RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Mereka Ada Bahkan Di Dalam Terang

“MEREKA ADA, BAHKAN DI DALAM TERANG”

Akhirnya setelah beberapa lama tidak menulis, saya mencoba memberanikan diri untuk berbagi pengalaman kembali kepada teman-teman twitter.

Mungkin ada pertanyaan, “mencoba memberanikan diri…” maksudnya gmn?

Ya karena saya takut.

Beberapa waktu lalu, ada sebuah kejadian yg membuat saya tidak berani menulis cerita horror saat berada “di sini”.

“Di sini” yg saya maksud adalah di sebuah rumah kontrakan yg saya dan istri saya tempati tiga bulan lamanya. Sebuah rumah di bilangan Tangerang, Banten.

Sejak empat bulan lamanya saya dan istri pindah ke Tangerang karena alhamdulillaah saya mendapatkan pekerjaan di sebuah manufaktur di Kawasan Industri Jatake.

Karena panggilan kerjanya terbilang mendadak, akhirnya kami pun mencari tempat tinggal secara mendadak jg.

Awalnya kami sempat tinggal di sebuah rumah kontrakan selama satu bulan. Namun karena sewa tempatnya cukup tinggi, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain.

Di tempat kedua inilah kami, tepatnya istri saya mengalami kejadian yg membuat saya takut untuk menulis cerita Bagi beberapa teman-teman twitter yg pernah membaca thread saya, mungkin mengetahui “kesensitifan” Ditya, istri saya.

Dalam beberapa kesempatan, saya selalu menyamarkan nama istri. Namun kali ini, atas izin dari istri, saya memberanikan diri menyebutkan nama aslinya.

Diandra.

Cerita ini dimulai pada hari pertama kami pindah.

Hari itu, karena saya masih harus bekerja jadi tidak dapat membantu pindahan rumah kontrakan baru. Kebetulan Mamih yg sedang senggang dan tidak ada kegiatan bermalam dan ikut membantu proses pindahan rumah bersama Diandra. Bunyi notifikasi whatsapp di hp saya memecah lamunan saya di kantor, yg saat itu kondisi ruang kerja kami sedang sangat santai.

“Aku udah di rumah baru yaa yaang”

Begitu pesan yg tertulis pada pop-up notification hp saya.

“Lo jadi pindah mas hari ini?”,

Tanya Putri, teman sekantor saya yg sepertinya matanya melirik pada chat Diandra.

“Iyaa… Sama mertua gw.”

“Parah lo gak ikut bantuin!”

“Laah kan gw kerja Put…”

“Iya sih yaa… Daripada potong gaji…”

Begitulah kira-kira candaan kami siang itu.

Namun entah, ada perasaan janggal dalam benak saya kala itu.

Tapi saya mencoba menghiraukannya, dan kembali fokus pada pekerjaan sampai akhirnya waktu jam kerja pun usai. Pop-up notification whatsapp dari Diandra pun kembali terlihat

“Ayaang udah pulang??”

Saya pun segera membalas,

“Lagi nunggu Grab nya nih… Bntr ya”

Tak lama, ojek online yg Diandra pesan pun sampai. Karena dari share-loc yg Diandra berikan ternyata tidak sesuai dgn map, Jadi dia pesan, saya hanya menunggu sampai ojek online pun tiba.

Perjalanan menuju ke rumah kontrakan baru terbilang cukup jauh, sekitar 20 menit dari kantor. Melewati Jl. Raya Pasar Kemis ke arah Rajeg.

Iya, Rajeg.

Untuk teman-teman yg menetap di daerah Tangerang-Banten, mungkin sudah tidak asing mendengar nama daerah tersebut. Daerah yg, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap penduduk dan warga asli Rajeg, mungkin terkenal dengan julukan “tempat jin buang anak”…

Hal itu pun baru saya ketahui setelah 2 bulan menetap di sana. Untungnya, sepanjang perjalanan driver Grab saya bercerita banyak hal. Dari mulai menanyakan berapa lama sudah bekerja di Pabrik, sampai bercerita bahwa ternyata ia tinggal di perumahan di samping perumahan tempat rumah kontrakan baru kami.

Ada yg menarik dari perkataan driver Grab tepat setelah ia menunjukan perumahan tempat tinggalnya yg baru saja kami lewati,

“Kalo baliknya malem, di atas jam 8 mending nginep kantor aja mas…”

“Emang kenapa Pak?”,

“Yaa… Liat aja tuh kanan-kiri kayak begini…”

Saya baru tersadar mendengar perkataan driver Grab itu. Sepanjang perjalanan saya memang tidak terlalu fokus memperhatikan jalanan yg kami tempuh karena obrolan seru dengan Pak driver Grab ini.

Namun setelah memperhatikan sekitar, saya baru menyadari bahwa kami sedang melalui  jalanan sempit yg membelah perkebunan. Di sebelah kanan, merupakan area luas perkebunan dan beberapa perumahan kecil, sedangkan di sebelah kiri adalah area sawah yg membentang luas.

Perasaan tidak enak mulai muncul kembali…

“Aah, palingan gara-gara jalanannya”,

Dalam hati

Kami akhirnya berbelok ke arah kanan, memasuki gerbang perumahan yg terlihat sudah sangat usang. Di depannya terlihat tulisan

“Duta Asri Palem 3”

“Nah ini mas perumahannya… Kecil sih, tapi orang-orangnya mah sopan-sopan”, Ucap bapak driver Grab. Sebenarnya, untuk ukuran perumahan di daerah pedalaman Tangerang, Duta Asri Palem 3 bukan lah perumahan yg buruk. Beberapa warga yg terlihat sedang duduk-duduk di depan rumah pun sangat bersahabat menyapa ketika saya melemparkan senyum sapa.

“Enak jg ya Pak tempatnya”

Namun seketika setelah mengucapkan kalimat itu, perasaan tidak enak kembali muncul. Baik lah, dalam kesempatan ini saya ingin menjelaskan sedikit bahwa, yaa… Saya memang beberapa kali bersinggungan dengan hal-hal yg bernuansa ghoib.

Mungkin karena pengaruh keluarga yg memang sedikit banyak memiliki pengalaman dan hubungan dgn hal-hal semacam itu.

Tapi jujur, tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman di luar sana yg memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan mereka yg hidup di alam berbeda, bagi saya pribadi, mereka ada seperti kita, mereka pun hidup bersosialisasi layaknya manusia dengan manusia lainnya. Dan seperti yg selalu Papa saya bilang,

“Tujuan jin diciptakan adalah sama seperti manusia, untuk beriman kepada Allah SWT. Namun pada hakikatnya mereka pun sama seperti kita,

tujuan mereka ada yg baik ada yg tidak. Yang baik bertujuan untuk mengingatkan kita selalu kepada Tuhan, sedangkan yg tidak baik bertujuan untuk menjauhkan kita dari Tuhan.”

Kira-kira seperti itu.

Kembali ke ceritanya, Perasaan tidak enak itu kembali muncul seketika kami sampai

di penghunjung jalan utama di perumahan tersebut. Tepat di samping sebuah Mushola kecil.

Entah apa, namun saya merasakan ada sesuatu yg seakan bersikap “waspada” akan kehadiran kami.

“Mau kenalan kali ini…”

Hanya itu yg terlintas dalam pikiran saya. Saya memang tidak terlalu suka menggubris kehadiran “mereka”, jadi seperti biasa, saya mencoba menghiraukan perasaan tersebut.

Saya pun sampai di depan sebuah rumah dengan pagar hitam dan cat berwarna biru. Pintu rumah itu terbuka lebar, di dalamnya terlihat Mamih sedang duduk bersantai sambil menikmati acara Tonight Show.

“Makasih banyak ya Pak, jangan kapok ya nganterin kalo dapet saya lg…”

“Hahaha, santai mas… Sekalian saya pulang kan…”

Saya pun turun dari motor, melangkah mendekati pagar rumah.

“Assalamu ‘alaikum…”

“Wa ‘alaikum salam…”

Suara Diandra dan Mamih terdengar menyambut hangat dari dalam rumah. Namun sayup-sayup terdengar suara ketiga yg turut menyambut dengan lirih…

Kembali, saya hiraukan suara itu,

“Udah sampe ayaang?”,

Sambut Diandra di depan pintu rumah,

“Iyaa…”

Saya pun beranjak masuk, menyalami Mamih yg bangkit dari duduknya menyambut kedatangan saya.

Beberapa hari kami menetap di rumah tampak normal, tidak ada yg aneh. Saya berangkat ke kantor pagi hari dan kembali ketika waktu hampir Maghrib, disambut dgn masakan Diandra yg masih hangat.

Namun karena satu dan lain hal, untuk satu bulan lamanya kami hampir tidak pernah pukang ke sana. Kami lebih sering menetap di rumah kakak ipar saya. Kakak tertua Diandra yg kala itu pun bekerja di sebuah manufaktur di Tangerang. Namun ia menetap di daerah Lippo Karawaci.

Sesekali kami pulang ke rumah kontrakan hanya untuk menetap semalam atau dua malam, dan kembali ke rumah kakak ipar.

Pasalnya, rumah dinas yg diberikan oleh kantor Kakak ipar saya bisa dibilang terlalu besar untuk ditinggali hanya 3 anggota keluarga. Sampai pada suatu ketika, kami pulang ke rumah kontrakan. Diandra sudah lebih dulu kembali ke rumah siang harinya, sedangkan saya menyusul setelah jam kerja selesai.

Malam itu kami berencana tidur lebih larut, karena keesokan harinya saya libur. Kami berniat menonton film streaming seperti yg biasa kami lakukan setiap Jumat malam tiba.

Ketika itu saya sedang merebahkan badan sejenak di kamar, sedangkan Diandra sedang memasak mie instan untuk menemani tontonan kami nanti.

Tiba-tiba terdengar suara Diandra memanggil saya dengan nada tinggi…

“Ayaaang…!!!”

“Kenapa yaang?”,

Tanya saya yg kaget terbangun dari tempat tidur. Namun saya semakin dikagetkan dengan tingkah Diandra yg tiba-tiba berlari ke kamar menutup pintu dan langsung menguncinya. Ia melompat ke kasur, tepat di mana saya berada, menutup kepalanya dibalik selimut sambil meringkuk memeluk lengan saya ketakutan.

“Kenapa? Ada kucing…?”,

Tanya saya polos

“Ada bayangan item gede bangeeett di belakang aku…”

Mendengar hal itu saya pun tersentak. Karena tak menemukan apa pun untuk dijadikan alat perlindungan diri, saya pun mengambil sarung yg tergantung di knop pintu kamar, melilit dan mengikatnya diujung.

“Ayok, kita liat!”,

“Takut yaang…”

“Gpp, ayok liat bareng2…”

Kami pun keluar bersama-sama setelah sebelumnya berdoa dan membaca beberapa ayat dan surat pendek yg kami hafal.

Kami melihat sekeliling, dan tak menemukan apa pun. Malam itu pun kami lalui dengan perasaan sedikit tidak tenang. Alarm hp saya berbunyi nyaring sekali, membangunkan kami berdua dari tidur lelap. Saya meraih hp di samping bantal, berniat melihat jam berapa sekarang.

“Udah jam segini aja…”

Waktu menunjukan pukul 08:45 WIB. Saya segera membangunkan Diandra yg masih tertidur.

Siang ini kami berniat kembali ke rumah Kakak ipar. Saya pun beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka. Tapi sialnya, air di rumah kami mati saat itu. Diandra pun mencoba menghubungi Pak Khairul, pemilik rumah tersebut untuk menanyakan tukang air terdekat di sekitar tempat tinggal kami.

Namun jawaban yg sedikit lucu dan aneh yg Diandra dapatkan,

“Oalah… Bu, coba periksa keran di pipanya deh… Biasa suka diputer tuh…”

Namun sayangnya, jawaban Pak Khairul itu tidak langsung disampaikan Diandra kepada saya, dia justru berkata…

“Udah yaang, kita siang ini ke tempat Aa jg kaan… Senin aja sekalian Pak Khairul nya yg mau cek…”

Saya pun hanya mengiyakan. Siangnya, kami pun kembali ke Karawaci

Hari Senin pun tiba. Diandra sudah mengatur waktu pertemuan dgn Pak Khairul di rumah kontrakan. Saya seperti biasa harus bekerja, jadi baru bisa kembali ke rumah kontrakan setelah jam kerja usai.

“Yaang…”

Pop-up notification whatsapp dari Diandra seperti biasa muncul.

“Iya yaang…”

“Hmmmm… Nanti aku cerita deh”

“Knp yaang?”

“Nanti aja…”

Percakapan yg membuat saya sedikit tidak tenang. Khawatir sesuatu terjadi pada Diandra.

Yaudah, aku lanjut kerja dulu ya…”

Saya pun kembali melanjutkan pekerjaan saya yg sedikit menumpuk di kantor

Jam di hp saya menunjukan pukul 17:19 WIB kala itu. Beberapa rekan kerja saya sudah lebuh dulu turun untuk menunggu jemputan.

Saya pun bergegas merapihkan meja kerja saya dan menyusul mereka ke bawah.

Tak begitu lama, driver grab yg sudah saya pesan pun tiba. Saya segera berpamitan dgn rekan-rekan kerja yg masih menunggu jemputan mereka.

“Assalamu ‘alaikum…”

Saya membuka slot pagar rumah yg memang tidak biasa kami gembok. Terlihat Diandra sedang duduk di depan tv sambil menoleh ke arah pintu,

“Wa ‘alaikum salam…”

Suaranya pelan, lesua seperti tidak bersemangat.

“Kenapa yaang…?”

Tanya saya bingung memperhatikan ekspresinya yg muram, sambil perlahan masuk ke dalam rumah dan duduk tepat di depannya.

“Gak apa-apa…”,

Jawab Diandra singkat sambil tersenyum masam

“Yakin…?”

Iya pun hanya merespon pertanyaan kedua saya dengan anggukan kecil. Namun entah kenapa, sepertinya saya tahu alasan yg membuat sikapnya seperti itu.

“Tadi Pak Khairul jadi ke sini?”,

Tanya saya lg

“Udah tuh, udah bisa airnya…”,

Jawabnya singkat

“Sendiri?”

“Gak, sama istrinya…”

“Ooh… Trus cerita apa istrinya?”,

Tanya saya. Terkejut mendengar pertanyaan saya, Diandra langsung menimpali,

“Koq kamu tau…?!”

Saya hanya tersenyum.

“Cerita yg aneh-aneh ya…?”,

Tanya saya lagi, Diandra pun hanya mengangguk dan melihat saya.

Ia perlahan membuka mulutnya, mencoba menjelaskan apa yg diceritakan oleh istri Pak Khairul.

Untuk bagian ini, mungkin lebih nyaman bila saya tuliskan dalam sudut pandang istrinya Pak Khairul ya…

Aku dan suamiku, Khairul namanya, akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumah yg kami beli di bilangan Tangerang, Banten demi mendekatkan suami ku dengan pekerjaannya. Namun, itu bukanlah satu-satunya alasan bagi ku meninggalkan rumah ini.

Sejak pertama kali kami beli rumah ini, banyak hal-hal yg tidak masuk akal terjadi di sini.

Pernah suatu ketika, saat itu kandunganku berumur 7 bulan. Sedang besar-besarnya kalo kata orang tua dulu. Aku sedang memasak sayur lodeh kesukaan suamiku di dapur. Menunggunya pulang dari kantor.

Waktu itu sekitar jam 19:00 tv di ruang tengah sengaja kunyalakan supaya aku tidak merasa terlalu sepi. Aku tertawa karena mendengar guyonan acara di stasiun tv tersebut.

Namun tiba-tiba, seolah ada yg mengganti salurannya, acaranya berubah. Aku oun menyadari hal tersebut.

Aku bergegas beranjak ke ruang tengah berniat mengganti saluran tv. Namun sial, ketika aku berbalik, yg kuliat hanyalah warna hitam, gelap menutupi pandanganku.

Ini jelas bukan mati lampu!

Karena aku masih bisa melihat pemandangan dari sisi kanan dan kiri ku. Aku beranikan mendongak ke atas untuk memastikan benda apa itu. Betapa kagetnya aku ketika melihat dua buah bola mata yg besar, kemerahan, melirik ke bawah menatap mataku.

Sosok hitam legam dan besar itu menatap dalam ke mataku, membuatku tak mampu bergerak bahkan bersuara. Tak begitu lama sebenarnya kejadian itu berlangsung. Kurang lebih 1 menit. Namun bagiku, itu adalah hal terlama yg paling menakutkan sejauh ini.

Sampai akhirnya tiba-tiba suara seruan suamiku menyadarkan ku. Aku pun jatuh tersungkur ke lantai.

Tak hanya itu, beberapa hati setelahnya, seperti biasa aku merebahkan tubuh ku di kamar ketika siang dan mulai bangun dan kembali beraktifitas menjelang sore.

Siang itu aku tertidur cukup pulas, sampai suara adzan membangunkan ku. Maklum, rumah kami berada tepat di belakang Mushola.

Aku lirik jendela, terlihat langit perlahan mulai gelap.

“Astaghfirullah… Udah maghrib”

Aku pun segera membalikan badanku karena terkejut menyadari aku telah tertidur cukup lama.

Namun, tiba-tiba sekujur badanku kaku. Aku bahkan tidak bisa memperbaiki posisi ku yg tengah setengah merebah, bersandar pada kedua siku lenganku.

Mataku tertuju pada satu sosok. Sosok yg tengah duduk diujung kasur di sisi yg lain tepat di sebelah kiri ku. Sosok seorang nenek-nenek yg sedang menyisir rambutnya yg kusut, putih. Sosok itu membelakangiku. Namun perlahan, terlihat pergerakan pada bagian kepalanya,

“Jangan nengok… Jangan nengok…”

Ucapku dalam hati.

Namun sosok itu tetap melanjutkan pergerakannya. Perlahan ia menoleh. Tidak sampai berhadapan denganku, namun matanya melirik tepat kepadaku. Terlihat senyumnya menyeringai. Dan sesekali bola matanya berputar ke atas, ke kanan, ke bawah dan ke kiri.

Setiap kali melihat hal itu, aku hanya bisa pingsan dan terbangun beberapa saat kemudian. Namun yg janggal adalah, setelah aku terbangun baru kusadari bahwa kejadian itu berlangsung bukan di saat Maghrib, namun menjelang Ashar.

Yaa, aku memang menyebutkan “setiap kali…”, Karena hal ini berlangsung tidak hanya sekali atau dua kali. Namun hampir setiap hari.

Kejadian-kejadian aneh itu tidak berhenti sampai di situ.

Beberapa waktu setelah anak kami lahir dan mulai bisa mengoceh, sering kali kami terbangun di tengah malam karena suara tawa dari anak kami.

Balita yg terbangun di tengah malam memang bukan hal yg aneh, namun apa yg dilakukannya yg membuat semuanya tampak aneh.

Biasanyaakan kami temukan anak kami terduduk menghadap sudut tembok kamar sambil mendongak ke atas, melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa riang.

Tapi seperti yg sudah kalian duga pastinya, tidak ada apa-apa di sana. Semakin beranjak besar, ketika anak kami mulai bisa berjalan, sering kali ia berlari ketakutan dari dalam kamar menuju pagar.

Jawaban yg sama selalu aku dapatkan setiao kali menanyakan kepada anak ku apa yg terjadi…

“Mah ayak…”,

Awalnya aku tidak paham, sampai akhirnya kalimat “mah ayak…” terdengar sangat familiar dan perlahan aku pun mulai mencerna maknanya,

“Mbah galak.”

Dengan kata lain, bukan hanya aku, namun anak ku pun mengalami hal yg sama.

Aku terus berusaha menjelaskan kepada suamiku tentang aoa yg kami alami setiap kali ia bekerja. Bahkan pengalamam yg sama pun dialami oleh tetangga rumah kami. Tapi suamiku tetap berfikir bahwa itu hanyalah salam perkenalan.

Sampai suatu saat, ketika suamiku tidak masuk kerja hari itu…

Ia sedang merapihkan kamar di belakang dapur yg memang dipakai hanya untuk sholat. Aku di kamar bersama anak kami yg masih tertidur.

Tiba-tiba terdengar seruan suamiku dari arah dapur,

“ASTAGHFIRULLAAH…!!!”

Tak lama, aku melihat suamiku keluar dari kamar tersebut, bergegas menutupnya dan menarikku serta anak kami keluar dari rumah.

Aku tak tahu apa yg terjadi, namun ia mengarahkan kami menuju Mushola di depan.

Suamiku segera menemui pengurus Mushola di sana, menceritakan apa saja yg kami alami selama ini.

Akhirnya pengurus Mushola pun bersedia membantu dengan meminta pertolongan kepada seorang Kiyai yg biasa mengisi kajian di Masjid dari perumahan sebelah.

Tak begitu lama, sekitar 40 menit, Pak Kiyai pun datang.

Suamiku segera mengantar Pak Kiyai ke rumah. Ia memintaku untuk tetap tinggal di Mushola bersama anak kami, ditemani dgn beberapa tetangga. Suara adzan Dzuhur sudah berkumandang di Mushola. Aku dan anak ku sekarang beristirahat di rumah tetangga di samping Mushola.

Sudah 3,5 jam berlalu namun mereka, suamiku, Pak Kiyai, pak pengurus Mushola dan 2 org tetangga blm jg kekuar dari rumah.

“Assalamu ‘alaikum…”

Terdengar suara salam beberapa orang pria dr depan rumah tetanggaku.

“Wa ‘alaikum salam…”

Kami pun menyambut mereka yg terlihat begitu lelah. Suamiku dan para bapak-bapak tersebut telah kembali.

“Gimana Yaah…?”, tanya ku

“Alhamdulillaah… Aman”

Suamiku menjawab dengan senyuman. Namun entah, aku merasa ini belum selesai.

Anehnya, tidak satu pun dari Suamiku maupun Bapak-bapak tersebut mau menceritakan apa yg terjadi. Dan yg membuatnya semakin aneh adalah, satu minggu setelahnya kami pindah ke daerah Cengkareng. Memang untuk alasan pekerjaan, namun aku merasa ada yg janggal.

Beberapa ulan berselang, kami sudah menetap di Cengkareng kini. Rumah yg berada di daerah Rajeg pun sudah ada yg mengontrak. Pasangan muda kalo kata suamiku. Mereka blm lama menikah, dan kebetulan suaminya mendapatjan pekerjaan di sebuah manufaktur di Kawasan Industri Jatake.

Aku sudah pernah bertemu dgn istrinya dan “Mamih”, ibu dari istrinya ketika pertama mereka pindah ke rumah kami.

Siang ini pun kami harus kembali ke rumah itu karena menurut laporan si istri yg mengontrak rumah kami, air di rumah sedang mati. Pertama kali mendengar berita itu, perasaanku sudah mulai tidak tenang. Seperti ada yg janggal. Suamiku pun memutuskan untuk mengajakku ke sana karena ia ingin memeriksa langsung.

Dan benar saja, sesampainya di sana, dan etelah mendengar cerita mba Diandra yg sekarang mengontrak di rumah kami, tanpa sengaja aku terceletuk…

“Tuh kan bener… Masih ada!”

Terlihat terkejut mendengar pernyataan dari ku, mba Diandra pun akhirnya bertanya. Dan aku… Menceritakan semua yg aku alami di sini.

Setelah mendengar penuturan cerita dari istrinya Pak Khairul yg disampaikan Diandra, saya pun mulai paham bahwa perasaan tidak enak dan beberapa kejadian yg kami alami memang karena ada sebabnya.

Saya berusaha menenangkan Diandra yg terlihat cukup takut. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk pindah setelah masa kontrak 3 bulan kami habis.

Alhamdulillaah, selama sisa masa kontrak 2 bulan kami tidak pernah mengalami hal-hal aneh lainnya.

Paling hanya beberapa kali Diandra merasa berat di bahu sebelah kiri ketika malam, dan membaik di pagi harinya untuk beberapa alasan, itulah yg menyebabkan saya “takut” untuk menulis cerita-cerita yg berkaitan dengan hal-hal ghoib. Takut berdampak pada Diandra.

Alhamdulillah, kini kami pindah ke tempat baru. Beberapa hari sebelum pindah, Diandra meminta saya “memeriksa” kondisi rumah baru yg akan kami tempati.

Untungnya, relatif aman.

Yg namanya ghoib, pasti lah ada di setiap rumah. Hanya saja kecenderungan mereka untuk mengganggu penghuni rumahnya berbeda-beda.

Dari saya sekian dulu, semoga bisa diambil hikmah dari pengalaman kami.

Thread By @bonkioong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *