RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Penghuni Alas Lali Jiwo

Alas Lali Jiwo jika diartikan dalam bahasa Indonesia disebut Hutan Lupa Jiwa. Dinamai ini karena konon ketika berada di kawasan ini pendaki bisa lupa diri. Terlebih untuk orang-orang yang memiliki niat jahat atau mereka yang melanggar pantangan-pantangan hutan ini.

Berbagai cerita mistik dan gaib sering terjadi di alas Lali Jiwo. Dari yang tersesat hingga mengalami kesurupan. Biasanya mereka terkena naas itu disebabkan karena melanggar aturan seperti :

-berbicara kotor

-memiliki niat jahat saat mendaki

-bersikap sombong

Hutan adalah tempat yang selama ini dikenal bersemayamnya makhluk halus. Seperti halnya alas lali jiwo yang berada di kawasan lereng Gunung Welirang, di wilayah perbatasan antara Pasuruan dan Malang. Kali ini saya menceritakan kejadian yang pernah dialami seorang penulis redaksi sebuah majalah.

Cerita ini berlatar pertengahan september 2001. Si penulis anggap saja Rendi (bukan nama asli) membantu pencinta alam dari Purwokerto yang berjumlah 6 org melakukan ekspedisi pendakian beberapa gunung di Jawa Timur. Sebagai pilihan pertamanya adalah Gunung Welirang karena memang letaknya lebih dekat dari Surabaya. Mereka mulai mendaki gunung yang berketinggian +3156 mdpl. Semua berjalan lancar dan aman

Letak alas Lali Jiwo berada di tengah-tengah lereng Gunung Welirang, yaitu antara pondokan Seng sampai pondokan Welirang. Disana hutannya heterogen yang tidak begitu lebat. Menurut sebuah legenda, hutan tersebut tidak boleh dilalui manusia pas Maghrib atau Isya. Ndak tau kenapa bisa muncul legenda ini. Namun, konon kalau dilanggar pasti akan mengalami suatu kejadian aneh2 yang ndak masuk diakal.

Ada lagi sebuah kepercayaan yang dipesankan oleh orang tua di sekitar lereng Welirang. Konon, saat melalui hutan yang satu ini ndak boleh dalam keadaan jiwa lagi kosong karena seperti yang sudah sering terjadi kalau jiwa kosong lagi mendaki maka akan kesurupan.

Sialnya, entah kenapa Rendi melanggar pantangan tersebut. Gara2 waktu itu mereka udah kehabisan bahan logistik dan ndak bisa bertahan semalaman tanpa bahan perbekalan yang cukup. Sebab semua perbekalan mereka tinggalkan di Pondokan Seng. Maka, biar mereka ndak kelaparan saat di puncak, maka rendi berinsiatif mengajak temen-temennya untuk melanjutkan kembali ke Pondokan Seng yang dijaga oleh teman Rendi yang lain.

Menurut Rendi sekitar pukul 16.45 dia memimpin rombongan untuk turun, dengan perkiraan tiba di Pondokan Seng sebelum maghrib. Namun, pada saat mereka hendak beranjak turun, Rendi merasa ada yang mengikuti mereka yakni sekelebat bayangan putih kecil. Bayangan tersebut seperti berlari di samping kanan Rendi. Walau begitu rendi mencoba ndak memperdulikannya karena ndak mau rombongan yang menjadi takut.

Mereka terus melaju turun dengan agak berlari kecil. Mereka tidak mau terjebak di dalam Alas Lali Jiwo pada saat Maghrib, sebab kendati belum membuktikan resikonya namun rendi berusaha mempercayai legenda itu. Sesaat bayangan itu hilang, aku tampak lega katanya. Mungkin itu hanya kebetulan lewat. Rendi terus mengajak rombongan untuk lebih cepat namun memang karena kondisi rombongan yang sudah capek perjalanan tetap saja lambat. Rendi hanya bisa terdiam dan menuruti mereka untuk berhenti setiap saat, terutama kondisi para pendaki wanita yang setiap kali terlihat memegangi lutut tanda mereka sudah terlalu letih.

Akhirnya yang dikhawatirkan Rendi memuncak begitu terdengar suara Adzan Maghrib dari lereng bukit. Pada saat yang sama mereka telah memasuki kawasan Alas Lali Jiwo. Dengan perasaan yang berdebar-debar Rendi terus memimpin rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa saat melangkah, terdengar suara berderak derak seperti ada hewan liar atau sejenisnya mengikuti mereka. Karena dikira hanya hewan hutan yang kebetulan lewat mereka tidak memperdulikannya dan sesekalu mereka berlari lari kecil. Memasuki kawasan padang ilalang mereka dikejutkan oleh suara aneh yang terdengar di telinga kiri Rendi.

“Hhhhmmmm!!”

Demikian bunyi suara tersebut yang terdengar berat dan kasar. Suara itu terdengar jelas sekali persis di telinga kiriku karena aku tidak kau rombongan yang lain merasa ketakutan aku memutuskan untuk tidak memperdulikann suara tersebut. Ucap Rendi

“Hhhmmmmm….mh!!”

Kembali suara itu terdengar lagi. Untuk sesaat dirinya tersentak kaget dan agak gemetar. Dengan jantung yang berdegub kencang dirinya kembali memutuskan untuk tidak memperdulikan suara tersebut.

“Ayo ! Buruan jangan sampai kemalaman disini” seru rendi sambil mencoba menekan perasaan.

Selang beberapa langkah dirinya,rendi dikejutkan oleh suara yang lebih besar dan bernada marah di telinga kirinya

“HHHMMM…MMMAAHH!!”

Sontak dirinya berhenti dan tak bisa bergerak. Dengan tubuh yang agak gemetar dan tegang dirinya menoleh kearah teman-temannya. Ternyata teman teman nya merasa ketakutan juga terutama 4 orang cewe yang dibelakang rendi.

“Kris, kamu dengar suara itu ngak?!” Tanya rendi kepada temannya Kristin.

“Emm..Deee..ngar mmass” ujarnya

Rendi kembali bertanya kepada anggota yang lain

“Ken, kamu denger jga ndak?!”

“Ya, Mas.. aku denger juga” jawab Niken.

“Ranti juga Mas!” Timpal Ranti.

Ternyata semua mendengar suara yang sama dan disitu rendi semakin panik dan gusar. Dirinya mencoba untuk ttp tenang dan sabar. Dengan perasaan yang campur aduk diiringi tubuh yang gemetar rendi mencoba mencabut parang yang ada didalam tasnya, seraya berteriak.

“Hoii, SIAPA KAU ?! Keluar !!”

Beberapa kali berteriak dan rendi berharap itu hanyalah binatang atau babi hutan yang juga sering terlihat

“Mas, aku takut..suara itu.. seram sekali” rengek Niken.

“Entahlah.. mungkin lebih baik kita tunggu sampai Adzan Maghrib lewat baru kita lanjutkan kembali perjalanan ini” ujar Rendi

Dan untuk sesaar mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Didalam peristirahatan itu mereka berusaha untuk menenangkan diri sambil membaca doa guna memohon perlindugan dari Tuhan. Setelah hampir 20 menit akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan turun. Saat itu semua diliputi perasaan takut dan semua terus membaca doa tanpa henti. Mereka berusaha keluar dari Alas itu sampai akhirnya mereka tiba di Pondokan Seng. Namun rendi sangat terkejut begitu melihat kebelakang satu dari 4 cewek itu tidak kelihatan lagi. Demikian juga kedua orang teman cowok, setelah beberapa saat menunggu rendi memutuskan untuk kembali mencari keatas dengan bantuan dua orang teman pendaki nya.

Mereka mencari, tapi sama sekali tidak ada jawaban atau sahutan dari mereka. Mereka terus mencari hingga mereka bertemu seorang pendaki. Yang mengabarkan diatas ada seorang cewek kerasukan makhluk halus penghuni Alas itu. Mendengar itu mereka langsung bergegas naik untuk melihat dan membantu sedang pendaki yang turun kami pesankan untuk meminta bantuan kepada orang2 penambang belerang yg ada di Pondokan Seng. Ternyata benar, Kristin teman nya dalam kondisi kerasukan makhluk halus. Dia meronta-ronta melawan tiga orang pendaki yang berusaha menenangkannya.

“Woi tolong !! Asu ! Setan nya nekad banget ini!” Teriak salah seorang pendaki

Serentak kami membantu ketiga pendaki tersebut untuk menenangkan Kristin yang terlihat semakin beringas begitu melihat kehadiran diriku. Wajahnya terlihat begitu pucat pasi, mulutnya beberapa kali menyeringai sambil terdengar seperti suara mendesis dan sesekali bergumam tak jelas. Yang lebih menyeramkan lagu adalah bola matanya yang begitu lebar seakan hendak menyembul keluar.

Mereka terus berusaha untuk menenangkannya namun tenaga Kristin besar sekali bahkan seorang pendaki yang memegangi tangannya sempat terdorong hingga jatuh terjerembab. Tidak lama kemudian datang beberapa pendaki bersama dua orang tua penambang belerang. Untuk beberapa saat terlihat mereka berkomat kamit membacakan sesuatu. Orang tua tersebut mendekati kristin seraya mengajak berkomunikasi dengan arwah yang ada pada tubuh Kristin.

“Kamu teman cewe ini ya?” Tanya seorang bapak pada rendi.

“Benar pak” jawab rendi.

“Begini nak, kalau mau temanmu selamat, arwah yang ada didalam tubuhnya minta antar ketempat kalian berhenti tadi, itu pesannya!”

“Kalau emang gitu apa boleh buat pak” jawab rendi

Dengan dibantu beberapa pendaki, kristin kami bopong keatas tempat dimana kami dan teman teman diganggu tadi. Yang bikin mereka takut adalah tubuh kristin berat sekali hingga mereka harus berhenti berkali kali. Dan selain itu tubuh kristin menebar bau yang harum. Dengan perasaan was was mereka sampai ditempat yang dituju. Dan setelah itu kedua bapak itu mulai berkomunikasi dengan roh yang ada di tubuh kristin. Setelah selesai berkomunikasi tubuh kristin jatuh terkulai lemas menandakan roh yang ada ditubuhnya telah pergi. Mereka pun membopongnya untuk turun ke Pondokan Seng.

“Nak, kelihatannya ada lagi temanmu yang tersesat” jelas oran tua itu.

Sontak rendi terkejut dan ia ingat 2 orang temannya memang belum kembali dan menurut keterangan dari kedua bapak tadi, keduanya sedang disesatkan oleh penghuni Alas Lali Jiwo. Dibantu kedua bapak itu, mereka mencari selama 1/2 jam akhirnya mereka menemukan tanda2 keberadaan mereka. Tas pinggang salah satu dari mereka terjatuh di area yang hampir mendekati jurang.

Setelah kedua bapak itu membaca doa dan meminta ijin pada penghuni wilayah tersebut mereka dapat menemukan teman mereka yang saat ditemukan sedang berdiri pada sebatang pohon tumbang, dan yang mengerikan lagi ujung pohon tumbang tersebut adalah jurang yang cukup dalam. Dan sepertinya mereka tidak sadar bahwa yang mereka lalui adalah sebatang pohon tumbang yang kanan kirinya adalah jurang yang mengancam nyawa mereka.

Rendi berteriak menyadarkan mereka

“Woii !!! Stop.. Woi.. Stop!!”

“Kalian jangan gerak ! Aku kesana !”

Dengan langkah hati2 rendi dan kawan2 mencoba mencapai ketempat mereka berdiri, yang ternyata sulit sekali dicapai. Dengan perlahan lahan merangkak akhirnya mereka bisa mencapai teman mereka dan mengeluarkannya. Setelah berhasil mengeluarkan teman teman rendi yang diganggu penghuni Alas Lali Jiwo mereka dibantu kedua bapak itu serta beberapa pendaki memanjatkan doa untuk memohon maaf kepada Penghuni Alas Lali Jiwo dengan membakar kemenyan di luar hutan tersebut.

Menurut penuturan mereka yang tersesat, setelah peristiwa suara di area Alas Lali Jiwo mereka dihadang sebuah pocongan ditengah jalan karena takut mereka berlari. Mereka menemukan jalan setapak kemudian memutuskan melalui jalan itu dengan harapan bisa sampai Pondokan Seng. Tapi pada kenyataan mereka malah berada diatas sebatas pohon tumbang yang ujungnya ada jurang yang cukup dalam.

Menurut penuturan dari bapak2 penambang belerang yang menolong kami. Roh2 tersebut marah pada kami terutama pada ku, Rendi. Roh-roh tersebut marah karena merasa ditantang oleh kami. Saya lolos karena sewaktu berlari saya membaca berbagai doa agar dilindungi Tuhan, imbasnya teman-temanku yang menjadi sasaranya pungkas rendi. Setelah kejadian itu mereka harus berhati-hati setiap memasuki kawasan yang asing serta menjaga sikap. Tak lupa untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam segala kegiatannya.

Thread By @War_Dogg7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *