RAWON.ID

Semua Tentang Mistis

Perempuan Penghuni Rumah Kosong Di Kebun Rambutan

SEMUA NAMA DAN TEMPAT KEJADIAN DALAM CERITA SUDAH DISAMARKAN, JIKA TERJADI KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT, DI LUAR KESENGAJAAN OM RASTH.

“Helda, kamu sudah siapkan barang2 mu yang mau di bawa?” Tanya Mama yang berdiri di depan pintu kamar Helda. Helda yang sedang asyik dengan hp nya sambil rebahan itu pun langsung memasang wajah yang cemberut. 

“Aku kan sudah bilang, Aku gak mau ikut ke kalimantan!” Ujar Helda

“Kalau kamu tidak ikut lalu sama siapa di rumah?” Mama mulai melangkah masuk mendekati Helda, yang merupakan anak ketiga nya itu .

“Rio.” Jawaban pendek helda

“Kakakmu juga ikut. Lagi pula kita itu kan mau ketemu kakek dan nenek. Sudah lama sekali kita tidak kesana. Terakhir saat kamu masih SD dulu.” ujar mama setengah memaksa.

“Tapi gimana ya ma. Yang namanya orang gak mau ikut juga.”

“Ya sudah terserah kamu. Tapi uang tidak akan mama kasih. Kamu kalau mau makan cari aja sendiri.” Tegas mama membuat helda bertambah cemberut.  Mana mungkin ia bisa bertahan tanpa uang. Padahal kan rencananya Helda akan berlibur bersama teman2 nya ke pantai. Tapi kalau tidak ada uang mana bisa, pikir Helda.

Keesokan hari nya.. Agus yang merupakan anak tertua keluarga tersebut. Sudah siap dengan barang bawaan nya. Begitu juga dengan adiknya, Rio, keduanya nampak semangat. Berbeda hal nya dengan Helda yang nampak terpaksa, berangkat ke bandara tanpa senyuman sedikitpun. Singkat cerita.. Mereka mendarat dengan selamat di salah satu bandara yang ada di kalimantan. Agus dan Rio berjalan dengan penuh semangat. 

“Ma, yang jemput kita siapa?” Tanya Agus

“Paman Awing.” Jawab mama

“Paman Awing?” Tanya Rio

“Itu lho yang suka ngasih kamu dodol duren.” Ujar Agus

“Masa lupa.” Lanjut Agus 

“Oh, itu ya. Hehe aku lupa.” Kata Rio

Tak jauh dari mereka nampak seorang laki2 berkemeja hitam dengan kumis yang cukup tebal.

“Kumis nya kaya ikan lele.” Bisik Rio sambil tertawa

Sementara mama dan papa mereka nampak mempercepat langkah menghampiri si laki2 berkemeja hitam tersebut.

“Jangan2 dia paman Awing-mu.” Ujar Agus tertawa terbahak2

Rio nampak merengut di ledek oleh Agus. Ya tiada hari tanpa perkelahian kecil diantara keduanya.

Agus berusia 19 tahun.

Dan Rio berusia 17 tahun.

Sementara Helda baru 15 tahun. 

Mama dan papa mereka nampak berpelukan dengan paman Awing.

“Sudah lama sekali rasanya kalian tidak datang kemari. Kami sudah sangat rindu pada kalian.” Ucap paman awing sembari menghapus air matanya 

“Eh, Agus sudah besar sekali ya Nak.” Ujar paman Awing saat Agus bersalaman dengan nya

“Sudah bujang-bujang palahai akengkuh (sudah pada bujang, ternyata keponakan ku)” Lanjut paman Awing yang tanpa sengaja berbahasa daerah. Tentu saja Agus, Rio dan Helda tidak ada yang paham.

“Saya tidak bisa bahasa itu paman.” Ucap Agus

“Aduuuhh.. Kenapa seperti itu.?

Kalian kan anak2 asli suku kalimantan. Kenapa tidak belajar bahasa daerah kita? Jangan pernah lupa suku aslimu.” Ujar paman Awing nampak kecewa 

“Maaf wing, kami berdua ini selalu sibuk bekerja. Jadi tidak ada waktu untuk mengajari mereka.”

“Sibuk kerja boleh, tapi tidak ada alasan untuk tidak mengajari anak2mu bahasa daerah kita. Kan waktu libur, senggang dll ada. Masa setiap hari jam menit detik kalian selalu sibuk. Jangan lupa darimana kalian berasal, sesibuk apapun, usahakan untuk memperkenalkan adat kita.”ujar paman Awing mulai terdengar meresahkan di telinga Helda.

“Ya sudah kalau begitu, nanti amang akan mengajari kalian bertiga.” Lanjut paman Awing.

“Aduh, paman, bahasa daerah kan tidak bisa untuk dibawa berbicara sama orang luar. Apalagi di tempat kami. Mana mereka ngerti.” Jawab Helda 

“Nah ini, contoh anak yang tidak memahami adat budaya suku kita.” Ujar paman Awing

“Wing, apa tidak sebaiknya kita pulang dulu. Aku rindu pada abah dan mama.” Potong Mama.

Singkatnya mereka pun masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju ke kampung dimana kakek dan neneknya Agus, Rio dan Helda tinggal. Jalanan yang mereka lewati hanyalah hutan di kedua sisi, yang terpisah oleh jalan besar beraspal tersebut.

“Hutan semua Gus.” Bisik Rio

“Iya, baguskan untuk di buat video petualangan kita.” Ujar Agus balas berbisik 

“Video. Hati2 kamera mu rusak kalau menangkap penampakan hantu.” Ujar Helda

“Ciihh. Apaan sih hel.” Ujar Rio

Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai di sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas dan berumput hijau. Rumah itu sangat tinggi, kurang lebih 3 meter tingginya. Dan mobil pun dengan leluasa diparkirkan di bawah rumah.

“Wow.. Rumahnya bagus dan unik.” Gumam Rio 

“Biasa aja.” Ucap Helda seraya menginjak kaki Rio yang tengah memvideokan rumah tersebut. Ternyata kedatangan mereka sudah ditunggu oleh kakek dan neneknya Agus, Rio dan Helda. Air mata haru dan bahagia pecah diantara mereka. Dan akhirnya tibalah giliran Rio untuk bersalaman juga berpelukan dengan kakek dan neneknya. Rio mulai berakting, ia menangis dan memeluk erat kakek neneknya bergantian.

“Ini nenek dan kakekku guys.. Orang kalimantan. Aku bahagia sekali bisa bertemu dengan mereka. Aku pernah bilang kan guys kalau aku itu rela mati demi bertemu nenek dan kakekku tercinta ini, dan sekarang aku sudah bisa bertemu mereka guys. Terima kasih untuk doanya guys. Jangan lupa like dan komen ya guys, jangan lupa ceritakan pengalaman kalian bertemu orang2 tercinta. Belum selesai memvideokan tiba2 plaakk.. Sebuah pukulan mendarat di pipi Rio. Rio meringis,

“Kakek tidak suka di video2 kan seperti itu.” Ujar si kakek

“Bicaramu juga kurang sopan. Mati2 kamu kira enak mati?” Lanjut si kakek 

Seketika suasana menjadi canggung. Dan si kakek akhirnya memilih untuk pergi, dan Rio dimarahi habis2an oleh mama dan papanya. Tidak berapa lama, kakek kembali lagi membawa sekeranjang buah rambutan yang berwarna merah dan segar.

“Kalau mau videokan tunggu nanti kalau kakek sudah siap. Jangan saat kakek menangis begini.” Ujar si kakek 

“Maa tadi pipinya. Sakit? Maaf ya cu.” Lanjut si kakek mengelus pipi Rio

“Ini makan dulu rambutan nya, kakek petikkan dari kebun.” Kata kakek 

Suasana pun kembali hangat ceria. Mereka bercanda bersama dan tertawa.

“Ayo kita buat video. Ini apa kakek sudah nampak rapi?” Tanya kakek pada Rio dan menggandengnya. Keduanya pun mulai membuat video.

“Bilang guys kek.” Bisik Rio

“Halo igas. Saya ini kakeknya Rio. Salam kenal semua igas2 teman2nya Rio.” Ujar si kakek. Membuat semua yang mendengarnya tertawa terbahak2, tak terkecuali Helda.

“Hah? Salah kah?” Tanya kakek bingung

“Gak kek, gak salah kok.” Ujar Rio tertawa 

Mereka semua nampaknya sangat bergembira, apalagi kakek dan nenek mereka yang nampak sangat antusias saat mendengar cerita2 dari cucu2nya. Dan sesekali kedua kakek dan nenek itu menirukan apa yang dikatakan oleh cucu2nya, yang langsung mengundang gelak tawa mereka semua, karena kata2 yang diucapkan tidaklah sesuai dengan aslinya. 

“Mau ikut cari Durian dikebun?” Tanya kakek pagi itu

“Wah, kakek juga punya kebun duren kek?” Tanya Agus

“Iya ada. Kalian pernah makan durian.?”

“Pernah kek, tapi disana mahal. 1 biji bisa sampai 300 ribu.”

“Wah bisa kaya mendadak kakek kalau jualan durian kesana.” 

Celoteh si kakek sambil tersenyum. Mereka bertiga berjalan ke kebun durian, baru masuk kehutan, mereka sudah digigit dan di kerubungi nyamuk. 

“Kok aneh ya kek, disini banyak nyamuk, sementara dirumah kakek tidak ada nyamuk.” Ujar Rio.

“Hahaha.. Itu karena rumah kakek punya halaman luas dan juga tinggi.” Ujar si kakek 

Rio manggut2, ia berjalan sambil menepuk2 nyamuk yang terus saja mengikutinya, dan semakin jauh masuk kehutan, semakin banyak nyamuk2 yang mengikutinya. Dari kejauhan terdengar suara kresek buk, membuat Agus dan Rio saling bertatapan.

“Nah, itu suara durian jatuh.” Ujar si kakek lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Agus dan Rio jauh di belakang. Pohon2 durian milik kakek terlihat sangat banyak dan tinggi2, buahnya nampak bergelantungan di atas.

“Wow.. Pohon duren kakek banyak sekali.” Gumam Rio

“Ayo, ayo kumpulkan durian nya.” Ujar kakek 

Agus berjalan mengitari pohon2 durian, dan tiba2 ia berteriak kegirangan, ternyata dia sudah mendapatkan satu buah durian. Rio juga tak mau kalah, ia mulai mencari2 buah2 durian disekitar pohon. Tidak terasa sudah 1 jam mereka disana, dan durian yang terkumpul sudah lumayan banyak.

“Ini nanti bisa kita buat Lampuk (dodol durian asli, khas kalimantan).” Kata kakek 

“Sebagian kita makan biasa saja.” Lanjut kakek setelah melihat Agus dan Rio saling bertatapan. Mereka bertiga pun masing2 membawa durian2 yang tadi sudah di kumpulkan untuk dibawa pulang. Singkatnya. setelah sampai di rumah, Helda nampak senang menyambut kedatangan mereka bertiga.

“Wah, wangi nya.” Ucap Helda seraya mengambil satu buah durian dan membawa nya masuk kedalam rumah.

“Ih, dasar.” Sungut Rio saat tau durian miliknya lah yang sudah diambil adiknya.

Kakek hanya tersenyum dan geleng2 kepala melihat kelakuan cucu2nya itu. 

Agus dan Rio langsung turun ke sungai untuk membersihkan diri mereka setelah meletakkan durian nya di rumah.

Sementara di rumah, Mama, Helda dan Nenek memisahkan daging durian dari bijinya. 

Mereka melakukan itu sampai berjam2 lamanya. Karena memang durian2 yang tadi di bawa kakek, juga agus dan Rio lumayan sangat banyak. 

Saat menjelang sore barulah selesai, kakek lalu menghidupkan api di bawah rumah, dan memasang sebuah kuali yang sangat besar di atas tungku api yang juga tidak kalah besar. 

Setelah kuali panas, kakek menuangkan semua durian yang sudah dipisahkan dari bijinya tadi kedalam kuali. Lalu setelah itu kakek mulai mengaduk2 durian tersebut. 

“Kakek lelah, cepat teruskan, itu pengaduk satunya ada disana.” Ujar kakek seraya duduk dan menyulut rokok ampanan nya.

Satu jam telah berlalu. Durian yang tadi dimasukkan kedalam kuali sudah mulai berubah warna, tapi kata kakek itu belum bisa disebut lampuk. Jadi mereka berdua masih harus terus mengaduknya. semakin lama durian itu semakin berat untuk diaduk, tekstur nya yang tadi lembut berubah jadi mengental dan keras.  Aroma khas Lampuk mulai tercium wangi. Singkat cerita, akhirnya lampuk itu pun jadi dan siap di nikmati. Agus dan Rio nampak senang, tak lupa mereka membangga2kan dirinya yang bisa, juga kuat membuat lampuk kepada papa mama, nenek dan helda.

Tak terasa sudah 5 hari mereka disana, dan Helda juga nampak bahagia dan senang berada disana, tidak seperti waktu pertama kali datang. 

“Kek. Mau kemana.? Kok bawa2 itu, kaya sesajen aja.” Tanya Helda saat melihat kakeknya turun dari rumah membawa telur ayam, pisang mahuli, ayam hitam, dan beberapa macam bunga juga kopi. 

“Kakek mau kesana, kamu jangan ikut. Dirumah saja.” Jawab kakek

Tak berapa jauh setelah kakek keluar dari halaman rumah menuju hutan, Helda memanggil kedua kakaknya dan bermaksud mengajak saudaranya itu untuk mengikuti si kakek yang nampak mencurigakan. Tak lupa Rio juga membawa kameranya, dan merekam perjalanan mereka. Setelah beberapa kali hampir ketahuan, mereka melihat kakek masuk ke sebuah rumah di tengah2 kebun rambutan yang kemungkinan itu adalah kebun rambutan milik kakek. Buahnya Ranum dan merah2. Agus memetik beberapa dan memakan nya. Saat si kakek keluar dari rumah tersebut, mereka bertiga bersembunyi. Setelah kakek benar2 sudah pergi, ketiganya masuk kedalam rumah tersebut. 

Keadaan di rumah itu benar2 menyeramkan. Banyak sesembahan dan pakaian2 kebaya disana. Juga ada pasungan kaki yang terbuat dari kayu.

“Apa menurutmu kakek adalah seorang psikopat?” Tanya Rio

“Ah. Mana ada psikopat pakai sesajen2 begini.” Bantah Agus 

“Ini pasti ada hubungan nya sama hal2 mistis. Seperti yang ada di film2.” Ujar Helda

“Mana mungkin seperti itu. Itu kan cuma di film. Dan walaupun ada, itu tidak disini. Tidak pada kakek kita.” Bantah Agus lagi 

“Halo guys. Ini rumah kosong dan terlihat menyeramkan guys, tadi kakek masuk kesini dan meletakkan sesajen di dalam rumah ini. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!” Ujar Rio dilanjutkan teriakan ketakutan saat mengarahkan kamera nya ke pasungan kayu tadi.

“Ada apa sih.?!!” Bentak Helda

Rio nampak gugup, nafas nya naik turun.

“Ada apa.?!” Tanya Agus

“I itu. Itu ada perempuan tadi.!”

“Aisshh… Mau ngerjain kami,? Dasar sikat wc.!” Ujar Agus 

“Gak, sumpah tadi ada hantu perempuan disitu. Mukanya seram banget. Sumpah ada disitu tadi.” Ujr Rio 

“Udah ah, yu pulang.” Ajak Agus

Tapi belum lagi sempat mereka keluar, ternyata kakek sudah berada disana. Wajahnya nampak sangat marah. 

“Kenapa kalian masuk kesini hah.??!!” Bentak kakek

“Maaf kek, kami tadi mengikuti kakek sampai kemari, kami penasaran sama apa yang kakek lakukan di sini. Makanya kami masuk.” Jawab Agus 

“Tidak punya sopan santun.!” Bentak kakek lagi 

“Cepat keluar dari sini.!!” Lanjutnya

Mereka bertiga bingung, kenapa kakek nampak sangat marah hanya karena mereka memasuki rumah kosong yang berisi sesembahan itu. Sesampainya di rumah, kakek menanyai Rio yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Kalian sudah mengusiknya.! Kalian sudah melihatnya.!” Ujar kakek 

“Kalian harus kembali. Pulang, pulaaaang.!!” Teriak si kakek, raut wajahnya nampak sangat marah, takut dan gugup.

“Ada apa ini bah?” Tanya mama dan papa bersamaan 

“Cucu2ku dalam bahaya besar.! Kalian harus pergi hari ini juga. Tidak ada yang bisa dijelaskan, cepat berkemas.!”

Si nenek yang ikut bingung mendekati kakek dan berbisik. Lalu setelah kakek mengatakan sesuatu dengan cara berbisik juga, si nenek nampak menutup mulutnya. Tatapan nya seketika berubah.

“Ayo, cepat. Kalian harus kembali hari ini juga.” Ujar Nenek 

Dengan terpaksa dan penuh kebingungan papa mama , agus, rio dan helda pun mulai mengemasi barang2nya. Sementara kakek pergi ke rumah paman awing. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sudah sampai di halaman rumah tersebut. Paman awing juga berbeda dari yang sebelumnya. Diperjalanan paman awing cuma diam, dan sesekali menghela nafas panjang.

“Kalian memang tidak seharusnya pulang.!” Ujarnya

“Kenapa? Ada apa sebenarnya hah? Kami bingung kenapa kami diusir padahal sebelumnya abah bersikap baik2 saja.” Ujar mama 

“Kalian tidak tau apa yang terjadi sebenarnya disini. Dan abah melakukan ini semua untuk kebaikan kalian, dia tidak ingin anak2mu celaka.!” Ujar paman Awing yang membuat mereka bertambah bingung 

“Kalau begitu jelaskan. Ada apa sebenarnya.!” Bentak papa pada Paman awing

“Aku tidak bisa.” 

“Aakkhhh..!” Papa nampak sangat kesal

Suasana kembali hening. Hanya grudak gruduk mobil yang melewati lubang2 dijalan saja yang sesekali menimbulkan bunyi. Mereka semuanya nampak hanyut dalam pikiran nya masing2. Tak dirasa, akhirnya mereka sampai di bandara.

“Aku harap kalian jangan kembali lagi kemari.” Ucap paman Awing 

“Paman. Sebenarnya ada apa? Kakek marah dan mengusir kami hanya karena gubuk yang penuh sesembahan itu kami masuki.!

Sesayang itukah kakek dengan sesembahan nya sehingga kami diusir begitu saja.?!” Ujar Agus yang tadi hanya diam 

“Kamu tidak akan paham apalagi percaya gus. Ini semua diluar akal sehat kalian. Kalian tidak akan percaya. Karena kalian tumbuh dan dibesarkan di kota dan diajarkan untuk tidak mungkin mempercayai hal2 semacam ini.!!” 

“Satu hal lagi.! Kakek kalian itu sangat sayang terhadap kalian. Dia tau betapa besar bahaya yang mengintai kalian setelah kalian berinteraksi dengan perempuan sundal itu.!

Ini semua dia lakukan untuk melindungi kalian.!” Ujar paman Awing 

Braaakkk….

Paman awing kembali masuk dan menutup pintu mobilnya. Lalu berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang masih nampak sangat kebingungan dan kesal. 

Hari2 berlalu..

Seminggu setelah mereka kembali ke kota dan kembali menjalani rutinitas setiap hari nya. Ada sebuah telepon dari kampung, yang mengabarkan bahwa kakek sudah meninggal tadi malam, tepat dimalam senin. Mama langsung syok mendengar kabar tersebut.

“Halo. Halo. Ini pesan terakhir abah. Kalian tidak harus kemari lagi, karena jenazah akan segera dimakamkan.” Ujar suara diseberang sana masih terdengar, namun mama hanya terdiam dan hanyut dalam tangisan kesedihan nya. Dengan tangan gemetar mama menelpon papa, Agus, Rio dan juga Helda yang sedang berada di luar bersama teman mereka masing2. Mama terduduk sambil menangis sesenggukan, ia tak menyangka bahwa abah nya akan pergi untuk selama2nya. 

“Kita harus pergi ke rumah kakek.” Usul Agus

“Paman mu bilang pesan terakhir kakekmu mengatakan bahwa kita tidak harus kembali kesana lagi.” Isak mama 

“Aakhh.. Ini pasti akal2an paman saja, dia pasti ingin menguasai harta kakek seorang diri. Kalau memang dia mau seperti itu ya katakan saja kalau kita tidak butuh harta warisan dari kakek.!” Ujar Agus 

“Aku tidak mau kesana lagi.” Ujar Helda yang langsung ditanggapi anggukan oleh Rio

“Itu kakek kita.! Kalian ingat betapa indahnya kebersamaan kita saat bersama dengan kakek?!” 

“Sekarang keputusan ada pada papa dan mama. Tapi yang pasti aku akan pergi kesana sendirian. Aku akan menggunakan tabunganku, untuk sampai kesana.” Ujar Agus lagi 

“Mereka melarang kita kesana gus.!”

“Berpikir dengan jernih lah ma, itu pasti akal2an paman awing biar bisa menguasai warisan kakek sendirian. Dan kita datang kesana untuk kakek, memberi penghormatan terakhir pada kakek. Bukan untuk warisan itu.!” Kata Agus 

Akhirnya, hari itu juga mereka memesan tiket pesawat.

Singkat nya setelah mendarat di kalimantan, mereka bergegas mencari taksi. Mata mama nampak bengkak akibat menangis terlalu lama. Setelah taksi didapatkan, mereka langsung meluncur menuju kampung kakek. Dijalan Rio nampak gelisah.

Sesekali matanya melotot menatap ke pinggir jalan, dan sesekali ia nampak ketakutan, hingga nafasnya berat terdengar. Saat taksi yang mereka naiki tersebut parkir di luar halaman, nampak banyak sekali orang2 di rumah ataupun di bawah rumah kakek. Pandangan orang2 mengarah kepada mereka yang baru turun dari taksi. Saat melangkah menaiki tangga rumah, paman awing sudah menghadang langkah mereka di atas.

“Apa kau tak mendengar kalau ku katakan kalian tidak harus kembali kesini lagi, hah.?” Tanya paman awing marah 

“Kami hanya ingin…” Mama menangis sebelum menyelesaikan perkataan nya

“Maaf paman, aku tau ini tidak sopan. Tapi kami kemari hanya untuk kakek, tidak untuk harta warisan nya.” Ujar Agus 

“Jadi tolong ijinkan kami masuk.” Lanjut Agus

Paman Awing menghela nafas panjang, ia tak menyangka kalau keponakan nya akan berkata seperti itu. Didalam rumah, mereka mencari nenek, dan ternyata nenek ada didalam kamar. Nenek sangat kaget melihat kedatangan anak dan cucu2nya. 

“Kenapa kalian kembali lagi?

Kakek kalian bahkan merelakan nyawanya agar kalian tetap aman. Tapi kenapa kalian kembali lagi?!” Isak nenek 

Agus menghela nafas panjang, ia benar2 muak dengan perkataan paman ataupun neneknya. Mereka melarangnya kembali ke kampung ini tapi sama sekali tidak menjelaskan alasan kenapa mereka harusnya tidak kembali. 

“Kalau begitu jelaskan nek, kenapa kami tidak boleh kesini? Padahal sebelumnya kalian terlihat bahagia menyambut kedatangan kami.”ucap Agus 

“Ceritanya panjang, aku tidak yakin kalian akan memahaminya.” Kata Nenek

“Ceritakan saja ma, biar mereka puas.” Ujar paman awing dari arah pintu 

Nenek menghela nafas, lalu menyapu bekas air matanya.

“Perempuan itu bernama Sitanung, dulu sekali sebelum kakekmu menikah dengan nenek. Sitanung dan kakekmu lebih dulu berpacaran. Tapi kata kakekmu sitanung itu adalah gadis yang buruk. 

Bahkan dengan tega membunuh keluarganya hanya karena keluarganya tidak merestui hubungan dia dan kakekmu. Setelah itu sitanung menenteng kepala ayahnya untuk menemui kakekmu dan mengatakan bahwa tidak akan ada lagi yang menghalangi cinta mereka. 

Tapi bukan nya menikah dengan kakekmu, sitanung malah ditangkap dan dikurung oleh warga karena sudah dianggap tidak waras. Ya memang kalau di pikir2 hanya orang yang tidak waras akalnya yang tega menghabisi keluarga sendiri hanya demi menikah dengan seorang laki2. 

Sitanung dikurung, diikat dan dipasung kakinya. Setiap harinya dia hanya diberi makan sekali sehari. Sampai beberapa tahun, dia berhasil mengelabui salah satu orang yang bertugas memberi makan padanya untuk membuka ikatan pada tangan nya. Dan alhasil setelah dibuka Sitanung menyerang orang itu dan membuka pasungan kayu di kakinya.

Lalu dia berlari, mencari keberadaan kakekmu. Pada saat kakekmu sudah menikah dengan nenek dan sudah memiliki 2 anak, yaitu ibumu dan paman awingmu. 

Entah bagaimana caranya, sitanung akhirnya menemukan tempat tinggal kami. Dia masuk dan menyandera ibumu. Dia mengamuk setelah tahu kalau kakekmu sudah menikah.  Kakekmu mencoba menenangkan dan berjanji jika sitanung mau melepaskan ibumu maka kakekmu akan memulai semuanya dari awal lagi dengan sitanung, seperti apa yang sitanung inginkan. Dan akhirnya dia melepaskan ibumu, saat dia ditangkap oleh kakekmu ia mengamuk dan menusukku dengan pisau.”cerita terhenti, nenek memperlihatkan bekas tusukan itu yang masih membekas meski sudah berpuluh tahun lamanya 

“Lalu nek?” Tanya Helda

“Lalu warga berdatangan karena laporan dari si pengantar makanan untuk sitanung tadi, dan mereka yakin kalau tujuan utama sitanung adalah kakekmu makanya mereka bergegas kerumah. Dia kembali di dibawa ke tempat dimana sebelumnya dia dipasung dan dikurung selama bertahun2. Dan entahlah, aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh kakek pada saat setelah itu. Dia membeli tanah tersebut, dan menanaminya dengan banyak sekali pokok rambutan. Kakekmu juga yang mengurus Sitanung dan memberinya makan. Ada yang bilang pada nenek, kalau kakekmu menyiksa sitanung setiap harinya. Tapi nenek tidak percaya, karena yang nenek tau kakekmu itu orang yang lembut. Bukan seorang ringan tangan/pemukul.

Hingga bertahun2 berlalu, sitanung meninggal. Tidak ada yang tau kenapa dia meninggal. Mereka hanya mengira bahwa sitanung terserang sakit dan meninggal.

Lalu setelah itu teror mulai kami rasakan, ibumu sakit dan menangis setiap malam.

Begitu juga dengan paman awing mu. Kami sudah melakukan banyak hal untuk menghentikan Teror tersebut. Namun tetap tidak bisa, hingga akhirnya kakekmu bertemu dengan seorang dukun yang sangat hebat dari pedalaman. Dia mengatakan bahwa teror itu berasal dari sitanung yang mati tidak wajar.

Tapi sampai sekarang nenek tidak tau alasan dukun tersebut mengatakan bahwa sitanung mati tidak wajar. Dukun itu juga yang mengurung arwah sitanung didalam rumah gubuk ditengah kebun rambutan. Dia juga mengatakan bahwa arwahnya tidak akan lepas jika selalu dikasih sesembahan, dan tidak membiarkan orang lain masuk kesini. Makanya pintunya selalu dikunci kakekmu selama berpuluh2 tahun, dan terakhir pamanmu yang disuruh untuk mengantar sesembahan, anaknya tiba2 sakit hingga akhirnya meninggal. Lalu ritual penguncian arwah kembali dilakukan sampai keadaan kembali membaik meskipun kami kehilangan cucu2 kami.”isak nenek. Agus menggelengkan kepalanya perlahan, cerita nenek sangat tidak masuk akal menurutnya.

“Nenek mohon, kembalilah ke kota. Kalian tidak seharusnya ada disini.” Ujar nenek memohon 

“Takdir kematian itu, tuhan yang tentukan. Kita sebagai manusia hanya menunggu takdir itu datang tanpa bisa menghindari apalagi mencegahnya.” Ucap Agus.

Mereka semua terdiam, hanyut dalam pikiran masing. Malam harinya setelah pulang dari mengunjungi makam kakek, Agus dan papa duduk diluar rumah. Sementara Helda dan mama ada di kamar nenek. Dan paman awing baru saja pulang sebentar kerumah mereka. Keadaan rumah benar2 lengang sekali, hingga tiba2 terdengar suara teriakan dari Arah Kamar yang di tempati Rio. Papa dan Agus langsung berlari masuk kedalam rumah, mereka langsung menuju ke kamar Rio, begitu pun juga dengan Mama dan Helda. Tapi di dalam kamar, sudah kosong. Tidak ada siapa2.

“Rioooo….!!” Teriak Agus

“Jangan main2 Yoooo…” Ujar Papa 

“Pa… Pa..”

“Apa hel.?”

“Itu di kamar nenek ada suara.” Tunjuk Helda

“Kamu cari Rio ya gus.” Ujar Papa sebelum berjalan keluar kamar menuju kamar nenek 

Saat pintu dibuka, nampak Rio sudah berada diatas tubuh nenek dengan sebilah pisau, bersiap menusukkan pisau itu kepada nenek.

“RIOOOO, APA APAAN KAMU INI HAH…!!!” bentak papa seraya mendekati Rio.

Namun saat tangan papa ingin menarik Rio, dengan kecepatan kilat. Rio melukai papa dengan pisau yang dia pegang.

Sreeeeeetttt.. Darah langsung mengucur keluar.

“AGUUUUUSSSSS….AGUUUUUSSSS.. PAPA GUSSS…!!” teriak mama yang sedari tadi menyaksikan di ambang pintu histeris 

Agus yang memang pintar bela diri, langsung mengambil tirai kain di depan pintu kamar nenek.

“Lepasin pisau itu yo.!” Bentak Agus

“Hahahahahaha…” Tawa Rio berderai

Lalu Rio mulai menyerang Agus, tapi Agus dengan mudah menghindar. Merasa serangan nya hanya mengenai angin, Rio turun dari tubuh Neneknya.

“Bangsat kau.!!”

“Eh, jangan berkata kotor.!!”

Agus kembali di serang, kali ini giliran Agus yang terkena sabetan pisau di lengan nya. 

“Anjing.!!” Teriak Agus

Lalu dengan kemarahan yang sudah benar2 memuncak Agus menendang perut Rio hingga tersungkur. Tiba2 Rio terbatuk dan memuntahkan darah yang sangat banyak. 

Agus mulai cemas.

“Rio. Rio.. Kau tak apa kan.?” Tanya Agus panik

Sementara mama dan Helda masih takut untuk masuk kedalam kamar. Nenek berusaha bangun, luka sayatan di bagian pipinya terlihat menganga.

“Dia kerasukan. Cepat pergi kerumah awing.” Nenek menyuruh Agus 

Percikan darah sudah ada dimana2 dilantai kamar tersebut. Belum lagi luka di lengan Agus yang sudah sangat sakit sekali. 

“Kamu jaga mereka hel.” Ucap Agus saat akan pergi

Namun baru sampai di depan pintu rumah, Agus melihat kabut yang begitu tebal dan pekat diluar. Belum lagi suara2 aneh binatang dikejauhan. Agus mundur, ia mengingat2 bahwa tadi saat ia keluar rumah, kabut itu belum ada, tapi kenapa sekarang begitu tebal dan pekat.

“Hamba berserah diri padamu ya Allah.” Gumam Agus seraya melangkah lebih jauh lagi 

Saat ia sampai di depan kabut tersebut, Agus mencoba masuk. Saat berada didalamnya, Agus benar2 tidak bisa melihat apa2 selain kabut dan kabut. Namun setelah beberapa saat berjalan di dalam kabut. Agus malah kembali lagi ke depan rumah. 

Agus mencoba dan mencoba hingga beberapa kali. Setelah merasa lelah dipermainkan, Agus kembali lagi ke dalam rumah.

“Di luar kabut. Sudah ku coba melewatinya tapi yang tidak masuk akalnya aku malah kembali lagi ke sisi dimana aku masuk, begitu saja seterusnya.”ujar agus 

“Dia nampak nya sudah semakin kuat.” Ucap nenek putus asa

Tiba2 Rio mengerang2 kesakitan, nampak dari lengan dan kaki juga wajah Rio muncul bekas luka seperti dicambuk. Semakin lama, luka itu semakin terlihat nyata. Hingga Akhirnya Rio diam tak bergerak lagi. Mama, helda dan juga papa histeris. Agus mencoba memeriksa nadi Rio, namun ia tak merasakan apa2. 

“Semoga aku salah.” Batin Agus takut jika Rio benar2 meninggal

Papa yang tidak kuat melihat darah kembali pingsan saat melihat begitu banyak darah menempel padanya. Mama mengamuk dan histeris melihat Rio sudah tak bergerak lagi.

“Diaaamm… Mama harus tenang.!!

Kita semua harus tenang..!!

Jangan biarkan pikiran kalian kosong, dan tetap berserah diri pada tuhan.!” Ujar Agus 

Perkataan Agus, kembali membuat mama diam, namun ia tak bisa menahan kesedihan nya berlama2. Akhirnya mama kembali menangis histeris. 

“Nek, jika kakek pernah melakukan ritual itu, pasti ada barang2 yang kakek simpan kan.? Yang bisa digunakan mengusir mahluk ini.?” Tanya Agus

“Semuanya sudah hilang gus, sudah hancur. Maka dari itu kakek mu meninggal.” 

“Masa satupun tidak ada.?” Tanya agus lagi setengah tak percaya

Tiba2 Agus mendengar sesuatu, suara yang sangat memekakkan telinga nya. Suara itu mirip seperti suara kakek dan paman nya, dan sesaat kemudian suara berganti dengan dengungan yang membuat sakit telinga Agus. Sambil memegangi telinganya yang masih sakit, Agus bergegas berjalan kearah dapur.

Ia mencari2 lemari kayu yang ia dengar dari suara tadi. Saat sudah menemukan barang yang ia cari berupa garam yang terbungkus didalam kain hitam, ia langsung berlari kearah luar.  Saat melewati lemari ulin besar, sepintas agus melihat sesosok wanita dengan tubuh kurus menunduk disana. Namun saat agus kembali melihat kearah yang sama, tidak ada siapa2 disana. Sesampainya didepan pintu kamar neneknya, Agus langsung menaburi garam di daerah pintu hingga mengelilingi kamar.

“Setidaknya ini yang bisa kita lakukan sampai pagi hari.” Ujar Agus 

Benar saja, mereka aman didalam kamar. namun tidak begitu dengan barang2 yang ada diluar. Semuanya berhamburan, tanpa tahu siapa yang melempar2 barang tersebut. 

Tiba2 pintu kamar terbanting dan garam yang ada di di depan pintu kamar habis berhamburan.

Nenek berdiri, ia berjalan keluar kamar.

“Nek, nenek mau kemana.?” Tanya Agus menahan tubuh neneknya 

“Nenek haus.” Jawab nya singkat

“Biar agus ambilkan air nya ya nek.”

“Tidak usah.”

“Hel garamnya hel..” Ujar agus 

Tapi terlambat, nenek sudah berhasil keluar kamar, dan terpaksa agus juga mengikuti keluar. Di dapur, bukan nya mengambil air untuk minum, nenek malah mengambil parang yang terpajang di dinding. 

“Nek jangan nek.” Ujar agus panik

“Dia harus tau bagaimana rasanya menjadi aku.!” Kata nenek dengan suara aneh 

Setelah berkata seperti itu, nenek langsung menyayat lehernya sendiri hingga darah segar langsung merembes keluar tak tertahan.

“Neneeeekkk….”

“Nek, bangun nek. Ya allah…” Ujar Agus gugup 

Agus langsung berlari meninggalkan jasad neneknya setelah melihat sosok menyeramkan di balik lemari. Ia menutup pintu kamar dan menangis sejadi2nya.

“Mereka benar, kita tidak seharusnya kembali kesini lagi.” Isak agus 

“Nenek mana gus..?” Tanya helda

“Nenek sudah mati, dia menyayat lehernya sendiri dengan parang.!” Jawab agus gemetar

Keadaan itu benar2 membuatnya takut. Mereka menunggu sampai pagi didalam kamar, berharap kabut diluar akan hilang jika sudah pagi. Rasa kantuk mulai menyerang, namun agus tetap berusaha terjaga. Malam itu terasa sangat panjang bagi mereka. Bunyi2 aneh seperti orang menyeret sesuatu terdengar begitu sangat jelas di telinga mereka. Dari kejauhan Adzan subuh mulai dikumandangkan, mereka mendengar nya meskipun lamat2. Mereka yang mendengar itu mulai merasa senang. Mereka hanya tinggal menunggu sebentar sampai matahari benar2 muncul.  Kokok ayam terdengar bersahut2an. Cahaya matahari pagi sudah mulai masuk melalui celah jendela kamar nenek.

Agus mengintip kearah luar, nampaknya sudah aman, lalu dia membuka pintu. Disitu sudah seperti kapal pecah, darah ada dimana2 dan barang2 berhamburan. 

Agus berjalan keluar rumah, diiringi papa mama dan Helda.

Tapi ternyata kabut tebal disana masih ada.

“Kita harus keluar.” Ujar Agus 

Lalu dengan saling berpegangan, mereka bersama2 memasuki melewati kabut tersebut. Namun ternyata yang dikatakan agus tadi malam benar adanya. Mereka melewati kabut tapi akan kembali kerumah itu lagi. Helda terduduk, ia menangis terisak.

“Apa kita akan mati disini.?” Tanya nya terisak

“Ini semua gara2 kamu gus.! Andai kamu tidak bersikeras kemari, Rio pasti masih hidup dan kita tidak akan seperti ini.!” Lanjut Helda 

“Aku tau aku salah hel.! Tapi saling menyalahkan disaat seperti ini bukanlah hal yang tepat.!”

“Kita harus pergi dari sini. Jika kita sudah berada diluar sana, kita akan bisa meminta bantuan pada warga.!” 

“Coba pakai garam itu gus, siapa tau kita bisa melewati kabut ini.” Ujar Papa

Agus mengangguk, usul papa ada benarnya. Lalu agus berlari menaiki tangga rumah, ia berlari kearah kamar neneknya. Dan mengambil bungkusan garam tersebut. 

Tapi saat ia akan keluar, tiba2 saja pintu tertutup dengan sangat keras.

Pintu seperti terkunci dari luar.

“Paaaa… Papa…” Teriak agus

“Sialan.. Anjing..!!” Teriak Agus mulai emosi lagi 

Papa mama dan juga helda seperti di tulikan oleh sesuatu sehingga tak mendengar teriakan agus. Agus tidak menyerah, keinginan nya untuk hidup begitu besar, yang membuatnya tak mau menyerah begitu saja.  Agus mencongkel paku jendela, dan berusaha keluar lewat sana. Saat jendela sudah berhasil terbuka, agus rawan melihat ketinggian jarak antara jendela dan tanah, sekitar 5 meter lebih tingginya.  Agus bersiap, dan memejamkan matanya saat akan melompat turun. Melayang jatuh dari ketinggian 5 meter lalu menghempas tanah membuat kakinya patah.  Agus menjerit kesakitan. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Agus mencoba menarik tubuhnya menghampiri papa mama juga helda yang sudah menunggu. Saat melihat Agus, Helda langsung berlari kearahnya, dan tepat disaat itulah, agus tak sadarkan diri.  Saat bangun, ia sudah berada di rumah salah satu warga. Agus tersenyum, karena merasa sudah berhasil selamat.

Ternyata Paman awing sudah meninggal karena kecelakaan, saat ingin menuju kerumah nenek tadi malam.  Rio pun jua ternyata sudah meninggal. Mereka sudah berada disana selama 3 hari, dan istri paman awing juga ada disana bersama mereka. 

Kaki agus yang patah sudah diobati, tapi masih sangat terasa sakit. Dan bau busuk dikakinya makin menyengat yang ternyata adalah anak ayam yang langsung ditumbuk hidup2 untuk menyambung tulang agus yang patah. 

(Mungkin sebagian ponakan sudah tau cara dari kampung ini untuk menyembuhkan tulang yang patah. Di keluarga om juga kaya gini soalnya. Lagi belum tau oprasi dan tidak ada biaya untuk ke rs, biasanya ini cara pertama yang dilakukan.) 

Saat tau bahwa obat nya adalah anak ayam yang hidup2 ditumbuh secara sadis. Agus langsung berkata,

“Kok tega sih? Aku gak mau pengobatan kaya gini.!”

“Hus, ngomongmu yang sopan gus.” Tegur ayahnya 

“Tapi ini penyiksaan namanya pa.”

“Lalu kamu mau kakimu di potong.? Diamputasi.?”

Agus terdiam.

“Maaf pak, jenazah belum bisa kami ambil. Karena kabut semakin tebal.” Ujar salah satu warga.

“Iya pak, kami sudah mencoba berkali2 tapi nihil pak. Sekarang mang katro 

Sedang dalam perjalanan kerumah haji sobirin dikampung sebelah, semoga berkat bantuan beliau, jenazah bisa langsung dikebumikan.”lanjut warga yang lain nya 

Papa mengangguk, ia mencoba tersenyum.

“Iya pak, terima kasih banyak.” Ucap papa

Agus masih tidak menyangka Rio, sudah meninggal. Ini masih terasa seperti mimpi baginya. 

“Apa benar Rio sudah meninggal pa.?” Tanya Agus

“Seperti yang sudah kamu dengar. Iya.” Jawab papa

Agus terisak, baru kali ini hatinya benar2 terasa sakit sekali hingga membuat air matanya jatuh. 

“Ini semua salahku. Salahku. Seharusnya akulah yang mati, bukan Rio.” Isak Agus

Papa mencoba menenangkan nya,

“Sudah gus, ini tidak sepenuhnya kesalahanmu. Kita semua salah dalam hal ini. Tapi apa yang mampu kita lakukan jika ini sudah merupakan takdir dari tuhan.” 

Singkat cerita, Haji sobirin dan beberapa warga akhirnya berhasil mengambil jenazah nenek dan Rio dari rumah kakek. Jenazah sudah sebagian membusuk, karena sudah berhari2 berada didalam rumah. Orang2 bergotong royong untuk memakamkan kedua jenazah tersebut dengan baik.

Dan akhirnya Agus, Helda Papa Dan Mamanya pun kembali pulang. Dan sesekali jika liburan mereka akan mengunjungi makam kakek nenek, paman dan juga Rio. 

—-SELESAI—-

Thread By @rasth140217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *