RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Penghuni Hampa Kamas Asmara

Thread ini menceritakan tentang pengalaman seorang mahasiswa yang bermain ke kamar teman asrama kampus, lalu mendengar bisikan dan suara aneh dari kamar kosong sebelah.

Suara langkah kaki, gesekan barang, hingga ibu asrama menelpon. Apa yang terjadi?

Juni, 2022 

– DAY 1 –

Dian baru saja tiba di kota S lalu menuju kostnya untuk beristirahat. Pukul 14.30, Dian beranjak dari peraduan lalu bergegas menuju asrama temannya yaitu Pika.

Pika adalah mahasiswa asal luar pulau dan menempati asrama kampus yang masih terbilang baru tahun ini. 

“tok, tok, tok..” Dian sembari mengetuk pintu asrama nomor 203.

“Eh Diann,, ayo masuk”.

Pika menyambut baik kedatangan Dian yang merupakan korti di kelasnya. Dua teman yang satu kelas perkuliahan itupun, berbincang dan mengikuti meet UAS perkuliahan bersama di kamar asrama Pika. Alasan utama Dian selain mencari teman ngobrol ke asrama adalah juga mencari Wi-fi. UAS pun berakhir, Pika menunjukkan sikap yang tenang daripada Dian yang aktif sekaligus kagum melihat isi asrama bak apartemen. Ditengah perbincangan dan kekaguman Dian, terdengar langkah kaki. 

Dian penasaran, menanyakan suara apa itu.

“ussttt sini..” Ucap Pika mengecilkan volume suaranya sambil menghentakkan jari agar Dian mendekat ke arahnya.

“Kamar sebelah kosong, yang punya belum pernah datang”. Ujar Pika dengan ekspresi ingin melanjutkan cerita yang tertahan. 

Dian semakin penasaran, dan bertanya-tanya langkah kaki yang barusan Ia dengar.

[posisi kamar Pika bersebelahan dengan balkon di sebelah kanan dan di sebelah kiri kamar kosong yang belum kedatangan tuan]

Pika pun mengatakan “gangguan ini sering terjadi” 

Cerita Pika cukup membuat Dian penasaran. Dian yang ada rapat kala itu di gedung yang tak jauh dari asrama, membuatnya terpaksa pergi dan akan kembali, ingin “mengecek” apakah suaranya semakin jelas saat malam hari.

Selama rapat, Dian kurang fokus karena rasa penasarannya itu. Dian merupakan sekretaris rapat. Sehingga Ia memerlukan jaringan untuk bisa mengetik ulang hasil rapatnya dan memutuskan langsung menuju asrama Pika.

Pika membukakan Dian pintu kamar, Dian langsung duduk dan membuka laptopnya. Terlupa sejenak untuk membahas “penghuni sebelah” 

Sampai akhirnya saat Pika dan Dian berbincang, terdengar suara mesin penghilang bau di toilet, suara closet yang ditekan hingga langkah kaki keluar. Seperti ada aktivitas di kamar sebelah.

Pika dan Dian mendengar dengan jelas sembari memberi kode “jangan bersuara”🤫 

Saat itu +- pukul 18.50, suara semakin keras hingga akhirnya berhenti membuat Pika dan Dian sejenak menghela napas.

Tak lama, pintu kamar Pika ada yang mengetuk. Dian menoleh dan memasang raut tegang nan melotot. Pika tanpa berpikir lama menurunkan kakinya dan membukakan pintu. 

Dian sempat berkata “eh jangan dibuka itu siapa?”

Namun gerakan tangan Pika lebih cepat! Pintu terbuka sayangnya tidak terlihat ada orang. Pika pun keluar, menoleh & memasang ekspresi terkejut.

Jantung Dian yang melihat dari dalam berdegup kencang, “Siapa itu Pikaa?!” 

Pika tersenyum lebar. Dan rupanya muncul Vera. Vera adalah teman sekelas Pika dan Dian yang juga tinggal di asrama, tapi beda lantai.

Seketika suasana berubah riuh dan pecah dengan suara tawa dan pelukan. Vera rupanya ingin membuat kejutan untuk Pika. Namun, Vera semakin terkejut karena mengetahui Dian yang sedang main ke asrama.

Mereka bertiga akhirnya puas mengobrol membahas tugas, kesibukan satu sama lain, hingga Dian yang melanjutkan mengetik hasil rapat sebelumnya.

Pukul 20.30, Dian usai mengirimkan hasil rapat ke grup panitia. 

Pika dan Vera pun mulai menghasut Dian agar menginap saja. Dian yang merasa di kost sendirian sepi, akhirnya mengiyakan tawaran Pika dan Vera untuk menginap di kamar Pika.

Baru saja mengobrol sebentar, Dian kembali mengajak untuk senyap karena terdengar suara dari sebelah kamar. 

Rupanya Vera sudah mengetahui tentang kamar sebelah. Seketika saat itu topik beralih menjadi sedikit horor.

Membahas mulai dari kamar itu belum pernah “dibantenin” sampai berspekulasi pasti ada yang menempati yaitu tak kasat mata. Pembicaraan semakin dalam, suara itu tak muncul 

Waktu menunjukkan pukul 21.25. Pika, Vera, dan Dian memutuskan untuk keluar membeli makan. Karena Vera sudah ada makanan, Pika dan Dian hanya keluar berdua. Veru yang takut ditinggal sendiri, Ia memilih untuk menunggu di kamarnya.

Pika dan Dian turun, mengambil motor & berangkat 

Pika dan Dian sampai di asrama. Mereka langsung mengetuk pintu kamar Vera untuk mengajak makan bersama di kamar Pika.

Namun, Dian memutuskan untuk mandi sekejap dan meminjam handuk Pika. Ketika Dian keluar toilet, baru mematikan stopkontak, terdengar suara di sebelah 

“degh, degh, degh..kletek viuwzzzz…” Sontak membuat Dian menatap kososng ke Pika dan Vera. Dian pun memberanikan diri berkata.

“Iya kenapaa, baru selesai mandi lho. Kita mau makan, jangan ribut yaa” [berjalan ke arah balkon meletakkan handuk di jemuran]

Suara itu masih, 

Tapi Pika, Vera, dan Dian tak mempedulikannya. Mereka lanjut makan nasi goreng dan ayam geprek yang dibelinya tadi.

Sepanjang mereka makan dan ngobrol. Suara dari kamar sebelah sesekali muncul dan mengiringi pembicaraan. Tapi tak begitu mengganggu. Sesekali ketika hening. Ia menguji, dan diam selama 20 detik untuk mengetes pergerakan. Benar saja, suara itu tiba-tiba muncul kembali. Dengan tempo yang lebih cepat.

Alurnya: suara langkah kaki, suara stopkontak, penyedot bau, gemericik air, closet, keluar langkah kaki. “degh, tek, viuwzz,..” JELAS!! 

Suara tak berlangsung lama, tempo melambat dan sunyi lagi. Sampai akhirnya mereka selesai makan. Saat itu Pika, Vera, dan Dian sedang mengerjakan tugas yang harus dikumpul pukul 23.59.

Fokus mengerjakan dan sudah mengirim tugas. Membuat mereka terlupa dengan suara di sebelah. 

Berbincang di atas pukul 00.00 menjadi semakin seru. Pembicaraan semakin mendalam membahas budaya daerah, tradisi, hingga cerita awal bisa masuk prodi sekarang.

Mata kantuk pun ditahan oleh mereka, untuk bisa mengobrol = [ghibah] :%

Vera yang memiliki rasa penasaran tinggi sesekali meminta Pika dan Dian untuk “uji nyali” kembali. Waktu menunjukkan 00.40. Benar saja, “Ia” seakan tahu anak-anak tengik ini penasaran dengan keberadaannya.

“grewtt..” Suara meja bergeser pertama kali di dengar oleh Vera dan Dian. Pika memasang raut senyum rapat” 

Besok akan dilanjutkan lagi yaa. 

Lanjut-

Vera dan Dian mengerinyitkan dahi sekaligus merinding dan makin percaya bahwa di kamar sebelah memang ada yang tidak beres.

Hari makin larut, menujukkan pukul 01.05. Suara itu makin memuncak dan membuat mereka semakin tidak bisa berhenti membicarakannya 

Dian mengajaknya mengobrol dengan ucapan “Udah ya, jangan ganggu. Ini udah malam, Kamu mau apa? Suara itu seakan membalas, semakin jelas terdengar dengan tempo semakin cepat

“degh,syurr, kricikk, viuwzzz, tekh, tekh” Ketukan meja mengakhiri malam itu. Merekapun mematikan lampu 

– DAY 2 –

Pagi hari Dian balik ke kostnya. Untuk mempersiapkan diri pergi ke kampus.

Saat itu Vera, Pika, dan Dian memang akan bertemu kembali di kampus untuk mengambil piagam ospek. Dian yang malamnya ada zoom panitia, kembali meminta ke Pika untuk menginap di asrama. 

Saat Pika pulang dari kampus, Ibu asrama menelfon. “Pika, apa kemarin kamu yang ribut geser-geser meja di atas?”[ruang Ibu asrama tepat berada di bawah kamar Pika]

Pika membantahnya, karena dirinya dan teman hanya ngobrol biasa. Ibu asramapun turut mencurigai kamar sebelah Pika 

Pukul 18.35 Dian ke asrama. Baru melepaskan alas kaki, Dian disambut suara gemericik air dari kamar sebelah. Dian bertanya apakah sebelum Ia datang suaranya ada?

Pika menjawab dengan ragu “Engga, sih Dian. Mungkin pas aja kamu dateng” Dian semakin kebingungan. 

Merasa setiap ada dirinya, penghuni di sebelah merasa terganggu atau terpancing. Namun Dian tak terlalu memikirkannya.

Tak lama Vera dan dua teman lainnya datang. Lengkap di kamar Pika ada lima orang termasuk Dian. Mereka berempat asyik mengobrol riuh, kecuali Dian sedang zoom 

Satu per satu teman Pika pulang, dua orang temannya yg baru datang izin pamit pukul 20.45. Tersisa Vera, Pika dan Dian. Suara langkah kaki terdengar. Dian sedikit terganggu saat rapat zoom.

Hingga akhirnya Dian tidak bisa menahan rasa penasarannya. Lalu “mengetes” nya kembali 

Mereka hening, sengaja agar bisa mendengar jelas pergerakan di kamar sebelah. Tiba-tiba hening 5 detik, dan mereka dikagetkan dengan suara meja yang bergeser. “grewkk”

Sontak mereka bertiga teriak, lalu menutup mulut satu sama lain. “usttttttt udah malem, guys”. Vera tidak tahan 

dan memutuskan tidur di kamarnya saja. Tidak menginap lagi. Vera ke kamar diantar oleh Pika dan Dian.

Akhirnya hanya tersisa Pika dan Dian. Kamar Pika sangat hening. Dian melanjutkan zoom, Pika menggunakkan earphone untuk menonton Tiktok. Hanya hembusan angin balkon yg lewat. 

Dian sudah di penghujung zoom. Namun Ia masih menghidupkan laptop untuk membuat rangkuman rapat. Waktu menujukkan pukul 00.10, suara itu semakin semakin parah. Kali ini Dian mengakui suara air terjelas yang pernah Ia dengar di kamar itu.

Satu teman Dian pun masih berada di zoom 

Niatnya untuk menemani, tetapi sebut saja Eki turut penasaran. Ia memantau dari zoom apakah terdengar atau tidak. Tidak lama suara gemericik air, toilet, closet hingga ketukan meja kayu berbunyi

Sesekali Dian bertanya ke Eki. “Apakah kamu mendengarnya? Eki tidak mendengar. 

Mungkin masih terlalu kecil untuk bisa diserap audio zoom. Hingga untuk terakhir kalinya. Suara gesekan meja PALING JELAS DAN SANGAT KERAS berbunyi dua kali.

Pika dan Dian sudah merinding, Eki pun nyeletuk lewat zoom “Itu temenmu lagi bangun dari meja ya, Dian?”

Seketika mata Dian melotot, dan membantah. ” Eki, bukan! kamu dengar itu tadi? Itudah suaranya kamar sebelah yang kosong!” Ujar Dian nada tinggi.

Eki terkejut dan merasa ikut merinding di sekitarnya. Ia pun pamit dan merasa tak bisa lanjut menemani Dian lewat zoom karena kepalanya pusing. 

Aktivitas kamar sebelah semakin menjadi-jadi. Suara itu tak berhenti-heti. Hingga muncul suara-suara baru yang belum Dian dengar sebelumnya. Suara membuka lemari dan suara ketuka dipan kasur.

Malam itu benar-benar mencekam. Dian dan Pika hanya berdua, mereka saling tatap-tatapan 

Pika sudah geram dan tidak tahan dengan situasi ribut itu, Ia berkata “Ini udah malem lho, tidur yuk jangan ribut gitu” Ketus Pika mengajak berdamai.

Dian pun menambahkan dengan geram “Ayuk dong, tidur yuk, udah tengah malem ni. Kalau mau tidur, coba ketok tiga kali.” 

“kretkk, tekrr, krteek, tok, tok..”

SUARA ITU SANGAT JELAS DAN BERBUNYI BERKALI-KALI

Pika dan Dian sudah tidak bisa melanjutkan aktivitas begadangnya. Dian segera mematikan laptop walau catatan belum selesai. Dan Pika bergegas mematikan lampu dan beres meja. 

Sembari menuju kasur, Dian mengingatkan Pika untuk berdoa sebelum tidur. Semoga besok bangun dengan selamat. Ketika mereka sudah terlentang di kasur, suara gemuruh kamar sebelah tidak lagi terdengar.

mereka pun akhirnya tidur tanpa membuka gawai lagi. 

Lanjut

– DAY 3 –

Pagi hari, pukul 06.20 Dian bangun dan pamit ke Pika untuk kembali ke kost karena akan ada acara di kampus. Saat turun tangga, Dian singgah ke kamar Vera untuk meminjam kacamata sebagai properti video kampus.

Dian ke kost dan hampir seharian beraktivitas.. 

Pukul 19.05, Dian sudah selesai mandi dan siap menuju asrama untuk mengembalikan kacamata. Mengingat Dian akan balik ke kampung besok pagi.

Vera saat dihubungi sedang berada di kamar Pika. Akhirnya Dian menuju kamar Pika. Terdengar ramai dalam kamar. Dian penasaran.. 

“tok, tokk, tok..Pikaa” Ujar Dian dengan nada lembut

[Pika membukakan pintu]

“Eh, Dian, ayo masuk..”

Dian masuk dan begitu terkejut, rupanya ada dua orang temannya yang kemarin sempat kesana datang lagi untuk mengedit video berkelompok.

“Pantas saja terdengar ramai” Ketus Dian 

*Suasana penuh tawa dan obrolan

Namun, ketika Dian sedang melepas alas kaki, terdengar suara ketukan meja sekali dari kamar sebelah.

Dian sontak jongkok, lututnya lemas, menyender dinding sembari berkata

“Kenapa lagii, aku baru dateng lho, udah disambut” Ujar Dian merasa stress 

Teman-teman yang lainnya mencairkan suasana membuat Dian enjoy bercerita. Karena ini pertemuan terakhir mereka saat itu. Mereka berbincang lesehan, rencana pulang ke luar pulau dan banyak lagi.

Dian tidak bisa berlama, dan memutuskan untuk pulang lebih awal karena ingin masak di kost.

Malam itu menjadi pertemuan akhir Dian dan teman-temannya di asrama. Pika lagi tiga hari baluk ke kampung, Begitu juga Vera dan dua teman lainnya yang pulang besok dan dua harinya lagi. Mengingat acara kampus sudah selesai.

Apa yang pernah mereka alami, tak terlupa.. 

Hingga saat ini, masih teringat dan dituangkan oleh salah satu tokoh dalam bentuk sebuah utas.

Benar, ini merupakan kisah nyata. Nama dan lokasi disamarkan demi kenyamanan bersama. Maaf utas ini ditulis bertahap. Hari pertama, suasana di sekitar membuat penulis gelisah.. 

Suasana malam hari mendukung penulis menceritakan ini.

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Percaya mereka ada di semua tempat. Tergantung sikap, dan kepercayaan adat bahwa kamar baru mesti dihaturkan sesajen “banten” istilahnya meminta izin akan ditempati. 

Bersikap sopan di manapun berada.

Ini akan menjadi kisah tersembunyi yang hanya diketahui oleh beberapa orang. Bahkan Ibu Asrama tahu, dan pernah mengecek kamar tersebut.

“Hanya ada perubahan sedikit posisi meja.”

Thread By @jengwarr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *