RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Pendakian Terakhir

( Semua nama dalam cerita ini disamarkan, mohon maaf jika ada kesamaan ).

Perkenalkan namaku Yulfi, aku adalah gadis belia yang baru saja menginjak usia 20 tahun.

Dalam keluarga, aku memiliki kakak kandung yang memang sangat hoby mendaki gunung. 

Bahkan, bisa dikatakan setiap kakak libur kerja, dia selalu tidak ada dirumah.Waktu liburanya selalu dihabiskan bersama teman temannya dan memang kebanyakan digunakan untuk mendaki gunung. Mungkin hal itulah yang akhirnya membuat kakakku hingga kini belum juga menikah. 

Namun, bukan itu permasalahannya. Cerita ini bukan tentang bagaimana kisah kakakku atau apapun tentang dirinya, melainkan semua ini tentang diriku. Masih sangat teringat jelas dikepalaku, Saat itu adalah saat dimana aku pertama dan terakhir kalinya mendaki gunung. 

Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana rasanya mendaki gunung, akupun akhirnya memutuskan untuk mencoba ikut kakakku mendaki, agar aku bisa merasakan bagaimana sebenarnya rasanya mendaki gunung yang memang menjadi hobby anak muda diwaktu itu. 

Tapi nyatanya, semua tidak seperti yang kubayangkan, bukan pengalaman menyenangkan yang kudapatkan melainkan sebuah pengalaman yang sangat tidak mengenakkan sekaligus sangat menyeramkan yang mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah kulupakan. 

Pagi itu, adalah pagi dimana aku akhirnya berangkat mendaki ke gunung yang ada di kotaku.

Meskipun sebenarnya gunung ini tidak terlalu tinggi bagiku, namun menurut pengalaman kakak, gunung ini adalah gunung yang sangat cocok denganku mengingat pendakian waktu itu adalah pendakian pertamaku.

” Gak gunung yang lain kak, gunung ini mah tiap hari kulihat dari rumah ” tanyaku, 

” Gunung ini aja dulu dek, nanti kalau kamu kuat, pasti selanjutnya kakak akan ajak kamu ke gunung yang lain yang lebih keren ” ucapnya sambil memasukan satu persatu bawaan kami kedalam tasnya,

” Kita jadi sama siapa kak ” sahutku, 

” Kakak ajak si Bimo dek, dia juga pertama kali nanjak kok, jadi santai saja nanti jalannya ” terang kakak,

” Bertiga aja kak ? ” Imbuhku, 

” Iya, kenapa,, hari ini hari selasa dek, temen temen kakak semua pada kerja, ini aja kakak bolos kerja demi kamu, katanya pingin tau rasanya mendaki ” terang kakak,

” Kak Bimo itu yang gondrong itu ya kak ” tanyaku,

” Iya, yang biasanya main kesini ” jawab kakak singkat, 

” Ooo iya udah ” ucapku pelan,

” kenapa dek, Iya kakak tau, dia memang anaknya agak nakal, mau gimana lagi coba, cuma dia yang bisa diajak ndaki hari ini ” imbuh kakaku sambil mulai menyalakan motornya. 

Dan singkat cerita, setelah semua persiapan kami sudah selesai, akhirnya pagi itupun kami berangkat menuju post registrasi yang memang terletak tidak jauh dari desa kecilku. 

Sesampainya di Pos Registrasi, waktu itu aku sudah ditunggu oleh kak Bimo yang rupanya sudah sedari tadi menunggu kedatangan kami. 

” Eh lama banget lu Jon,, udah 1 jam gue disini, katanya kemarin berangkat jam 8, eh ini jam 9, lu baru nongol ” ucap kak Bimo.

Dan setelah melakukan obrolan kecil bersama kak Bimo yang selanjutnya menyelesaikan proses Pendaftaran, akhirnya kami bertigapun memulai pendakian. Sepanjang pendakian, waktu kuhabiskan dengan sesekali mendengarkan kakakku yang bercanda dengan kak Bimo sembari aku menikmati udara sejuk serta pemandangan yang memang terlihat sangat menakjubkan.

” Pantesan kakakku ketagihan, orang pemandangannya kayak gini ” Ucapku dalam Hati 

Setelah berjalan kurang lebih 4 – 5 jam, akhirnya kamipun sampai di Puncak Gunung ini.

Siang itu, suasana Gunung sangatlah sepi, selain hari itu bukanlah hari Libur, waktu itu memang kebetulan setiap harinya selalu turun Hujan, mungkin hal itulah yang membuat gunung ini sangatlah sepi pendaki.

Dan setelah Tenda kami berdiri, akhirnya kamipun duduk bertiga di depan tenda sambil mulai membuat secangkir kopi karena cuaca yang terlihat mulai Mendung. Waktu itu, kami memang hanya membawa 1 Tenda, karena selain memang kami hanya bertiga saja, saat itu pendakian kami bisa dikatakan mendadak karena akulah yang memang memaksa kakakku agar tidak menunda nunda pendakian waktu itu. 

Dan singkat cerita malampun tiba,malam itu Hujan turun dengan sangat lebat, karena tenda kakakku yang sepertinya bukan tenda yang mahal, akhirnya air hujanpun dengan leluasa masuk kedalam tenda kami melalui celah celah jahitan tenda yang akhirnya membuat seluruh isi tenda menjadi basah tidak karuan.

” Kak dingin banget, jaketku basah…” Rintihku, 

” Iya dek sabar ya, ini kakak bikinkan minuman hangat ” ucap kakak sambil menyalakan kompor kecilnya di dalam tenda,

” Ya ampunn Dingin banget, kita bener gak boleh bakar bakar nih Jon. Kan kayu banyak banget nih, haduh gak kuat aku jon ” keluh kak Bimo, 

” Gak boleh Bim, dulu memang boleh, tapi sekarang sudah gak boleh karena pohon disini semakin lama semakin habis. Kalau kita bakar bakar, besuk pagi kalau ketahuan orang beskem kita bisa di denda, orang beskem tiap Pagi ke puncak sini Bim, ngecek keadaan puncak ” terang kakak. 

” Masa bodoh, aku kedinginan ” ucap Kak Bimo, sambil bergegas keluar Tenda,

” Eh lu mau kemana Bim, ” teriak kakak,

” Mau kumpulin Kayu Jon, gak tahan aku, dingin banget, ” jawab kak Bimo,

” Hujannya deres banget Bim, mana bisa nyala juga Apinya,,mikir dong ” sahut kakakku. 

Mendengar hal itu, entah apa yang ada di dalam fikiran kak Bimo, malam itu kak Bimo tetap bersikukuh keluar dan terlihat mengumpulkan kayu yang akan dia bakar untuk menghangatkan tubuhnya.

Namun sayangnya, usahanya pun tidak kunjung membuahkan hasil. Nyatanya, hingga sekitar tengah malam, api yang di harapkan tidak kunjung menyala karena kayu yang memang basah ditambah hujan yang tidak kunjung Reda yang membuat Mustahil rasanya jika Api bisa menyala. Dan setelah beberapa lama berusaha, akhirnya kak Bimo pun menyerah dan kembali masuk kedalam tenda sambil seluruh tubuhnya yang terlihat gemetar karena kedinginan.

Hingga akhirnya, waktu pun menunjukan pukul 01.00 dinihari. Hawa dingin waktu itu rasanya sudah tidak bisa kutahan lagi. Meskipun hujan sudah reda, namun seluruh bagian tenda kami masih basah kuyup ditambah dengan angin yang saat itu memang sedang berhembus kencang. Waktu itu, seluruh tubuhku semakin lama semakin tidak bisa kugerakkan.

Semuanya terasa kaku dan linu yang sangat luar biasa. Seluruh badan menggigil kedinginan disertai kepala yang sesekali pusing pening tidak karuan seolah menambah rasa penderitaanku malam itu sudah tidak bisa lagi kugambarkan.

Dan puncaknya, akupun akhirnya tidak kuat lagi menahan semua itu. Pagi itu, seluruh tubuhku tiba tiba berubah menjadi sakit tidak karuan, seluruh tubuh rasanya seperti ditusuk tusuk jarum. Telingaku sudah tidak bisa lagi mendengar dengan jelas ditambah pandanganku yang saat itu semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya akupun terkapar dengan terus merasakan sakit di sekujur tubuhku. Pagi itu, seluruh tubuhku dibalut oleh sarung dan tidak lupa jacket kakakku pun sudah di lepaskan dan digunakan untuk membalut tubuhku. Bahkan oleh kakak, aku dipeluk dengan erat sambil sesekali aku di tampar tampar kecil, agar aku tetap dalam keadaan sadar.

Tapi nyatanya, malam itu aku benar benar dalam keadaan yang setengah sadar disertai badan yang sudah tidak berhenti bergetar. Ditengah tengah aku merasakan kesakitan yang luar biasa itu,, aku masih sempat mendengar kakaku yang terdengar berselisih dengan kak Bimo mengenai keadaanku.

” Gimana ini Jon, disini sepi banget, apa kita Turun aja sekarang, adik lu udah semakin parah ” ucap kak Bimo lirih. 

” Gimana kalau aku aja yang Turun, sepertinya kalau aku yang turun, akan cepat sampai pos dan minta bantuan, mungkin 3 jam udah sampai di bawah.,kalau lu yang turun, yang ada lu malah nyasar, mending lu disini jagain adikku, biar aku lari kebawah ” Ucap kakak, 

Dan setelah mereka terdengar berdebat tidak karuan, akhirnya kakakkupun memutuskan untuk turun seorang diri untuk mencari bantuan ke pos Registrasi.

Malam itu, aku memang sudah tidak kuat lagi bangun, jangankan bergerak, membuka mulut untuk berbicara saja, rasanya aku sudah tidak sanggup.

Namun ternyata, semua penderitaanku malah dimanfaatkan oleh kak Bimo untuk berbuat hal yang sangat tidak bisa dimaafkan. Ketika aku didalam tenda dengan kak Bimo, waktu itu aku melihat kak Bimo semakin lama semakin mendekatiku, karena keadaanku yang memang masih kesakitan dan setengah sadar, waktu itu aku hanya bisa merasakan tanpa bisa melihatnya dengan jelas karena kepala yang memang semakin terasa pusing tidak karuan.

” Kakak peluk ya fi ” Ucap kak Bimo yang sempat terdengar lirih. 

Dan tanpa menjawab hal itu, akupun hanya diam sambil terus meremas jacket yang membalut tubuhku tersebut. Disela sela aku menahan semua itu, tiba tiba aku merasakan tubuhku dipeluk erat oleh kak Bimo. 

Awalnya aku memang merasa risih dan tidak mau diperlakukan seperti itu, tapi karena kurasa niat kak Bimo waktu itu adalah membantuku, akupun akhirnya hanya diam sambil tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi anehnya, semakin lama aku merasakan bagian tangan kak Bimo masuk kedalam tubuhku.

Merasakan hal itu, tentu saja aku langsung memberontak tidak karuan karena aku mulai curiga dengan maksud kak Bimo. Jangan jangan, kak Bimo sebenarnya bukan memeluk karena ingin membantuku, tapi karena ingin macam macam denganku ” fikirku, Mengetahui hal itu, aku tidak bisa berbuat apa apa selain hanya bergerak sebisanya, karena saat itu, 

akupun juga merasakan jika pelukan kak Bimo semakin lama terasa semakin kuat saja.

Dan tidak lama setelah itu, akupun mulai merasakan jika tangan kak Bimo ternyata sudah masuk kedalam jacketku dengan mulai membuka resleting jacketku secara perlahan. 

Masih sangat teringat jelas dikepalaku, pagi itu aku masih sempat melirik jam tangan yang tergeletak di samping tas basahku. 

Bahkan akupun juga masih ingat, waktu itu jam tangan menunjukan pukul 02 00 pagi dengan kak Bimo yang sudah berada diatas tubuhku sambil menciumiku penuh nafsu. 

Pagi itu, aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa lagi selain hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah dilakukan kak Bimo kepadaku.

” Jangan kak ” rintihku,

” Biar gak kedinginan fi, ” ucap kak Bimo sambil memaksa melepas celanaku yang saat itu masih terikat oleh ikat pinggang dan setelah celanaku berhasil terbuka, saat itu aku masih sempat sekuat tenaga untuk melawan agar aku tidak di perkosa meskipun mulutku sudah tidak kuat lagi berbicara karena kehabisan tenaga. 

Dan setelah tubuhku tidak kuat lagi menahan tangan kak Bimo, akhirnya akupun pasrah dan mulai tidak sadarkan diri dengan mata yang semakin lama semakin buram saja. Waktu itu, ditengah tengah mataku yang semakin berkunang kunang, aku tiba tiba seperti melihat almarhum ayahku yang terlihat duduk disampingku.

Beliau terlihat tersenyum sayu sambil menatap lembut kearahku. Melihat hal itu, akupun membalas senyumannya dengan mulai meneteskan air mata. Dan anehnya, kak Bimo yang sebelumnya membuka seluruh bajuku yang saat itu hanya tersisa celana dalam, waktu itu dia seketika menghentikan aktifitasnya dan langsung berdiri dan keluar dari tendaku entah kenapa.

Ternyata, beberapa saat kemudian aku memang mendengar suara kakakku yang saat itu terdengar memanggil manggil namaku. Mendengar hal itu, aku dengan sekuat tenaga mengambil baju bajuku yang saat itu sudah berserakan tidak karuan dan segera memakainya satu persatu sambil mencoba berteriak semampuku.

” Kak….kak…tolong ” ucapku pelan.

Dan benar. 

Setelah beberapa lama kemudian, aku melihat kakakku kembali masuk kedalam tendaku sambil mengangkat tubuhku untuk dibawa keluar tenda yang ternyata sudah ada api unggun yang menyala terang dengan kak Bimo yang sudah terlihat duduk menghangatkan tubuhnya. 

Singkat cerita, akhirnya tubuhkupun mulai hangat karena api yang menyala besar ditambah minuman hangat yang terus kuminum sambil tubuhku yang dipeluk oleh kakakku yang membuatku saat itu perlahan lahan mulai membaik. 

Dan sekitar pukul 3.30, akhirnya aku mulai bisa merasakan semua bagian tubuhku yang sebelumnya mati rasa. Kini bagian bagian tubuhku mulai berfungsi dengan normal meskipun kepalaku masih terasa lumayan sakit. Karena malam itu kurasa bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kepada kakakku tentang apa yang telah dilakukan kak Bimo kepadaku, akupun waktu itu masih diam dan berencana melaporkannya ketika aku sudah sampai bawah nanti. 

Waktu itu, kami bertiga hanya diam sambil mendekatkan tubuh kami masing masing ke samping api unggun yang saat itu menyala sangat terang. Tapi setelah beberapa saat kemudian, aku melihat kak Bimo sudah ketiduran ditempat dia menghangatkan badannya tersebut. Dan tanpa memperdulikan hal itu, akupun terus menghangatkan badanku dengan sesekali membolak balikkan telapak tanganku yang sebelumnya memang terasa sangat kaku 

Dan disela sela aku masih menghangatkan tubuhku, tiba tiba pandanganku teralihkan dengan sosok anak muda yang sepertinya adalah pendaki lain yang ada di gunung ini. 

Itu bisa terlihat Dari kaos yang dikenakannya bertuliskan Mountain lengkap dengan tas gunung yang saat itu juga terlihat masih berada di punggungnya.

Namun anehnya, sosok pemuda tersebut, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, 

dia hanya diam dengan wajah yang tidak terlalu jelas terlihat. Melihat hal itu, akupun langsung duduk mendekati kakakku untuk segera memberitahu apa yang sebenarnya sudah kulihat. 

Namun anehnya, ketika aku sudah sampai tepat di samping kakak, kakakku saat itu tiba tiba menoleh kearahku sambil tersenyum seolah memberi tanda jika sebenarnya dia melihat apa yang aku lihat. Mengetahui hal itu, akupun kebingungan dan mulai meremas tangan kakak karena aku seketika menduga jika yang saat itu aku lihat adalah makhluk halus.

” Kak….ayo masuk tenda kak…aku takut ” bisikku. 

Lagi lagi kakakku hanya diam sambil mulai memegang tanganku agar aku lebih tenang dari sebelumnya.

Dan belum selesai aku melihat sosok tersebut yang memang tidak kunjung pergi, aku tiba tiba mencium aroma yang sangat tidak sedap yang sepertinya berasal sangat dekat denganku.  Aroma tersebut tercium kuat seolah berasal dari sebelahku yang saat itu adalah kakakku.  Tapi sayangnya, belum selesai aku memastikan hal itu, lagi lagi pandanganku teralihkan dengan sosok kakek kakek yang terlihat membawa seikat kayu yang berjalan bungkuk tepat tidak jauh dari tenda kami berdiri.

Sosok tersebut berjalan begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan kami dan yang paling membuat aku terkejut adalah, salah satu kaki kakek tersebut terlihat hancur seperti habis kecelakaan, hal itu terlihat dari darah yang bercecer tidak karuan mengikuti langkah kakeh yang bergerak secara perlahan. 

” Kak…itu siapa kak……ayo masuk kak aku takut kak….” Rintihku. 

Dan tanpa menjawab perkataanku, tiba tiba kakakku menarik tanganku seolah langsung menyetujui ajakanku untuk segera masuk kedalam tenda dengan tidak memperdulikan keadaan kak Bimo yang saat itu sudah tertidur pulas diluar tenda. 

Dan tidak lama setelah itu, akhirnya kamipun tertidur. Namun belum lama aku memejamkan mata, tiba tiba aku terbangun karena aku mendengar suara orang yang bersenandung khas jawa. Suara tersebut terdengar lirih di sela sela suara jangkrik yang semakin lama semakin terdengar sangat kencang.

Mendengar hal itu, akupun langsung bangun untuk memastikan sumber suara yang aku dengar tersebut. Namun ketika aku menoleh kesana kemari, waktu itu tiba tiba aku melihat ada sosok laki laki paruh baya yang duduk tepat disamping kak Bimo tertidur. 

Sosok tersebut memakai baju hitam pekat dengan wajah yang sudah sangat tidak karuan. Mata yang menonjol ke luar ditambah hidung yang hanya tinggal sebelah, membuatku seketika seolah tidak lagi bisa bernafas.  Dan tanpa melihat lebih lama lagi, akupun langsung menutup pintu tendaku dengan jantungku yang sudah berdegup kencang tidak karuan. Dan tanpa membangunkan kakakku, waktu itu aku langsung tidur di samping kakakku sambil membaca semua doa doa sebisanya. Mungkin karena badan yang sudah kelelahan , akhirnya pagi itupun aku tertidur Tepat disamping kakakku dengan tanganku yang saat itu masih memeluk tubuh kakakku. 

Dan singkat cerita, sekitar pukul 07.00 pagi, aku kembali terbangun dengan suara kakakku yang membangunkanku dengan nada yang terdengar terburu buru.

” Fi..fi…” Teriak kakak sambil membuka pintu tendaku, 

” Ada apa ” ucapku sambil kebingungan karena saat itu aku juga melihat ada beberapa orang selain kakak yang memakai baju orange,

” Alhamdulillah kalau kamu gak kenapa napa, kakak lama ya dek ” imbuh kakakku, 

” Maksudnya ” tanyaku dengan perasaan yang bingung disertai belum terlalu sadar karena masih bangun tidur,

” Ya kamu kemarin hampir Hipotermia, ini kakak bawa orang dari bawah untuk evakuasi kamu, Bimo mana ” ucap kakak, 

” Kakak ini ngomong apa sih, ” tanyaku semakin bingung,

” Lho Bimo mana, Bimo kan kutinggal bersamamu ” imbuh kakakku,

” Lho kan kakak biarkan dia tidur diluar, kan kakak tidur sama aku di dalam ” jawabku, 

” Kamu ini ngomong apa, aku kemarin malam turun cari bantuan, ini baru balik sekarang ” terang kakakku.

Mendengar hal itu, akupun langsung mengemasi barang barangku dan tanpa menjawab pertanyaan kakakku lagi. 

” Ayo bantu aku beres beres, kita ngomong dibawah saja ” ucapku dengan langsung memasukkan semua bajuku kedalam tas,

” Bimo mana ” sahutnya berulang ulang,

” Gak tau kak, aku mau turun duluan aja, kakak kalau mau cari kak Bimo, cari aja, aku mau turun sekarang ” teriakku. 

Dan singkat cerita, akhirnya akupun turun bersama 2 bapak petugas basecamp dengan kakakku yang masih sibuk berteriak teriak memanggil nama kak Bimo. Sepanjang perjalanan turun, fikiranku sangat tidak karuan, aku benar benar kebingungan dengan apa yang sebenarnya telah terjadi kemarin malam.

Dan tanpa banyak tanya lagi, akupun mempercepat langkahku menuju ke basecamp dengan harapan agar aku bisa sedikit lebih tenang. Sesampainya di Basecamp, aku langsung duduk dan beristirahat sambil menunggu kakakku datang.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.00 sore, kakakku pun sampai di basecamp bersama kak Bimo yang saat itu tiba tiba berubah jadi linglung. Kak Bimo waktu itu tiba tiba terus menggigit nggigit tangannya sambil sesekali tertawa dan tidak jarang pula dia menari perlahan sambil melirik kesana kemari. Dan setelah semuanya kuceritakan secara detail, seluruh orang yang ada di post pendaftaran saat itu seketika terkejut dan seolah tidak menyangka dengan apa yang sudah kualami malam itu. 

Dan akhir cerita, sesampainya dirumah, kakakku pun seolah tidak lagi memperdulikan keadaan kak Bimo yang saat itu kudengar belum bisa disembuhkan hingga beberapa hari. 

Rumah kami sempat beberapa kali didatangi oleh pihak keluarga kak Bimo untuk dimintai keterangan dan pertanggung jawaban karena mereka menganggap jika kakakku lah yang awalnya mengajak kak Bimo dalam perjalanan ke Gunung waktu itu. Namun setelah kami menceritakan apa yang telah dilakukan kak Bimo terhadapku, akhirnya pihak keluarga kak Bimo pun terkejut dan seketika meminta maaf kepadaku serta keluargaku. 

Waktu itu, kakakkupun juga sempat emosi luar biasa dan mengancam akan menuntut kak Bimo melalui jalur hukum atas tindakannya. Tapi mengingat karena keadaanya yang sudah tidak memungkinkan lagi, akhirnya kami semua memutuskan untuk berdamai dengan tidak lagi memperdulikan keadaan kak Bimo yang saat itu memang belum sembuh dari perilaku anehnya.

Dan hingga cerita ini ditulis, aku masih tidak mengetahui bagaimana keadaan kak Bimo saat ini. Terakhir yang kudengar dari kakakku adalah, kak Bimo dibawa saudaranya pergi menyusul orang tuanya yang saat itu memang merantau di luar pulau Jawa. Bahkan setauku, hingga saat ini, kak Bimo masih belum sepenuhnya sembuh dari perilaku anehnya.

Dan sejak saat itu, akupun memutuskan untuk tidak lg naik ke Gunung manapun meskipun aku sndr tdk menyangkal jika perjalanan ke Gunung sebenarnya adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Dan dengan adanya pengalaman seperti ini, semoga menjadi pelajaran bagi siapapun agar dapat lebih berhati hati lagi dalam melakukan setiap perjalanan.

Terimakasih teman teman semoga cerita ini menemani hari hari kalian. 

Thread By @Lakonstory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *