RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Nenek Punya Cerita

Sebuah cerita pendek tentang pengalaman mistis sang nenek sewaktu kecil.

Malam sob!

Kisah ini di tuturkan oleh seorang wanita paruh baya, yg bernama, sebut saja Siska. Beliau akan berbagi sedikit cerita tentang kenangan masa lalu neneknya yg di ingatnya sewaktu kecil dulu.

Seperti biasa ya sob, like dan rt plus komen kalian sangat di nantikan ya sob biar tritnya rame😊

Kalo udah, so let the haunt begin!

Hai namaku Siska.

Umurku hampir 60 saat ini, malam ini aku akan mengajak kalian mengingat kembali ke kehidupanku dulu semasa masih kanak2, tepatnya mengajak kalian ikut mendengarkan sebuah kisah dari nenekku yg masih kuingat jelas sampai kini.

Di kampung kami dulu,nenek boleh dibilang orang terkaya .Kekayaan tsb merupakan hasil usaha turun temurun orangtua nenek, alias buyut kami.

Di atas tanah keluarga yg luas, selain rumah yg besar, di situ terdapat juga gudang tempat produksi tempe dan tahu, di sampingnya ada tempat pembuatan mie dan sedikit ke belakang ada dapur luas khusus pembuatan es lilin.

Usaha inilah yg di jalankan keluarga kami dari awal generasi pertama hingga ke generasi nenek bersama kakek, dan terhenti di generasi ayahku kelak.

Seperti yg kusebutkan di awal tadi, rumah yg kami tempati secara turun temurun ini memang memiliki ukuran besar nan luas.

Lantainya saat itu memang masih memakai papan kayu, dan kamar mandinya juga sederhana.

Hampir semua anak2 nenek tinggal di rumah tsb, karena memang nenek tipe orang penyayang anak, penyayang juga ke menantunya. Termasuk juga ke kedua orang tuaku.

Sifat nenek sangat ramah dan murah hati , pekerjanya sebagian besar adalah dari keluarga besar dan tetangga sekitar. Mereka ini yg sering meramaikan rumah itu, selain aku dan sepupu2 yg masih kecil kalau itu.

Ketika menjelang sore biasanya kami akan berkumpul di rumah, selain aku dan sepupu2 , anak2 tetangga sekitar juga senang ngumpul di situ. Karena nenek juga baik sih, beliau gemar membagikan makanan ke anak2 tsb,yg tentu saja mereka suka.

Saat itu TV memang belum masuk ke desa kami, dan hiburan di kala sore yah itu tadi main segala permainan, kayak lari2an ataupun petak umpet.

Selain main ala bocah2 tadi, kami juga hobi mendengarkan cerita nenek.

Yah, nenekku suka bercerita.

Biasanya ia duduk di kursi santai favoritnya, ditemani teh hangat dan sepiring kue mangkuk. Kemudian ia akan memanggil kami, dan kamipun duduk bersama di bawah kakinya. Menanti cerita nenek.

“Sini.. sini.. nenek mau cerita.. ” serunya sblum beliau mulai berkisah.

Biasanya nenek akan bercerita tentang masa kanak2 nya,tempat yg pernah di kunjunginya dan pernah juga beliau menuturkan sebuah kisah horor yg sempat di alami nya sewaktu bocah dulu.

Di rumah ini. Rumah yg sudah kami tempati dari generasi ke generasi. Dan nenek masih ingat betul kejadiannya.

Malam itu adalah malam tahun baru.

Malam yg lazimnya seluruh keluarga besar akan berkumpul dan berpesta.

Rumah itu ramai dgn sanak famili maupun tetangga sekitar, selain makan2 dan ngobrol, orang2 dewasa juga akan mabuk dan berjudi semalam suntuk.

Nenek, yg kala itu masih bocah kecil, masih berusaha menahan kantuk. Walaupun jarum jam di dinding sudah berdetak melewati pukul 12 malam, nenek tak ingin kelewatan ikut meramaikan malam pergantian tahun itu. Mulutnya terus menguap dan kepalanya terantuk2 beberapa kali.

Melihat kelakuan anaknya, akhirnya ibu nenek, alias nenek buyutku, memarahi beliau dan menyuruhnya segera tidur kalau sudah tak sanggup menahan kantuk.

Akhirnya nenek mengalah, matanya pun sudah berat. Di antar sang ibu, beliau pun segera memasuki kamar tidur.

Nenek yg merupakan anak terkecil, masih tidur bersama bapak dan ibu, di kamar yg sekarang persis di tempati nenek di masa tuanya.

Setelah sejenak menemani nenek, ibunya pun berlalu, kembali ke depan tempat pesta akhir tahun berlangsung.

Dan nenek mulai terlelap.

Entah beberapa lama dia tertidur, nenek terjaga dari lelapnya. Sayup2 masih terdengar suara riuh dari arah bagian depan rumah, yg artinya masih ramai tamu yg blum pulang.

Ayah dan ibunya pun masih belum ada di kamar tsb. Hingga nenek memutuskan utk kembali saja ke depan, soalnya beliau agak takut di tinggal sendiri.

Baru saja beliau hendak beranjak, mata kecilnya melihat sesuatu.

Di antara remangnya penerangan kamar , mata nenek menangkap sesosok bayangan sedang berdiri tepat di depan pintu kamar tsb.

Posisi nenek saat itu memang masih di ranjang, dan tubuhnya menghadap ke arah pintu masuk yg terbuka.

Nah di pintu inilah sosok itu menampakkan diri kepada nenek, yg entah kenapa tiba2 tubuhnya menjadi kaku.

Sosok itu berdiri tegak, dgn bentuk tubuh tinggi, berbusana seperti pakaian adat sebuah suku pedalaman di Kalimantan.

Dalam keremangan cahaya yg bersumber dari lampu templok di kamar itu, nenek tak bisa melihat jelas rupa sosok tsb, yg beliau ingat, kalo sosok itu hitam bertubuh gagah, di tangannya tergenggam sebilah mandau dan sebuah perisai kayu di tangan lainnya.

Makhluk itu hanya mematung menghadap ke arah nenek, yg mulai sadar klo yg saat ini berdiri di depannya bukanlah manusia.

Beliau menangis dlm diam, mau berteriak tpi suara tercekat, mau bergerak tpi seakan badannya terkunci dan seperti dipaksa utk tetap menatap sosok ini.

Waktu terasa berjalan lama sekali, sosok gelap itu sedikit demi sedikit mulai memudar dri pandangan nenek, di iringi rasa kantuk yg hebat menyerang dan nenek pun terlelap pulas bersamaan perginya makhluk tsb.

Esoknya, nenek tentu cerita dong ke orang tuanya perihal kejadian semalam. Anehnya, mereka gak merasa terkejut. Mereka malah ngomong begini,

” Jangan takut! Dia yg jagain kita kok! “

Nenek sungguh tak mengerti.

*****

Orangtuaku sempat bertengkar dgn nenek karena sedikit masalah perselisihan keluarga.

Ayahku ingin beralih bisnis ke kota, dan ingin aku ,yg kala itu mulai remaja, melanjutkan ke sekolah yg lebih baik dri yg ada di desa. Nenek marah karena beliau tak ingin berpisah dgn kami.

Akhirnya, pindahlah kami dari rumah itu. Rumah yg penuh kenangan. Rumah tempat kami bermain. Rumah yg penuh kebahagiaan.

Rumah nenek.

*****

Sudah sepuluh hari sejak kepergian nenek. Dan kami, anak cucu beliau, kembali berkumpul di rumah yg tak banyak berubah ini.

Usaha turun temurun beliau kini sudah tutup, sama sekali tak ada kegiatan, karena ayahku yg sebelumnya di harapkan utk melanjutkan, tapi menolak.

Rumah yg dulunya ramai dan penuh kebahagiaan, kini sepi tanpa canda tawa dan suram.

Rencananya besok kami akan kembali ke kota, setelah peringatan 10 hari kepergian nenek. Hanya tinggal seorang pamanku yg kebetulan masih membujang, utk menghuni rumah ini.

Malam ini, rumah sepinya terasa menggigit. Sebagian besar famili sudah pergi sore tadi, sedang kami yg asal kotanya paling jauh masih harus menunggu esok hari utk pulang.

Karena haus, aku beranjak hendak pergi ke dapur.

Letak dapur membuatku harus melewati ruang tengah, ruangan yg dulunya tempat nenek duduk bersantai di kursi tua favoritnya.

Di meja dekatnya, terpajang foto nenek dan beberapa lilin merah,sekaligus tiga tangkai hio yg hampir habis.

Aku teringat nenek.

Setelah mengambil minum, aku bergegas untuk kembali ke kamar. Saat melintasi kursi dan meja yg tadi tiba2,

… Kriit..

Suara tsb berasal dari kursi itu, pertanda ada seseorang yg mendudukinya.

“Sini.. Sini.. Nenek mau cerita… “

Mendengar suara janggal tsb, aku reflek menoleh ke arah suara itu di situlah aku melihat nenek ,ia tersenyum tapi wajahnya pucat dan senyumnya janggal.

Dan aku juga melihat dia. Sosok hitam itu.

Sosok tinggi dan besar itu. Sosok gelap yg memakai pakaian layaknya pakaian adat pedalaman. Sosok yg pernah di ceritakan nenek padaku. Sosok yg menjaga keluarga kami.

Lidahku kelu. Nafasku tersengal. Dan pandanganku mendadak kabur sebelum akhirnya aku pingsan.

Thread By @adelbert_rusty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *