RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Ojek Ghaib

Halimah, harus mengunjungi Familinya yang sakit di Ibukota kecamatan. Seseorang menawarkan diri untuk mengantarnya. Itulah awal malam menegangkan untuk Halimah.

Dari kisah nyata di Pelosok Kalimantan Barat.

Kisah ini terjadi di Kapuas Hulu, tahun 1993. Zaman itu, pemerintah sudah mulai membangun jalan-jalan darat di Kalimantan Barat. Transportasi air masih digunakan, tapi transportasi darat mulai ramai.

Jalan-jalan rintisan masih hanya berupa jalur tanah merah, yang kalau musim hujan ia menjelma bubur lumpur.

Tapi penduduk yang berada mulai memiliki kendaraan bermotor. Biasanya sih motor trail atau sejenisnya, yang memang disiapkan untuk jalur sulit.

Nah karena pemilik motor masih jarang, jadi biasanya mereka jadi Ojek. Bawa barang dari kecamatan ke desa, atau sebaliknya. Mereka juga mengantar orang-orang yang punya keperluan di kecamatan.

Halimah adalah istri dari Bang Imron. Setelah menikah Halimah diboyong Bang Imron dari keluarganya di kecamatan ke desa yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan naik motor. Itu karena jalan di sana harus naik turun bukit dan melalui medan yang sulit.

Bang Imron adalah suami yang cemderung keras. Ia perantau di daerah itu. Keluarganya ada di Ibukota Kabupaten. Di kampung itu, Bang Imron sehari-hari berkerja di Perusahaan Kayu yang bertugas memotong kayu untuk dikirim ke Pontianak.

Oh ya Jalan kampung ke kecamatan waktu itu kira2 begini. Sekarang juga masih banyak jalan seperti ini di pelosok Kalimantan.

Nah suatu waktu di bulan Desember saat hujan turun sepanjang hari, Pak Qomar yang kebetulan seorang guru SD merangkap tukang ojek datang ke rumah Halimah sepulangnya dri kecamatan. Disampaikannya kabar, Ibu Halimah sedang sakit dan kritis. Keluarga sudah berkumpul di rumahnya.

Mendengar kabar itu Halimah sedih sekali. Ditunggunya suaminya pulang.

“Bang, Ibu sakit. Halimah mau menjenguk Ibu” kata Halimah

“Jangan risau Halimah. Ibumu itu juga akan segera sembuh”

“Tapi bang, Halimah mau ketemu Ibu”

“Jangan mengada-ngada. Kau mau tinggalkan aku sendiri?”

“Kalau abang mau, abang ikut saja dengan Halimah”

“Kau tahu Halimah? Abang sibuk berkerja. Sudah kau di sini saja”

Maka menangislah Halimah malam itu. Sejak awal menikah, hubungan suaminya dengan keluarganya memanglah tak pernah baik.

Dulu ketika Imron masih tinggal di rumah orang tua Halimah, ia sering disindir. Dianggap lelaki tak berpenghasilan, malas, dan tidak taat agama. Makanya ketika bisa pergi dari rumah itu,Imron menaruh sakit hati yang dalam.

Tapi bagi Halimah, itu tetap Ibunya. Ia ingin berjumpa.

Maka malam itu, ketika Imron tertidur lelap Halimah menyelinap keluar. Sudah bulat tekat dalam hatinya, sekalipun harus berjalan kaki ia akan terus berjalan sampai ke kecamatan. Sekalipun jalanan gelap, ia tak akan gentar.

Ketika keluar kampung, jalanan semakin gelap. Tak ada lagi cahaya remang dari lampu minyak di rumah-rumah penduduk. Halimah hanya membawa sebuah senter. Maka di antara genangan air sisa hujan, Halimah melangkah pasti. Ia takut tak dapat berjumpa ibunya lagi.

Hujan mulai turun rintik. Halimah tak membawa payung. Maka ketika berjumpa pohon pisang, dipotonglah salah satu daunnya untuk menutupi kepalanya. Oh ya, Halimah membawa mandau untuk berjaga-jaga. Ia tahu berjalan sendirian di tengah malam gelap sangatlah berbahaya.

Ketika Halimah kembali berjalan, terdengar suara motor dari kejauhan. Suara itu semakin dekat. Cahaya lampu motor mulai terlihat dari arah berlawanan. Semakin dekat dan semakin dekat.

Motor semakin dekat lalu berhenti di samping Halimah.

“Halimah, kaukah itu? Mau kemana kau di malam buta begini?” Suara itu adalah suara Pak Qomar. Halimah juga kenal dengan motor Yanaha YT yang digunakan pak Qomar.

“Mau ke kecamatan pak” kata Halimah.

“Semalam ini?” Kata pak Qomar melihat jamnya menunjukkan pukul 11 malam.

“Mau ketemu Ibu pak” kata Halimah sedih. Pak Qomar mengerti, ia lalu memutar motornya.

“Naiklah Halimah, biar saya antar”

“Saya tak punya ongkos pak”

“Gratis. Naiklah”

Maka Halimah naik ke motor Pak Qomar. Tak disangkanya pertolongan Tuhan datang lewat tangan Pak Qomar. Motor melaju, beriringan dengan sukur yang dikirimnya ke langit.

Motor terus melaju menembus jalanan yang becek.

“Bapak darimana tadi?” Tanya Halimah.

“Kecamatan”

“Bapak tak apa mengantar saya ke sana lagi?”

“Ini sudah malam. Berbahaya kalau Halimah jalan kaki sejauh itu”

Ini saya menulisnya selow ya. Boleh dilike dulu atau retweet kalau mau baca besok. Oke ?

Motor mulai memasuki area yang dipenuhi peohonan di jalan dan kiri. Gelap semakin pekat ketika mereka memasuki hutan.

“Kamu pernah dengar cerita Ojek Ghaib Halimah?”

“Bapak jangan bercerita yang aneh-aneh. Ini gelap lo pak!” Halimah tidak nyaman denhan obrolan itu.

“Tidak apa-apa. Kau tahu wilayah ini angker? Itulah mengapa saya mengantarkanmu.Berbahaya kau lewat jalan ini sendiri” kata Pak Qomar melanjutkan cerita.

“Ah saya tidak pernah mendengar cerita tentang hutan ini” kata Halimah.

“Di sini ada sosok yang sering mengganggu orang lewat”

“Bapak jangan menakut-nakuti begitu dong!”

“Bukan menakut-nakuti. Hanya ingin kau juga waspada Halimah. Saya sering lewat sini malam-malam, saya sudah lihat sendiri” kata Pak Komar.

Lalu serta merta Pak Qomar mengerem motornya. Halimah nyaris kehilangan keseimbangan.

Bukan, ini bukan trik kayak cowok ngajak cewek jalan terus direm biar dada nempel. Bukan.

“Kenapa pak?” Tanya Halimah.

“Ban bocor” kata Pak Qomar.

Pak Qomar turun memeriksa bannya. Benar saja, bannya kempes. Untungnya ini bukan hal baru, jadi Pak qomar selalu membawa ban dalam cadangan untuk momen2 sperti ini.

“Bagaimana pak?” Tanya Halimah.

“Tunggu sebentar Halimah. Beri saya waktu setengah jam untuk mengganti” kata Pak Qomar.

“Sialan” kata pak Qomar sambil berbisik. Halimah mendengar kalimat itu. Tak pernah ia mendengat pak Qomar memaki.

Dari kejauhan terlihat cahaya semakij dekat.

“Lihat pak, ada motor lain. Mungkin mereka bisa membantu” kata Halimah. Tapi anehnya tak ada suara motor. Cahaya itu semakin dekat.

“Itu bukan motor” wajah Pak Qomar berubah. Halimah menatap lekat. 3 bola api mendekat.

“Pak, itu apa?” Tanya Halimah.

“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja” kata Pak Qomar. Ia melaju mendekati 3 bola api tersebut.

Halimah tak mengerti apa yang ia lihat. Pak Qomar seperti melesat menghantam bola-bola api tersebut. Bola-bola api pecah di udara menyerupai cahaya kunang-kunang. Lalu lesap ditiup angin malam.

“Naik Halimah, di sini bahaya” kata Pak Qomar sambil menyalakan motornya.

“Bannya pak?”

“Tenang sudah saya ganti” kata Pak Qomar. Padahal itu baru sekitar 5 menit sejak mereka berhenti.

“Pak itu tadi apa?”

“Itu hanya kroco2 penjaga sini”

Halimah bingung. Benr2 bingung.

Dari balik pohon-pohon besar di kiri dan kanan Halimah dapat mendengar gemerisik daun-daun. EntH tertiup angin, ata ada sesuatu yang mengikuti mereka. Halimah merasa gentar.

“Jangan takut Halimah. Kupastikan kah akan sampai di kecamatan” kata Pak Qomar.

“Ibumu menunggumu Halimah” tambah Pak Qomar.

Perasaan takut Halimah pelan-pelan pergi. Terbayang ibunya yang sedang sakit. Soal Imron yang kemungkinan akan marah ia tak peduli. Biar saja itu diurus nanti.

Motor terus melaju. Sayup-sayup Halimah mendengar Pak Qomar merapal sesuatu.

“Siap-siap Halimah” kata Pak Qomar.

“Siap-siap apa pak?”.

Belum Pak Qomar menjawab dari arah depan datang segerombolan bola api melayang di udara. Bola-bola api terbang di antara pepohonan.

Pak Qomar menggeber motornya dengan cepat. Lalu puluhan bola api itu seperti menyerang Pak Qomar bersamaan. Halimah terpelanting jatuh ke tanah basah, Pak Qomar hilang kendali atas motornya.

Halimah meringis kesakitan. Lalu ia melihat bola-bola api itu menyatu membentuk satu sosok tinggi besar berkulit hitam legam. Matanya merah. Sosok itu mendekati Pak Qomar lalu menarik lehernya. Pak Qomar seperti kesulitan bernafas.

Sosok itu menatap Halimah. Ada kengerian terpancar di sana. Tubuh Halimah masih teras remuk.

Halimah tertegun. Tapi pemandangan itu tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba muncul suara motor yang memekakkan telinga. 5 motor dikendarai pria2 berbaju hitam datang mendekat. Sosok hitam itu panik. Ia melempar tubuh pak Qomar lalu berlari ke arah Halimah.

Halimah tak sempat mengantisipasi. Sosok itu kini berada di hadapannya. Lalu dengan sekejap sosok itu menyambar Halimah dan membawanya berlari sepanjang hutan.

Makhluk itu berlari dengan cepat namun Pak Qomar bersama pria2 berbaju hitam itu mengejar dengan kekuatan penuh.

Makhluk itu berhenti. Halimah tak dapat bersuara, ia tak tahu harus apa.

Makhluk itu mencengkram leher Halimah seolah mengancam pak Qomar. Namun Pak Qomar tak gentar. Pria-pria berbaju hitam lainnya ikut mengelilingi makhluk itu.

Mereka maju bersama, makhluk itu panik. Tepat sebelum ia mencekik Halimah, tubuhnya pecah bagai kunang-kunang. Halimah melayang sesaat lalu jatuh ke tanah.

Sementara itu Imron terjaga dan menyadari Halimah sudah tak ada di Rumah. Ia tahu kemana Halimah pergi dan ia mengkhawatirkan Halimah. Maka ia juga bergegas menyusul Halimah.

Sekitar pukul 3 pagi, motor Pak Qomar sampai ke kecamatan dengan membawa Halimah yang masih tampak lemah.

Melihat rumah orang tuanya masih ramai, Halimah langsung lupa apa yang barusaja ia alami. Ia segera berlari ke rumahnya untuk melihat ibunya.

“Datang juga kau nak” kata Ibunya melihat kedatangan Halimah.

“Iya bu, Halimah mau ketemu ibu”

“Jemputan Ibu tina tepat waktu”kata Ibunya

Lalu mereka bercakap sebentar dan tak lama kemudian ibunya menghembuskan nafas terakhir.

“Apa maksud Jemputan ibu tiba tepat waktu?” Tanya Halimah pada abangnya.

“Dari tadi malam Ibu bilang dia kirim jemputan untuk kamu” kata abangnya.

Lalu Halimah teringat pak Qomar.

Pak Qomar sudah tak ada ketika Halimah keluar. Ia tak sempat berterimakasih.

Sejam kemudian sebuah motor datang ke rumah itu. Di jok belakang duduk Imron dengan wajah kusut karena mengantuk.

“Abang!” Seru Halimah. Dan Halimah lebih kaget ketika melihat orang yang membawa Imron, Pak Qomar.

“Abang salah Limah. Abang buru-buru mengejar kamu. Ada yang lihat kamu jalan kaki, bagaimana kamu bisa datang secepat ini?” Tanya Imron heran. Halimah tak mengerti apa yang terjadi.

“Pak Qomar?” Tanga Halimah.

“Iya, abang langsung membangunkan pak Qomar untuk mengantar abang”

Kalau Pak Qomar mengantar Imron, lalu siapa yang membawa Halimah?

Keringat dingin mengucur.

Itukah jemputan yang dikirim ibunya? halimah gemetar.

Jadi Ibu Halimah memang orang yang “berilmu”, turun temurun dari keluarganya. Tapi baru kali itu Halimah mengalami peristiwa mistis yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Cerita ini baru diceritakan Halimah ke suaminya seminggu kemudian. Dan beredar dari mulut ke mulut. Hingga sampai ke telinga ibu saya.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *