RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

PENGALAMAN HOROR DI BUMI PERKEMAHAN SUKAMANTRI

Halo temen2 semua, jadi ini bukan cerita aku ya. Cerita ini aku dapet dari quora. Karena lagi #dirumahaja akhir2 ini aku sering buka2 quora, nah kebetulan nemu cerita horor dan pingin bagi ke temen2 semua. Nama akun quora yang bagi cerita ini yaitu Alex Cheung 

Sengaja sharenya pagi, soalnya kalo malem aku takut hehe 

Ok mulai… 

Suatu hari di bulan Januari 2005, karena kesibukan pekerjaan membuat saya harus pergi sendiri menyusul rekan-rekan saya yang sudah lebih dulu tiba pada hari sebelumnya di bumi perkemahan Sukamantri, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, untuk mengikuti sebuah acara training camp. 

Saya berangkat pagi-pagi sekali dan tiba di kaki gunung sekitar jam 8 pagi. Karena sudah pernah berkemah disana sebelumnya, saya pun memutuskan untuk naik sendiri ke lokasi. 

Ketika melewati perkampungan penduduk di daerah Ciapus, saya yang ingin menghemat waktu memutuskan untuk menumpang motor penduduk setempat yang juga sebagai tukang ojek. Anehnya, awalnya tidak ada yang mau, walaupun saya sudah bilang akan saya bayar lebih. 

Namun setelah memohon dengan menawarkan bayaran lebih tinggi dari biasanya, akhirnya ada juga seorang penduduk yang mau mengantar saya. 

Setelah menumpang motor dan melalui perjalanan menanjak penuh liku dan guncangan, singkat cerita kami tiba di sebuah jalan setapak menyempit yang dipasang portal. Saya pun turun untuk memeriksa, namun ternyata portal tersebut dirantai jadi tidak bisa dibuka. 

“Hmm… saya ingat jalan ini, dan lokasinya tidak terlalu jauh lagi dari sini, paling-paling sekitar 1 jam berjalan kaki”, pikir saya.

Saya lalu bicara kepada tukang ojeknya “sampai disini saja kalau begitu ya mas, ini uangnya..” kata saya seraya membayar uang yg tadi disepakati. 

Disini ada sedikit keanehan.

Sambil menerima uang dari saya, si tukang ojek itu berkata kepada saya “hati-hati ya dek, semoga lancar selamat sampai tujuan…”

“iya, terima kasih ya mas.” kata saya.

“hati-hati ya dek…” ulangnya lagi. 

Saya mengamati si tukang ojek yang berbalik arah menuruni jalan setapak dengan motornya. Uniknya, bukannya fokus menyetir motornya ke arah depan, si tukang ojek malahan beberapa kali terus menengok ke arah saya yang berdiri melambaikan tangan ke arahnya. 

Akhirnya setelah si tukang ojek hilang dari pandangan dan suara motornya tidak terdengar lagi, saya pun mengangkat tas dan ransel saya berjalan menunduk melewati portal yang dirantai tadi dan mulai menelusuri jalan setapak berbatu. 

Baru beberapa puluh meter berjalan, saya merasakan sedikit kejanggalan. Di kanan kiri jalan setapak yang saya susuri, terdengar suara “kresek-kresek” di balik semak-semak.

“Ah, itu pasti suara binatang hutan”, pikir saya. 

Saya melanjutkan perjalanan sambil tetap waspada karena memang di kawasan hutan itu ada macan kumbang, setidaknya itu yang saya dengar dari pihak penjaga kawasan tersebut waktu saya kemping dulu. 

Sambil berjalan, saya mencoba menikmati segarnya udara pegunungan. Kebetulan cuaca cukup cerah dan hamparan pepohonan hijau membuat mata nyaman. 

Namun belum lagi lama berjalan, lagi-lagi saya merasakan sesuatu yang janggal. Di arah belakang jalan setapak yang sudah saya lalui, saya mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan. Padahal setahu saya tadi saya tidak melihat siapa pun di arah jalan saya. 

Saya pun berhenti dan menengok ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

“Hmm… sepertinya itu bunyi gema langkah kaki saya sendiri”.

Saya mencoba cuek dan berjalan lagi. Setelah berbelok di tikungan, Lagi2 langkah kaki itu terdengar beberapa puluh meter di arah belakang saya. 

Saya pun berhenti dan mencoba mendengarkan apa langkah kaki itu juga berhenti. Jika berhenti, berarti benar tadi itu bunyi gema langkah kaki saya sendiri. Tapi suara langkah kaki tadi tidak berhenti, tetap terdengar. Dan saya yakin itu suara langkah kaki manusia, bukan hewan. 

Saya menunggu siapa yang kira-kira akan muncul. Harapan saya ada penduduk setempat atau pendaki gunung lainnya yang juga hendak ke atas, lumayan bisa jadi teman ngobrol. 

Namun setelah ditunggu-tunggu, tidak ada seorang manusia atau satu hewan pun yang muncul. Suara langkah tadi pun menghilang.

Kali ini saya penasaran. Saya berpikir, “Apa ada orang yang sedang mengerjai saya?” 

Untuk menuntaskan rasa penasaran, saya berjalan turun kembali ke arah saya datang tadi. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya saya tiba kembali di portal yang dirantai tadi. Namun tidak ada siapa-siapa disana. 

Saya duduk sebentar di atas batu dekat portal sambil minum dan mengunyah biskuit perbekalan saya. 

Sambil minum, saya mengamati keadaan sekitar. Sepi. Sesekali ada suara burung, disertai kupu-kupu yang melintas. Saya duduk disitu sejenak sambil berharap barangkali si tukang ojek tadi balik lagi menjemput saya. 

Melihat matahari yang bersinar terang dan cuaca yang cukup cerah, maka setelah menimbang-nimbang saya pun memutuskan melanjutkan perjalanan melewati jalan yang diportal tadi. 

Kali ini saya berjalan agak cepat supaya tdk kesiangan. Jam tangan saya saat itu menunjukkan waktu sekitar 8.30 pagi.

Setelah beberapa waktu menelusuri jalan setapak, kira2 hampir 1 km, lagi2 saya mendengar suara langkah kaki di belakang saya. Kali ini saya abaikan saja. 

Tetapi kejanggalan rupanya tidak berhenti sampai disitu. Suara “kresek-kresek” terdengar lagi di kanan kiri semak-semak jalan yang saya lalui. Saya pun berdiam sejenak, bersiap-siap kalau-kalau ada hewan liar yang menerkam. 

Namun tidak ada apa-apa yang muncul. Suara “kresek-kresek” pun berhenti. Suasana sekitar saya mendadak hening, tidak ada suara burung atau hembusan angin.

Anehnya, suara langkah kaki di arah belakang saya tidak berhenti!

“pasti ada yang tidak beres!” teriak saya dalam hati. 

Adrenalin saya langsung naik. Bulu kuduk pun terasa merinding. Bodohnya, saya malah teriak “Halooo…! siapa ya disitu?”

Tidak ada jawaban. 

Tapi suara langkah kaki tadi masih terdengar, walaupun jarak dengarnya tetap sebatas itu saja, tidak berubah, hanya sekitar beberapa puluh meter di belakang saya. Masalahnya tidak ada siapa-siapa disitu! 

Kali ini saya panik. Akhirnya dengan menguatkan diri, saya berlari naik ke arah atas gunung sambil menenteng tas saya yang lumayan berat. 

Setelah hampir kehabisan nafas, saya akhirnya berhenti berlari. Suara langkah tadi sudah tidak terdengar lagi. 

Setelah berjalan kaki lagi beberapa waktu, akhirnya saya berhasil sampai di sebuah gapura sederhana bertuliskan “Kujang Raider”. Saya senang karena ingat dengan gapura ini. Dulu saya pernah berfoto di sekitar gapura ini bersama beberapa rekan peserta training camp.

Saya berhenti dan minum sejenak dibawah tiang besinya. Sambil minum saya mengamati cuaca yang tadinya cerah mendadak mendung. Langit berubah gelap dengan cepat dan gerimis pun turun. 

Setelah minum saya membuka telpon genggam dan mencoba menghubungi beberapa rekan saya yang di lokasi perkemahan untuk menjemput saya ke gapura itu. Sayangnya, seakan-akan mirip seperti kejadian di film horror, telpon saya tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal sama sekali. 

Akhirnya saya memutuskan untuk terus berjalan sendiri menuju lokasi perkemahan. Saya menutup kepala saya dengan topi agar terlindung dari gerimis. 

Saya berjalan memasuki jalan tanah berbatu yg cukup lebar, di kanan kirinya dipenuhi pepohonan tinggi dan juga bermacam tumbuhan. Suasana jadi lebih gelap karena langit tertutup dedaunan pohon yang lebat, namun keuntungannya air hujan jadi lebih sedikit yang bisa menembus turun. 

Setelah masuk ke wilayah itu saya merasakan suasana menjadi lebih suram dan dingin. Kabut juga mendadak muncul. Bukan hal yang aneh sebenarnya karena di wilayah gunung memang kabut bisa turun sewaktu2. Tapi bagi saya yg baru mengalami kejadian “unik”, cukup mengejutkan rasanya. 

Bagi rekan2 yang belum pernah ke Sukamantri, perlu saya jelaskan sedikit, dari gapura Kujang Raider seharusnya sudah tidak seberapa jauh dengan lokasi kemping, perkiraan sekitar 30 menit berjalan. 

Jalan yang saya lalui bentuknya menanjak berkelok-kelok, jika digambarkan, kurang lebih berundak seperti terasering. Jadi jika kita sudah naik menanjak dan berbelok, kita bisa melihat jalan di arah bawah atau atas kita. 

Semakin saya berjalan masuk, saya merasakan sekali waktu itu saya “tidak sendirian”. Saya merasakan timbulnya perasaan aneh yang sukar dijelaskan, saya merasa seakan-akan ada banyak “mata” yang menatap saya. 

Bagi rekan2 yang membaca tulisan saya ini, mungkin bisa saja menganggap saya mengada-ada, berhalusinasi, atau terlalu sok “merasa”. Tapi itulah yang benar-benar saya rasakan pada waktu kejadian di tengah hutan gelap dan dingin. 

Terus berjalan menelusuri kelokan dan tanjakan, saya pikir sebentar lagi sudah akan sampai di lokasi tujuan. Kenyataannya perjalanan yang saya lalui tidak semudah seperti yang saya perkirakan. 

Setelah beberapa kali kelokan, saya mulai menyadari ada yang aneh.

Jalan yang saya lewati ternyata sama dengan yang sudah saya lewati sebelumnya! OMG! Mimpi apa saya semalam bisa mengalami hal seperti ini.. 

Saya berlari hingga ke kelokan berikutnya untuk memastikan. Dan benar saja, ternyata sama lagi jalannya! Ampun deh! Saya langsung merinding bengong. 

Saya mencoba sekali lagi. Kali ini saya mencari sebuah patokan sebagai penanda. Ada sebuah batu menonjol di jalan yang tertanam di tanah cukup dalam. Saya jadikan batu di sebelah kanan saya itu sebagai patokan.

Saya berlari lagi ke kelokan berikutnya. 

Dan…

Itu dia batunya di depan saya! Jalan yang tadi lagi! Jalan yang mestinya sudah saya lewati kini ada lagi di hadapan saya. Stress berat!

Masih belum yakin, saya pun balik arah turun ke kelokan sebelumnya. 

Dan…

Saya sampai ke jalan yang sama lagi! Saya langsung pucat dan lemes.

“Kali ini bener-bener ada yang gak beres!”

“Apa iya gue bakal mati disini ya…” pikir saya dengan panik. 

Saya yang mulai kedinginan karena dilanda panik ditambah gerimis yang semakin deras akhirnya duduk dekat batu patokan tadi. Saya meneguk minuman yang tersisa tinggal sedikit. Saya cek bekal biskuit saya di dalam tas juga sudah habis. 

Saat itu sambil duduk terdiam, saya yg sudah gemetar dan kebingungan akhirnya pelan2 melafalkan doa dlm hati. Refleks tangan saya meraih telpon genggam di kantong, berusaha mengontak teman2 saya di lokasi kemping. Tapi lagi2 tdk berhasil karena tidak ada sinyal satu ‘bar’ pun. 

Setelah duduk beberapa waktu dan tidak terjadi apa pun, saya lalu mengumpulkan keberanian dan berdiri. Saat itu terasa sekali kepala saya berat dan “perasaan aneh” yang sejak tadi melanda, kembali saya rasakan. 

Saya merasa banyak yang menatap saya dari balik pepohonan dan gelapnya hutan. Rasa ‘diamati’ yang pekat itu membuat saya gemetar dan jantung saya berdetak keras. 

Akhirnya dengan badan gemetar saya memutuskan berjalan lagi naik ke arah tujuan utama, camping ground.

Sampai disini, ada bagian yang tidak saya begitu ingat yaitu berapa lama saya berjalan. 

Yang saya ingat, setelah berjalan menanjak naik dan berbelok, saya tiba-tiba melihat seorang laki-laki separuh baya berjalan turun dari arah yang berlawanan dengan saya. Tampaknya seperti pengunjung lokasi kemping juga atau mungkin penduduk sekitar, entahlah. 

Saya pun merasa amat gembira dan berlari ke arah si bapak itu. Saya panggil-panggil dia: “Pak..! pak..! Tolong pak..! saya tersesat..!”

Anehnya, si bapak itu seperti tidak mendengar saya. 

Sampai ketika dia sudah tiba di dekat saya, saya masih berusaha berbicara dengannya. Saya teriak “Pak..! permisi pak..! saya tadi lewat dari arah sana tapi sekarang saya gak bisa keluar..!” 

Lagi-lagi si bapak tampaknya tidak mendengar saya. Dia berjalan biasa saja. Saya sampai melihat apakah kakinya menapak tanah atau tidak. Tapi saya sudah tidak fokus lagi kesitu karena saya sudah panik. 

Akhirnya pas dia berjalan lewat di sebelah saya, saya berusaha menepuk dan memanggilnya ‘Pak..! pak..!”

Kali ini dia berhenti. Eh, tapi kok aneh… si bapak tampak mencari-cari arah suara saya. Padahal saya jelas-jelas berdiri di depannya! 

“Pak..! pak..! permisi pak!” teriak saya di sebelahnya.

Saya perhatikan wajah si bapak tampak kebingungan dan seakan mencari-cari saya atau asal suara saya. “Saya disini loh pak..!” teriak saya hampir menangis. 

Setelah beberapa saat si bapak tampak kebingungan lalu pergi dengan cepat ke arah bawah. Saya masih berusaha berteriak tapi si bapak seakan tidak mendengar. “Ya Tuhan..! ada apa ini…” Kengerian menjalar di sekujur tubuh saya. 

Saat saya berusaha mengejar turun, pas di belokan saya tidak melihat lagi si bapak tadi. Yang ada malahan… jalan yang sama seperti tadi lagi…! Saya melihat lagi batu patokan yang tempat tadi saya duduk.

“Nooooo…!!!” 

Sampai disini saya sebenarnya sudah tidak sanggup berpikir apa-apa, yang saya bisa lakukan cuma berlari dan terus berlari. Harapan saya cuma satu: semoga jalan di hadapan saya ini berubah normal lagi! 

Setelah beberapa waktu memaksakan diri berlari, tubuh saya semakin lemas. Dan jalannya masih sama saja seperti tadi. Batu patokan masih ada lagi di hadapan saya. “Aarrrrggghhhh…!” teriak saya dalam hati. Saya sungguh kangen dengan keluarga saya. 

Saya akhirnya berhenti berlari. Dengan nafas ngos-ngosan, saya memperhatikan keadaan sekeliling dengan panik dan was-was.

Saya mulai keder alias blank. Badan saya trembling. 

Saya merasa tidak bisa lagi membedakan banyak hal di sekitar saya. Kadang saya merasa mendengar suara orang tertawa, kadang saya merasa mendengar langkah kaki, kadang saya merasa melihat gerakan di balik pepohonan lebat nan gelap, dan berbagai perasaan lainnya. 

Sampai akhirnya mendadak saya merasakan kesunyian yang amat sangat.

Sunyi. Senyap.

Segala kebisingan di telinga saya mendadak hilang.

Saya pikir saya pingsan atau sudah berpindah alam. Tapi ternyata tidak. 

Saya masih berdiri di atas jalan setapak itu dengan badan gemetar, ransel di punggung, tas tenteng di genggaman tangan.

Tiba-tiba…

Di tengah kesunyian yang pekat itu terdengarlah suara… bayi menangis! 

OMG! masa iya gema suara tangisan anak bayi di kampung sekitar atau di camping ground bisa terdengar sampai ke tengah hutan?

Tapi ada yang aneh dari suara tangisan bayi ini. Suaranya tidak berputar-putar seperti orang tertawa yang saya dengar sebelumnya. 

Kali ini suara tersebut hanya datang dari satu arah. Saya mencoba berjalan ke arah suara tangisan itu, yang ternyata membawa saya naik ke jalan berkelok.

Sesampainya di belokan, saya tertegun. 

Kali ini, jalan di hadapan saya… tidak sama! “Horee…!” teriak saya dengan gembira sampai menitikkan air mata, betapa senangnya saya melihat jalan di hadapan saya yg kali ini berbeda dengan yang sudah2 tadi. Tidak ada lagi batu patokan di kanan jalan yg berkali-kali saya temui. 

Saat itu suara tangisan bayi tadi juga sudah hilang dan saya merasakan suasana kembali normal. Tidak terasa lagi kesunyian yang pekat seperti sebelumnya. 

Tidak ada lagi rasa “ditatap” atau “diamati”, suasana sekitar juga terasa lebih terang, bahkan gerimis pun berhenti, sinar matahari juga tampak sedikit menyinari pepohonan di sepanjang jalan di depan saya. 

Setelah melihat jalan di hadapan saya berbeda, saya tidak berani lagi menengok ke belakang. Saya berlari melintasi jalan ‘baru’ tersebut. 

Di tengah jalan, saya terhenti sejenak karena melihat jalan di depan saya tampak seperti ada yang habis ‘melintas’. Jalan berbatu di hadapan saya tampak ada bekas tekanan bergelombang layaknya ular besar yang melata di atas jalan berbatu itu. 

Ukuran gelombang di jalan yg seperti bekas badan ular melata itu besar sekali, layaknya ular naga, lebarnya sekitar 4-5 meter. Tanaman di sekitarnya tampak bergeser dan seperti terbenam akibat gesekan mahluk itu. Ada juga sebuah batang pohon yg miring dan akarnya agak terangkat. 

Darimana saya tahu kalau mahluk yg lewat di jalan adalah seekor ular besar? Saya hanya berasumsi sebab di dalam tanda bekas mahluk melata tersebut ada banyak sisik seperti sisik ular. Dlm pemikiran saya saat itu, layaknya seperti ada hewan melata yang habis ganti kulit disitu. 

Huupp! Saya berhasil meloncatinya, untung tidak terpeleset dan jatuh di genangan tanah merah bercampur sisa sisik-sisik tadi.

Setelah itu saya bergegas lari menelusuri jalan selanjutnya. 

Setelah berjalan beberapa waktu dengan tanpa hambatan, akhirnya saya berhasil mencapai pos masuk Sukamantri Camping Ground.

Hati saya melonjak. Belum pernah saya sesenang itu melihat pos tersebut! 

Saya pun berjalan dan melangkah menuju ke warung-warung di sebelah kanan pos yang dibuka oleh penduduk setempat. 

Setibanya disana saya segera merebahkan diri di kursi panjang yang terletak di depan warung. Beberapa penjaga warung yang melihat pucatnya wajah saya dan tampak sangat kelelahan lalu mengajak ngobrol. 

Mereka bertanya saya datang dari mana dan habis berjalan dari mana, kenapa kok badannya basah kuyup. Saya menjawab mereka satu per satu dan menceritakan bahwa saya baru berjalan dari kampung di kaki gunung lalu melewati gapura Kijang Raider , terus berjalan hingga sampai kesitu. 

Para penjaga warung agak bingung, “memang berapa lama jalan kesini?” “kok kayaknya capek banget?” tanya mereka.

Saya menjawab “saya berangkat jam 9 dari bawah”.

Mereka saling melihat lalu bilang “dek, sekarang udah jam 3 sore, lama sekali dari bawah ke sini, sampai 6 jam!” 

“Hahh? Jam 3?” saya merasa dari tadi tidak lama kok saya tersesat di jalan, paling sekitar 2–3 jam. Saya pikir sekarang baru jam 12, pas jam makan siang.

Akhirnya saya bercerita ke si penjaga warung, tidak detil, inti2nya saja. Karena saya merasa badan panas dingin, mau muntah. 

Setelah mendengar kisah saya, ada ibu penjaga warung yang membuatkan saya teh manis panas, yang segera saya teguk sampai nyaris habis. Seraya berterima kasih dan meletakkan gelas teh, saya bertanya kepada si ibu itu, “memangnya ada ya bu yang pernah mengalami seperti saya?” 

Si ibu penjaga warung sambil agak berbisik berkata, “kurang tau dek, tapi emang sih biasanya ada hari tertentu yang dihindari sama warga sekitar kalau mau naik, menurut kepercayaan, kalau nggak salah ada penunggu gunung yang mau lewat.” 

“Oalaahh… begitu toh ternyata…”

Saya lalu terdiam mengingat beragam kejadian yang saya alami hari itu.

Para penjaga warung lalu mempersilakan saya beristirahat di situ sampai saya pulih. 

Beberapa saat kemudian, saya melihat ada beberapa teman saya peserta training yang datang hendak makan di warung itu. Saya pun menyapa mereka dengan penuh kegembiraan. Mereka tampak kaget, sambil bertanya “Loh, kapan sampai, kok tiduran di sini?”

“Ceritanya panjang guys…” 

Saya lalu mengikuti acara training camp hingga selesai. Saat acara selesai beberapa hari kemudian, rombongan kami pun turun berbarengan. Di tengah jalan pulang, tentu saja kami juga melewati jalan berkelok yang saya lalui pada waktu “tersesat” beberapa hari sebelumnya. 

Saya menatap jalan berkelok tersebut, menatap batu di pinggir jalan yang saya jadikan patokan. Bedanya kali ini jalan tersebut ‘normal’, layaknya jalan yang tidak pernah sama setelah berbelok. Dan lama waktu menuruninya juga sangat cepat, tidak sampai 30 menit! 

-TAMAT- 

Thread By @bryndajkt48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *