RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Mbak Sri

HANTU PEREMPUAN MUKA RATA PENGHUNI SALAH SATU KAMPUS DI MALANG.

Mungkin, sebagian kalian yang domisili Malang pernah mendengar tentang salah satu hantu yang sosoknya agak umum di telinga ini. Sosok hantu bermuka rata yang sering sekali menampakkan diri kepada sebagian pegawai maupun mahasiswa/i yang masih nongkrong surup² dikampus. 

Sosok ini dikenal dengan “Mbak Sri”.

Dulunya, sosok hantu bermuka rata ini sering menampakkan diri di sekitar Jl. Bandung – Jl. Veteran. Kebanyakan, sebagian warga kerap di ganggu sosok ini di area TMP (Taman Makam Pahlawan).

Menurut kesaksian salah seorang warga dekat yang rumahnya dekat dengan TMP. Sosok tersebut diduga adalah korban kecelakaan saat dahulu kala di daerah tersebut. Tutur hana, sosok perempuan bermuka rata tersebut adalah salah satu warga betek yang dulunya mengalami kecelakaan tragis dijalan bandung.

Kecelakaan tersebut membuat dirinya kehilangan nyawa dan juga membuat kondisi jasadnya mengenaskan. Ibu hana adalah saksi kejadian tersebut. Ibunya juga meyakini bahwa sosok hantu bermuka rata itu adalah korban kecelakaan pada jaman dulu yang bernama “Mbak Sri” 

Ada salah satu cerita tentang sosok ini yang akan aku ceritakan selengapnya disini. Sebut saja pak jono. Pak jono adalah pegawai yang bekerja di salah satu universitas tersebut. Dimana pak jono adalah pegawai perpustakaan. Pak jono adalah karyawan yang telah mengabdi sejak 

Tahun 1994. Beliau sangat akrab sekali dengan lika liku kehidupan di universitas tersebut.

Pada jaman dahulu, beliau masih mengayuh sepeda untuk berangkat kerja. Kebetulan, rute berangkat dan pulang pak jono adalah lewat TMP. Dahulu, suasana tidak sepadat sekarang dulu masih sedikit hening sekali.

Singkat cerita, pak jono saat itu lembur. Sebelum di perpustakaan, pak jono pada jaman itu masih bertugas di salah satu kepegawaian fakultas. Beliau lembur dan pulang dari kampus malam hari. Seperti biasa, beliau mengambil sepeda diparkiran. 

Nampak, masih ada beberapa motor yang masih parkir diarea tersebut. Beliau mengambil sepedanya dan kemudian mengayuh dengan pelan untuk pulang. Seperti biasa, karena rumah beliau tidak jauh. Maka beliau setiap hari lewat TMP. Saat itu, hari kok sepi.

Padahal saat melihat jam ditangannya, pak jono melihat masih jam 8. Tetapi suasana sudah hening sekali dan sepi. Dirinya terus mengayuh dan mengayuh rodo sepeda dengan pelan dan menikmati semilir angin malam itu. Saat sampai di wilayah TMP, entah mengapa gerak kaki yang sedang mengayuh sepedanya tiba-tiba sangat berat sekali. Seperti ada beban berat di belakang.

Pak jono mencoba berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Tidak ada apa-apa. Dia melihat ban sepedanya, khawatir bocor dan membuat jalan seperanya jadi berat. Tetapi, tidak ada tanda² ban bocor dan lainnya. Karena dirasa semua beres dan tidak ada apa-apa. Pak jono mulai mengayuh sepedanya kembali.

Entah mengapa, masih terasa berat sekali. Batinnya “kok seperti ada yang gonceng dibelakang ya”. Tapi, karena pak jono membuang rasa penasaran dan takut saat itu. Jadi beliau membiarkan hal tersebut terjadi.

Namun, karena semakin dikayuh semakin berat sekali bebannya. Akhirnya, pak jono terpaksa berhenti dan memberanikan diri untuk melihat kebelakang. Dirinya hanya berdoa semoga hanya orang iseng saja yang sedang mengganggunya.

Namun, sesuatu hal terjadi. Pak jono tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Beliau melihat seorang perempuan berpakain putih sedang duduk dibelakang namun tidak bermuka.

“Ya Allah…” Ucap pak jono spontan melihat perempuan bermuka rata tersebut . Akhirnya, dia berlari sekencang mungkin dan 

Meninggalkan sepedanya yang langsung ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Dan cerita itu berlalu sampai beberapa tahun yang lalu, pak jono yang sudah pindah tugas di perpustakaan menceritakan kembali sosok yang sama namun sering menampakkan diri di area taman perpus. 

Ada seorang mahasiswi yang bernama hana, saat itu dirinya sedang asik bercerita dengan beberapa temannya di meja perpus. Tidak sengaja, pak jono mendengar percakapan dari hana tersebut.

“Gek wingi sore aku ketemu demit kuwi.” Ucap hana kepada salah satu temannya

(Baru kemarin sore aku bertemu setan itu)

“Awakmu karo sopo han ? Dewe tah ? Untung aku gak tau diketok i, ayahab tah lek sampek diketok i.. langsung semaput aku”. Ucap dina kepada hana.

(Kamu sama siapa han ? Sendiri kah? Untung tidak menampaki aku, bahaya kalau sampek nampak. 

Langsung pingsan aku).

Tiba-tiba pak jono yang sedang menata buku didekat mereka langsung bercerita

“bien kae, demit iku gak nok kene nduk. Adoh bien, nok Makam pahlawan kono.”

(Dulu itu, hantu itu tidak disini nak. Jauh dulu, di Makam Pahlawan sana).

Hana yang mendengar 

Cerita pak jono tersebut kemudian semakin penasaran dengan sosok hantu wanita bermuka rata tersebut.

“Mosok e pak ? Wihh lak wes onok ket bien toh setan kui.” Ucap hana histeris.

(Masa pak ? Wih berarti sudah ada dari dulu hantu itu).

Pak jono hanya menoleh dan mengangguk. 

“aku dulu pernah diganggu juga, tp gak disini. Pas balek lembur. Lakok ikut, trus gonceng. Aku sih bukan takut cuma kerih (geli) sama mukanya. La roto i (la rata i)”

Hana yang mulai takut dan merinding, segera bergegas untuk merapikan meja dan tempat duduknya dan memutuskan 

Untuk segera pulang. Suasana perpus saat itu sudah hampir sepi. Jam menunjukkan pukul 3 sore. Namun, pak jono tidak segera pulang. Setelah memastikan semua buku rapi dan tidak ada yang tercecer liar dimeja ruangan maka pak jono bisa pulang.

Saat itu, kebetulan kunci ruangan beliau pegang. Jadi, beliau agak sore sekali untuk pulang. Saat akan mengunci ruang tengah, pak jono mendengar suara ketukan kuku dikaca.

Secara cepat, pak jono menoleh ke belakang yaitu gerbang perpus dibelakangnya.  Tetapi, saat ditoleh tidak nampak seseorang yg berada dibelakangnya. Beliau melanjutkan untuk mengunci semua pintu kembali. Ketukan itu terdengar kembali, saat ini suaranya dibarengi dengan suara cakaran kuku di kaca.

Pak jono kemudian dengan cepat menoleh kembali. Ternyata, sudah berdiri sosok dibalik kaca. Sosok yang tidak asing baginya. Hawa merinding kemudian menyelimuti tubuh pak jono secara cepat saat itu. Sosok bermuka rata yang pernah dia temui dulu ternyata menampakkan diri kembali hari itu. 

Entah, mengapa sosok yang disebut dengan “mbak sri” tersebut bisa pindah dari TMP ke taman perpus ?

Sosoknya kerap nampak kepada sebagian mahasiswa/i yang sedang menggunakan wifi perpus yang hidup 24jam.

Terkadang, sosok mbak sri ini terlihat hanya berjalan dan kemudian hilang. Terkadang juga, mahasiswa/i melihat dirinya sedang duduk diatas pohon.

Begitulah cerita dari sosok hantu wanita bermuka rata yang sering nampak di halaman perpus salah satu kampus di Malang.

Sekian dan salam horor. 

Thread By @siskanoviw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *