dekatnya Tamrin sedang memunguti bunga-bunga layu dan memasukkannya ke dalam plastik hitam. 

“Dialah yang harus kau layani. Selama dia puas, kau akan dapat menikmati semua kemewahan ini. Kau juga bisa kuliah sesuai yang kau inginkan” kata Tamrin seolah-olah dapat membaca pertanyaan di kepala Mila. 

“Apa maksudnya? Jadi kau bersekutu dengan setan?” Mila berang.

“Kamu pikir semua ini bisa didapat dengan cepat hanya dengan berdagang Mila?”

“Terserah. Tapi aku akan pergi. Aku tidak mau terlibat. Kau itu jahat Thamrin!” Mila menangis. 

Masih terbayang di kepala Mira apa yang ia alami semalam. Benar-benar mengerikan. Semua bayangan itu membuatnya mual dan ingin muntah. Mila lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Thamrin berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Kau tidak bisa lari Mila. Sekali kau lari, maka nasibmu akan sama dengan dua istriku terdahulu”

“Apa maksud kau Thamrin?”

“Hilang Mila, kau akan hilang” kata Thamrin. 

Mila terdiam. Itu adalah sebuah ancaman.

“Kau pasti lelah, istirahatlah” kata Thamrin.

“Oh ya, jaga mulutmu. Kalau sampai ada berita buruk yang beredar soal aku, itu pasti dari kamu. Dan kamu tahu resikonya” kata Thamrin sambil membawa kantong berisi bunga itu keluar. 

Dari kebahagiaan luar biasa, dada Mila kini dipenuhi rasa takut luar biasa. Ia menangis sekeras-kerasnya. Membanting perabotan di kamar sesukanya. Ia berang, tapi tak tahu harus bagaimana. Ketika waktu beranjak siang. Tamrin datang dengan makanan.

“Kau tak perlu khawatir. Kau tak perlu memasak dan mengurus rumah. Semua bisa kukerjakan sendiri. Kau hanya perlu melayani Tuan” kata Thamrin.

Mila terdiam. Tak menyahut. 

Ketika Thamrin pergi, pintu kembali dikunci. Mila merasa dirinya disekap.

“Nanti ketika kau sudah terbiasa, kau boleh pergi kemanapun. Tapi sekarang, aku tak ingin kau lari” kata Thamrin. 

Istirahat sebentar ya. Go Food saya datang hahahahaha. 

Malam kedua di rumah Thamrin, Mila tak dapat tidur. Bayangan sosok memyeramkan itu membuatnya merasa sangat takut. Apakah sosok itu akan datang lagi malam ini?. Keringat dingin mengalir. Mila menangis semalaman. 

Paginya Thamrin membuka pintu kamar. “ikutlah denganku, kita perlu bicara” kata Thamrin. Mila membuntuti Thamrin dari belakang. Mereka lalu duduk di ruang tamu. 

“Kau tahu Mila. Kita sama-sama terjebak”

“Kau korbankan aku, sekarang kau bilang kau terjebak?. Aku yang kau jebak Thamrin!”

“Tapi bila tak aku lakukan, aku yang akan menanggung derita Mila. Aku sudah bersumpah dan berjanji pada Tuan” kata Thamrin. 

“Tapi itu bukan urusanku. Kau mati pun aku tak peduli” kata Mila.

“Aku mengerti perasaan kau Mila. Aku mengerti”

“Pembual kau Thamrin. Sekali pembual, kau tetap pembual” Mila berteriak garang. Thamrin terdiam. 

“Mila, aku ingin membuat penawaran”

“Aku hanya ingin bebas dari semua ini”

“Tak mungkin. Sekali kau menolak tuan, kau akan dihukumnya”

“Aku tak peduli”

“Kau ingin membuat bapak dan ibumu sedih?” 

“Kau tahu Mila, dia tak selalu datang. Ia hanya akan datang sebulan sekali. Kau hanya perlu melayaninya sebulan sekali. Sisanya, kau dapat bersenang-senang dengan semua harta yang aku punya”

“Aku yang kau korbankan, kau juga yang menikmati semua harta ini” kata Mila. 

“Penderitaanku membuat perjanjian dengan Tuan tak kalah pedih” kata Thamrin.

“Pilihanmu hanya dua. Menolak lalu hilang dan keluargamu sedih, atau berkorban, menikmati kekayaan lalu mengobati ibumu yang sakit-sakitan itu” kata Thamrin. Mila tak menjawab hingga Thamrin pergi. 

Berhari-hari Mila memikirkan kata-kata Thamrin. Sepanjang malam dilaluinya dengan rasa trauma yang dalam. Pernah ia berniat bunuh diri, tapi ketika terbayang wajah ibu dan bapaknya, dipendamnya perasaan itu dalam-dalam. 

Suatu malam Mila mengalami sebuah peristiwa aneh. Di antara tidur dan bangun ia mendengar seorang perempuan menyebut namanya. Mila…. Mila… Mila…. 

Ketika Mila membuka mata ia seperti melihat seorang wanita berdiri di pojok kamar. Namun tak lama sosok itu menghilang. Sekian detik kemudian di kejauhan Mila mendengar suara pekik kesakitam. 

Mila tak dapat tidur. Pikirannya melayang-layang. Sosok apa itu? Adalah hubungan dengan makhluk hitam legam itu? 

Dua minggu dihantui rasa takut dan ngeri, Mila menerima kabar yang tak menyenangkan. Di suatu siang, Thamrin pulang dengan tergesa.

“Kita harus ke rumah sakit Mila”

“Ada apa?” Tanya Mila.

“Ibumu kambuh” kata Thamrin. Mila panik dan mengikuti Thamrin. 

“Kenapa kau mengajakku menjenguk Ibu setelah kau kurung aku di rumah?”

“Kalau kau tidak menjenguk dan menjaganya. Orang-orang akan curiga. Lagipula aku percaya kau tak akan macam-macam. Kalau kau membelot, Tuan akan menghancurkanmu juga keluargamu” kata Thamrin. 

Mila bergidik. Jebakan itu susah dihindarinya. Barangkali yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah. 

Melihat ibunya terbaring lemah Mila merasa sangat sedih. Tapi hari itu Wawan melihat Ibunya sebagai seorang yang berbeda. Lesu dan tak terawat. Begitu kata Wawan ke saya. 

“Soal operasi Ibu, nanti saya bicarakan dengan Mila” kata Thamrin.

“Ibumu sudah parah Mila. Harus dioperasi segera” kata Thamrin. Mila kaget, ibunya memang sakit-sakitan. Tapi mereka jarang periksa karena ekonomi yang sulit. 

“Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan. Aku tidak membiayai pengobatan ibumu dengan daun. Kau layani Tuan, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan ibumu” kata Thamrin di perjalanan pulang. Mila termenung. 

Sudah kepalang basah. Mila menyetujui permintaan Thamrin. Selama hampir setahun, Mila harus menahan kengerian luar biasa setiap sosok itu datang. Sosok bermuka hitam legam itu membuat sekujur tubuhnya membeku menahan ngeri. Setiap ritual selesai. Berhari-hari Mila tak nafsu makan. Tapi apa hendak dikata. Ia terjebak semakin dalam. 

Nah di luar ritual-ritual ini Mila mulai ikut menikmati kekayaan yang didapat Thamrin. Ia sudah mulai kuliah sesuai keinginannya. Ibu Mila juga mulai sehat. Semua tampak begitu baik. Orang-orang memandang Mila dan Thamrin sebagai pasangan yang serasi. Tapi tidak bagi Wawan, ia dapat merasakan perubahan pada kakaknya. Menurut Wawan sebelum menikah Mila itu lebih riang anaknya, tapi setelah menikah jadi lebih “cool” gitu. Hemat bicara.

Tapi waktu itu Wawan mikirnya mungkin karena sudah menikah. Wawan sesekali menginap di rumah Thamrin. Tapi ia tak betah. Hawanya aneh, pengap, dan tidak nyaman. 

Nah bagaimana dengan hubungan Thamrin dan Mila? Kata Thamrin Mila bukanlah istrinya. Ia menikahi Mila hanya sebagai kedok. Ia tak boleh menyentuh Mila atau tuannya akan marah. Jadi sebenarnya mereka tidur di kamar yang berbeda. 

Namun yang menyakiti hati Mila, Thamrin seringkali pulang membawa perempuan di depan matanya. Perempuan-perempuan itu tak lain adalah pemuas nafsu Thamrin. Nah sementara itu Mila juga sering mengalami peristiwa aneh. Ia sering ditemui sosok perempuan berambut lebat, bermata sayu, dan sesekali tampak tersenyum. Sambil tersenyum ia tampak seperti sedang berbisik. “Pergilah Mila” 

Sosok itu bahkan beberapa kali datang menemui Mila dalam mimpi tapi Mila tak berani cerita ke siapapun. Mila benar-benar jadi perempuan yang tertutup. Bulan kedua belas, Di suatu malam yang dingin. Pukul 12 malam Mila terbangun. Sosok itu berdiri di depannya. Mila sudah terlalu lelah, ia memutuskan untuk mengajak sosok itu bicara.

“Siapa kamu?”

“Aku pernah ada di posisimu!” Kata sosok itu.

“Kamu? Istri Thamrin?” 

Sosok itu mengangguk. Lalu sekian detik kemudian tubuhnya seperti tertarik ke belakang. Ia berteriak keras. Ada kekuatan yang mengusirnya pergi. Tak lain dan tak bukan, itu adalah Tuan. Nampaknya Thamrin meminta Tuan memberikam penjagaan pada rumah itu. 

Tapi percakapan singkat itu membuat Mila penasaran. Seperti ada sesuatu yan hendak disampaikan sosok itu. Tapi bagaimana caranya?

Nah suatu waktu Mila pulang ke rumah. Di situlah Wawan iseng bertanya ke Mila.

“Kakak ndak bahagia kah sama bang Thamrin?” Tanya Wawan

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tak pernah sekalipun aku lihat kakak tersenyum lagi. Ada pun hanya sesekali” kata Wawan.

“Ceritalah kak” tambahnya 

“Kau kenal orang yang bisa jadi perantara ghaib?” Tanya Mila.

“Untuk apa kak?”

“Kenal atau tidak? Jawab saja”

Wawan mengingat-ingat. Ia teringat seorang temannya yang di sekolah sering diledek karena bapaknya adalah seorang dukun. Maka Hari itu juga Mila dan Wawan pergi. 

Mila masuk ke dalam sedangkan Wawan disuruh menunggu di luar. Saat keluar, Mila tampak marah dan kesal. Ia baru saja mendengar sebuah rahasia. 

Jadi di dalam, Mila dibukakan pintu ke alam yang beda. Ia berjumpa mantan istri Thamrin. Sosok itu bercerita kalau ia ingin menyampaikan semua kebusukan Thamrin. Tapi setiap dia ke rumah itu, sosok hitam itu mengusirnya. Ia berterimakasih Mila mau menemuinya. 

Sosok itu bercerita kalau Thamrin itu licik. Ibu Mila yang sempat sakit tak lain adalah ulah Thamrin. Di mengirim teluh agar Mila kasihan dengan ibunya, lalu mau diperbudak dalam ritual laknatnya. Makanya Mila marah besar. 

Wawan tak tahu apa-apa waktu itu namun sepanjang jalan Mila tampak gusar. Wawan tak berani bertanya walau penasaran masalah seperti apa yang dihadapi kakaknya. 

Sementara itu, Mila menyiapkan sebuah pembalasan. 

Jadi dengan petunjuk ayah Teman Wawan, Mila memutuskan untuk melakukan ritual perjanjian dengan sesuatu yang Thamrin sebut Tuan. Mila tak menceritakan secara rinci cara ritual ini ke Wawan. Tapi salah satunya adalah Mila harus mengiris lengannya. 

Itu membuat Mila antara hidup dan mati karena kehabisan banyak darah. Antara sadar dan tidak Mila merasa ada sosok yang mendekat. Ia kenal aroma itu. Dialah yang disebut Tuan. 

Maka malam itu, tanpa sepengetahuan Thamrin yang sedang pergi dengan perempuan-perempuan penghiburnya, Mila meminta sesuatu kepada sosok itu. Kematian. 

Dan ketika Thamrin pulang, ia merasakan sesuatu yang aneh mengikutinya. Sekelebat-sekelebat ia melihat sosok Tuan dari kaca mobilnya. “Tuan, ada apa Tuan?apakah Tuan marah? Apa kesalahan saya?” Thamrin panik.

“Aku bukan Tuanmu, aku telah punya Budak yang baru” kata sosok itu. 

Lalu pandangan Thamrin menjadi gelap. Ia menabrak sesuatu, membuat mobilnya terguling. Nyawanya seperti ditarik paksa dari tubuhnya. Thamrin wafat di tempat. 

Lalu apa yang terjadi dengan Mila? Ia melanjutkan hidup dengan terus mengabdi pada Tuan. Kekayaan warisan Thamrin juga cukup untuk menghidupinya hingga sekarang. 

Mila emang pintar. Daripada harus diperbudak untuk orang lain, ia menjadi budak untuk dirinya sendiri.

Walau sampai sekarang hal itu ia rahasiakan, namun Wawan tahu karena Mila bercerita padanya. Wawan sering diminta menyiapkan ritual setiap bulan. 

Perasaan Wawan sampai sekarang campur aduk. Mau tidak terlibat, tapi harta dari ritual itu cukup menghidupinya dan keluarga. 

Dengan demikian Cerita ini saya sudahi sampai di sini saja. Maaf bila banyak kekurangan. Sampai jumpa di cerita lainnya.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *