RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pendaki Ganjil

( semua nama dan tempat dalam cerita ini disamarkan, mohon maaf jika ada kesamaan ).

Pengalaman waktu itu, tentu saja menjadi pengalaman yang tidak akan pernah bisa aku lupakan selama hidupku. Bahkan, bisa dikatakan sejak adanya kejadian tersebut, aku yang sebelumnya hobby mendaki gunung, saat itu seketika berhenti mendaki hingga saat ini.

Rasa trauma dan takut, tentu saja ada. Bagaimana tidak, andai saja waktu itu tidak ada dia dirombongan kami, mungkin saat ini aku tidak ada disini dan berbagi cerita seperti ini.

Langsung saja.

Perkenalkan namaku Arya, aku adalah seorang karyawan diperusahaan ternama yang ada di indonesia. Pendakian waktu itu, terjadi ketika aku masih berusia 25 tahun. 

Aku yang belum bekerja seperti sekarang ini, tentu saja masih suka mendaki kesana kemari demi menyalurkan hobby yang memang sudah kugemari sejak aku duduk dibangku sekolah SMA Negeri.

Masih sangat teringat jelas dikepalaku. Malam itu adalah malam dimana aku dan ke dua rekanku hendak mendaki gunung yang ada dikotaku. Waktu yang menunjukan sudah pukul 19.00 malam dengan disertai hujan yang turun, sama sekali tidak menyurutkan niatku untuk menaklukan gunung yang memang sudah lama tidak ku daki itu. 

” Kita berangkat malam ini gar ” ucapku sambil memasukan barang barangku satu persatu kedalam carrier ku. 

” Iya wes, senin aku ada acara bro, jadi kita naik malam ini dan turun besok pagi. Jadi sampai rumah aku masih bisa beristirahat ” ucap Tegar sambil menyalakan sebatang rokok yang ada ditangannya. 

” Ini kita cuma bertiga nih, temen lu gak jadi ikut gar ” sahut Johan yang saat itu juga terlihat sibuk mengotak atik ponselnya. 

” Enggak jadi bro, ada acara mendadak katanya ” jawab Tegar Singkat.

” Gpp nih kita mendaki ber 3 aja, lu juga tau kan, pantangan di gunung ini, gak boleh mendaki dalam jumlah ganjil ” ucapku. 

” Mudah mudahan sih aman. Hallah,, asal kita gak ngganggu aja bro, bismillah aja deh ” jawab Tegar santai.

” Mana hujannya deres banget lagi ” sahut Johan 

” Udah,, jangan banyak omong, hayuk berangkat ” jawab Tegar dengan mulai mengangkat tas punggungnya kemudian diletakkan diatas motornya. 

Dan benar, sabtu malam itu, kami ber 3 benar benar berangkat menuju pos pendaftaran untuk mendaki gunung yang memang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku saat itu. 

Selama perjalanan, tentu saja aku dan rekan rekanku sudah ditemani guyuran hujan yang saat itu turun dengan sangat lebat. 

Bahkan, jas hujan yang kupakaipun seolah tidak berguna sama sekali mengingat semua pakaian yang kukenakan tetap saja dalam keadaan basah. Dan seiring berjalannya waktu, akhirnya akupun sampai dipos perijinan yang ada di kaki gunung ini. Namun sayangnya, saat itu kondisi pos sangatlah sepi, hanya ada 1 buku tamu yang tergeletak di meja depan pintu dengan satu penjaga yang terlihat tertidur pulas diatas kursi panjang yang ada didalam pos waktu itu.

” Kok sepi ya gar, terus gimana ini ” ucap Johan 

” Ya iyalah sepi, orang hujannya lebat kayak gini, ” sahutku,

” hussttt….diem, kita isi aja nama kita bertiga di buku tamu itu diem diem, terus kita naik deh,, hehehe….biar kagak bayar, mumpung penjaganya lagi tidur ” ucap Tegar. 

Dan akhirnya, setelah Tegar selesai mengisi nama kita bertiga, akupun malam itu memulai pendakianku.

Diawal pendakian, semuanya nampak biasa biasa saja, track yang licin dengan hujan yang tidak berhenti turun. Tentu saja membuatku sangat berhati hati dalam melangkahkan kaki. 

Terlebih lagi, pandanganku malam itu juga mulai terbatas ditambah sorot lampu senter yang memang menyala dengan sangat kurang terang.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 21.45 malam, aku dan rombongankupun sampai di sebuah tempat istirahat yang biasa kami sebut dengan sebutan pos 1. Malam itu, di pos tersebut, aku sama sekali tidak melihat satupun pendaki lain selain rombonganku. Semuanya nampak sepi seolah olah hanya aku dan rombonganku yang saat itu mendaki gunung itu. 

” Kita diriin tenda disini dulu yuk, kita makan malam sambil istirahat, badanku gemeter kedingingan nih ” ucap Johan, 

Setelah mendengar keluhan johan, akhirnya akupun setuju untuk mendirikan tenda sementara, agar aku dan rekan rekanku bisa sedikit bersitirahat.

Dan disinilah, semua cerita ini dimulai. Ketika tenda sudah berdiri dan aku sedang asyik menikmati mie instan, tiba tiba aku dan rekan rekanku dihampiri oleh seorang pemuda yang terlihat dalam keadaan basah kuyup. Baju abu abu dengan ikat yang ada dikepalanya, masih kuingat dengan jelas jika waktu itu dia memang datang menghampiri tendaku. 

” Mas..permisi, boleh gabung ?…saya gak bawa jas hujan ” ucap laki laki tersebut dengan keadaan yang terlihat sangat kedinginan.

” Ooh iya mas, silahkan, sini langsung masuk kedalam saja mas ” jawabku, 

Dan singkat cerita, akhirnya diapun masuk kedalam tendaku dan akhirnya kamipun berkenalan. Malam itu, dia mengaku bernama Imam. Dan anehnya, dia juga mengaku mendaki gunung tersebut hanya seorang diri tanpa ada satupun orang yang menemani. 

” Nama saya Imam mas, saya sendirian disini ” ucapnya mengawali pembicaraan.

” Naik sendirian malam malam ?, ” Sahut Tegar,

” Iya mas hehehe ” jawabnya.

” Yaudah kita gabung saja mas biar rame ” usul Johan, 

” Iya mas, niat saya juga mau gabung sama kalian, kalian cuma bertiga kan, bahaya lho mas “.imbuhnya.

Dan setelah pertemuan kami malam itu, akhirnya kamipun sepakat untuk melanjutkan pendakian bersama sama. Malam itu, waktu menunjukan pukul 23.30 malam, langkah yang semakin berat dengan hawa yang semakin dingin, tentu saja membuat pendakianku semakin lama semakin berat saja. Langkah demi langkah, kulalui perlahan dengan sekali mendengar ocehan tegar yang sedikit mencairkan keadaan.

Tapi anehnya, ditengah tengah kami melangkah, tiba tiba aku mencium bau busuk yang seolah mengikuti setiap langkah kakiku. Bahkan, akupun juga masih ingat, bau busuk tersebut benar benar tercium kuat berasal dari belakang tubuhku. Namun sayangnya, ketika aku menoleh kearah belakang, waktu itu aku hanya melihat adanya Imam dengan tidak melihat siapapun selain dia. 

Ya karena aku baru kenal dan kurang enak kalau harus menanyakan tentang bau busuk tersebut kepada Imam, akhirnya aku hanya diam dengan mulai membalut hidungku dengan buff kain yang ada di leherku. Dan seiring berjalannya waktu, kamipun akhirnya sampai di pos berikutnya. Di pos tersebut, hujan yang sebelumnya turun dengan lebat, saat itu perlahan lahan sudah mulai reda, tinggal hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk saja.

Aku dan rombongan pun akhirnya beristirahat dengan sesekali bercengkerama. Dan disaat itulah, tiba tiba pandanganku teralihkan dengan adanya sosok laki laki tua yang terlihat duduk tidak jauh dari tempatku beristirahat. Sosok tersebut, nampak hanya memakai singlet putih kusam dengan sebatang rokok yang ada ditangannya. Dan tidak berhenti disitu saja, selain terlihat ada tongkat di samping tempat duduknya, aku juga melihat sosok kakek tersebut menatap kearahku dengan tatapan yang sepertinya kurang mengenakkan. 

Melihat hal itu, tentu saja seketika tubuhku bergetar, jantungku berdetak dengan nafasku yang juga seketika ngos ngosan. 

Dan dengan memalingkan pandanganku, akupun memegang tangan Johan yang ada disampingku dan memberi tanda bahwa aku melihat sesuatu yang harus dia lihat. 

Namun sayangnya, belum sampai aku memberi tau Johan, tiba tiba pundakku ditepuk oleh Imam dan diapun mulai memberitahuku jika semuanya akan baik baik saja. 

” Sudah mas, jangan dihiraukan, kita gak mengganggu kok, mereka datang karena mencium aromaku ” bisik Imam.

Mendengar hal itu,akupun sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun dan langsung menatap Imam dengan tatapan yg keheranan dengan maksud perkataan yang telah dia ucapkan 

” Disini saya hanya membantu, biar jumlah kalian Genap ” imbuhnya.

Mendengar hal itu, tentu saja aku seketika terkejut dan masih saja kebingungan. 

Namun sayangnya, belum selesai aku merasa kebingungan, tiba tiba Tegar mengagetkanku dengan ucapan yang menandakan jika aku harus melanjutkan perjalanan.

” Udahan ya istirahatnya, kita lanjut lagi, ” ucap tegar jelas. 

Mendengar hal itu, akhirnya akupun melanjutkan pendakianku dengan perasaan yang sudah sangat tidak karu karuan.

Selama perjalanan, aku terus saja memperhatikan Imam yang kini berjalan tepat didepanku. 

Tulisan tulisan di bajunya, di tasnya, saat itu kubaca satu persatu, bahkan mulai ujung kaki sampai ujung kepala, malam itu tidak satupun yang luput dari pandanganku. Dan disaat itulah, aku mulai sadar jika Imam bukanlah orang biasa.

Semua itu bukanlah tanpa alasan, karena menurutku, selama pendakian ini, dialah yang terlihat paling tenang diantara kami.

Bahkan, dia juga melihat apa yang baru saja kulihat, tapi hebatnya, dia tidak sedikitpun terlihat gugup. Karena mungkin dia tahu, bahwasanya gugup adalah hal yang bisa beresiko bagi keselamatan jika kita dalam keadaan mendaki gunung. Mengetahui hal itu, akhirnya akupun melontarkan beberapa pertanyaan kepada Imam karena aku mulai curiga, jika mungkin ada alasan lain kenapa imam mau bergabung bersama kami.

” Mas Imam sering mendaki sendiri ya mas ” ucapku memulai pembicaraan. 

” Kalau di gunung ini,,IYA ” jawabnya singkat

” Mas aslinya mana ” imbuhku

” Sini aja mas ” jawabnya dengan tidak sekalipun menolehkan wajahnya kearahku. 

Dan karena kurasa pertanyaanku mengganggunya, akhirnya akupun diam sambil tidak lagi menanyakan pertanyaan untuknya.

Singkat cerita, akhirnya akupun sampai di puncak gunung yang kudaki saat itu. 

Dipuncak tersebut, malam itu aku melihat hanya ada 2 tenda pendaki lain yang terlihat berdiri berjauhan disudut sudut puncak gunung ini. Bahkan, aku juga masih ingat, malam itu karena imam ternyata juga membawa tenda sendiri, akhirnya tendakupun berdiri berjejer dengan tenda imam yang memang berbentuk lebih kecil dari tendaku. 

Dan setelah semua tenda berdiri, akhirnya kamipun duduk bercengkerama didepan tenda dengan mulai membuat secangkir minuman hangat yang kuharap bisa sedikit menghangatkan tubuhku. 

Dan singkat cerita, ditengah tengah aku sedang menikmati secangkir minumanku, lagi lagi pandanganku teralihkan dengan sosok laki laki tua yang sama dengan sebelumnya kulihat. 

Namun anehnya, kali ini dia tidak hanya 1 orang, melainkan ada sekitar 5 orang yang terlihat menyebar mengelilingi tendaku saat itu. Mereka semua berpakaian sama dengan tongkat kayu yang ada ditanganya. Ada yang duduk, ada yang jongkok, dan ada yang berdiri. Semua bersama sama menatap kearah tendaku dengan tatapan yang terlihat penuh dengan ancaman. 

Mengetahui hal itu, akupun seketika memandang kearah Imam yang saat itu juga terlihat memandangi sosok kakek kakek yang terlihat di tiap tiap sudut puncak gunung tersebut. 

Dan tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya akupun mengajak Tegar dan Johan untuk segera masuk kedalam tenda dengan tidak sekalipun menceritakan apa yang sebenarnya sudah kulihat.

” Yuk bro, istirahat, aku udah capek nih ” ajakku. 

” Bentar ah, masih enak diluar ” jawab Tegar,

” Benar, mending kalian masuk saja sekarang,” sahut Imam dengan suara kencang sambil menoleh kearahku dan rekan rekanku seraya memberi tanda jika diluar tenda keadaan sudah menjadi sangat berbahaya. 

Ketika didalam tenda, akhirnya akupun menceritakan kejadian yang sebenarnya karena saat itu Tegar mulai resah dengan tingkah laku Imam.

” Lu ngapain sih nurut sama Imam, dia sok sok an memerintah kita suruh masuk tenda , emang siapa dia ” protes Tegar, 

” Udah nurut aja deh gar. Soalnya, sebenarnya aku tadi lihat kayak ada hantu di gunung ini ” ucapku pelan,

” Ah yang bener lu ” sahut Johan, 

” Iya jo, nah tapi si Imam ini kayak sudah sering kesini, jadi udah terbiasa dengan gituan, mending kita nurut aja deh, biar aman ” jawabku,

” Eh gimana hantunya bro, aku kok penasaran ” sahut Tegar, 

” Udah nanti aja kalau dirumah kuceritain ” jawabku.

Dan setelah obrolan didalam tenda malam itu, akhirnya kamipun tetap bertahan didalam tenda dengan sesekali mengintip kearah luar tenda untuk memastikan keadaan tetap baik baik saja. Anehnya, setiap aku mengintip kearah luar tenda, malam itu aku melihat Imam tetap duduk di posisinya dengan sesekali terlihat mengobrol dengan seseorang yang tidak ada wujudnya. 

Hal itulah yang akhirnya membuat aku semakin tidak nyaman dan tidak berani lagi untuk keluar dari tendaku malam itu. Bahkan, malam itu aku juga kembali mencium bau busuk yang tercium lebih menusuk. Dan tidak hanya aku, kali ini Johan dan Tegar pun juga ikut mencium bau busuk yang memang sebelumnya sudah kucium tersebut. 

Dan tidak berhenti disitu saja, malam itu aku juga mendengar tiba tiba ada seseorang yang berjalan pelan mengelilingi tendaku dengan sesekali melempari tendaku dengan gumpalan gumpalan tanah yang kuduga kuat semua itu memang sengaja dilakukan untuk menggangguku dan rekan rekanku. 

Detik demi detik, hingga saat ini masih sangat teringat jelas diingatanku. Waktu, seolah berjalan sangat lambat ditambah dengan sesekali suara auman, tangisan hingga teriakan, saat itu benar benar terdengar jelas dari arah sekitar tendaku. Aku dan kedua rekanku, malam itu benar benar sangat ketakutan dengan tubuh yang tidak lagi bisa berhenti gemetar tidak karuan. Botol air mineral yang sudah penuh dengan air kencingku ditambah dengan makanan yang tetap utuh didalam tenda ini, benar benar menandakan jika malam itu, kami sama sekali tidak berani keluar dari tenda dan hanya bertahan didalam tenda meskipun apapun yang terjadi. Bahkan, Kami juga sempat bergiliran mengintip kearah luar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Dan kali ini bukan hanya aku, akhirnya semuapun melihat apa yang sebenarnya sudah kulihat. Sosok kakek kakek tua dengan tongkatnya, malam itu ternyata sudah terlihat duduk tidak jauh didepan tenda kami. Dan tidak hanya itu, johan pun mengaku juga melihat ada sosok perempuan berambut panjang yang juga sedang menatapi tendaku dengan sesekali memutar mutar lehernya kekanan dan kekiri. 

Malam itu, tendaku benar benar seolah dikepung oleh makhluk halus penunggu gunung tersebut. Mereka secara bergiliran mengganggu bahkan memanggil manggil namaku agar aku mau keluar dari tendaku saat itu. 

Dan singkat cerita, setelah semalaman bertahan, akhirnya sekitar pukul 05.00 pagi, aku mulai berani membuka tendaku karena aku mendengar suara pendaki lain yang terdengar tertawa riang seolah menyambut matahari terbit yang sudah menjadi ciri khas dari gunung ini. 

Namun anehnya, setelah aku membuka tenda, pagi itu aku tiba tiba tidak lagi melihat adanya tenda yang berdiri selain tendaku. Kondisi puncak sangat sepi dengan hanya ada sisa sisa snack dan sampah yang berceceran disana sini. Tidak hanya itu, tenda imam yang sebelumnya ada tepat di sampingku pun, malam itu juga tiba tiba menghilang entah kemana. Padahal seingatku, semalam, aku, johan dan tegar, tidak ada yang tidur sama sekali. Jika imam turun dulu, mungkin salah satu dari kami pasti ada yang mendengarnya. 

Tapi ini tidak, tidak ada satupun dari kami yang mendengar suara imam membereskan tendanya. Bahkan, kami semalaman hanya mendengar suara suara aneh yang terdengar sangat menyeramkan. 

Mengetahui semua itu, akhirnya aku dan kedua temanku pun bergegas membereskan tendaku untuk segera pergi meninggalkan gunung yang kudaki ini. Ditambah, suara tawa pendaki lain yang sebelumnya terdengar sangat jelaspun, saat itu ternyata juga tidak ada wujudnya. Hal itu tentu saja membuatku semakin mempercepat tanganku membongkar tendaku agar aku bisa segera pergi dari gunung tersebut.

Dan setelah semuanya selesai, akhirnya kami bertiga pun berjalan turun dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada lagi candaan dari Tegar maupun ucapan dari Johan, kami bertiga hanya diam dengan terus menatap kedepan dengan perasaan yang sudah sangat ketakutan.

Anehnya, setelah beberapa lama aku berjalan tiba tiba aku mendengar suara teriakan kencang dari arah belakang yang setelah kutoleh, ternyata sumber suara tersebut adalah Imam yang berteriak dengan melambai lambaikan tangannya dari kejauhan seraya mengucapkan selamat tinggal. 

” Woooeeeyyyyyy.. hati hati ya…..” Teriak Imam dengan terus melambai lambaikan tangannya

Mengetahui hal itu, tentu saja akupun seketika berlari kencang dengan diikuti johan dan tegar yang juga ikut berlari karena ketakutan. 

” Ya allah,,,toloong ” teriakku dengan terus berlari tidak berhenti.

Dan akhirnya, setelah beberapa jam lamanya, akupun sampai di pos pendaftaran yang selanjutnya kamipun menceritakan apa yang sudah terjadi kepada kami. 

” Disini memang pamali mas kalau naik dengan jumlah Ganjil, kalau maksa naik, akhirnya ya gitu, kalau gak diganggu, ya pasti ada yang ikut gabung. 

Saya kemarin gak lihat waktu kalian naik sih, kalau saya lihat waktu kalian mau naik dengan jumlah ganjil, pasti saya tahan dulu, nunggu rombongan lain. ” Terang petugas loket.

” Ya mana ada rombongan lain pak, orang kemarin hujannya deras banget. Kalau bapak tahan saya, pasti ujung ujungnya saya gak jadi naik. Toh gak ada pendaki lain selain kami diatas sampai pagi ini. Saya turun tadi juga gak ketemu pendaki yang lagi naik kok pak ” sahut Tegar lugas 

” Loh kata siapa se sepi mas, ini kan hari Minggu, gak mungkin lah gunung ini sepi. Ini lo lihat,,, hari ini ada 48 pendaki yang naik termasuk kalian, yang naik hari sabtu kemarin ada 35 orang dan yang naik pagi ini baru ada 10 orang. 

La itu lihat, semua kendaraannya juga diparkir disebelah pos ini ” jawab petugas pos pendaftaran dengan menunjukan buku registrasi Pendaftaran para pendaki kepada kami.

Mendengar hal itu, tubuhku seketika lemas dengan tidak lagi mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Semuanya nampak sepi dimata kami namun sebenarnya banyak pendaki lain yang sedang mendaki gunung ini. Dan setelah semua kebingungan kami belum kami pahami, akhirnya akupun mengajak semua rekanku untuk segera pergi meninggalkan gunung ini. 

Sesampainya dirumah, akupun masih dipenuhi rasa trauma, kebingungan dan ketakutan setelah kejadian yang telah ku alami. Bahkan, Johan pun juga kudengar dibawa pergi oleh keluarganya ketempat salah satu tokoh agama yang ada di kotanya. Karena menurut keluarganya setelah turun dari gunung tersebut, setiap malam orang tua johan sering mendengar johan berteriak teriak sendiri seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menakutkan. 

Dan akhir Cerita, setelah semuanya selesai, kini aku sudah jarang sekali pergi mendaki gunung, ya karena selain sibuk dengan semua pekerjaanku, pengalaman itu tentu saja memberikan pelajaran tersendiri bagiku. 

Namun terlepas dari itu semua, aku tetap bersyukur karena aku bisa turun dengan keadaan yang baik baik saja.

Semoga, dengan adanya pengalaman sepilu itu, bisa membuat kita lebih berhati hati lagi dalam mendaki gunung gunung yang ada di negeri ini. 

Terimakasih teman teman, semoga cerita ini menemani hari hari kalian. 

• • •

Thread By @Lakonstory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *