RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Orang Ketiganya Adalah Setan

Kisah Uju Tono, gagal menikah karena hadirnya orang ketiga. Dan ternyata ….

🌹🌹 ORANG KETIGANYA ADALAH SETAN 🌹🌹

Kisah ini terjadi di pedalaman kalimantan Barat. 30 Tahun yang lalu. Ini kisah Uju Tono dan kekasihnya Dayang Murni. 

Uju Tono namanya. “Uju” pada namanya itu panggilan untuk anak bungsu dalam bahasa Melayu Kapuas Hulu. Usianya 27 tahun kala itu. Sudah cukup umur untuk menikah. 

Itu adalah bulan Desember di penghujung tahun 1989. Hujan turun sepanjang hari, tanah basah, aliran sungai begitu deras. Tapi bagi Abang Tono itu bukan penghalang. Dikayuhnya perahu ke hulu kampung, ke kampung lain tempat kekasihnya tinggal. Dayang Murni namanya. 

Uju Tono dan Dayang Murni sudah kenal sejak bangku sekolah. Karena di kampungnya mereka hanya ada SD saja, dulu mereka tinggal di rumah keluarga di ibukota kecamatan. Setiap akhir pekan, Uju Tono dan Dayang Murni pulang ke kampung dengan mengayuh perahu. 

Sejak itu, Uju Tono menyukai Dayang Murni. tapi bertahun-tahun ia tak pernah mengutarakannya. Perasaan itu disimpannya sendiri, dirawatnya pelan-pelan dan terus tumbuh besar. 

Lima bulan yang lalu seharusnya Dayang Murni menikah dengan seorang pria. Pria dari daerah entah dimana itu dikenal Dayang di lokasi PT. PT adalah sebutan orang sana untuk perusahaan kayu yang melakukan aktivitas penebangan pohon kala itu. 

Ayah Murni seorang mandor di PT, ia membawahi pria-pria kampung yang berkerja menebang dan menggergaji kayu sepanjang hari. Di sanalah Murni berjumpa kekasih hatinya, Muhyidin. 

Tapi suatu menjelang pernikahan, Muhyidin malah menghilang. Pulang ke kampungnya yang entah dimana. Murni patah hati, pupus sudah keinginannya untuk menikah. 

Usia Murni 23 tahun, 4 tahun lebih muda dari Uju Tono. Tono memang terlambat masuk sekolah, ia juga sempat menganggur sebelum masuk SMA. Ekonomi keluarganya tak kuat. 

Di saat-saat sulit itulah Tono menjadi penghibur Murni. Hampir setiap hari seusai mencari rotan disempatkannnya waktu menemui Murni. Sekedar untuk menghibur Murni yang patah hati. Ia begitu menyayangi Muhyidin. 

“Sudahlah Ni, tak perlu kau lama-lama mengenang Muhyidin si omong kosong itu. Habis waktu kau percuma. Masih panjang umurmu” kata Tono menasihati Murni. Sementara di kampung, semua orang sudah tahu Tono menaruh hati pada Murni. 

Begitulah berbulan-bulan dilalui sampai di suatu sore Tono mulai lelah dengan Murni.

“Percuma kau sedihkan kepergian orang yang tak sayang dengan kau Murni. Kalau boleh biar aku saja yang menikahimu” kata Tono. Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa rem. Bahkan Tono ikut kaget. 

Dan di tengah luka hatinya, Murni malah setuju untuk menikah dengan Tono. Tapi bagaimanapun itu malah menjadi beban bagi Tono. Keluarga Murni berasal dari kalangan Berada, sedangkan Tono jauh dari kata mampu. Dengan apa ia menikahi Murni?

Begitulah perjalanan cinta Uju Tono dan Murni dimulai. Maka untuk mengumpulkan uang Uju Tono kini berkerja lebih keras. Pagi-pagi sekali ia sudah menyadap getah karet. Belum juga matahari terbit ia sudah masuk hutan untuk mencari rotan. Lalu siangnya, ia sudah di PT ikut menebang pohon. 

Di PT lah Tono mendengar desas-desus soal Muhyidin. Karena sesungguhnya kepergian Muhyidin memang sungguh misterius. Ada yang bilang Muhyidin pulang karena orang tuanya sakit, tapi tak ada satupun yang tahu kapan ia pergi. Muhyidin menghilang begitu saja. 

3 bulan, dalam 3 bulan Tono berjanji Murni akan datang untuk melamar. Maka demi target itu Tono meninggalkan pekerjaan menyadap getah dan mencari rotan. Ia fokus di PT, kerja bahkan hingga malam. 

Suatu malam Tono baru saja menyelesaikan pekerjaan memindahkan kayu ke sungai. Ia duduk di atas gelondongan kayu yang mengapung. Teman-temannya pulang duluan ke barak tempat mereka menginap.

“Mengapa abang di sini?”. Tono kaget, Murni muncul dengan sebuah lentera di tepi sungai. 

“Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kamu malam-malam kemari?” Tono balik bertanya.

“Aku mencari Bapak” kata Tono.

“Sudah pulang tadi sore. Belum sampaikah?” Tanya Tono.

“Ah mungkin Bapak lewat jalan yang berbeda” kata murni. 

Oke biar saya jelaskan. Lokasi PT berada di antara kampung Tono dan Murni. Untuk ke lokasi PT dari kedua kampung ditempuh sekitar 45 menit dengan berjalan kali melalui jalan kecil. Akses lain adalah lewat sungai, cukup mengayuh selama 15-20 menit. 

“Kalau begitu kuantar pulang ya. Tak baik anak gadis pulang sendiri malam-malam” kata Tono. Ia melompat ke perahu dan menarik tangan Murni naik. Tangan Murni terasa begitu dingin. Seperti es.

“Kamu sehat Murni?”

“Sehat bang” sahut Murni 

Maka Tono mengayuh perahu dengan saksama. Murni duduk di depan sambil memegang lentera. Ia hanya menunduk.

“Murni mau bicarain soal Muhyidin bang”.

“Sudahlah Murni. Tak mau abang dengar nama itu lagi. Sekarang ada abang yang ada untuk Murni”.

Angin malam berhembus dingin. 15 menit kemudian, perahu berlabuh di lanting. Lanting adalah dermaga kayu yang mengapung, biasanya dibuat dari beberapa batang pohon yang diikat. 

Di situlah Tono bertemu Ai Karom. Ai Karom baru saja buang hajat. Maklum, saat itu toilet di rumah itu langka. Orang2 kampung terbiasa buang air WC yang kotorannya langsung ke sungai. 

Ai Karom menatap Murni dengan tatapan yang aneh. Ia lalu memanggil Uju Tono.

“Kesini Ju!” Kata Ai Karom.

“Jangan kaget” katanya ketika Tono mendekat.

Ia lalu mengusap mata Tono, Tono tak mengerti apa yang terjadi. Saat Tono membuka mata, badannya panas dingin melihat sosok di atas perahunya. Sesosok bermuka hitam, berambut putih serta baju kain lusuh tersenyum padanya. Tunggang langgang Tono lari menaiki tangga, ditujunya rumah Murni.

“Murni! Murni!” Serunya.

“Ada apa bang?” Tanya Murni ketika membuka pintu.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Tono.

“Abang kenapa?” Murni balik bertanya.

“Tidak kenapa-napa. Aku khawatir Murni” kata Tono. 

Tapi jelaslah Murni tidak apa-apa. Sosok itu membekas di kepala Tono. Ia menggigil. Malam itu ia bermalam di rumah Ai Karom. 

“Itu penghuni hutan situ. Biasanya ndak ganggu” kata Ai Karom. Ai Karom malam itu memberi sebuah Jimat pada Tono. “Ini semoga bisa membuat kamu tidak diisengi lagi” katanya. 

Desas desus seputar Tono diganggu setan itu beredar luas. Umak (ibu saya), waktu itu barusaja melahirkan abang saya. Cerita soal Tono ini beredar dari mulut ke mulut. (Oh ya, sama seperti cerita Sematianak, cerita ini diceritakan Umak). 

Walau demikian, Tono kembali berkerja. Cintanya pada Marni mengalahkan takutnya. Hanya saja kini ia tak berani sendirian. Tono juga tak menginap di barak. Barak-barak itu memang disediakan untuk pekerja dari kampung yang jauh. Sore hari pukul 5 Tono sudah mengayuh perahu untuk pulang. Semua mulai berjalan normal. 

Tapi Murni mulai berlaku aneh. Suatu hari saat Tono pergi menemui Murni, Tono diusirnya pulang. “Jangan sekali-kali kau ke sini lagi!” Kata Murni. “Nanti Bang Muhyidin marah” tambahnya. 

“Muhyidin? Muhyidin sudah hilang. Ada apa ini Murni?” Tono tak habis pikir.

“Bang Muhyidin masih ada. Kemarin Murni ketemu Bang Muhyidin” kata Murni.

“Apakah benar Muhyidin kembali?” Pikir Tono. Ah sungguh keadaan akan menjadi kacau. 

Besoknya di PT, Tono mencari Muhyidin. Tapi Muhyidin tak ada.

“Sudah gila kau Tono? Muhyidin sudah lama menghilang. Tak pernah muncul lagi batang hidungnya” kata Bang Qohar. Salah satu pekerja di PT. Ia sibuk memotong kayu dengan gergaji mesin. Keringat mengalir di keningnya. 

Tapi saat Tono mencoba menemui Murni maka responnya masih sama.

“Pergilah! Bang Muhyidin bilang Murni jangan ketemu Bang Tono lagi” begitu kata Murni. Sungguh Tono menjadi sedih. Apakah Murni berbohong untuk menolak cintanya?. 

Soal Muhyidin ini ternyata juga cepat menyebar. Setiap bertemu teman sebayanya Murni selalu berkisah soal Muhyidin yang sekarang rajin menemuinya. Ia sudah lebih bahagia sekarang. Padahal tak ada satu orangpun di kampung itu yang pernah berjumpa Muhyidin. 

Maka divonislah bahwa Murni mengidap penyakit gila. Ia jadi bahan pembicaraan. Ayahnya bingung bukan main. Maka pada suatu siang di Jam istirahat, Ayah Murni, Abang Herman mengajak Tono berbicara. 

“Kau tahu kondisi Murni sekarang kan Tono?” Tanga Abang Herman. Oh ya “abang” di awal nama itu bukan panggilan. Tapi nama yang disematkan pada ayah Murni sejak lahir. 

“Iya pak. Saya khawatir dengan Murni pak” kata Tono.

“Kalau begitu bapak mau minta bantu”

“Bantu apa?”

“Nikahi Murni. Kasihan dia jadi bahan omongan. Mungkin kalau sudah menikah dia akan lebih baik” kata Abang Herman.

Betapa kaget Ujang Tono siang itu. 

Murni adalah satu2nya anak Abang Herman. Sejak istrinya meninggal 20 tahun sebelumnya, ia mengasuh Murni sendirian.

“Soal biaya dan lain-lain, jangan kau risaukan. Yang penting kalian menikah” kata Abang Herman.

Tono hanya mengangguk. Kondisinya rumit tapi ini semua demi Murni. 

Apakah ada yang menyimak? Mohon maaf kalau di thread ini banyak bagian dramanya. Karena kisah inilah yang akan menghubungkan kejadian2 aneh yang menimpa Tono dan Murni. 

Jadi setelah itu, Tono berkonsultasi kepada Ai Karom. Ai Karom bilang ada yang mengganggu Murni. Bisa guna-guna atau makhluk yang nakal, mengusili Murni. 

Soal pernikahan, Ai Karom bilang sebaiknya jangan terburu-buru. Makhluk yang mengganggu Murni itu menyamar sebagai Muhyidin. Bagi Murni itulah kenyataan. Maka kalau diusik pikirannya akan terganggu. Bisa benar-benar gila. 

Sungguh Tono benar-benar bingung. Ia sangat mencintai Murni. Dalam kondisi seperti inipun ia ingin ada di dekat Murni. Siapa yang harus ia turuti. Saran Ai Karom ataukah permintaan Abang Herman? 

Tono mulai sering meninggalkan pekerjaan. Pikirannya kacau. Hingga pada suatu hari ia ingin menemui Murni. Diketuknha pintu rumah Murni berkali-kali. Tak ada yang membuka. Tapi ia bisa mendengar suara Murni terkikik. Tono mengintip ke dalam. 

Tono melihat Murni berdiri membelakangi pintu. Ia terbahak-bahak sambil tampak mengunyah sesuatu. Tono pun mendobrak pintu. Jelas sedang ada yang tidak beres. 

Daat itulah Murni menoleh.

“Eh Bang Tono. Sini ikut ngobrol dengan bang Muhyidin” katanya sambil menunjuk ruang kosong di depannya.

“Ayolah, Bang Muhyidin sudah tidak marah” katanya. 

Dan yang paling mengejutkan Tono adalah. Murni sedang mengunyah seekor ayam yang masih hidup. Ayam itu seperti antara hidup dan mati.

“Apa yang kau lakukan Murni?” Sergah Tono. Ia tak kuasa menahan tangis. 

Tono dengan berang mengambil ayam itu dan melemparnya melalui jendela. “Sadar Marni! Sadar!”

Tapi Marni berubah marah. Matanya seperti melotot. “Itu hadiah dari Bang Muhyidin! Bang Tono jahat kepada Murni!” Teriaknya nyaring. Ia melompat ke jendela. 

Murni lalu mengambil lagi ayam tadi dan mengunyahnya seperti memakan ayam panggang yang enak. Tono mengamatinya dengan rasa jiji. Sementara itu beberapa warga yang lewat juga turut melihat. 

Orang-orang ramai sekali berkumpul di rumah Murni siang itu. Murni berteriak-teriak memanggil nama Muhyidin. “Bang Muhyidin, tolong Murni bang! Tolong Murni!” Serunya. Orang-orang sudah yakin Murni terkena penyakit gila. Tono memangis tersedu-sedu melihat Murni. 

Ai Karom yang sudah di rumah Murni juga berusaha memeriksa Murni. Abang Herman menatap dengan cemas.

“Ada orang yang tak suka dengan kau Herman!” Kata Ai Karom. Ini jelas guna-guna. 

“Lalu bagamana?” Tanya Abang Herman.

“Aku bisa beri air penawar. Semoga membantu” Ai Karom membacakan doa pada sebotol air dan memaksa Murni untuk meminumnya. Ada perlawanan tapi warga membantu memegang Murni.

“Minumlah Murni, minumlah!” Kata Tono.

Murni perlahan tenang. 

Sore itu di rumah Ai Karom Tono menghabiskan air matanya. Begitu cintanya Murni kepada Muhyidin sehingga membuat Murni terganggu jiwanya. Murni tak pernah mencintainya. Itu menyakitkan. 

“Aku bisa merasakan, Muhyidin sudah tidak ada” kata Ai Karom.

“Maksud Ai?” Tanyanya heran.#

“Muhyidin sudah meninggal. Tak tahu kenapa dan dimana” kata Ai Karom. Tono kaget bukan kepalang. Kenapa semua menjadi rumit?. 

Lalu Tono teringat sosok yang meniru Murni. Ia menyebut nama Muhyidin.

“Jangan-jangan dia mau kasih tahu soal Muhyidin” kata Tono.

“Bisa saja. Tapi kita ndak tau benar apa ndak”

“Tapi kita harus cari tahu. Mungkin kalau nasib Muhyidin jelas, Murni bisa nerima”. 

“Jadi kau mau ketemu makhluk itu lagi?” Tanya Ai Karom.

“Kalau itu yang harus dilakukan. Saya siap Ai” kata Tono.

“Kalau begitu pergilah malam ini dengan perahu. Bacakan mantra ini, kalau dia berkenan. Dia akan datang” kata Ai Karom sambil memberi secari kertas. 

Maka malam itu, di tengah kegelapan sungai Uju Tono mengayuh perahunya. Ia merafal mantra sambil menatap ke kanan dan kiri. 

Lalu muncullah sosok itu, seperti berjalan di atas air mendekati Tono.

“Ikut aku” katanya. Tono memandang wajah itu dengan ngeri. Tapi senyum sosok itu tampak tulus. 

Lalu sosok itu menghilang. Namun Tono mendengar suara burung hantu di tengah gelapnya hutan. Tono menepikan perahunya, lalu menambatkannya. Ia membawa senter sambil berusaha naik ke daratan. Suara itu semakin jelas. 

Malam pukul 8 Tono tertatih-tatih melalui hutan yang masih lebat mengikuti suara burung hantu di kejauhan. Ia harus waspada, hewan-hewan berbahaya ada di sekitarnya. 

Tono melihat burung hantu itu, dibatas sebuah gundukan tanah. Sebuah gundukan tanah yang cukup lama. Ia berusaha menggali dengan alat seadanya. Bau anyir menyengat. 

Malam itu, Tono menemukan mayat Muhyidin terkubur di bawah pohon besar di tengah belantara. Entah siapa pelakunya.  Tono segera pulang. Ia segera memberi tahu ai karom. Warga dikumpulkan. Besoknya, warga membawa mayat Muhyidin ke desa. 

“Ini santet darah. Orang yang mengirim guna-guna sengaja membunuh Muhyidin dan menggunakan darahnya. Dengan darahnya, arwah Muhyidin dimanfaatkan untuk menyerang Marni” kata Ai Karom. 

“Maksud Ai?” Tanya Tono.

“Yang dilihat Murni itu benar Arwah Muhyidin. Tapi dia dibawah kendali. Tujuannya memang membuat Murni gila” kata Ai Karom. 

Setelah keluarga didatangkan, polisi juga hadir dari kecamatan. Muhyidin benar diduga dibunuh, Tono dimintai keterangan. Polisi tidak percaya keterangan Tono soal sosok yang mengiringnya. Polisi malah menuduh Tono-lah pelakunya. Dengan alasan asmara, karena ia mencintai Murni. 

Keterangan Ai Karom juga dianggap ngawur. Tono ditangkap, dijebloskan dalam penjara. Sementara orang2 kampung tetap percaya Tono orang baik. 

Pihak keluarga Muhyidin tetap meminta kasus diteruskan. Tono harus dihukum atas apa yang tidak ia perbuat. Usahanya menemukan Muhyidin adalah murni karena kasih sayangnya pada Murni. 

Dan setelah melihat mayat Muhyidin pun, Murni tetap tak terima. Gangguan kejiwaannya semakin parah. Ayahnya tak tega, dikirimnya Murni ke Rumah Sakit Jiwa. 

Tak ada yang tahu, siapa pengirim Guna-guna dan pelaku pembunuhan Muhyidin sebenarnya. Misteri itu seperti tertelan di tengah rimba yang gelap gulita. 

Dengan ini kisah “Orang Ketiganya Adalah Setan” dinyatakan Selesai.

Thread By @bujangbangket

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *