RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

MEET UP DI RUMAH TEMAN

Cerita ini terjadi hari senin kemarin, saat aku berencana untuk mengadakan meet up dirumah salah satu mutualanku di daerah Kopo, Bandung.

Tentu saja aku tidak sendirian mengunjungi rumahnya, berhubung pacarku sedang ada waktu senggang, kuajak dia juga. Sesampainya dirumah temanku itu, kupikir tidak ada hal aneh disana. Hanya saja rumah itu memiliki suatu kedamaian tersendiri saat memasukinya. Dia dan kedua orang tuanya menghuni rumah di sebuah kompleks ternama di bilangan Kopo. 

Kedatanganku bersama pacarku disambut hangat oleh ibundanya. Kami dipersilahkan untuk langsung menuju ke lantai dua, dikarenakan memang tempat diatas adalah ruangan untuk para tamu dari teman anaknya.

“rumahnya luas ya bro”. Kataku sambil menyusuri tangga.~ 

“maaf berantakan cuy, soalnya udah lama banget jarang ada tamu ke sini..hehe”. Jawab temanku sambil mempersilahkan duduk disebuah karpet yang sudah disediakan olehnya.

“mau minum apa ?” Tanyanya kepadaku dan pacarku.

“gak usah ngerepotin bro, yang ada aja di kulkas aja..hehe”~ 

“ihh sayang ehh..hehe”. Pacarku mencubit pinggang ketika mendengar apa yang telah aku ucapkan barusan. Baik temanku atau pacarku sudah mengetahui watakku yang memang orangnya itu suka bercanda dan kadang aneh. Tapi mereka bisa menerima semua hal tentang diriku ini.

Jam sudah menunjukan angka 1 pada siang itu. Tanpa terasa kami sudah banyak mengobrolkan hal-hal sepele ngalor ngidul sambil bercanda gurau.

“a, suruh temannya makan.. Kita masak dulu”. Teriak ibunda temanku dari bawah.

“iya bu”. Jawab temanku singkat.

“yaudah, cha hayu ikut~ 

masak bareng ibuku, berhubung ada cewek nih bantuin masak”. Ajakan temanku pada pacarku. Aku mengiyakan saja agar pacarku itu bisa membantu ibundanya temanku itu memasak. Sekejap mata pun mereka berlalu dari hadapanku. Kondisi ruangan itu memang agak berantakan, tapi lumayan bisa membuat diriku terbiasa. Aku mencoba untuk merebahkan badan dilantai yang tak tertutupi oleh tikar.

“ahhhhhh emang enaknya rebahan gini”. Gumamku

Walaupun kami satu domisili, tapi yang membuatku malas untuk bepergian karena Bandung sekarang sudah sering macet dimana-man. Kulihat layar hape sejenak, tidak ada notifikasi. Sudahlah, kupenjamkan saja mataku sejenak. Menunggu mereka selesai masak. Dalam pejaman mata, suara diluar seperti mengusik dikepalaku. Gemuruh suara dari anak kecil yang bermain, suara kendaraan dan lain-lainnya. Kini suara gemuruh diluaran sana memudar saat diriku mulai sedikit terlelap.

“hhhhhhhhhhhh…..”. Tiba-tiba hembusan seperti erangan memekik di telinga. Sontak saja aku yang sedang setengah tak sadar itu mulai terbangun dari rebahan.

“yang barusan apa?”. Tanyaku dalam hati. Belum hilang rasa kagetku, sekarang suara itu makin jelas ditelinga.

“hhhhhhhhh”.

Sebuah suara seperti orang berhembus nafas kembali lagi memekik di telinga. Aku yang dalam kondisi seperti itu hanya bisa mengucapkan sebuah kalimat istighfar.

“astaghfirullah… Jangan ganggu”. Suara langkah kaki terdengar di tangga, semakin ke sini suaranya semakin mendekat. Kukira sesuatu hal yang buruk menghampiri. Ternyata dibalik lorong gelap tangga itu temanku yang muncul.

“eh kenapa cuy ? Mukanya ko pucet?” Tanyanya dengan penasaran.

“gapapa ko, bieu ngaleunyap (barusan ketiduran)”. Jawabku dengan setengah ngos-ngosan.

“pacar lu dibawah, lagi masak sama ibu. Biarin lah mumpung ada perawan disini, suruh aja masak..hehe”. Imbuh temanku sedikit menenangkanku yang saat itu tengah mengalami kejadian hal yang tak terbayangkan.

Temanku kembali menanyakan hal serupa, tapi keadaanku berangsur membaik karena dia mengajakku berbincang mengenai apa yang akan dilakukan kehidupan kedepannya.

Hampir sepuluh menit berlalu kita mengobrol, rupanya ibunda temanku memanggilnya kembali kebawah. Sontak saja pikiranku kembali teringat akan kejadian yang tadi. Temanku pun berlalu meninggalkan aku yang masih termenung sendiri.

“mungkin kalo dengerin lagu bakal bisa lebih rileks”. Pikirku

Lalu aku mengambil hape yang daritadi tergeletak disamping. Mencoba menelusuri daftar lagu yang sudah kususun rapih di perangkat musik hape. Dengan lantunan musik pop japanese, aku mencoba mencairkan suasana ketegangan dengan cara mengikuti setiap lirik lagu yang sudah kuhafal. Entahlah, perasaan yang tadi kini kurasakan kembali. Tengkuk leher terasa berat perlahan mata mulai kembali ingin menutup. Hawanya mulai panas di pundak.

“aa…..aa”. Kini suara itu kembali terdengar. Berbeda dari yang tadi, suara ini mulai bisa terdengar jelas memanggil aa. (aa/akang = sebutan untuk cowok sunda)

Suara panggilan itu terus mengusik ditelinga. Bersamaan dengan suara lagu dan suara dari mulutku yang bernyanyi. Suaranya seperti jelas ada di telinga.

“cuy, makanannya udah siap. Hayu turun kebawah.” tiba-tiba temanku yang entah kapan sudah berada di ujung tangga memanggilku untuk turun kebawah. Aku terus saja membatin, bagaimana mungkin sebuah kejadian yang tak masuk akal itu terjadi. Dan itu kondisi siang hari.

Sesampainya dibawah, aku mendapati orang tua temanku dan pacarku sudah siap di tempat duduk masing-masing. Mereka menatapku dengan penasaran. Sebab melihat kondisiku saat itu berbeda jauh saat aku pertama kali datang. Aku yang tadinya periang mendadak pendiam diri. Aku berencana agar tidak mengganggu acara ini dengan cerita yang telah aku alami sewaktu tadi. Baik kepada temanku, orangtuanya mauapun kepada pacarku. Lima jam berlalu. Memang tak terasa waktu sesempit itu. Kita sudah banyak bercerita kemana-mana, seakan waktu tak ingin cepat berjalan saking asyiknya mengobrol.

Hari pun mulai sore, kupikir jika berlama-lama disini nanti pulang ke rumah akan kemalaman. Soalnya aku harus mengantarkan dulu pacarku ke kost nya yang didaerah setia budi. Ya, dia mahasiswi salah satu universitas ternama juga di Bandung.

Setelah berpamitan kepada teman dan orang tuanya, aku dan pacarku pun melaju dengan menggunakan motor yang sewaktu tadi berangkat. Menelusuri jalanan Bandung. Tiap saat kota ini sepertinya macet terus. Tapi tak apalah, inilah kota kesayanganku. Dalam perjalanan aku mulai merasakan tidak enak hati. Benar saja, lampu motorku mendadak tidak menyala saat kulihat pantulan yang berada di kap belakang mobil depan arahku.

“neng lampunya mati”. Ujarku kepada pacarku itu.

“eh kan tadi hurung, a”. (hurung=nyala) jawab pacarku dengan nada yang kaget juga.

“gapapa lah, semoga gak ada polisi. Ribet nanti kalo ketilang mah.. Bismillah aja we”. Kucoba untuk menenangkan dia juga.

Padahal akupun merasakan kejanggalan, kenapa lampu motor jarak dekat dan jarak jauh mati. Dari berangkat ke rumah temanku semuanya dalam kondisi baik-baik saja. Adzan maghrib telah berkumandang, sedangkan kami masih dalam perjalanan. Belum sampai ke kost pacarku, apalagi aku juga harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Sebab dari Setiabudi ke perumahanku menempuh waktu satu jam lagi.

Akhirnya kami sampai di kost pacarku. Tanpa berlama-lama juga aku pamit dengannya dan meminta doa agar nanti pulang dalam keadaan selamat sampai tujuan. Dengan memberikan salam, aku melajukan motor kembali. Masih dengan keadaan tak karuan, menjalankan motor pun agak kencang. Ditengah perjalanan pulang, hujan turun dengan derasnya.

“astaghfirullah.. Aya-aya wae ihh..” (ada ada saja) gumamku menggerutu.

Ku kesampingkan motor dan mengenakan jas hujan yang sudah tersedia didalam jok. Kembali perjalanan pun aku tempuh. Dengan kondisi motor tak ada lampu, dan hujan yang mengguyur jalanan. Penglihatanku agak sedikit kabur saat kondisi seperti itu. Apalagi hari sudah menjelang malam. Kulewati jalan geger kalong yang tentu saja minim pencahayaan. Bukan alasan yang logis memang, tapi mau bagaimana lagi. Kondisi motorku juga lampu tak menyala, kalau dipaksakan jalan ke kota nanti dapat pelanggaran karena lampu.

Masih dalam keadaan gelap dan terpaan hujan ke wajah, aku menyusuri jalan. Saat mendapati pertigaan, akumalah membelokan arah ke kiri, seharusnya ke kanan ke jalan terusan geger kalong. Entahlah sepertinya ada yang tengah mengendalikanku. Dalam keadaan bingung seperti itu, mendadak motorku mati total.

“astaghfirullah..”. Batinku seraya kaget luar biasa.

Keadaan benar-benar gelap dengan keadaan panik, aku masih tetap melajukan motor. Untung saja jalanannya turunan, tapi tetap membuatku semakin cemas karena jalan Bumi Sariwangi memang gelap dan minim pencahayaan. Aku mencoba berdoa agar semua hal buruk tak menimpaku. Membayangkan hal seperti itu, rupanya jalanan kembali menanjak. Dengan cepat aku turun dan menuntun motorku sambil berlari agar sampai diatas. Kulihat remang-remang dari kejauhan ada cahaya kendaraan dari arah depan. Semakin terlihat jelas memang. Tapi setelah memberhentikan motorku, cahaya itu seperti tak melaju.

“hihihihihihi”

Suara tertawa yang entah berasal darimana membuatku terkejut. Semakin jauh suara itu semakin membuat bulu kudukku berdiri.

“itu halusinasi, aku gak boleh panik dalam situasi seperti ini.. Ayolah hidup dong motor”. Gumamku sambil mencoba menyelah engkol motor.

*bbrrrmmmm* motor kembali menyala.

Aku yang tengah panik langsung saja segera menaiki motor. Kulihat cahaya kendaraan yang tadi di depanku sudah menghilang.

“ahhh bodo amat, yang penting udah nyala, bismillah selamat sampe tujuan”.

Kembali aku tarik gas dari handle. Dan menyusuri jalan Lembah Teratai. Mungkin malam itu sedang hujan, kendaraan pun sepertinya tidak ada yang berlalu lalang. Apalagi melewati jalan perumahan.

*plak*

Sesuatu menghantam bagian belakang helm. Aku yang saat itu menjalankan motor dengan pelan, langsung memberhentikan laju motor dan mencoba menengok kebelakang. Hal apa yang menyebabkan helm dan kepalaku itu sampai terehuyung sedikit.

Kulihat tak ada batu ataupun hal semacamnya. Pirasatku mulai memburuk dengan keadaan itu. Aku yang memutuskan ingin melanjutkan perjalanan lagi kini terperangah melihat sosok wanita yang berdiri ditengah jalan sambil berusaha melihatku dari balik rambutnya yang menjulur kebawah. Dalam beberapa detik aku tak bisa berkata apa-apa. Mematung dengan mata yang masih melihat sosok itu. Dalam hati kucoba berdzikir dan berdoa agar menguatkan imanku kepada Allah, dan agar bisa mengusir sosok yang tengah berada persis didepanku.

“balik deui…balik deui ka kopo”. Suara itu seperti berada di kepalaku dan membuat pusing karena memang suara itu sama persis dengan suara wanita yang pernah menggangguku dirumah temanku. Semakin kucoba berdoa, semakin dia menghampiriku. Dengan kaki sebelah yang di seret, ia mencoba mendekatiku. Aku masih dalam keadaan mematung dan tak bisa mengucapkan satu katapun. Dia semakin mendekat, kini sosok itu mulai terlihat jelas. Wanita dengan baju lusuh serta kulit yang pucat pasi. Ia mencoba menjulurkan tangannya kearaku. Langkah kakinya semakin mendekat.

*tiiinnn….tiinnn*

Suara klakson motor yang berada dibelakangku membuat terkejut, berbarengan dengan sosok itu hilang dalam sekejap mata.

“kang… Heyy”. Seorang bapak-bapak~ 

menepuk pundakku dan membuatku tersadar dari kondisi mematung.

“astaghfirullah…astaghfirullah…”. Ucapku dengan sedikit melemahkan badan.

“kunaon ari akang ngajanteng ditengah jalan?”. (kenapa abang diem ditengah jalan) Tanya bapak itu yang penasaran melihatku.

“eeeuhhh..ieu pak, motor saya gak nyala lampunya. Tadi juga saya tiba-tiba ngelihat hantu”. Jawabku dengan ucapan yang terbata-bata.

“yeh si akang. Jaman modern mah mana ada jurig atuh. Mau keluar kearah cihanjuang ya ? Hayu sama saya bareng, kasian lagi ujan gini gelap juga (jurig=hantu) ajak si bapak itu yang menggunakan motor khas tahun tujuh puluh. Aku yang masih dalam keadaan tak menentu pun mengangguk menandakan setuju dengan ajakannya. Lalu kami pun melintasi kawasan perumahan yang entah namanya akupun lupa mengingatnya. Akhirnya kami sudah keluar dari jalan yang daritadi minim pencahayaan, kini sudah ada cahaya dari tiap rumah-rumah yanh berjejer di samping kiri kanan jalanan.

“kang, sudah mau keluar ke jalan cihanjuang. Saya nganterinnya sampe sini aja ya, saya permisi duluan mau balik lagi ke tempat tadi. Soalnya kan rumah saya disana.” ujar bapak itu seraya meninggalkanku yang berada persis di sebuah jalan raya.

“aneh, tadi kan pas ketemu bapak itu kondisi disana gaada rumah sama sekali, yang ada cuma pohon doang”. Pikirku sambil melanjutkan perjalanan pulang. 

Hujan mulai reda, dan perjalananku sudah sedikit lagi sampai tujuan. Tapi kembali pikiranku terganggu oleh kejadian-kejadian aneh yang menimpaku hari ini. Dimulai dari suara erangan di ruangan tempat duduk dirumahnya temanku, dan suara itu berubah jadi suara perempuan paruh baya.

Lalu kondisi motorku yang mendadak lampunya tak menyala. Ada juga kejadian mengherankan mengapa harus melewati jalur kiri dan kejadian menyeramkan saat melintasi jalan gelap tadi sempat bertemu sosok seram yang sepertinya berasal dari rumah temanku dan mengikutiku pulang. Akhirnya aku sampai dirumah dengan pikiran kalut. Setelah membersihkan diri dikamar mandi, kubaringkan tubuh yang lelah setelah seharian ini.

*drrr..drr..drr….* hp ku bergetar tatkala kulihat ada beberapa chat dari temanku dan pacarku menanyakan perihal aku sudah sampai ke rumah atau belum. Isi chat dari mereka berdua hampir sama, tapi pacarku lebih menghawatirkan keadaanku. Sebab ia tau bahwa saat aku dari rumah dan menjemput dia di kost hanya sebentar, sangat beda saat aku pulang dari kost ke rumah malam ini. Aku tak ingin menceritakan hal mengerikan itu kepada pacarku. Mungkin dia sangat khawatir, sampai-sampai chattingan itu berpindah pada video call. Ia terus menanyakan kondisiku. Sebab ia juga takut karena motorku tiba-tiba mati lampu, dan aku memilih jalur ke geger kalong-cihanjuang.

Hampir beberapa jam kita berbincang kesana kemari. Dan kurasa itu membuatku cukup melupakan kejadian mengerikan tadi. Badan yang capek serta mata yang sudah mulai menutup mengakhiri perbincangan kami. Aku pamit undur diri untuk tidur.

*tuuut* nada panggilan berakhir.

Kusimpan hape tepat disamping kiri kasurku dan mulai memejamkan mata. Entah berapa menit aku langsung tertidur.

*wussh*. Terpaan angin kencang membuatku langsung terbangun dari tidur.

Setelah membuka mata, betapa terkejutnya diri mendapati kini aku berada persis diruangan tempat temanku. Jantungku berdebar hebat dan mata menyusuri setiap sudut ruangan itu.

“ko bisa disini lagi ?”. Gumamku dengan sedikit ketakutan.

Belum berakhir rasa kagetku, tiba-tiba ruangan itu berubah mencekam. Tiap tembok seakan bergerak dan menghasilkan retakan. Aku beranjak dari posisi tidurku itu dan berencana untuk mencari temanku dan menanyakan mengapa aku bisa sampai di rumahnya lagi. Tapi langkahku terhenti saat sebuah suara yang tak asing lagi kembali terngiang.

“aa…aa”. Suara itu terus memanggil seakan ingin mengajak ke suatu tempat.

Kutengok kesegala arah agar mencari sumber suara itu. Dan akhirnya suara itu hilang namun berganti dengan suara langkah kaki ditangga. Kupikir itu temanku, lantas akupun berlari menuju tangga. Sesaat kemudian…

“astaghfirullah”. Aku berteriak kencang ketika apa yang kulihat kini adalah sosok wanita menyeramkan yang pernah kulihat ditengah jalan. Tubuhku terhuyung kebelakang akibat kekagetan yang luar biasa. Sambil terduduk dan mematung karena kaget, sosok itu mulai menampakan diri. Kulihat sekarang tak samar, dibalik rambutnya yang menjuntai kedepan persis seperti hantu di film wajahnya penuh dengan luka dan belatung. Mulutnya menyeringai dengan gigi yang seperti taring semua. Dan yang membuatku mual adalah sebuah cairan yang menggelantung dan memenuhi daerah mulut serta dagunya.

“bbbb..bbbb… Aaaaa..aaaaa”. mulutku terbata-bata.

Ingin hati untuk berdoa dan melafalkan lantunan ayat suci al qur’an, namun mulut ini hanya bisa menganga tatkala sosok itu kini menjulurkan tangannya seraya berkata “cicing didieu, ulah indit…” (diam disini, jangan pergi). Dengan suara yang parau dan wajah yang mengerikannya itu.

Sosok itu perlahan mendekati, dengan langkah kaki yang diseret sebelah ia pun membuat raut wajahnya makin menyeramkan. Ditengah ia berusaha untuk mendekat, suara tertawa melengking memekik di telinga.

“hihihihi…moal bisa balik deui siah..cicing tuluy didieu”. (gak bakal balik~ 

lagi..diem terus disini). Itu yang berusaha ia katakan seraya tangannya kini mulai mendekatkan kearah pundakku.

Aku yang terkulai tak bisa bergerak pun didekapi oleh tubuh sosok wanita itu. Sekarang ia berada di atas tubuhku. Cairan yang membaluri dimulut serta dagunya itu mulai menetes kewajahku. Bau amis dan busuk dari cairan itu membuatku mual tak tertahankan. Dalam kondisi itu, ia mencoba seperti menyerap semua yang ada dalam diriku. Niat hati ingin memberontak, tapi hanya teriakan yang bisa kulakukan. Itupun hanya bisa mengucap “aaaaaa”. 

Semakin ia berusaha menghisap energiku, semakin aku kencang berteriak.

“aa..aa kenapa ? Heh bangun, istighfar”. Samar-samar suara itu seperti suara ibuku yang entah darimana sumbernya.

Sosok itu semakin mencengkramkan tangan dipundakku dengan kuku yang menancap juga.

“allahuakbar”. Teriakku dengan sekencangnya. Aku tersadar dalam keadaan nafas tersenggal dan mata terbuka lebar. Kulihat kini dihadapanku ada ibu bersama ayah yang sedari tadi terbangunkan dari tidurnya karena mendengar aku berteriak tak karuan.

“mimpi apalagi?”. Tanya ibu sambil memegang pundakku. Aku tak bisa menjelaskan hal apa yang telah terjadi dalam mimpi itu.

“makanya sebelum tidur berdoa dulu. Lagian tadi main kemana ? Sampe kebawa mimpi gitu”. Ujar ibuku lagi seraya menenangkanku dan menyuruhku untuk kembali beristirahat.

Memang semua keluargaku mengetahui jika aku memiliki keanehan ini. Sudah dari kecil jika aku mengunjungi suatu tempat, pasti sepulangnya akan ada hal yang tak masuk akal terjadi. Bahkan sosok-sosok penghuni suatu tempat itu sering kali menghinggapi tubuhku dan mengikutiku sampai rumah. Saat kondisiku benar-benar baik dan banyak melafalkan doa, aku mencoba untuk memejamkan kembali mataku. Besok aku berencana ingin menceritakan perihal apa yang telah terjadi seharian itu kepada temanku dan pacarku.

Dalam beberapa menit, tubuhku mulai setengah tak sadarkan diri dan mulai terlelap kembali. Namun, sebelum benar-benar terjatuh kealam mimpi. Suara parau itu kembali terngiang.

“hihihi….engke rek datang deui..hihihihi”. (nanti bakal datang lagi).

Setelah itu aku benar-benar terlelap. Dan keesokan harinya aku menceritakan hal itu kepada temanku dan pacarku. Tapi aku mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal ini. Baik temanku atau pacarku tak kubiarkan mereka khawatir bahkan sampai melakukan hal aneh.

– TAMAT – 

Ini aku pas menanyakan perihal sesuatu itu. Bukan berniat untuk menakuti apalagi membuatnya marah, tapi hanya memastikan apakah selama ini dia merasakannya atau tidak.

Dan setelah meminta izin untuk mengisahkan ceritaku, aku langsung membuat sebuah cerita ini kedalam thread.

Ambil jika ada sisi positifnya dan buang sisi negatifnya. Sampai saat ini juga baik temanku dan pacarku dalam hubungan yang baik.

Mohon maaf bila dalam penataan kata atau bahasa yang kurang tepat. Saya atas nama pribadi mengucapkan terimakasih. 🙂

-Acil- 

Thread By @ifandamn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *