RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Merri Terror Hantu Bioskop

-JAKARTA, di tahun yang tidak bisa di sebutkan.-

“Matanya melotot, lidah menjulur, lehernya hampir putus, itu adalah Merri. Sosok perempuan yg menjadi korban pembunuhan pacarnya. Ia meneror gedung bioskop, tempat di mana ia di bunuh.”

Sosok perempuan berdarah campuran. Di masa hidupnya, Merri adalah sosok perempuan yang cantik, namun setelah tragedi itu, kecantikannya berubah menjadi teror yang mengerikan. Bukan Merri, tapi ini pengalaman seorang OB yang pernah bekerja di Bioskop tersebut. 

Bising suara kendaraan terdengar ramai. Agus yang berjalan gontai di atas jalanan aspal, sesekali berteriak lantang. Meluapkan amarah emosinya ke udara. Seakan suara bising itu tidak terdengar sama sekali. Bukan tanpa alasan, Agus yang sudah kesana-kemari melamar pekerjaan, tak satu pun ada yang menerimanya.

Sampai ketika Agus akan menyeberang jalan, Agus hampir saja tertabrak mobil jika saja mobil itu tidak buru-buru menekan pedal rem. Mungkin tidak akan ada cerita ini kalau Agus tidak langsung sadar dan menghindar waktu itu.

“Goblok!” bentakan lelaki paruh baya dari dalam mobil, seketika membuat Agus sedikit tersulut mundur dan terjatuh ke pembatas antara aspal dan tanah. 

Selama dalam perjalanan, Agus masih dirudung kebingungan, kemana lagi ia harus mencari pekerjaan nantinya. Sementara ia harus menanggung hidup keluarganya. Tentunya Agus membutuhkan biaya yang lebih.

Ini adalah pengalaman mistis sekaligus mengerikan yang aku alami ketika bekerja di salah satu gedung bioskop tua di Jakarta. Namaku Agus (samaran) aku jauh-jauh datang ke Jakarta untuk mencari kerja, tapi sudah lima perusahaan yang aku datangi, tak ada satu pun yang mau menerimaku jadi karyawan. Karena sudah buntu dan tak ada saudara juga di sini, aku memutuskan untuk balik ke kampung. Tapi untungnya, kawan lamaku yang ternyata tahu tujuanku ke Jakarta, dia menawariku untuk memasukkan lamaran di salah satu gedung bioskop.

Awalnya aku ragu mau menerima tawarannya, karena yang mereka cari adalah OB. Tapi setelah aku pertimbangkan, ya aku terima. Toh siapa tahu nanti ada lowongan kerja lain lagi. “Ya itung-itung batu loncatanlah.” Pikirku.

Setelah aku datang dan menyerahkan dokumen lamaran, ternyata mereka buru-buru. Tanpa wawancara, aku langsung di terima jadi OB. Hari pertama aku kerja, aku bertemu sama Mas Amir. Dia ini orangnya baik dan juga OB di bioskop ini. Aku merasa agak aneh. Soalnya kalo dilihat dari segi arsitekturnya, kesannya tua banget.

Ada beberapa plafon yang tampak sudah mau rusak. Aku sempat membatin, “Kok gini amat.” 

Apalagi pengunjung yang datang, bisa dihitung pakai jari.

“Aneh sih menurutku. Tapi mau gimana lagi, daripada aku gak dapet kerja.”

Mas Amir pun langsung mengajak untuk berkeliling, dia juga memberi tahu semua ruangan dan lorong yang nantinya perlu di bersihkan. Sampailah aku dan Mas Amir di depan sebuah ruangan. Katanya sih gudang tua.

“Oiya Gus. Untuk ruangan ini gak usah di bersihkan, ya. Biarin ajaa gapapa.” Kata Mas Amir.

“Loh emangnya gudange kenapa, Mas?” aku penasaran. 

“Ada tulisannya dilarang masuk! Pokoknya gak boleh masuk dari pada kamu kena SP sama si bos.” Jawab Mas Amir.

“Gus inget ya. Apa pun yang terjadi jangan sampai kamu masuk.” Sambung Mas Amir menjelaskan sekali lagi. 

Ya karena itu aku jadi penasaran, sebenarnya isi dalam gudang itu ada apanya, kok sampai seluruh karyawan tidak boleh masuk. Dan akan terjawab nanti. Setelah selesai instruksi, aku langsung memulai pekerjaan. Di mulai dari toilet, ruangan bioskop hingga lorong-lorong. Ternyata aku kurang bersih, aku tiba-tiba di marahi Pak Manager karena ada beberapa titik yang masih kotor. Tanpa perintah kedua, aku langsung membereskan, takut kalo gajiku di potong atau dipecat. 

Singkatnya, beberapa hari kemudian, malam itu di guyur hujan deras banget. Karena aku masih ada tanggungan pekerjaan, jadi terpaksa aku selesaikan dulu. Padahal bioskop ini tidak begitu rame, tapi kenapa kotornya kayak seolah-oleh banyak pengunjung, aneh! Sebenarnya aku gak sendiri, ada satpam juga tapi dia jaga di luar. 

Pas aku lagi ngepel di lorong, kok seperti ada genangan air yang mengalir. Aku cek ke sana untuk aku bersihkan. Tapi gak ilang-ilang airnya. Hampir sejam kalo gak salah. Tapi tetap aja gak bisa bersih. Jadi semacam kayak ada kebocoran gitulah. Karena penasaran, aku ikuti aliran air itu. Sampailah aku di depan gudang lama yang gak boleh di masuki itu. Ternyata kebocoran ada di dalam gudang. Aku bingung, mau aku selesaikan sumber masalahnya atau aku biarkan aja. 

Masalahnya, aku harus masuk dan kemarin Mas Amir sudah memperingatkan untuk jangan masuk. Tapi kalau besok pagi Pak Bos tahu, bisa-bisa aku kena marah lagi. Ya sudah, akhirnya aku nekat untuk masuk dan ini ternyata keputusanku yang salah. 

Pas pintu terbuka, ruangan benar-benar gelap banget dan terasa banget kalo ruangan ini kotor. Kelihatan dari debunya yang tebal dan lembab. Aku pikir, sepertinya gudang ini memang gak pernah di bersihkan. Dan malam ini aku adalah orang pertama yang berani masuk. 

Aku nyalakan senter untuk melihat ke sekeliling. Pas di dalem ruangan, aku juga merasa kalau aku di sini tidak sendirian, semacam kayak ada seseorang yang memperhatikanku tapi aku belum tahu posisinya di mana. Tapi aku masih bodo amat, niatku masuk ke sini hanya untuk memperbaiki kebocoran. Akhirnya setelah berputar-putar ruangan, aku menemukan sumber masalahnya. Dengan alat seadanya, aku coba untuk memperbaiki dan syukurnya cepat teratasi. 

Nah ini adalah kejadian yang bikin aku merinding. Pas aku dalam posisi jongkok lagi benerin, tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh pundakku. Reflek aku noleh ke belakang sambil mengarahkan senter ke sana. Tapi anehnya tak ada apa pun dan siapa pun. 

Sudah harap2 cemas. Takut kalo aku ketahuan masuk ke ruangan ini, aku buru2 menyelesaikan pekerjaan ini. Belum juga tenang karena sentuhan, tiba2 aku mendengar ada suara bisikan. Aku reflek noleh lagi ke belakang dan mengarahkan senter, dan masih sama. Kosong tak ada siapa pun. 

Tangan udah gemeteran, sampai senter yang aku gigit aja jatuh. Dan gak lama, aku selesai menambal pipa yang bocor tadi. Pas aku mau berbalik dan keluar, mendadak aku mencium aroma yang bener-bener gak enak. Kayak bau bangkai. Dan itu membuatku tambah gelisah. 

Semakin gelisah semakin membuat kakiku berat untuk melangkah. Seperti aku sedang menyeret sesuatu yang aku sendiri gak tahu itu apa. Dengan sisa-sisa keberanian, akhirnya aku berhasil sampai pada knock pintu gudang. 

Aku berhasil keluar. Tapi sebelum aku menutup pintu, aku ingin memastikan saja kalau di dalam tidak ada apa-apa. Aku arahkan senter ke kanan dan ke kiri masih aman. Tapi ketika senter terarah tepat di depan sana, aku jelas banget melihat ada sepasang kaki pucat. 

Dan entah kenapa, seperti ada hawa lain untuk aku terus mengarahkan senter itu ke atas. Semakin ke atas, aku bisa melihat tubuh dari sosok perempuan itu, hingga tepat di wajahnya. Dia tersenyum menyeringai dan di akhir cerita, dia tertawa ngikik. Sontak membuatku buru-buru menutup pintu. Aku benar-benar syok dan ketakutan. Saat itu juga aku putuskan untuk segera pulang.

Keesokan harinya, semua tampak normal. Aku berpura-pura seperti tak ada hal aneh yang terjadi. Walau pun dalam hati, aku benar-benar ketakutan kalau sampai ada yang tahu jika aku masuk ke gudang itu. Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku sebagai OB. Sampai akhirnya, Mas Amir menemuiku menanyakan sesuatu. 

“Gus, lu tau gak, alat-alat kebersihan pada kemana? Kok ada yang hilang, ya?” tanya Mas Amir.

“Aduh, saya gak tahu nih, Mas. Perasaan semalam udah aku kembalikan ke tempatnya.” Aku menjawab sekenanya. Tapi di sisi lain, aku juga benar-benar tidak tahu. 

“Yaudah kalo gitu. Bantu gw nyarii ya, Gus.” Ajak Mas Amir.

Dan ketika aku dan Mas Amir mencari di setiap ruangan, di sana tidak ada satu pun alat yg tertinggal. Hanya ada satu ruangan yg belum kita cek, dan itu mengarah pada ruangan terlarang. 

“Masa iya ada di dalem, Gus?” tanya Mas Amir.

“Waduh gak tahu juga saya, Mas. Apa mau coba di cek ke dalem?” aku balik bertanya.

“Ahhh jangan deh. Udahlah biarin aja.” Sergah Mas Amir. 

Tapi pada akhirnya, aku dan Mas Amir mengabaikan ruangan itu dan memutuskan untuk membersihkan dengan peralatan seadanya. Hari itu berlalu tanpa ada yang aneh hingga waktunya aku pulang. 

Keesokan harinya, tepatnya di malam hari. Terjadi keributan antara pengunjung dan karyawan yang jaga di bagian cafe. Karena aku juga penasaran, akhirnya aku menanyakan pada salah satu pengunjung yang saat itu sedang mengantri. 

“Misi, Mas. Ada apa ya kok ribut-ribut?”

“Ini Mas. Masa kita beli popcorn di kasih yang basi!”

“Hah. Basi, Mas?”

“Iya Mas. Ini coba aja di cium baunya!”

Dan benar saja, ketika aku mencium bau dari popcorn itu, beugh! Kalau kalian tahu, baunya tuh semacam jagung rebus yang udah basi. Bener-bener gak enak sama sekali.

“Oh iya nih Mas basi banget.”

“Yaudah Mas maaf malah kepo. Saya lanjutin kerja dulu.” Sambungku berpura-pura, takut kalau nanti aku kena komplain dan di suruh ganti rugi. 

Dan untungnya malam itu bisa teratasi, Pak Bos bertanggung jawab atas insiden makanan basi ini. Yang jadi masalah, seusai bioskop tutup. Semua karyawan termasuk aku di panggil untuk menghadap ke ruangan Pak Bos. 

Aku dan beberapa karyawan lain di interogasi. Dan memang kami semua benar-benar gak tahu. Sedangkan salah satu karyawan sebut saja namanya Mbak Rini, dia yang saat itu jaga di bagian cafe. Katanya pas di tanya sama Pak Bos, dia juga tidak tahu kenapa bisa basi sepeti itu padahal itu baru di buat. Setelah ada drama kecil di ruangan Pak Bos, kami semua akhirnya membubarkan diri dan pulang. 

Singkatnya, beberapa hari kemudian. Keanehan dan kejanggalan mulai tampak. Para pengunjung bioskop yang sedang menonton film, mereka di ganggu oleh sosok perempuan dengan wajah pucat. Katanya, ada yang melihat sosok perempuan sedang berjalan melewati penonton, tapi ketika di tengok di sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Terus kadang ada sosok perempuan berdiri diam di bawah layar bioskop dan menatap mereka yang sedang nonton, juga ada. 

Beberapa kali juga ada yang bilang, katanya ada suara tangisan dan teriakan saat menonton. Ya aku pikir, mungkin itu suara dari filmnya. Aku masih berpikir positiflah, soalnya aku kerja di sana. Paham ya maksudnya. 

Dan ternyata, dari ‘katanya’ itu aku mengalami sendiri juga. Dan ini kejadian yang kedua kalinya. Ketika aku sedang membersihkan cermin di toilet, tiba-tiba aku mendengar ada suara perempuan menangis. Suaranya itu lirih tapi menyayat hati. Semacam tangisan kesedihanlah. 

Ya aku agak kaget, karena aku lagi bersih-bersih di toilet pria kok ada suara perempuan. Aku cek satu-satu bilik kamar mandi dan semuanya kosong alias gak ada orang. Semakin kesini kok suaranya semakin keras. Aku mulai merinding, soalnya itu udah mulai larut malam. 

Pas pikiranku kacau, tiba-tiba aku melihat dari pantulan cermin ada sosok perempuan yang sama ketika di gudang kemarin malam, dia menatapku sambil meminta tolong.

“Tolooooong….tolong saya…” 

Dengan jurus seribu langkah, aku berlari menuju ruangan ganti dan cepat-cepat segera pulang. Satu bulan kemudian, semua tampak normal. Aku pun juga tenang karena sudah tidak di ganggu lagi. Tapi malam itu menjadi malam paling mencekam dari malam sebelumnya. 

Sebut saja namanya Mas Andi. Malam itu dia tiba-tiba jadi aneh. Sikapnya gak seperti biasanya. Tepatnya ketika aku dan Mas Andi ini lagi dudukan di pantry. Dia tiba-tiba jalan tanpa sadar dan mengarah ke ruangan atau gudang terlarang itu. 

Awalnya aku abaikan, tapi kok semakin aneh orangnya. Aku panggil berkali-kali dia tidak merespon sama sekali. Aku ikuti dia sampai berhenti di depan gudang terlarang itu. Mas Andi cuma berdiri diem aja di sana.

“Mas…Mas Andi?” aku masih mencoba memanggil tapi dia hanya diam. 

“Mas, gak boleh masuk lho, Mas.” Kataku lagi, masih berusaha menyadarkan.

Tapi tak lama kemudian, dia masuk ke ruangan. Dan dengan cepat dia tiba-tiba berontak. Aku liat sendiri kalau Mas Andi ini tiba-tiba melayang tapi sambil megang lehernya. Jadi kayak dia lagi menahan sesuatu di lehernya. Istilahnya kayak lagi di cekik gitulah, tapi gak tahu siapa. Soalnya aku gak lihat ada orang lagi selain aku dan Mas Andi. Semakin lama, dia semakin berontak kesakitan. 

Sontak aku langsung teriak kenceng banget untuk minta pertolongan. Dan gak lama, Mas Amir dan beberapa karyawan lain datang. Aku, Mas Amir dan yang lainnya berusaha untuk menarik keluar Mas Andi, tapi seolah tubuh Mas Andi ini ada yang menahannya. Sekuat tenaga kami berlima menarik tapi benar-benar susah. Seolah ada energi kuat yang menahannya. Sampai kami semua ngos-ngosan kehabisan tenaga.

Mas Andi yang tidak habis akal, dia meminta salah satu dari kami untuk meminta bantuan lagi. Tapi sayang, sebelum ada bantuan datang, Mas Andi duluan meninggal. Dan malam kami semua di panggil Pak Bos untuk di interogasi lagi. Yang membuat aku terkejut, apa hubungan kematian Mas Andi dengan gudang terlarang itu. Pasalnya, Pak Bos menanggapi kalau kematian Mas Andi ini ada sangkut pautnya dengan pemasukan bioskop yang berkurang drastis.

“Lah maksudnya apa? Apa hubungannya?” dalam hati aku juga agak kesel.

Lalu Pak Bos menanyakan semua karyawan yang ada di ruangannya. 

“Sekarang jujur, siapa yang sudah berani membuka ruangan itu?!”

Awalnya kita semua diam saja, gak ada yang jawab. Tapi setelah Pak Bos memutar rekaman CCTV, ya apa boleh buat, aku ketahuan. Otomatis semua karyawan yang ada di situ menoleh ke arahku semua. Tatapan mereka benar-benar mengintimidasi dan seolah tak percaya.

“Kan sudah di peringatkan! Jangan di buka! Kenapa kamu berani sekali, Mas?” pelan dan tegas tapi beramarah. 

“Ma-Maaf Pak. Kemarin malam saya lihat ada genangan air, tapi pas saya bersihkan tak kunjung bersih. Akhirnya saya ikutin aliran air itu dan mengarah ke dalam ruangan itu, Pak. – 

Saya takut kalau tidak saya bersihkan, saya bakal kena marah. Sekali lagi saya minta maaf, Pak.” Jawabku sambil gemeteran. 

“Namanya Merry. Dia di fitnah selingkuh dan kemudian di bunuh oleh pacarnya di bioskop ini. Arwah Merry gentayangan dan ingin balas dendam dengan mengacaukan bioskop saya. Itu karena, dulu kasusnya di tutup.” Sahut Pak Bos, menceritakan kejadian puluhan tahun silam. 

Dan dari kejadian itu, Pak Bos memanggil seorang dukun untuk menyegel arwah Merry itu di dalam gudang. Makanya sampai sekarang gudang itu tidak boleh di masuki. Tapi sekarang, aku yg membuat situasi menjadi semakin rumit. Dan akhirnya Pak Bos memutuskan untuk memanggil si dukun lagi.

Kalau di lihat dari kejadian kematian Mas Andi, bisa aku pastikan kalau dendam amarah Merry itu begitu besar. Pasalnya, dia tidak pandang bulu untuk membunuh orang lain yang mencoba menghalangi. Seperti halnya malam itu, si dukun membutuhkan bantuan sebanyak mungkin karena kekuatan dendam Merry itu begitu besar.

Malam itu langsung di adakan ritual. Kami para karyawan bioskop mau gak mau harus membantu si dukun. Karena seperti yang Pak Bos sampaikan tadi, kalau sampai ini tidak teratasi, nyawa semua karyawan bakal ikut terancam. Sebut saja si dukun ini Mbah Rijan. Beliau meminta kami semua untuk membawa botol khusus yang sudah beliau siapkan. 

Awalnya aku masih bingung, untuk apa botol ini? Tapi setelah di jelaskan, aku baru paham. Ternyata untuk menangkap arwah Merry. Aku sedikit terkekeh kecil. “kayak tuyul dan mbak yul.” 

Berkali-kali aku mencoba, tapi susahnya minta ampun. Sampai Mbah Rijan meminta untuk berpencar, berharap bisa menangkap kalau si hantu Merri ini berpindah tempat. Namun bukannya berhasil, justru itu malah membuat Merri marah dan membuat teman-temanku terbunuh satu persatu. 

Aku benar-benar buntu saat itu, dan ketika si Merri ini datang mendekat, aku pura-pura pingsan. Dengan kecerdikanku ini, aku berhasil menangkap Merri masuk ke dalam botol.

“Mbah…” teriaku memanggil Mbah Rijan. Sontak beliau langsung buru-buru lari ke arahku. 

Tapi ketika aku menahan tutup botol, tanganku tiba-tiba saja kepanasan dan melepuh. Tak lama, Mbah Rijan langsung menyambar botol yang aku pegang ini dan langsung membacakan sebuah mantra. Dan itu benar-benar ajaib. Botol yang awalnya meronta-ronta, tetiba saja diam. Dan akhirnya Mbah Rijan berhasil menyegel hantu Merri di dalam botol.

Satu bulan berjalan, suasana di bioskop kembali seperti semula, tanpa keanehan dan gangguan. Sudah terlalu banyak pengalaman seram di tempat itu dan Agus tidak mau mengulang untuk yang kedua kalinya. Bulan itu Agus memutuskan untuk mengundurkan diri. 

Selang beberapa tahun kemudian, Agus mendapat kabar kalau bioskop tempat ia bekerja dulu pernah di renovasi. Namun tak berselang lama, bangkrut dan tutup. Entah kenapa, Agus gak mau tahu. 

Mungkin cerita ttng insiden itu sudah menyebar ke kalangan masyarakat, jadi mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk mengunjungi bioskop tersebut. itu baru terkaan semata. Tapi entah benar atau tidak, wallahualam. Sekarang gedung bioskop itu kosong tanpa penghuni.

-SELESAI- 

Thread By @cerita_setann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *