RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Oyot Mimang : Jalan Pulang

Versi Aldi

Halo semua, ini adalah cerita yang saya dapat setelah melakukan wawancara by call bersama Aldi

Malam sudah sangat larut, kami tiba juga pada tujuan yaitu Desa P. Kami disambut oleh calon keluarga baru kakak sepupuku. Dua hari lagi kakak sepupuku akan melepas masa lajangnya, menikah dengan perempuan yang sudah lama sekali menjadi pacarnya, 

kalau itu kredit mobil sepertinya sudah lunas. Rasanya lebih lega saat sudah sampai, kami bercerita diperjalanan tadi, ada hal-hal aneh terjadi waktu perjalanan, tapi ya sudahlah toh sekarang aku sedang menikmati segelas teh hangat dipadu dengan cemilan tradisional Banjarnegara. 

Belum ada setengah jam kami istirahat, tiba-tiba saja Mas Simin berbicara dengan nada serius 

“Sugeng dalu , kula Simin makili keluwargi saking Tegal, sampun nindakaken ayahan kula nuntuk ngater Agung dumugi Banjarnegara. Ayahan kita sampun bibar , kita sedaya pamit kangge wangsul dhateng Tegal.” 

(“Selamat malam, saya Simin mewakili keluarga dari Tegal, sudah melaksanakan tugas saya mengantarkan Agung sampai Banjarnegara. Tugas kami sudah selesai, kami semua pamit untuk pulang ke Tegal.”) , Mas Simin tiba-tiba pamit. 

Loh kok tiba-tiba sekali, rokok belum habis, teh digelas masih banyak, kue dan camilan baru sedikit yang dimakan, lagian ini sudah larut malam, bukannya Pak De di Tegal bilang kita disuruh menginap. 

“Bade pundi sih mas, kok kesusu wangsul loh?, Mboten nginep mriki mawon?”, salah satu keluarga dari Banjarnegara bertanya. 

“Mboten bu, kulo langsung mawon, supados saged ngaso saderengipun acara, saha wonten ngriki malah ngribetaken”, (Tidak bu, saya langsung saja biar bisa istirahat sebelum acara pernikahan, lagian di sini malah merepotkan) Mas Simin masih kekeh mau pulang. 

“Loh Mas, bukannya bapak bilang, semua nginep dulu sampai subuh?” Mas Agung mencoba menahan. 

“Uwes ora usah gung, selak esuk malah waktu istirahate sitik” (sudah gak usah gung, keburu pagi, nanti malah sedikit waktu istirahatnya). 

“Loh, bukannya malah lebih baik kalua malah bermalam di sini? Istirahat sampai subuh, setelah solat subuh bisa melanjutkan perjalanan pulang seperti pesan Pak De” aku bergumam dalam hati. Tapi pada akhirnya aku hanya ikut saja, rasanya aku tidak berani memberikan opini saat itu. Mungkin karena di mobil itu aku yang paling muda. Akhirnya kami semua bangun dari kursi masing-masing, bersalaman dan berpamitan, pegal di badan belum menghilang, ada makanan yang belum disantap, dalam pikiran aku bertanya, kenapa buru-buru segera pulang, di malam dingin dan medan yang tidak kami kenal? 

“Mau dianter sampai pertigaan batas desa gak mas? Sebenarnya gampang sih, dari jalan utama desa lurus terus nanti mentok ada pertigaan belok kiri, jalan menurun. Jangan ke kanan, itu jalan ke bukit rusak” Mas Agung mencoba menawarkan bantuan. 

“Ora usah gung, gampang kok dalane mau, aku wes ngerti” ( ” gak usah gung, gampang kok jalannya, aku sudah ngerti”) Saut pak supir. 

Akhirnya kami berempat berpamitan dan meninggalkan Desa P. Sudah larut malam, udara saat itu sangat dingin, aku duduk di depan menggantikan kursi Mas Agung menemani supir, Mas Simin dan Pak De Nduluk duduk di bangku tengah, bangku belakang kosong. Untuk jaga-jaga, aku mencoba membuka Google Map, tapi sinyal benar-benar tidak bersahabat di sini.

Sambil terus mencoba membuka aplikasi map, aku ngobrol dengan supir, biar gak ngantuk. Saat itu kecepatan mobil bisa aku katakan, ngebut. Mungkin karena sudah malam, jalanan sepi jadi supir bisa memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. 

Jalanan yang aku rasakan sengat nyaman, aspal yang halus, kami semua nyaman di dalam mobil. Aku sudah tak tau berada dimana, malam membuat semuanya sama. Cahaya yang terlihat hanya sekilas saja, mungkin beberapa lampu jalan. 

Rasanya sudah ingin sampai rumah saja, badan sudah pegal, aku kagum sama Pak supir, tenaganya kuat banget. Saat berangkat dia yang bawa, sekarang saat pulang dia lagi, padahal ada Mas Simin yang bisa menggantikan. 

“Pak gak capek nyetir terus?” tanya saya

“gak di” jawab singkat Pak Supir 

Aku kira akan berlanjut ke obrolan lain, ternyata benar-benar jawaban singkat. Mungkin beliau fokus dalam berkendara, konsentrasi tinggi. Tapi aku masih bertanya-tanya, ada masalah apa sih dengan Pak Supir, kenapa buru-buru pulang? 

Padahal hari pernikahan dua hari lagi.

Aku masih terdiam, Mas Simin dan Pak De Nduluk juga diam, kami semua tidak ada yang tidur. Tapi aku merasa aneh, kenapa semua seperti terpaku pada sesuatu, tidak ada komunikasi, tapi tidak ada yang terlalap, padahal malam sudah sangat larut 

Belum selesai berfikir, tiba-tiba mobil berhenti. Ban slip, tidak bisa berjalan seperti tertahan sesuatu. 

Enakan cerita dilanjut kapan? 

Malam ini cerita saya lanjutkan, saya jelaskan sekali lagi, Oyot Mimang : Jalan Pulang lebih menceritakan kejadian yang dialami Aldi, adik sepupu saya. Beberapa waktu lalu saya telpon dia, menanyakan apa yang dialami saat itu. Oke, mari lanjutkan ceritannya. 

“Ono opo pak?”(ada apa pak?) tanya ku cepat

“gak ono opo-opo di” ( gak ada apa-apa di) jawab supir. 

Semua orang diam, akhir aku bilang supir untuk turun dari mobil. Ada yang gak beres sama semua ini. Saat aku buka pintu mobil dan turun, pohon salak pertama yang aku lihat. Lalu aku melihat ban belakang yang ternyata selip karena lumpur, jalanan dibelakang mobil menanjak. Lalu aku menuju depan, seketika dada terasa sakit karena kaget, tubuh terasa lemas sesaat. Mobil kami diujung tebing, dibawahnya sekitar 2-3 meter terdapat sungai yang mengalir. Aku langsung mengabarkan apa yang aku lihat kepada semua yang di dalam mobil. Aku memerintahkan Supir untuk cepat – cepat menarik rem tangan, Mas Simin seperti ikut sadar dengan situasi yang ada, akhirnya Mas Simin dan Pak De Ndulug ikut turun memastikan apa yang terjadi. Kami bertiga bingung, kenapa kami tiba-tiba ada di sini. Jalan yang kami lihat tadi ada dimana? Lampu-lampu jalan kok gak ada, kenapa semua berganti dengan pohon salak, kanan kiriku kebun salak, depan tebing dan sungai, belakang jalanan tanah yang menurun, semua gelap, penerangan satu-satunya hanya dari lampu mobil. 

Kami tidak dapat putar arah, jalan hanya cukup untuk satu mobil. Aku perintahkan supir untuk mundur, bekali-kali dicoba hasilnya sama saja, mobil tak bisa mundur. 

Jalan satu-satunya hanya dengan mundur, sisi kanan dan kiri hanya berjarak beberapa cm saja dengan kebun salak, depan? mungkin kalau telat sedikit saja mobil sudah terjun ke sungai, bagian moncong mobil sudah di bibir tebing. 

Pikiranku masih kacau, aku coba mencerna kenapa bisa sampai di sini, parahnya lagi kami semua tidak ada yang punya nomor hp Mas Agung, satu-satunya orang yang mungkin tahu Banjarnegara. Aku melihat supir masih saja diam di kurisinya, pandangannya lurus ke depan

disaat semua panik, cuma supir yang tidak menunjukan ekspresi apapun. Ada sesuatu yang gak normal, aku langsung memerintahkan Pak Supir untuk turun. 

“Pak, kok diam saja, bapak tadi liat jalan gak? Kok bisa sampai masuk ke sini?” tanya ku

“Ora ngerti di, aku ya ora paham” (Gak tahu di, aku juga gak paham) Jawab supir. 

Sepertinya percuma melakukan komunikasi dengan Pak Supir, beliau masih diam saja, sampai tiba-tiba gawai ku berbunyi, ada yang menelpon, aku angkat saja. 

“Di posisi neng endi saiki?, iki Agung” (Di posisi dimana sekarang?, ini Agung)

Wah, Mas Agung kebetulan sekali menelpon saya, apa Mas Agung gak langsung istirahat, padahal malam sudah semakin larut. 

“ Mas, aku nyasar ini..”,

“ Dimana di? Ada patokan yang bisa bikin jelas kamu dimana?”

“ Mas ini aku mblasuk (kesasar) kanan kiri kebun salak, dan depan saya tebing,

yang dibawahnya terdapat sungai”

“apa gak bisa mundur di?” tanya Mas agung 

“ gak bisa mas, jalannya turun, curam, kami sudah mencoba tapi mobil tidak kuat”

“share location aja di, biar mas tau posisi kamu”

“ gak ada sinyal mas, buka map gak bisa, sudah dicoba berkali-kali mas, gagal terus” 

“ yowes, nanti saya cari bantuan, kamu tahan di situ ya?” Mas Agung menutup telponnya 

Sambil menunggu bantuan yang akan datang, aku harus melakukan sesuatu, setidaknya tahu posisi ku ini dimana. Apakah di sekitar sini ada rumah penduduk, dekat desa apa? Setidaknya jika ada, kami bisa tanya dan memastikan posisi, agar bantuan bisa datang lebih cepat. 

Mas Simin bangun dari duduknya, “Di, aku nyang nduwur sek ya, tak coba golek umah penduduk, sopo ngerti ono bantuan, karo sekalian golek musholla, biasane ono wong kan ko nek subuh, iso solat lan iso ngerti lokasi”. 

( Di, aku ke atas sebentar ya, tak coba cari rumah penduduk, siapa tau ada bantuan, sama sekalian cari musholla, biasanya ada orang kan kalau subuhan, bisa solat dan bisa ngerti lokasi) Kata Mas Simin. 

“Yowes Mas, aku sama Pak De dan Pak Supir neng kene sek, jaga mobil. Tetep ati-ati mas mbok menowo ono begal ya?” ( Ya Mas, aku sama Pak De dan Pak Supir di sini dulu, jaga mobil. Tetap Hati-hati mas barang kali ada begal ya?) kataku pada Mas Simin . 

“Iyo Di” Mas Simin berjalan ke atas meninggalkan kami bertiga. 

Belum lama Mas Simin ke atas, gerimis pun turun, wah gak baik nih, jalanan pasti akan menjadi licin, ini bisa jadi malah bikin mobil tambah susah untuk mundur dan ke atas. Tapi bagaimana lagi, gak bisa aku tolak, ini sudah kehendak ilahi. 

Masih mencoba memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini, tapi seperti menghadapi jalan buntu, tidak bisa melakukan apapun selain menunggu bantuan, Mas Agung juga sampai saat ini belum ada kabar. 

“Di, kae lo supire meneng wae, koe curiga ora?” ( Di, itu loh, supirnya diam saja, apa kamu ga curiga?) celetuk Pak De Nduluk. 

“ kat mau wong kui mung meneng tok De, mbuh kaget, mbuh kepiye, aku yo rak paham” ( dari tadi, orang itu Cuma diam saja kok De, gak tau kaget, gak tahu gimana, aku juga gak paham). 

“ Tapi aku mau yo ngroso dalan ki alus loh, kok iso mblasuk neng kebun salak ngene, bengi-bengi san, wedi ono memedi, wit salak ki akeh genderuwo loh di” 

(Tapi aku tadi juga merasa jalan tu halus loh, kok bisa kesasar di kebun salak gini, malam-malam pula, takut ada memedi, pohon salak itu banyak genderuwonya loh di). 

“ Sing genah mawon to dhe, ampun meden-medeni, marai rak fokus loh.

Niki fokus padhos informasi sek lah, doa ingkang sae-sae mawon to dhe!”

( Yang benar saja to dhe, jangan nakut-nakutin, bikin gak fokus loh. Ini fokus cari informasi dulu, doa yang baik-baik saja to dhe). 

Kepikiran juga sama yang tak kasat mata, tapi jangan sampai lihat hal-hal yang kaya gitu. Kondisi sekarang saja sudah buruk, tidak usah sampai hal semacam itu muncul. Dalam hati aku terus membaca doa, sebisaku agar terhindar dari hal-hal yang sifatnya menganggu. Aku masih terus menunggu kabar dari Mas Agung dan Mas Simin, sekarang sudah sepertiga malam, tapi satupun belum ada yang datang, minimal memberikan kabar baik terkait lokasi.

Tiba-tiba hanphone berbunyi, Mas Agung menelpon lagi… 

“ Di, kamu saat tadi jalan pulang, kamu ngerasa jalannya nanjak enggak?”

“ Datar Mas, halus kok jalannya” Kata ku.

“ Kamu gak nemuin jalan terjal, atau bebatuan?”

“ enggak mas, lancar, halus, datar saja.”

Mas Agung lalu menutup telponnya 

Aku bingung, kenapa Mas Agung bertanya seperti itu, memangnya kenapa? ada apa dengan jalannya? Kami semua tau, tadi mobil berjalan kencang, jalanan yang kami lewati juga sangat bagus, tapi Mas Agung bertanya seolah-olah jalan yang kami lewati itu rusak. 

Mobil yang kami tumpangi juga tidak menunjukan tanda-tanda habis melewati jalanan yang rusak, kalua kecepatan 80-90 km/jam pasti sudah terasa jika ada jalanan berlubang. Body mobil juga masih bagus, tidak ada bekas gesekan di jalan yang rusak, bahkan saat sudah masuk kebun salak ini saja, body mobil masih baik tidak ada baret.

Tiba-tiba saja Mas Simin menelpon… 

“Di, aku nemu perkampungan iki, jarak lumayan dari TKP 400 meteranlah, aku isih golek warga, delo engkas bakal melbu waktu solat subuh, mesti ono sing teko neng Musholla” 

(Di, aku menemukan desa ini, jarak lumayan dari TKP 400 meter, saya masih mencari warga, sebentar lagi akan masuk sholat subuh, pasti ada yang datang ke Musholla “) Mas Simin mengabarkan temuannya. 

“ Wah oke mas, alhamdulillah, tulung tangkletaken nama desa geh mas, ben saget ngei info Mas Agung” (“Baik mas, alhamdulillah, tolong tanyakan nama desa geh mas, supaya bisa saya kasih info mas Agung”). 

“ Oke di, la lagi do ngopo akhire? Mobil iseh urung iso gerak di?” (“Oke, lagi pada ngapain sekarang? Mobil masih tidak bisa bergerak di?”) 

“ Dereng Mas, nopo maleh ditambah sakniki jawah mas, gerimis, ban dadi tambah slip” (“Belum Mas, apalagi ditambah lagi sekarang hujan mas, gerimis, ban jadi makin slip”)

“Yowes, pertahanin posisi wae, aku juga tak cari bantuan warga sekitar” 

“Oke Mas laksanakan, yowes mas tak tunggu kabar selanjutnya”

“Oke di” Mas Simin mematikan hanphone-nya. 

Menunggu lagi, itu saja yang kami lakukan. Saat ini yang bisa saya ajak bicara jelas ya Pak Dhe Nduluk, sopir hanya menjawab saat ditanya, lebih banyak diam. Aku rasa dia merasa bersalah dengan kejadian ini, padahal ini adalah musibah yang bisa terjadi kepada siapa saja. Masih duduk di dalam mobil, karena diluar gerimis semakin besar, handphone Kembali berbunyi, kali ini Mas Agung yang menelpon… 

Di, piye keadaane? “ (Di, gimana keadaannya?)

“ Belum ada perubahan, Mas Simin lagi ke atas, mau cari tempat buat solat subuh sekalian tanya-tanya warga desa, diatas ada beberapa rumah mas” 

Tiba-tiba terdengan teriakan seorang wanita “ melbu, melbu, ayo podo melbu mobil!” (masuk, masuk, ayo semua masuk mobil!, setelah itu Mas Agung langsung mematikan handphone-nya, seperti sedang terburu-buru, aku jadi kepikiran semoga Mas Agung tidak kenapa-napa. Gara-gara kami orang yang sebentar lagi menikah malah kerepotan mencari posisi kami berada. 

Tak terasa waktu terus berjalan, terdengar juga suara Adzan Subuh berkumandang.

Lega rasanya sebentar lagi pasti ada kabar dari Mas Simin. Beberapa menit setelah adzan Mas Simin menelpon, memberikan kabar. 

“ Di, aku wes ngerti posisine, saiki aku neng Mushola Al-Iklas Desa C, jebule jarake gak adoh-adoh banget seko desa calon istrinya Agung,” ( “Di, aku sudah tahu posisinya, sekarang aku di Mushola Al-Iklas Desa C, ternyata gak jauh- jauh banget dari desa calon istrinya Agung”. ) 

“ Koe ndang kabari Agung ya, iki aku juga ngeyakinke wong-wong deso, soale podo gak percoyo nek dewe blasuk tekan njeru, jare salah siji warga deso, dalan ngarep ki longsor, sing iso mlaku mung truck, nek mobil bakalan susah, podo ga percoyo nek mobile dewe ngambah tekan njeru” 

( “kamu segera kabari Agung, aku sedang meyakinkan penduduk desa, karena mereka tidak percaya bahwa kita kesasar sampai ke dalam, kata salah satu penduduk desa, jalan depan terkena longsor, hanya truk yang bisa berjalan, kalau mobil pasti susah. Mereka tidak percaya mobil yang kita tumpangi berjalan sampai dalam”.)

“yowes aku solat sek ya, tak pateni telpone” ( “ya sudah, aku solat dulu, telpon aku matikan”) 

Aku melongo, mobil melewati jalan yang terkena longsor? Gak mungkin, kita tau sendiri jalan yang kita lewati jalang yang bagus, halus, mulus. Longsor? Lamunanku dibuyarkan oleh panggilan masuk dari Mas Agung 

“ Halo di, kondisi piye?”

“ Halo Mas, mas wes ngerti posisine mas, dewe mblasuk neng Desa C”

(Halo Mas, mas kami sudah tahu posisinya, kita kesasar dan kejebak di Desa C) 

Mas Agung seperti terdiam beberapa detik, lalu dia bilang

“Di dalan neng deso kui tugel jembatane keno tanah longsor, aku mau wes tekan kono, Cuma neng duwur jembatan tok, aku rak wani mudun, lagian nek maksa mudun, posisi mu urung jelas, yowes ditunggu, 

ono bantuan bakal teko seko desane calon bojoku.” (Di perjalanan menuju desa jembatannya rusak karena longsor, aku sudah sampai di sana, cuma di atas jembatan, aku gak berani turun, lagian jika memaksa turun, posisi mu tidak jelas. Ya sudah tunggu, akan segera datang bantuan dari desa calon istriku.”)

“oke Mas”

“ Yowes, aku wes gak bisa bantu opo-opo, aku kudu tetep neng umah, ngapurane aku gak iso niliki pas evakuasi” 

(“Yowes, aku tidak bisa membantu apa-apa, aku harus tinggal di rumah, maaf saya tidak bisa mengunjungi setelah evakuasi”). 

“gak papa Mas, maaf malah ngerepoti Mas “

“Gak popo di, jenenge musibah, sing penting ati-ati perjalanan muleh Tegal”

(“gak apa-apa di, namanya musibah, yang penting hati-hati dalam perjalanan pulang ke Tegal”)

“Aku tutup telpone ya di”

“oke Mas Agung” 

Mas Agung mengakhiri telponnya, seperti suara orang yang kelelahan dan kurang istirahat. Ngomong-ngomong masalah istirahat, badan juga sudah pegal-pegal. Tapi ya sudahlah, harus terus bertahan. 

Sinar matahari datang dengan malu-malu, pagi itu mendung setelah hujan gerimis semalam. Mas Simin akhirnya Kembali lagi ke mobil, membawa beberapa warga sekitar. Nampak raut wajah keheranan melihat mobil yang masuk kebun salak. Kata warga sekitar, kejadian ini baru mereka alami. 

Salah satu warga juga bercerita, desa mereka habis kena longsor saat awal tahun, banyak rumah penduduk hancur, dan jembatan penghubung ke kota juga rusak, terputus. Jalan satu-satunya membuat jalan darurat yang hanya bisa dilalui mobil besar dan truk besar. 

Kami diberi makanan ringan, seperti ketela rebus, gorengan dan juga teh panas untuk mengisi perut kami. Warga desa ini ramah-ramah. Tak lama berselang warga dari desa P, desa calon istri Mas Agung tiba, mereka naik mobil besar bertenaga diesel dengan bak terbuka. Setelah melakukan obrolan, kami semua sepakat mobil akan ditarik dengan tali tambang yang dikaitkan pada mobil besar. Percobaan pertama dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil, ban masih slip, beberapa warga mendorong dari samping, 

ada juga memberikan papan kayu pada ban agar mobil bisa bergerak, jalanan yang curam, tanah yang habus diguyur hujan, membuat semakin sulit proses evakuasi mobil. 

Percobaan kedua dan ketiga gagal, kita ganti menggunakan truck, tak jauh beda hasilnya sama saja, mobil masih tidak mau bergerak. Akhirnya ada seseorang yang berkata “wes, Tarik bae go tangan” (“sudah Tarik saja dengan tangan”). 

Percobaan terakhir dilakukan, ada skitar 25 orang bersiap menarik mobil tersebut, posisi mobil dibawah, tali tambang sudah di pegang semua orang, dari atas mereka menarik mobil pelan-pelan, sopir terus berusaha menggerakan mobil, ban terus berderit, bunyi mesin meraung-raung, 

pelan tapi pasti mobil mulai bergerak keatas, warga bahu membahu menariknya. Spion sebelah kiri kena pohon salak, terkena sangat telak, aneh rasanya waktu masuk jalan ini seperti tidak ada yang menghalangi, tapi saat mau keluar beberapa pohon posisinya sangat mepet dengan mobil. 

Ahkirnya mobil Kembali ke jalan utama, kami sangat berterima kasih kepada masyarakat desa yang sudah membantu proses evakuasi. Sebagai tanda terima kasih Mas Simin memberikan uang kepada salah satu warga desa, tapi semuanya menolak. 

Mereka sudah senang bisa membantu kami, mereka ikhlas melakukan semuanya. Setelah semua beres dan persiapan sudah selesai, kami semua pamit melanjutkan perjalanan pulang. Mobil dari desa P mengawal kami sampai jalan provinsi. 

Mobil desa P berjalan di depan, kami mengikutinya, selang beberapa menit perjalanan, kami merasakan jalanan yang benar-benar rusak, kami melihat jembatan yang putus seperti yang Mas Agung ceritakan tadi. Jalanan masih tanah dan banyak bebatuan. 

Mobil kami naik dengan susah payah, sampai akhirnya bisa Kembali ke jalan beraspal, jalan yang kami lewati banyak sekali lubang, kami melewati hutan pinus, dan terus turun ke bawah. Yang ada dalam pikiranku, aku yakin ini bukan jalan semalam, tidak seperti ini, 

aku tidak merasakan mobil posisi menanjak, mesin juga normal, pak sopir menginjak gas dengan stabil, seperti berkendara di jalan yang datar dan halus. 

Akhirnya sampai juga kami di jalan provinsi, rombongan pun sudah Kembali setelah mengantarkan kami. Kami berjalan pulang menuju Tegal, baru 20 menit perjalanan, kami diteriaki oleh banyak orang, beberapa pengendara motor juga menyuruh kami menepi. 

Ternyata ada sesuatu yang lepas di mobil kami. Roof rail / palang atas mobil bagian kanan lepas, perlu diperbaiki terlabih dahulu. Supir dan Pak Dhe Nduluk memperbaiki roof rail, aku dan Mas Simin istirahat, benar-benar lelah rasanya ingin sampai rumah, 

Mas Min juga kadang-kadang terlelap tidur, semalaman dia mencari informasi tentang posisi kami di desa yag tidak kami kenal. Akhirnya setelah 30 menit, roof rail terpasang rapi Kembali. Kami melanjutkan perjalanan, saat itu pagi sekitar ham 10 pagi kami sudah mulai lepas Banjarnegara menuju Purbalingga. Melewati jalan seperti saat berangkat, melewati pohon Randu Kembar lagi, bedanya saat ini siang hari. 

Tapi ada satu hal aneh yang saya rasakan saat itu, perjalanan pulang seperti lebih lama dari saat kami berengkat. 

Aku terbangun dari tidurku, mobil masih dalam keadaan berjalan. Tidak ada komunikasi antara kami berempat, semua kelelahan, kecuali satu orang Pak Supir. Aku pikir Mas Simin akan menggantikan Pak Supir ternyata tidak, dia masih mengendalikan laju kecepatan mobil sampai saat ini. 

Aku langsung melihat jam di layar handphone, waktu pada saat itu menunjukan hampir pukul 5 sore, yang benar saja, masa belum sampai. Aku melihat sekitar, rasanya tadi sudah melewati daerah ini. Bangunannya jalannya seperti berulang kali kami lewati. 

Tapi satu hal saat ini kami sudah sampai di Kota Tegal, tapi kenapa Pak Supir malah muter-muter? Akhirnya saya bangunkan Mas Simin, dari situ aku beri tahu info pada Mas Simin. 

Dalam keadaan yang sudah sangat lelah, Mas Simin menegur Pak Supir, seketika itu raut mukanya berubah, seperti orang yang kaget. Dari situ Mas Simin akhirnya mengarahkan mobil menuju rumah. Kami sampai rumah menjelang magrib. Aneh rasanya perjalanan yang kami tempuh awralnyanya membutuhkan waktu4-5 jam, saat pulang lebih dari itu. 

Kami semua lelah, duduk di teras rumah Mas Agung, dari dalam keluar Pak Dhe S, bapak dari Mas Agung. Kami disambut oleh keluarga Mas Agung, disuruh istirahat sebentar sebelum Kembali ke rumah kami masing-masing. Pak Dhe S tidak menanyakan kejadian kemarin, beliau Cuma bilang 

“ wes, sing wes kedaden, ojo dipikir jeru, sing penting slamet tekan omah, nek iso cerito iki ojo mbok ceritake sek, ojo ono sing mbuka, ben kesimpen ndisek ya, nganti rampung acara” 

(“Sudah, yang sudah terjadi jangan dipikir dalam-dalam, yang penting pulang dengan selamat, kalau bisa cerita ini jangan diceritakan, jangan dibuka, biar disimpan, sampai acara selesai”). 

Aku melihat pak supir tiba-tiba menggigil, Pak Dhe S langsung memberikan satu gelas air putih yang sudah diberi doa, setelah Pak Supir minum, dia jadi lebih tenang, wajahnya masih menunjukan ekspresi kebingungan, setiap diajak bicara gak pernah nyambung. 

Pak Dhe S bilang, Pak Supir orang yang paling awal kena, pertama di Randu Kembar, kedua di sekitar kebun salak arah masuk desa, demi keselamatan yang lainnya, Pak Dhe S menyarankan Pak Supir untuk istirahat terlebih dahulu. 

Pak Supir harus istirahat penuh, karena perlu waktu seminggu untuk memulihkan kondisinya seperti semula. Sore itu kami minum teh poci sambil mendengarkan cerita dari Pak Dhe S, beliau memberikan wejangan tentang rasa syukur akan kehidupan dan keselamatan yang sudah diberikan. 

Bisa saja mobil kami sudah terjun ke jurang, masuk sungai kami semua bisa saja tenggelam. Mungkin saja kami semua tidak bisa menghadiri pernikahan Mas Agung atau berkumpul dengan keluarga besar.

Akhirnya kami bisa pulang. 

Selesai 

Thread By @agungnurnugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *