RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

PASAPON “PERISTIWA KELAM YANG SANGAT TRAGIS”

Selamat malam, kali ini saya akan membawakan cerita yang sebenarnya sudah ingin sekali saya bagikan sejak tahun lalu. Tapi menunggu momen yang tepat 

dan saat ini adalah waktu terbaik untuk saya bagikan, karna betepatan dengan bulan suci Ramadhan yang akan berakhir menuju #lebaran dan ada kaitanya di waktu yang sama, walau tahun yang berbeda. 

Dipenghujung tahun lalu, teman saya memberikan informasi soal cerita yang menyeramkan via chat, awalnya saya abaikan, kemudian karna ada kalimat “Pasapon” dan “sangat tragis” 

akhirnya saya menanyakan siapa narasumbernya, lalu minta dihubungkan langsung via telepon dengan narasumber.

Ternyata narasumber adalah adik tingkatnya dulu di kampus, teman saya. Setelah bercerita via telepon, ternyata rasa penasaran saya berlanjut. 

Dan menentukan waktu untuk janjian, narasumber menyarankan untuk berkunjung ke rumahnya, karna lokasi yang diceritakan berhadapan dengan rumah narasumber. 

Menepuh perjalanan sekitar 3 jam lebih dari rumah, di hari yang sudah disepakati dengan narasumber saya tiba di lokasi dan bertemu langsung, kemudian bercerita dengan menghadap langsung, pada lokasi dimana terjadinya peristiwa kelam yang sangat tragis itu. 

———

“Pasapon” adalah perumpamaan sekolah dalam bahasa Sunda, atau lebih tepatnya dan umumnya penjaga sekolah atau petugas kebersihan sekolah. 

Ini adalah kisah nyata yang terjadi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada pihak manapun yang nantinya terlibat dalam cerita, mohon maaf sebelumnya, tidak ada maksud apapun, semoga bisa saling memahami tujuan cerita ini dibagikan.

——— 

Setelah sampai ditempat yang Yajid (narasumber) tentukan, saya melihat sekitar… tepat sekali mobil yang saya gunakan berada di sebrang Sekolah Dasar (SD), dan pasti ini adalah rumah Yajid sebelah kiri mobil dimana saya berhenti. 

“Jid, saya didepan ini pas sekali depan SD yg kamu sebut dan pasti rumah kamu yg warna kuning sebrang SD bgtkan yah” ucap saya di tlp

“iyah benar a, sebentar saya jalan kesitu ini lagi di warung sebelah” jawab Yajid 

Saya menghela nafas berkali-kali seolah tidak percaya apa yang pernah Yajid ceritakan sebelumnya, memperhatikan Sekolah Dasar itu lebih ke mengamati, masih tidak percaya. 

Kemudian saya turun dari mobil, memperhatikan jalananan belok, kemudian lurusan ini yang Yajid sebut di tlp “jalanan berdarah” 

Tidak lama dari arah lain, aku melihat lelaki yang sedang berjalan menuju arah saya dengan cepat langkahnya, saya pikir itu Yajid.

“aduh a maaf nunggu lama… aku Yajid a, ayo a disana aja sambil minum kopi ngobrolnya” ucap Yajid, sambil bersalaman 

“baik Jid ayo, Jid sebentar… SD dan Pasapon yang kamu ceritakan itu ini?” tanya saya sambil mengarahkan kepala ke arah sebrang jalan tepat SD itu berdiri

“iyah a itu, tepat sekalikan didepan rumah aku… 

…ayo a disini aja santai” jawab Yajid yg kemudian mengajak saya duduk diteras depan rumahnya 

Memang ketika sore hari seperti ini, sama sekali tidak akan menyangka, bahkan diluar nalar bahwa didepan saya duduk sekarang ada jalan raya yang sangat kencang kabarnya, bahkan bernama “jalanan berdarah” 

“jalan yang kamu maksud ini juga Jid? Sepertinya tidak terlalu sering kendaraan melintas kesini yah” tanya saya sambil menikmati yang Yajid sediakan

“iyah a ini, baru saja minggu kemarin sebelum magrib lah a, sama jam 10 han aku lupa dalam sekian jam 2 kecelakaan… 

…disana sebelum SD itu a, ada sarang walet itu” jawab Yajid menunjuk sambil berdiri, yang kemudian saya ikuti untuk melihat lokasinya

benar-benar saya dibuat heran, karna beberapa kali kendaraan motor ataupun mobil melaju tidak dengan kecepatan tinggi terbilang biasa saja. 

“Jid benar adanya, soal sosok yang sering muncul dan tragedi di SD sana, kenapa pada tahun itu tragedi setragis itu tidak pernah saya dengar yah?” tanya saya dengan serius menatap Yajid 

“benar a, jadi begini ceritanya lengkapnya…” ucap Yajid dengan sangat antusias

– Sudut pandang Yajid (nama samaran narasumber) –

Sebagai saksi terjadinya peristiwa kelam, yang sangat tragis, Pasapon! 

Tempat dimana aku tinggal kadang membuat aku sedikit heran, mendapatkan julukan dari orang-orang luar Kecamatan aku sebagai daerah yang kental akan “agama” 

tetapi urusan yang berkaitan dengan Urban Legend masih saja dikembangkan bahkan sering diiyahkan begitu saja, untuk berkembang dan menyebar luas secara turun-temurun. 

Horror dan Misteri seolah menjadi bahan yang tidak ada habisnya untuk diobrolkan ditiap atau dimanapun aku berada, karna satu hal, rumahku tepat dan dekat sekali dengan beberapa kejadian yang mengerikan itu. 

Dan tentu beberapa pertanyaan “apakah benar Jid?”, “Jid kemarin ada kecelakaan yah depan ruma?h” atau banyak lagi pertanyaan yang lebih tidak penting dari pada bertanya kabar.

——— 

Agustus 2011, bulan ini sudah memasuki Ramadhan, bulan dimana untuk usiaku adalah bulan waktunya berkumpul dengan teman-teman untuk melalukan aktivitas yang biasanya tiap tahun di bulan Ramadhan selalu dilakukan 

bermain bola tengah malam! Kemudian membangunkan orang-orang untuk melakukan sahur!

Apalagi urusan sekolah dalam satu bulan ini, aku tidak akan full, sekolah lebih banyak libur, padahal aku baru saja kelas XI disalah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di kecamatan tetangga. 

Karna ke kota lumayan jauh sekitar 1 jam lagi.

Biasanya juga, mang Pepep, Pasapon sekolah Sd depan rumahku yang akan sibuk menegor teman-temanku untuk bermain di lapangan Sd saja dari pada di jalan, takutnya tiba-tiba terjadi kecelakaan. 

Tapi memang kalau malam hari jarang sekali bisa dikatakan tidak ada yang melintas ke jalan raya sebrang rumah itu. Entah kenapa, semuanya memang terasa janggal, jika berkaitan dengan banyaknya korban secara telanjang mata melihat. 

Tapi memang kalau malam hari jarang sekali bisa dikatakan tidak ada yang melintas ke jalan raya sebrang rumah itu. Entah kenapa, semuanya memang terasa janggal, jika berkaitan dengan banyaknya korban secara telanjang mata melihat. 

Tapi sebentar! Yang berkembang turun-temurun ceritanya selalu ada sosok perempuan bernama si merah yang selalu disebut tiap terjadinya kecelakaan maut atau berdarah itu!

*** 

“Jid denger Umi yah, puasa kali ini umi gak mau tau, jangan main bola dijalan itu, kaya gak tau aja sudah banyak kejadiankan disitu?” ucap Umi

“tapi mi…” jawabku mengelak 

“kasian mang Pepep, kemarin waktu dia sebelum bulan puasa ngasih Pot bunga seperti biasa, katanya menuju puasa suka was-was sama anak-anak disini yg suka main bola di jalan” ucap Umi perlahan 

“iyah Umi, engga kok lagian udh bbrapa hari skrng puasa juga Yajid engga kemana-mana kan mlm nya d rumah terus” ucapku mengeles

Padahal memang puasa tahun ini baru saja memasuki hari kedua saja. 

Padahal memang puasa tahun ini baru saja memasuki hari kedua saja. Padahal kemarin teman-temanku Ocol, Opik, Deden, Bajing, Bayu dan Dewo sudah memepersiapkan semuanya termasuk alat-alat yg nantinya akan digunakan untuk membangunkan orang-orang sahur. 

Setelah percakapan dengan Umi sore hari ini, aku sedang duduk di ruangan tengah melihat ke arah jendela, melihat mang Pepep sedang menyapu SD 

wajar sekali pikirku karna daun-daun yang jatuh dari pohon besar dekat ruangan kepala sekolah itu memang dari dulu jaman aku sekolah di SD itu, sudah begitu. 

Segera aku keluar rumah, menyebrang jalan, dengan lalu lintas yang memang tidak biasanya padat seperti ini.

“mang nyapu terus nih…” ucapku menyapa mang Pepep

“eh Jid, sini, ini sekalian bawa lagi Pot buat Umi tar yah, biasa siswa-siswi banyak sekali ini.” ucap mang Pepep 

“siap gampang, mang malem kayanya dibulan puasa ini, anak-anak mau pada maen bola deh” ucapku pelan sambil duduk

“disana aja Jid, lagian SD jarang amang kunci, kayanya kalau libur sekolah gini, amang bakalan tiap hari tidur disini” jawab mang Pepep 

Iyah juga pikirku, walau sekolah dasar (SD) tapi banyak bgt barang-barang yang berharga kepentingan murid melaksanakan pembelajaran nantinya, lagian soal keamanan ditempat sekarang aku tinggal, terbilang baik, walau aku tidak bilang sangat baik. 

“seperti taun taun lalu kali yah mang?” tanyaku

“iyah palingan sahur pulang sebentar kalau engga, si Wildan suruh ngaterin makanan kesini” jawab mang Pepep 

Rumah mang Pepep dari SD tidak terlalu jauh, kalau berjalan kaki tidak lebih dari 15 menit dan Wildan adalah anaknya yg paling besar seumuran dengaku, walau berbeda sekolahnya. 

Sedang serius-seriusnya ngobrol sekitar 25 menit lagi menuju buka puasa, terdengar suara motor dengan suara yang melaju sangat kencang sekali, tiba-tiba suaranya hilang begitu saja.

“nah mang…” ucapku sambil bangkit dari tempat duduk 

“udah pasti Jid itumah” jawab mang Pepep yang kemudian dengaku berjalan menuju jalan raya

Dan benar saja tidak jauh dari aku melihat, sudah ada beberapa warga disebelah bangunan SD yang sedang membantu kecelakaan itu, dan tidak lama satu persatu warga juga membantu. 

“sudah jid, sebentar lagi buka puasa, ayo sini bawa nih Pot buat Umi ke rumah” ajak mang Pepep yang kemudian masuk lagi ke dalam sekolah

“ah mang sudah tidak aneh yah kecelakaan di jalan ini, dari aku mulai aku masih SD dan sekolah disini udah ada aja” ucapku pelan 

“Yajid aja sudah selama itu… apalagi amang yang sudah berapa puluh tahun kerja jadi Pasapon di sekolah ini” jawab mang Pepep

“berapa emang mang?” tanyaku, memang tentang mang Pepep sudah berapa lama sebagai Pasapon di sekolah SD ini pernah terlintas dipikiranku 

Tidak lama, baru saja selsai membereskan pot yang akan aku bawa ke rumah, tiba-tiba dari gerbang terlihat bi Ida.

“Pep… Pepep…” teriak bi Ida

“iyah bi gimana?” jawab mang Pepep, kemudian aku mengikuti sekalian pulang ke rumah 

“ini bibi barusan beli buat buka puasa, kirain aja kamu buka di sekolah, barusan beli disana…” ucap bi Ida sambil menunjuk ke arah bekas kecelakaan

“bibi liat yg kecelakaan barusan?” tanyaku

“liat Jid, tapi gtu langsung dibawa ke mana gtu, kasian darahnya banyak bgt… 

…orang-orang bilang untung tidak meninggal ditempat dan masih selamat” jawab bi Ida menjelaskan

Bi Ida cerita, motor itu melaju kecang dan menabrak motor lain di arah yang berbeda, yang akan menyalip mobil, hitungan detik, terjadi adu Domba (istikah kecelakaan) 

dan kedua korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

Setelah bi Ida pergi, kemudian aku masih saja sempat bertanya pada mang Pepep

“si merah?” tanyaku

“sebelum puasa kemarin Jid, disini nih jam 2 malam gtu, amang ke Wc kebetulan amang nginap disini… 

…ada tiba-tiba motor kepinggir jatuh gtu, pas amang bantuin dan tanya kirain amang mengantuk, eh melihat sosok disini pas sekali kita berdiri Jid” ucap mang Pepep menjelaskan 

Setelah penjelasan itu, kumadang Adzan Magrib hadir, segera aku menyebrang dan menuju rumah untuk berbuka Puasa. Aku sama sekali tidak peduli dengan sosok si merah, aku lebih peduli dengan malam ini, bakalan menjadi malam yang sudah tiap tahun hampir ditunggu teman-temanku 

Berjalan menuju Masjid, setelah buka puasa untuk melaksanakan Tarawih terlihat anak-anak sudah berkumpul.

“oyy Jid malam ini jadi kita main bolanya aku sudah bawa” ucap Ocol

“wah bagus itu Col! Bedug buat keliling juga sudah ada?” tanyaku 

“udah Jid kemarin aku sudah Ijin sama Hj” jawab Deden

Aku, Dewo dan Bayu yang seumuran sisanya Ocol, Opik, Deden dan Bajing yang paling tua atau jauh diatas aku. Setelah Tarawih biasanya semuanya kumpul didepan rumah aku, ada teras yang memang benar-benar nyaman. 

Tidak lama sekitar jam 9 malam anak-anak sudah kumpul semua, dan terlihat mang Pepep dari kejauhan berjalan ke arah aku berkumpul

“col… nih malem mau pada maen bola di SD aja didalem, jgn di jalan yah…” ucap mang Pepep 

“iyah mang kalau masih rame jalan pasti didalam” jawab Ocol singkat

“lagian amang khawatir baru aja tdi sore kan ada kecelakaan disana” jawab mang Pepep

“iyah mang orang Deden yg bantu beresin motornya” jawab Deden, yang selalu aku anggap tuakan karna memang beda umur denganku 

Tidak lama akhirnya Umi membawakan kami es buah-buahan untuk menemani aku dan teman-teman lainya mengobrol, begitu juga mang Pepep yang tidak lama masuk lagi ke dalam sekolah.

“mang Pepep biasanya kalau libur sekolah gini suka nginep terus yah disana?” tanya Bajing 

“iyah Jing barusan sore aku ngobrol emang gtu dengan mang Pepep, lagian siapa lagi kalau buka dia Jing” jawabku

Setiap obrolan dengan anak-anak, hal-hal yang berbau horror selalu menjadi obrolan yang tidak pernah ada selsainya, 

satu kejadian disangkut pautkan dengan kejadian lainya, selalu menjadi bahasan menarik sampai jam per jam dilalui tanpa terasa sama sekali.

Kemudian semua terhenti ketika Deden bertanya soal “jalanan berdarah” dan sosok-sosk lainya yang sudah menjadi omongan turun-temurun 

menyebar dari mulut ke mulut bertahun-tahun lamanya.

“apa mang Pepep tidak takut yah, sudah lama kalau nginep disekolah” tanya Dewo yang masih polos umurnya dibawah aku

“kenpa harus takut Wo?” tanyaku 

“kan Rumah kosong belakang sekolah itu kalian juga tau ceritanya seperti apa?” jawab Dewo

“itu hanya cerita Wo selama kita sering kesana biasa ajakan” jawab Ocol

Karna memang soal cerita yang berkembang begitu saja akan menjadi simpang siur, pikirku. 

Akhirnya malam dimana yang kita tunggu tiba, jalanan sudah sangat sepi. Permainan dimulai dengan membagi rata tim. Pemainan sepak bola jalanan adalah hal yang sangat menyenangkan apalgi ditengah malam pada bulan puasa ini.

Sedang asik-asiknya bermain. 

“Jid…” teriak mang Pepep

Seketika permainan berhenti, memang wajar permainan tepat sekali didepan sekolah, pikirku mang Pepep merasa terganggu karna suara dari anak-anak. 

“gimana mang” jawabku sambil mendekat mang Pepep

“didalam aja, amang khawatir tar ada apa-apa coba” jawab mang Pepep

“aman mang lagian jalanan sepi kok” jawabku 

Akhirnya mang Pepep hanya duduk memperhatikan aku dan anak-anak bermain, dalam pikirku memang mang Pepep orang yang sangat baik hanya urusan sepakbola saja dia sebegitu khawatirnya, apalagi soal tanggung jawab dia mungkin kalau terjadi apa-apa dia yang bakalan disalahkan.

*** 

Sesekali, aku melihat ke arah mang Pepep yang masih saja duduk ditempat yang sama, hanya menghabiskan berbatang-batang rokok, sambil memperhatikan kami. Aku pikir, kecemasan mang Pepep memang benar-benar sangat cemas 

Bahkan mang Pepep juga yang menyediakan aku dan teman-teman air minum. Malam ini, permainan tidak tanggung sampai jam 02:00 lebih baru selsai, karna seru sekali, yang membuat aku sedikit heran, selama permainan sepak bola dijalanan ini, tidak ada satupun kendaraan yang melintas. 

Selsai permainan malam ini, segera aku pamit pada mang Pepep untuk membangunkan orang-orang sahur, berkeliling melewati rumah warga adalah kesenangan tersendiri bisa menjadi alarm untuk mereka. 

Sampai di rumah untuk melaksanakan sahur, aku sudah punya perasaan tidak enak karna tatapan Umi sepertinya marah padaku.

“Jid apa kamu sama temen-temen itu gak kasian sama mang Pepep, masa mau setiap malam kalau pada main bola harus ditungguin gtu sih?” ucap Umi heran 

“ya engga gtu Mi… lagian tadi jalanan sepi bgt ko, beneran deh” jawabku singkat

Aku rasa semua orang tua punya kecemasan tersendiri untuk anaknya, mungkin, cara penyampaiannya saja yg berbeda, karna Umi selalu membahas soal kebiasaan di malam bulan Ramadhan terus menerus.

*** 

Sampai hari ke 10 bulan Ramadhan tahun ini, di bulan Agustus, kebiasaan aku hampir tiap malam melakukan hal yang sama, hanya 1 atau 2 hari saja bersama mereka, tidak melakukan sepak bola dijalan depan SD 

Setelah buka puasa hari ini, seperti biasa juga, aku berjalan menuju Masjid untuk teraweh, melewati depan rumah bi Ida.

“Jid heh sini dulu coba…” teriak bi Ida

“yeh, kaget segala teriak-terika sih bibi ini ah…” jawabku 

“iyah makanya kesini dlu duduk Jid” ucap bi Ida yg menarik untuk aku segera duduk

Akhirnya aku duduk di depan rumah bi Ida, yang memang rumah bi Ida tepat sekali di samping bangunan SD 

“kemarin 2 hari yg lalu bapak kan plng agak malem, terus heran katanya gak ada anak-anak tumben, tapi bapak liat ada orang berdua yang bulak-balik memperhatikan SD” ucap bi Ida

“maksudnya bi? Memperhatikan? Mencurigakan, gitu kali maksudnya?” jawabku 

Bi Ida kelihatan sekali khawatir, karna memang didaerah tempatku terbilang ramai-ramai saja karna samping jalan raya, tapi entah kenapa dari muka dan ucapanya benar-benar khawatir.

“nanti aku sampaikan bi ke temen2 soal hal yg mencurigakan itu” ucapku kemudian pamit 

Setelah selasai teraweh malam ini, semua seperti biasa berkumpul didepan rumah, semua anak satu sama lain menanggapi apa yang aku katakan soal informasi yang aku dapat dari bi Ida

“aku yakin sih bener Jid, soalnya hampir setiap harikan, tiap malam kumpul, main bola… 

…keliling warga, mungkin saat kita gak ada, kesempatan buat orang itu buat mengintai” jawab Deden menjelaskan

“mengintai bagaimana Den, ko langsung nuduh gtu…” jawab Ocol heran 

“mungkin maksud Deden, karna biasanya ramai tiap malam pas kita gak disini malem itu mereka jadi bisa melihat sekitar gtu Col” sahut Bajing

Iyah aku setuju dengan apa yang mereka bicarakan, walau semuanya masih berbentuk tuduhan saja. 

Malam ini, akhirnya hanya mengobrol saja, soal kecurigaan-kecurigaan yang berkaitan dengan apa yang telah bi Ida informasikan kepadaku saja.

“apa tujuanya sekolah?” tanya Ocol, seperti repleks dengan muka datar 

“bisa jadi Col, soalnya didalemkan ada komputer dll, yang bisa diambil” jawabku hanya menebak saja

“tidak mungkin dong Jid, kan ada mang Pepep yang jaga, lagian mang Pepep kan selalu tidur didalam sana” jawab Opik, sambil menunjuk dimana biasa mang Pepep tidur 

Iyah juga pikirku, mang Pepep kan selalu tidur diruangan guru-guru yang langsung menyatu dengan ruangan komputer. Tapi apa tujuan orang itu mengintai daerah dekat rumahku, karna sebelumnya aman-aman saja tidak pernah ada kejadian apapun. 

Malam semakin berlanjut, oborlan dengan teman-temanku selalu tidak ada hentinya, dari hal satu menyambung dengan hal lain adalah kehangatan tersendiri. “Waspada” hal itu yang Deden bilang beberapa kali. 

Setelah berkeliling membangunkan sahur, segera aku pulang ke rumah.

“Jid sebelum makan, antar ini makanan ke mang Pepep, kasian tktnya si wildan engga ngaterin makan.” Ucap umi 

Segera aku keluar lagi rumah, berjalan menuju jalan raya yang sepi, dari kejauhan benar sekali mang Pepep baru keluar dari ruangan guru itu.

“mang…” teriaku, sambil berjalan mendekat

“iyah Jid, aduh segala bawa apaan itu… pasti disuruh Umi yah kamu?” tanya mang Pepep 

“iyah nih mang, makanan buat sahur” jawabku

“baru saja amang mau pulang ini, si wildan kayanya gak nganterin makanan kesiangan, eh kok tumben tadi gak pada main bola, sengaja sama amang gerbang jarang di kunci Jid” sahut mang Pepep 

“eh bi Ida emang belum cerita mang?” tanyaku

“cerita apa, amang belum ketemu lagi Jid?” jawab mang Pepep

“kemaren malem katanya bapak pulang ke rumah suaminya bu Ida, ngeliat ada orang yang mencurigakan gtu mang, tumbenan bgtkan.” Ucapku pelan 

Mang Pepep hanya menanggapinya becanda saja, dengan alasan mungkin itu orang iseng saja, karna memang pikirku juga tidak mungkin ada apa-apa daerah tempatku tinggal, tidak pernah ada kejadian apapun. 

Setelah obrolan singkat itu, segera aku masuk lagi kedalam rumah untuk sahur. Tidak ada pikiran apapun. Malah penasaran saja jika memang apa yang dikatakan suami bu Ida itu benar, apa juga tujuanya.

*** 

Sekarang sudah memasuki hari ke 14 bulan Ramdahan. Semua berjalan normal, kegiatanku itu-itu saja tidak ada yang menarik pada siang hari hanya malam hari saja kehidupanku berbalik penuh dengan permainan dan canda tawa. 

Walau seperti biasa mang Pepep selalu saja menegur ketika bermain bola di jalan, kadang pikirku, apa sebuah kehawatiran tidak mengenal lelah. 

Selepas teraweh, Deden bilang Ocol sakit, memang sudah dari kemarin Ocol tidak keliatan, akhirnya kita semua setuju malam ini untuk ke menjenguk Ocol ke rumahnya, yang tidak terlalu jauh dari rumah aku. Palingan jalan kaki sekitar 10 menit kurang. 

Selsai menjenguk Ocol, karna sama halnya kebiasan di teras rumahku, kebanyakan mengobrol saja, segera aku pulang sekitar jam 12 malam berjalan kaki sendiri berpisah dengan teman-teman yang lain.

Melewati rumah bi Ida, kebetulan pak Yayan memangilku, suaminya bu Ida. 

“Jid sini…” ucap pak Yayan

“iyah pak gimana?” jawabku yang masih heran

“kenapa tumben anak-anak tidak kumpul didepan rumah kamu d teras itu?” tanya pak Yayan tegang

“Itu si Ocol sakit pak, baru pulang ngejenguk aku juga ini, kenapa gitu pak?” tanyaku semakin heran 

“Gini Jid barusanlah jam 11 baru pulang sama ibu, eh tepat sekali didepan rumah kamu, orang yang pernah bapak liat mencurigakan itu ada lagi, sampe ibu juga khawatir…” Jawab pak Yayan 

Aku masih saja belum paham maksud pak Yayan ini, karna masih kaget dan tumben pak Yayan jam segini masih diluar rumah.

“iyah bibi pernah cerita udah bbrapa hari kebelakang gtu pak, orang yang sama pak?” tanyaku 

“iyah, orangnya percis, itu orang yang sama yang pernah bapak liat sebelumnya, makanya bapak gak bisa tenang takut terjadi apa-apa, yasudah, besok gpplah kumpul sama main bola lagi juga didepan rumah kamu itu, siapa tau kalau begitu jadi ramaikan tiap malam” jawab pak Yayan 

Kemudian aku segera berjalan cepat, penasaran apakah masih ada orang yang mencurigakan itu, melihat dari kejauhan kedepan rumah sama sekali tidak ada orang. Yang sangat membuat aku khawatir adalah Umi. 

Sampai di rumah tidak sama sekali aku membahas apa yang sudah pak Yayan sampaikan, Umi hanya heran baru jam segini aku sudah di rumah saja.

Sekarang, aku semakin penasaran siapa orang itu, dan besok sore atau selepas teraweh aku harus bilang hal ini pada temen-temen semua.

*** 

Hari ke 15 bulan Ramadhan, dengan segala yang aku dengar dari pak Yayan dan bu Ida tentang informasi malam kemarin, selepas teraweh aku kumpul kembali didepan teras, yang untungnya Ocol juga sudah sembuh dari sakitnya. 

Setelah menceritakan kembali apa yang dikatakan pak Yayan kepadaku, semua teman-teman, yang ada menjadi hening, heran dan merasa aneh, dengan pertanyaan yang sama. 

“oke kalau begitu, sampai malam takbiran kita harus siaga, gpp kalau tidak main bola juga kita semua disini aja diam, siapa tau bakalan kembali lagi orang itu” ucap Deden 

Semua setuju dengan apa yang Deden katakan, setelah obrolan itu dilanjutkan dengan obrolan lain, sampai tiba waktunya untuk bermain bola sekitar jam 01:00 permainan dimulai dengan sangat seru, teman-teman semua aku lihat sangat menikmati permainan ini. 

“Jid tumben yah mang Pepep engga keluar…” tanya Dewo

“bntr lagi juga keluar Wo yakin aku, kalau engga, tidur kali…” jawabku singkat 

Malam ini banyak kejadian lucu dalam permainan, tidak jarang tertawa sangat kencang sekali, benar-benar berisik sekali, mungkin malam inilah yg menjadi malam paling seru. 

Aku mendengar suara teriakan sangat kencang… dan kemudian lampu SD mati begitu saja… membuat aku dan semuanya yg sedang bermain tiba-tiba diam, mematung!

Hanya hitungan detik saja, kurang dari satu menit, kemudian nyala lagi.

Wowo jelas sekali didekatku. 

“wo denger kek orang teriak gtu engga barusan?” tanyaku

“engga Jid, teriak gimana?” jawab Dewo

“Ayo mulai lagi, palingan itu aliran listrik aja…. palingan mang Pepep bentar lagi juga keluar” ucap Ocol sangat antusias menikmati permainan 

Memang permainan sedang seru-serunya, apalagi jalanan hampir tiap malam selalu kosong. Perasaanku sedikit tidak enak, tapi apa yang dikatakan Ocol ada benarnya juga. 

Selsai bermain bola, seperti biasa semuanya langsung membangunkan orang-orang untuk sahur. Sambil berjalan membangunkan, perasaanku tetap tidak enak.

“Den kenapa yah, tumben tadi lampu Sd kaya gtu, soalnya aku sebelum lampu itu mati, denger teriakan” ucapku penuh heran 

“teriakan gimana aku sama yg lain engga denger Jid, itu pendengaran kamu aja kali, soal listrik bener td kata Ocol aliran saja itu, kalau ada apa-apa juga masa iyah kitakan rame bgt tadi Jid” jawab Deden menjelaskan 

Aku bisa menerima apa yang Deden jelaskan, tapi seperti ada yang menganjal saja, malah semakin aku pikirkan kenapa-kenapanya kejadian beberapa detik itu, semakin mengarah ke hal-hal gaib, heran. 

Setelah selsai dengan teman-teman segera aku pulang, didepan SD aku berhenti sebentar, aku perhatikan baik-baik sama sekali tidak ada yang aneh, mungkin yang aneh iyah pendengaran aku saja.

“mi ada makanan lagi buat mang Pepep? Sini aku anterin dulu sebelum aku makan” tanyaku 

“engga Jid, kemarin siang sambil nganterin wadah bekas makanan yg kamu anter, mang Pepep bilang gk enak segala dianterin kalau si Wildan gak nganterin makanan, katanya ntr kesini aja ngambil” jawab Umi

“iyah padahal sahur disini aja kaya sama siapa aja mang Pepep tuh” jawabku 

Karna mungkin sudah kenal lama semenjak aku kecil disini dengan keluargaku, sebegitu dekatnya, apalagi setelah Ayah kerja diluar kota, kalau ada kebutuhan yang memerlukan tenaga orang dewasa, pasti mang Pepep yang diandalkan Umi.

*** 

Hari ke 16 bulan Ramadhan, tumben sekali aku bangun waktu Dzuhur, dan susah sekali tidur. Berpindah tempat ke ruang tengah mencari posisi yang benar-benar nyaman.

“Jid barusan bi Ida kesini, ngasih kolak buat buka, terus ngomongin soal pernah ada orang mencurigakan… 

…kenapa kamu gak bilang sama Umi, terus kata bi Ida tumben pas lewat pagi tadi ke Sd mang Pepep gak ada” ucap Umi menjelaskan 

“Oh soal itu Mi, gpp Mi, kenapa Yajid gak bilang kan aman-aman aja, Yajid gak mau bikin Umi nantinya khawatir berlebihan saja Mi, pulang dulu kali mang Pepep ke rumahnya atau ada perlu mungkin” jawabku perlahan 

Siang menuju sore, berjalan cepat begitu saja, hanya menonton tv sambil tiduran waktu tidak terasa sudah sangat sore sekitar jam 16:30 lebih. Karna jenuh, aku keluar rumah dan duduk diteras sendiri. 

Pikirku, palingan sebentar lagi mang Pepep keluar, pasti mengajak ngobrol aku, apa aku ke SD aja siapa tau udah pulang mang Pepep nya. 

Baru saja berdiri, akan ke SD, Umi sudah memanggilku untuk membantu mengupas kelapa, tujuanku ke mang Pepep aku urungkan begitu saja dan langsung mengupas kelapa didepan rumah. 

Sedang duduk santai dengan Umi, menunggu waktu buka puasa, karna tinggal beberapa menit lagi.

“tuh si wildan, berarti mang Pepep ada didalam Jid, kasian entar anterin kolak yah, kayanya buka disitu bareng anaknya, Umi siapkan dulu takut keburu buka.” Ucap Umi 

“iyah mi, lagian banyak juga itu kolaknya” jawabku yang kemudian sudah diluar rumah menunggu Umi

Baru saja berdiri didepan rumah, aku melihat Wildan berlari… sambil teriak… 

“tolonggggg…. tolongggg… tolong…” teriak Wildan keras

Segera aku berlari begitu, saja karna melihat segitunya Wildan teriak yang sontak membuat aku langsung menyebrang jalan dan mendekat pada Wildan

“Wil… kenapa-kenapa ada apa?” tanyaku terbawa tidak tenang 

“itu Jid bapak, bapak…bapak…” jawab Wildan sambil menunjuk ke pintu, Ruang dimana mang Pepep sering beristirahat dengan bergetar

“Iyah kenapa mang Pepep? kaget aku…” ucapku sambil berjalan dengan Wildan menuju ruangan guru ini 

Deg!!! Aku di buat mematung! Kaget! Dengan apa yang aku lihat…

dibarengin dengan suara kumandang Adzan Magrib

“Wil angkat matrasnya cepat!” jawabku yang sudah mencucurkan air mata dengan sangat tidak tenang 

Badan mang Pepep tertutup matras untuk olahraga siswa-siswi SD… sementara yang aku lihat pertama adalah bagian kepalanya sudah berdarah, diantara bibirnya sudah diikat oleh kain yg sudah penuh dengan warna merah darah yang mulai kering! 

Setelah wildan berusaha mengangkat Matras, akhirnya badan mang Pepep terlihat, dan disini aku hanya bisa terdiam melihat seolah mata aku sendiri tidak percaya dengan apa yang ada dihadapanku sekarang. 

“jid…gimana ini…” ucap Wildan sambil tidak berhenti air matanya keluar

“kamu ke rumah panggil umi cepat biar aku tunggu disini!” jawabku gemeteran dan air mata terus mengalir

Segera Wildan berjalan keluar dengan cepat… 

Aku masih memandangi mang Pepep dengan melamun, posisinya badanya tengkurap, tanpa banyak pikir, aku balikan badan mang Pepep dan ini hal kedua aku dibuat kaget, sangat kaget! Kaki diikat dan tanganya terikat ke belakang, bagian perut seperti ada bekas tusukan. 

Karna sangat tidak tega melihat bagian kaki yang terikat dengan posisi seperti itu, aku segera melepaskan ikatan kaki.

Baju putih yang mang Pepep gunakan, sudah tidak jelas, bercampur dengan merah darah dan coklat. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan. 

Tidak lama Umi datang dengan Wildan

“inalillahi… ya allah…” teriak Umi

Yang seolah sama denganku tidak percaya dengan apa yang Umi lihat didepan matanya, tidak lama bi Ida dan Bapak datang sama kagetnya. 

Susana diruangan ini sudah tidak bisa aku gambarkan dengan jelas, gemeteran dan tidak tega kemudian air mata yang terus mengalir begitu saja.

“Jid sudah jangan ada yang menyentuh dulu Jasad Pepep, sambil bapak tlp polisi” ucap pak Yayan tegas sambil gemetaran 

“aku sudah balikan mang Pepep, awalnya tengkurap pak, terus aku lepas ikatan di kakinya, karna repleks dan bingung pak” jawabku pasrah begitu saja

“yasudah tidak apa-apa, udah biarkan saja dulu, semua urusan pihak berwajib” sahut pak Yayan 

Tidak lama sambil menunggu pihak berwajib tiba, warga sudah ada beberapa berkumpul, aku didalam hanya melihat sekeliling dekat dimana Jasad mang Pepep berada, warna darah yang sudah mulai kering berceceran di tembok dan di pintu. 

Aku melihat wildan hanya menangis terus menerus dipelukan Umi, aku sudah bingung dan masih gemeteran dengan yang terjadi saat ini.

Kurang dari 30 menit pihak berwajib datang, dan langsung mengambil tindakan cepat. Warga sekitar makin banyak berkumpul hampir memenuhi SD ini 

Aku masih saja diam tidak bisa bicara sepatah katapun.

“Jid yang pertama tau siapa” tanya Deden

“wildan… kemudian aku mendekat dan sudah seperti ini Den” jawabku terbata-bata 

Bahkan aku tidak menyadari, semua teman-teman sudah ada didekatku, evakuasi tidak sebentar lumayan memakan waktu, setelah diatasi pihak berwajib aku sudah tidak melihat jasad mang Pepep lagi. 

Waktu solat Isya berlalu begitu saja, malam semakin datang dengan caranya, yang membuat aku dan bayangan yang barusan terjadi masih saja ada dalam pikiranku. 

Setelah evakuasi dan ambulance tiba, jasad mang Pepep dibawa dan garis kuning police line sudah terpasang, satu persatu warga membubarkan diri begitu saja. 

Banyak omongan yang menyesalkan kejadian tragis ini terjadi, apalagi hampir semua omongan yang aku dengar tentang kebaikan sosok mang Pepep

Aku dan teman-teman akhirnya duduk diteras biasa, bagunanan SD yang aku perhatikan seketika berubah menjadi mencekam… 

Suasana malam dengan bagunanan penuh garis police line itu seperti memberitahu semua yang melihat telah terjadi kejadian tragis hari ini, di bulan Ramadhan.

*** 

“siapa yang tega melakukan itu yah Jid” tanya Dewo

“tidak tau Wo aku masih tidak bisa ngomong apapun” jawabku

“apa yang pernah bi Ida dan pak Yayan katakan malam sebelumnya yah, pelakunya?” tanya Ocol 

“sudah Col, jangan dlu menebak jadinya entar fitnah Col, kita tunggu aja gimana pihak berwajid” jawab Deden

Obrolan malam ini hanya tentang kenanangan dan tuduhan-tuduhan, soal kejadian yang menimpa mang Pepep. 

Masih tidak percaya hanya itu yang terlintas benaku, mungkin juga teman-teman semua.

Umi ikut dengan pihak berwajib, dengan keluarga mang Pepep dan Wildan 

karna yang aku tau dan semakin sakit hati, Istri mang Pepep kerja diluar negeri sebagai PRT entah nanti gimana keluarga mengabarinya soal kejadian ini, tidak terbayang olehku. 

Tidak lama sekitar jam 22:00 Umi sudah pulang, dan kasih kabar didepan teman-teman, jasad almarhum akan di kembumikan malam ini juga, karna permintaan pihak keluarga dll 

Dari raut muka Umi juga sama terlihat masih tidak percaya, apalagi kata Umi setelah mengabari Ayah yg tidak bisa pulang mendadak, aku pikir apalagi Ayah yang begitu sangat dekat dengan mang Pepep 

Tidak lama umi masuk ke dalam Rumah, sebelum hari berganti, suara ambulance sudah terdengar dari kejauhan, segera aku dan teman-teman menuju rumah almarhum mang Pepep. 

Benar saja, jasad yang baru beberapa jam kebelakang aku lihat langsung dengan mataku sendiri, sudah terbungkus kain kapan yang rapih, walau (maaf) bagian kepala masih terlihat merah, karna yang aku lihat sebelumya sangat tragis bekasnya itu. 

Mungkin itulah alasan almarhum akan di makamkan cepat malam ini juga, tidak lama hanya sekitar 30 menitan silih berganti warga melayat, akhirnya jenazah dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya, dengan diantar begitu banyak sekali orang. 

Suasana haru, mengantar kepergian mang Pepep untuk yang terakhir kalinya malam ini, aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi selain diam dan biarlah air mata yang memberikan jawaban atas kepergian sosok yang aku kenal dekat ini. 

“dari tanah menuju tanah” ucapku dalam hati, sambil memperhatikan tanah semakin menutup tempat peristirahatan mang Pepep.

*** 

Setelah pemakanan selsai, anak-anak dan tentunya aku pulang ke rumah, karna kata Deden tidak etis rasanya dalam suasana seperti ini kita masih berkumpul. 

Sampai di rumah aku lihat Umi sudah tertidur lelap, jendela dan hordeng rumah masih terbuka, segera aku tutup. Sebelum menutup hordeng aku memandang ke arah bangunan SD itu dengan perasaan sedih sekali. 

Walau aku sempat kesal dengan perkataan yg aku dengar soal “kematian yang tragis jasadnya akan tidak tenang bahkan gentayangan” aku benar-benar sama sekali tidak setuju!

Melihat SD, dengan lampu menyala putih dan ada garis kuning police line membuat aku semakin tidak percaya. 

Segera menuju kamar, untuk tidur, banyangan tentang bagiamana sore tadi menuju waktu Magrib membuat aku susah sekali mengajak mata ini untuk tidur. 

Aku masih ingat bagaimana pertama kali, melihat mang Pepep, bukan maksud menyakiti sosok almarhum lebih kepada tidak tega, akhir hidup seseorang yang baik berkahir tidak baik, walau aku paham kematian punya Misteri tersendiri, yang dia akan datang kapanpun dengan cara apapun. 

Akhirnya aku tidur di ruang tengah, sambil melihat Tv, apa yang aku lihat tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan dan apa yang aku banyangkan malam ini.

*** 

Hari ke 17 bulan Ramadhan

“jid…jid… bangun” ucap Umi

“hah jam berapa ini mi? kok aku tidak sahur…” jawabku dengan kaget 

“sudah jam 9 jid, gpp Umi bangunkan kamu tidak bangun-bangun, tidak tega juga Umi, didepan ada bapak polisi katanya pengen ngobrol, gak usah takut bilang aja sesuai yang kamu tau katanya demi kelancaran olah TKP” sahut Umi menjelaskan 

Setelah dari kamar mandi, segera aku mengobrol dengan bapak dari kepolisian untuk menggali informasi, aku jelaskan dengan rinci apa yang aku tau, kebiasaan aku tiap malam dengan teman-teman 

Dan tentunya informasi dari bi Ida dan pak Yayan soal kecurigaan sebelum terjadinya tragedi mengenaskan itu.

Pihak berwajib juga mengatakan sudah mengumpulkan teman-temanku yang sudah bisa dijadikan saksi, yg usia nya sudah mencukupi, Ocol dan Deden. Juga bi Ida dan Pak Yayan. 

Setelah informasi aku berikan, yang sebenar-benarnya untuk membantu pihak berwajib melakasakan tugas dll, aku hanya bisa lega, walau soal banyangan sosok almarhum masih saja ada di kepalaku. 

Pihak berwajib juga menyarankan aku untuk berobat setidaknya beliau khawatir sekali dengan mentalku saat ini.

Perjalanan waktu hari ini cepat, sore hari dan segala tentang kejadian almarhum tidak bisa dilupakan begitu saja. 

Malamnya teman-teman tidak berkumpul, setelah selsai teraweh bubar, semua membicarakan tentang tragedi menyakitkan meninggalnya mang Pepep.

*** 

Setelah 3 hari peristiwa tragis itu, tepatnya hari ini semua merayakan hari kemerdekaan, tidak sama sekali ramai ditempat aku tinggal untuk merayakannya… 

Bahkan kabar semakin hari semakin berkembang ramai soal kejadian di SD ini, mereka mencocokologikanya dengan si merah, jalanan dll.

Atau mereka bahkan aku tidak tega menyebutnya, Pembunuhan tragis. 

Begitulah sifat manusia, selalu membenarkan sesuatu yang belum pasti, terdengar hampir semua orang menjadi detektif dadakan menyimpulkan dengan cepat, walau keputusan dari pihak berwajib belum keluar. 

Sore hari, beredar kabar dari keluarga juga berita koran yg baru saja aku tau, motifnya perampokan alat-alat kelengkapan sekolah, dari olah TKP, mang Pepep almarhum, mencoba melindungi diri dan terjadi perkelahian dengan pelaku yg baru keluar dugaan pelaku lebih dari satu orang. 

Aku dengar dari Umi, banyak luka dibadan almarhum apalgi dibagian kepala, yang tekena benda tajam sekali, pas bagian kepala tepatnya, yang membuat almarhum meninggal di tempat. Dan aku mengiyahkan karna melihat langsung. 

Di hari kemerdekaan ini, aku punya sosok pahlawan baru, yang berkorban darah dan nyawa untuk sebuah tanggung jawab dan kepercayaan yang beliau genggam 

walau harus gugur dengan cara tragis, sosok beliau adalah pahlawan untuk dirinya sendiri, dan mengajarkan hal besar tentang tanggung jawab pekerjaannya sebagai pasapon kepada orang banyak *al-fatihah…

*** 

3 hari menuju lebaran, pelaku sudah tertangkap. Pelaku bertiga, melakukan kejahatannya, masuk melewati jalan belakang membongkar jendela ruangan guru, dan benar pelaku salah satunya yang pernah mengintai SD. 

Dan di malam ke 15 itu sekitar jam 02:00 kejadian terjadi, aku mengingat kembali malam itu, benar saja apa yang aku dengar tentang teriakan dan padamnya lampu, persistiwa tragis itu sedang terjadi. 

Andai waktu bisa terulang, mungkin mang Pepep sedang bersamaku, mengobrol melewati sore seperti yang sering dilakukan, atau mengantar makanan untuk almarhum.

Malam ini, tiba-tiba Umi masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa setelah menyirami bunga-bunga. 

“kenapa mi?” tanyaku

“kok kaya ada suara mang Pepep yg bilang; Ini potnya Umi gitu Jid… percis sekali yang biasa almarhum ucapkan” jawab Umi

“ah itu perasaan Umi saja” jawabku menenangkan

*** 

Suasana lebaran tidak sebegitu meriahnya, karna telah terjadi kejadian itu, di masjid besar alhmarhum selalu di doakan bersama. Aku tidak mendengar lagi kabar keluarga almarhum seperti apa, karna tidak tega lagi bagiku hanya mendengar kabar sekalipun. 

Kabar terbaru, setelah hari ke 3 lebaran, pelaku di hukum berat dengan dakwaan pidana pembunuhan dan pencurian. Kabar itu menyebar dengan luas dan aku baru tau pelaku adalah tetangga kampung, 1 jam kurang dari rumahku. 

1 pelaku sudah sangat profesional, dan 2 nya amatir. Secara hukum aku rasa wajar di penjara sesuai aturan, tapi secara sanksi sosial itu akan menjadi sanksi yang sangat amat panjang untuk pelaku. 

Nama pelaku yg profesional sama dengan temanku Deden yg akhirnya pernah beberapa orang menyangka Deden temanku pelakunya 

ada hal sedikit lucu, tapi tidak bisa membuat aku tertawa ketika mengingat kembali, bagaimana aku membalikan badan almarhum mang Pepep dan melepaskan Tali yang terikat di kakinya. 

Setelah 1 tahun kejadian itu berlalu, waktu memang bergulir maju, hari terus berganti, tapi tidak, semua orang tidak bisa melupakan sosok mang Pepep dengan mudah, apalagi dengan tangung jawabnya. 

Hanya tentang kebaikan itulah, yang terus mengiringi sosok almarhum yang kemudian semoga menjadi pahala untuk mang Pepep yang tidak pernah putus. 

Dan kabar terbaru di tahun 2012, di bulan yang sama pelaku yang sudah profesional itu, meninggal di penjara, kabar beredar pelaku depresi karna terus dibayangi sosok korban 

Hal itu juga yang menjadi peristiwa ini terus dikenang dan tidak mudah dilupakan, bahkan setiap masuk bulan Ramadhan, cerita tentang kebaikan dan kejadian tragis Pasapon, menjadi obrolan hangat terus berkembang dan turun temurun.

– TAMAT – 

“berat juga yah Jid menjadi kamu di tahun itu” tanya saya perlahan

“berat a… tapi aku selalu percaya mungkin itu yang membuat aku mempunyai sudut pandang berbeda untuk menanggapi sebuah kejadian, belajar dari kejadian itulah a…” jawab Yajid 

“terimakasih ceritanya, senang bisa mendengarkan, nanti mungkin pembaca juga akan senang bisa membaca dan terimakasih sudah berbagi Jid…” ucap saya sambil bersalaman

——— 

Begitulah cerita kali ini yang berjudul Pasapon, saya ucapkan terimakasih kepada yang sudah membaca cerita kali ini. Maafkan mumpung masih suasana lebaran, mohon maaf lahir dan batin dari saya, karna suka lama update. 

Terimakasih juga kepada narasumber, beberapa bagian sengaja tidak saya tuliskan lengkap karna ada hal-hal yang tidak bisa saya tuliskan. semua nama tokoh adalah samaran. Jawaban untuk sosok si Merah dalam cerita ini, mungkin saya buatkan dalam judul yang berbeda. 

Kepada pembaca setia, kepada orang-orang yang selalu support saya I love you, semoga kebaikan terus bersama kalian juga.

“jadilah pahlawan, untuk tanggung jawab kalian sendiri.” – @qwertyping 

Seperti biasa, biarkalah cerita yang saya tulis bertemu dengan tuan dan puanya sendiri, biarkan dia hidup bersama rangkaian kata yang mencoba memberi arti dan makna. Semoga bermanfaat.

Thread By @qwertyping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *