RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Mayang, Hantu Penghuni Kontrakan

Pada suatu siang..

“Semoga kalian krasan ya..”. Ucap Pak Wirjo seraya memberikan sebuah kunci kepada 4 orang wanita-wanita muda itu. 

“Nggih Pak Matursuwun”. Jawab Marta, Ani, Rina dan Lisa secara bersama-sama.

Merekapun segera menuju pintu setelah Pak Wirjo pergi, pintu sebuah kontrakan yang terlihat wajar dan biasa saja. Sambil membawa bawaannya masing-masing mereka berjalan masuk, melewati ruang tamu, dan ruang tengah dan sampailah mereka di sebuah ruangan setelahnya. 4 kamar yang saling berhadap-hadapan, 2 disisi kanan dan juga sebaliknya. 

“Hmmm, bersih dan lumayan bagus juga nih rumah ya?”. Kata Ani seraya melihat-lihat sekeliling.

” Iya..ya.. Jauh banget sama kontrakan kita yang lama, yang ini lebih murah lagi!!”. Sahut Rina.

“Ya jelas murah lah, rumah ini kan lebih jauh dari kampus”. Ucap Lisa. 

Sementara ketika Lisa, Ani dan Rina tengah berdebat berebut kamar, tampak Marta hanya terdiam memandangi sekeliling dengan wajah aneh.

“Ada apa sih ta!!!”. Kata Rina yang melihat gelagat Marta.

” Jangan bilang rumah ini ada hantunya ya!!”. Ucap Lisa dengan wajag kesal. 

“Emmm.E. Enggakk kok, gak ada apa-apa, aman!!”. Ucap Marta singkat, sambil memilih kamar paling ujung.

Singkat cerita, setelah menata dan beberes, mereka pun berkumpul di ruang tengah, memasak mie instan dan mereka makan bersama-sama. 

“Wah, sumpah enak banget ini rumah, mana ada TVnya lagi”. Kata Rina sambil mengutak-ngatik tombol remote dan berhasil menyalakan TV itu.

Marta masih dengan gelagat yang sama, sedikit pendiam dan selalu was-was memandangi sekitar. Seakan ia merasa ada seseorang selain mereka yang tengah mengawasi. Mereka pun saling mengobrol hingga tak selang beberapa lama terdengar ketukan dari pintu depan.

“Tok..tok..tok..”.

Rina segera beranjak dan membukakan pintu. Terlihat Pak Wirjo sudah berdiri di depan pintu

” Ada apa ya Pak?”. Tanya Rina. 

“Gini Mbak, cuma mau ngasih tau, rumah ini ledengnya manual, jadi kalau air di penampungan habis, kalian harus menyalakannya, tombolnya ada belakang dapur”. Kata Pak Wirjo.

” Gimana-gimana Pak?”. tanya Rina tak paham, dengan keripik yang masih dikunyah didalam mulutnya. 

“Ayo saya tunjukkan saja..”. Jawab Pak Wirjo dengan halus.

” O nggih, Monggo masuk pak”. Ucap Rina.

Singkatnya Pak Wirjo pun masuk, menunjukan tombol ledeng itu, kepada mereka berempat. Dan setelah itu pergi.

“Kalau ada apa-apa, rumah saya ada di sebelah Mbak,  selisih 2 rumah dari rumah ini”. Kata Pak Wirjo seraya berpamitan.

Merekapun kembali ke ruang tengah untuk menonton TV, kecuali Marta yang memilih untuk masuk ke kamarnya. Marta pun merebah di atas kasur, menatap ke langit-langit, tatapan mata nya berhenti pada suatu sudut, lubang rongga eternit berukuran kurang lebih stengah meter persegi, sepertinya Pak Wirjo lupa untuk menutupnya kembali karena terlihat seperempat kayu tipis terbujur miring di atas rongga langit-langit itu.

Marta yang merasa tak nyaman, kini keluar dan mengambil sapu, dengan gagangnya ia menekan kayu tipis itu dan perlahan menggeser-geser hingga hampir menutup rongga langit-langit kamarnya itu. 

Namun ketika matanya terfokus, tiba-tiba, Marta melihat jari yang memekar-mekar di pinggiran lubang yang hendak ia tutup itu. Sontak karena terkejut, Marta berteriak hingga sapunya terjatuh, begitu juga dengan dirinya yang ikut tersungkur kelantai dengan kedua tangannya menutupi wajahnya.

“Aghstafirullahahadzim!!!..Aghstafirullahahadzim!!!….Aghstafirullahahadzim!!!”. Ucapnya dengan sedikit membisik.

” Jemari siapa itu!!!!”. Batin Marta.

Teriakan Marta tampaknya terdengar oleh ketiga temannya, Ani, Lisa dan Rina langsung datang menghampiri.

“Ada apa sih ta!!ada apa.. Ada apa!!”. Ucap ketiga temannya setelah membuka pintu dan melihat Marta tengah tersungkur di lantai sambil menutupi wajahnya.

Rina Menghampiri, menepuk tubuhnya, mengajak Marta untuk bangkit dari situ.

” Ada apa sih ta!!”. Tanya Rina. 

Marta tak menjawab, sambil perlahan membuka tangan yang menutup wajahnya, pandangannya kembali menatap di rongga langit di atasnya yang sudah tertutup sebagian, sontak ketiga temannya yang melihat itu, bersamaan juga ikut menatap rongga langit-langit itu. 

“Pliss.. Kenapa sih kamu!!”. Bentak Lisa kini.

” Engg…enggak papa kok!!, tadi ada tikus gedhe banget”. Jawab Marta dengan gugup.

Jawaban itu tentu tak sesuai dengan apa yang sebenarnya dilihat oleh Marta, tapi sebagai satu satunya orang yang memiliki kelebihan diantara mereka berempat, Marta mencoba untuk menutupi hal ini, ia tak ingin membuat takut teman-temannya.

Singkat cerita malam pun tiba, dengan hujan yang turun tak begitu deras, membuat suasa menjadi cukup dingin. Marta, Lisa, Rina dan Ani lagi-lagi tampak berkumpul di ruang tengah, sambil menikmati acara ditelevisi yang tak begitu menarik, mereka terlihat asik berbincang..

“Eh buat kopi enak nih!!”. Kata Lisa di tengah obrolan itu. 

“Sana kamu kalo mau bikin!!!, aku mah ogah, takut gak bisa tidur, besok ada kelas pagi soalnya”. Timpal Ani.

Lisa melihat jam di ponselnya,

” Duh tanggung juga, kalau ngopi, udah jam 9 juga”. Katanya yang kemudian urung melanjutkan niatnya itu. 

Hujan yang tadi tak begitu lebat pun tiba-tiba berubah menjadi sangat deras, disusul oleh kilat dan petir yang menyambar. “Duarrrrrr!!!”. Satu suara petir yang sangat keras itu mengagetkan mereka, bersamaan dengan itu, listrik pun tiba-tiba padam. 

Dan dari sinilah sebenarnya cerita ini dimulai….

Silahkan tinggalkan dulu Like dan RT pada cover judul utas ini.. 

Keadaan seketika berubah menjadi gelap, mereka tentu saling merapatkan posisi duduknya, Lisa mulai menerangi keadaan sekitar dengan cahaya dari layar ponselnya.

“Ada lilin gak sih?”. Ucap Lisa.

” Gak tahu, ayo kita cari di dapur sama-sama”. Sahut Rina. 

Mereka pun kini bangkit dan beranjak menuju dapur dengan berjalan saling beriringan, berbekal cahaya dari layar ponselnya masing-masing.

Hingga sampailah mereka di ruangan dapur, dan berpencar untuk mencari lilin. Sampai akhirnya Marta lah yang menemukan lilin itu tapi cuma satu!!, “tak apa lah, yang penting ada lilin”. Batin mereka, ” Tek!!!”. Kompor menyala, sumbu lilin pun Marta dekatkan ke api. Dengan alas mangkuk kecil untuk lilinnya, mereka kembali berjalan menuju ruang tengah, Marta berada paling depan dengan lilin itu dan yang lain mengikuti di belakangnya.

Mereka berjalan perlahan, namun ketika sampai tepat di depan kamar Rina, atau sekira 5 langkah lagi mereka sampai ke ruang tengah, tiba-tiba… Api dari lilin itu mati. 

Seketika Marta langsung menghentikan langkahnya sambil berkata “Aghtafirullah!!!!”. Namun Ani, yang berada tepat di belakang Marta, ternyata sempat melihat sesuatu, dengan nada bergetar Ani pun berkata.

” Appa itu tadi ta!!!”. Ucap Ani yang tentu juga terdengar oleh 2 teman di belalangnya.

“Udahh dongg, jangan nakut-nakutinnn!!”. Sahut Lisa dibelakangnya.

Bersamaan dengan itu Rina yang berada di bagian paling belakang seketika langsung memegang tangan Lisa erat-erat..

” Tolongg…tolong…tolong”. Ucap Rina gagap membisik. 

Lisa menoleh dan menatap Rina, menyinari wajahnya dengan layar ponselnya, Rina tampak gemetar dan mulai mengeluarkan air mata, seraya perlahan kepalanya menunduk untuk memeriksa apa yang ada di kakinya.

“Aaaaaaaa!!!!!”. Rina berteriak namun pelan, Lisa yang tak paham langsung menyeret temannya itu, dan akhirnya mereka semua pun berhamburan berlari hingga sampai di ruang tengah,

Bingung, takut dan gelisah jelas tampak di raut wajah mereka masing-masing, Marta yang kini tampak menunduk ketakutan sambil terus memegangi mangkuk lilin itu Rina yang tak berani membuka matanya, Ani yang memeluk bahu Marta, dan Lisa yang masih tampak kebingungan menatap sekeliling.

Bersamaan dengan itu, kilatan petir yang menyambar-nyambar, membuat suasana menjadi terang walau itu hanya sekejap. Lisa mendadak menyenggol tubuh teman-temannya itu.

“Ehh… Siapa itu di ruang tamu”. Ucap Lisa yang entah mengapa langsung segera direspon oleh teman-temannya. 

Rina, Marta, Lisa dan Ani kini memandangi ruang depan itu, dari ruang tengah, saat pertama kali mereka menatap, memang yang terlihat hanyalah kegelapan, namun ketika kilatan petir mulai menyambar dan sekejap menerangi ruangan itu!! 

Terlihatlah, sesosok wanita berbaju putih yang tengah duduk di atas meja!! Sangat jelas!! Wajah dari sosok itu, menatap menyeringai ke arah mereka berempat. Rina yang pertama kali berteriak, membuat semuanya panik.

“Uuuu dahh.. U…dahh tenang, diam aja, jangan lihat kesitu” ucap Marta dengan gagap dan gugup.

Dengan perlahan-lahan mereka bergeser ke sudut ruangan dengan penuh ketakutan, tanpa ada yang berani menoleh ke arah sosok itu lagi, kecuali Marta yang sesekali melirik ke arah ruang tamu.

“Sosok itu masih ada, jelas dan berdiri disitu!!”. 

Entah berapa lama mereka meringkuk ketakutan, hingga akhirnya listrik pun kembali menyala, membuat mereka sedikit merasa lega.

Perlahan mereka mulai membuka matanya masing-masing, menoleh lagi ke arah ruangan itu, ruangan dimana sosok itu tadi berdiri. Tak ada lagi sosok wanita itu, suasana juga sudah terlihat lengang berikut dengan hujan yang perlahan mulai reda.

Mereka berempat dengan wajah-wajahnya yang masih ketakutan mulai bangkit dan berjalan ke kamarnya masing-masing dengan penuh keraguan. Tak ada lagi percakapan atau memang tak tahu apa yang harus mereka bicarakan karena masih bingung dengan apa yang terjadi tadi.

Namun seketika suasana itu pun pecah, ketika tangan mereka menyentuh gagang pintu kamarnya masing-masing. Karena entah dari arah mana, terdengar suara tawa yang memekik, sangat keras!!. Rina, Marta, Lisa dan Ani, langsung berteriak, berhamburan dan saling berpelukan!!

Image

Tawa itu terdengar bukan seperti manusia, entah mahluk apa itu, tawanya mengikik dengan tempo yang begitu cepat tanpa jeda. Rasa takut sudah membuat mereka semua tak tahan lagi, dan dengan penuh emosi salah satu dari mereka yaitu Marta langsung berteriak sambil berkata!!!

“Woyyyyyyyy!!!!! Bangsat!!! Kalau berani keluar kamu!!! Jangan ganggu kami!!!”. Teriak Marta dengan nada yang bergetar. 

Sejenak suara itu bertahan namun kemudian menghilang,

“Pasti ini dari sosok yang tadi menampakkan diri di ruang tamu itu!!”. Batin Marta dengan nafasnya yang terengah-engah. 

Tak tahu apa yang harus mereka lakukan, meski ini bukanlah pengalaman pertama untuk Marta bersentuhan dengan hal seperti ini, tapi tidak untuk ketiga temannya. Yang kini terlihat amat sangat ketakutan. 

Mereka berempat pun memutuskan untuk masuk ke kamar Rina, bersama-sama kini mereka meringkuk saling berdekatan di atas kasur.

“Ini baru sehari kita tinggal dirumah ini!! Udah kayak gini, pokoknya besok aku mau cabut!!!”. Ucap Rina seraya mengusap air matanya. 

“Terus kita mau pindah kemana? Kita udah bayar full, aku gak berani minta lagi ke orangtuaku, dengan alasan apa? Rumah ini ada setannya!!!”. Jawab Lisa.

” Udah dong udah!!!”. Kata Ani.

“Kita bertahan dulu aja, barang 3-4 hari lagi, nanti aku coba kasih tau sepupuku yang bisa mengatasi hal-hal kayak gini”. Ucap Marta di tengah perdebatan kecil itu.

Hingga selang beberapa lama, satu per satu dari mereka pun mulai merebah di atas kasur, meski terasa sempit, tapi inilah mungkin cara terbaik untuk mereka melewati malam yang kacau ini. Rina menyalakan musik dari ponselnya, membiarkannya menyala sampai mereka semua terlelap.

Sekitar pukul 6 pagi mereka semua terbangun, oleh suara Bu Ngatinah, istri Pak Wirjo yang sedang menyapu di halaman rumah kontrakan itu. Ani yang teringat bahwa ia ada kelas pagi ini, langsung bangkit berjalan menuju kamarnya dan setelah itu mandi, di susul oleh 

Lisa dan Marta yang segera keluar dari kamar Rina. Lisa masuk ke kamarnya sementara Marta tampak berjalan keluar rumah, menyapa Bu Ngatinah yang tengah menyapu di halaman depan. 

“Pagi Bu..”. Ucap Marta seraya menganggukkan kepalanya.

” Eh Mbak, sudah pada bangun ya.., gimana semalam tidurnya? Nyenyak kan?”. Kata Bu Ngatinah dengan ramah.

“Eeee.. Iya Buk, nyenyak kok”. Jawab Marta dengan sedikit gugup. 

“Alhamdulillah kalau nyenyak”. Ucap Bu Ngatinah lagi.

Tak lama kemudian Lisa muncul dari belakang sambil membawa secangkir teh dengan sekonyong-konyong ia berkata.

” Rumah ini ada penunggunya ya buk? Kami semalam diganggu!!”. Ucap Lisa ketus.

Marta tampak menyenggol-nyenggol tubuh Lisa, mengisyaratkan agar ia tak sembarangan bicara.

“Apaan sih kamu Sa!!”. Kata Marta.

Bu Ngatinah tersenyum, menoleh menghentikan sejenak aktivitasnya sambil berkata.

” Halah ndak papa, dia cuma mau kenalan aja, nanti lama-lama kalian juga terbiasa!!”. Jawab bu Ngatinah dengan halus.

Bersamaan dengan itu tampak Ani yang sepertinya hendak berangkat ke kampus muncul dari belakang mereka berdua.

“Minggir-minggir, aku takut telat nih!!”. Ucapnya sambil berjalan menyelip di antara Marta dan Lisa.

Ani pun menyapa Bu Ngatinah dan selanjutnya pergi berlalu dengan terburu.

“Saya Masuk dulu nggih buk,”. Kata Marta kepada Bu Ngatinah yang selanjutnya diikuti juga oleh Lisa. 

“Ehhhh.. Itu yang punya kontrakan ya? Udah gila ya, kita disuruh terbiasa, setelah kejadian semalam”. Tanya Lisa sambil mengikuti Marta yang sedang berjalan menuju dapur.

” Hushh!!, bukan itu cuma orang yang disuruh ngurusin rumah ini aja, yang punya rumah ini bukan orang sini”. Jawab Marta seraya mengambil cangkir dan menuangkan air hangat.

“Ohya!! Kamu jadi hubungin sepupumu kan?,buat nanganin ini?”. Tanya Lisa Lagi. 

“Iya nanti aku telpon orangnya”. Jawab Marta singkat sambil menyesap minumannya.

Hampir bersamaan dengan itu Rina datang, dengan handuk dan peralatan mandi yang ia bawa, sambil melewati Marta dan Lisa yang tengah berdiri di ruangan dapur itu ia pun berkata: “Pokoknya kalau kejadian semalam terulang lagi, aku bakalan cabut dari rumah ini!!”. Ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi.

Marta mengambil ponsel dari saku celananya, menepati janjinya untuk menghubungi sepupunya itu.

” Nanti sore sepupuku mau kesini”. ucap Marta setelah menutup panggilan dari sepupunya itu.

Singkat waktu sekira pukul 9 pagi, Rina berangkat ke kampus, begitu juga dengan Lisa yang menyusul setelahnya sekira pukul 10 pagi. 

Sementara sekarang tinggal Marta sendiri lah di rumah kontrakan ini, karena kebetulan hari ini dia memutuskan untuk tidak ke kampus dulu. Entah apa alasannya, yang jelas ada sesuatu yang harus Marta lakukan hari ini yang berhubungan dengan kejadian semalam tentunya. 

Marta tengah berada dikamarnya, bermain dengan laptopnya, menonton film-film yang sebenarnya sudah pernah ia tonton sebelumnya. Entahlah, mungkin ia merasa suntuk saja atau hanya sekedar ingin membunuh waktu. Berjam berlalu, perutnya mulai keroncongan, Marta pun bangkit dan berjalan menuju dapur untuk memasak mie instan.

Seraya menunggu matang ia pun mulai iseng memeriksa keadaan sekitar, membuka pintu belakang dapur yang terhubung ke pekarangan. Seketika matanya tertuju ke arah sumur di sisi kanan pekarangan itu.

“Oh iya, ngisi air ah, dari pada nanti kehabisan”. Ucapnya sambil berjalan ke arah sumur dan memencet saklar ledeng yang kemarin di tunjukkan oleh Pak Wirjo.

Setelah itu ia pun kembali berjalan masuk menuju dapur dan menyadari mie yang dimasaknya sudah hampir matang.

Mie sudah siap, tertata di atas piringnya, Marta berjalan pelan kembali ke kamarnya. Ia pun makan seraya memandangi layar laptopnya. 

Sekira ketika ia sudah hampir selesai dengan makanannya itu, tiba-tiba terdengar suara yang menyebut namanya.

“Ssstt..heyyy Marta!!”. Suaranya terdengar cukup jelas di siang itu walau dengan nada yang berbisik. 

Mata Marta langsung terbuka lebar, memandangi sekeliling, menjeda tayangan dilaptopnya untuk meyakinkan suara yang baru saja seperti ia dengar.

“Ahhhh.. Halu nih aku, masa siang-siang bolong gini”. Batin Marta sambil kembali menghentikan jeda dan meneruskan tontonannya. 

Seraya memandang layar Marta memakan suapan terakhirnya, dan bersamaan dengan itu, suara itu terdengar lagi!!.

“Ssssttt, heyyy.. Marta!!!”.

Suara itu terdengar jelas membisik didekat telinganya, membuatnya sempat terkejut, sampai-sampai menjatuhkan garpu yang digenggamnya. 

Menyadari suara itu benar-benar ada, Marta langsung mengeraskan volume laptopnya dengan maksimal, meski nyatanya itu tak cukup membantu karena selang beberapa saat kemudian suara itu terdengar lagi dengan kata-kata yang sedikit berbeda. 

“Ssstttt..hey,, Marta!!, aku Mayang, kita bisa temenan kan!!hihihihihi”. Begitu kata suara tak bertuan itu, terdengar jelas didekat telinga Marta.

Marta yang mulai ketakutan langsung menutup telinga dan memejamkan kedua matanya. ” Agstafirulllahh..agstafirullah!!”. Ucapnya dengan agak keras.

Beruntung setelah beberapa lama Marta menutup telinga dan matanya, suara itu tak terdengar lagi, buru-buru ia menyambar ponsel disampingnya dan menghubungi sepupunya.

📞:”Haloo.. Antok!! Bisa kesini sekarang nggak?tolong, aku barusan digangguin!!”. Ucap Marta tanpa memberi kesempatan sepupunya itu untuk berbicara terlebih dahulu.

📞:”Hah??!! Siang-siang begini?”. Jawab Antok agak keheranan.

📞:”Pokoknya kamu kesini sekarang!!”. Ucap Marta.

📞:”Oke..oke aku otw deh!!”. Jawab Antok dan kemudian panggilan pun berakhir. 

Marta pun berdiri, berjalan kesana-kemari didalam kamar seperti menunjukkan kegelisahannya.

“Jangan masuk..jangan masuk..jangan masuk!!!”. Ucap Marta berulang kali.

Dan entah apa maksud dari kata-kata Marta itu yang jelas tak selang beberapa lama tubuhnya pun bergetar, menghentak-hentak dan Marta pun terdiam menunduk, bersamaan dengan itu, Antok sepupunya pun datang, mengetuk pintu.

“Tok..tok..tok”. 

Marta pun menoleh dan berjalan menuju pintu depan dengan gelagat yang cukup aneh, membukakan pintu lalu tersenyum kepada Antok dengan tatapan yang sinis.

Melihat itu, Antok sepertinya tahu apa yang terjadi. Ia pun masuk dengan sedikit mendorong tubuh Marta seraya memegang tangan sepupunya itu.

“Siapa kamu!!?”. Ucap Antok dengan sedikit membentak.

” Aku Marta”. Jawab Marta dengan nada datar.

“Jangan bohong kamu!! Aku tidak melihat Marta di wajahmu!!”. Bentak Antok lagi yang yakin bahwa sepupunya itu tengah dirasuki oleh sesuatu. 

“Cepat katakan!! Dimana Marta!!”. Bentaknya kembali.

Ternyata sepertinya memang benar dugaan Antok, jika Marta kini telah dirasuki.

” Ini pasti sosok yang tadi gangguin Marta!!”. Batin Antok sambil terus menatap Marta yang mulai tersenyum-senyum aneh. 

“Marta, temanku ada di atas, lagi jagain adikku!!”. Ucap sosok yang merasuki tubuh Marta itu.

” Hah!!”. Antok sedikit terkejut.

“Kamu siapa!!?”. Ucap Antok kepada sosok yang tengah merasuki Marta.

” Aku MAYANG, aku tinggal di loteng rumah ini dengan adikku”. Kata sosok didalam tubuh Marta itu.

Antok kembali terkejut dan melepaskan genggaman tanganya.

“Keluarlah kamu sekarang, kembalikan Marta ke tubuhnya lagi!!”. Kata Antok dengan nada tinggi.

Sosok yang berada dalam tubuh Marta itu pun hanya tersenyum dan berkata. 

“Jemput saja sendiri……”. Ucapnya sambil meraih tangan Antok dan menjabat tangannya.

Seketika kepala Antok terasa berputar-putar, tepat beberapa detik setelah sosok yang tengah merasuki Marta itu menjabat tangannya. 

Sekejap pandangan Antok menjadi gelap kemudian kembali terang, namun ketika ia membuka matanya Antok sudah berada di tempat yang berbeda yang kondisinya sangat sulit untuk dijelaskan. Tampaknya Mahluk yang bernama Mayang itu membawa Antok untuk menjemput Marta di tempatnya.

“Taaaakkk… Martaaaa…!!!”. Teriak Antok di tempat itu.

” Martaaaa!!!”. Teriak Antok lagi.

Tak ada jawaban apapun dari Marta maupun sosok itu. Namun samar-samar Antok mendengar suara tangisan yang seketika ia yakini itu adalah tangisan dari Marta sepupunya.

Antok pun bangkit dan mengikuti sumber suara itu sambil terus memanggil-manggil nama Marta tanpa henti.

Hingga tak lama kemudian, di sebuah sudut diantara rimbunan pohon-pohon aneh, Antok melihat Marta yang tengah duduk memeluk kakinya sambil menangis. 

Tampak juga di samping Marta, berdiri 2 sosok, laki-laki kecil dan wanita dewasa, menatap Antok sambil melambai-lambaikan tangannya, seperti menyuruh agar Antok segera datang menghampirinya.

Dengan pelan dan penuh keraguan, Antok pun berjalan menghampiri. 

Segera menarik tangan Marta dan segera berlari menjauhi 2 sosok itu.

Setelah itu suasana pun kembali menjadi gelap. Antok dan Marta terbangun di ruang tengah dengan orang-orang yang sudah berkerumun di sekelilingnya. 

Tampak Ani, Lisa, Rina, Pak Wirjo dan Bu Ngatinah yang segera berebut untuk membangunkan tubuh mereka.

“Alhamdullilah!!”. Ucap mereka bersama-sama.

Antok dan Marta tampak kebingungan dengan suasana sekitar yang sepertinya sudah malam. 

“Jam berapa sekarang?”. Kata Marta dengan wajah yang terlihat letih.

Rina mendekatkan layar ponselnya ke wajah Marta, jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari.

” Kamu sama, siapa ini?? Sepupumu, udah teriak-teriak dari siang, aku yang tadi nemuin kalian berdua tiduran di lantai ruang tamu sambil guling-guling, terus aku panggil pak Wirjo, dan sampe sekarang ini!!”. Kata Rina dengan wajah penuh tanya.

“Siapa itu Mayang!!!”. Ucap Antok secara tiba-tiba.

Tampak Bu Ngatinah dan Pak Wirjo kini saling pandang setelah mendengar pertanyaan itu. 

Dan disinilah Pak Wirjo mulai bercerita tentang sosok Mayang tersebut.

Pak Wirjo berkata, Mayang adalah penunggu disini yang dulu memang sengaja dipelihara oleh pemilik rumah ini sebagai penjaga.

“Sebenarnya bukan hanya Mayang, Ada dua, yang satunya adalah anak kecil bernama ‘Ponco’, tapi memang yang satu ini jarang menampakkan dirinya”. Ucap Pak Wirjo dengan gugup dan terbata-bata.

Pak Wirjo juga menambahkan semenjak pemilik rumah ini meninggal dan diwariskan ke anak-anaknya, sosok Mayang ini memang kerap menjadi pengganggu terutama untuk orang-orang baru yang menghuni rumah ini, tapi dia sebenarnya tidak jahat,

“Mayang dan Ponco hanya kesepian saja”. Kata Pak Wirjo.

Lisa, Ani dan Rina tentu terbelalak mendengar cerita dari Pak Wirjo barusan. Kecuali dengan Marta dan Antok yang sedikitnya sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini.

“Pokoknya aku besok mau cabut dari rumah ini!!, ini baru hampir 2 hari aja udah kayak gini, gimana kita mau fokus kuliah!!”. Ungkap Rina dengan Perangai Khasnya. 

Singkat cerita, Antok pun pulang, begitu juga dengan Pak Wirjo dan Bu Ngatinah yang sepertinya pasrah tak bisa menghalang-halangi jika semua penghuni rumah kontrakan ini mau pindah.

“Yaudah mbak, kami pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa, ketuk aja rumah kami,  insyallah saya akan siap datang membantu”. Ucap Pak Wirjo yang kemudian berpamitan untuk pulang.

“Malam ini kita tidur bareng aja”. Ucap Ani beberapa saat kemudian.

Merekapun mulai memindahkan kasur-kasur lantanya masing-masing, masuk ke dalam kamar Rina, kamar yang paling luas dan dekat dengan pintu depan, menurut mereka kamar inilah yang bisa sedikit mengurangi rasa takut mereka untuk melewati malam ini.

Jam sudah menunjukan pukul 2 lebih, mereka sudah mulai merebah di atas kasurnya masing-masing. Mereka pun tidur dengan lampu yang menyala. Satu per satu dari mereka sudah mulai terlelap, kecuali dengan Marta yang tampaknya masih terjaga, berulang-ulang kali ia mencoba merubah posisi tidurnya ke kanan dan ke kiri, setelah apa yang ia lalui tadi, tentu tak mungkin ia bisa tidur begitu saja.

“Tap..tap..tap..tap!!!”. Tiba-tiba Terdengar suara orang berlarian di luar kamar, Marta yang sensitif namun penakut ini mencoba membangunkan Ani, temannya yang posisi tidurnya paling dekat dengannya.

” Sstt bangun, ni, Ani!!”. Kata Marta berbisik sambi sedikit menggoyangkan tubuh temannya itu.

“Apa Sih ta!!!!!!!”. Jawab Ani seraya mengusap Matanya.

” Tap..tap …tap..tap..!!!”. Suara itu terdengar lagi.

“Tuh!! Kamu dengar nggak!?”. Tanya Marta kepada Ani.

Rasa kantuknya tentu seketika lenyap mendengar itu, dan dengan saling berpelukan Marta dan Ani mencermati suara itu.

“Sepertinya suara itu berada di atap rumah!!”. Ucap Ani berbisik dan semakin mempererat pelukannya.

” Tap..tapp..tap..”. Dan ketika suara langkah berlari itu semakin melambat memang benar sepertinya 

Marta yang kini mencoba memeriksa dengan mendekatkan dirinya ke pintu pun juga mengiyakannya.

“Iya kayaknya emang suaranya dari atap rumah, tapi tetep aja suaranya berada di luar kamar!!”. Ucap Marta setelah kembali ke posisinya semula. 

Hingga jeda beberapa saat Suara langkah itu kian melambat, merangkak kebawah dan semakin ke bawah, kini terdengar seperti tengah merayap menapaki pintu kamar.

Dan turunlah sosok itu dari pintu, “Tap!!!”. Terlihat bayangan seseorang dari celah bawah pintu kamar. Marta dan Ani hanya bisa terdiam memandangi celah bawah pintu, hingga sosok dibalik pintu itu pun mulai seperti mencakar-cakar.

“Heyyyyyyyyyyyy…”. Ucap sosok dari balik pintu itu dengan serak berbisik dan mendesis. 

Ani yang sudah tak bisa menyembunyikan ketakutanya itu pun langsung menangis menutup mukanya seraya mempererat pelukannya.

“Ampunnn..ampunn..ampunn”. Ucap Ani. 

“Ja..jangan ganggu kami!!!”. Kata Marta terbata..

” Mayang!!!!! Jangan ganggu kami!!!, atau saya akan marah!!!”. Ucap Marta lagi dengan agak pelan meski tampak penuh keraguan. 

Dan sosok itu pun terdiam, tak lagi bersuara, untuk beberapa saat Marta mulai berdoa untuk menenangkan diri, namun tanpa ia sadari Ani sudah tak sadarkan diri didalam pelukannya.

“Heyy..Nikkk..Anikk, ssst”. Kata Marta pelan, dan mulai menyadari bahwa Ani tak sadarkan diri. 

“Bangun Nik, udah ilang”. Ucap Marta berbisik sambil menepuk-nepuk pipi temannya itu.

Sungguh suasana yang tak bisa tergambarkan, dengan pelan Marta pun merebahkan tubuh Ani di sampingnya, dengan ia yang juga ikut merebah. 

Marta menatap langit-langit, otaknya berfikir betapa kacaunya hal yang baru saja ia alami.

Ketakutannya pun seakan mulai kebas tak terasa, berubah menjadi kekhawatiran ada hal apa lagi yang akan terjadi nanti. Di antara lamunannya itu, Lisa pun memanggilnya, ternyata sedari tadi Lisa juga mendengar itu, namun ia merasa terlalu takut untuk membuka matanya.

“Takk..Martaaa!!”. Panggil Lisa pelan.

Sontak Marta langsung menoleh ke arah Lisa yang sudah membuka matanya. 

“Apa itu tadi???”. Kata Lisa lagi berbisik.

” Emang kamu juga dengar?”. Jawab Marta dengan sedikit membangkitkan tubuhnya dan melirik ke arah pintu kamar.

“Iya aku juga dengar, tapi aku takkuuuttt!!”. Jawab Lisa sambil merangkak dan mendesak di samping Ani yang tidur di samping Marta.

“Sudahhh, kita sekarang tidur saja!!”. Ucap Marta sambil lagi-lagi melirik ke arah pintu lagi.

Jelas Marta tak ingin membuat suasana menjadi semakin tak nyaman. Hingga entah bagaimana, Marta dan Lisa pun berhasil terlena dengan saling memeluk Ani yang entah pingsan itu berada di tengah.

Singkat cerita, pagi pun tiba. Rina si pemilik kamar yang semalam tak mengalami apapun ia bangun paling awal mungkin sekira pukul 6 pagi. Tanpa berfikir macam-macam Rina bangkit dari tidurnya berjalan keluar kamar seraya membangunkan teman-temannya.

“Bangun..bangun.. Udah pagi nih, pindah gih ke kamar masing-masing”. Ucap Rina sambil membuka pintu. 

Ani tampaknya mendengar suara Rina tadi, dengan sedikit terkejut ia membuka matanya, dan kembali memejam, mengrenyitkan dahinya sambil memegangi kepalanya.

“Aduhhh… Pusing banget”. Ucap Ani sambil bangkit dan melihat Lisa dan Marta yang masih tertidur di sisi kanan kiri Ani.

“Hey bangun..pindah ..pindah!! Yang punya kamar udah bangun..”. Kata Ani lagi yang kali ini berhasil membangunkan ke dua temannya itu.

Baru saja Lisa dan Marta bangkit dari tidurnya, tiba-tiba saja Rina masuk kamar dengan terburu. 

“Hehh!!! Cepet keluar sini aku lihatin!!”. Ucap Rina dengan wajah yang sangat serius.

Sontak mereka semua pun memeriksa keluar untuk melihat apa yang mau Rina perlihatkan.

” Tuh, apaan tuh, kayak jejak tangan dan kaki!!”. Ucap Rina sambil menunjuk ke arah langit-langit seraya berjalan menuju dapur.

Lisa, Ani dan Marta mengikuti dari belakang, sementara sesampainya di dapur Rina kembali mengurutkan jejak-jejak berwarna kecoklatan itu.

“Nih.. Kalo di urutkan, nodanya berhenti disini”. Ucap Rina lagi yang kini sedang menunjuk di arah atas pintu kamarnya sendiri.

“Kita semalem dengar suara”. Kata Lisa kali ini yang langsung di jelaskan oleh Ani dan Marta perihal suara orang yang merangkak di langit-langit tadi malam. 

Hingga setelah itu mereka memutuskan untuk melaporkan ini kepada Pak Wirjo.

Pak Wirjo datang, dengan sapu atap ia membersihkan jejak-jejak kecoklatan yang berada di atas langit-langit rumah itu seraya terus menggeleng-gelengkan kepalanya. 

Sementara disini Rina terus meracau dalam panggilan telponnya, begitu juga dengan Ani yang tampak merengek kepada orang tuanya yang tengah ditelponnya. “Jemput aku sekarang, pokoknya aku mau pindah buk!!”. Ucap Ani di panggilan telpon itu. 

Dan setelah diskusi yang cukup singkat, akhirnya mereka semua memutuskan untuk keluar dari rumah ini hari itu juga.

Marta yang sebenarnya tak begitu setuju pun akhirnya mau tak mau harus mengikutinya. 

Setelah berkemas dengan terburu, beberapa jam kemudian Marta, Lisa, Rina dan Ani pun pergi dari rumah itu di jemput oleh orang tuannya masing-masing, kecuali Marta yang tampak di jemput oleh Antok, Sepupunya. 

Sayangnya Cerita “Mayang” Ini berakhir disini, kisah nyata di tahun 2018, tentang rumah kontrakan yang berada di pinggiran kota Semarang. Tentu dengan nama tokoh yang saya samarkan. 

Sekian cerita yang sedikit singkat ini, terimakasih sudah mengikuti dan membaca hingga akhir, apa bila ada salah tulis dan kata saya mohon maaf.

Matursembahnuwun, sampai jumpa di cerita lain :)) 

Thread By @AgilRSapoetra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *