RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Melahirkan Di RSUD Lama Mojoketo

Ini cerita lama ya, yang kapan hari ditahun 2013 ramai diperbincangkan. Saya hanya menuliskan ulang berdasarkan beberapa kesaksian teman, saudara dan pemberitaan dimedia.

Mojokerto, 2013

Buah hati sebagai tujuan utama dalam berumah tangga, demikian juga yang dialami pasutri Suroso dan Padmi dari Dusun Suru Kidul, Desa Suru Kecamatan Dawar Blandong Kab. Mojokerto.

Ditahun 2013 Padmi tengah hamil,

selama kehamilan ada sedikit kejanggalan yang dialaminya. Dipertengahan masa kehamilan, suatu malam ia bermimpi bahwa dirinya sedang menggendong bayi, selepas melahirkan. Bersamaan dengan itu, disampingnya ia melihat bahwa ari-ari bayinya dimakan oleh seekor anjing hitam.

Pagi hari, Padmi yang masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya menemui ibunya didapur waktu memasak. Ia menceritakan mimpinya semalam kepada mbah Sumiati (ibu kandung Padmi). ibunya hanya menjawab

“Wes gak usah dipikir nduk, akeh2 digawe nyebut marang seng kuoso ae”

(Sudah tidak usah dipikir nak, banyak2 dipakai menyebut sama yang kuasa saja). tutur singkat mbah Sumiati yg bekerja sebagai penjual kopi ujung dusun.

Padmi sebagai anak yg taat menuruti permintaan sang ibu,setiap hari ia selalu menyebut nama yg maha kuasa selepas shalat wajib.

Keluarga mbah Sumiati ini tergolong agamis, dan sangat taat pada syari’at agamanya. Hingga bulan kedelapan masa kehamilan Padmi, ia dikagetkan sesuatu disore hari.

Sewaktu Padmi lagi asyik membersihkan kamarnya tiba2 dia melihat dibawah dipan,

terdapat ada lima ular hitam dengan ukuran sedang.

Kelima ular itu menggeliat kesana kemari tanpa tujuan. Mengetahui hal ini Padmi menjadi takut, dan pergi keluar kamar untuk memanggil ayahnya yang tengah duduk didapur.

“Pak enek ulo, sampean pateni” (Pak ada ular dikamar ini lo, anda bunuh) pinta Padmi

“Ojok nduk, ilingo awakmu iki mbobot. Masio aku dewe yo gak oleh mateni kewan “(Jangan nak, ingatlah kamu ini masih mengandung. Meski aku sendiri ta tidak boleh membunuh hewan) jawab ayah Padmi

“Terus pripun niki pak?” (Terus bagaimana ini pak)

“Endi uloe sak iki, tak buak’e ae nduk” (Mana ularnya, tak buangnya saja nak)

“Ndek kamar pak” (dikamar pak)

Ayah Padmi bergegas pergi kekamar anaknya, ia membawa kayu dan cikrak.

Beliau memasukkan kelima ular dikolong dipan dengan hati-hati. Kelima ular setelah didapat kemudian dibuang dikebun yang jauh di belakang rumah.

Setelah itu tidak ada kejadian aneh lagi dalam keseharian mereka.

Padmi dengan suaminya secara rutin untuk mengecek kandungan dibidan setempat tiap bulan, maklum karena anak pertama dan hal yang baru bagi mereka.

Hingga pada hari Kamis, 04 April 2013 sore sekitar pukul 17.00 WIB. Padmi mengalami sakit perut,

ia merasa seakan mau buang air besar. Padmi berjalan mondar mandir sambil menahan sakit. Mbah suamiati yang melihat anaknya kesakitan merasa tak tega dan merasa khawatir, entah sudah pembukaan berapa Padmi sore itu, mbah Suamiati dan Suroso sendiri tidak tahu.

Akhirnya mbah Sumiati mendekati menantunya “Le ndang cepakno barange bojomu, terus cepet terno bojomu nang bu bidan”.

(Nak lekas siapkan barang istrimu, terus cepat antarkan istrimu ke bu bidan) pinta mertuanya “Nggih bu” (ya bu) jawab singkat Suroso.

Ia bergegas dengan cekatan memasukkan semua barang-barang yang nantinya dibutuhkan kelak untuk proses persalinan kedalam tas, seperti kain sarung panjang, baju bayi, gurita, bedong, sewek dan lain sebagainya.

Mereka pergi dengan motor menuju desa Kupang,

dimana rumah bidan langganan berada. Sampai dilokasi mereka diberi rujukan kerumah sakit, karena keluarga Padmi tidak mampu untuk membayar persalinan dibidan tersebut. Jadi mereka berharap mendapatkan program Jampersal (jaminan persalinan) ditempat rujukan,

dan berjaga-jaga seumpama operasi dengan menggunakan jampersal bisa gratis nantinya.

Tempat rujukan ini ternyata adanya dirumah sakit umum di Kota Mojokerto, singkat cerita mereka berdua dengan mengendarai sepeda motor kembali berangkat kekota.

Kurang lebih pukul 19.30 WIB, pasangan Suroso dan Padmi telah tiba dipelataran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Wahidin Sudiro Husodo, kota Mojokerto yang kala itu masih di jalan Gajah Mada.

Malam itu, pertama mereka datang rumah sakit terlihat ramai dan penuh lalu lalang orang beraktifitas seperti layaknya rumah sakit pada umumnya. Setelah memarkir kendaraannya, Suroso pun menuntun tangan isterinya yang masih merintih menahan sakit pada perut.

Sebab Padmi merasa bayinya sudah mau keluar.

Merekapun berjalan menuju ruang UGD disisi sebelah kanan rumah sakit tersebut. Diruangan itu mereka ditemui oleh dua orang perawat perempuan berpakain putih yang sedang berjaga diloket.

Suroso lantas menyampaikan maksud kepada perawat itu, jika isterinya akan melahirkan.

Seketika para perawat itu mengambilkan kursi dorong, dan menyuruh Padmi duduk diatasnya. Lalu mereka membawa Padmi menuju ruang persalinan yang terletak di samping belakang rumah sakit.

namun sesampainya disana, hanya Padmi dan dua perawat tadi yang boleh masuk.

Suroso sendiri disuruh menunggu diluar kamar persalinan. Merasa sendiri saja diluar ruangan itu, Suroso memutuskan untuk keluar dari area rumah sakit.

Ia pergi kewarung depan agak menyamping dari rumah sakit.

Dengan perasaan sedih karena tak bisa menemani sang istri, Suroso berjalan gontai kedepan. Sesampainya diwarung, dia langsung duduk sambil melihat ramainya jalanan. “Pak kopi setunggal” (Pak kopi satu) pesannya.

“Nggeh mas sekedap” (Iya mas sebentar) jawab penjual kopi. Suroso melakukan hal ini untuk berjaga agar dia tidak terserang rasa ngantuk dalam menunggu kelahiran anak pertamanya itu. Sambil menikmati hidangan kopi panasnya Suroso, dan baru menyulut rokok,

ia mulai ditanya oleh pemilik warung.

“Saking pundi mas? kok kulo dereng ngerti sampean sak derenge?” (Dari mana mas, kok saya belum pernah lihat sebelumnya?) tanya bakul kopi tersebut

“Oh kulo saking Ndawar pak, niki ngentosi istri kulo seng bade lairan ten rumah sakit niku”

(Ohh saya dari Dawar pak, ini nunggui isteri saya yang akan melahirkan di rumah sakit itu) jawabnya Suroso dengan santai, sambil sekilas menunjukkan pandangannya kedalam rumah sakit.

“Lah rumah sakit seng endi mas?”

(Lah rumah sakit yang mana mas?) tanya penjual kopi dengan wajah penasaran dan bingung.

Suroso sendiri merasa aneh atas pertanyaan pemilik warung itu, “Piye bakule iki, rumah sakit neng cedek’e kok sek takok”

(gimana penjualnya ini rumah sakit didekatnya kok masih tanya) gumam Suroso.

lalu Suroso menjelaskan kembali dan meyakinkan penjual kopi tersebut kalau dia memang menunggui isterinya dirumah sakit sebelah ini. Seketika wajah pemilik warung itu terlihat tegang, dan kaget.

Spontan ia menatap Suroso dengan wajah serius.

“Mas, rumah sakit umum iku wes dikosongno kawet

pertengahan ulan Januari wingi” (Mas, rumah sakit umum itu sudah dikosongkan sejak pertengahan bulan Januari kemarin). Jelas bakul kopi

“Sak iki rumah sakite pindah nang Surodinawan kidul kono mas. Duduk ndek jalan gajah mada iki maneh” (Sekarang ini rumah sakitnya pindah ke Surodinawan selatan sana mas. Bukan di Jalan Gajah mada ini lagi) jelasnya lagi

Mendengar penjelasan itu, sontak Suroso langsung kaget.

Tanpa berucap apapun Ia dengan cepat membayar kopinya. Dengan setengah berlari ia masuk kedalam rumah sakit. Saat melintasi koridor semua lampu sudah gelap, padahal sebelumnya ia lewati bersama perawat yg membawa Padmi keruang persalinan lampunya sangat terang dan banyak orang,

kini keadaan jalannya sepi, dingin dan hanya satu cahaya lampu yang terlihat diujung koridor rumah sakit tersebut.

Sesampainya Suroso diruang persalinan dimana Padmi berada. Ia berhenti sejenak, membuka pintu matanya sempat sekilas melirik keatas pintu,

diatas tertera tulisan “Kamar Mayat”. Melihat itu nyalinya langsung ciut, takut dan panik ketika memikirkan nasib isteri dan anaknya.

Tanpa mengetuk Suroso langsung membuka pintu ruangan tersebut, ruangannya kini pengap, gelap dan sedikit bau arus.

Dia tetap memberanikan diri masuk meski tubuhnya sudah gemetaran.

Padahal hanya sedikit cahaya yang menerangi ruang itu, ketika itu Suroso mendapati Padmi sudah tertidur dengan memeluk seorang bayi laki-laki mungil yg masih kemerahan.

Hati suroso pun lega, tapi ia takut karena situasi yang tiba-tiba mendadak berubah. Ia dengan cepat berjalan mendekati istrinya

“Dek, tangi dek…tangi dek” (dek bangun dek) kata suroso sambil menepuk pelan pipi istrinya. Padmipun cepat merespon,

perlahan ia mulai membuka matanya, melihat istrinya sudah mulai sadar “Awak dewe salah rumah sakit dek” (kita salah rumah sakit dek) kata Suroso

“Maksudte piye mas” (Maksudnya bagaimana mas?) tanya Padmi pelan

“Wes, pokok’e ayo metu sak iki soko kene” (Sudah pokoknya ayo keluar sekarang dari sini)

Padmi pun segera beranjak turun dari tempat tidur, dan Suroso bergegas meraih barang bawaan seadanya dan mengambil bayinya dari istrinya untuk gendong. Dengan kondisi sedemikian rupa,

secepatnya mereka keluar dari ruangan tersebut. Suroso dengan perasaan tidak karuan dan takut tetap berjalan keluar tanpa bicara apapun. Sesampainya diparkiran Suroso menata istri dan anaknya sejenak dijok belakang,

kemudian sang kepala rumah tangga mulai memacu sepeda motornya untuk menuju rumah Padmi di Dusun Suru Kidul. Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai rumah sekitar jam 22.30 WIB dengan selamat.

Disaat mereka sampai rumah bersama istri dan bayinya, suroso pun bisa tenang.

Mereka bisa lepas dari rumah sakit berhantu tersebut.

Kedatangan mereka juga membuat Ibu dan bapaknya kaget, karena proses melahirkan secepat itu dan bisa langsung kembali membawa bayinya, malam hari pula.

Tanpa banyak bertanya kedua orang tua Padmi langsung menggendong cucunya dan merebahkan Padmi yg masih lemas dikamarnya.

Baru setelah situasi mereda, Padmi pun bercerita kepada ibunya.

“Mak…mak…mak kulo wau pas ndok rumah sakit rasane uaneh,

mari melbu ruangan wetengku lorone sudo?”(Buk..buk..aku tadi pas dirumah sakit rasanya aneh, habis masuk ruangan perutku sakitnya berkurang)

“Opomaneh sakmarine doktere teko, wetengku wes gak kroso loro blas mak” (Apalagi setelah dokternya datang,

perutku sudah tidak terasa sakit sama sekali bu). jelas Padmi “Loh kok iso nduk? kok ngunu ?” (Loh kok bisa nak? kok begitu) tanya mbah Sumiati

“Nggih kirangan mak, kulo piambak mboten sumerep. Pokok’e pas ngetokno bayine kulo mboten kroso loro blas mak” (ya tidak tahu mak,

aku sendiri tidak tahu. Pokoknya sewaktu aku mengeluarkan bayinya aku tidak merasa sakit sama sekali bu) jawabnya polos

“Terus anehe maleh mak, pas bayine metu kale ari-arine kulo kan pun kesel, nggih ngantuk sisan. Tapi sak durunge kulo keturon,

kulo delok pak doktere nyekel ari-ari bayiku seng jek campur getih terus langsung dipangan mak” (Terus anehnya lagi bu, tepat bayinya keluar sama ari-arinya aku kan sudah capek ya ngantuk juga. Tapi sebelum aku ketiduran,

aku melihat pak dokternya memegang ari-ari bayiku yang masih bercampur darah terus langsung dimakan buk). jelas Padmi

“Lah terus sak iki endi ari-arine le, nduk” (Lah terus sekarang dimana ari-arinya nak) tanya ibunya

“Endi mas, mau sampean gowo ta gak”

(dimana mas, tadi anda bawa tidak) tanya Padmi pada suaminya

“Gak ngerti dek, mau aku cuma gowo sak enek’e barang seng enek ndok kamar. Tapi pas ngeringkesi barang mau yo gak enek ari-ari” (gak tahu dek, tadi aku cuma bawa barang seadanya yang berada dikamar.

Tapi sewatu mengambil barang tadi ya tidak ada ari-ari) jawab Suroso

“Trus piye iki, sampean jupuk mas. bekne keri nang kono?”(terus bagaimana ini? anda ambil mas. Barang tertinggal disana?” pinta Padmi

“Aku yo ora wani dek, koyo ngono sereme”

(aku ya tidak berani dek, kayak gitu seramnya) jawab Suroso

“Wes babahno nduk, penting awakmu karo bojomu selamet kabeh” (sudah biarkan saja nak, penting kamu sama suamimu selamat semuanya). tutur mbah Sumiati

Beberapa hari kemudian, kejadian ini ditahun 2013 menjadi ramai.

Warga mulai berdatangan dari Mojokerto, Sidoarjo dan sekitarnya terus berbondong-bondong ke lokasi di Jalan Gajah Mada, mereka berharap bisa menyaksikan gedung tua angker secara langsung. Sampai beritanya muncul diberbagai media,

kejadian semua ini membuat Padmi dan Suroso merasa tidak nyaman tinggal dirumah. Sampai akhirnya pasangan Suroso dan Padmi sudah pergi dari rumah yang di dusun Suru. Karena mereka takut orang akan menggangap kejadian aneh yang mereka alami hanya bualan belaka.

Disamping menghindari pandangan miring masyarakat sekitar yang menuduh pasangan muda itu telah bersekutu dengan hantu.

Padahal hanya nasib sial yang menimpa mereka kala itu, dan beruntung mereka masih diberi keselamatan hingga kini.

*TAMAT*

 Thread By @bayuuubiruuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *