RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

NINGRUM (Sahabat Beda Alam)

Inilah kisah Yeti yang semasa kecilnya dia bisa melihat dan berinteraksi dengan makhluk lain hingga membuatnya merasa nyaman dengan mereka. 

Ningrum. Dia adalah sahabat Yeti dari alam lain. Sosok Ningrum mengubah kehidupan Yeti ke alamnya hingga para tetangganya beranggapan kalau Yeti dalam gangguan jiwa karena dia suka bicara sendiri, tertawa sendiri dan sebagainya. Jangankan tetangga, orang tuanya sendiri pun sempat berfikir seperti itu. 

Okelah, kita mulai ke cerita… 

Tahun 2002. Seorang ibu yang bernama Bu Iin melahirkan seorang anak perempuan yang di beri nama Yeti, dia lahir dalam keada’an sehat wal-afiat. Hari berganti hari hingga berganti tahun dan Yeti kini telah tumbuh dewasa. Di usia Yeti yang ke 3 tahun dia sering tiba-tiba merasa ketakutan, sering juga tiba-tiba menangis tanpa sebab, terutama setelah dia bermain di kebun belakang rumah. Melihat ada yang aneh dengan Yeti ibunya coba bertanya, 

“Nak, kenapa? Kamu ngeliat apa? Cerita sama ibu”,

“Itu lo buk, di belakang tadi aku ketemu sama orang yang matanya lebar banget, selebar bak ember”, jawab Yeti dengan polos.

“Dimana nak, kamu ketemu orang itu dimana?’, tanya ibunya.

“Itu lo, di bawah pohon kapuk”, jawab Yeti. 

Memang, di belakang rumah Yeti ada sebuah perkebunan miliknya sendiri dan perkebunan itu terdapat sebuah pohon kapuk yang tinggi dan beberapa pohon pisang. Mendengar penjelasan dari Yeti ibunya berpikir,

“Ini Yeti pasti bisa melihat makhluk halus”. Bu Iin membujuk Yeti agar tidak takut lagi,

“Gpp nak, dia gak nakal kok, tapi kalau Yeti ketemu sama orang itu lagi jangan di deketin ya”. 

Setiap hari Yeti selalu seperti itu, ketakutan dan menangis tanpa sebab. Bu Iin memberitahukan hal itu pada kakeknya Yeti yang kebetulan beliau adalah orang yang tau akan hal-hal semacam itu. 

“Abah, saya khawatir sama Yeti, dia sering menangis karena ketakutan dan katanya dia sering melihat sosok bermata lebar di kebun belakang rumah”, jelas Bu Iin. 

“Memang, di kebun belakang rumahmu itu ada sosok yang menghuni pohon kapuk, pohon itu sudah ada sejak lama”. Jawab kakek.

“Bisa di suruh pergi gak bah? saya khawatir nanti dia mencelakai Yeti”, tanya bu Iin. 

“Tidak bisa, itu sudah menjadi tempat tinggalnya dan kalaupun bisa tidak lama dia akan kembali lagi”. 

Sempat juga bu Iin berniat akan menebang pohon kapuk itu agar sosok bermata lebar itu pergi, tapi niatnya itu dilarang sama si kakek karena itu bisa membuatnya marah dan akan mengganggu. 

“Lalu bah, bagaimana agar Yeti tidak bisa melihat makhluk2 seperti itu?”, lanjut bu Iin.

“Itu sudah menjadi bawaan Yeti dari lahir, nanti seiring bertambahnya usia mata batinnya akan tertutup sendiri”. Jawab kakek. 

Hari-hari dilalui Yeti seperti itu, penuh rasa ketakutan dan seringkali dia mengatakan kalau makhluk itu suka muncul di atap kamarnya. 

Singkat cerita, di usia Yeti yang ke 4 tahun dia mulai masuk sekolah TK dan mata batinnya masih dalam keadaan terbuka, kalau di sekolah dia suka duduk di sudut kelas tepatnya di sebelah lemari guru, katanya disitu dia punya teman tapi temannya itu teman yang tak kasat mata. 

Hari terus berganti dan berganti tahun, kini Yeti sudah duduk di kelas 3 SD. Di umurnya yang baru 10 tahun ini dia sudah bisa mengingat semua kejadian yang itu. Pada suatu hari ketika bu Iin sedang duduk di ruang tengah sambil nonton tv, ayahnya Yeti memberitahukan sesuatu pada bu Iin kalau dia mendapat tugas kerja di luar daerah yaitu di Jakarta timur dan mengharuskan mereka sekeluarga untuk pindah kesana. 

Berangkatlah mereka dari tempat tinggalnya di daerah Karawang, disana mereka di fasilitasi rumah dari perusahaan yang letaknya ada di sebuah perumahan di daerah Bekasi, dekat Cibubur. Sebuah rumah yang cukup besar, terdapat 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi, di depan rumah ada sebuah halaman yang cukup luas dan di sebelah kiri rumah ada sebuah taman bermain anak-anak, di taman itu terdapat seluncuran dan ayunan yang diikat di sebuah pohon, di belakang rumah tersebut ada sebuah gudang yang tidak ada pintunya. 

Beberapa hari setelah tinggal di sana orang tuanya Yeti mencarikan sekolah buat Yeti dan juga minta tolong sama pak RT untuk mencarikan pembantu rumah tangga, karena kalau harus mengurus rumah sebesar ini sendiri bu Iin tidak mampu. Yeti di daftarkan di Sekolah Dasar Negeri yang tidak jauh dari tempat tinggalnya dan beberapa hari setelah itu datanglah seorang pembantu rumah tangga yang sebut saja dia adalah mbok Jum. Mbok Jum adalah orang jawa dan tinggal satu perumahan dengan mereka. Satu minggu setelah semuanya sudah beres mereka sekeluarga menjalani aktivitas seperti biasa, setiap harinya ayahnya Yeti berangkat pagi pulang sore, terkadang kalau ada lembur ya pulangnya larut malam.

Beberapa hari setelah pindah kerumah itu Yeti masuk ke sekolah barunya. Pagi itu Mbok jum datang ke rumah untuk membantu bu Iin di rumah, jadi mbok Jum ini hanya datang pagi dan pulang sore. Setelah kedatangan mbok Jum dirumah Yeti diantar ibunya untuk ke sekolah. Dua minggu pertama sekolah bu Iin selalu menunggunya sampai Yeti pulang sekolah karena kebetulan jarak sekolahan dan rumah itu tidak terlalu jauh, setelah dirasa sudah kenal dengan teman-teman barunya Yeti hanya diantar jemput oleh bu Iin. 

Pada suatu hari, ketika Yeti sedang pelajaran di kelas. Dari pintu kelas dia melihat ada seorang anak laki-laki seumurannya sedang mengintip di pinggir pintu. Dia berambut ikal, memakai seragam sekolah yang sama dan terus melihat kearah Yeti, seakan-akan dia ingin menunjukan kalau dia ada disitu. Yeti terus melihat anak itu dan tidak lama kemudian anak itu tiba-tiba pergi. Disini Yeti penasaran dengan anak laki-laki itu, ketika jam istirahat dia mencari anak tersebut dan terlihat dia sedang berdiri di depan sebuah ruangan. Yeti menghampiri anak tersebut dan bertanya,

“Kamu siapa? Kenapa tadi gak masuk kelas?”, 

Anak itu hanya menggelengkan kepala kemudian Yeti mengenalkan namanya,

“Aku Yeti, aku anak baru disini”, ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Anak itu kemudian meraih tangannya Yeti dan menjawab, 

“Aku Rakha”,

“Kenapa kamu disini? Gak ikut main sama teman-teman?”, tanya Yeti.

“Aku gak punya teman”, jawab Rakha dengan singkat.

“Yaudah ayo main sama aku aja”. Ajak Yeti. 

Yeti mengajak Rakha untuk pergi ke taman tapi dia menolak dan mengajak Yeti masuk ke dalam ruangan tempat dia berdiri. Ruangan itu memang tidak memiliki pintu dan dibiarkan terbuka oleh pihak sekolah dan di dalam ruangan itu banyak bangku-bangku bekas dan buku yang tidak terpakai. Bisa dibilang itu adalah gudang barang. Di dalam ruangan itu Yeti dan Rakha bermain hingga bel masuk kelas berbunyi. Yeti pamit pada Rakha untuk masuk kelas dan dia berjanji akan menemui Rakha setiap harinya ketika jam istirahat. Kegiatan itu terus dilakukan Yeti hingga lama-lama mereka berdua semakin akrab. 

Semenjak kenal dengan Rakha hari-hari dilalui Yeti seperti itu, dia lebih suka bergaul dengan Rakha dari pada teman-temannya yang lain. Bahkan dia sampai di jauhin teman-temannya karena tingkah lakunya yang aneh, sering terlihat bicara sendiri dan tertawa sendiri hingga sebagian banyak teman-temannya merasa takut pada Yeti, mereka mengira Yeti ini dalam gangguan jiwa padahal sebenarnya tidak. Hanya saja dia sedang berkomunikasi dengan Rakha, makhluk lain yang tidak bisa dilihat teman-teman lainnya. Mengetahui kalau Yeti sering bertingkah aneh pihak sekolah memanggil ibunya Yeti untuk memberitahu keadaan anaknya dan ibunya Yeti memberitahukan pada salah satu pihak sekolah tentang keadaan Yeti.

Hingga akhirnya pihak sekolah pun bisa memahaminya. Pada suatu hari tepatnya menjelang maghrib. Yeti dan ibunya sedang duduk di teras rumah, ketika sedang duduk itu Yeti melihat ada seorang anak perempuan seumurannya sedang berdiri di balik pintu pagar depan, dia tampak pucat. Lingkar matanya sedikit hitam dan rambutnya diikat kedepan. Dia memakai baju putih lengan panjang. Anak itu terus menerus melihat kearah mereka berdua yang sedang duduk, sepertinya dia ingin masuk. 

“Bu, ada orang disana, kayaknya dia pengen masuk deh”, ucap Yeti sambil menunjuk kearah pagar.

Spontan bu Iin melihat kearah pagar yang dimaksud Yeti, tapi disana tidak terlihat ada siapapun. 

“Dimana Yeti?”, tanya Ibunya.

“Itu loh bu, di depan pagar”, jawab Yeti

Melihat disitu tidak ada siapa-siapa bu Iin berfikir,

“Emmh, ini Yeti pasti ngeliah makhluk halus nih”.

Dia mengajak Yeti untuk masuk kedalam rumah,

“Udah biarin Yeti, ayo masuk udah mau maghrib”. 

Yeti di tarik tangannya untuk diajak masuk, sambil berjalan masuk Yeti mata Yeti tidak lepas dari anak perempuan itu yang masih terus melihat kearah mereka berdua, seakan-akan dia memberi isyarat kalau dia ingin berkomunikasi dengan Yeti, karena dia tau kalau Yeti bisa melihatnya. Setelah masuk bu Iin menutup pintu rumah dan mereka berdua menuju ke ruang tengah setelah itu bu Iin pegi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan meminta Yeti agar tidak kemana-mana. Nah, Yeti yang masih penasaran dengan anak perempuan tadi mencuri kesempatan, mumpung ibunya sedang di kamar mandi dia keluar untuk menemui anak itu, sebelum keluar rumah dia melihat dari kaca jendela yang tertutup gorden dan ternyata anak itu masih berdiri diluar pagar sambil terus melihat ke rumah. Yeti segera keluar dan menghampiri anak itu,

“Kamu siapa? Ngapain berdiri disini?”, tanya Yeti.

“Aku Ningrum, aku ingin jadi temanmu”, jawabnya.

Belum lama berkomuniskasi tiba-tiba Yeti dipanggil oleh ibunya, 

“Yeti ngapain disiu, ayo masuk udah maghrib”, teriak bu Iin dari depan pintu rumah.

Mendengar ibunya memanggil dia bilang ke anak perempuan itu,

“Boleh, aku juga mau jadi temenmu, tapi sekarang aku masuk dulu ya, dipanggil ibu”. 

Yeti meninggalkan anak perempuan itu dan masuk kerumah, lalu dia ditanya sama ibunya,

“Ngapain disitu Yeti?”,

“Ada anak perempuan bu, namanya Ningrum”, jawab Yeti. 

Degg.. jantung bu Iin seakan copot karena dia tidak mellihat ada siapa-siapa disana, tadi Yeti terlihat sendiri.

“Yaudah, biarin aja Yeti, ayo masuk udah maghrib gak baik anak kecil masih diluar rumah”, ajak bu Iin. 

Sambil masuk kedalam rumah dan menutup pintu sesekali bu Iin melihat kearah pagar dan memang disana tidak ada siapapun. Malam harinya bu Iin menceritakan hal itu pada suaminya dan kata suaminya menanggapinya dengan tenang, 

“Udah biarin aja bu yang penting dia gak nggangguin Yeti”.

Nah. Ini adalah awal dari semuanya. Sosok Ningrum mengubah kehidupan Yeti ke alamnya. Para tetangganya beranggapan kalau Yeti dalam gangguan jiwa karena dia suka bicara-bicara sendiri, tertawa-tertawa sendiri dan segala macam. Jangankan tetangga, orang tuanya sendiri pun sempat berfikir seperti itu. Setiap hari sosok Ningrum terus datang ke rumah untuk mengajak Yeti bermain dan pada suatu ketika ketika Yeti sedang asyik bermain sama Ningrum di taman sebelah rumah. 

“Yeti, Terima kasih ya udah mau jadi temanku”, ucap Ningrum.

“Iya, kalo boleh tau kenapa kamu gak punya teman? Kan kamu orangnya baik?”, tanya Yeti.

“Gak ada yang mau temenan sama aku karena mereka gak ada yang bisa melihatku”, jawab Ningrum. 

Yeti paham kalau Ningrum bukan manusia sepertinya, tapi karena Ningrum baik jadi Yeti tidak keberatan untuk menjadi temannya, justru dia senang. Cukup lama bermain di taman Ningrum mengajak Yeti untuk main kerumahnya karena dia ingin menunjukan tempat tinggalnya pada Yeti. Tanpa keberantan Yeti ikut dengan Ningrum yang letaknya itu bersebelahan dengan rumahnya. Di dekat rumahnya Yeti ada sebuah rumah klasik model Jawa atau bisa dikatakan rumah joglo dan rumah itu tidak berpenghuni. Mereka berdua bermain di halaman rumah joglo tersebut dan lama kelamaan Yeti merasa nyaman bermain disana daripada di rumahnya sendiri, sepulang dari sekolah dia selalu kesana untuk main dengan Ningrum sampai menjelang petang baru pulang.

Memang sih, rumah itu sangat sejuk, di sekitarnya banyak pepohonan dan terdapat halaman yang cukup luas di depannya. Lama-lama aktivitas Yeti di rumah itu diketahui oleh salah satu tetangganya, sebut saja dia adalah bu Sarah, dia datang kerumah Yeti untuk memberitahukan itu pada bu Iin. 

“Tok tok tok… Assalamualaikum”, ucap bu sarah mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam”, jawab bu Iin membukakan pintu.

“Eh bu Sarah, ada perlu apa bu?”, lanjut bu Iin.

“Bu, itu anaknya jangan boleh sering-sering main ke rumah sebelah”, ucap bu Sarah. 

“Loh memangnya kenapa bu?”, tanya bu iin.

“Rumah itu sudah lama ditinggal pemiliknya dan rumah itu terkenal serem, nanti kalo anak ibu tiba-tiba kesambet gimana?”, jelas bu Sarah. 

Bu Iin yang baru menyadari kalau Yeti sering main kesana segera menjemput Yeti. Dan benar, terlihat Yeti sedang lari-larian di rumah itu sambil ketawa-ketawa sendiri. Di panggilah Yeti sama ibunya dan diminta pulang, sesampai di rumah bu Iin menasehatinya, 

“Yeti, kamu jangan main kerumah itu lagi ya nak”, ucap bu Iin.

“Memangnya kenapa bu, itu rumah temanku”, jawab Yeti.

Mendengar ucapan dari Yeti bu Iin langsung merinding, karena kata bu Sarah tadi rumah itu sudah lama ditinggal pemiliknya. Dia lanjut tanya ke Yeti, 

“Siapa temanmu disana Yeti?”,

“Ningrum bu, dia orangnya baik gak kayak teman-teman Yeti di sekolah”. Jelas Yeti.

Karena takut terjadi sesuatu bu Iin tetap melarang Yeti untuk bermain sama yang namanya Ningrum itu. Setiap pulang sekolah pintu pagar selalu dikunci agar Yeti tidak keluar rumah dan saat itu Yeti merasa kesepian karena tidak ada teman, di sekolah dia dijauhi oleh teman-temennya. Karena penasaran dengan rumah joglo itu ibunya Yeti bertanya pada mbok Jum.

“Mbok, rumah jawa di sebelah itu gak ada yang huni ya?”,

“Nggak ada buk, rumah itu udah lama ditinggal pemiliknya”, jawab mbok Jum.

“Emangnya kenapa ditinggal mbok?”, tanya bu Iin penasaran. 

“Dulu pernah ada kejadian, ibu dan anak si pemilik rumah itu meninggal kena guna-guna”, jelas mbok Jum.

“Trus suaminya kemana mbok?”, tanya bu Iin semakin penasaran. 

“Beberapa hari setelah istri dan anaknya meninggal dia pulang kampung ke jawa dan minta sama pak RT agar rumah itu dibiarkan. Beberapa kali tanahnya mau di beli orang tapi tetap saja gak di bolehin”. Jelas mbok Jum. 

Bu Iin merinding, “Apa mungkin anaknya itu adalah anak yang di maksud Yeti?”, ucapnya dalam hati.

Beberapa hari ini Yeti sudah tidak pernah keluar rumah tapi itu bukan jadi masalah karena Ningrum masih sering datang kerumahnya Yeti untuk bermain. Hari berganti hari dan bu Iin membiarkan Yeti dalam keadaan seperti itu. Pada suatu sore bu Iin sedang sibuk membantu mbok Jum menyiapkan makanan, dari jendela terlihat Yeti sedang dorong-dorong ayunan yang ada di taman sebelah rumah sambil ketawa bahagia seorang diri. Melihat itu ibunya Yeti langsung mikir,

“Ini pasti Yeti lagi main sama Ningrum”, pikir bu Iin.

Dia memanggil Yeti untuk makan, sambil makan bu Iin bertanya, 

“Habis main sama siapa Yeti?”,

“Sama Ningrum bu”, jawab Yeti.

“Ningrum itu rumahnya dimana?”, tanya bu Iin.

“Itu di sebelah”, jawab Yeti sambil menikmati makanan. 

Berarti bener, kalau Ningrum itu mungkin arwah dari anak yang meninggal karena guna guna, seperti yang diceritakan mbok Jum.

Hari demi hari dilalui Yeti seperti itu, dia sangat senang karena sudah mengenal Ningrum, tapi ada sebuah kejadian yang menurut Yeti sangat menakutkan. Waktu itu Yeti ingin pipis, karena kamar mandi utama yang biasa digunakan di tempati ibunya dia pergi kamar mandi belakang, kamar mandi itu memang jarang dipakai karena letaknya di ujung belakang rumah. Tepatnya ketika Yeti baru keluar dari kamar mandi tersebut di depan kamar mandi dia dihadang oleh sosok yang sangat menyeramkan, dia berpakaian putih lusuh dan kotor, rambutnya berantakan sampai menutupi wajah dan kepalanya miring ke kiri, seakan-akan mau copot itu kepala. Dia mengulurkan tangannya ke Yeti sambil bilang,

“Yeti, ikut yuk tinggal dirumah sama Ningrum”.

Yeti benar-benar ketakutan, dia menangis dan duduk di sebelah pintu kamar mandi sambil menutupi matanya dari sosok itu. Mendengar Yeti menangis ibunya langsung keluar dari kamar mandi utama dan menghampiri Yeti,

“Yeti kamu kenapa nak?”, tanya bu Iin.

“Ada ibu-ibu mau ngajakin aku tinggal sama dia”, jawabnya sambil nangis dan masih menutupi wajahnya. 

“Ibu-ibu siapa nak? Dimana?”, tanya bu Iin panik.

“Itu”, jawab Yeti sambil menunjuk sosok yang tadi dilihatnya.

Bu Iin benar-benar merinding, pelan-pelan dia melihat kearah yang ditunjuk Yeti, tapi disana tidak ada siapapun. Bu Iin yang sudah paham dengan keadaan Yeti segera mengajak Yeti masuk kamar dan membujuknya kalau orang itu tidak jahat, meskipun dia tidak tau wujudnya. Setelah kejadian itu Yeti sudah tidak pernah lagi menggunakan kamar mandi itu karena dia takut bertemu sosok itu lagi. 

Hari terus berlalu, ketika umurnya Yeti sudah menginjak 12 tahun perlahan mata batinnya sudah tertutup, dia sudah tidak pernah lagi melihat makhluk aneh termasuk Ningrum dan Rakha, tapi keadaan itu justru membuat Yeti merasa kesepian. Karena memang sebelumnya dia sudah terlalu asyik dengan mereka yang tak kasat mata. Dia sering murung karena kangen sama mereka. 

Malam itu sekitar pukul 20.00, ketika bu Iin sedang menunggu suaminya yang belum pulang dari kantor dia melihat Yeti sedang nonton TV di ruang tengah, dia duduk di karpet lantai. Ketika Yeti sedang duduk sendiri menghadap ke TV terlihat ada seseorang yang mengelus rambutnya Yeti dari belakang, tapi hanya terlihat tangannya saja. 

Karena penasaran bu Iin segera menghampiri Yeti dan merasakan kedatangan bu Iin tangan itu langsung pergi dengan cepat dari dari rambutnya Yeti. 

“Yeti, tadi sama siapa nak?”

“Gak sama siapa2 bu, emang kenapa?”, Yeti bertanya balik.

“Oh enggak, ibu kira Yeti ada temennya”. Jawab bu Iin. 

Bu Iin mengamati keadaan sekitar dan di belakangnya Yeti ini adalah tembok, tidak ada siapapun, lantas tangan siapa yang tadi mengelus rambutnya Yeti? Kalaupun tadi disini ada orang pastilah orang itu belum jauh dari sini. 

Dari sini bu Iin mengetahui satu hal kalau mungkin mata batinnya Yeti sudah tertutup dan dia merasa sangat lega dengan keadaan Yeti yang sekarang, tapi disisi lain dia juga merasa kasihan sama Yeti yang setiap harinya selalu murung dan sedih. Seringkali dia berkata pada bu Iin kalau dia merindukan Ningrum. 

2 tahun lamanya mereka tinggal di rumah itu dan ketika Yeti sudah berumur 12 tahun mereka harus kembali ke kampung halamannya karena tugas ayahnya Yeti di Jakarta sudah selesai dan akan bertugas kembali di kotanya sendiri. Sebelum meninggalkan rumah itu Yeti minta ijin pada ayah dan ibu untuk mampir ke rumah joglo tempat tinggal Ningrum untuk mengucapkan selamat tinggal meskipun Yeti yang sekarang sudah tidak bisa melihat Ningrum. Tapi meskipun Yeti tidak bisa melihat dia masih bisa merasakan keberadaan Ningrum di rumah itu yang akan hidup sendiri tanpa teman.

Kembalilah mereka ke kampung halaman dan sekarang kehidupan Yeti sudah normal seperti orang lain. Perlahan dia membiasakan dirinya untuk bergaul dengan sesama dan akhirnya dia bisa melupakan kehidupan sebelumnya hingga sekarang Yeti sudah besar dan sedang menempuh pendidikan S1 di Karawang. Usia Yeti kini sudah menginjak 20 tahun dan akan masuk ke usia 21 tahun. Di kampus Yeti cukup berprestasi dan itu membuat orang tuanya merasa sangat bangga. Setelah lulus S1 Yeti berencana melanjutkan pendidikan S2 ke luar kota. Bukan hanya itu, sewajarnya seorang remaja. 

Di kampus Yeti mempunyai pacar, sebut saja dia Rangga. Di hari-hari tertentu Rangga selalu datang kerumah menjemput Yeti untuk pergi keluar dan hubungan mereka berdua sudah mendapat izin dari bu Iin, tapi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan bu Iin meminta pada Rangga untuk menunggu Yeti sampai selesai S2.

Malam itu sepulang keluar bersama Rangga. 

“Bu, Yeti pulang”, ucap Yeti baru masuk rumah.

“Yeti, biasakan cuci tangan dan kaki kalau habis keluar jauh”, jawab bu Iin menasehati. 

“Iya-iya bu, habis ini Yeti ke kamar mandi”, jawab Yeti bersalaman dengan bu Iin kemudian dia masuk kedalam kamar untuk meletakan tas dan lanjut ke kamar mandi untuk menuruti perkataan ibu. Ketika berada di kamar mandi ada perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. ketika sedang mencuci muka di wastafel terasa seperti ada langkah kaki yang berjalan di belakangnya. Merasakan itu Yeti melihat ke belakang dengan cepat tapi tidak terlihat ada siapapun akan tetapi suara langkah kaki itu sayup-sayup masih terdengar jelas. Bulu kuduk seketika itu berdiri, karena merasa takut Yeti segera kembali ke kamar tidur dan membiarkan kran air masih dalam keadaan menyala. Di kamar Yeti berfikir,

“Siapa tadi yang berjalan di kamar mandi? Apa jangan-jangan ada hantu di rumah ini?”. 

Karena tidak ingin merasa takut berkelanjutan Yeti menarik selimut hingga menutupi kelapa untuk tidur. Keesokan harinya bu Iin ngomel-ngomel karena pagi itu air di kamar mandi habis akibat semalam Yeti tidak mematikannya. Mendengar ibunya ngomel Yeti keluar dari kamar untuk memberitahu ibu kalau dia yang semalam tidak mematikan air, 

“Maaf bu, semalam Yeti lupa matiin airnya”,

“Ya ampun Yeti, kamu ini apa-apaan, lihat sekarang airnya habis?”, ucap bu Iin memarahi Yeti dan Yeti hanya menunduk.

“Sudah-sudah bu gpp, biar ayah nanti mandi di kantor saja”, sahut ayah yang sudah siap dengan pakaian kerja. 

“Maafin Yeti”, ucap Yeti masih menunduk.

“Udah gpp, sekarang ayo kita sarapan sama-sama”. Ajak ayah.

Mereka bergerak menuju ke meja makan untuk sarapan bersama setelah itu ayah pamit untuk berangkat ke kantor lebih awal. Tanpa memberitahukan kejadian tadi malam Yeti lekas kembali ke kamar dan syukurlah siang harinya air sudah memenuhi bak kamar mandi. Karena ada kelas siang itu Yeti pergi ke kampus, ketika jam istirahat dia pergi ke kantin bersama teman dekatnya, sebut saja dia adalah Vitra. Di kantin itu dia menceritakan kejadian tadi pagi pada Vitra.

“Apes deh, tadi pagi-pagi aku udah dapat omel dari ibuku”, 

“Emangnya kenapa Yet?”, jawab Vitra sambil menikmati hidangan kantin.

“Gara-gara air di kamar mandi semalam gak aku matiin”, jawab Yeti.

“Yah, yang salah kamu, kalau aku jadi ibumu juga bakal marah”, ucap Vitra. 

“Aku gak sengaja Vit, semalem habis keluar sama Rangga aku disuruh ibu cuci kaki dan tangan, nah pas aku lagi basuh muka di wastafel tiba-tiba kayak ada langkah kaki yang jalan di belakangku, karena takut aku langsung lari deh ke kamar”. Jelas Yeti. 

“Rumahmu ada hantunya Yet?”, tanya Vitra dengan serius.

“Nggak tau, tapi selama ini gak pernah ada kok”, jawab Yeti.

Obrolan mereka di kantin itu membuat Yeti tidak bisa melupakan kejadian di kamar mandi malam itu, sekilas dia teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika menempati rumah dinas di jakarta timur tentang sosok wanita yang kepalanya hampir copot. Beberapa malam berikutnya Yeti tidak berani ke kamar mandi pada malam hari dan semenjak kejadian itu Yeti selalu dihantui rasa takut. Rumah yang sebelumnya terasa nyaman kini berubah jadi menakutkan. Bukan hanya di kamar mandi, di kamar tidurnya pun dia sering mendengar ada suara cekikikan anak kecil dari sudut kamar. 

Pada suatu sore ketika Yeti sedang tidur tiba-tiba dibangunkan oleh ibu,

“Tok..tok..tok… Yeti buka pintunya nak”, ucap bu Iin mengetuk pintu kamar Yeti.

“Iya bu sebentar”, jawab Yeti lekas membukakan pintu. 

“Yeti, ibu sama ayah mau pergi sebentar karena ada urusan, kamu jaga rumah ya”, ucap bu Iin yang sudah berpakaian rapi.

“Iya bu, pulangnya kapan?”, tanya Yeti setengah ngantuk. 

“Paling jam 7 atau jam 8 ibu sudah pulang. Oh iya ibu sudah masak makanan buat kamu di meja”, jawab bu Iin meninggalkan kamar Yeti.

Karena memang masih ngantuk Yeti kembali ke atas kasur dan melanjutkan tidurnya sebentar, tidak lama kemudian dia bangun dan lekas menuju ke meja makan untuk makan makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya tadi. Ketika sedang makan tiba-tiba kursi yang ada di sebelahnya berbunyi, seperti ada yang sedang duduk di sana, spontan Yeti melirik kearah kursi tersebut. Dan benar, letak kursi itu sedikit bergeser kebelakang. Melihat keanehan itu Yeti meninggalkan makanannya yang belum habis dan meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamar sambil bersembunyi di balik pintu kamar. Dia mengintip kearah meja makan yang letaknya tidak jauh dari kamar Yeti.

Pintu kamar dia buka sedikit dan saja, kursi itu bergerak kedepan seperti ada seseorang yang hendak pergi dari kursi tersebut. Pintu kamar dia tutup lagi dan seketika itu juga dia merasa pusing yang sangat hebat, pandangannya menjadi buram hingga dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Tidak berselang lama tiba-tiba Yeti sedang berdiri di sebuah tempat yang tidak asing baginya. Ya, dia berdiri di depan sebuah rumah joglo dan rumah itu pintunya terbuka lebar. Yeti berfikir tentang tempat ini, lalu dia ingat sesuatu kalau rumah joglo ini adalah tempat tinggal teman lamanya yaitu Ningrum dan didalam rumah itu terdengar ada suara orang yang merintih kesakitan. Setelah mengingat semua itu tiba-tiba terlihat ada segumpal api yang datang dan masuk kedalam rumah tersebut. Yeti yang takut gumpalan api itu membakar rumahnya berteriak,

“Awaaaasss!!”. 

Tapi sepertinya tidak ada yang mendengar teriakan Yeti, tidak lama kemudian suara rintihan di dalam rumah itu berhenti dan berganti dengan suara tangis. Yeti yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi langsung masuk kedalam rumah tersebut, sesampai di dalam terlihat ada seorang anak perempuan yang sedang berbaring diatas ranjang dan kedua orang tuanya menangis. Anak kecil itu meninggal dunia dalam kondisi lingkar matanya menghitam dan wajahnya memucat. 

Beberapa saat kemudian terlihat para tetangga saling berdatangan dan ribut menanyakan apa yang sedang terjadi. Anak perempuan itu adalah Ningrum. Beberapa saat kemudian terlihat ada sesuatu yang terbang dari badan Ningrum. Melihat kejadian itu Yeti benar-benar panik, tubuhnya lemas melihat Ningrum dalam keadaan seperti itu, lalu dia mencium aroma kayu putih yang sangat menyengat dan perlahan pandangan Yeti memudar dan suasana tiba-tiba menjadi gelap. 

“Yeti, bangun nak”, suara ibu terdengar di telinganya dan setelah membuka mata ternyata di antaranya sudah ada ibu dan ayah sambil memegang botol minyak kayu putih.

“Yeti, kamu sudah sadar nak, apa yang sedang terjadi?”. 

Yeti bingung, yang dia ingat sebelumnya dia berada di tempat lain dan sekarang tiba-tiba berada di atas kasur kamarnya.

“Ibu, aku kenapa bu?”, tanya Yeti.

“Kamu pingsan nak”, jawab ibu. 

Dalam keadaan bingung tiba-tiba mata Yeti tertuju pada sudut kamarnya yang disitu ada anak perempuan yang tengah berdiri sambil tersenyum kearah Yeti. 

“Ningrum?”, ucap Yeti.

Mendengar ucapan Yeti bu Iin kaget, dia ikut melihat kearah sudut kamar tapi tidak ada siapapun.

“Yeti, minum dulu nak”, ucap bu Iin memberikan segelas air putih, setelah minum beberapa teguk air Yeti berkata pada ibu, 

“Yeti gpp kok bu, tadi cuma kecapekan aja karena kegiatan kampus”.

“Syukurlah kalau begitu, yaudah kamu istirahat aja besok kalau masih belum sehat tidak usah masuk kampus dulu”, jawab bu Iin sambil mengelus rambut Yeti.

“Iya bu, Yeti istirahat dulu”, ucap Yeti. 

Ayah dan ibu meninggalkan kamar dan membiarkan Yeti istirahat, setelah mereka berdua keluar Yeti mendatangi Ningrum yang sejak tadi masih berdiri di sudut kamarnya. 

“Ningrum? Kamu Ningrum?”, ucap Yeti seakan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kamu masih ingat aku ya?”, jawab Ningrum sambil tersenyum kecil. 

Disini Yeti mengetahui satu hal bahwasanya mata batin yang dulu kini kembali terbuka dan kejadian yang dialami ketika pingsan tadi adalah kejadian di masa lalu yang menimpa Ningrum. Yeti merahasiakan hal ini pada orang tuanya, malam itu di atas kasur sosok Ningrum bercerita pada Yeti,

“Yeti, aku senang karena kamu bisa melihatku lagi, aku merindukan saat-saat bermain bersamamu”, kata Ningrum. 

“Sama Ningrum, aku senang bisa melihatmu lagi, tapi dari mana kamu tau aku tinggal disini?”, tanya Yeti. 

“10 tahun yang lalu aku sering datang kerumahmu tapi sepertinya waktu itu kamu sudah tidak bisa melihatku, setiap malam aku selalu disampingmu untuk menjaga tidurmu karena bagiku kau adalah teman baiku Yeti. Sebelum kamu meninggalkan rumah itu aku melihatmu sedang berpamitan di depan rumahku dan aku mengikutimu sampai kesini”, jelas Ningrum.

“Jadi selama ini kamu sudah berada disini?”, tanya Yeti. 

“Benar, setiap malam aku menjaga tidurmu hanya saja kamu tidak menyadari semua itu”, jawab Ningrum.

“Tapi, kenapa kamu tidak tumbuh dewasa sepertiku?”, tanya Yeti lagi.

“Aku tidak sama sepertimu Yeti, aku bisa hidup lebih lama”, jawab Ningrum. 

“Jadi yang kurasakan setiap kali itu kamu Ningrum?”, tanya Yeti.

“Iya, maafkan aku Yeti, aku hanya ingin menunjukan kehadiranku tapi tidak bisa”. Jawab Ningrum.

Setelah 10 tahun menjalani kehidupan normal kini mata batin Yeti kembali terbuka di usianya yang ke 22 tahun. Sikap Yeti sudah tidak seperti sebelumnya sejak kembalinya Ningrum dalam hidupnya, hubungan Yeti dengan Rangga semakin hari semakin kurang romantis, waktu berkumpul dengan teman kampusnya juga berkurang tapi beruntungnya ada satu temannya Yeti yang bisa mengerti keadaan Yeti saat ini yaitu Vitra. Yeti sering bercerita tentang Ningrum kepada Vitra. 

Sore itu menjelang maghrib, Yeti mengajak Ningrum pergi ke kebun belakang rumah untuk memberitahukan kalau tempat ini dulu adalah tempat dia bermain dan ketika di kebun itu dia kembali melihat sosok yang mengerikan yaitu sosok bermata lebar yang dulu dia takuti. Sosok bermata lebar itu menatap tajam kearah Yeti dari atas pohon kapuk namun kali ini Yeti sudah tidak takut dengan sosok itu justru dia berusaha berkomunikasi dengan sosok tersebut dan memintanya agar tidak mengganggu keluarganya. 

Kehidupan Yeti perlahan berubah karena terlalu sering berkomunikasi dengan makhluk lain yang tinggal di sekitar rumahnya hingga orang tuanya mulai curiga dengan Yeti, seringkali bu Iin mendengar Yeti berbicara sendiri di dalam kamar tapi dia berfikir positif, mungkin di kamar Yeti sedang telfon dengan teman kampusnya. 

Pada suatu ketika terjadi sebuah keramaian di kampung karena ada seorang petani yang dinyatakan hilang ketika pegi ke ladang,

“Sudah sejak kemarin pak Ali belum pulang dari ladang”, ucap salah satu keluarganya dengan panik. 

“Sudah dicari ke ladang?”, jawab salah satu warga.

“Sudah, tapi tidak ada”, jawabnya. 

Kepanikan dirasakan oleh seluruh warga dan sebagian banyak dari warga melakukan pencarian pak Ali menyusuri ladang namun selama 2 hari lamanya pencarian itu tidak membuahkan hasil, pak Ali tidak juga ditemukan. Mengetahui kejadian itu Yeti bertanya pada ibu,

“Ibu, para warga kenapa?”.

“Pak Ali dari RT sebelah hilang sejak 3 hari yang lalu”, jawab ibu sambil mempersiapkan makanan di meja makan.

“Hilang kemana bu?”, tanya Yeti. 

“Ibu juga gak tau Yeti, katanya sejak pergi ke ladang dia belum pulang sampai sekarang, tapi para warga sudah berusaha mencari”, jelas ibu.

Setelah selesai makan Yeti kembali ke kamar dan di dalam kamar Ningrum mengatakan sesuatu pada Yeti, 

“Yeti, aku tau dimana orang itu”,

“Yang bener Ningrum? Emangnya dimana?”, tanya Yeti.

“Dia tersesat di alamku”, jawab Ningrum.

“Bisa nggak kamu tolong dia”, tanya Yeti.

“Bisa tapi aku butuh bantuanmu”, jawab Ningrum. 

Yeti dan Ningrum pergi ke salah satu warga untuk menanyakan dimana ladang tempat pak Ali hilang, setelah di beritahu dia dan Ningrum langsung menuju kesana, sebelum sampai di ladang tepatnya melewati hutan bambu, Ningrum memperlihatkan pada Yeti sebuah pemandangan yang sebelumnya belum pernah dia lihat. Hutan bambu itu seketika berubah menjadi sebuah pasar dan terlihat pak Ali sedang duduk di sebuah warung sambil menikmati segelas kopi. 

“Ningrum, itu pak Ali”, ucap Yeti memberitahukan kepada Ningrum.

“Ajak dia pergi dari sana Yeti”, jawab Ningrum.

“Tapi bagaimana caranya dia kembali ke alam nyata?”, tanya Ningrum.

“Aku akan membukakan pintu ke alam nyata”, jawab Ningrum. 

Yeti menghampiri pak Ali yang sedang minum kopi,

“Pak, ayo pulang keluarga sedang panik mencari bapak”, ucap Yeti pada pak Ali.

“Loh, kenapa panik aku hanya mampir minum kopi sebentar nanti juga pulang”, jawab pak Ali. 

“Pak, memangnya bapak tau jalan pulang? Ini bukan tempat bapak, ayo ikut saya pulang, kasihan anak istri bapak, mereka sedang mencari bapak”, jelas Yeti dan pak Ali terlihat berfikir.

“Yaudah sebentar aku bayar kopinya dulu”, jawab pak Ali. 

Setelah membayar kopi pak Ali mengambil cangkulnya yang di letakan di bawah kursi dan berjalan bersama Yeti mengikuti Ningrum. Setelah beberapa langkah berjalan keramaian pasar yang tadi mereka lihat berubah menjadi hutan bambu, 

bertanda mereka sudah pindah ke alam nyata. Yeti mengantarkan pak Ali menuju kerumahnya, sesampai disana para warga langsung berkumpul melihat pulangnya pak Ali. 

“Bapak kemana aja pak, kita semua panik mencari bapak”, ucap istri pak Ali.

“Loh, aku tadi cuma mampir ngopi sebentar trus ketemu sama Yeti dan diajak pulang”, jawab pak Ali dengan polos. 

Melihat pak Ali sudah berkumpul dengan keluarganya Yeti ikut merasa senang, lalu ada seorang warga yang bertanya pada Yeti,

“Yeti, kamu tadi ketemu pak Ali dimana?”,

“Di hutan bambu itu bu”, jawab Yeti. 

“Tapi kemarin warga mencari sampai kesana kok gak ada?”, tanya ibu paruh baya itu.

“Dia tersesat di alam lain bu, yaudah Yeti pulang dulu ya bu”, jawab Yeti meninggalkan keramaian rumah pak Ali. 

Keesokan hari setelahnya bu Iin mendengar kabar kalau ditemukannya pak Ali dan ditemukannya itu karena dibantu oleh Yeti. Bu Iin mendatangi Yeti dan bertanya, 

“Yeti apa benar kamu yang menemukan pak Ali”,

“Iya bu”, jawab Yeti.

“Kamu ketemu dimana?”, tanya bu Iin.

“Di hutan bambu jalan ke ladang itu loh bu dia tersesat di alam gaib”, jawab Yeti.

“Trus bagaimana bisa kamu menolongnya?”, tanya bu Iin. 

“Aku dibantu Ningrum bu, ingat kan teman Yeti dulu”, jawab Yeti.

Mendengar itu bu Iin berfikir,

“Apa jangan-jangan Yeti bisa melihat makhluk lain lagi?”.

Merasa khawatir bu Iin memberi saran, 

“Yeti, kalau bisa jangan bergaul sama Ningrum lagi ya nak, ingat sebentar lagi kamu akan lulus S1 dan akan melanjutkan S2”.

“Ibu tenang saja, aku tetap fokus sama kuliah kok bu”, jawab Yeti. 

Bu Iin pergi meninggalkan kamar Yeti tanpa bertanya tentang itu, lalu dia memberitahukan tentang Yeti pada suaminya tapi suaminya tidak menganggap serius,

“Ya sudah bu, kalau memang itu kenyataannya mau diapain lagi, asal tidak mencelakai Yeti ya biarkan saja”. 

Semenjak mengetahui kalau di hutan bambu itu adalah pasar gaib Ningrum sering mengajak Yeti untuk pergi kesana untuk berkumpul dengan mereka yang tak kasat mata dan lama kelamaan Yeti merasa nyaman berada disana. Hari-hari dilalui Yeti bersama Ningrum dengan penuh kegembiraan dan Ningrum adalah sahabat Yeti satu-satunya yang bisa mengerti tentang dirinya. 

Semakin lama aktivitas Yeti di hutan bambu itu diketahui oleh beberapa warga, banyak dari mereka melihat Yeti seperti orang gila karena sering bicara sendiri. Pagi itu ketika di pasar banyak yang mengatakan pada bu Iin tentang keberadaan anaknya di hutan itu hingga telinga bu Iin merasa panas oleh omongan warga karena beberapa dari mereka menganggap Yeti sudah gila. Memang, beberapa bulan terakhir tingkah laku Yeti semakin menunjukan kalau dia ini memang bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Rangga yang biasa main ke rumah sekarang sudah tidak pernah karena tidak diperbolehkan oleh Yeti. 

Merasa tidak nyaman dengan omongan warga bu Iin pergi ke seorang ustadz di kampungnya untuk menanyakan tentang anaknya dan pak ustadz mengatakan bahwa ada makhluk lain yang sengaja ikut dalam kehidupan Yeti karena dia bisa melihat mereka. 

“Pak, kalau boleh tau siapa yang ikut bersama Yeti?”, tanya bu Iin.

“Dia anak perempuan, tapi dia tidak jahat justru dia yang membantu Yeti”, jawab pak ustadz.

Deg… “Ternyata benar, berarti selama ini sosok Ningrum tinggal di rumah”, ucap bu Iin dalam hati. 

“Pak, bisa nggak agar Yeti di pisahkan dengan makhluk yang ikut itu”, pinta bu Iin.

“Bisa, tapi meskipun dibiarkan juga tidak apa-apa bu dia tidak akan mencelakai Yeti”, jelas pak Ustadz. 

Karena sudah tidak kuat dengan omongan beberapa warga yang menganggap Yeti gila bu Iin tetap minta tolong pada pak ustadz agar Yeti di pisahkan dengan Ningrum dan pak ustadz menurutinya.

Pada suatu malam Yeti tidak melihat keberadaan Ningrum di sudut kamar, 

“Ningrum, kamu dimana?” tapi tidak ada jawaban dari Ningrum, lalu terdengar ada suara yang memanggil nama Yeti dari luar rumah.

“Yeti tolong… tolong aku Yeti”. Terdengar seperti suara Ningrum. 

Mendengar itu Yeti lekas keluar dari rumah dan ternyata di depan pagar terlihat Ningrum sedang tersungkur. 

“Ningrum, kamu kenapa Ningrum?”, ucap Yeti menghampiri Ningrum.

“Panas Yeti…”, ucap Ningrum sedang kesakitan.

“Yaudah ayo masuk dulu Ningrum”, jawab Yeti meraih badan Ningrum tapi sekujur badan Ningrum terasa sangat panas hingga Yeti melepaskan tangannya dari badannya. 

“Aku tidak bisa masuk… panaass”, ucap Ningrum merintih kesakitan.

Keadaan itu membuat Yeti panik, terpikir dalam benaknya kalau ini semua perbuatan ibunya. Yeti meninggalkan Ningrum dan masuk kedalam rumah untuk menemui ibunya. 

“Bu, apa yang ibu perbuat pada Ningrum”. Ucap Yeti dengan panik.

“Yeti, ibu hanya tidak mau kamu seperti dulu lagi nak, biar Ningrum kembali ke rumahnya, dia akan bahagia disana”, jawab bu Iin. 

“Tapi bu, Ningrum senang tinggal disini sama aku, disana dia tidak punya teman!”, ucap Yeti.

“Sudah Yeti! untuk apa kamu bergaul sama Ningrum, dia itu bukan manuisa sepertimu, alangkah baiknya kamu bergaul dengan teman-teman kuliahmu”, bentak bu Iin lalu pergi meninggalkan Yeti. 

Yeti benar-benar terpukul mendengar ucapan dari ibunya lalu dia kembali keluar rumah untuk menemui Ningrum, terlihat Ningrum semakin tidak berdaya, wajah dan bibirnya semakin memucat. 

“Yeti, aku tidak bisa tinggal bersamamu lagi, orang tuamu tidak menginginkanku tinggal disini”, ucap Ningrum terpatah-patah.

“Tidak Ningrum, aku tidak ingin kehilanganmu, kamu adalah sahabat yang paling mengerti aku”, jawab Yeti berlinang air mata. 

“Aku pulang Yeti, aku akan kesepian lagi disana dan aku akan sangat senang kalau kamu ikut denganku dan tinggal bersamaku”, ucap terpatah-patah. 

Yeti tidak bisa menghentikan tangisnya, lalu perlahan sosok Ningrum lenyap dari hadapannya dan kembali pulang ke rumah joglo tempat dia tinggal.

Kejadian ini membuat Yeti sangat terpukul karena dia harus dipisahkan dengan sahabatnya. Yeti selalu mengunci diri di kamar tanpa makan, dia selalu memikirkan betapa kesepian Ningrum disana, terlintas dalam otaknya ingin pergi menemui Ningrum dan tinggal bersamanya. Bu Iin merasa khawatir dengan keadaan Yeti yang sudah 2 hari ini tidak keluar dari kamarnya, beberapa kali dia membujuk Yeti untuk keluar tapi Yeti mengabaikannya. Karena takut terjadi sesuatu ayah mendobrak pintu kamarnya dan sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Yeti memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri untuk hidup di alam lain bersama Ningrum sahabatnya. 

Seketika itu bu Iin lemas melihat kondisi Yeti yang sudah tidak bernyawa. Dengan cepat ayah menurunkan Yeti dan hari itu juga Yeti dinyatakan meninggal dunia. Suara tahlil berkumandang di kediaman rumah itu, teman, saudara dan pacarnya Yeti ikut mengantarkan Yeti ke pemakaman. 

Yeti sudah menentukan jalannya, meskipun kini dia sudah tidak ada di dunia tapi jiwanya telah hidup di alam lain di rumah joglo tempat tinggal Ningrum. 

Kejadian ini menyisakan penyesalan yang sangat mendalam untuk bu Iin dan si kakek marah dengannya karena sudah mengambil keputusan tanpa memberitahunya. 

“Harusnya kamu memberitahukan hal itu pada abahmu ini sebelum kamu ambil keputusan untuk memisahkan anakmu dengan dia. Yang harus kamu tau, tidak semua jin itu jahat. 

Jin dan manusia itu diciptakan hidup berdampingan walaupun beda alam dan mereka juga diciptakan untuk berdoa pada yang maha kuasa”. Nasehat si kakek, tapi nasi sudah menjadi bubur, yang sudah mati tidak akan hidup lagi. 

Selesai 

Thread By @fidimuhammad_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *